License to Drive a Sandwich
Karya : Nakashima Aya
Summary : Pada suatu zaman, hiduplah seorang putri dan seorang pangeran. Mereka hidup bahagia di bawah perlindungan kerajaan dan dengan cinta yang tertanam pada masing – masing individu. Namun, semua itu berubah saat sang penyihir menyerang kebahagia–Dan sepertinya narasinya ketuker deh. Ehem… Ehem…
Kisah ini dimulai dari sebuah kotak kado berwarna merah dan sebuah kartu penuh tanda tanya yang saling berpindah tangan.
Disclaimer : OC dan storyline ber-hak cipta Nakashima Aya.
Genre : Romance, Friendship, Humor.
Warning : OC, OOC!, OOT!, Typo(s), UniversityAU!, Takao Kazunari X OC (Naoko Ruri).
.
.
.
Sekedar Lewat~
Ini balasan untuk review chapter kemarin yah, maafkan saya yang begitu PHP dan update lama huhu :')
Ai and August 19 : Haii~ Aww makasih banyaak, ganyangka dapet pujian buat cerita abal ini. Tenang aja, Naoko gabakal jadi tokoh harem kok, dia hanya akan menjadi one and only milik Takao :3
siapa hayo aku : Siapa hayo aku-san XD Lucu sekali namanya uwuw. Makasih banyak reviewnyaa, TakaNao bagus jugak nih. Asyique XD
.
.
.
Please Enjoy to Read!
.
.
.
4 of 10
"Ouououou… Baby, Baby, Baby, oooh yeah. Baby, Baby, Baby, nooo ouwh~"
Jika kalian berpikir ini adalah suara tetangga sebelah yang berponi belah tengah, maka kalian salah besar, karena hari ini tokoh utama kita, Naoko Ruri yang sedang mempersembahkan nyanyian merdu pada kita semua. Sebuah suara hati yang sungguh menggetarkan kalbu.
Rambut digelung ke atas, pakaian sekedarnya ala rumahan, dan tentunya dengan apron merah muda menghiasi bagian depan tubuhnya, Naoko Ruri kini sedang melakukan sesuatu di dapur apartemennya. Berhubung besok adalah hari valentine, Ruri berniat membuat banyak coklat untuk ia berikan pada kawan-kawannya di kampus. Dan juga pada mungkin beberapa fansnya yang beruntung–toh dengan ia membagikan coklat maka popularitasnya akan bertambah. Ho ho ho sebuah ide jenius dari otak cerdas bawaan Naoko Papa.
Namun, bukan itu saja ide cemerlang Ruri untuk merayakan hari valentine. Ia berencana memberikan sebuah coklat penuh cinta pada tetangga sebelahnya yang terkenal paling tampan seapartemen. Seketika Takao memakan coklatnya yang penuh bubuk cinta berwarna merah dan… JACKPOT! Takao Anda Beruntung! Anda mendapatkan coklat spesial isi cabai dari gadis idola Universitas Naoko Ruri! Banzai! Banzai!
"Sungguh, kau memang jenius, Ruri. Aku sungguh bangga padamu." Ruri berbicara pada dirinya sendiri dengan nada penuh kebanggaan. Mendadak author takut jika kejiwaan Ruri agak terganggu.
Lanjut.
Ruri tidak akan membuat coklat yang ribet untuk kawan-kawannya, toh model coklat apapun yang ia berikan semua orang pasti senang. Ruri memutuskan untuk sekedar membuat Chocolate Truffle untuk mereka semua–kawan dan para fans yang mencintainya. Tenang saja, Ruri hanya akan membuat satu coklat spesial yang tentunya ia peruntukkan kepada tetangganya tercinta. Ruri benar-benar merasa menjadi gadis paling jenius saat ini.
Ruri membuat bulatan-bulatan kecil dan melapisinya dengan oreo crumbs, sebisa mungkin ia akan membuat coklatnya terlihat seenak mungkin–untuk menambah popularitas katanya.
Dan dengan tampang ceria Naoko Ruri mampu menyelesaikan semua coklatnya, coklat pertemanan maupun honmei chocolatenya.
.
.
.
Namanya Takao Kazunari, pemuda ganteng berponi belah tengah yang tinggal di apartemen distrik perbelanjaan nomer 018. Seorang mahasiswa lelaki tulen berumur 20 yang kini menginjak sebagai angkatan ketiga jurusan hukum Universitas Todai.
Dan pemuda berambut kehijauan di sebelahnya adalah Midorima Shintarou. Pemuda yang kerap kali dipanggil Shin-chan ini adalah seorang mahasiswa pada angkatan yang sama dengan Takao, berumah kedua di Fakultas Kedokteran Universitas Todai. Namun, sebenarnya penjelasan muluk-muluk mengenai Midorima ini tidak begitu berguna, toh kali ini Shin-chan hanya berperan sebagai figuran ganteng di sini.
"Shin-chan, hari ini valentine ya?" Takao basa-basi dulu. Namun, tentu saja Midorima hanya dengan mendengar kode-kode dari Takao langsung mengerti arah pembicaraan ini akan berlabuh di mana.
"Ya. Hari ini valentine. Kau masih tidak mendapat coklat?" Midorima menaikkan kacamata bergagang hijau miliknya dengan tangan berbalut perban. Masih dipertanyakan mengapa three-pointer generasi keajaiban masih mengenakan perban itu padahal ia sudah terbilang tidak pernah memainkan bola oranye basket lagi.
"Ha Ha Ha… Hidoi yo, Shin-chan. Jadi, seperti biasanya 'kan?" Takao kedip-kedip tidak jelas ke arah Midorima. Sang megane gantengpun hanya bisa menggelengkan kepalanya, prihatin dengan keadaan kawannya yang terlalu lama sendiri ini. Singkatnya, Takao jones akut.
"I-Ini bukan berarti aku p-peduli atau bagaimana. Hanya saja, sudah m-menjadi rutinitas saja untukku m-melakukannya."
Takao terkikik mendengar jawaban kawan baiknya yang sudah biasa ia dengar itu. Sungguh Takao sudah terlalu terbiasa dengan sikap ketsundereannya yang entah kapan akan terobati. Ngomong-ngomong soal valentine, Takao jadi harap-harap cemas apakah tahun ini ia akan mendapatkan coklat atau tidak. Haah… sungguh akan sangat menyenangkan jika ia bisa mendapatkan setidaknya satu saja coklat tahun ini.
Harapan langsung muncul di hati lebar Takao tatkala sebuah pemandangan indah terlihat di pucuk matanya. Seorang gadis manis yang sangat familiar di memori Takao tengah membagi-bagikan coklat dengan senyum merekah terpatri di wajah manisnya. Tanpa menunggu lagi, Takao langsung berlari meninggalkan kawannya yang tinggi-berkacamata demi sepotong coklat buatan sang idola kampus.
"NAOKO-CHWAAAN!" Takao datang dan seenaknya meletakkan dagunya di atas kepala Ruri. Sontak Ruri menatap sweatdrop kakak kelasnya yang kelewat ajaib itu. Ooh… sungguh kapan Ruri bisa bebas dari cowok berponi terbelah dua itu? Kenapa pemuda itu terus menempel padanya di rumah maupun di kampus?
"Takao-san, berat. Bisa kau menyingkir dari kepalaku?"
"Aah~ Tapi ini sangat nyaman, Naoko-chan." Ahahaha… perempatan imajiner muncul di pelipis Naoko Ruri. Kesabarannya sungguh di ambang batas.
"Takao-san, menyingkir."
"Kalau begitu mana coklat untukku?" Takao masih kukuh mempertahankan posisinya. Ruri berjanji jika urusannya meningkatkan kepopuleran sudah selesai, ia akan mengurusi kakak kelasnya yang manja setengah mati ini. Lihat saja nanti, Bakao-senpai.
"Gomenasai, Takao-san. Tapi kurasa aku tidak membawa coklat bagianmu. Aku sungguh minta maaf, Takao-san."
Kenapa Ruri berbicara dengan bahasa yang sebegitu formalnya pada Takao? Tentu saja karena semua fansnya masih berada di hadapannya saat ini. Iya, mereka yang mengantri mendapat coklat penuh cinta dari Naoko Ruri. Takao mah sabar ya, dia tahu diri kok untuk tidak merusak reputasi Ruri lebih jauh. Tapi… usil sedikit tidak masalah 'kan?
"Jaa… kutunggu hadiahnya untukku nanti di rumah, darling." ujar Takao seraya berlalu dari hadapan Ruri dan para fansnya–setelah ia melahirkan sebuah kesalahpahaman baru.
"Eh? EEH? D-Darling?"
.
.
.
Saat ini, Naoko Ruri sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Apakah ia benar-benar harus memberikan coklat itu pada Takao atau tidak. Bisa dipastikan si Bakao itu akan kegirangan setengah mati ketika menerima coklat spesial dari Ruri yang penuh cinta itu, namun bisa dipastikan pula bahwa Ruri akan kelewat girang ketika Takao akhirnya memakan coklat pemberiannya yang dibuat dengan penuh perasaan dari lubuk hati Ruri yang terdalam.
Sungguh, Ruri butuh pencerahan saat ini. Tapi kalau tidak ia berikan pada Takao harus ia berikan pada siapa coklatnya, atau lebih tepatnya harus ia apakan coklatnya.
"Haah…" Mau tidak mau helaan nafas panjang keluar dari mulut Naoko Ruri. Dirinya hanya mampu merebah diri di kamarnya yang serba warna peach itu. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna keemasan, dan sekali lagi ia merasa kesal karenanya. Ruri masih kukuh mempertahankan bawah lebih baik atapnya dicat warna tosca-oranye dengan tambahan gambar awan-awan atau bintang agar lebih cantik.
Ruri beranjak dari kasur one-size miliknya yang nyaman dan melangkahkan kaki keluar dari ruang kamar ukuran tatami 3X3 tersebut. Menuju dapur apartemen yang terbilang cukup mewah untuk apartemen kelas rata – rata seperti yang ia tempati, gadis itu membuka kulkas dua pintu dan mengambil sebuah bingkisan berbentuk hati berwarna merah yang telah dibungkus sedemikian rupa sehingga terlihat sangat rapi dan menawan. Bahkan terdapat kartu ucapan yang terikat dengan tali pembungkus dari bingkisan tersebut.
Senyuman manis kembali terpatri di bibir Ruri, antara senyuman malaikat dan seringai iblis yang entah bagaimana kini saling bergelut untuk memperebutkan posisi di bibir Naoko Ruri. Masih menempatkan fokus pada bingkisan manis tersebut, ia menghela nafas, dan sekali lagi memikirkan kembali keputusannya untuk memberikan bingkisan ini pada tetangga sebelah adalah sebuah keputusan yang tepat atau tidak.
Kriing… Kriing…
Suara smartphone membuat gadis beriris hazel itu tersentak kaget, terbangun dari lamuannya mengenai keputusan sakral pemberian coklat pada tetangga sebelah yang diam-diam pernah ia kagumi ketampanannya–dulu ketika Ruri belum tahu jika Takao adalah pemuda bodoh penggila lagu metal. Dengan setengah kesal, gadis itu merayapkan tangannya menjelajahi kantung di bajunya, mencari-cari benda yang menimbulkan suara gaduh beberapa waktu ke belakang.
"Moshi-moshii~" Ruri menadakan kata-katanya, menyambut siapapun yang berada di sisi lain handphone bertema hello kitty miliknya.
"Moshi-moshi, Ruri-chan?"
"Eh? Hana? Doushitano?"
"Ne ne, aku berhasil memberikan coklat pada Akashi-senpai! Huwaaa, aku sungguh senaang!"
"E-Eh? USO! Kapan? Kapan kau memberikannya?" Ruri setengah berteriak sambil menatap layar ponselnya, seakan-akan Hana benar-benar berada di sana dan mampu melihat tatapan terkejut yang dilayangkan Ruri.
"Hehehe… Aku berhasil memberikannya tepat setelah ia berlatih basket. Untung saja saat itu sudah tidak banyak orang lain yang ingin memberikan coklat padanya, jadi aku bisa menatap Akashi-senpai secara langsung dan memberikan coklatku padanya. Huwaa, dan dia tersenyum padaku Ruri-chaan! My life all complete now~" Ruri terkikik geli mendengar cerita Hana.
"Mou, aku bangga padamu, Hana."
"Ruri-chan, kau juga harus segera memberikan coklat pada senpai tetangga sebelahmu yang tampan itu. Aku mendoakanmu. Ganbatte ne!"
KLIK.
"C-Chotto! Hana? S-Siapa pula yang mau memberikan coklat pada–" Namun terlambat, Hana sudah mematikan saluran telfonnya secara sepihak agar ia tidak mendengar elakan Ruri atau alasan apapun keluar dari bibir gadis manis itu.
Memang benar, jika akhir-akhir ini Ruri sudah mulai akrab dengan Hana. Hanya dengan Hana, semenjak ia menceritakan perihal Takao yang tinggal di sebelah rumah pada Hana. Dan Hana juga menjadi lebih terbuka pada Ruri, ia mengatakan bahwa Mika dan Aika yang notabene merupakan saudara kembar itu tidak terlalu menyukai Ruri. Singkatnya, mereka berteman dengan Ruri hanya karena gadis bersurai coklat itu adalah seorang idola kampus sejak semester pertama ia menginjakkan kaki di tanah fakultas hukum Universitas Todai. Dan entah mengapa Mika serta Aika sedikit demi sedikit terlihat menjauhi mereka berdua, sehingga otomatis Hana dan Ruri lebih sering menghabiskan waktu berdua saja. Yah, ini bukan berarti Hana dan Ruri peduli dengan dua saudara kembar itu, jadi Ruri dan Hana memilih membiarkan saja mereka berdua melakukan apapun sesuka mereka.
Kembali ke topik awal, Ruri kembali memfokuskan pandangan pada bingkisan manis berbentuk hati tersebut. Mungkin akan sangat mubazir jika ia tidak memberikan coklat ini setelah segala perjuangan dan pengorbanan yang ia lakukan untuk membuatnya.
"HUWAAA! SHIN-CHAN HENTIKAAN! NANTI BISA RUSAAK!" Ruri memicingkan kedua iris matanya dengan bingung, apalagi yang dilakukan tetangga sebelahnya itu sekarang?
Gadis bermarga Naoko itu kembali melangkahkan kaki menuju kamar tidurnya, salah satu dari sekian tempat terfavorit Naoko Ruri. Ia berjongkok pada sisi seberang ranjang tidurnya, sebisa mungkin menempatkan diri tidak terlihat dari ruang sisi lain jendela–namun masih berusaha agar ia dapat melihat ke ruang di balik jendela berbingkai kayu ulasan putih di hadapannya.
Ruri bisa melihat dengan jelas seorang pemuda bersurai kehijauan yang menggunakan kacamata, tengah memainkan sebuah gitar metalik berwarna biru mengkilat. Tentu saja Ruri mengenali siapa itu, Midorima Shintarou yang rumornya adalah salah satu dari jajaran generasi pelangi yang diketuai Akashi-senpai. Kalau Ruri tidak salah, Aika pernah membicarakan pemuda hijau ini, katanya Midorima itu anak fakultas kedokteran–dan Aika juga bilang bahwa pemuda itu agak tsundere. Meskipun sebenarnya Ruri tidak terlalu memahami makna kata tsundere dalam kamus besar kebahasaan.
Hey, Ruri adalah anak fakultas hukum! Bukan seorang kutu buku sastra yang harus bisa menghafalkan arti harfiah ratusan kata dalam kamus besar hanya agar bisa naik ke semester lanjutan.
Masih memfokuskan netra hazel pada kaca dua arah dalam kamarnya, sekali lagi Ruri mendapati individu lain yang baru saja masuk ke dalam kamar. Takao Kazunari masuk ke dalam kamarnya yang penuh poster band metal dengan keadaan topless. Oh… Ruri sedikit demi sedikit menjauh dari jendela berwarna putih tersebut. Mencoba sebisa mungkin tidak menimbulkan suara dan membuat orang-orang yang berada di dunia di balik jendela tidak menyadari bahwa ia baru saja memata-matai mereka.
Ruri berhasil keluar dari kamarnya dengan selamat, ia mengambil nafas kelegaan dan duduk manis di sofa beludru kesayangannya. Tidak lupa memeluk bantal beludru yang kini sudah terlihat agak lapuk–terlalu banyak dipeluk.
' . .GOD!' Naoko Ruri sudah tidak lagi mempertahakan ekspresi caktiknya yang biasa ia tampilkan jika ia berada di kampus atau saat ia bertemu tetangga-tetangga sekitar apartemen.
Mendadak baying-bayang Takao dan bagian atas tubuhnya yang sungguh membentuk roti sobek membuat Ruri tersipu sendiri. Ruri merasa hina, ini sama saja dengan ia mengintip Takao melalui jendela kamarnya. NO NO NO! Kenapa juga Takao harus topless seperti itu? Lagipula di sana kan ada Midorima juga. T-tunggu… Tunggu dulu…
"A-Apa yang dilakukan si Bakao dan Midorima-senpai dalam sebuah ruang tertutup dan apalagi dalam keadaan Takao yang tidak memakai pakaian bagian atasnya." Sekali lagi, wajah Ruri memerah. Membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya ia bayangkan, hal yang hanya dipikirkan para fujoshi dengan tingkat keakutan stadium 4.
Oke cukup.
Ruri harus meluruskan kesalah-pahaman ini. Ruri harus tahu apa yang mereka lakukan atau Ruri akan membocorkan rahasia tersebut.
Setelah memantabkan hati, Ruri bergegas menyahut sweaternya yang berwarna krim dan menguncir rambutnya yang seperti warna batangan coklat menjadi satu ponytail tinggi. Tidak lupa ia menyahut bingkisan berbentuk hati tersebut dengan satu sahutan cepat. Segera ketika semua yang ia butuhkan telah berada dalam jangkauan, gadis beriris hazel tersebut bergegas keluar dari apartemennya yang nyaman. Menuju apartemen sebelah yang memiliki nomor 018.
"Huft… Sekarang atau tidak sama sekali! Ganbatte, Ruri!"
BRAAK…
Baru saja ia mengangkat tangan kanannya, hendak mengetuk pintu berbahan kayu willow tersebut, seorang pemuda berkacamata dengan surai kehijauannya yang mempesona membuka pintu tersebut dengan satu hentakan keras.
"A-Ah… E-Etto…" Ruri gelagapan, tidak tahu harus berbicara apa. Memang susah mengakuinya, tapi yang ingin Ruri temui saat ini adalah Takao bukan kakak kelasnya yang satu ini.
Midorima hanya menatapnya dengan pandangan 'kau siapa? Apa maumu disini?' dengan aura-aura aneh yang membuat Ruri merasa bergidik dan ingin segera pulang ke apartemennya sendiri. Seakan-akan Ruri sudah mengganggu waktunya berdua dengan Takao, dan Midorima secara halus ingin mengusirnya dari sini.
Jujur saja, Ruri bukanlah anak penakut, namun rasa kebersalahan dalam diri gadis itu tatkala ia mengintip momen mereka berdua membuat gadis ini ingin melarikan diri sekarang juga. Namun, bukannya melangkahkan kaki pergi dari sini, Ruri memilih menatap balik iris hijau dibalik kacamata tebal khas sang three-pointer generasi keajaiban.
Entah selama berapa menit keduanya saling menatap satu sama lain, tidak ada yang berusaha mengalihkan pandangan dari netra yang terpatri pada fokus pandangan masing-masing. Baik Midorima maupun Ruri sebenarnya hanya tidak tahu harus melakukan apa, atau bicara apa. Walaupun kedua belah pihak sama-sama saling beranggapan bahwa lawan menatapnya terlihat kesal atau jengkel melihatnya.
"Eh? Shin-chan? Kenapa tidak berangkat pulang?" Midorima menoleh ke sisi belakang tubuhnya, menampilkan Takao yang kini sudah mengenakan kaos santai khas dirinya ketika berada di rumah. Ruri mendapati dirinya yang terbilang tidak terlalu tinggi, tidak bisa melihat sosok tetangganya yang tampan itu, hanya mampu mencerna kata-kata Takao yang ia nilai cukup janggal. Bagaimana bisa Takao mengatakan berangkat pulang? Bukankah kata berangkat dan pulang adalah dua kata yang saling bertolak belakang? Ruri sungguh tidak mengerti.
"Kau… ada tamu." Midorima hanya mengatakan tiga butir kata tersebut sebelum ia memutuskan untuk pergi dari apartemen kawan baiknya itu. Ia pikir lebih cepat ia pergi lebih baik, mungkin saja gadis yang datang ke apartemen Takao itu butuh waktu berdua dengan Takao.
Takao sungguh kegirangan, melihat tamu yang disebut Midorima tadi sejatinya adalah sang idola kampus yang tinggal tepat di sebelah apartemennya.
"Naokooo-chaaan~ Ada perlu apa kemarii?" Ruri hanya mendengus setengah kesal setengah bingung harus mengatakan apa. Ia sembunyikan baik-baik bingkisan berharganya di balik punggung. Pokoknya Takao tidak boleh melihat bingkisan itu sebelum saatnya.
"Y-Yang tadi… itu… u-umm..." masih gelagapan mencari kata-kata, gadis itu sesekali memainkan pucuk rambutnya menggunakan satu tangan, menggunakan sisi manisnya sebagai idola kampus demi menutupi kegugupannya.
"Ah… Shin-chan? Kenapa dengan Shin-chan?" Takao hanya mengedipkan mata tidak jelas. Terlalu bingung dengan maksud kedatangan tetangganya yang kelewat cantik ini ke apartemennya.
"A-Ah… Bagaimana ya? D-dia… itu… N-Nidorima-senpai itu… p-p-pa-PACARMU?" Ruri menutup kedua matanya dengan rasa takut yang berlebih berlabuh di hatinya. Bahkan saking gugupnya, ia tidak sadar bahwa ia salah menyebut nama marga Midorima menjadi Nidorima.
Takao tentu saja tertawa sangat keras hingga ia bisa saja dibilang gila jika tidak ada Ruri di hadapannya saat ini. Bagaimana bisa gadis itu menyimpulkan bahwa Shin-chan adalah pacarnya? Mereka 'kan sama-sama laki-laki. Dan juga bahkan ia menyebut nama marganya Nidorima. Sungguh Takao tidak bisa berhenti tertawa saat ini.
Pemuda dengan poni belah tengah badai itu memegangi perutnya yang mulai terasa kram, efek dari kebahagiaan yang timbul akibat tawa yang berlebihan. Tidak menyadari bahwa gadis di hadapannya mulai mengerucutkan bibir kesal, merasa tidak dihargai karena Takao menertawakannya dan juga tidak menjawab pertanyaannya.
"B-Bukan begitu… Ahahahaha… H-hanya saja… Aku dan… Ahahahaha Shin-chan sudah mengenal sejak SMA. Jadi kita tidak mungkin berpacaran, lagipula aku ini bukan gay, Naoko-chan." Takao menyeka air mata yang keluar dari sudut kelopak matanya. Sungguh ini pertama kalinya ada orang yang menyebutnya dan Midorima berpacaran.
"D-Demo… kau…dan dia… lalu… AAAHHH! Tidak tahu ah!" Naoko malah mendorong bingkisan yang beberapa menit lalu ia sembunyikan dengan sangat hati-hati tepat di dada bidang sang pemilik nama kecil Kazunari. Dengan wajah yang memerahnya sudah melebihi batas, Ruri menggembungkan pipinya karena dua alasan. Malu dan tersipu.
"Eh? Naoko-chan? I-Ini…"
"S-Sebaiknya kau menerimanya, karena aku sudah susah payah membuatkannya khusus untukmu. Jaa, Konbanwa." Ruri langsung berlari kembali ke apartemennya, mencoba sebisa mungkin untuk menstabilkan degup jantungnya yang terlalu berlebihan. Mendadak Ruri terlihat seperti gadis tsun-tsun.
Takao dengan hati berbunga-bunga menutup pintu apartemennya rapat-rapat, masih tidak mengalihkan pandangan dari bingkisan berbentuk hati yang baru saja ia terima. Coklat pertama yang ia terima berasal dari gadis paling cantik yang pernah ia kenal di dunia ini. Ooh… sepertinya Tuhan memang sudah menjodohkan mereka berdua. Bolehkah jika Takao berharap gadis itu menyukainya?
Takao menepis pemikiran-pemikiran aneh dalam benaknya. Ia langkahkan kaki menuju ruang tengah apartemennya yang berisi dua buah sofa one-size dan duduk di salah satunya. Ia perhatikan bingkisan tersebut masih dengan binar kebahagiaan terpatri di matanya. Ia buka pita pembungkus bingkisan tersebut dan membuka kardus dengan bentuk hati yang mendasari bentuk coklat yang ia peroleh. Waw, bahkan Ruri membubuhkan tanda tangannya di pojok coklat penuh cinta tersebut. Ah, Takao jadi makin cinta deh sama tetangga cantiknya itu.
"Jaa… Ittadakimasu~" Takao memotong coklat tersebut dalam satu potongan besar, tidak mengantisipasi bahwa sebenarnya Ruri sudah menambakan bahan tambahan pada coklat yang ia buat untuk Takao.
"Eh? Baru pertama kali aku merasakan coklat seperti ini… Naoko-chan benar-benar tahu seleraku ya~"
Oh… sepertinya pilihanmu memasukkan bubuk cabai di dalam coklat adalah kesalahan Ruri. Kesalahan yang amat besar…
.
.
.
Yo yo! Chapter 4 selesai!
Akhirnya setelah sekian perjuangan yang sangat besar yang telah dilakukan Aya di medan perang a.k.a rumah nenek terbayar sudah. Selesai juga chapter keempat dari serial 'License to Drive a Sandwich' yang dipopulerkan oleh Takao Kazunari sang hawk eye :3 Sekali lagi Aya harus meminta maaf atas jeda waktunya yang begitu lama dalam merealisasikan ffn ini dari chapter sebelumnya, hontouni gomenasai /bungkuk/
Oh, Aya hampir lupa. Terima kasih kepada reader sekalian yang sudah menyempatkan waktu membaca ffn ini disela-sela waktu sibuk kalian semua. Hontouni arigatou gozaimasu~
Aya tidak memaksa kalian untuk memberikan review atau fave, lagipula kalian membaca karangan ini sudah berarti kalian memberikan apresiasi pada Aya. Sore ja, mata nee!
Salam Hangat,
Nakashima Aya
