Haloooooo.. ada orang gak?
Readers: ADAAAA..
Wahahaha.. bagus. Tante senang. #plakkk#
Dengan bangga Rinko mengatakan bahwa inii adalah chapter terakhir dari fic ini. Ada yang protes?
Ichigo: kagak Rin. Gue malah seneng. Gak disiksa lagi.
Sabar chi. Gue seneng nyiksa lu. Kudu sabar ye.
Okeee... langsung aja kita saksikan.
The Great Babysitter
Chapter 4 (The Last Experrience)
By: Rinko Kurochiki
semi M kayaknya..
Disclaimer: yg punya calon penguasa Hueco Mundo, Om Tite Kubo.
Warning: AU, Typo (jangan ditanya ah. Dah tau sendiri kok), Gaje, apa lagi ya? Pokoknya Don't Like, Bon't Read. Kalo paham bagus. Kalo gak saya panggilin bang Ulqui buat cero ntar.
.
.
The Great Babysitter
Chapter 4 (The Last Experrience)
.
.
Oeekkk.. oeeekkkkk...
"I-ini sebentar dulu, Raiko. Ayah mohon."
Oeekkkk.. oeeekkkk...
Suara tangisan bayi terdengar kencang disetiap penjuru Kurosaki Mansion. Kurosaki Raiko, sepertinya tengah rewel dengan kegiatan yang dilakukan oleh ayahnya. Sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh Kurosaki Ichigo?
Seperti biasa ayah muda berambut orange ini tengah kesulitan memasang popok yang terus-menerus terbalik ketika ia mencobanya untuk memasangkannya kembali.
Oeekkkk... oekkkkk...
Ichigo menghentikan sejenak usahanya memasangkan popok yang ketiga kalinya ini. Disekanya keringat yang ada dipelipisnya.
"Oh ayolah jagoan. Sedikit lagi ayah hampir bisa. Sabar sebentar lagi ya."
Dasar Kurosaki Ichigo. Sudah mendapatkan pelatihan untuk memasang popok dari babysitter putranya sendiri, ia malah melupakannya dengan mudah bagaikan men-delete data saja. dan setelah berjuang selama kurang lebih 30 menit, akhirnya ia benar-benar melakukan pemasangan popok pada anaknya dengan baik. Hembusan nafas kelegaan terhembus dari mulutnya.
"Akhirnya selesai juga. sekarang giliranku untuk menenangkannya."
Karena Kurosaki kecil ini masih menangis kencang, jadi Ichigo harus menenangkannya secepat mungkin. Jika tidak, akan bertambah sulit untuk ditenangkan. Dengan telaten, Ichigo menenangkan bayinya dengan cara menggendongnya dan mengajaknya ke belakang rumah. Tempat favorit Raiko ada disana. Putranya ini sangat menyukai air. Jadi ketika Ichigo mengajaknya ke dekat kolam renang, maka pasti tangisan putranya akan terhenti.
"Nah ini tempat kesukaanmu sayang. Jadi ayah mohon untuk diam ya."
Ichigo membelai pelan rambut orange putranya. Sesekali ia bergurau sambil berjalan pelan mengelilingi .
Ichigo merasakan getaran ponsel yang ada disakunya. Segera diambilnya ponsel flip hitamnya dan melihat nama yang tertera. Istriya menelepon.
"Hay sayang."
'Hay sayang. Bagaimana kabarmu hari ini?'
"Baik. Kau?"
'Aku baik-baik saja. bagaimana dengan malaikat kecilku? Dia sehat-sehat saja kan?'
"Iya sayang. Sekarang dia ada digendonganku. Mau melihat wajahnya?"
'Tentu.'
Ichigo duduk dibangku dekat kolam renang. Dihidupkannya 3G yang ada diponselnya. Begitu melihat Raiko, Rukia berteriak histeris dan tak henti-hentinya tersenyum bahagia.
'Hay sayangku. Ini ibu. Ibu rindu sekali sayang. Ichi, dia terlihat gemuk sekarang.'
"Oh sayang, kau kan hanya disana selama 3 hari. Aku juga tidak mungkin memberikan obat penggemuk untuknya kan." Ujar Ichigo dengan sweatdrop. Walaupun ia masih tidak rela dijadikan babysitter, tapi dia juga tidak akan bertindak setega itu pada putra semata wayangnya kan.
'Ara gomen sayang. Oke aku akan ktutup dulu sambungannya. Hari ini aku akan pulang kan? jadi bersiaplah.' Senyum manis Rukia kepada suaminya itu.
"Oke sayang. Aku akan menunggumu. Aku mencintaimu."
'Aku juga sayang.'
Ichigo tersenyum lembut mengingat kata-kata istrinya tadi. Hari ini istrinya akan pulang. Senang rasanya bisa bertemu dengan bidadari surganya. Dihadapkannya putra kecilnya itu. Dikecupnya kening bayi kecilnya itu.
"Ne Raiko, ibu akan pulang hari ini. Apa kau senang?"
Raiko tersenyum lucu menanggapi pertanyaan ayahnya. Senyumnya benar-benar manis sekali, seperti ibunya.
"Tampannya anak ayah." Ichigo memeluk pelan tubuh mungil putranya.
Melihat kedua orang dengan persamaan rambut orange yang tengah tersenyum satu sama lain, memang mampu membuat kita gemas melihatnya. Apalagi keduanya sama-sama memiliki wajah tampan. Benar-benar amazing. Setuju?
.
.
RinRai KurosakiKuchiki
.
.
Dengan didampingi beberapa maid dan babysitter Raiko, Ichigo tampak menikmati acara renangnya disaksikan bayi mungilnya dari pinggir kolam. Berulang kali Raiko mencoba untuk turun dari kereta bayinya untuk ikut berenang bersama ayahnya. Sesekali ia juga akan merengek kecil meminta pertolongan babysitternya untuk mengeluarkannya dari kereta bayi itu.
Ichigo masih asyik dengan kegiatannya. Sesekali ia melambaikan tangannya pada bayi mungilnya yang tampak berjuang keras untuk keluar dari kereta bayi itu. Tapi sepertinya bayi kecil itu mulai menangis kecil sekarang. Usahanya terus gagal.
Hiks.. hiks..
Ichigo berhenti sejenak melihat putranya. Tampak ia menjulurkan kedua tangannya meminta sang ayah untuk mengajaknya berenang juga. Ichigo terkekeh geli.
"Kau juga mau ikut berenang, jagoan kecil?"
Raiko terus menerus merengek kecil mengiyakan pertanyaan sang ayah. Mungkin jika bayi mungil in bisa berbicara maka ia akan mengatakan 'Aku mau ikut.'
"Oke baiklah. Sayaka-san, tolong kau lepaskan baju Raiko." Pinta Ichigo pada babysitter putranya.
"Baik, Kurosaki-sama."
Dengan masih agak sedikit merengek kecil, Raiko tampak menurut ketika bajunya dilepaskan oleh babysitternya. Setelah semua pakaian terlepas, Sayaka-san memberikan Raiko pada ayahnya. Perlahan Ichigo mencelupkan kakinya dulu agar terbiasa dengan dinginnya air kolam.
"Sudah siap. Sekarang kita berenang ya."
Ichigo menggendong putranya menuju ke tengah kolam. Tawa riang bayi 9 bulan itu terlontar ketika air kolam yang dingin menyentuh kulitnya. Ichigo tertawa geli melihat kelucuan putranya.
"Kau suka?"
Raiko berteriak-teriak kecil seraya menepuk-nepuk air kolam itu dengan tangan mungilnya. Melihat keceriaan dari tuan muda kecilnya, membuat maid yang ada disitu terseenyum simpul mendengar betapa senangnya bayi itu memainkan air kolam itu. Raiko memang menyukai hal yang berbau air. Jika sudah seperti itu, akan sulit untuk siapapun menghentikan kesenangan Kurosaki kecil itu. Mudah-mudahan nanti Ichigo bisa membujuk putranya untuk keluar dari kolam.
.
.
.
Setelah kurang lebih 1 jam Ichigo bermain air bersama putranya, akhirnya ia sudah rapi dan bersih sekarang. Ternyata benar, sulit sekali membujuk putranya untuk keluar dari kolam. Raiko menangis sangat keras tadi. Dan mau tidak mau yang mengurus itu haruslah babysitternya. Jika tidak, Ichigo akan semakin membuat putranya menangis.
Disinilah ia sekarang. Duduk santai diruang keluarga sambil memangku putranya yang tengah meminum susunya. Setelah menagis keras, Ichigo memberikan susu ASI yang sudah Rukia simpan dikulkas jika dirinya pergi. ASI memang susu terbaik untuk bayi seusia Raiko seperti ini.
"Apa yang harus kuberikan saat Rukia pulang nanti ya? Aku bingung." Ichigo berbicara pada irinya sendiri. Bingung akan memberikan apa untuk sitri tercintanya itu.
"Saya mempunyai usul, Kurosaki-sama."
Ichigo menoleh kebelakang. Dilihatnya Shizuku yang tengah berdiri sereya tersenyum simpul. Astaga! Kaget juga dirinya tiba-tiba Shizuku sudah ada dibelakangnya.
"Apa itu, Shizuku?"
"Kenapa tidak anda tidak memberikan pesta kejutan saja untuk Rukia-sama? Pasti Rukia-sama akan menyukainya."
Ichigo terdiam sejenak memikirkan tentang rencana itu. Sepertinya itu ide bagus.
"Oke. Aku setuju. Tolong kau persiapkan pesta itu sebaik mungkin. Juka perlu panggil pendekorasi ruangan untuk mendekorasi ruangan itu." Ujar Ichigo dengan senyum sumringah yang terlihat jelas diwajahnya.
Shizuku tersenyum simpul. "Baik, Kurosaki-sama."
Shizuku segera menuju keruang belakang untuk mengumpulkan para maidnya tentang pesta dadakan itu. Ichigo memejamkan matanya sejenak, sepertinya ia terlalu bahagia sekarang.
"Hebat juga, Shizuku. Aku suka idenya."
Sebenarnya untuk ide seperti itu, bukankah itu sebuah ide yang simple. Harusnya kan semua juga bisa memikirkan hal itu. Kenapa Ichigo tidak terbesit ya? Hemm... hell yeah. Yang penting sudah dijalankan kan?
.
.
RinRai KurosakiKuchiki
.
.
Kurosaki mansion tampak sibuk sekarang. Akibat pesta dadakan itu, para maid harus ekstra bekerja keras demi lancarnya acara penyambutan nyonya Kurosaki mereka. Ichigo dengan menggendong putranya diruang utama, tampak mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh para maid dan juga pendekorasi yang sudah dipesan Shizuku kurang dari 1 jam yang lalu. Tampaknya para tim pendekorasi ini sangat cekatan. Ichigo beralih menuju kepintu depan. Tampak juga beberapa bunga hiasan sudah terjejer di depan pintu mansion megah ini.
"Kau suka dengan desainku, Ichigo?"
Ichigo membalikkan badanya menghadap orang itu. Matanya membelalak lebar melihat siapa yang telah berdiri dihadapannya.
"Astaga, Yoruichi? Ja-jadi kau, kau.."
"Iya aku yang menjadi Event Organaizer untuk acara ini. kau kaget?"
Yoruichi Shihouin yang sudah Ichigo anggap sebagai kakaknya ini tersenyum simpul kepada pria dihadapannya. Ichigo bersweatdrop ria. Satu tahun yang lalu kan Yoruichi berpamitan padanya untuk pergi menetap di Jerman. Kenapa ia malah disini?
"Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah seharusnya kau ada bersama kekasihmu Urahara?"
Yoruichi menggendong Raiko keponakan kecilnya. Raiko sedikit merengek kecil sekarang.
"Urahara mendirikan sebuah perusahaan disini. Dan aku mengikutinya."
Ichigo bertambah sweatdrop sekarang. Selalu saja tidak mengabarkan dulu jika sudah ada disini. Dulu saja saat akan pergi ke Jerman, ia tidak sengaja bertemu dengannya di bandara saat dirinya akan bertolak ke Singapura untuk perjalanan bisnisnya. Karena pertemuan tidak sengaja dengan dirinya, jadi ia berpamitan.
"Ternyata kau tidak berubah. Tampilanmu pun selalu seperti ini. dasar." Ujar Ichigo menyindir penampilan Yoruichi. Sudah berpuluh-puluh kali juga ia mengatakan agar wanita berkulit hitam eksotis ini utntuk merubh penampilannya yang seperti tante-tante dipinggir jalan itu. Tapi selalu saja ia menolaknya mentah-mentah.
"Tidak usah memulai, Ichigo. Inilah gayaku. Kau tidak usah protes, tampan." Yoruichi membelai dagu Ichigo manja.
"Hentikan, Yoruichi. Jika Rukia tahu, maka habislah aku." Ichigo menampik tangan Yoruichi.
Perbuatannya tdai sangat tidak sukai oleh Rukia. Siapapun itu yang berani melakukan hal itu –tidak terkecuali Yoruichi- maka Rukia akan murka besar. Rukia sangat posesif untuk menjaga Ichigo. Sedikit saja Ichigo bermain dengan wanita lain, maka tanah yang belum dipenuhi bunga menjadi pekerjaan yang harus ia lakukan.
Yoruichi terkikik geli menanggapi pernyataan pria didepannya. Mempunyai istri seperti Rukia memang tidak mudah dan tidak sulit. Setiap hal pastilah ada konsekuensinya.
"Kurosaki-sama, ada telepon dari Abarai-sama." Shizuku menyampaikan pesan kepada tuan besarnya itu.
"Baiklah. Yoruichi, tolong kau jaga Raiko dulu."
"Oke, tampan."
Ditemani oleh pelayan pribadinya, Ichigo memasuki kediamannya untuk menerima telepon dari sahabat merahnya. Ada apa lagi dengan babon itu?
"Ada apa, Renji?"
'Aku dengar kau mengadakan acara penyambutan istrimu. Kau tidak mengundangku, Kurosaki-sama?'
"Cih. Memang aku mau menerima tamu gelap sepertimu. Datanglah nanti malam. Ada banyak makanan gratis disini." Sindir Ichigo dengan menekankan kata 'Gratis' pada ucapannya. Renji tipe pria yang menyukai makanan gratis. Jadi dimanapun ada makanan gratis, pasti ia akan datang.
'Kau menyindirku ya? Aku akan datang bersama Tatsuki dan membawakan hadiah yang besar.' Olok Renji yang –Mungkin- juga menyindir Ichigo yang pastinya lupa dengan kado untuk istrinya.
"Kado?"
Jackpot. Benar kan? Ichigo lupa dengan hal itu. Tadinya jika Shizuku tidak memberikan usulan untuk pesta ini, pasti Ichigo tidak ingat. Ternyata kepintaran Ichigo berbanding terbalik dengan kermantisannya membahagiakan pasangannya. Hadehhh.
'Oy Ichigo, kututup dulu. Karena kau cuti, aku harus menandatangani berkas pentingmu. Sampai njumpa.'
Renji langsung menutup sambungan teleponnya. Perkataan dari Renji tadi memberikan pencerahan untuknya. Ia harus mencarikan hadiah yang spesial untuk istri tercintanya. Itu benar.
"Yosh! Aku akan mencarinya. Shizuku, Homura?"
"Ya, Kurosaki-sama?" jawab serenpak kedua pelayan pribadi itu.
"Homura, tolong kau persiapkan perlengkapan Raiko dan Shizuku tolong kau siapkan mobil merahku. Aku akan pergi ke pusat kota Ginza mencari sesuatu."
Mendengar perintah dari tuan besarnya, Homura dan Shizuku segera melaksanakannya. Petualangan hari ini dimulai.
.
.
.
Mobil sport berwarna merah itu melaju pelan di tengah ramainya kota Ginza. Ichigo masih mencari hadiah apa yang cocok untuk istrinya. Sudah terlalu banyak kado yang ia belikan untuk istrinya itu, mulai dari kalung, cincin, sampai jam tangan mahal. Tapi untuk kali ini, apa yang harus ia cari?
"Kita harus mencari apa, Raiko? Tou-san bingung." Ujar Ichigo menoleh kearah bayi mungilnya yang duduk terdiam disampingnya.
Raiko hanya mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Ia sepertinya juga bingung harus mengatakan apa. Jadi ia hanya bisa terdiam memandangi Tou-sannya yang masih bingung mencari kado apa untuk Kaa-sannya.
Karena Ichigo ingin lebih leluasa mencari hadiah, akhirnya ia putuskan untuk memarkirkan mobilnya di parkiran yang terletak didekat sebuah restaurant. Dengan menggendong bayinya, Ichigo berjalan mencari hadiah kesetiap toko yang ia lewati. Oke, otaknya buntu sekarang. Hadiah apa yang cocok untuk istrinya?
"Ara ada adik kecil tampan. Apa adik kecil mau berfoto bersama dengan Thomas?"
Ichigo mengerjap-ngerjapkan matanya melihat seorang gadis yang menawarinya untuk berfoto bersama Thomas. Gadis itu tersenyum manis melihat kebingungan Ichigo.
"Selamat siang, tuan. Kami baru saja membuka studio foto baru. Kali ini kami mengambil tema kereta Thomas. Apa tuan mau mencoba berfoto bersama karakter Thomas?"
Ichigo melihat studio foto yang –cukup besar- dan begitu menarik perhatian setiap orang yang lewat. Ia mengingat tempat ini. bukankah dulu tempat ini sebuah toko buku?
"Ini gratis tuan. Anggap saja ini promo."
Ichigo berpikir dengan tawaran gadis itu. sepertinya ia harus mencobanya. Apalagi, putra mungilnya telah merengek kecil memintanya untuk masuk ke tempat itu. kartun itukan karakter kesukaannya. Jadi jelas saja putranya suka.
"Baiklah, jagoan. Ayo kita coba."
"Silahkan tuan."
Ichigo masuk ke studio foto itu ditemani gadis tadi. Begitu masuk studio, suasana menyengangkan terasa sekali di dalam sini. Banyak anak-anak kecil yang berlarian kesana kemari menunggu giliran difoto. Raiko tampak berteriak lucu melihat banyak anak-anak yang berlarian kesana kemari didepannya.
"Silahkan anda tunggu ditepat duduk sebelah sana, tuan. Nanti kami akan mendandani anda dan putra anda." Ujar gadis itu sambil memberikan sebuah minuman dingin untuk Ichigo.
"Terima kasih."
Ichigo menurunkan Raiko ditempat kumpulan para bayi sebayanya. Tampak sekali ia tertawa riang bermain dengan teman sebayanya. Ichigo jadi ikut tersenyum melihatnya. Raiko kan selalu bermain dengan maid atau pengasuhnya. Jadi bertemu dengan teman sebayanya, merupakan sebuah hal yang menyenangkan untuk bayi berumur 9 bulan itu.
"A-apakah anda... Kurosaki Ichigo?"
Ichigo yang kini tengah berjongkok untuk mengawasi putranya, mendongakkan kepalanya keatas melihat siapa yang menyapanya.
"Iya. Kau siapa?"
"Astaga! Jadi benar anda adalah Kurosaki Ichigo milyarder terkenal itu?"
Mendegar nama Kurosaki Ichigo diteriakkan oleh pria itu, membuat semua orang menoleh memandang Ichigo yang -sekarang telah berdiri- menggendong putranya. Apa...kehadirannya dari tadi hanyalah sebuah hawa saja untuk mereka?
"Ya benar. ada yang bisa kubantu?" Ichigo menanggapi ramah pria didepannya.
Pria dengan bulu mata tidak wajar itu, menjabat tangan Ichigo kencang. Senyuman bahagia tampak menghiasi wajahnya.
"Per-perkenalkan namaku Yumichika. Aku adalah fotografer sekaligus penggemarmu. Aku sangat mengagumimu tuan." Ucap pria kemayu itu heboh sambil menunjukan beberapa majalah ekonomi yang disitu terdapat foto Ichigo sebagai covernya.
Ichigo berswaetdrop ria dan tersenyum meringis menanggapi pria itu. heboh sekali pria ini. lihat ulahnya, sekarang banyak kerumunan yang melihatnya kan.
"Ara, apakah ini putra anda? Astaga! Tampan sekali." Yumichika mencubit pipi Raiko gemas. Raiko mengeratkan pelukannya pada Tou-sannya. Sepertinya Raiko takut dengan pria itu.
"I-iya terima kasih." Ichigo ikut mendekap putranya. Jika pria ini bukan penggemarnya, jangan harap bulu matanya akan tumbuh kembali dengan anehnya. Beraninya ia mencubit pipi putranya seperti itu.
"Baiklah tuan, mari biar aku dandani anda untuk berfoto bersama putra anda. Silahkan." Ujar pria itu mempersilahkan Ichigo untuk didandani.
Asisten dari pria itu menggendong Raiko untuk didandani sesuai dengan arahan fotografernya. Ichigo terlihat pasrha ketika dirinya didandani sesuai keinginan laki-laki itu. mudah-mudahan wajahnya tetap tampan seperti sedia kala lagi.
.
.
RinRai KurosakiKuchiki
.
.
Setelah setengah jam Ichigo dan putranya di make-up, akhirnya mereka sudah siap untuk difoto. Ichigo tampak casual sekali mengenakan baju tanpa lengan berwarna hitam dengan garis putih disekitar lehernya. Itu dipadukan dengan celana putih dan sepatu sport berwarna putih juga. sedangkan putranya tampak lucu dengan baju baby clothes berwarna biru bergambar kereta Thomas dengan sepatu bayi berwarna coklat. Lucu sekali.
"Astaga. Kalian sangat tampan. Oke, mari kita mulai. Isane, tolong kau letakkan bayinya disana. Dan Kurosaki-san, anda berdiri agak jauh menghadap putra anda dan rentangkan kedua tangan anda seperti ingin menggendongnya sambil tersenyum lembut. Biarkan bayinya ingin melakukan apapun sesukanya. Anda mengerti kan?" Ujar Yumichika mengarahkan model dadakannya itu.
Ichigo mengangguk sambil bersweatdrop ria. Tujuannya kemarikan hanya ingin mencoba saja. kenapa jadi seperti ini?
"Oke. Siap. 1, 2, 3. Bagus. Pertahankan senyum anda, Kurosaki-san. 1, 2, 3. Oke bagus. Ganti pakaiannya."
Mulut Ichigo menganga lebar sekarang. Apa maksudnya tadi?
"Isane, pakaikan Kurosaki-san baju putih lengan panjang dan jeans yang kemarin kita gunakan untuk pemotretan di Harajuku. Lalu untuk babynya, pakaikan baju tanpa lengan dan celana katun berwarna coklat. Ganti sepatunya dengan sepatu bergambar Thomas."
"Baik, Yumichika-san."
Isane dan tim dari Yumichika segera bergegas memakaikan baju untuk kedua orang model itu. Ichigo terduduk lemas sekarang. Lakukan apa sajalah semau pria itu. sepertinya untuk hunting kado tidak jadi dilakukannya. Nasib sekali.
.
.
.
Waktu menunjukan pukul 6 sore. Setelah ia tadi menjadi bahan model percobaan, Ichigo telah kembali dari Ginza dengan Raiko yang tertidur pulas didalam mobil. Para maid menyambut kedatangan tuan besarnya dan membantunya membawakan barang-barang yang –tidak sengaja- ia beli untuk kado istrinya. Ia juga tidak tahu barang apa itu. ia hanya menunjuk barang ini dan itu sesuai kehendak tangannya saja. Raiko telah dibawa oleh pengasuhnya untuk tidur dikamarnya.
Sepertinya persiapan untuk acara penyambutan istrinya telah selesai dengan baik. Syukurlah ia tidak harus mengontrol lagi.
"Ku-kurosaki-sama, gawat."
"Ada apa, Homura? Aku lelah sekali sekarang ini."
Melihat wajah kusut tuan mudanya, Homura menunduk hormat menyampaikan penyesalannya.
"Sumimasen, Kurosaki-sama. I-itu se-sebenarnya..."
"Ada apa, Homura? Katakan saja." Ichigo masih menyandarkan badanya lemas di sofa ruang keluarga. Badannya seperti akan remuk sekarang.
"Rukia-sama sudah hampir tiba di kediaman. Sekarang beliau ada dalam perjalanan, Kurosaki-sama.
Ichigo segera berdiri dari duduknya dan menatap pelayan pribadi Rukia itu horror. Istrinya sudah tiba di Tokyo?
"Di-dia sudah datang?"
"Benar, Kurosaki-sama. Baru saja tuan Abarai menelepon bahwa Rukia-sama sudah ada di bandara 45 menit yang lalu. Sekarang beliau sedang ada diperjalanan."
Matilah Ichigo. Jika dirinya tidak siap-siap, acara penyambutannya akan gagal.
"Baiklah aku akan bersiap. Homura, kau minta Sayaka-san untuk memandikan Raiko sekarang juga. dan Shizuku, kumpulkan para maid dan siapkan semuanya. Aku mau 15 menit selesai."
"Ta-tapi, Raiko-sama.."
"Bangunkan saja dia dan mandikan. Jika Rukia melihatnya belum mandi, pasti ia akan marah. Cepat."
Ichigo mulai panik dengan apa yang harus ia lakukan. Homura hanya menghela nafas panjang dan menjalankan perintah tuannya. Sedangkan Shizuku sudah menjalankannya dari tadi. Dengan bergegas, Ichigo naik ke lantai dua dan mempersiapkan dirinya demi menyambut ratu cantiknya. Ia harus wangi jika ingin mendapatkan hadiahnya kan?
Para tamu yang Ichigo undang lewat e-mail sudah berdatangan. Ada Kaien beserta dengan istri dan putri kecilnya, Grimmjow dan Louis, Uryuu beserta dengan ayahnya dan putri mungilnya Himeka, Ashido Kano bersama dengan bayi cantiknya Ayumi Kano, Gin Ichimaru dengan putra kecilnya Hiroshi Ichimaru, Renji, Tatsuki, Kira, dan teman-teman semasa SMA pastinya.
Jika kalian bertanya, kenapa para anggota The Golden Knight ada disini? Mereka disini atas perintah Ichigo yang menyuruh mereka untuk sekalian mngadakan acara sambutan selamat datang bagi istri-istri mereka. Gila? Oh ya. Jangan lupakan jika mereka The Golden Knight. Memakai baju maid pun sanggup mereka lakukan. Iya kan?
Oekkkk... oekkkk...
Para tamu yang sudah hadir di ruang utama menengadah kearah sala suara tangisan bayi dari lantai dua. Suara tangisan Raiko terdengar amat keras memenuhi ruangan pesta itu.
"Ada apa lagi dengan, Raiko?" Kaien menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ini pasti ulah Ichigo lagi.
"Biar kulihat dulu." Miyako istri Kaien berjalan menaiki tangga menuju ke kamar keponakannya.
Ichigo tampak kewalahan sekarang. Tangisan Raiko yang tadinya hanya rengekan kecil, kini berubah menjadi tangisan keras yang mampu membuat telinganya berdengung. Sayaka-san bilang kalau Raiko tidak suka tidurnya diganggu. Salahkan Ichigo yang memaksanya untuk mandi saat bayi ini masih mengantuk. Beginilah jadinya.
"Ada apa dengan Raiko-chan, Ichigo-kun?" Miyako menghampiri Ichigo yang tampak bingung sekali menenangkan bayinya.
"Oh Miyako-nee. Raiko menangis saat tidurnya terganggu untuk mandi sore. Beginilah jadinya." Ungkap Ichigo yang masih mencoba ,menenangkan bayi kecilnya.
"Biar aku yang menenangkannya. Kau turunlah ke bawah menemui para tamu."
"Baiklah. Tolong ya, Miyako-nee."
Ichigo memberikan putranya pada Miyako. Dengan telaten Miyako Shiba mencoba menenangkan putra Ichigo itu secara perlahan. Ichigo turun menemui para tamunya. Sepertinya tamunya sudah banyak yang berkumpul. Walaupun sepetinya kakak iparnya belum kelihatan batang hidungnya.
"Hey sobat, ada apa lagi dengan putramu?" Grimmmjow menepuk pelan pundak Ichigo.
"Rewel setelah dimandikan. Ia masih mengantuk, jadi tidak terima jika tidurnya diusik." Ujar Ichigo menjelaskan pada sahabat-sahabatnya.
"Jelas saja begitu. Kau terlalu gegabah membiarkannya mandi saat dia masih mengantuk." Renji memberi nasihat pada sahabat orangenya itu. padahalkan Renji belum terlalu paham dengan yang namanya mengasuh bayi.
"Itu juga sebuah pelajaran untukmu, Abarai. Belajarlah dari kami." Ishida mencoba membalikkan nasihat yang tadinya untuk Ichigo itu.
"Setuju denganmu, Uryuu." Ashido menambahkan pernyataan sahabat berkacamatanya itu.
Renji mendecih sebal. Mulai lagi si kacamata dan pria sok perfect ini.
"Iya, iya aku tahu dokter Ishida, Tuan Kano."
Mereka semua tertawa satu sama lain. Renji yang walaupun tidak masuk sebagai anggota itu, tapi dirinya sering bergabung dengan The Golden Knight. Jadiah mereka bisa akrab satu sama lain.
"Rukia-sama sudah tiba bersama dengan teman-temannya, Kurosaki-sama."
Ichigo tersenyum bahagia mendengar istrinya sudah kembali dari Korea. Ichigo dan yang lainnya berjalan menuju pintu utama. para maid membungkuk hormat kepada nyonya besar mereka.
"Okaerinasai, Rukia-sama." Ucap para maid itu serempak.
Melihat banyak sambutan yang begitu meriah, membuat Rukia dan sahabat-sahabatnya tersenyum kagum. Belum lagi banyak bunga-bunga indah dan spanduk bertuliskan 'Okaerinasai.'. Ichigo tersenyum melihat ratu Kurosakinya. Direntangkannya tangannya kepada sang istri.
"Okaerinasai, My Quenn."
Rukia tersenyum simpul dan memeluk suaminya. Tepuk tangan menjadi backsound yang indah untuk pertemuan suami-sitri ini. selamat datang untuk nyonya Kurosaki.
.
.
RinRai KurosakiKuchiki
.
.
Pesta penyambutan pun dimulai. Rukia tampak sibuk menemui para teman lamanya yang baru kali ini bisa ia temui. Setelah sedikit menyapa mereka, Rukia menemui suaminya untuk menanyakan dimana keberadaan putra kecilnya.
"Sayang, dimana Raiko?"
"Dia ada di.."
"Ada disini, Rukia-chan."
Rukia berbalik badan menghadap orang yang ada dibelakangnya. Senyum bahagia terpancar dari wajah cantiknya.
"Raiko-chan. Apa kabar sayang? Ibu rindu aekali." Rukia menggendong bayi mungilnya seraya memeluknya erat. Rindu sekali dengan bayi mungilnya ini
"Selamat datang kembali ya, Rukia-chan." Miyako memeluk Rukia pelan.
Senyum simpul tersungging dari wajah Rukia. "Arigatou, Miyako-nee."
"Apa kau juga tidak mau memelukku, Rukia-chan?"
"Tentu saja mau, Kaien-nii. Kemarilah."
Kaien Shiba, memeluk Rukia yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Merasa terabaikan, Kurosaki kecil menangis merengek digendongan Rukia. Sepertinya ia cemburu.
"Sepertinya kau harus memberikannya makan dulu, Rukia. Ia juga pasti rindu denganmu."
"Ehm. Kalau begitu aku keatas dulu."
Dengan membawa Raiko, Rukia berjalan menuju kamarnya dilantai atas. Mata Ichigo mengikuti kemana istrinya akan pergi. Oh yes ke kamar. senyum seringai menyertai tatapan berbinar milik Ichigo. Kesempatan yang emas untuk meminta imbalannya karena ia telah menjaga buah hati mereka selama Rukia pergi.
Sgera Ichigo enyusul istrinya berada. Sekarang ia tidak peduli jika tamu-tamunya mencarinya. Kurosaki Ichigo, ingin menikmati malam indahnya bersama bidadari mungilnya. Tentu saja siapapun tidak boleh mengganggu. Jika ada yang mengganggu dirinya, siap-siap kepala terpenggal.
Tok.. tok..
Ichigo mengetuk pintu kamarnya. Tampak didalam Rukia tengah duduk di sofa dekat jendela kamarnya dengan Raiko yang dipangkunya. Bayi kecilnya tengah lahap menikmati ASI yang sudah beberapa hari ini tidak diminumnya.
"Ada apa, Ichi?" Rukia tersenyum melihat suaminya yang sudah duduk di sebelahnya.
Ichigo mengecup pelan bibir istrinya. Senyum simpul ia lontarkan kepada istri cantiknya itu.
"Begitu kau sampai disini, kau langsung memeluk Kaien-nii. Bagaimana denganku?"
"Kau cemburu ya?" Canda Rukia sambil terkekeh pelan melihat suaminya yang tengah bersedekap dada. Kalau benar ini dugaannya, bagaimana bisa ia cemburu dengan kakak sepupunya itu?
"Em... sedikit. Oh ya, kau pintar sekali merencanakan itu dengan Rangiku. Aku shock sekali." Ungkap Ichigo jujur disertai bibirnya yang mengerucut. Wajar bukan jika ia begini? Melakukan persekongkolan itu kan termasuk hal yang melanggar etika. Setidaknya itu menurut pendapatnya sendiri.
Rukia kembali terkekeh pelan sekarang. Ia mengingat tentang rencana mereka yang terbongkar dengan mudah oleh para uami-suami mereka.
"Maaf ya, sayang. Kalau aku tidak ikut, bagaimana aku bisa membiarkanmu mengasuh Raiko? Kau kan juga harus merasakan mengasuh putramu sendiri."
Ichigo menghela nafas lelah. Sepertinya untuk kali ini, ia tidak usah beradu argumen dulu dengan istrinya ini.
Raiko sudah tertidur dipangkuan Rukia. Dengan menggendongnya perlahan, Rukia meletakkan tubuh mungil putranya di box bayi yang ada didekat kasurnya. Ichigo tampak tersenyum jahil melihat istrinya yang tengah membenahi selimut putranya itu. Ichigo mulai mendekati istrinya itu dan memeluk erat pinggul mungil bidadari kecilnya itu. Bisikan kecil ia arahkan ke telinga kanan istrinya itu.
"Bagaimana kalau kita lakukan sekarang? Kau tahu kan jika aku menantinya selama 3 hari ini."
"Tu-tunggu dulu, Ichi. Diluar masih banyak tamu kan?" Ujar Rukia gelisah mencoba membujuk Ichigo yang saat ini tengah mengecup pelan lehernya.
Ichigo tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Rukia. Tangannya semakin erat memeluk pinggang mungil istrinya itu. Gairah Ichigo sekarang ini sudah mengendalikan akal pikirannya. Percuma saja jika Rukia meminta agar suami orangenya ini untuk menghentikan aksinya ini. Semakin ia melawan, maka Icigo akan semakin beringas dan mampu membuat permainan ini tidak hanya 2 atau 3 ronde, tapi 5 ronde sekaligus.
Ichigo menjatuhkan tubuh mungil istrinya ke atas ranjang yang selama beberapa hari ini hanya Ichigo seorang yang menempatinya. Cumbuan-cumbuan penuh gairah Ichigo berikan kepada Rukia demi membuat Rukia membalas setiap kecupan yang ia berikan. Seakan menyambut keinginan sang suami, dengan mesranya Rukia membalas cumbuan manis itu.
Disela-sela cumbuan itu, tangan Rukia mulai aktif bergerak untuk membuka kancing kemeja milik Ichigo satu persatu. Ichigo melepas cumbuannya sejenak demi melihat wajah cantik bidadainya di moment indah ini. Terlihat nafas memburu dieluarkan oleh Rukia demi menghirup oksigen lebih banyak.
"Hey, sepertinya bukan aku yang agresif saat ini? Apa kau yang menginginkannya lebih, hem?" Ichigo menyeringai seraya mengecup berulang kali leher putih istrinya.
"Ahn, di-diamlah. K-kau juga kan yang menginginkannya. Ehnn." Desah Rukia dengan memegangi arat pundak suaminya.
"Oke. Terserah apa katamu, My Queen. Aku akan membuat pengecualian untuk hari ini. Kau boleh melakukannya duluan untuk ronde pertama. Ronde ini, seluruhnya milikmu sayang." Bisik Ichigo mesra.
Ichigo berdiri dari ranjangnya dan mulai melepas kemeja juga celananya demi menerima layanan ronde pertama dari sang istri. Rukia menggigit kuku jarinya melihat Ichigo yang tengah sibuk melepas semua pakaiannya.
"Sekarang giliranmu melepas semuanya. Apa... mau kubantu?" Ichigo kembali menyeringai menawarkan dirinya untuk melepas dress putih milik istrinya. Rukia menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah. Biar aku sendiri saja yang melakukannya. Kau diam saja ditempat tidur." Tolak Rukia seraya turun dari ranjang.
Ichigo terkekeh geli mendengar penolakan dari Rukia. Nakal sekali istrinya ini. Padahal jika mau, Ichigo akan mencuri sedikit jatah rondenya.
Rukia mulai menanggalkan dress putihnya dan seluruh pakaian dalam yang ia kenakan hari ini. Wangi parfum asal paris menguar dari tubuh wanita berparas cantik itu. Hal itu semakin membuat Ichigo semakin terangsang sekarang. Setelah selesai menanggalkan seluruh pakaiannya, Rukia mulai berjalan menghampiri Ichigo yang tengah berbaring diranjang. Sebuah senyuman menggoda ala dirinya ia layangkan untuk suaminya itu.
"Malam ini akan kubuat dirimu memohon ampun padaku, Kurosaki-sama. Bersiaplah."
Mendengar kata-kata menggoda itu, sudah mampu membuat gairah Ichigo semakin memuncak sekarang.
"Let's do that, my queen."
Rukia mulai merangkak menaiki tubuh Ichigo. Selama mereka melakukan hubungan intim ini, belum pernah sekalipun Rukia memulai untuk ronde pertama ini. Tentu saja ini adalah moment paling menyenangkan untuk dirinya.
"MENANTUKU, MY SON, CUCUKU, AKU DATANG."
Suara teriakan terdengar dari arah lorong ujung kamar mereka. Rukia menghentikan aksinya sejenak.
"Sepertinya itu suara ayah, Ichi. Apa ayah kemari?" Rukia menoleh kearah pintu kamarnya.
Ichigo mulai menggerutu sebal melihat istrinya yang begitu tertarik dengan suara si kambing tua itu.
"Tidak ada suaranya, sayang. Sudahlah, lanjutkan saja."
Rukia mulai berpikir sejenak. Tadi, dia memang mendengar suara ayah mertuanya. Tapi kenapa sekarang tidak terdengar lagi? Ah mungkin itu hanya halusinasinya saja. Lebih baik ia lanjutkan saja aksinya tadi.
Isshin Kurosaki, berjalan kearah kamar putranya bersama dengan 3 pengawal yang mengangkat sebuah bingkai foto besar dan 2 kepala pelayan yang menjelaskan kepada tuan besar mereka tentang kondisi rumah ini juga kondisi putranya, menantunya, dan juga cucu tersayangnya.
"Seperti yang sudah saya katakan , Isshin-sama. Ichigo-sama sudah banyak berubah setelah beliau menikah dan memiliki putra. Beliau jadi jauh lebih sabar dan dewasa, Isshin-sama." Shizuku menjelaskan bagaimana perkembangan Ichigo kepada tuan besarnya ini.
Ichigo yang dulu dengan yang sekarang sangatlah berbeda. Dulu sebelum ia bertemu Rukia. Ia selalu senang berkelahi dan melakukan hal-hal yang cukup membuat Isshin pusing sebagai single parent. Belum lagi dengan urusan perusahaan yang tidak bisa ditinggal. Itu semakin membuat dirinya tidak bisa mengontrol putra sulungnya itu.
"Dimana sebenarnya mereka? Aku sudah rindu dengan mereka." Ungkap Isshin masih berjalan kearah kamar putranya.
Isshin dan yang lainnya sudah sampai didepan pintu kamar putranya.
"Kalian tunggu disini saja. Aku ingin memberikan surprise pada mereka."
Para pelayan itu mengangguk paham mendengar titah dari tuan besar mereka. Dengan perlahan, Isshin membuka pintu kamar dihadapannya. Perlahan, perlahan...
"TADA~ APA KABAR SEMUANYAAAA!"
Tidak terdengar apapun selama beberapa detik. Sampai suara jeritan perempuan terdengar begitu membahana di kamar itu.
"Gyaaaa~"
Isshin terdiam sejenak melihat apa yang terjadi dihadapannya. Tampak ia melihat putranya yang tengah mendekap erat menantunya yang –sepertinya- telanjang dengan selimut yang membungkus tubuh bahagia terpancar jelas diwajah pria berusia 45 tahun itu.
"Wah, tampaknya kalian sedang membuat anak ya? Kalau begitu, ayah tunggu dibawah saja ya. Lanjutkan saja."
Tanpa memikirkan dosa apa yang ia perbuat, Isshin Kurosaki meninggalkan kamar itu dengan menari lemah gemulai. Bersamaan dengan keluarnya Isshin, suara teriakan murka Ichigo keluar.
"OYAJI! DASAR KAMBING TUA."
Oekkkk.. oekkkk...
Sadar tidaknya Ichigo, suara teriakannya membuat bayi mungilnya yang tengah tertidur tenang, terusik akibat kaget mendengar suara teriakan ayahnya. Geram dengan tindakan gegabah suaminya, Kurosaki Rukia menghadiahkan sebuah pukulan manis dikkepala orange suaminya. Dan juga..
"Malam ini kau tidak mendapatkan jatah hubungan intim dariku." Geram Rukia sambil memakai kembali pakaiannya yang berserakan dilantai kamarnya.
"Ke-kenapa? A-apa yang salah dariku?" Ichigo mulai berdiri dan berwajah panik melihat istrinya yang sudah memakai baju dressnya kembali. Memangnya dia salah apa? Bukankah dia sudah melakukan hal benar dengan memarahi ayahnya?
Rukia menggendong putranya yang menangis hebat dan membelai rambut putranya.
"Sudah jelas kan apa kesalahanmu? Kau membuat Raiko menangis kaget. Pokoknya ini hukumanmu. TITIK."
Rukia keluar dari kamar meninggalkan Ichigo yang terdiam berdiri dengan handuk kimono yang membungkus tubuh tanpa busananya. Dan yang pasti, suara teriakan tidak rela terdengar jelas dikamar ini.
"Rukia~. Kembali..."
Ya lagi-lagi gagal sudah usaha Ichigo untuk mendapatkan malam indahnya. Perjuangannya selama 3 hari ini pupus sudah karena kelakuan yang tidak disukai istrinya. Hey Ichigo, anggap saja 3 hari ini adalah cobaan yang Tuhan berikan akibat dirimu yang selalu membiarkan pekerjaan merajalela dipikiranmu daripada membuat putramu bahagia. Kasihan sekali ayah muda ini. Yang bisa author katakan hanya "Sabar.". next time for you, Ichigo.
.
.
THE END
.
.
Oke.. ini adalah chapter terakhir untuk fic ini. Ada yang protes? Gak? Bagus.
Saya lagi sebel minna. Gini ya, kenapa makin banyak anak yang makin kurang ajar dengan nge-review pake kata-kata gak sopan ya? Apa mereka mikir kalo mereka itu yang paling benar dan hebat?
Saya udah berulang kali bilang sama para-para flamers kalo jangan belagu kalo mereka bisa jadi orang yang lebih hebat. Kita sama-sama manusia. Jadi gak usah kebanyakan gaya.
Mafa lho kalo saya ngomong kasar kayak gini. Saya bukan tipikal cewek yang bisa diem kalo udah ada yang nyolot. Tapi saya percaya kalo para readers terhormat sekalian bukan orang kayak gitu. Kalian kan orang-orang beriman dan takut dosa. Iya kan?
Oh iya, pokoknya makasih buat yang udah review dan read fic saya. Saya tahu kalo fic saya gak bisa sekeren punya senpai-senpai. Tapi saya membuat fic ini Cuma untuk mengisi kekosongan waktu saya. Review silahkan, gak juga silahkan. Saya usahakan review. Kalo gak, berarti saya sibuk. Hehehe #dikeroyokin readers#
Maklum minna, saya sibuk kuliah. Tugas numpuk kayak sembako beras. Dosen juga kalo ngasi tugas, gak punya hati. Jadi yaaaaa... harap maklumi. Hehehe
Okeee... akhirnya tiba saatnya Rin untuk mengakhiri fic ini. Kritik dan saran selalu Rin tampung untuk memperbaiki fic karya Rin. Sekali lagi SAYA GAK MENERIMA FLAMERS. Yang mau ngeflame, mending ketemu saya. Saya lebih terhormat kalo kayak gitu. #mikir dah thu, ketemu gue di kediri. Cari ampe bangkotan ye.#
Dan yg bisa Rin bilang Peace Love & Gaul... #ILK Mode on#
