Title : MISSING YOU

Author : Sulis Kim

M,cast : Kim Jaejoong

Jung Yunho

Hankyung

Kim Heechul

Rate : T~M

Genre : Scool, Family, Romance.

WARNING

GS for uke,jika tidak suka jangan di baca. Author cinta damai. NO bash. Ini cerita milik saya sendiri, jika ada kesamaan cerita atau lainya. Mungkin kebelunan. Karna cerita yang saya buat pasaran.

Menerima masukan yang membangun.

Happy reading ...!

" Berjanjilah pada mami, untuk menjaga adikmu ketika dia lahir nanti " laki laki kecil itu tersenyum di antara permen loly tersumpal di mulutnya dan mengangguk imut.

" Ya mami " senyumanya tidak pernah pudar mengingat beberapa hari lagi ia akan menjadi seorang kakak. " Mami ingin memberi nama adikmu Jaejoong , Han Jaejoong bagaimana menurutmu Han ? Apa kau suka "

Lagi, anak kecil itu mengangguk antusias , ia sudah tidak sabar menunggu adiknya lahir, dan mengajak calon adiknya itu bermain, seperti apa yang sudah ayahnya katakan.

.

.

" Hangeng, Han cepat bangun kita harus kerumah sakit mami akan melahiran , adikmu akan lahir, sayang " malam itu ayahnya membangunkan Hankyung kecil. Kedua matanya berbinar bahagia meski masih mengantuk, tak lama lagi ia akan melihat adiknya lahir.

" Daddy apa benar adik Han itu perempuan? " tanya Hankyung kecil dengan suara candelnya, sa,at ayahnya membawanya masuk ke mobil dengan baby siter dan sopir,

Ayahnya tidak menjawab . ia tidak di perbolehkan satu mobil dengan ibunya padahal ia ingin menemani ibunya disa'at adiknya lahir.

.

.

Hankyung kecil memperhatikan keributan di depan matanya, ia melihat orang orang berseragam putih berlalu lalang di depan sana, mata bulat kecilnya menatap keramaian itu penuh minat, ia tidak mengerti saat wanita yang selalu menjaganya dua puluh empat jam itu memeluknya erat dan menangis.

Ia juga melihat ayahnya menangis, dan memohon, ia tidak megerti kenapa ayahnya memohon mohon pada dokter itu..

Hankyung kecil menggeliat di dalam pelukan babusisternya, kaki mungkilnya berlari memeluk kaki sng ayah, " Mami bilang loly akan mengobati sakitnya Dan tidak menangis lagi, " ayahnya memeluk Hankyung erat, sa,at Hankyung kecil memberinya permen loly padanya." Daddy , Mami bilang laki laki tidak boleh menangis " Hankyung kecil masih belum paham dengan apa yang terjadi dihadapanya yang ia tau adiknya lahir dengan selamat tapi dimana maminya, ia belum melihatnya .

.

.

" Aku tidak mau adik kecil ,Hankyung mau mami "

" Mami pergi kesurga dia meniggalkan adik kecil untuk Hankyung jaga , mami akan sedih kalau Hankyung membuatnya menangis "

Hankyung kecil memperhatikan mata yang lebih kecil darinya itu, bayi itu adiknya ,ia harus menjaganya . Bahkan Hankyung kecil tidak tau dengan arti mengjaga , Ia tidak menginginkan adik, jika kehadiranya membuat ibunya pergi.

Seiring berjalanya waktu dan semakin ia tumbuh dewasa , Hankyung semakin paham, dimana itu Surga, dan disisinyalah sang adik berada, selalu mengekor kemana sang kakak pergi. Rasa itu berubah menjadi sebuah kebencian, Hankyung membenci adiknya Han Jaejoong. Gadis kecil manja yang mencuri semua perhatian ayahnya.

Hankyung benci mimpi itu, ia sudah melupakan semuanya masa lalunya dan memulai hidup baru di negara baru. Keringat dingin selalu membuat tubuhnya basah, kala mimpi itu kembali. MImpi tentang masa lalunya , ditinggal Ibu, dia dan juga Ayahnya.

Sudah sangat lama, sejak terakhir kali ia memimpikan gadis kecilnya. Selama ini ia tidak perduli dengan nasib gadis itu ,dimana ia sa'at ini. Yang ia tau, karena gadis itu, ibu yang penyayang meninggalkanya

.

.

.

Jaejoong tersenyum ,hampir saja ia terlambat . Karena kehilangan di pecat dari jasa pengiriman koran tempat ia kerja paruh waktu sebelum berangkat sekolah,f di mulai dari ia bangun pagi pagi buta, dan dengan seragam yang sudah melekat di tubuhnya mengitari perumahan mewah sebelum ia pergi ke sekolah.

Hari ini ia harus berjalan kaki selama satu jam dua puluh menit untuk sampai di Sekolahan.

Seluruh kakinya hampir mati rasa bagaimana jika ia tiap hari berjalan kaki, berapa lama? Menunggu sampai ia punya uang yang cukup untuk beli sepeda baru. Bahkan ia kehilangan satu pekerjaanya, bisa makan dan membeli alat sekolah, itu sudah lebih dari cukup. Jaejoong tidak ingin bermimpi punya sepeda baru.

" Pagi Jaejoongie " gadis itu lagi , bukanya Jaejoong tidak suka, tapi demi boneka beruang satu satunya pemberian almarhum ayah Jaejoong. Suara gadis itu bisa di pastikan terdengar dari lantai dasar sampai lantai teratas, semua orang bisa mendengar suara cempreng sahabat barunya yang seenak jidat menyeret Jaejoong kesan kemari sejak kemaren.

" Pagi Junchan "

Hilang sudah semangat gadis imut itu mendengar suara merdu Jaejoong. "Kenapa suaramu bisa seperti bidadari di pagi hari ? Apa yang kau makan ?" grutunya.

Jaejoong tersenyum " Aku cuma makan Roti tawar dan selei kacang?" jawab Jaejoong jujur. Kemudian ia melanjutkan. " Aku juga menyukai suaramu " gadis itu tersenyum cerah.

See , Junsu memang suka lupa segalanya , lihat saja senyumnya kembali cerah secerah mentari di musim panas, " Benarkah , kalau begitu kita bisa masuk grup vocal, atau paduan suara? Bagaimana menurutmu? kita bisa bersama sepanjang hari, dan sore hari kita bisa latihan bersama Jae, akh pasti menyenangkan" teriaknya histeris. Jangan lupa kedua tangan yang menangkup wajahnya, berlagak Aigo.

Junsu menunggu jawaban Jaejoong .

" Ma'af tapi aku harus kerja sa'at pulang sekolah "

Junsu mengerjap " Kerja ..." otaknya masih berpikir " What...! Jongie~ah kau sekolah di Seoulshin , kau masih kerja sambilan " ucap Junsu sakrartis.

" Beasiswa kalau kau lupa, Junsu "

Ah Junsu tidak tau apa apa tentang sahabat barunya ini, seperitnya ia akan menyewa salah satu detective anak buah ayahnya untuk menyelidiki Jaejoong. Ingatkan dia jika ayah Junsu salah satu petinggi di kepolisian. Dan bukan hal yang sulit untuk meminta bantuan ayahnya.

Jaejoong menghentikan langkah saat kedua manik matanya menanhgkap siluet Mobil Spor biru , mobil biru itu baru terparkir disana . Dan pria itu berjalan keluar dengan wajah tertunduk, jangan lupa kaca mata hitam bertengger manis di hidung bangir, menambah nilai pluss untuk menarik perhatian gadis gadis di sekelilingnya.

Junsu sudah berceloteh ria, berjalan menjauh dari posisinya. "Jaejongie kau mendengarku " sa,at tidak menemukan teman kelasnya, Junsu sadar Jaejoong masih jauh di belakang menatap kearah parkir.

" Jika kau menyukainya, lupakan! "

Junsu memperhatikanarah pandang dan mahluk yang menjadi perhatian Jaejoong. Pria yang sudah menghilang di lift yang membawanya ke lantai atas .

" Jaejoongie, apa kau mendengarku?" ulangnya.

Diam sejenak sebelum Jaejoong sadar, Junsu menunggu jawabanya." Apa?"

" Hankyung, jika kau menyukainya lupakan saja. Semua gadis yang berani mendekatinya akan berhadapan dengan Kim Heechul , kau masih ingatkan kejadian di kantin beberapa hari lalu ,gadis crewet yang sudah marah marah di kantin sekolah "

Jaejoong menatap horor lurus kedepan, ia berusaha menyadarkan Junsu atas kesalahanya tapi terlambat. Junsu menghadap kearahnya saat Gadis yang dibicarakanya muncul dari arah parkir. Mungkin karena mendengar apa yang di katakan Junsu barusan, membuat gadis itu menghentikan langkah dan berhenti di belakang Junsu.

" Siapa yang kau sebut gadis crewet itu , kalau aku boleh tau? " kata kata itu mampu membuat bulu kuduk Jaejoong berdiri.

Yeoja itu cantik dengan segala keangkuhanya membuat Kim Junsu berdiri kaku, tak berani menatap wajah gadis yang berdiri tidak jauh darinya.

Gadis itu cantik meski wajahnya tidak bersahabat, entah mengapa Jaejoong tak merasa harus takut pada gadis itu, dia hanya sedikit takut membayangkan apa yang akan dilakukan Heechul atas kesalahan Junsu.

Jangan tanya. Junsu sendiri sudah hampir menangis di buat ketakutan oleh suara dingin Heechul, ia memutar tubuh dan di suguhi wajah dingin Gadis yang mendapat gelar tercantik di Seolshin Highscool.

" Ma'afkan teman saya sunbae, dia tidak bermaksud-~"

Tatapan dingin Heechul tertuju kearahnya , dan membungkam Jaejoong." Aku tidak ada urusan denganmu anak beasiswa " ucapnya dingin " Aku beri tau kau , Hankyung miliku, jangan pernah bermimpi untuk mendekatinya, jika kau masih ingin sekolah di sekolahan ini, bertahan sampai kelulusanmu. "

Jaejoong benci, jika di panggil dengan sebutan apapun itu , ia punya nama dan nama itu pemberian ibunya. Menghembuskan nafas, gadis itu mencoba menetralkan amarahnya, tidak perlu di ingatkan kalau ia memang anak beasiswa.

Heechul kembali menatap Junsu " Siapa yang kau sebut crewet itu nona, apa kau belum tau siapa aku " wajah Junsu sudah di penuhi air mata ,bahkan tubuhnya pun bergetar. Sekeliling mereka mulai di penuhi beberapa murid yang penasaran.

" Dia Kim Junsu Sunbae, kami minta maaf, Junsu tidak berniat ..."

" Lebih baik, Kau diam," potong Heechul, membuat pembelaan Jaejoong terhenti.

" Ikut aku Junsu, jika kau masih ingin bersekolah disini " suara dingin itu membuat tubuh Junsu semakin bergetar.

.

.

.

Yunho tidak mengerti kenapa ia berdiam diri di dalam mobil dan memperhatikan pohon sakura yang bahkan sudah tak ada satupun daun di setiap dahanya. Mengingat musim dingin sudah hampir di mulai , bunga sakura akan berbunga dalam waktu dekat. Tidak ia tidak suka bunga. Kenapa ia memikirkan tentang bunga?

Ah, ia ingat. Karena gadis itu, yang membuatnya teringat akan kejadian kemaren pagi, ketika sepeda buntut melaju membuat gadis itu terjatuh. Sesekali pandanganya tertuju pada pintu gerbang ,lima menit lagi pintu itu tertutup . Namun gadis itu belum menunjukan batang hidungnya.

Yunho menepuk jidatnya gemas . Bodohnya ia, kenapa Yunho tidak kepikiran jika gadis itu tidak membawa sepeda jika sepedanya saja sudah ia bumi hanguskan. Akankah gadiis itu terlambat, seperti kebiasaan tentang gadis itu, dan informasi gratis yang dikatakan Yoochun kemaren, saat Yunho mengantar pria berjidat lebar itu pulang.

Pria tampan itu keluar dari mobil. Lenyap sudah keusilan yang ia rangkai untuk mengganggu gadis itu, Jaejoong.

" Yunho...sunbae " entah siapa itu , pria itu berlari kearahnya sambil berteriak.

Pria itu berusaha menormalkan nafasnya yang naik turun,dan wajahnya terlihat cemas " Sunbae, apa kau melihat Hankyung sunbae? " alis Yunho terangkat heran . Untuk apa adik kelasnya itu mencari Hankyung.

" Ada keperluan apa,,, " Yunho menutup pintu mobil dan mengahadap adik kelasnya.

"Maaf, kalau saya menganggu, aku teman sekelas Junsu, dan Heechul,,," gadis itu mengambil nafas sebelum melanjutkan." Heechul Sunbae membawa temanku ke lapangan ..."

Yunho berlari cepat meninggalkan parkiran sebelum gadis itu selesai berkata. " Cari Hankyung di perpustaka'an, dia pasti ada di sana. " Teriaknya pada gadis itu.

Sial, gadis itu membuat ulah lagi. Entah apa yang akan dilakukan Heechul kali ini di lapangan, terakhir kali tiga bulan lalu gadis itu hampir membunuh salah satu murid yang terang terangan memberi Hankyung surat cinta. Tidak, Yunho tidak ingin Ayahnya marah marah , karena Heechul dititipkan pada keluarganya, jadi itu sudah menjadi tanggung jawabnya selama di sekolah.

Sesampainya Yunho di lapangan. Disana sudah dipenuhi dengan murit. dan beberapa guru yang mencoba berbicara pada Heechul.

Gadis itu. Kalau saja ayahnya bukan penyumbang dana terbesar dan pamanya pemilik sekolahan ini. Tak elak Gadis itu sudah di keluarkan dari dulu ,ini jam pelajaran tapi Heechul membuat semua orang membolos.

" Heenim ,,, "panggil Yunho geram.

Heechul melipat tangan di dada angkuh " Diam kau Jung, gadis itu mengatakan aku crewet " Yunho membenarkan ucapan gadis itu.

" Kau memang cerewet, Kim "

"Diam kau Yunho." bentak Heechul.

Yunho hanya menarik nafas ,pria itu hanya berdoa semoga gadis itu tidak mendapat perlakuan buruk dari sepupunya.

Junsu berdiri di tengah lapangan dan juga gadis itu, Yunho mengumpat, saat manik matanya melihat Jaejoong berdiri disana, dengan wajah tanpa dosa. Tidak taukan ia sudah menunggu Jaejoong di tempat parkir.

Semua orang bersorak mendengar pengumuman yang baru saja Heechul ucapkan, Yunho kembali ke alam nyata, dan menatap sekeliling.

Beberapa teman Heechul datang dengan telur tepung dan beberapa bumbu dapur yang entah mereka dapatkan darimana.

" Tuan muda Jung " salah satu penjaga berbisik sesuatu pada Yunho.

Yunho berdiam diri memperhatikan gadis itu . Junsu tidak seperti putri yang mewarisi darah biru pada umunya, da juga, gadis itu berteman dengan Jaejoong siswi beasiswa ,yang benar saja.

" Sunbae apa yang akan kau lakukan dengan benda itu " tanya Jaejoong, Gadis itu tidak takut sedikitpun.

Mata bulat gadis itu menghoror melihat Heechul melempar satu telur kearah Junsu." Ini masih hukuman ringan, satu peringatan agar kau tidak sembarangan menyebut Hankyung, apalagi sampai menyukainya. Apa kau lebih memilih, aku menelanjangi sahabatmu ,disini."

Tepat setelah Heechul melempar telur keduanya ke kepala Junsu Hankyung datang diikuti Yoochun dan Changmin.

Para guru dan Sebagian murit mendesah lega, tak sedikit pula mendesah kecewa. Kehadiran Hankyung berarti menghentikan semuanya. Mengakhiri tontonan gratis menyenangkan pagi ini.

Jaejoong mengeluarkan sapu tangan dan segera mebersihkan wajah Junsu yang sudah menangis histeris, juga memeluknya " Tenanglah, aku disini "

Jaejoong berdiri menghalangi Junsu , pandangan gadis itu menatap langsung ke bola mata Heechul " Sunbae kau keterlaluan, Junsu sudah meminta ma'af tapi kau masih saja menghukumnya " Junsu mencengkeram seragam bagian belakang jaejoong, mencoba mencegah gadis itu untuk bicara lebih jauh.

Sunyi , belum pernah sebelumnya ada seorangpun membantah Kim Heechul tak kecuali Yunho. Dan Jaejoong untuk yang pertama.

Semua menahan nafas melihat adegan di depan mata mereka. Salah satu anak buah Heechul melempar telur dan tepung kearah Jaejoong dan Junsu.

" Heechul hentikan , cukup " Suara hankyung meghentikan semuanya.

Sejak kapan pria itu disana. jika Heechul tersenyum malu karena telah berhasil memancing Hankyung mencarinya. Berbeda dengan Jaejoong gadis itu tak berani menatap pria bermata hitam, lembut ,yang berjalan kearahnya .

" Ma'af atas kelakuan Heechul, dia tidak bermaksud menyakitimu " Jaejoong memejamkan mata ,usapan lembut tangan Hankyung berbalut sapu tangan di wajahnya menyentuh hatinya.

" Dan kau juga, ma'af " Junsu yang masih bersembunyi di punggung Jaejoong sedikit mengintip. Tangan pria itu mengacak rambutnya yang penuh dengan tepung.

" Sekarang bersihkan diri dan seragam kalian , aku akan meminta ijin pada guru kelas kalian, bahwa kalian akan pulang lebih cepat " Jaejoong memperhatikan bagaimana bibir itu berucap, bagaimana wajah pria ini, hidungnya, bahkan aroma maskulin tubuhnya yang membuat ia ingin membenamkan wajah di dada bidang Hankyung.

Jaejoong memberanikan diri menatap mata namja itu. " Sakit " cicitan yang tak lebih dari angin lewat dari bibir Jaejoong . Namun Hankyung bisa mendengarnya.

Sa'at tangan besar pria itu mengusap pucuk kepala Jaejoong ,sa'at itulah segala tembok dan topeng keberanianya runtuh. Ia ingin mengeluhkan segala kehidupan keras yang sudah ia jalani pada pria itu, menangis di pelukanya, mengarapkan tangan itu mengusap punggungnya, mengapus air mata dan mendamaikan hati Jaejoong.

" Kepalamu sakit. Kurasa telur itu sudah akan menetas jadi sedikit keras " Hankyung mencoba menghiburnya , namun hadis itu semakin terisak.

Bola mata besar dengan pipi merah berlinangan air mata. Hankyung tersentak, sedetik kemudian pria itu menarik tanganya dan tersenyum. " Kau mengingatkanku pada seseorang " senyum sinis itu memaksa Jaejoong melakukan sesuatu. Mungkin saja pria dihadapanya ini mengingatnya. Mungkin saja kesempatan seperti ini tidak akan ada untuk ke dua kalinya, berhadapan dengan Hankyung.

Tangan jaejoong mengepal dan menepuk pelan dadanya, tepat di jantung. " Disini , sakit " lirih gadis bermata besar itu dengan butiran air mata yang semakin deras beranak di wajah mulusnya.

Bisa Jaejoong lihat kedua alis pria di hadapanya ini terangkat, mungkinkah?

" Pulanglah " pria itu berbalik, melangkah cepat menjauh dari lapangan. Hankyung berdoa semoga apa yang ada di pikiranya ini salah. Dengan menahan keganjalan di relung hati, entah perasa'an apa? ia sendiri tidak tau. Kaki jenjangnya meninggalkan lapangan dengan langkah cepat, ada sesuatu yang harus ia lakukan.

" Kali ini kalian selamat , tidak untuk lain kali " sinis Heechul , gadis itu berlari mengikuti kemana arah pria tercintanya itu pergi.

.

.

.

Pintu tertutup dengan keras. membuat penghuni ruangan besar dengan gaya maskulin itu tersentak heran melihat keponakan tampanya datang, dengan wajah yang ditekuk dan duduk di kursi kebesaran yang biasa ia tempati.

" Ada apa " laki laki paruh baya itu mendekati pria yang masuk tanpa permisi dan duduk tidak nyaman disana.

Walaupun pemuda itu atasan segaligus keponakanya setidaknya pria itu punya etika, bukan.?

" Dimana anak itu sekarang " pria itu Hankyung menatap pengacara keluarga sekaligus pamanya itu tajam.

" Dia , siapa ? " Han Tae Kyung menaikan sebelah alisnya . Apa gerangan yang membawa keponakan yang super sibuk datang ke kantornya.

" Anak itu , Han Jaejoong." Nama yang paling dihindari itu terucap dengan lancar oleh Hangkyung.

Laki laki paruh baya itu mendudukan diri di sebrang sofa , ia sedikit menarik nafas lelah . " Bukankah detective suruhan ayahmu, sudah mengatan jika anak itu sudah meninggal "

Pria paruh baya itu menerawang. Dua belas tahun silam dimana kejadian mengerikan itu terjadi. Hari dimana kedua keponakanya di culik.

" Dunia bisnis itu kejam anakku, mereka menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan , terutama menghancurkan ayahmu, kau paham itu! " Nafas pria itu sedikit melemah. Sesak mengingat bagaimana saudara satu satunya Han Taesang, ayah dari Hankyung meninggal, setelah mendengar putrinya di culik dan dibunuh.

" Bisa saja derective itu salah , bisa saja anak itu selamat dari kebakaran itu " Hankyung tidak pernah suka dengan saudara perempuanya, menurut Hankyung karena melahirkan dialah ibunya meninggal.

Paman Han menggeleng pelan " Sebelum meninggal ayahmu sudah memastikan itu. Hingga nafas terakhirnya, ia percaya bahwa putrinya masih hidup namun polisi meyakinkan tidak ada korban yang selamat dari kebakaran di china dua belas tahun silam, tempat penculik Jaejoong bersembunyi." paman Han meyakinkan.

Pria paruh baya itu Masih mengingat bagaimana terpuruknya Hankyung sa'at itu. Hankyung hanya anak berumur enam tahun ketika adik dan ayahnya meninggal.

" Tidak ada gunanya menghindar nak, kau meninggalkan china untuk melupakan kenangan dengan keluargamu, beralasan menebus kesalahan adikmu karena kau tidak pernah menyukainya . Tidak ada yang salah , hidupmu masih panjang berhenti menyesali masa lalu " Hankyung masih duduk tenang di tempatnya.

Tidak , tidak. Hankyung ingat senyum gadis itu sama seperti gadis kecil yang di bencinya , adiknya.

Walaupun Hankyung tidak melihat dengan jelas wajah itu, namun mata itu, menatapnya penuh rasa kerinduan dan kehangatan sama seperti Jaejoong . Bolehkah ia berhatap meski kemungkinan sangat kecil, ia harus menyelidikinya.

" Paman bisa melacak kembali siapa saja yang tinggal di pelabuhan kumuh, tempat adikku di culik . Bisa jadi dia di bawa tetangga atau siapa saja yang lewat bukan " pria itu beranjak mendekati pamanya " Adikku berumur empat tahun waktu itu, dia juga bisa berlari karena ketakutan , dan bisa saja ia keluar, paman " Taemin mengerti perasa'an ponakan satu satunya itu, ia tersenyum menepuk pundak Hankyung.

" Baiklah,nak. Akan aku lakukan , agar kau tenang meskipun aku berharap sebuah keajaiban . Tapi jangan terlalu berharap, anakku ,aku tidak ingin kau kecewa." diraihnya telefon duduk di atas mejanya.

Sebelum sang paman menekan tombol, Hankyung menambahkan.

" Aku ingin kau menyelidiki seseorang "

Han taemin mengerutkan keningnya.

" Nugu?"

.

.

.

Yunho mengetukkan jemarinya gelisah, pikiranya melayang memikirkan kejadian tadi pagi.

Sial , seingatnya ia bukanlah orang yang suka mencampuri urusan orang lain . Tapi entah kenapa jika mengingat gadis itu , ia tertarik.

Semakin ia mengingatnya membuat sesuatu dalam dirinya merasa aneh, mungkinkah ia gelisah. Selama ini ia tidak pernah di anggap kasat mata di hadapan gadis manapun. Mereka selalu bertekuk lutut memohon bisa berjalan di sampingnya. Namun gadis itu bahkan melihatnya saja enggan.

Tanganya memukul kemudi, membuat penyebrang jalan yang berjalan di bawah lampu merah terkejut dan aneh.

Pria itu sudah akan menginjak gas sa'at manik matanya menangkap sosok itu. Gadis itu berjalan di depan mobilnya sambil membaca koran di tangan kirinya ,dengan satu tangan memegang roti dan sesekali menggigitnya.

Yunho tersenyum melihat gadis itu. Belum pernah sebelumnya ia melihat gadis yang yang tidak perduli akan penampilan . Lihatlah penampilanya, selalu memakai celana jins panjang yang dilipat sampai setengah betis, dan kaos oblong kusam yang hanya dilapisi kemeja kebesaran di tubuhnya ,jangan lupa tas selempangan yang ia sampirkan asal di pundak kanannya. Sesa'at Yunho tertegun membayangkan imajinasinya membayangkan gadis itu berpakaian sexy.

Pip pip

Suara klacson mobil belakang menbuyarkan imajinasinya . Sial, memikirkan gadis itu saja, membuatnya seperti orang tidak waras.

...

Sudah hampir sore sa'at gadis itu keluar dari kedai kecil penjual mie.

Ini sudah yang entah keberapa ia keluar masuk kedai dan toko, hari ini ia kesana kemari mencari pekerja'an di hari libur sekolah. Namun tak ada satupun yang mau menerimanya karena ia seorang pelajar.

Dengan gemas, gadis bernama Jaejoong itu meremas koran dan melempar koran ke tong sampah yang berjarak lima meter darinya. Mata bulatnya melebat melihat lemparanya masuk dengan sempurnya. Gadis itu melopat, bersorak gembira namun seperkian detik ia kembali tersadar.

Ck ... " Apa yang aku lakukan," grutunya seorang diri. " sudah jam lima " dan ia harus bekerja .

Tiba tiba seorang pria menghalangi jalanya, gadis itu mendongak . Ia mengeryitkan kening melihat pria tampan Flowerboy di sekolahnya berdiri di hadapanya.

Bulu mata lentik Jaejoong mengerjap indah. Yunho menggeram bahkan tingkah gadis ini sangat menggemaskan dengan sikap polosnya.

" Apa yang kau lajukan disini? " tanya Yunho to do poin.

Gadis itu memperhatikan sekeliling , apa pria populer itu sedang mengajaknya bicara.

Yunho berdecak pelan " Aku bertanya padamu " dengan gemas ia mendorong kening gadis yang tinggi badanya tidak lebih dari dagunya itu.

Jaejoong mengeram berani beraninya pria sok tampan itu mendorong keningnya. Jaejoong membenarkan poni yang ia potong sendiri asal, karena sedikit berantakan.

Tanpa rasa takut mentap Yunho geram " Ini bukan sekolahan terserah aku mau apa " nada bentakan Jaejoong terdengar merdu di telinga Yunho. Tanpa sadar ia tersenyum membuat Jaejoong menatapnya heran.

Apa pria populer di sekolahanya ini mengalami ganguan jiwa Berkeliaran di jalan dan tersenyum bodoh. Seingatnya mereka para pria populer ,akh bukan, Tapi semua yang ada di sekolahan di Seoulshin, pelit expresi kecuali sikap arogan dan sombong mereka.

" Aku tanya apa yang kau lakukan disini? " sekali lagi tanya Yunho sok akrab.

" Mencari pekerja,an " jawab Jaejoong datar. Tiba tiba ia ingat akan nasib sepedanya.

" Yakh, kau kemanakan sepedaku " tanpa sadar Jaejoong berkata keras. Lihatlah wajah hadis itu sudah memarah , marah.

Inilah yang di tunggu Yunho, membuat gadis itu marah. Sekali lagi ia menekan kening Jaejoong yang sudah berkacak pinggang " Sepedamu , aku pikir itu sepeda badut, yang biasa di pakai para badut di taman bermain! " kerutan di dahi Jaejoong semakin bertambah.

Dengan segala kekuatan yang ia miliki gadis itu menginjak kaki Yunho dengan senang hati " Dasar pria tidak berguna, kembalikan sepedaku, apa kau tau karena ulah mu aku harus berjalan kaki hampir dua jam untuk sampai di sekolahan " nafas Jaejoong naik turun setelah mengeluarkan segala emosi pada pria yang masih tenang di hadapanya itu.

" Aku tidak punya waktu berdebat denganmu, beruang darat " Jaejoong mendorong Yunho dan berlari cepat, celaka ia lupa, sudah terlambat semoga Hyunjoong disana untuk membelanya.

Pria itu Yunho masih syok dengan tingkah unik Jaejoong . Gadis itu marah marah kemudian meninggalkanya begitu saja.

Yang benar saja. " Yakh Kim Jaejoong " panggil Yunho.

Namun gadis itu sudah menjauh pergi.

.

.

.

Mobil laborgini hitam itu berhenti di depan restoran sederhana di tengah kota.

" Namanya Kim Jaejoong, orang tuanya meninggal karena kecelaka'an beberapa tahun silam, nona Kim mendapat beasiswa dan sekolah di tempat yang sama dengan tuan muda . Sepulang sekolah nona Kim bekerja di restoran sampai jam 11malam. Bangun jam empat pagi untuk bekerja mengantarkan koran ,namun beberapa hari yang lalu tidak bekerja lagi karena sepeda nona Kim hilang " sekertaris muda itu berhenti sejenak untuk sekedar melirik tuan muda mereka yang duduk di jok belakang. Mata elang pria itu memperhatikan seorang gadis yang baru saja berlarian masuk ke restoran dengan tergesa gesa.

" Ada lagi " suaranya tenang namun penuh penekanan.

" Maaf tuan muda, sebenarnya sepeda nona kim di buang oleh tuan muda Yunho" sekertaris itu sedikit membungkuk minta maaf.

" Yunho, Jung Yunho maksudmu? "

Pria itu sedikit menaikkan alisnya, untuk apa sahabatnya itu mengurusi hal yang tidak penting seperti itu.

" Kita kembali ke kerumah Ajushi, jangan katakan pada siapapun kalau kita kesini, terutama Kim Heechul dengan alasan apapun, biarpun Heechul mengancam paman sekalipun"

" Iya tuan muda, "

~TBC~

Promo : Beberapa reader ada yang minta di bukuin FF The Kingka Strawberry And Vanilla adakah yang minat. Kalau iya bisa pm author di fb Sherry Kim.

Ini hanya untuk koleksi yang berminat gx ada maksud untuk jual atau nyari keuntungan karena Author sendiri tadinya hanya mau cetak 1 book khusus untuk sendiri dan karena ada yang minat sekalian aja author cetakin. Bisa ngringanin dana buat cetak kkkk.

Ff itu tidak akan Sherry hapus dari wattpat karena itu hasil karya Author yang berharga dan ingin berbagi dengan yang lain yang masih pengen baca disuatu waktu.

Kamsahamnida ~BOW~