Konichiwa teman-teman! (Muncul tanpa dosa. Di seruduk Readres se'RT). Hehehe, gomenasai, sumimasen, sory-sory no stroberi minna-san *Bungkuk-bungkuk*, ch ke 4 ini amat sangat super duper lambat, lelet, dan lama updatenya. Dhiya baru saja mengalami musibah yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran! Komputer Dhiya, hiks-hiks! Rusak nih gara-gara kipas CPUnya ga muter lagi, terkena virus, dan segala macam problem-problemnya dibalik CPU bobrok ini yang tidak Dhiya ketahui kenapa bisa terkena virus H5N1, huahahaha. #PLAK!

Apes banget hidup Dhiya gara-gara nih CPU rusak! (Nendang-nendang CPU). Dimarahin habis-habisan sama yang punya (My big Brother), adek Dhiya ikut-ikutan ngeBully Dhiya nuntut segera dibenerin tuh CPU coz because dia mau nulis fanfic baru gitu, ditambah My big bro minta duit lagi buat ongkos perbaikan CPUnya. Lah?! ga liat apa adeknya yang cantik ini lagi ngangur! Isi dompet aja, seribu pun tak juga ku dapatkan. Apalagi 250 ribu! Ckckck, tapi readres yang lebih parah nih dari semua kesialan yang Dhiya terima gara-gara nih CPU. My Big Bro ga bolehin Dhiya online lagi loh! Modem pun disita! Katanya nih komputer gara-gara online bisa terkena virus. Dwengg~~! *Sweatdrop tingkat kronis*. Kyaaaa~! Kalau ga boleh online, trus nih Fic gimana dong?! Protes! Protes! Protes!

Tadinya mau protes dan ngedemo Big Bro tuh, tapi berhubung yang punya mukanya serem dan rada killer, trus yang ngerusak'in CPUnya Dhiya. Akhirnya dengan ikhlas, Dhiya nyerah dan terpaksa membiarkan Fic ini nganggur selama waktu yang tidak ditentukan sampai Dhiya mampu beli laptop baru. Baru deh diterus'in nih Fic (Readres: Kapan updatenya woy! Kelamaan tau lo beli laptop!). Jadi sikap pemberontak Dhiya lagi kumat-kumatnya nih liat Komputer ngangur, akhirnya secara diam-diam Dhiya menulis, dan mempublish Fic ini tanpa sepengetahuan yang punya! Yay! Jadilah ch 4 terpublish dengan selamat, walaupun rada lama. Horeeee \ ( ~o~)/

WOY! CPUnya kenapa ditendang! (Big Bro dateng bawa golok).

MAKKKK! Kaburrrrr! Ya udah, met menikmati ch ke 4nya readres! Happy reading!

.

Disclaimer : Naruto_Masashi Kishimoto

Disclaimer : THE MUMMY_ Dhiya Chan

Genre : Romance, Humor, Conflik, FriendShip

Pair : Sasuke Uchiha & Naruto Uzumaki

Warning : Shounen-Ai, Yaoi, ngerusak iman, dibawah 20 tahun belum boleh baca!

Dibawah 17 tahun, benar-benar dah kalo nekat baca, bakal kena kutuk loh! (Kata Re)

.

.

.

1 hari setelah bangkitnya sang Kaisar.

Sunagakure, Gedung kantor Gurbenur Suna. 08.07

Tok-tok-tok!

"Masuk!" perintah seorang pemuda berkulit pucat dengan lingkaran kehitaman diarea sekitar kantung mata seperti tokoh utama di kartun Kungfu Panda. Sosok yang mengetuk pintu itu pun segera membuka pintu dan menampakan diri dihadapan pemuda berambut merah marun yang sibuk berkutat pada kertas-kertas penting yang ada didepan meja. Sosok itu pun mengerutkan alisnya mendapati tak ada kata-kata hangat menyambut kedatangannya.

"Cuek sekali" gerutunya mengembungkan pipi tak suka melihat pemuda dihadapannya itu acuh seperti ini. Sosok itu pun perlahan melangkahkan kaki perlahan kearah meja kerja pemuda itu. "Gaara.."

"…."

"Gaara…"

"…."

"Gaara…"

"…."

"Hey Gaara…"

"…."

"Gaara~, aku pulang…"

"…."

"Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara ….." pria itu terus memanggil nama sosok berambut merah itu secara cepat tanpa jeda sedetikpun.

"…."

"Hahh~" pria berambut coklat itu memutar bola matanya bosan sembari beriringan menghela nafas panjang. Ia pun berjalan perlahan kearah depan menuju kebelakang kursi yang diduduki oleh Gaara.

'Sraak!'

Kertas-kertas yang ada digenggaman pemuda bernama Gaara diambil paksa dari arah belakang oleh pria berambut coklat itu, ditaruhnya secara sembarangan kertas itu di meja kecil berisikan patung-patung, dan bingkai foto. Tangan kekar pria itu pun memeluk tubuh Gaara dengan eratnya.

"Kankuro!" desis garaa merasa terganggu dengan keisengan yang dibuat pria itu.

"Hmm" jawab Kankuro sekenanya dengan lidah panjangnya menari-nari indah dileher putih Gaara.

"Aku sedang sibuk. Bisa tinggalkan aku sebentar?"

Kankuro tidak mengubris, malah lidah panjangnya yang semula bergerak liar di leher Gaara kini tergantikan dengan kecapan-kecapan kecil dari bibir Kankuro yang sedang melumat leher mengoda itu. Tangan kanannya bergerak tak sabar berusaha mengekspos leher itu dengan cara menarik-narik kerah kemeja dan dasi Gaara.

"Kankuro!" bentak Gaara risih mendapati keagfresifan dari kakak sulungnya itu.

Kankuro melepaskan bibirnya dari leher Gaara dan menghapus sisa-sisa saliva disisi bibir dengan punggung tangan kanannya. "Aku rela-rela datang kekantormu setelah menjalani tugas dari mu dengan pertaruhan nyawa di lembah akhir, ucapan selamat datang pun tak ku dapatkan dari dirimu. Kau tahu, selama berada dilembah akhir itu, aku terus merindukan dirimu yang ada disini. Aku terus berusaha menyelamatkan diriku dari serangan makhluk prubakala aneh dan jelek yang akan mengambil nyawa ku didetik itu juga! Tidakkah kau lihat perjuanganku yang ingin tetap hidup dan bertemu dengan mu walaupun keadaan ku saat itu tidak sebanding dengan keinginanku? Setidaknya ucapkanlah satu kalimat, 'Selamat datang, honeyku' atau senyum 1 milimeter saja, itu sudah memberikan kepuasan tersendiri bagi ku sebagai bayaran atas tugas mematikan yang kau layangkan itu padaku! Kau ini benar-benar kejam Gaara" Kankuro menekan dadanya seolah-olah tindakan Gaara sudah mematikan titik penting yang menjadi penyemangat dalam hidupnya.

Gaara menghembuskan nafasnya asal. Kemudian dibaliknya kursi yang sedang ia duduki agar berhadapan langsung dengan kakaknya. Senyum merekah pun tercetak di bibir tipis Gaara selama beberapa detik. Kankuro yang melihat aksi yang dilakoni adiknya hanya mengerutkan alisnya dalam, tanda tak mengerti. "Aku sudah senyum kan? Sekarang bisa kau tinggalkan aku sebentar karna ada banyak perkerjaan yang harus segera ku selesaikan". Gaara kembali membalik kursi duduknya menghadap kertas-kertas yang ada dimeja.

Oke! Fine! Kankuro benar-benar kesal sekarang diremehkan dan diacuhkan oleh adik kecilnya ini. 'Cari gara-gara rupanya' batin kakuro menyerengai misterius dengan posisi Gaara membelakangi tubuhnya. Dengan sekali hentakan, kursi yang sedang Gaara duduki berputar. Gaara hanya mampu terbelalak saat kursinya berbalik arah menghadap sang kakak.

"Sudah ku bilang padamu, aku si-.."

'BUK!'

Bunyi dentuman punggung Gaara mencium lantai yang ditutupi karpet berbulu berwarna merah marun. "Ughh!" keluh Gaara merasakan sakit berdenyut di punggungnya akibat serangan tak terduga secara mendadak. Tak hanya sampai disitu saja, kini Gaara hanya bisa membelalakkan matanya melihat sosok yang sendari tadi menganggu kinerjanya sebagai seorang gurbenur muda di Sunagakure. Kali ini bukan pertanyaan mengesalkan yang sejak tadi terus dilontarkan oleh pria itu, namun kelakuan pria berambut coklat yang sedang menindih dirinya inilah yang mampu membuat Gaara tidak bisa bernafas selama beberapa detik!

"L-Lepaskan Kankuro!"

"…"

"Kubilang lepaskan Kankuro!"

"…"

"Kankuro! Tolong lepaskan! Ini bukan saat'nya tahu!"

Bukannya menjawab ataupun mengikuti perintah sang adik. Kankuro malah makin mengeratkan gengaman tangannya yang sedang menahan kedua lengan Gaara agar tidak bisa lepas, atau pun berontak satu sentipun. Mungkin bagi Kankuro ini lah saatnya membalas dendam untuk sang adik yang terus mendiamkan dirinya saat ia memanggil namanya beberapa menit yang lalu. Geraman tak suka dan segala titah yang dilayangkan Gaara pun tidak cukup untuk menyudahai aksi konyol (Menurut Gaara) ini tidak juga ditanggapi Kankuro.

"Kankuro!"

"Kapan saat'nya kita melakukan itu? Sudah 3 minggu kita tidak melakukannya, Gaara. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi" Kankuro menatap mata Gaara intens.

"Aku sibuk Kankuro, kau ingatkan kan statusku sekarang? Aku gurbenur. Dan juga kau sibuk mendampingi Tim Arkeolog Konoha yang mencari artefak berharga yang ada di situs pengalian kita. Kita tidak punya waktu sekarang untuk hal itu. Lalu masalah besar yang kita hadapi sekarang setelah insiden Lembah Akhir oleh dewan pemerintahan, Orochimaru itu. Kita tidak punya waktu untuk santai dan melakukan hal itu."

"Ck!" decak Kankuro sebal setelah beberapa saat mencerna apa yang dibicarakan oleh adiknya itu ada benarnya juga. Saat ini mereka mengalami situasi yang amat sangat gawat dari seorang psikopat aneh memunculkan mahkluk jadi-jadian berbahan dasar tanah liat bersiap mengancam jiwa mereka dengan bola api super besar dari tubuhnya, bukan hanya mereka saja. Tapi dunia lah yang terancam akibat kemunculan makhluk yang kehebatannya menyaingi tokoh fiksi super man, batman, spyderman, atau pun kalajengking man, di tengah era globalisasi yang menuntut nalar dan logika ini.

Gaara sedikit bernafas lega saat melihat Kankuro bisa mengkesampingkan egonya yang ingin bersenang-senang dengan dirinya diatas ranjang untuk membiarkan dirinya berkerja menyumbangkan sedikit ide menyelamatkan seluruh manusia yang ada dibumi ini. Namun sepertinya pikiran Gaara meleset, bukan nya menyudahai aksinya. Malah Kankuro menyergap bibir ranum Gaara dengan ganas hingga Gaara terperanjat kesakitan akibat kebuasan gigitan Kankuro dibibirnya. "No seks, fine! But untuk yang satu ini, sampai kau klimaks baru aku akan berhenti"

Kankuro langsung melumat bibir Gaara dengan penuh gairah, mengapitnya, mengigitnya perlahan, bahkan bibir tipis itu dihisapnya kuat-kuat seperti ingin menelannya utuh-utuh di antara kuluman panas. Tangan kanan Kankuro pun tak berhenti, diarahkannya tangan kanan Kankuro ke kejantanan Gaara yang masih diselimuti celana hitam panjang, dielusnya dengan kasar, ditekannya, dan dimain-mainkan jari telunjuk nya di 'benda' yang telah mengeras akibat usapan-usapan kecil dari Kankuro. Sepertinya Gaara harus mempersiapkan tenaga ektra lahir dan batin dengan kejutan yang akan di lakukan Kankuro pada dirinya.

.


.

Gedung Kantor Gurbenur Konoha , 09.56

Seorang wanita cantik bertubuh sintal dengan rambut pirang dan stelan pakaian kantor lengkap layaknya ibu-ibu pejabat tampak tergesa-gesa berjalan di lorong kantor tersebut seperti ingin menuju kesuatu tempat.

"Tsunade-sama!" teriak seorang wanita berambut pendek berwarna hitam memakai kemeja putih dengan dilapisi blazer hitam senada dengan celana panjangnya. Wanita yang dipanggil Tsunade tak mengalihkan pandangannya kearah wanita yang saat ini sedang berlarian kearahnya.

"Ada informasi terbaru tentang mereka Shizune?" tanya Tsunade saat merasa kehadiran wanita itu berada tepat dibelakangnya.

"Tidak ada Tsunade-sama. Tim Densus anti Teroris dari kepolisan Konoha yang bertugas ke lembah akhir untuk mencari keberadaan Orochimaru-sama tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka. Bahkan jejak-jejak anak buah mereka yang telah dibereskan oleh Kakashi dan yang lainnya juga tidak ditemukan. Sepertinya mereka berhasil terlebih dahulu melarikan diri sebelum Tim kita sampai disana" jelas Shizune tetap berada di belakang Tsunade sembari terus melakangkahkan kaki mereka.

"Begitu ya. Tetap perintahkan anggota kepolisian Konoha untuk tidak menghentikan pencarian mereka. Dan segera selidiki kota-kota kecil disekitar lembah akhir, mungkin mereka belum terlalu jauh. Kirimkan juga beberapa anggota SWAT, dan FBI untuk membantu memudahkan kepolisian kita menemukan mereka! Aku tidak ingin melepaskan mereka begitu saja yang sudah seenak-enaknya berbuat seperti ini!"

"Baik, Tsunade-sama!"

'TREEK~!'

Shizune pun membukakan pintu untuk Tsunade begitu mereka telah sampai disebuah ruangan di ujung lorong kantor yang bertuliskan papan kecil di pintu masuk. GURBENUR KONOHA. Mereka berdua pun masuk dan Tsunade duduk di kursi sebuah meja mewah dan besar terbuat dari katu jati. Tangan putih nan mulus itu pun segera meneliti kertas-kertas yang masih tertumpuk di meja kerja. "Oh iya Shizune"

"Ada apa Tsunade-sama?" balas Shizune yang baru saja menutup pintu ruangan itu.

"Bagaimana keadaan mereka?" Tsunade masih enggan mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas di meja itu.

"Yamato dosen Tim Arkeolog dari Universitas Tokyo berserta seorang mahasiswa bernama Choji Akimichi berhasil melewati masa kristisnya. Sedangkan Anko Mitarashi, Ino Yamanaka, sudah dipindahkan keruang rawat biasa. Untuk tim arkeolog yang dipimpin oleh Kakashi Hatake, Asuma Sarutobi, Guy Maito, Obito Uchiha, dan Kurenai Yuhi berekspedisi di lembah akhir baik-baik saja. Tidak ada luka serius dari mereka serta anak-anak didiknya, hanya cidera ringan saja. Tapi…" Shizune mengigit bibir bawahnya pelan, ragu-ragu menatap sang bos yang ada didepannya.

"Tapi apa?" Tsunade segera mengalihkan perhatian matanya dari tumpukan kertas kearah sang asisten dengan tajam. Firasatnya tak salah lagi bila ada satu orang yang aneh lain dari pada yang lain dari sekian banyak yang selamat. Pasti bocah itu menjadi langganan title 'Korban Luka parah' dari kejadian semalam.

"Eh?! A-ano.. I-itu.. Err… Ta-Tapi yang mengalami cidera parah di bagian tangan kiri dan persendian engsel kaki kanan itu h-hanya Naruto, Tsunade-sama"

Tsunade menghela nafas berat begitu mengetahui nama itu yang dilontarkan Shizune. Naruto… bukan nama yang cukup asing untuk melakukan segala macam aktivitas luar biasa ekstrim dari segala masalah yang ada. Cucu dari sahabat karibnya itu memang sudah sering membuat kejutan luar biasa dari sejak masih kecil hingga beranjak dewasa. Cidera di kaki, patah tulang, patah leher, operasi ini, operasi itu, obname seminggu, rawat jalan sebulan, sudah sering menjadi penyakit andalan dari bocah bermata biru seterang langit itu. Namun serangkaian penyakit diatas tidak ada apa-apanya, ada loh lebih parah dari dari ini hingga hampir merenggut nyawa bocah berambut pirang tersebut sudah pernah ia alami. Jadi kalau hanya cidera di tangan dan persendian engsel saja bukan sesuatu yang cukup mengkhawatirkan, paling 3 hari kemudian dia pasti sudah siap jika di tantang lari 100m dalam waktu 2 menit. Benar –benar ajaib bukan?

Tapi yang menjadi persoalannya, kenapa nama bocah itu terus yang selalu tak pernah absen dari penyakit merepotkan ini. Kenapa tidak nama orang lain saja sih. Tidak bosankah luka-luka itu hinggap seperti kutu di kulit tan pemuda itu? Oh yang benar saja! Bukan penyakit itu yang ingin menemui Naruto tapi Naruto lah yang ingin menemui 'Sahabat-sahabat' berwarna kemerahan-merahan disekujur badan bocah super hyper aktif itu.

"Ck! Sudah ku duga bocah it-.."

"Tsunade!" Pintu ruangan tempat Tsunade dan Shizune pun terbuka. Menampakan sosok pria berambut panjang bewarna putih keperakan terengah-engah seperti habis lari marathon menuju keruangan ini.

"Dan…" sebut Tsunade pada sosok yang sedang berjalan menghampiri meja kerjanya.

"Apakah kau sudah dengar berita tentang Naruto?"

Tsunade menyenderkan punggungnya secara kasar ke senderan kursi yang ia duduki hingga kursi itu bergoyang beberapa saat. "Ya.. Aku sudah dengar. Keponakan mu itu memang benar-benar penuh kejutan, ya?"

"Hehehe, jangan seperti itulah. Begitu-begitu dia keponakan mu juga kan?" pria bernama Dan tersenyum lebar, hingga barisan gigi putihnya yang rapi terpampang jelas.

Hemm, readres pasti heran kan apa sebenarnya hubungan sang nenek cantik dengan pria berambut putih ini? Wanita cantik ini memang teman karib dari kakek Naruto yaitu Jiraiya, juga kekasih anak tertua dari duo Namikaze bersaudara, Dan Namikaze. Usia Tsunade memang satu angkatan dengan jiraiya, yaitu kepala 5! Namun walaupun sudah kepala 5, orang nomor satu di konoha ini tetap saja cantik dan bahenol seperti wanita-wanita berusia di bawah 30 tahun. Bahkan wanita di bawah 30 tahun pun belum tentu bisa secantik dan sesintal tubuh wanita ini seperti bentuk gitar spayol. Benar-benar kejaibankan? Mungkin inilah yang membuat si sulung Namikaze ini tidak mampu melewatkan begitu saja pesona wanita bermata caramel ini. Hingga pria berusia 38 tahun itu benar-benar telah terjerat hatinya dan nekat dalam waktu dekat ini ingin menikahi wanita yang malah lebih cocok jadi ibunya ketimbang menjadi istri. Ckckck, ada-ada saja ya.

"Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Tsunade? Errr.. pada mereka" Dan mengangkat bahu sekilas saat menyudahi kalimat terakhir.

"Seperti berita yang telah disampaikan oleh orang-orang yang telah melihat langsung kejadian di lembah akhir, aku yakin kita tidak dalam situasi yang benar-benar baik. Aku pernah menjadi arkelog sewaktu masih muda dulu bersama ayahmu. Aku tahu betapa kejamnya, dan mengerikan kekuatan-kekuatan orang-orang terdahulu. Ini bukan masalah gampang yang bisa diselesaikan dengan mudah. Sang kaisar, telah bangkit dari neraka dan akan menyebar kesengsaraan bagi kita, tidak hanya kita, keluarga kita, anak-anak kita, rakyat konoha, tapi seluruh dunia terancam akan berakhir. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya bila kita terus berdiam diri membiarkan mereka menjalankan rencana licik tanpa bisa berbuat apa-apa"

"Tenanglah, kita pasti bisa menghentikan mereka jika benar sang kaisar telah bangkit dari peraduannya. Kau tenang saja" Dan meremas tangan sang calon istri berusaha memberikan kekuatan pada dirinya. "Lalu sekarang, apa yang akan kita lakukan? Apa rencana mu selanjutnya?"

Tsunade terdiam sejenak. Kemudian menatap lurus kedepan dengan tajam. "Bukan aku yang menentukan apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi ini. Tapi kita semua lah yang harus bersama-sama memikirkan apa yang akan kita lakukan untuk menghentikan mereka"

"Maksudmu?" Dan menyeritkan alisnya bingung. Tak mengerti dengan kata-kata Tsunade.

"Aku akan mengadakan pertemuan besar dengan kelima gurbenur! Segera beritahu undangan ini secara lengkap, rinci dan cepat untuk kelima gurbenur dari 5 kota besar di Tokyo dalam waktu 30 menit. Persiapkan segala perlengkapan pertemuan kita. Ku tunggu sampai pukul 14.00. Kelima gurbenur harus sudah hadir dalam rapat persidangan di gedung kita"

.

~(^o^)~

.

"Uhh..Ahhh.. Mmm~, ughhh" desahan-desahan bergema di ruangan berukuran 50x30 meter. Dilihat dari jarak 50 meter pun, orang-orang sudah bisa melihat ruangan tersebut tampak berantakan dengan sepasang sepatu hitam mengkilat serta koas kaki warna cream, bertebaran seperti dilempar secara sembarangan. Jaz hitam yang super mahal bernasip sama seperti halnya sepatu tak berdosa itu, teronggok dengan tidak elitnya. Tampak di lantai yang terlapisi karpet berbulu berwarna merah marun dicengkram kuat oleh pemuda berambut merah mencoba menahan sesuatu yang sangat sulit ia hindari dengan diiringi desahan panjang nan seksi yang keluar dari bibir tipisnya.

Kemeja berwarna putih tak lagi bisa menyelimuti tubuh putih dengan otot-otot kecil tersembunyi dibalik dadanya yang cukup bidang. Dasi sang pemuda pun masih tergantung di atas kerah kemeja nya. Sepertinya sang pelaku hanya ingin membuka bagian yang dia rasa ia perlu dan ia butuhkan.

"Akhh! K-Kan-ku-ro… Ughh~. J-Jang-an di- ahh~, gi-git" ucap pemuda itu disela desahan berusaha berbicara walaupun sepertinya ia sangat kesusahan untuk menyelesaikan 3 kalimat itu.

Pemuda berambut coklat bernama Kankuro pun menegakkan kepalanya, sejenak menghentikan aktivitas melumat, memilin, dan menjilat bagian bawah pemuda bermata aqua itu untuk melihat wajah sang korban yang sudah sangat tidak sanggup lagi menahan sentuhan-sentuhan yang memabukkan. "Sudah ku duga, kau pasti akan menyukai apa yang kulakukan, Gaara. Diam dan nikmati sajalah"

Kankuro segera menyelesaikan kembali aktivitas yang tertunda sebelumnya. Kali ini tak hanya jilatan, lumatan atau pun pijatan-pijatan kecil yang Kankuro berikan. Kini kedua tangan ia kerahkan untuk memanjakan batang kejantaan Gaara yang telah mengeras seperti batang pohon. Gerakan memaju-mundurkan kedepan dan kebelakang seirama dengan remasan kuat namun tak terlalu menyakitkan bagi Gaara.

"Ahhh~" leguh Gaara nikmat mendapatkan sensasi yang membakar birahi dari batang penisnya. Semula kedua tangan Gaara yang sibuk mencengkram karpet berbulu di lantai yang sedang dibaringkannya, terangkat dan beralih kearah rambut coklat Kankuro. "Ugggh! Mmm~. Uhh…" desah Gaara lagi mencengkram ku- uppz! Lebih tepatnya menjambak helaian surai coklat Kankuro yang berada di bagian bawahnya.

Kankuro menyerangai senang melihat sang adik bungsu terengah-engah dengan peluh keringat membanjiri dada bidang dan sekujur tubuhnya. Rambut merah marun itu pun turut basah, walaupun diruangan tersebut sudah terdapat pendingin ruangan, sepertinya kegunaan benda yang terpajang di dinding itu tak terlalu berpengaruh untuk menghentikan butiran-butiran asin mengalir di tubuh pemuda seputih susu. Mendapati bagian ujung kejantanan Gaara telah memerah, membuat Kankuro ingin sekali mengecapnya. Kembali lidah panjang Kankuro menari, menjilat dengan penuh gairah, mengecap kecil, dan dilahapnya dengan penuh hingga masuk sepenuhnya kedalam rongga mulut, namun aktivitas mengocok junior Gaara tidak dihentikan.

'Tok-tok-tok!'

"Eh?!"

'Tok-tok-tok!'

"K-Kankuro…" panggil Gaara pada Kankuro begiu mendengar suara ketukan di pintu.

"Hnn" jawab Kankuro yang masih asyik menghisap penis Gaara.

"B-Bisakah ka-u ber-henti… Ugh, a-ada se-seorang y-ang in-gin ber-tem-u dengan k-u" Gaara mengangkat kepalanya tinggi-tinggi untuk melihat sang kakak. Saat melihat Kankuro, wajah Gaara kembali bersemu merah melihat aksi sang kakak. Tak elak, serangan-serangan yang Kankuro berikan untuknya jauh di dalam lubuk hati tidak ingin dihentikan begitu saja. Malah, Gaara ingin mendapat lebih dari Kankuro karna ia tau Kankuro bisa memanjakan dan memberinya kenikmatan tiada tara dari awal hingga akhir. Sebab itu memang yang selalu mereka lakukan bila tidak ada ayah mereka maupun saudari perempuan mereka, Temari. Tapi walaupun berat, Gaara harus segera menghentikan kegiatan mereka. Gaara seorang gurbenur! Tugasnya adalah mengayomi dan mengabdi diri pada seluruh rakyat Suna. Pastilah yang berada di balik pintu ruangan Gaara saat ini adalah bawahannya yang ingin memberikan informasi penting. Buktinya, sekarang ini ketukan pintu ruangan itu masih ada, bahkan yang mengetuk pintu itu menambahkan intensitas ketukannya hingga terdengar seperti di gedor, bukan lagi di ketuk.

"Kankuro…"

"…"

"K-Kankuro, berhentilah. Mungkin ada informasi penting yang ingin orang itu sampaikan padaku"

Kankuri mengadahkan kepalanya, melihat wajah Gaara dengan tatapan tajam, dan terkesan penuh nafsu. "Sudahku katakan! Aku akan berhenti, bila kau sampai klimaks. Sudahlah, tak perlu dirisaukan. Paling itu hanya sekertaris mu yang ingin meminta tanda tangan. Kan bisa dilakukan lain kali" Kankuro kembali menekuni perkerjaannya. Gaara hanya menghela nafas, ia tau. Kankuro adalah orang yang sangat keras kepala dan nekat kalau ada hal yang menyangkut dirinya. Bila Kankuro bilang tidak, ya tidak. Kalau iya, ya iya. Dan tentu Gaara harus mencari cara agar sang kakak mau berhenti. Disela-sela menahan desahan, dan pengheliatan mata Gaara kabur akibat blow job Kankuro, Gaara berusaha keras mencari benda apapun yang bisa menghentikan kakaknya.

'BLETAK!'

"ADUH!" Kankuro mengiris kesakitan menerima hantaman keras dari bagian kepalanya. Mata Kankuro yang semula terpejam erat menahan deyutan hebat di bagian pelipis kiri, membulat melihat benda yang Gaara layangkan padanya. "Kau gila, Gaara! Sakit tau!"

Sedangkan Gaara? Tampak tersenyum puas berhasil menghentikan Kankuro. Kembali ia letakan patung luwak berbadan buntal, berwarna coklat muda, berukuran hampir sebesar guci minuman. "Siapa?" tunjuk Gaara sambil berdiri, memasang kembali boxer warna putih dan celana panjang hitam yang melorot batas betis.

"Ini saya Matsuri, Gaara-sama"

"Oh," Gaara merapikan belt hitamnya, memungut segala sepatu, jas yang telah di obrak-abrik Kankuro dengan ganas. "Masuk!"

Kankuro berdecak sebal, melihat sosok wanita cantik berambut coklat batas pundak tersenyum lembut kearah Gaara. "Dasar benalu!" batin Kankuro mengumpat kesenangannya diganggu gadis yang secara terang-terangan mengukap perasaannya bahwa ia sangat mengagumi Gaara.

"Saya baru saja menerima surat kilat dari gurbenur Konohagakure, Gaara-sama." Matsuri meletakan amplop coklat di meja. Kening Gaara mengerut, melihat perihal yang tertera di belakang surat. PENTING. Ada apa gerangan gurbenur konoha mengirim surat kilat dengan perihal seperti ini. Sepenting itukan, isi surat ini?

"Ada apa Gaara?" Kankuro ikut pensaran melihat raut wajah Gaara yang terkenal pangeran terdingin di Sunagakure, bisa sebegitu kalut.

"Persiapkan segera keberangkatan ku ke Konoha. Gurbenur Konoha mengadakan konfrensi besar dengan lima gurbenur dari 5 kota besar di jepang"

"Apa!"

.

.

.

Sementara itu di Kota Nami.

Disebuah gua yang cukup besar berukuran 3x lapangan bola, tampak Sang Kaisar sedang berdiri menatap artefak kuno terbuat dari bebatuan yang terukir berbagai tulisan aneh di permukaan batu. "Yang Mulia,"

Kaisar pun menoleh kearah si penyuara yang berseru dari arah belakang. "Apakah yang mulia memanggil hamba?" sosok laki-laki berambut panjang kehitaman menunduk hormat ke arah bongkahan tanah liat itu.

"Aku ingin tau, apa tujuanmu membangunkan ku kedunia kalian? Apakah uang, kekuasaan, yang menjadi tujuan kalian untuk membangunkanku?"

Laki-laki itu tersenyum tipis, namun tetap menjaga etika dengan tetap mempertahankan kepalanya menunduk pada sang kaisar. "Hamba tidak ada maksud apapun yang mulia. Dunia ini semakin gila dengan manusia-manusia tamak saling menyakiti satu sama lain hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Perang saudara dari Negara bagian timur, asia, eropa, amerika, tidak ada yang bisa menghentikannya. Mereka terus mengklaim diri mereka sendiri bahwa mereka lah yang pantas menjadi pemimpin. Padahal jauh dari pengheliatan kami sebagai rakyat, mereka sama sekali tidak pantas. Tangisan, kelaparan, kematian, sudah terjadi dimana-dimana, dan saya tidak sanggup Yang Mulia. Untuk itu, hamba membangunkan Yang Mulia, karna hamba yakin Yang Mulia lah bisa membawa perubahan dan kedamaian bagi dunia ini dari perang, dan pertikaian tak berarti dari mereka. Yang Mulia lah yang lebih pantas memimpin dunia ini menuju kedamaian. Yang Mulia orang yang tangguh, kuat, dan tidak ada yang bisa menandingi anda apapun itu. Dan anggaplah ini semua sebagai bayaran atas pemerintahan anda tempo dulu yang telah dirusak oleh para pengkhianat itu. Anda sejak awal memang ditakdirkan untuk menjadi Raja, menjadi pemimpin kami yang akan membawa perubahan besar. Tugas saya sebagai pengikut anda, adalah mewujudkan takdir yang memang telah digariskan oleh Tuhan, Yang Muliaku. Hanya itu saja"

"Apa yang kau mau dariku?"

"Maaf, Yang Mulia?"

Kaisar membalikkan seluruh tubuhnya untuk menatap pria yang menjadi pengikut setianya, "Seperti yang kau bilang. Manusia tamak akan kekuasaan, tidak mungkin kau repot-repot membangunkan ku hanya untuk menjadi kan ku Raja dari segala Raja yang ada didunia ini. Aku sudah banyak menyelami sisi karakterisasi dari seorang manusia. Dan kau, tidak sepenuhnya suci seperti yang kau ucapkan. Menginginkan kedamaiaan dari segala perang yang terjadi di seluruh belahan dunia, tidakkah kau mempunyai suatu obsesi jika perang itu berhasil ku hentikan, dan kekuasaan dunia ada ditanganku? Manusia tidak ada yang jujur, mereka ingin lebih dan lebih. Termaksud dirimu sendiri. Jadi tak perlu bermanis-manis di hadapan ku dan katakan saja apa yang kau ingin dari ku sebagai bayaran atas menjadi budakku. Aku muak jika ada orang yang memakai topeng untuk menutupi maksud tersembunyi dariku, persis seperti orang-orang yang mengkhianatiku. Mengendap-ngendap dibelakang, lalu menghujamkan ku dengan pisau beracun mematikan. Aku benci akan hal itu!"

"Hamba bersumpah tidak akan melakukan hal itu, Yang Mulia. Jiwa ku dan tubuhku hanya untuk anda. Memang saya mempunyai suatu obsesi, tapi saya jamin tujuan saya bukan lah suatu rencana licik untuk menjatuhkan anda Yang Mulia. Malah tujuan tersebut sangat membantu anda dalam menggapai kembali apa yang seharusnya memang menjadi milik anda Rajaku" Orochimaru membungkukkan tubuhnya.

"Maksudmu?"

"Jadikan hamba jendral anda Yang Mulia, hamba berjanji akan menuruti semua apa yang Yang Mulia inginkan dan anda butuhkan. Bukankah dalam peperangan, jendral sangat dibutuhkan, Yang Mulia?"

Kaisar tampak terdiam sejenak, mencerna situasi dari sang bawahan yang belum genap 24 jam menjadi anak buahnya. Tentu Yang Mulia tidak ingin menjalankan sesuatu tanpa ada pemikiran yang matang dengan segala resiko yang akan menyambutnya. Ia tidak ingin pengkhianatan, dan hal-hal yang merugikan dirinya dari manusia bertampang licik ini. Namun, tidak ada salahnya kan menjadikan orang ini jendral. Toh memang ia butuh suatu pasukan yang bisa melancarkan rencananya untuk membalas dendam pada semua keturunan para pengkhianat terdahulu. Tidak hanya balas dendam, masih banyak lagi rencana yang harus ia lakukan dan tentunya tidak mungkin ia melakukannya sendirian. "Baiklah, mulai sekarang kau ku angkat menjadi jendralku. Jika kau sampai mengkhianati ku, aku tak kan segan-segan mencabik-cabik seluruh sumsum tulang mu!"

"Terima kasih atas kepercayaan yang anda berikan pada hamba Yang Mulia." Orochimaru tersenyum misterius sembari menundukkan kepala.

"Dan satu lagi. Sebagai seorang bawahan setiaku, aku ingin kau menjalankan perintahku sekarang"

"Apa pun akan saya lakukan, Yang Mulia. Apa gerangan Yang Mulia inginkan dari hamba?" Orochimaru menyeritkan alis.

"Pemuda pirang itu.."

.


.

...

Konoha Hospital.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Naruto?" seorang laki-laki berambut putih menjulang keatas memasuki suatu ruangan di rumah sakit. Yang dipanggilpun segera mengalihkan pandangan yang semula tertuju pada layar PSP kearah pintu masuk.

"Kakashi sensei! Paman Obito!" teriak Naruto semangat membara pada dua sosok pria dewasa dihadapannya. "Hey-hey! Tak perlu bersemangat begitu melihat wajah tampan ku ini. Hati-hati, gips itu bisa terlepas. Kau ini senang sekali ya merepotkan perawat-perawat cantik yang ada disini. Benar-benar!"

"Kejam sekali paman ini! Malah lebih mengkhawatirkan gipsku dibandingkan diriku sendiri" Naruto mengembungkan pipinya. "Panggil aku Oni-san!" Obito memukul gips yang ada di kaki Naruto yang telah di pasang semacam penyangga terbuat dari kain yang dikaitkan dari besi atas tempat tidur menyerupai ayunan untuk menjaga kaki Naruto. "AWW!" ringgis Naruto mendapati tepukan dahsyat di pergelangan kakinya.

"Obito, Naruto itu sedang sakit. Jangan kau bikin tambah sakit" Kakashi menyipitkan mata melihat tingkah kekanakan sang sahabat. "Kau baik-baik saja Naruto? Ini kami bawakan oleh-oleh untukmu" Kakashi menyodorkan kantung plastic warna putih.

"Hueeek! Kenapa sayur, aku tidak suka sayur Kakashi-sensei. I wan't a ramennnn!" rengek Naruto.

'PUK!' Obito menepuk tangan Naruto yang diperban. "Panggil kami Oni-san, sekarang bukan jam pelajaran bodoh! Dan ingat, tulang mu itu hampir patah, perbanyak lah makan-makanan yang mengadung zat besi dan kalsium. Biar jika kau terjatuh lagi, tulang mu tidak lagi patah seperti tulang kakek-kakek umur 100 tahun, dasar"

"Aduhh~! Sudah jangan pukul aku lagi! Aku benar-benar bisa patah tulang tau!" ringgis Naruto mengusap lembut tangan yang diperban.

"Sttss.. Bisakah kalian diam? Ini rumah sakit, tau. Semoga cepat sembuh Naruto, dan bisa beraktifitas kembali seperti semula. Kami semua sangat khawatir sekali dengan tindakan bodoh mu itu. Lain kali pikirkanlah masak-masak yang yang harus kau lakukan. Jangan bertindak sembrono seperti ini"

"Hehehe. Ha'i! Kakashi Nii-san. Errr… Ano" Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal. "O-orang aneh dan rubah jelek itu, bagaimana? Apa yang terjadi dengan mereka?"

"Emm.. entahlah. Aku tidak tau, tapi yang jelas keberadaan mereka tidak akan menganggu kita. Lagi pula gurbenur kita lah yang akan menangani mereka. Jadi kau tenang saja. Tua Bangka itu pasti akan mendapat ganjaran yang setimpal, berani-berani sekali mengganggu orang yang seharusnya telah tenang di akhirat sana."

"Oh begitu ya" Naruto menundukkan kepalanya dengan pancaran mata sendu, menatap bungkusan plastic dari Kakashi.

"Ya sudah, kami pergi dulu. Istirahatlah yang banyak. Oh ya, nanti orang tuamu akan menjenguk mu sebentar lagi. Tunggu saja ya" Kakashi berjalan keluar menuju pintu. "Jaa Ne, Naruto. Makan obat yang banyak ya. Kalau perlu 8x sehari. Biar cepat sembuh. Hahahaha" Obito melambai tangan kearah Naruto.

"Ingin aku cepat sembut atau cepat mati! Dasar paman-paman aneh!" hardik Naruto. Naruto kembali menghela nafas panjang. Menyandarkan punggung mungilnya pada bantal, agar otot-otornya rileks dan tidak tegang. Pikirannya kembali menerawang kejadian yang terjadi kemarin malam. Rubah itu… entah kenapa sosok rubah berbadan tanah liat sangat menganggu sekali di pikirannya. Mata rubah itu, suaranya, Naruto merasa sangat dekat dan tidak asing. Entahlah… Naruto benar-benar tidak bisa merangkai kata-kata lagi pada sosok itu. Belum pernah lihat, tapi terasa tidak asing. Tidak kenal, tapi terasa sangat dekat. Uhh~! Rentetan kejadian itu membuat Naruto pusing sendiri. Kepalanya sakit, badannya sakit, ehh sekarang, hatinya juga sakit mengingat lolongan rubah itu. Sarat akan kesakitan yang teramat dalam.

'Tap-Tap-Tap!' bunyi suara langkah kaki bergema di koridor rumah sakit seperti menuju kearah ruangan rawat Naruto.

"Eh?! Apa itu Kaa-san?" gumam Naruto mendengar lebih seksama langkah kaki yang berada di luar ruang rawatnya yang ia yakini jumlahnya lebih dari satu orang.

'Treek~!'

.

0ooo0ooo0

.

"Aku harap Naruto baik-baik saja, Minato" ucap seorang wanita berambut merah berjalan berdampingan dengan pria bersmbut pirang memakai stelan jas lengkap.

Laki-laki yang dipanggil Minato itu pun hanya bisa tersenyum lembut, tangan kanannya pun terangkat keatas untuk merangkul sang istri mesra. "Dia pasti baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya kan, dia masuk rumah sakit dan mengalami luka seperti ini"

"Memang ini bukan yang pertama kalinya, tapi tetap saja sebagai seorang ibu, wajar kalau aku mengkhawatirkan keadaan putraku sendiri. Aku hanya takut Naruto kenapa-kenapa. Dasar! Anak itu mirib siapa sih! Kenapa diusia yang sudah sedemikian matang, masih bertindak bodoh seperti anak kecil. Bikin orang khawatir saja!"

'Loh? Bukannya sikap Naruto seperti itu lebih mirib denganmu' batin Minato sweatdrop dengan keringat menyerupai titik kecil dibelakang kepala.

"Ruang Sakura, nomor 8. Sepertinya ini Minato." Tunjuk Kushina pada pintu ruangan bertuliskan nomor 8. Minato hanya mengangguk kan kepala, dan bergerak melangkah bersama sang istri.

'Treek~!'

"Loh. Ini kamar siapa Minato?" tanya Kushina cengo melihat didalam ruangan yang ia masuki bersama Minato terdapat kakek-kakek bergigi satu bermain GAP bersama temannya yang malah tidak bergigi sama sekali.

.

"Apa sih yang ada dipikiran mu Minato! Kenapa ruangan Naruto saja kau bisa tidak ingat sih! Dasar"

Minato hanya dapat memunculkan cengiran khasnya mendapati hardikan dari sang istri, "Maaf. Hehehe, aku lupa. Setelah kuperiksa lagi email yang di kirim Kakashi di ponselku ternyata ruang Tsubaki. Aku teringat dengan nama teman Naruto, Sakura. Gadis berambut merah muda itu. jadi tanpa ku sadari, ruang Sakura yang kita tuju, bukan Tsubaki. Maaf-maaf, aku sudah tua. Harus kau maklumi itu Kushina" Minato membujuk istrinya dengan cara merangkul pundak wanita berambut panjang itu.

"Tapi Tsubaki dan Sakura itu beda, Minato. Beda jauh malah! Tulisannya pun beda, Tsubaki, Sakura. Adakah kemiriban bila aku menyebutkan kedua nama itu? Kau ini, berkat kau aku benar-benar diet total tau dari lantai 5 turun ke lantai 2"

"Kan kita naik lift sayang. Hehehe, kan tid-"

"Biar pun naik lift, tapi tetap saja kau membuang waktu 30 menitku untuk berjalan kaki mencari ruangan itu, lihat! Ramen Naruto pun telah dingin!"

"Aku minta maaf. Lain kali, aku akan lebih konsentrasi lagi. Sudah jangan marah ya, tidak enak tau dilihat Naruto. Ahh, itu ruangannya. Tsubaki nomor 6" tunjuk Minato pada pintu bertuliskan nomor 6.

"Nomor 8 jadi nomor 6. Kanapa kau bisa ingat nomor 8?! 8 dan 6 beda jauh Minato! Jangan-jangan itu nomor…" Kushina memamerkan wajah killernya pada Minato.

"Hey-hey, aku bukan laki-laki seperti itu. Itu bukan nomor siapa-siapa kok, kau tahu, 8 dikurang 2 sama dengan 6 kan. Jadi aku terperangkap dalam angka-angka aneh itu, hehehe" Kushina hanya mampu bersweatdrop ria.

"Ya sudah lah. Ayo kita masuk, Naruto pasti sudah menunggu kita" Kushina pun mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya diikuti dengan Minato. Baru sempat memegang gangang pintu. Ponsel Minato pun berdering.

"Kau masuk saja terlebih dahulu. Aku akan mengangkat panggilan ini sebentar."

"Iya" Kushina masuk kedalam ruangan itu, Minato pun membalikkan badannya kearah berlawanan, melihat layar ponsel tersebut dan menekan tombol 'yes'. "Moshi-moshi. Ada apa Ibiki?"

"Maaf menganggu waktu anda, kepala komisaris. Saya ingin melaporkan kepada anda, bahwa gurbenur telah menurunkan perintah untuk kita mengenai masalah lembah akhir kemarin. Mereka ingin kita tetap melakukan pencarian di berbagai tempat sekitar kota-kota kecil lembah akhir, yang kemungkinan besar mereka belum pergi terlalu jauh dari tempat itu. Beberapa pasukan elit seperti SWAT dan densus anti Teror juga ikut dalam pencarian ini, bahkan FBi dari Negara luar ikut membantu kita"

"Begitu ya. Tetap pantau 30 menit sekali pasukan kita yang berada disana. Perintahkan pada mereka untuk mencari di tempat yang tidak pernah terjangkau penduduk local yang ada disana. Mungkin mereka menyembunyikan diri ditempat yang sepi, sebab sang Kaisar kondisi nya saat ini belum memungkinkan untuk membaur bersama para penduduk. Jadi untuk tidak memancing kecurigaan, mereka pasti memilih tempat yang sepi. Kau mengerti?"

"Baik pak!"

"Mungkin 45 menit lagi, aku akan menyusul ka-"

"KYAAAAA~!"

Mendengar teriakan yang tidak asing dari ruang rawat Naruto, Minato pun bergegas berlari masuk kedalam ruangan itu. "Kushina!" Minato yang semula menampakkan raut wajah khawatir, membulat sempurna mendapati ruangan yang ada di hadapaannya.

"D-Dimana anak-ku? Minato… Dimana? Kenapa tempat ini? M-ana Naruto?" tanya Kushina disela-sela getaran hebat pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Kenapa ada darah Minato! Apa yang terjadi! Dimana anakku?! Dimana Naruto?!"

"Kushina!" Minato segera berjalan kearah istrinya dan memeluknya erat. "D-Dima na Naruto?! Dimana anakku, Minato! Hiks-hiks" Kushina mencengkram kuat stelan jas Minato.

"K-Komisaris?! Moshi-moshi! Komisaris?! Ada apa?" ponsel yang masih ada digenggam tangan kanan Minato pun terangkat keatas. "Kau masih disana, Ibiki?"

"Ya, ada apa komisaris?"

"Cepat kesini dan kirimkan Tim Investigasi dari kepolisian kita ke rumah sakit konoha. Ada sesuatu yang terjadi pada putraku" geram Minato melihat bercak darah yang ada dilantai serta vas bunga yang berserakan, ruangan yang sedang ia pijaki sekarang.

...

Sementara itu.

"Loh kenapa banyak mobil polisi di luar sana?" laki-laki berambut bob dengan pakaian super ketat berwarna hijau menyerit heran melihat dari luar jendela terparkir mobil berwarna hitam putih dengan khas suara liu-liunya di halaman rumah sakit.

"Eng? Mobil?" Kakashi ikut beranjak dari kursi yang ada disisi ranjang pria bernama Yamoto terbaring lemah.

"Mungkin ada penculikan bayi di rumah sakit ini. Akhir-akhir ini kan, penculikan bayi banyak terjadi. Si pelaku bodoh itu mungkin ketahuan oleh orang rumah sakit. Jadi mereka menghubungi pihak kepolisian untuk meringkusnya." Obito mengendikan bahunya seraya memakan apel yang entah-dari-mana ia dapatkan.

"Apa yang kau lakukan Obito! Apel itu untuk Yamato!" Anko dengan brutalnya merebut apel yang telah tergigit oleh Obito. Walaupun saat ini kondisi wanita pencinta ular itu sangat lemah sama hal nya dengan Yamato, mengingat luka yang dideritanya saat pertempuran di SunaGakure kemarin. Tak menyurutkan dirinya untuk beradu debat dengan laki-laki bermarga Uchiha itu. Bisa di bilang, semangat Anko ini sebelas duabelas dengan pemuda pirang bermata biru seterang langit itu. "Kau bisa dikutuk berani-beraninya mengambil hak orang yang sedang sakit. Dasar!"

"Pelit sekali sih," Obito mengelus tangan kanannya yang ditampar Anko. "Aku hanya minta satu, lagi pula sisanya masih banyak. Yamato pun terlihat tidak ada niat memakannya. Nah~, dari pada buah-buahan ini membusuk, lebih baik biar aku saja yang memakannya"

"Tetap tidak boleh! Ini untuk orang sakit. Kau kan tidak sakit, jadi untuk apa ak-"

'BRAK!'

Mendengar suara pintu seperti didobrak, membuat sang empu yang terbaring lemah di ranjang terlonjak kaget dari alam mimpinya. Berpasang-pasang mata yang ada diruangan itu pun menuju pada sosok yang terengah-engah di depan pintu, "Gawat!"

"Ukhh!" ringgis Yamato mengelus tubuhnya sang sakit akibat terbangun secara mendadak oleh sosok tidak manusiawi itu. "Apanya yang gawat, Asuma?" Kakashi menatap sosok itu heran.

"Gawat! Aku dengar pihak rumah sakit saat menuju kemari, terjadi pembunuhan pada salah satu pasien yang dirawat disini!"

"Pembunuhan?" alis sebelah kiri Guy terangkat keatas.

"Iya! Kudengar dari perawat tadi, terdapat darah di sepanjang tempat tidur hingga menuju pintu tertinggal di ruangan itu. Dilihat dari jejak darah itu sepertinya tubuh di korban yang berlumuran darah diseret hingga menuju pintu ruangan. Dari arah pintu itu, mungkin mereka membopong mayat si korban dengan suatu benda hingga darahnya tak terlihat di sepanjang lorong rumah sakit untuk menghilangkan jejak "

"Lalu apa hubungan pembunuhan itu dengan kita? Tidak ada kan? Untuk apa kau repot-repot memberitahu berita itu. Sudahlah tidak usah dipikirkan, itu urusan rumah sakit tau. Bukan urusan kita" jelas Obito acuh, mencoba mengambil kembali buah yang ada dimeja kecil samping tempat tidur.

"Sayangnya, pembunuhan itu ada hubungannya dengan kita, sebab pasien yang ku maksudkan itu-"

"Jangan bilang kalau pasien itu adalah…" Kakashi menggantungkan kalimat terakhir. Tubuhnya terasa bergetar hebat, bibirnya terasa kelu, tak sanggup melanjutkan kembali kata-kata menakutkan yang ia kemungkinan besar ia yakini salah satu korban pembunuhan itu adalah kerabat terdekatnya, atau yang lebih parah mungkin…

"Naruto…" muridnya sendiri…

.

..

...

To-be-Continue...


Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang menguras emosi (?) dan pikiran dhiya hingga berbulan-bulan galau-galau ria mengenang nasip Fic ini. Terpublish juga... Yayyy! *Nabur kembang tujuh rupa*.

Gomen banget buat teman-teman yang telah menunggu Fic ini setelah 1 kali puasa, 1 kali hallowen, 2 kali lebaran, dan sekali potong embek, 'BLETAK-BLETUK-BLETER!'.

Gimana cerita diatas? Makin hancurkah? Atau makin tak layak konsumsi? Mohon Reviewnya yaaaa buat minna-san yang cuantiiikkk, manis, ganteng, pretty, handsome, similikiti weleh-weleh~. 'BUGH!' *Dihajar Readres*. Gomen juga nih, buat Review teman-teman semua tidak bisa Dhiya balas satu-satu, dikarnakan dhiya sembunyi-sembunyi nih ngepublishnya (Takut ketahuan BigBro), modemnya pun dhiya curi dari kamar yang punya. Habis udah ga kuat iman mau update nih Fic. Untk ch 5, dhiya usahakan agar cepat update dan juga dibalas Review teman-teman semua. Sekali lagi gomen Minna-san *Bungkuk-Bungkuk 100x*. Lemonnya lebih asem lagi akan Dhiya usahakan ada di Ch 5. Gomen mengecewakan. Upzz, Dhiya mau pamit dulu, takut my big bro pulang kerja, ketahuan lagi modemnya tak lagi ditempat.

Adakah yang masih berniat mereview Fic nista ini?