Separuh Bintang

.

Disclaimer : original story 'Separuh Bintang' by Evline Kartika

Re-make as YunJae version by veectjae

Warning : Genderswitch, Out Of Character. Don't like, don't read!

.

.

.

- PART 3 : WHAT IS LOVE? –

.

.

Hari ini cukup panas. Matahari memang sudah tidak muncul. Namun, udara mala mini cukup membuat Yunho tergoda untuk berenang. Sambil ditemani orangie juice yang tadi dibuatkan Song Ahjumma, Yunho menikmati suara percikan air serta suara penyiar radio yang sedang berceloteh tentang makna cinta. Yunho memang membawa radio ke pinggir kolam renang, agar tidak terlalu sepi.

Yunho mendengus. Memangnya, apa itu cinta? Yunho sejak kecil memang kekurangan yang namanya cinta. Asal tahu saja, kata pertama yang berhasil diucapkan oleh Yunho bukan "eomma" seperti anak-anak lainnya, namun "ahjumma", panggilan untuk pengasuhnya sejak kecil.

Siwon dan Kibum memang jarang sekali mengunjungi putra semata wayangnya itu. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis, bisnis, dan bisnis. Yunho memang tidak mengenal apa itu cinta orangtua. Oleh karena itu, saat ia mengetahui appanya sangat memperhatikan Jaejoong, ia menjadi uring-uringan.

Dari sekian banyak gadis yang ia pacari, tidak ada satupun yang tehitung "berpacaran karena cinta". Selama gadis itu memenuhi sepuluh kriteria yang telah dijelaskan, Yunho oke-oke saja. Tiba-tiba Yunho teringat pada satu sosok.

Kwon Boa…..

Gadis yang selalu menemaninya semasa kecil. Yunho sering memanggil gadis itu Boa. Boa sangat berarti baginya. Saat Yunho sedih, Boa yang menghiburnya. Saat Yunho kesal, hanya Boa yang berhasil menenangkannya. Saat Yunho kesepian, Boa selalu ada untuknya. Saat Yunho sakit pun, Boa yang paling panic. Kehidupannya sampai kelas 6 SD hanya dipenuhi dengan Boa, Boa, dan Boa. Kalau ingin membahas makna cinta, mungkin satu-satunya perempuan yang mengenalkan kata cinta padanya hanya Boa.

Dulu, mereka tinggal bersebelahan. Yunho masih ingat dengan jelas awal mula pertemuan mereka.

- flashback –

Yunho baru kelas satu SD saat menemukan seekor anjing pudel kecil yang tanpa sengaja masuk ke dalam rumahnya.

"Minie… Minie…." Tiba-tiba seorang gadis kecil melongokkan wajahnya dari balik pagar.

"itu Minie!" gadis itu tertawa pada baby sitter-nya saat melihat anjing yang dipegang Yunho. Tawa yang lucu. Tawa yang polos. Tawa yang membuat Yunho tidak bisa melepaskan pandangannya sedetik pun. Yunho membuka pintu pagar.

"Ini anjing kamu?" Gadis itu mengangguk bersemangat. Sejak saat itu mereka berteman, menghabiskan waktu bersama, bermain dan tertawa bersama.

Namun, sejak appa Boa memusatkan bisnisnya ke China, tepat pada saat kenaikan SMP, Boa dan keluarganya pindah ke Macao. Tidak ada tangis perpisahan, tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada benda kenangan, tidak ada yang tersisa tentang kepergian Boa. Boa hanya tersenyum sambil melambaikan tangan saat Yunho mengantarnya ke airport.

"Aku pasti akan kembali lagi"

Hanya lima patah kata itu yang keluar dari mulut Boa. Entah mengapa, saat itu Yunho merasa sangat percaya. Yunho merasa sangat percaya, Boa akan kembali lagi. Dia menunggu, menunggu, dan terus menunggu.

- flashback end-

Kepergian Boa cukup membuat Yunho sangat kesepian. Awalnya, mereka selalu rutin mengirim surat. Maklum, dulu SMS dan internet belum popular. Ada sih, namun belum setenar sekarang. Kalau telepon, bisa-bisa appanya bangkrut karena membayar tagihan telepon Seoul – Macao tiap hari. Sehingga, alat paling popular untuk berhubungan jarak jauh hanyalah surat. Pertama, seminggu sekali... Lama-lama dua minggu sekali, sebulan sekali, hingga akhirnya tidak ada kabar sama sekali.

Yunho lelah menunggu. Ia ingin Boa kembali. Ia benci sendirian.

Dari sinilah awal masa-masa ke-playboy-an Yunho dimulai. Saat masuk SMP, banyak gadis yang mendekatinya. Sebenarnya, Yunho tidak tertarik pada mereka. Namun, merekalah yang membuat Yunho tidak lagi kesepian. Setiap dia bosen dengan satu perempuan, yang lain sudah mengantre untuk menjadi kekasihnya. Dan Yunho menikmati itu. Setidaknya, ia merasa tidak sendirian.

Tanpa sengaja, pandangan Yunho tertuju pada kamar Jaejoong. Gadis itu membuka pintu balkon dan menarik bangku ke sana. Tadinya, Yunho ingin menenggelamkan kepalanya ke bawah air agar Jaejoong tidak melihatnya, tetapi sepertinya Jaejoong memang tidak tertarik melihat ke bawah. Pandangannya tertuju ke langit dan bintang-bintang di atas sana.

Yunho mengecilkan suara radionya. Sekilas, ia melihat Jaejoong berkomat-kamit seperti orang yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Namun tiba-tiba, ada sesuatu yang berkilauan tertimpa sinar lampu di pipi Jaejoong. Air matakah? Yang benar saja! Gadis itu bisa menangis juga?

Yunho mengucek-ucek matanya. Memastikan penglihatannya tidak salah. Tapi itu benar-benar air mata….. Jaejoong menangis?

Yunho cepat-cepat memasukkan tubuh dan kepalanya ke dalam air ketika pandangan Jaejoong beralih ke bawah. Setelah tidak kuat lagi menahan napas, dengan hati-hati ia memunculkan matanya untuk melihat keadaan Jaejoong.

Yunho melongo. Jaejoong menopang kepalanya dengan kedua lengan yang dilipat dan disandarkan ke pagar balkon. Dia tidur? Mengapa ia tidur di balkon seperti itu? Yunho mengambil handuknya dan bergegas ke atas. Ia mendapati pintu kamar Jaejoong terbuka setengah. Dengan mengendap-endap, Yunho masuk dan menemukan Jaejoong benar-benar tertidur di balkon.

Yunho menggumam setelah melihat wajah Jaejoong lebih dekat.

"Benar-benar air mata"

Sesaat, ia tergugah untuk menghapus air mata di pipi Jaejoong. Dan bertepatan dengan itu, suara SMS membuat Jaejoong terbangun.

Bisa ditebak, Jaejoong membuka mata dan mulutnya ternganga lebar-lebar melihat Yunho masuk ke kamarnya dengan setengah telanjang.

"HYOOOOOOOOOOOOOOOO!"

Lemparan sandal menerjang tubuh Yunho.

"Mau apa masuk ke sini? Mengapa tidak memakai baju?" Jaejoong mengambil gunting dan menodongkannya.

"Dengar ya! Aku ini perempuan baik-baik. Belum pernah begituan. Jangan macam-macam!" Mendengar ucapan Jaejoong, bukannya marah, Yunho malah timbul isengnya. Ia berjalan mendekati Jaejoong.

"Hyoooo jangan ke sini! Lihat!" jari Jaejoong menunjuk gunting yang dipegangnya.

"Jangan maju lagi! Aku takuut!" Yunho berusaha menahan tawa melihat tingkah gadis di depannya itu. Namun dengan wajah sok serius, ia tetap berjalan mendekati Jaejoong, merebut gunting kemudian mendorong tubuh Jaejoong sampaii terentang di ranjang. Kedua tangannya memegang kedua tangan Jaejoong erat-erat. Saking dekatnya wajah mereka berdua saat ini, Jaejoong memejamkan mata erat-erat.

Sesaat, Yunho terpesona dengan bibir merah Jaejoong, sebelum cherry lips itu menyerukan berbagai gumaman.

"Tuhan, bunuh namja ini, Tuhan. Biar dia disambar petir, disambar guntur, disambar apa pun boleh. Mau pake kayu, martil, gergaji, pisau, obeng, semuanya boleh. Tuhan, namja ini memang kurang ajar. Lempar dia, Tuhan. Ayo, Tuhan…."

Mendengar itu, tawa Yunho meledak. Ia melepaskan kedua tangan Jaejoong dan tertawa hingga terjongkok-jongkok di lantai. Jaejoong membuka mata. Dahinya berkerut melihat tingkah lelaki itu. Apa lagi ini?

"Kenapa ketawa?" Jaejoong berdiri dan mengambil jarak agak jauh. Yunho masih tetap dengan posenya sambil tertawa kecil.

"Lucu banget abisnya! Bercanda doang, kali! Lagian aku juga tidak nafsu dengan gadis sepertimu!" Jaejoong mengatupkan bibir. Sedetik kemudian, ia menangis.

"Tadi aku ketakutan setengah mati, tau nggak!" Kontan, Yunho menghentikan tawanya. Ia berjalan menghampiri Jaejoong.

"Jangan dekat-dekat! Keluar sana! Dasar jahat!" Yunho jadi merasa bersalah.

"Mian, tadi aku hanya bercanda" Namun Jaejoong masih memandangnya dengan tatapan curiga.

"Lalu, mengapa tidak pakai baju segala?" Yunho memperhatikan badannya yang hanya mengenakan celana renang. Iya sih, dengan penampilan seperti ini, siapa yang akan menyangka perbuatannya tadi tidak serius.

"Ini… ini tadi aku habis berenang. Lalu aku melihatmu tidur di balkon. Jadi…." Yunho menghentikan perkataannya saat melihat mata Jaejoong yagn sangat tidak bersahabat.

"Iya deh, aku salah. Mianhae"

"Tidak dimaafkan!" ujar Jaejoong sambil mengusap air matanya.

"Bawain cokelat dulu, baru dimaafin!" Yunho bengong. Benar, perempuan ini sudah berumur enam belas tahun?

"Kenapa bengong? Cepat ambiilkan cokelat sana!" Yunho mendengus, namun kakinya tetap melangkah keluar menuju lemari es.

.

.

.

Yunho menepuk-nepuk kepalanya. Sepertinya telanjang dada dalam waktu cukup lama malam tadi baru terasa efeknya sekarang. Kepalanya terus pening.

Ia turun dari motor dan merapikan seragamnya yang lecek terkena sapuan angin. Hari ini, dia juga tidak memakai jaket, yang membuat pusingnya semakin menjadi-jadi karena kerasnya angin yang menerpa tubuhnya saat naik motor.

Yunho masih memijit-mijit dahinya saat melewati lapangan basket, dan kembali ia menemukan sosok gadis yang paling tidak ingin ia temui.

"TIdakkk! Jangan lagii!" teriaknya dalam hati.

Entah sudah berapa minggu gadis itu terus-menerus memburunya dengan pertanyaan yang sama,

"Yunho, mau tidak kita balikan lagi?" Yunho saja sudah bosan mendengar kata-kata itu. Bukan hanya karena ia memang tidak ada feeling dengan UEE, namun hal itu juga mengurangi jumlah gadis yang mendekatinya karena takut kehidupan SMA mereka terancam. UEE memang terkenal suka melabrak siapapun yang mendekati Yunho. Dan bagi Yunho, kehilangan fansnya adalah bencana besar! Oleh karena itu, ia memutuskan harus menghentikan UEE saat ini juga.

Begitu melihat Yunho, UEE langsung berlari ke arahnya. Niat Yunho yang ingin menyelesaikan masalah tiba-tiba lenyap begitu saja. Ia malah refleks ikut berlari menghindari kejaran UEE. Sekilas mereka tampak seperti pasangan kekasih di film-film India yang sedang kejar-kejaran. Untung hari itu masih terhitung sangat pagi, sehingga belum banyak murid yang datang. Kalau tidak, bisa-bisa mereka menjadi tontonan.

Sampai di gedung SMA, akhirnya Yunho menghentikan langkahnya. Ia sudah tidak kuat berlari lagi. Dengan napas terengah-engah, ia duduk di bangku panjang di depan laboratorium juga dengan napas terengah-engah, duduk di sampingnya.

"Yuu, kita berteman sajalah. Aku lelah tiap hari terus-teruan seperti ini. Aku yakin kamu pasti bisa dapat laki-laki lain yang lebih baik dariku" kata Yunho setelah berhasil menenangkan detak jantungnya.

UEE memandangnya, seakan sudah bosan dengan kata-kata yang Yunho ucapkan. Sama bosannya dengan Yunho yang sudah dapat menebak kata-kata apa yang akan UEE katakan.

"Kenapa?"

Tuh, benar kan? Yunho menghembuskan napas panjang.

"Karena aku sudah memiliki kekasih baru. Jadi, please! Jangan ganggu aku lagi! Jangan mengejar-ngejar aku lagi!" kata-kata itu tiba-tiba tanpa sadar terucap begitu saja.

UEE mengerutkan kening mendengar perkataan Yunho barusan. Jadian? Kekasih baru? Mengapa tidak pernah ada beritanya?

"Dengan siapa?" Yunho sama sekali tidak memikirkan hal itu. Kata-kata 'kekasih baru' benar-benar di luar pikirannya. Namun, tiba-tiba sebuah nama melintas.

"Namanya Jaejoong" Waduh! Mengapa ia yang kusebut? Yunho menepuk dahinya sendiri, namun ia cepat-cepat memaerkan senyumnya lagi, atau lebih tepatnya menyeringai, saat menyadari UEE memperhatikan perubahan wajahnya.

"Mengerti bukan alasannya? Jadi, jangan menggangguku lagi!" ujarnya sambil berlalu menuju tangga. Belum lagi tiga langkah, Yunho berbalik.

"Oh ya, jangan sekali-sekali merusak ketenangan kekasihku! Kalau sampai aku tahu kamu berbuat sesuatu dengannya, aku yang harus kamu hadapi! Mengerti?" Yunho menepuk kepalanya kencang-kencang. Bagaimana ini? Mengapa bisa nama Jaejoong yang tersebut? Mau tidak mau, ia harus mengajaknya kerjasama.

Namun, kemudian Yunho teringat peristiwa dua jam yang lalu.

- flashback –

Wangi nasi goring menggelitik hidung Yunho saat memasuki ruang makan. Ia melihat Jaejoong, masih memakai celemek renda-renda sedang menuangkan susu ke dalam dua gelas. Memang, Jaejoong tidak suka sarapan hanya dengan roti bakar, jadi sejak dua minggu yang lalu Jaejoong selalu membantu Song Ahjumma menyiapkan makanan. Kadang-kadang masak bubur, kadang-kadang masak nasi goring, atau yang lainnya. Sebenarnya, tidak dibantu Jaejoong pun, asal Jaejoong memberikan perintah, Song Ahjumma pasti akan memasakkan apapun yang mereka inginkan.

"Kamu tidak kasihan? Song Ahjumma kan sudah berumur 60 tahun. Membantu sedikit tidak ada salahnya, kan?" ujar Jaejoong saat Yunho bertanya mengapa Jaejoong ikut memasak. Baru kali ini Yunho melihat ada perempuan seumuran dia yang bisa memasak. Semua mantan pacarnya tidak ada yang bisa memasak,

Sebenarnya, Yunho menikmati masakan Jaejoong. Memang, tidak seenak masakan restoran, namun benar-benar memberikan kesan masakan rumah. Sesuatu yang sangat jarang dirasakan Yunho.

Sejak dua minggu lalu itu juga, Yunho mulai merasakan adanya perasaan sedikit akrab dengan Jaejoong. Memang sih, masih tersisa rasa cemburu tentang perlakuan appanya yang agak berbeda, namun mereka sudah mulai banyak bicara. Setidaknya, lebih banyak bicara dibanding pertama kali Jaejoong datang.

Namu, pagi tadi Yunho hanya melihat ada satu piring di meja.

"Tidak makan, Jae?" Tanya Yunnho pada Jaejoong.

"Makan kok. Tapi aku tidak mau makan satu meja denganmu! Aku mau makan di ruang TV saja. Mulai sekarang, jangan dekat-dekat denganku kurang dari dua meter! Awas saja!" Lalu Jaejoong pergi membawa piring dan gelasnya ke ruang TV.

- flashback end –

Yunho benar-benar melupakan peristiwa itu. Namun, ia harus berhasil mengajak Jaejoong bekerja sama. Apa pun caranya!

.

.

To Be Continue

.

.

Chapter 3 update ^^~

Maaf ya chapter kali ini cukup pendek kkk~

Kalau banyak yang ngikutin veect janji bakal rutin update~

Terimakasih buat semua yang sudah review, follow, dan favorite :D

Thanks for reading! Review please? :)