"Tok..Tok..Tok..."
Sebuah bunyi mengganggu pendengaran Sasuke yang masih tidur nyenyak diatas kasurnya yang empuk. Sasuke sedikit menggeliat masih dengan mata tertutup tapi alisnya sedikit menukik kebawah tanda ia terganggu dengan suara tadi. Namun sedetik kemudian ia kembali merasa nyaman dan bersiap kembali ke alam mimpinya.
"Tok..Tok..Tok..."
Suara tersebut kembali terdengar dan menyeret Sasuke kembali ke alam sadarnya dan harus mengucapkan selamat tinggal ke mimpinya.
Sasuke menggerutu kesal sembari mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Sasuke menguap lebar sambil menggaruk-garuk kepalanya. Matanya mencari-cari sesuatu di dinding kamarnya. Setelah mendapat apa yang ia cari, Sasuke mendecih kesal.
"Siapa yang datang pukul 5 pagi ?" kata Sasuke dengan suara beratnya yang terkesan... SEKSI...
Dengan malas ia turun dari kasurnya dan berjalan gontai menuju asal suara 'tok..tok..tok' yang tadi mengganggu tidurnya. Ia mengambil sesuatu dilaci meja ruang tengah rumahnya. Dengan sesekali menguap ia memasukkan benda yang diambilnya tadi kedalam lubang dipintu masuk rumahnya.
Perlu diingatkan, Sasuke saat bangun tidur sangat Out Of Character. Jadi jangan heran kalau adegan diatas SANGAT bukan Sasuke.
'Cklek'
Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto
Fict ini punya Yhatikaze
AISHITERU HINATA
Pairing : SasuHina NaruSaku
Rating : T
Warning : Gaje, Typo, OOC, pokoknya segala macam jenis kekurangan ada di Fict ini.
Genre : Romance
"O..Ohayou, Uchiha –san.." suara lembut nan halus menyapa pendengarannya saat ia membuka pintu. Mata Sasuke langsung terbelalak begitu melihat siapa yang datang pagi-pagi kerumahnya.
"Hinata ?" tanya Sasuke sekedar memastikan bahwa orang yang berdiri didepannya dengan baju kaus hitam lengan panjang, dilapisi rompi hijau, dan celana panjang warna hitam adalah Hinata. Hinata kan jarang bepakaian seperti ini. Hinata lebih sering menggunakan jaket ungu dan celana hitam yang gak bisa dibilang pendek, dan juga gak bisa dibilang panjang -nanggung-.
Hinata tersenyum manis. Tapi seketika wajahnya memerah begitu melihat penampilan Uchiha didepannya ini. Kaus biru tua yang memamerkan lengan Sasuke yang putih dan berotot, celana puntung warna hitam, rambut raven yang tampak acak-acakan, muka yang kusut tapi keren, dan... What ? apa yang ada disudut matamu itu Sasuke ? Sesuatu yang kecil berwarna putih –tau kan apa itu ?-. Wajar saja sesuatu yang kecil itu masih bertengger manis disudut matanya, ia kan belum cuci muka.
"Err.. U..Uchiha-san b..baru bangun ?" tanya Hinata memberanikan memecah keheningan.
"Hn" jawab Sasuke singkat. Ia tersenyum kecil. Kenapa ? Karena dia sedang memikirkan sesuatu yang menurutnya menarik. Mau tau apa ? Ini dia..
'Sebelum tidur aku memikirkan dia, dia muncul dimimpiku, dan saat bangun tidur aku bertemu dengannya. Dia seperti bersamaku terus'.
"Mm.. U..Uchiha-san, a..aku mengganggumu ?" tanya Hinata agak takut dan tanpa sadar ia memainkan jarinya.
"Masuklah dulu" kata Sasuke mengalihkan pembicaraan. Ia membuka pintu lebar-lebar agar Hinata dapat memasukinya. Dengan ragu, Hinata mulai memasuki kediaman Uchiha itu. Setelah Hinata masuk, Sasuke menutup pintu tersebut.
"Sebenarnya kau mengganggu tidurku tadi" kata Sasuke mendahului langkah Hinata. 'padahal aku sedang memimpikanmu' lanjut Sasuke dalam hati.
Hinata menjadi tidak enak. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia mengikuti langkah Sasuke menuju keruang tamu. Mereka memasuki ruang tamu yang sederhana, tampak dua buah sofa panjang, sebuah sofa tunggal, dan sebuah meja pendek. Tak ada hiasan satupun diruangan itu.
"M..ma'af..." kata Hinata lirih.
"Hn. Duduklah" pinta Sasuke datar. Sasuke sebenarnya menginginkan Hinata duduk disampingnya. Tapi Hinata malah duduk disofa seberang Sasuke dan ada meja pendek yang menjadi pembatas diantara mereka.
"Jadi ada apa ?" tanya Sasuke setelah Hinata mulai duduk dengan nyaman.
"Mm.. a..ano, ha..hari ini kan ada r..rapat u..ujian Chunnin. Hokage-sama b..bilang kita harus menyiapkan rapat i..itu p..pagi ini" kata Hinata masih saja tergagap. Sasuke berdecih pelan.
"Dobe merepotkan sekali.. ya sudah, kau tunggu disini dulu. Aku mau mandi. Kalau kau haus, ambil sendiri didapur" kata Sasuke sambil menunjukkan arah dapur dengan gerakan kepalanya. Hinata mengangguk pelan.
Tidak tahu kah Hinata, kalau ia adalah satu-satunya gadis yang diberi izin masuk kedalam dapur Sasuke ? Bahkan Sakura tak pernah diberi izin masuk kedalam dapur Sasuke.
Saat Sasuke hendak masuk kebagian rumahnya yang lebih dalam, Hinata memanggilnya.
"U..Uchiha-san.."
"Hn ?"
"Hokage-sama menyuruh kita u..untuk b..berpakaian resmi" kata Hinata sambil menunjuk rompi yang ia kenakan.
"Hn.." Sasuke bergumam tanda ia mengerti.
Saat ia hendak melanjutkan langkahnya, Ia dihentikan lagi oleh Hinata.
"Mm.. U..Uchiha-san..."
"Apa lagi ?" tanya Sasuke datar.
Hinata terdiam sebentar, lalu menjawab pertanyaan Sasuke dengan pertanyaan, atau lebih tepatnya tawaran. "K..kau m..mau a..aku b..buatkan s..sa..sarapan ?" Hinata berusaha untuk tidak menunduk.
Tawaran yang bisa dibilang sederhana. Tapi menurut Sasuke, tawaran Hinata yang satu ini terdengar seperti tawaran seorang istri terhadap suaminya. Sasuke suaminya dan Hinata istrinya. Keluarga yang bahagia. Sasuke tersenyum tipis dan mengangguk. Lalu kembali melangkah.
Hinata menghela nafas merasa bingung sendiri dengan apa yang ia katakan tadi.
'Kenapa aku menawarkan diri untuk membuatkan sarapan ? Terlebih lagi sarapan itu untuk Sasuke. Sasuke ? Uchiha Sasuke ? Ugh... apa jangan-jangan...'
Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mau memikirkan yang aneh-aneh. Apalagi hal 'aneh-aneh' itu ada hubungannya dengn Sasuke. Ia tidak berharap lebih. Ia takut kecewa lagi.
Sekarang Hinata sedang duduk manis dikursi makan. Diatas meja telah tersedia beberapa potong sandwich untuk sarapan. Hinata sengaja menambahkan banyak tomat disetiap sandwich karena ia tahu Sasuke menyukai tomat. Sungguh perhatian... Calon istri yang baik..
Hinata menopang dagunya dan memutar-mutar jarinya membentuk lingkaran kecil tak tampak diatas meja.
"Kau buat apa ?" tanya Sasuke yang telah selesai mandi dan kini berpakaian lengkap. Itai ate berlambang Konoha yang sempat absen beberapa tahun, kini bertengger manis didahinya.
Hinata sempat terpaku melihat penampilan Sasuke. Baru kali ini ia melihat Sasuke dalam seragam resmi. Selama ini ia melihat Sasuke hanya dengan baju kaus hitam atau biru tua dengan lambang kipas merah dipunggungnya dan celana panjang hitam.
Menurutnya Sasuke tampak keren. Bahkan ia kini berani berpendapat kalau Sasuke lebih keren daripada Naruto.
Berbangga hatilah kau, Sasuke..
Hinata menundukkan kepalanya dalam-dalam ketika merasakan wajahnya mulai memanas. Sasuke yang bingung melihat tingkah hinata hanya mengerutkan keningnya.
"Hinata ?"
"Ah, y..ya ?" Hinata tampak sedikit terkejut mendengar suara pemuda itu yang kini sudah duduk dihadapannya.
"Kau ini kenapa ? Wajahmu tampak memerah..." kata Sasuke menyeringai menggoda. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya masih dalam posisi menunduk sehingga rambut indahnya ikut bergoyang.
Ia menjadi semakin salah tingkah ketika ia mendapati Sasuke yang tengah menyeringai.
"T..tidak ap_"
"Kau terpesona padaku ?" kata Sasuke memotong kalimat Hinata.
Mata Hinata terbelalak, wajahnya tampak makin memerah karena pertanyaan Sasuke tepat sasaran. Ia menelan ludahnya secara paksa, berharap akan melancarkan setiap kata yang akan ia ucapkan.
"Mm.. T..tidak U..Uchiha-san. Ehm... a..aku mem..membuatkanmu s..sandwich..." kata Hinata mengalihkan pembicaraan. Ia mencoba menatap Sasuke yang menopang dagu sambil saat kemudian ia kembali menunduk karena tidak tahan ditatap lama-lama oleh Sasuke.
"..s..silahkan.. M..ma'af kalau t..tidak e..enak.." lanjutnya sambil menyodorkan piring yang diatasnya sudah tertata beberapa sandwich.
"B..baiklah.." kata Sasuke sengaja mengikuti cara Hinata berbicara. Mendengar itu Hinata tersenyum kikuk.
Sasuke mulai mengambil sepotong sandwich itu dan menggigitnya sambil tetap menatap Hinata. Hinata yang sesekali melirik ke Sasuke dari celah-celah poninya semakin salah tingkah begitu mengetahui hal tersebut.
Sasuke menikmati sarapannya dan wajah Hinata -yang masih saja merona- dalam keadaan diam. Hinata pun tak berani membuka suara. Menurutnya, pagi ini adalah salah satu dari sedikit pagi yang indah dalam hidup Sasuke.
Dipagi hari biasa, Sasuke akan bangun pukul 6, langsung menuju dapur, mengolah makanan instan, mandi selagi menunggu makanan tersebut siap dinikmati, setelah itu berpakaian, dan yang terakhir menikmati sarapan seorang diri.
"Kau sudah sarapan ?" tanya Sasuke saat sandwich yang tersisa dipiring tinggal satu.
"S..sudah" jawab Hinata sedikit mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk.
"Yang terakhir untukku saja, ya ?" kata Sasuke. Tanpa menunggu jawaban Hinata, Sasuke langsung melahap sandwich terakhir itu hingga habis.
Sasuke juga meneguk habis jus tomat yang disediakan Hinata. Hinata sedikit terperangah saat melihat seluruh sarapan yang tadi ia siapkan, sudah habis tak tersisa.
"Lumayan" kata Sasuke datar. "Nanti buatkan aku lagi" lanjut Sasuke sambil berdiri dari duduknya.
Hinata mengangguk sambil tersenyum. Lebih baik dikomentari 'Lumayan' daripada tidak dikomentari sama sekali. Kita semua kan tahu, Sasuke itu irit bicara.
"Baiklah, untuk tahun ini, Konoha kembali menjadi tuan rumah ujian Chunnin. Konoha akan berusaha semaksimal mungkin agar pelaksanaan ujian Chunnin berjalan dengan lancar dan sukses" kata Naruto, sang Hokage dengan tegas ditengah rapat.
"Bagaimana kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi ? Misalnya yang terjadi beberapa tahun lalu saat Orochimaru menyerang Konoha ?" tanya Kankurou selaku perwakilan dari desa Suna.
Walaupun perang telah usai dan dunia telah damai, belum bisa dipastikan kalau kelompok ninja kriminal sejenis Akatsuki telah bubar seluruhnya. Buktinya masih ada saja kelompok bandit yang mengganggu beberapa desa-desa kecil, dan tidak menutup kemungkinan kumpulan kriminal tersebut akan mengacaukan Konoha dengan memanfaatkan moment ujian Chunnin.
"Kami akan menyiapkan sebanyak mungkin ninja tingkat Jounin dan Chunnin untuk menjaga ketertiban selama ujian berlangsung. Kami juga akan mengerahkan pasukan Anbu untuk menjaga daerah perbatasan dan daerah dimana ujian berlangsung" kata Sasuke dengan tenang namun sorot matanya menandakan keseriusan.
"Bagaimana dengan tenaga medis ?" tanya salah satu perwakilan dari desa Iwa.
"Konoha juga akan menyiapkan ninja-ninja medis, berapa pun yang diperlukan" jawab Sakura mantap.
"Bagaimana dengan tingkat keamanan medan ujian untuk para peserta ujian. Kita juga harus memastikan kselamatan nyawa peserta, kan ?" tanya perwakilan desa Ame.
"K..kami juga akan melakukan peninjauan kembali medan yang akan digunakan oleh peserta Ujian, sehingga medan tersebut dinyatakan aman untuk digunakan" jawab Hinata dengan halus namun ada keseriusan dalam pernyataannya.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi ?" tanya Naruto menatap satu persatu orang yang ada diruangan itu. Setelah melihat wajah-wajah puas para peserta rapat, Naruto tersenyum tipis.
"Baiklah. Dengan ini saya menunjuk Uchiha Sasuke sebagai ketua bagian Keamanan, Haruno Sakura sebagai ketua Bagian Medis, Hyuuga Hinata sebagai ketua Bagian Survei Lapangan. Inuzuka Kiba, Aburame Shino, dan Sai sebagai wasit ujian Chunnin. Akimichi Chouji dan Yamanaka Ino akan menjadi Bagian Informasi. Hatake Kakashi, Mitarashi Anko, Maito Gay, dan Hyuuga Neji sebagai pengawas ujian. Untuk panitia yang lain akan ditentukan setelah rapat ini. Saya harap para ketua bagian dapat menggerakan semua anggotanya untuk bekrja secara maksimal."
"Hai" kata semua ketua bagian dengan mantap.
"Dengan ini rapat resmi ditutup" kata Naruto.
Seluruh peserta rapat mulai bergegas meninggalkan ruangan rapat. Ruangan pertemuan pun tampak sepi. tinggal Naruto, Sasuke, Sakura, dan Hinata yang ada disana.
"Hinata, aku ingin bicara berdua denganmu" kata Naruto pada Hinata yang sedang membereskan map-map yang tadi digunakan selama rapat.
Hinata, Sasuke dan Sakura menatap Naruto dengan pandangan bingung. Naruto memberikan tatapan tinggalkan–kami-berdua pada sahabat dan kekasihnya.
"Cepat selesaikan urusanmu.." kata Sasuke datar entah pada Naruto atau Hinata.
Sasuke yang mengerti arti tatapan Naruto langsung berjalan dengan santai keluar dari ruangan rapat. Walaupun enggan, Sakura pun ikut meninggalkan mereka berdua.
"A..ada apa Hokage-sama ?" tanya Hinata menatap Naruto.
Naruto menatap mata lavender Hinata. Biasanya Hinata langsung merona bila ditatap Naruto seperti ini. Tapi kali ini Hinata tak merasakan apapun. Jantungnya berdetak normal. Wajahnya tidak memanas. Hanya saja ia merasa sedikit canggung.
"Tak perlu seformal itu. Aku disini berbicara sebagai seorang Naruto. Bukan sebagai Hokage. Duduklah.." kata Naruto sembari duduk di kursi Hokagenya yang nyaman, tapi Ia tidak merasakannya saat ini.
"Baiklah. Ada apa N..Naruto-san ?" tanya Hinata lagi yang sekarang duduk dikursi di depan Naruto.
Naruto dapat mendengar Hinata mengucapkan namanya. Tak ada lagi suffiks –kun. Naruto juga dapat melihat perubahan Hinata yang terlihat lebih tenang saat berhadapan dengannya, justru sekarang Naruto yang tampak tidak tenang. Juga tak ada lagi jari Hinata yang selalu beradu satu sama lain. Satu kesimpulannya.
Hinata telah berubah.
"Ehm.." Naruto berdehem pelan. Ia sedikit menggeliat dalam duduknya, mencoba mencari posisi nyaman saat duduk
"..aku ingin membicarakan tentang pernyataanmu.. saat melawan Pein " kata Naruto dengan hati-hati.
Hinata sedikit menunduk dan menatap map yang ia letakkan diatas meja. Meja yang menjadi pembatas atas dirinya dan Naruto. Ia menghela nafas dan ekspresinya datar. Ia tetap diam menunggu apa yang akan Naruto katakan lagi.
"Maaf.." kata Naruto dengan suara agak berat.
"Untuk ?" akhirnya Hinata membuka suaranya untuk bertanya.
"Semuanya.."
"..." Hinata kembali diam. Tapi sekarang ia menatap Naruto yang tampak gelisah.
"Maaf telah menggantung pernyataanmu. Maaf telah membuatmu sedih. Dan Maaf..." Naruto menggantung kalimatnya. Naruto menghela nafas berat. "..Maaf, aku tak bisa membalasnya" lanjut Naruto menatap Hinata dengan tatapan sendu.
Seharusnya Hinata sangat sedih. Tapi kenyataannya tidak begitu. Ia memang sedih, tapi tak sebesar saat mengetahui Naruto dan Sakura menjadi sepasang kekasih. Rasa sedihnya saat ini sama seperti cubitan ringan Hanabi.
Hinata merasakan seperti ada beban yang terangkat dari tubuhnya dan pada saat yang sama, ia juga merasakan pukulan ringan dihatinya.
'akhirnya...' batin Hinata lega. Hinata menatap Naruto sambil tersenyum lembut. Hinata mengangguk pasti.
"Aku mengerti..." kata Hinata singkat.
Mata biru laut Naruto tampak sedikit terbelalak. Ia tidak menyangka Hinata akan tersenyum. Bersamaan dengan 2 kata yang Hinata ucapkan, Naruto merasa lega.
"Terima kasih, Hinata..." kata Naruto tersenyum.
"Sama-sama. Senang melihatmu bahagia" kata Hinata masih tersenyum.
Sementara itu,
Sakura dan Sasuke sedang duduk di salah satu kedai teh. Mereka terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Sasuke-kun..." suara Sakura memecah keheningan yang sedari tadi tercipta diantara mereka. Sakura menatap Sasuke dengan tatapan yang sulit diartikan. Sasuke yang sedang tidak ingin bebicara hanya menyebutkan 2 konsonan ciri khasnya.
"Hn"
Sasuke bertopang dagu dan masih menatap teh hijau yang ada dalam gelasnya. Suasana kembali hening sejenak hingga Sakura membuka suara kembali.
"Kira-kira apa yang Naruto dan Hinata bicarakan ?" tanya Sakura dengan suara pelan. Sasuke menanggapinya dengan mengangkat sedikit bahunya yang kemudian ia turunkan kembali.
"Sasuke-kun, apa kau pernah merasakan cinta pertama ?" tanya Sakura.
Namun Sasuke tidak menanggapinya. Merasa diacuhkan, Sakura tersenyum miris dan menolehkan kepalanya kearah luar kedai lewat jendela kecil disampingnya.
"Rasanya indah sekali, dan sulit untuk dilupakan. Meski telah bertahun-tahun lamanya.." kata Sakura lagi. Ia menghela nafasnya dan mengembalikan perhatiannya pada Sasuke yang tampak tak peduli.
"Seperti cinta Hinata pada Naruto. Dan..." Sakura menggantungkan kalimatnya sejenak,
"...Cintaku padamu..." kata Sakura menyelesaikan kalimatnya.
Sasuke mengerutkan keningnya dan menatap Sakura yang balas menatapnya.
"Maksudmu ?" tanya Sasuke dengan suara yang datar, sedatar ekspresinya.
Sakura menghela nafas berat
"Kau adalah cinta pertamaku..." kata Sakura serius. Mata emeraldnya masih menatap mata onyx Sasuke. "..dan jujur, aku masih mencintaimu..."
~TBC
Adakah yang menunggu fict aneh ini..?
*krik..krik..krik..*
Gak ada ya ? –pundung dipojokan-
Ya udah deh... Zee ngerti kok... *soktau*
Zee ngerasa gak pd buat nge-update fict ini. Zee ngerasa fict ini sangaaaaaaaaaaaaaaaatttt G.A.J.E
Mohon dimaklumi yah... Zee kan gak berbakat... Hehehe
Oh iya... Mungkin chapter depan, fict ini udah tamat riwayatnya(?)
Otre dehh... balas review dulu...
Haru3173 : Suka ya ? dichapter ini mulai sedikit terungkap kok, untuk selanjutnya lihat di chapter depan. Makasih udah review... ^^
uchihyuu nagisa :Optimis aja... siapa tau MK dapat hidayah, dan buat SasuHina jadi pair beneran.. kalo emang ngga kesampean yah.. kan motonya FFN adalah UNLEASH YOUR IMAGINATION... heheh. Naru suka sama Hime ? di fict ini Naru udah cinta mati sama Sakura.. Makasih udah review ^^
M.B Kise-chan -MK : Ini udah dilanjut. Makasih udah review ^^
Ai HinataLawliet : Pendek ya ? Aduhh maaf ya.. saya gak ahli untuk bikin yang panjang-panjang... Prequel ya ? Liat nanti deh, kalo bisa dihubung-hubungin, bakal dijadiin prequelnya 'We Love You, Tou-san'. -digetokpanci- Makasih udah review... ^^
keiKo-buu89 : err... hey Sakura kau sedih karena apa ?
Sakura : meneketehe... kan kau yang buat fict...
Iya ya...
Sakura : -sweatdrop-
Sebenarnya udah ada sedikit petunjuk disini, tapi intuk lebih jelasnya, ada di chapter depan.. Makasih udah review... ^^
Makasih yang udah baca dan review...
Zee menerima kritik dan saran kok...
Jadi Mohon bantuannya... kan Zee baru belajar... hehehe
Ehh, udah mau lebaran ya...
Kalo gitu Zee mengucapkan :
"Minal Aidin Wal Faizin" Bukan "Mohon Maaf Lahir dan BatinMaafin segala macam kesalahan Zee baik yan tak disengaja apalagi yang sengaja...
Mohon kritik dan sarannya ya..ya..ya... ^^
