Disclamer: Masashi Kishimoto
Warning: Typo-OOC-bahasa yang tidak baku-abal-gajeness
UNMEI
.
;
;
.
.
Memiliki orang yang sangat berharga bagi diri kita itu sangatlah penting. Setiap manusia pasti ingin di perhatikan ataupun ingin bermanja kepada seseorang yang sangat berarti bagi dirinya, tak terkecuali Sakura. Namun keinginannya tidak dapat terealisasikan dengan sempurna, dia yakin kami-sama sedang memberikannya sebuah ujian agar dia bisa hidup lebih mandiri sepeninggalan Orochimaru, guru sekaligus orang yang diaggapnya sebagai ayah, pria yang dengan tulus mau menyayanginya seperti putrinya sendiri. Tapi masa-masa yang indah itu sudah tidak ada lagi setelah Orochimaru meninggal karena sebuah penyakit langka yang sukar di sembuhkan, sehingga hari-hari Sakura kecil yang tadinya penuh warna kini kembali gelap karena kebencian orang-orang desanya. Sakura sebenarnya tidak tahu asal-usul dirinya yang sebenarnya, tapi orang-orang desanya bilang dia adalah anak pembawa sial sehingga dia di buang oleh orang tuanya sendiri, tidak tahu apakah pernyataan itu benar atau tidak, namun tetap saja hal itu selalu terngiang di kepalanya. 'apa salahku sehingga mereka begitu membeciku? Apa aku pernah membuat suatu kesalahan?' pertanyaan itu sering Sakura pikirkan di dalam kepalanya, bagi dirinya yang masih kecil tidaklah mudah untuk mengerti sikap orang-orang desa yang begitu membencinya hingga ke sum-sum tulang mereka, yang jadi masalahnya adalah, 'apa kesalahan Sakura sebenarnya?'
"Kau tidak salah apa-apa.." Suara yang terdengar datar namun lembut secara bersamaan itu mengagetkan lamunan Sakura tentang orang-orang desa yang membencinya. Sakura menatap mata onyx pemuda yang baru saja di kenalnya itu dengan tatapan kaget dan juga sendu, tangan mungilnya yang menggenggam sebuah kerikil kini di eratkannya agar tangisannya tidak tumpah di depan pemuda itu.
"I-Itachi-nii, sejak kapan ada di sini?" Tanya Sakura kepada pemuda yang di panggilnya Itachi itu, Itachi tidak segera menjawab pertanyaan Sakura namun dia langsung duduk di samping Sakura yang tengah memandangi bebatuan kecil yang ada di perkarangan rumahnya, kini mereka berdua duduk di tenagh-tengah rumput berwarna hijau lembut dari jauh mereak terlihat seperti kakak adik yang akrab, mungkin?
Itachi mengambil sebuah batu berukuran besar yang ada di samping kiri tempat dia duduk saat ini, kemudian dia memperlihatkan batu itu kehadapan Sakura. Sakura tidak mengerti apa maksud Itachi mengambil batu itu dan memperlihatkannya di depan wajahnya, pemuda ini memang sulit di mengerti.
"Ano, ada apa dengan batu itu?" Tanya Sakura pada akhirnya, Itachi lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Sakura tapi dia justru melempar batu itu kuat-kuat sehingga tidak terlihat lagi wujud sang batu , Sakura langsung sweatdrop dengan wajah bingung melihat reaksi Itachi tadi.
"Aku mungkin tidak boleh memberimu saran seperti ini, tapi anggaplah orang-orang desa itu sebagai batu besar tadi dan kau adalah kerikil kecil yang saat ini ada di genggaman mu itu," Itachi kembali bersuara dan menatap lurus ke depan tanpa memandang Sakura yang saat ini menatapnya dengan pandangan bingung.
Apa maksud ucapannya itu? Sakura tidak mengerti. Namun sebelum Sakura sempat bertanya kepada Itachi lebih lanjut, Itachi malah menepuk kepalanya pelan dan memperlihatkan senyuman yang tipis namun hangat di wajahnya, Sakura jadi kehilangan kata-kata dan mau tidak mau dia ikut tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Walaupun Itachi tidak menunjukkan sikap khawatirnya Sakura tahu bahwa saat ini Itachi sedang khawatir pada dirinya. Dan jujur hal ini lebih membuatnya nyaman dan merasa diperhatikan.
'Itachii-nii memang sulit dimengerti tapi aku dapat merasakan kasih sayang yang di berikannya kepadaku…' Batinnya sambil tersenyum lembut ke arah Itachi.
.
.
.
.
.
.
Sakura merasakan tubuhnya melayang ditangan seorang pria berambut perak, dia membuka matanya perlahan dan mendapati wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya saat ini.
"WOOII, BANGUN BOCAAHHH!"
"WAAA MANIAAKK!"
DUAK!
Sakura langsung memukul kepala Hidan yang saat ini tengah menggendongnya dengan gaya bridal style, kontan saja Hidan melepaskan gendongannya dan menjatuhkan Sakura ke tanah yang empuk. Sakura mengusap pantatnya yang terasa sakit karena menghantam tanah tadi, dilihatnya Kisame yang tengah tertawa terbahak-bahak karena melihat mata Hidan yang membiru akibat pukulan Sakura tadi, sedangkan Sasori terlihat sedang menatap papan penunjuk jalan yang berada di pertigaan jalan, sepertinya dia tidak peduli dengan kejadian barusan. Sakura jadi teringat ingatannya mengenai Itachi tadi, ternyata itu semau mimpi ya? Entah kenapa kenangan itu kembali lagi hingga menjadi bunga tidurnya.
"OI! KAU KIRA AKU SUKA MENGGENDONGMU YANG ASYIK NGELINDUR SAAT KITA MASIH ADA DI KERETA TADI?! DARITADI DI BANGUNIN GA MAU BANGUN JUGA, MASIH UNTUNG KAU TIDAK AKU BUNUH!" Hidan berteriak-teriak marah di hadapan Sakura yang masih terduduk dengan ekspersi bingung. Tentu saja dia marah, sudah bagus dia mau berbaik hati menggendong Sakura yang tertidur di kereta tadi dan balasannya adalah pukulan maut milik Sakura? Yang benar saja! Sakura yang sudah mengerti situasinya saat ini langsung berdiri dari duduknya dan menundukkan kepalanya seraya meminta maaf kepada Hidan.
"Aku benar-benar minta maaf! Dari tadi malam aku susah tidur karena itu aku tertidur di kereta," Ungkap Sakura dan pernyataannya tadi memang benar, sejak bertemu dengan Itachi dan Sasuke yang berniat membunuh Itachi Sakura jadi sulit tidur. Kisame yang masih tertawa terbahak-bahak kini di hantam kepalanya menggunakan sabit besar milik Hidan yang tiba-tiba muncul dari tangannya. Kontan saja Kisame langsung tepar di jalan. Sasori? Dia masih bengong sambil melihat Kisame yang terbaring di jalan dengan tatapan datar. Hidan kemudian menghilangkan kembali sabit miliknya dan mendengus kesal ke arah Sakura. Dia tidak berkata apa-apa, entah masih marah atau sudah memaafkan Sakura, Sakura tidak tahu. Yang jelas saat ini Hidan tidak memedulikan Sakura yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan malah mengeluarkan bungkusan rokok dari kantung celananya.
Sakura melirik sedikit ke arah Hidan yang saat ini tengah merokok, dia tidak menyangka anak SMA merokok! Rokok itu untuk umur 18 tahun ke atas bukan?! Segera saja Sakura merebut Rokok yang baru saja di nyalakan oleh Hidan tersebut dengan kasar, membuangnya ketanah dan menginjak-injaknya dengan keji sambil tersenyum puas. Hidan membelalakan matanya terkejut dengan tindakan Sakura dan langsung menarik kerah baju Sakura seakan mau menghajarnya.
"OI! KENAPA KAU BUANG ROKOKKU BOCAH?!"
"Karena anak di bawah umur tidak boleh merokok, tidak baik untuk kesehatan!" Jawab Sakura santai.
"KAU LUPA UMURKU INI SUDAH LEBIH DARI SERATUS TAHUN, HAH?!"
Sekarang Sakura yang terdiam, dia lupa kalau ke tiga orang yang di depannya ini adalah manusia pengguna 'Arc' yang bisa hidup selama bertahun-tahun lamanya, sebagai jawabannya Sakurapun hanya tersenyum nyengir.
"Ee, tadi aku hanya bercanda. Ayo silahkan merokok lagi.." Ujar Sakura dengan gayanya yang menyuruh Hidan untuk melanjutkan kembali acara merokoknya yang tertunda, Hidan tentu saja ingin membunuh gadis bersurai pink ini dengan sabitnya, tapi entah kenapa ada perasaan yang menahan hatinya untuk berbuat demikian. Dan begitulah, akhirnya mereka pun kembali ke tujuan awal mereka, yaitu mencari pengguna 'Arc' yang tersisa di sebuah kota kecil bernama Konohagakure.
"Konohagakure…tinggal 10 mil lagi…begitu kata papan penunjuk jalan.. yang..kulihat tadi…" Sasori akhirnya mengeluarkan suaranya juga, tapi entah kenapa cara bicara Sasori begitu lambat. Sakura benar-benar bingung dengan pria berwajah baby face itu. Tapi Sakura ingin mengenal mereka lebih jauh, karena itu Sakura harus tahu sifat dan watak mereka sehari-harinya. Sakura kemudian mengeluarkan sebuah notes kecil berwarna kuning dari saku bajunya dan menulis sebuah catatan, sambil bergumam pelan.
"Hidan-san orangnya pemarah, berhati-hatilah! Kisame-san walaupun wajahnya mengerikan tapi suka dengan humor, Sasori-san orangnya suka bengong dan bicaranya lambat..hm, catat!" Sakura kemudian memasukkan kembali notes tersebut ke dalam sakunya sambil tersenyum menatap ketiga pria yang berjalan di depannya. Yah, beginilah cara Sakura untuk mengenalli mereka lebih jauh, cukup ampuh bukan?
Hari yang tadinya cerah tiba-tiba saja menjadi mendung angin bertiup cukup kencang sehingga membuat suara gemerisik pepohonan dan menerbangkan debu-debu yang ada dijalan, sepertinya akan turun hujan. Apa mereka harus berteduh sekarang juga? Namun Sakura dapat melihat sebuah gerbang masuk setinggi tiang listrik yang bertuliskan 'selamat datang di Konohagakure' tak jauh dari tempat dia berjalan saat ini, kalau begitu dia mengurungkan niatnya untuk berteduh di bawah pohon.
Sakura dan ketiga pria tersebut akhirnya memasuki kota Konohagakure. Kota kecil yang nyaman dan cukup padat penduduk rupanya, terlihat dari banyaknya pertokoan yang ramai pengunjung dan banyak anak sekolah serta ibu-ibu yang berlalu-lalang melewati mereka. Sakura sedikit terkesima, karena baru pertama kalinya dia datang ketempat yang seramai ini, kalau di desanya jangan harap ada pertokoan modern dan banyak orang ramah yang tersenyum padanya. Tapi ketakjuban Sakura tidak sampai di situ, Sakura melihat sebuah kerumunan orang-orang yang tengah melihat suatu pertunjukan jalanan menarik, tanpa basa-basi lagi Sakura berlari kencang menuju kerumunan ramai itu, dan entah kenapa Sasori juga ikut-ikutan menuju ke kerumunan tersebut.
"Hei, Sakura jangan berlari seperti itu!" Nasihat Kisame, dia terlihat seperti orang tua yang mengkhawatirkan anaknya saja.
"Biarkan saja dia, lebih baik kita fokus dulu kepencarian pengguna 'Arc' ini, biar Sasori yang menjaganya. Yang jelas aku tidak mau lagi berdekatan dengan bocah pink itu!" Ujar Hidan sambil mengembuskan rokoknya dalam-dalam, Kisame terlihat tidak setuju dengan usul Hidan namun apa boleh buat, tujuan mereka harus di selesaikan secepatnya, paling tidak ada Sasori bersama dengan Sakura. Mereka pun akhirnya pergi setelah melihat kalau situasinya aman-aman saja untuk meninggalkan Sasori dan Sakura.
Sedangkan saat ini Sakura sedang terpana dengan sebuah pertunjukan tarian ala jepang yang indah di ikuti dengan nyanyian dari seorang perempuan tua yang mengiringi tarian tersebut. Sang penari memiliki wajah yang sangat cantik dan anggun, saat dia tersenyum maka semua penonton ikut tersenyum, sebaliknya saat wajahnya terlihat sedih penonton pun ikut berwajah sedih. Skura begitu terpana, Gadis yang di lihatnya ini sangat cantik dengan kimono berwarna merah marun dengan corak kupu-kupu emas, rambutnya yang panjang di gelung kedalam dan di kepalanya disematkan sebuat konde berwarna emas yang cantik. Tak lama tarian itupun selesai dan semua penonton bertepuk tangan untuk sang gadis penari jalanan tersebut, kecuali Sasori wajah Sasori kelihatan datar seperti biasanya namun dari dalam matanya dia terlihat kesal, entah kesal karena apa.
"Terima kasih semuanya karena sudah menonton tarianku ini, aku benar-benar sangat senang, sekali lagi terima kasih!" Ternyata tidak hanya wajahnya yang cantik, suaranya pun lembut bak putri dari kaisar Jepang. Pikir Sakura, entah kenapa dia jadi teringat wajah Sasuke yang marah kepadanya kemarin malam, Sakurapun segera memukul kepalanya keras-keras saat mengingat kejadian itu.
'pergilah kau Uchiha galak!' Batinnya kesal.
"Sebagai persembahan terakhirku untuk hari ini aku akan memberikan kalian tarian 'butiran salju'" ucap gadis penari itu lagi. Sakura sedikit penasaran dengan tarian ini. 'butiran salju' adalah nama yang cukup aneh tapi indah untuk nama sebuah tarian. Tiba-tiba atmosfer ramai menjadi hening dan perlahan-lahan gadis itu mulai menari denga gerakan gemulai yang indah entah kenapa hawa di sekitar Sakura terasa dingin, bahkan Sakura dapat melihat nafasnya yang berwarna putih keluar dari mulutnya.
Tarian itu terus berlanjut dan gadis bersurai coklat itu menarikannya dengan wajah yang terlihat sedang menahan pedih yang mendalam, yang lebih mengejutkan lagi ada butiran salju muncul dari langit yang tampak mendung tersebut! Sakura menatap langit berwarna abu-abu itu dengan bingung, bulan ini masih musim gugur belum memasuki musim dingin, mustahil jika sudah ada salju turun. Tapi nampaknya orang-orang yang ada di sekitarnya tidak memedulikan hal itu dan terus menonton tarian sang gadis anggun tersebut.
Pok!
Tiba-tiba Sasori menepuk pundak Sakura pelan, Sakura sedikit berjengit kaget namun lebih terkejut lagi saat Sasori membisikinya sesuatu.
"Gadis penari itu… adalah pengguna 'Arc yang kita cari…'"
.
.
.
.
Saat ini Kisame dan Hidan yang tengah berjalan-jalan disekitar pertokoan yang sepi di pinggiran kota Kohagakure sedang asyik berdiskusi mengenai pengguna 'Arc' yang mereka cari-cari namun sebuah suara baritone berat yang mereka kenal tiba-tiba terdengar dari belakang tubuh mereka.
"Lama tidak berjumpa, budak Uchiha?"
Trang!
Dengan kecepatan kilat Hidan menahan tebasan pedang yang di keluarkan oleh sang pria bersuara baritone tadi menggunakan sabitnya, sedangkan Kisame menghindar dengan melompat ke atas pohon. Hidan melihat pria itu dengan senyuman menyeringai, dan pria itu pun juga tersenyum menyeringai. Mata mereka yang saling bertemu pandang sangat menyiratkan nafsu membunuh yang kuat.
"Lama tidak berjumpa Yahiko, dan siapa yang kau sebut BUDAK UCHIHA, HAH?!"
Trang!
Kali ini Hidan berusaha menyerang pria yang bernama Yahiko itu dengan menggunakan sabitnya, sayang sekali meleset, padahal cukup dengan goresan kecil yang bisa mengeluarkan darah dari Yahiko saja sudah cukup bagi Hidan untuk membunuhnya. Tapi Kisame tidak tinggal diam, dia mengeluarkan sinar berwarna biru dari tangannya dan munculah pedang besar bergerigi yang terbalut dengan kain berwarna putih, segera saja Kisame turun ke bawah untuk menyerang Yahiko dari atas pohon.
Dash! Crash!
Sabetan pedang dari Kisame sedikit mengenai pundak Yahiko, darah pun keluar dengan derasnya hingga menetes ke tanah. Namun Yahiko malah terkekeh pelan sambil menggenggam pedang berwarna hitam miliknya.
"Kalian sungguh naif, sudah pasti kalian adalah budak Uchiha karena kalian mau saja di peralat oleh mereka. Bahkan kalian di suruh menjadi anak SMA, apakah itu wajar?" Ujar Yahiko sambil sesekali memainkan angin yang bergerak di sekitarnya.
"Kau yang tolol! Mau saja bekerja sama dengan cucu Hashirama itu, mereka itulah yang jahat," Kisame tidak suka jika ada yang menjelek-jelekkan nama Uchiha, karena jika bukan karena Madara mana mungkin mereka memiliki kekuatan 'Arc' ini. Hidan yang sudah tidak sabar untuk membunuh Yahiko segera maju ke depan dan mengayunkan sabitnya kuat-kuat ke arah Yahiko. Tapi tiba-tiba tubuh Yahiko menghilang secara perlahan seperti tertiup oleh hembusanangin. Mereka harus waspada, sebab Yahiko adalah pengguna 'Arc' angin. Mata mereka berdua terlihat wapada memperhatikan di sekeliling mereka.
"Ah, aku tidak melihat Sasori dan gadis kecil berambut pink yang datang bersama kalian tadi, mereka ada dimana?" tida-tiba suara Yhiko bergema di telinga mereka, namun sayang sosoknya masih tidak terlihat. Dan kenapa Yahiko tahu mengenai Sakura yang datang bersama mereka? Hidan membuang rokoknya dan segera menginjaknya kuat-kuat.
"Cih, apa yang kau bicarakan, anak cengeng? Tidak ada seorang gadis yang bisa dekat dengan kami kecuali dia memiliki kekuatan yang sama seperti kami, kau tahu itu bukan?" Ujar Hidan berbohong. Sura kekehan kembali tedengar dan diikuti dengan tebasan pedang Yahiko yang tiba-tiba muncul dari arah kiri Hidan. Darsh segar pun kembali mengalir deras dari lengan kiri Hidan yang hampir putus, Hidan mendecih pelan.
"HIDAN!" Teriak Kisame, Kisame mencoba untuk mendekati Hidan namun segera di tahan oleh seruan Hidan.
"JANGAN PEDULIKAN AKU, KAU CEPAT PERGI MENEMUI SASORI DAN BOCAH PINK ITU!"
Hidan kemudian meregangkan otot kepalanya dan tersenyum menyeringai.
"Biar aku yang menghadapi si sialan ini.."
.
.
.
.
.
Sakura dan Sasori berjalan mengendap-ngendap di belakang gadis penari berwajah cantik itu, mereka berdua memutuskan untuk mengikuti sang gadis karena Sasori yakin dan tahu bahwa gadis tersebut adalah pengguna 'Arc' es.
Kini mereka sampai di sebuah bangunan rumah yang cukup kumuh dan terpinggirkan dari keramaian, Gadis itupun kemudian masuk kedalam rumah tersebut. Sakura dan Sasori kemudian saling berpandangan dan mengangguk. Mereka kemudian mengetuk pintu rumah kumuh tersebut dan keluarlah gadis penari itu lagi, dan saat ini dia tengah menggendong seekor kucing berwarna kuning yang lucu!
"Lucunya!" teriak Sakura mencoba mengelus kucing itu, namun dia tersadar bahwa tujuannya bukan untuk mengelus kucing itu melainkan bertanya tentang gadis penari yang ada di depannya saat ini.
"Ah, ma-maaf! Kami datang bertamau ke rumahmu untuk bertanya suatu hal kepadamu, bolehkah kami masuk?" Kata Sakura tanpa basa-basi. Gadis itu terlihat terkejut sesaat namun dia tersenyum lembut, dan membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
"Tentu saja, silahkan masuk..maaf jika rumahku terlihat kumuh," Ujarnya sopan, Sakura tersenyum ceria dan menggelengkan kepalanya.
"Ah, tidak apa-apa. Rumahmu sangat nyaman dan bersih kok,"
Gadis itupun kembali tersenyum dan menurunkan kucingnya yang kemudian menggeliat manja kearah Sasori, namun Sasori terlihat bermuka masam menatap kucing berwarna kuning tersebut. Dia memang tidak suka dengan kucing dan anjing. Gadis penari itu kemudian mempersilahkan Sakura dan Sasori untuk duduk di sofanya yang sudah usang, namun tidak penuh debu.
"Baiklah, apa yang ingin kalian tanyakan?" tanya gadis itu dengan nada suara yang ramah, Sakura sedikit malu-malu melihat wajah cantik gadis itu.
"Eto..begini, saat ini kami sedang mencari pengguna kekuatan bernama 'Arc' yang di ciptakan oleh Uchiha Madara, jadi intinya apakah kau ini salah satu dari mereka?"
Gadis itu sedkit terkejut dengan perkataan Sakura barusan senyumnya sempat menghilang namun kembali lagi menghiasi wajah cantiknya.
"Akhirnya ada yang menyadari bahwa aku pengguna kekuatan 'Arc', aku sudah lama menunggu kalian," Ujarnya. Sakura terkejut dengan pengakuan Gadis tersebut, itu berarti gadis yang ada di depannya ini benar-benar pengguna 'Arc' bukan? Secepat inikah mereka menemukannya? Sakura tersenyum senang dan segera menjabat tangan gadis tersebut.
"Kalau begitu ikutlah bersama kami, nee-san kami membutuhkan bantuanmu, ada masalah pelik antara pengguna kekuatan 'Arc' ini dan-" Belum selesai Sakura berbicara, gadis itu menyentuh bibir Sakura
dengan tangannya sambil tersenyum lembut.
"Tenang saja aku mengerti situasinya kok, apakah kalalian pikir selama ini aku hanya berdiam diri saja? Dan maaf jika mengecewakanmu tapi aku ini seorang pria, dan namaku adalah Haku.."
Sakura terdiam saat mendengar penjelasan dari Gadis, ah- pria bishounen tersebut dan langsung berteriak kaget. Sedangkan Sasori yang sepertinya sudah mengetahui gender asli milik Haku hanya menatap reaksi Sakura dengan pandangan datar. Tak lama muncul sinar berwarna kebiruan dari arah luar rumah Haku, tiba-tiba pintu rumah Haku segera di dobrak oleh Kisame.
"Sasori ikut bersamaku sekarang juga, Hidan dalam bahaya!" teriak Kisame yang tiba-tiba muncul tersebut. Sasori yang langsung mengerti pun menganggukan kepalanya dan segera berjalan mendekati Kisame yang siap untuk berteleportasi lagi menggunakan kekuatan 'Arc' nya, sebelum mereka pergi Kisame dan Sasori melihat ke arah Sakura yang wajahnya terlihat khawatir.
"Aku ikut! Aku ingin melihat keadaan Hidan-san!" teriak Sakura, namun Kisame hanya tersenyum dan menatap ke arah Sakura.
"Aku tahu aku bisa mempercayaimu Haku-san, tolong jaga Gadis itu." Ujar Sasori dengan nada datar, Haku menanggapinya dengan senyuman lembut dan mengangguk kecil.
"Aku tahu.." Ujarnya. Sakura berusah untuk mendekati Kisame dan Sasori Namun terlambat, mereka berdua telah menghilang dari pandangn Sakura dengan sangat cepat, Sakura jatuh terduduk meratapi nasib ketiga pengguna 'Arc' itu, apa gunanya dia di sini? Dia ingin membantu mereka kenapa mereka tidak membiarkannya untuk ikut? Tiba-tiba Haku menepuk kepala Sakura dari belakang.
"Tenanglah, mereka itu kuat," ujarnya kemudian memberikan Sakura butiran salju yang dingin di tangan Sakura dan membentuk sebuah boneka salju yang kecil. Sakura terlihat kaget namun juga senang.
"Dan aku yakin kau adalah gadis yang kuat juga, karena itu bersabarlah dan tunggu mereak di sini."
Sakura menganggukan kepalanya tanda mengerti, paling tidak di sini dai dapat mendoakan keselamatan mereka bertiga, mereka pengguna 'Arc' yang kuat, bukan begitu?
.
.
.
To be continued
A/N:ABAL!ABAL!ABAL! udah update telat abal pula, apa-apaan ini?!
maafkan saya yang updatenya telat dan cuma bisa segini aja ngasihnya, sekarang ini saya ga bisa ke warnet semudah dulu. tapi paling tidak updatekan? *DUASH!
Romancenya belum dapetkan? saya mau ngerubah genrenya, kira-kira genre yang pas apa ya? tapi romance juga pasti bakalan muncul kok..
untuk yang sudah membaca fic abal ini terima kasih banyak ya, saya sungguh senang, yang me-review juga!
Kuro-chan: Saya ini newbie abal! benerean deh! maaf ya, jika chapie ini mengecewakan..hiksu.
Name Shaun: Arigatou Reviewnya! Sakura bukan dewi alam kok, nanti dewi alam yang sebenarnya akan muncul. tapi lihat saja bakal ada kejutannya, fu-fu..*ga terkejut tuh.. 'Arc' itu kekuatan alam yang berhasil di temukan oleh Madara, tadinya kekuatan itu berbentuk lingkran berwarna pelangi tapi karena insiden Hashirama jadinya terpecah belah. kaya shiko no tama gitu.
Cherry Blossom: Beneran nih? BENERAN?! ya ampun, matamu ga salah baca kan? banyak Typo dan keganjilan gitu..*DAK!* tapi saya sangat-sangat berterima kasih atas reviewnya! :3
Akun saya ini kemarin ga bisa dibuka, Sama sekali di coba berapa kali juga ga mau, baru hari ini mau di buka, allhamdulillah..*oke berlebihan.
MAAF YA JIKA CHAPIE KALI INI MEMBUAT KALIAN KECEWA!
Salam hangat
Kanon
