Present

Crash Into You (Kaisoo Version)

Main Cast : KAISOO

KIM JONGIN (NAMJA)

DO KYUNGSOO (YEOJA)

And Other

Rated : T-M (masih aman!)

Warn : Genderswitch! Typo(s)! Re-make!

No plagiat! Ini ff re-make dari novel karangan AliaZalea, dengan sedikit-banyak perombakan disana sini menjadi Versinya Kaisoo, jadi bagi Reader yang tidak menyukai re-make bisa meninggalkan ff ini.

Alur dan ide cerita milik AliaZalea. Cast milik Tuhan, Keluarga, dan saya! (ngga ada protes) /plak.

.

.

.

Chapter 3

4 September

Sekarang aku yakin ada orang yang telah menyumpahi hidupku. Kalau aku sampai bertemu dengan orang yang menyumpahi hidupku, akan ku mutilasi badannya. Bagaimana bisa orang seramah dan sebaik aku bisa sesial ini cuma dalam jangka waktu beberapa hari? Aisshh! Jinjja! –Do Kyungsoo.

.

.

Author Pov

Flasback On

Kyungsoo baru saja kalah pemilihan ketua regu Pramuka (serius di Korsel beneran ada). Kyungsoo sudah menjadi Pramuka semenjak kelas tiga SD dengan harapan dalam tiga tahun akan bisa menjadi ketua regu. Alhasil, Kyungsoo tidak bisa menerima kekalahan ini dengan baik, terutama karena yang terpilih menjadi ketua regu adalah seorang yeoja bernama Krystal yang menurutnya sangat tidak kompeten. Karena kesal dan kecewa pada dirinya sendiri, Kyungsoo pun pergi ke halaman belakang sekolah untuk menangisi kekalahannya. Kyungsoo meninggalkan teman-temannya yang lain yang sedang merayakan kemenangan Krystal dengan mengatakan bahwa Kyungsoo mau pergi ke kamar kecil. Halaman belakang biasanya memang selalu kosong kalau siang karena anak-anak lebih suka main di halaman depan yang banyak rumputnya dan rindang karena banyak pepohonan.

Kyungsoo baru saja mulai menangis sambil menyandarkan tubuh pada dinding belakang salah satu kelas. Kyungsoo menenggelamkan wajahnya di antara telapak tangannya. Tiba-tiba terdegar langkah kaki dan ketika Kyungsoo mengangkat wajahnya, kekesalan Kyungsoo semakin menjadi dengan kemunculan mimpi buruknya.

"Soo~ kau kenapa menangis?" Tanya Jongin sambil menyengir.

"Tidak ada apa-apa." Ucap Kyungsoo sambil mengusap wajahnya yang basah dengan air mata. "Kau pergi sana. Jangan menggangguku." Lanjut Kyungsoo sambil berjalan kembali menuju halaman depan.

"Apa kau mau menceritakannya padaku? Mungkin aku bisa membantu." Kata-kata Jongin yang untuk pertama kalinya terdengar tulus membuat Kyungsoo menghentikan langkahnya untuk menatap wajah Jongin.

"Kalau aku menceritakannya padamu pasti kau pasti mentertawakanku."

"Aku tidak akan mentertawakanmu." Jongin mencoba meyakinkan Kyungsoo.

"Pasti kau akan menceritakan ini pada Chanyeol dan Sehun dan mereka akan mentertawakanku." Kyungsoo masih terdengar tidak yakin.

"Aku tidak akan menceritakan ini pada mereka."

"Pasti kau-

"Aku berjanji untuk tidak melakukan apapun padamu." Jongin memotong Kyungsoo sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

Kyungsoo masih ragu, tetapi melihat wajah Jongin yang terlihat benar-benar ingin membantu, Kyungsoo pun luluh dan sambil duduk di atas bangku kayu panjang yang memang tersedia di sekitar sana, Kyungsoo menumpahkan semua masalahnya pada Jongin. Kyungsoo sempat terkejut ketika Jongin memang mendengarkan masalahnya dengan seksama dan tidak menertawakan Kyungsoo. Pada saat itu Kyungsoo menyadari bahwa di bawah semua pesona namja iseng ini, Jongin ternyata juga bisa serius dan pengertian. Kemudian terdengar bunyi bel, yang menandakan bahwa waktu istirahat sudah selesai dan mereka harus kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran hari itu.

"Jongin.. gomawo.." ucap Kyungsoo sambil berdiri dan mencoba merapikan roknya. Kyungsoo masih tidak percaya bahwa dia sudah menceritakan masalahnya pada jongin, sehingga merasa agak malu dan risih untuk menatap Jongin.

"Jangan menangis lagi, ya."

Mendengar nada Jongin yang terdengar lembut Kyungsoo mengangkat tatapannya dari roknya ke wajah Jongin. Dan pada detik itu, Kyungsoo menyadari bahwa dia dan Jongin mungkin bisa berteman, kalau saja Jongin menghentikan keisengannya pada dirinya. Tanpa Kyungsoo duga Jongin kemudian mencium pipi Kyungsoo, bersamaan dengan terdengarnya bunyi bel kedua.

Kyungsoo hanya terdiam ketika bibir Jongin menyentuh kulit wajahnya karena terlalu terkejut untuk bereaksi. Seumur hidup Kyungsoo, dia tidak pernah dicium oleh namja mana pun, sehingga Kyungsoo betul-betul tidak tau reaksi apa yang harus dia berikan.

"Woaahhh.. Jongin dan Kyungsoo.." terkejut Kyungsoo langsung menolehkan kepalanya dan melihat Chanyeol dan Sehun sedang berdiri tidak jauh dengan senyuman lebar mereka.

Pipi Kyungsoo rasanya seperti terbakar. Bukan hanya karena bekas ciuman Jongin, tetapi juga karena malu. Kyungsoo tau bahwa berita tentang Jongin menciumnya akan tersebar ke seluruh sekolah sebelum akhir jam sekolah hari ini. Tanpa berpikir panjang lagi Kyungsoo pun langsung berlari menuju kelas. Terdengar Jongin memanggil-manggil nama Kyungsoo, tetapi Kyungsoo tetap berlari.

Seperti dugaan Kyungsoo, pada akhir jam sekolah setiap anak tidak henti-hentinya meledek Kyungsoo. Kalau saja ledekan mereka berdasarkan fakta, mungkin Kyungsoo tidak akan merasa terlalu sedih, tetapi kenyataannya adalah bahwa hanya dalam selang waktu beberapa jam, fakta sudah berubah 180 derajat. Kini berita tersebut mengatakan bahwa Kyungsoolah yang memaksa Jongin untuk menciumnya. Saking kesalnya, Kyungsoo langsung berlari menuju kelasnya begitu jam akhir sekolah berbunyi.

Kyungsoo menemukan Jongin sedang berjalan keluar dari kelas sambil berbicara dengan Chanyeol dan Sehun yang langsung memberi tanda pada Jongin bahwa Kyungsoo datang menemuinya dengan wajah siap perang.

Kyungsoo baru menghentikan langkahnya ketika ujung sepatunya hampir saja menyentuh ujung sepatu Jongin. "Kau bicara apa sih pada semua orang?" desis Kyungsoo.

Jongin menatap Kyungsoo dan berkata tanpa merasa bersalah, "Apa adanyalah."

"Apa adanya? Kalau apa adanya, kau harusnya bilang pada mereka kau yang tiba-tiba menciumku, bukan aku yang memaksamu untuk menciumku."

"Tapi memang kau memaksa Jongin kan, Kyung? Mengaku saja kenapa sih? Tidak peru malu seperti itu." Komentar Chanyeol.

Mendengar komentar itu Kyungsoo menatap Chanyeol dengan tajam dan Chanyeol langsung terdiam dengan ekspresi sedikit terkejut karena sepanjang sepengetahuan semua orang di sekolah, Kyungsoo memang tidak pernah marah. Maka, Kyungsoo pasti punya alasan yang tepat kalau sampai semarah ini.

"Jongin, Kyungsoo kan yang memaksamu untuk menciumnya?" tatapan Sehun beralih dari wajah Kyungsoo ke wajah Jongin, kemudian beralih lagi pada Kyungsoo.

Tatapan Kyungsoo dia alihkan dari Chanyeol kepada Jongin dan menantangnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

"Geurae. Kyungsoo yang memaksaku." Ucap Jongin santai.

Chanyeol dan Sehun terlihat puas dengan jawaban ini dan kini sedang menatap Kyungsoo dengan penuh kemenangan. Mulut Kyungsoo langsung terbuka ketika mendengar kata-kata ini. "Kim Jongin…. Kau… Kau…" Kyungsoo tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk memaki-maki Jongin. Itu mungkin karena Kyungsoo tidak pernah perlu memaki-maki siapa pun di dalam hidupnya. Sekali lagi Kungsoo menatap Jongin, menunggu hingga Jongin memberanikan diri untuk mengakui kebohongannya, tetapi Kyungsoo tetap tidak menerima reaksi apa-apa dari Jongin. Kecewa, Kyungsoo memberikan tatapan paling sangar yang pernah dia berikkan kepada siapa pun dan meninggalkan mereka.

Begitu sampai di rumah Kyungsoo langsung mengunci diri di dalam kamarnya dan menangis sepuasnya. Tingkah laku Jongin yang bertolak belakang hanya dalam beberapa jam membuat Kyungsoo bertanya-tanya. Untuk apa Jongin bertingkah laku baik selama beberapa menit, bahkan meredakan tangis Kyungsoo kalau akhirnya akan mempermalukan Kyungsoo juga? Dan entah bagaimana, tetapi satu-satunya kesimpulan yang bisa Kyungsoo tarik dari kejadian ini adalah bahwa Kyungsoo sama sekali tidak menarik sebagai seorang yeoja sampai-sampai namja bandel seperti Jongin saja malu untuk mengakui bahwa dia telah mencium Kyungsoo. Kenyataan ini bukannya meredakan tangis Kyungsoo, tetapi membuatnya menangis semakin tersedu-sedu.

Bertekad untuk menunjukan bahwa pengkhianatan Jongin tidak memengaruhinya sama sekali, Kyungsoo muncul di sekolah keesokan harinya dengan kepala tegak dan senyuman ramah. Melihat Kyungsoo seperti ini sepertinya membuat Jongin dongkol dan dia mencoba berbagai macam cara lagi untuk membuat Kyungsoo menangis tetapi Kyungsoo sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi memedulikan semua ledekan dan ejekan yang datang dari Jongin dan kedua temannya. Isu mengenai Kyungsoo memaksa Jongin untuk mencium Kyungsoo pun lambat laun reda dan pada saat lulus SD, isu itu sudah hilang sama sekali. Meskipun Kyungsoo masih bisa merasakan bekasnya hingga hari ini. Kyungsoo selalu mengharapkan Jongin mau mengakui kebohongan besarnya itu dan meminta maaf pada Kyungsoo, tetapi kedua hal itu tidak pernah terjadi.

Flasback Off

Ketika Kyungsoo baru saja keluar dari kamar mandi dengan otot-otot yang lebih relaks berkat EXO, Kyungsoo melihat Luhan sudah bangun dan sedang berdiri di depan lemari pakaian sambbil mengeluarkan bajunya.

"Akhirnya kau bangun juga. Aku kira kau akan tidur seharian." Ucap Kyungsoo sambil menunduk agar bisa mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Tadinya memang seperti itu. Tapi tadi ada telepon, jadi aku terpaksa bangun." Balas Luhan sambil menggenggam sepasang pakaian dalam di tangannya. "Omong-omong aneh sekali. Namja itu bilang dia temanmu dan mau membuat janji untuk dinner nanti malam. Aku tidak tau kau ada teman di Jeju, Kyung." Lanjut Luhan.

"Dia cuma orang yang aku kenal waktu SD. Tolong kalau dia sampai menelepon lagi, bilang kita sibuk. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, kalau bisa." Ucap Kyungsoo kembali melangkah masuk ke kamar mandi.

"Kenapa begitu?" Luhan terlihat bingung.

"Panjang ceritanya. Tidak usah dipikirkan." Kemudian Kyungsoo menyalakan pengering rambut untuk menenggelamkan segala kemungkinan Luhan menginterogasinya.

.

.

.

Selama ini Kyungsoo selalu merasa bahwa bunuh diri adalah hal paling tidak masuk akal yang akan dilakukan oleh manusia. Apakah hidup ini sebegitu buruknya sehingga mereka mau meninggalkannya buru-buru? Atau apakah memang tidak ada jalan lain sama sekali sehingga mereka mengambil keputusan ini? Tapi kini Kyungsoo betul-betul paham bahwa kadang kala keadaan di dunia ini memang sangat buruk dan kita tidak memiliki pilihan lain selain untuk meninggalkannya selama-lamanya.

Sewaktu di Jeju, Kyungsoo memang berhasil menghindari Jongin dengan bantuan ketiga sahabatnya yang pada dasarnya memblokir saluran telepon, sehingga meskipun mereka berada di dalam kamar seharian, Jongin tidak berkesempatan untuk berbicara dengan Kyungsoo. Kyungsoo bahkan berhasil menghindari Jongin di bandara dengan waktu check-in yang mepet dab berpura-pura tidur di dalam pesawat. Ketika sampai di Incheon, Kyungsoo dan sahabat-sahabatnya langsung menghilang secepat mungkin setelah mengambil bagasi, sehingga Jongin hanya sempat melambaikan tangan sebelum Kyungsoo kemudian mengilang dari pandangan Jongin untuk selama-lamanya. Kyungsoo sangat bersyukur kepada ketiga sahabatnya yang mau bekerja sama menghindari Jongin, meskipun mereka tidak habis-habisnya menginformasikan kepada Kyungsoo bahwa Jongin itu "Tampan sekali." Kata Yixing. "benar-benar H-O-T." menurut Baekhyun, dan "Cute juga." Kalau kata Luhan. Mungkin itulah fungsinya sahabat, mereka akan membela dan melindungi kita meskipun mereka tidak tau duduk permasalahannya dan membuat Kyungsoo ingin menyumbat mulut mereka dengan gumpalan kertas pada saat yang bersamaan.

.

.

.

Sepulangnya dari Jeju pada hari Minggu itu, Kyungsoo memutuskan untuk mengunjungi rumah orangtuanya dulu daripada langsung pulang ke Apartemen. Sudah satu bulan lebih Kyungsoo tidak bertemu dengan mereka, Kyungsoo jadi merasa agak bersalah karena telah menelantarkan mereka.

Kyungsoo baru saja melangkah turun dari mobilnya ketika eommanya menghujaninya dengan permintaan agar Kyungsoo membujuk appanya supaya mau dibawa ke rumah sakit. Keluarga appa Kyungsoo, Tuan Do memang memiliki keturunan penyakit jantung dan darah tinggi, jadi eomma Kyungsoo sedikit khawatir appanya mengidap penyakit yang sama. Sudah beberapa bulan belakangan ini Tuan Do mengeluh karena dadanya sakit, terutama padi hari setelah bangun tidur. Tapi Tuan Do, yang juga memiliki keturuan sifat bandel kalau sudah urusan kesehatan, selalu menunda atau menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Hingga hari ini, tiga bulan semenjak keluhan pertama yang semakin menjadi sehingga membuat Nyonya Do super-khawatir, Tuan Do belum juga mau meluangkan waktu untuk pergi ke dokter.

Appa Kyungsoo yang berumur 65 tahun itu sudah pensun beberapa tahun yang lalu dari posisinya sebagai Chief Financial Officer salah satu bank swasta terbesar di Korea Selatan. Kyungsoo selalu berpendapat mungkin appanya merasa sedikit stress setelah pensiun. Kyungsoo tidak heran dengan fenomena ini, ada beberapa orangtua teman-temannya yang mengalami masalah yang sama. Mereka mungkin merasa tersingkir dan tidak dibutuhkan lagi. Kyungsoo selalu meminta appanya agar menekuni suatu hobi untuk mengisi hari-harinya. Appanya sebetulnya pemain tenis yang cukup andal, tetapi eommanya tidak lagi memperbolehkannya menyentuh raket tenis setelah dua teman eommanya meninggal karena serangan jantung ketika sedang bermain tenis. Kyungsoo mengusulkan agar appanya memilih olahraga baru yang sesuai dengan kondisi kesehatannya, misalnya golf. Tetapi ketika Kyungsoo menyarankan ini, appanya langsung berkata bahwa golf tidak bisa digolongkan sebagai olahraga karena orang-orang yang bermain golf hanyalah orang-orang yang terlalu buncit perutnya dan terlalu malas untuk betul-betul berolahraga. Sekarang Kyungsoo tidak pernah bisa melihat orang bermain golf tanpa memperhatikan perut mereka, yang akhirnya selalu membuatnya tertawa terkekeh-kekeh.

"Kyungie, kau bujuk appamu itu supaya mau pergi ke dokter. Joonmyeon sudah mencarikan informasi tentang itu dan ada banyak dokter ahli jantung bagus yang praktik di Seoul." Ucap Nyonya Do.

"Memangnya tidak jadi pergi ke dokter yang disarankan oleh internisnya Appa?" Tanya Kyungsoo sambil mengeluarkan sekotak jus dari lemari es dan menuangkannya ke gelas.

"Joonmyeon bilang ada yang lebih bagus lagi. Eomma sudah diberitahu informasinya. Yang ini kalau tidak salah lulusan Inggris. Nanti Eomma berikan padamu datanya sebelum kau pergi."

Kyungsoo hanya mengangkat bahu karena Kyungsoo tidak tau menahu tentang nama-nama universitas di Inggris kecuali Oxford. Entah dari mana oppanya dapat informasi ini. Kyungsoo hanya berharap bahwa dokter ini memang benar-benar bagus karena Kyungsoo tidak mau mengambil resiko soal urusan kesehatan keluarganya. Kyungsoo memasukkan kembali kotak jus ke dalam lemari es dan membawa gelasnya ke teras belakang. Di sana Kyungsoo menemukan appanya sedang membaca Koran. Untungnya appanya bukan perokok sehingga setidak-tidaknya meskipun ada keturunan, appanya lebih memiliki kemungkinan bebas untuk dibedah jantungnya.

"Appa, minggu depan pergi ke dokter bersamaku ya?" ucap Kyungsoo sambil mencium kening appanya.

Tuan Do mengeluarkan suara khasnya, yang terdengar sedikit seperti dengkuran dan batuk. "Bagaimana Jeju?" Tanya Tuan Do.

"Bagus." Jawab Kyungsoo.

"Luhan benar sudah mantap menikah?" Tanya Tuan Do sambil melipat Koran yang tadi dibacanya dan meletakannya di atas meja. Kyungsoo tau appanya sedang mencoba menghindari pertanyaannya.

"Siap tidak siap appa, tapi memang sudah waktunya. Sudah terlalu lama tertunda."

Tuan Do mengangguk-angguk. Keluarga Kyungsoo tau betul tentang bagaimana ketiga sahabat Kyungsoo. Tuan Do kemudian terdiam, sepertinya kehabisan topic berbasa-basi dengan Kyungsoo. Eomma Kyungsoo selalu bilang bahwa Kyungsoo adalah anak kesayangan appanya, sehingga appanya akan melakukan apa saja yang Kyungsoo minta. Kyungsoo yakin satu-satunya alasan kenapa Kyungsoo jadi anak kesayangan appanya adalah karena dialah anak perempuan satu-satunya.

Kyungsoo mencoba sekali lagi membujuk appanya. "Minggu depan cek jantung ya, Appa." Pinta Kyungsoo sambil menggenggam tangan appanya.

Tuan Do siap untuk protes, tetapi Kyungsoo potong, "Ini cuma untuk cek saja, agar kita bisa tau kalau memang ada apa-apa. Aku yakin jantung Appa masih sehat dan tidak ada yang perlu di khawatirkan, tapi Eomma, Joonmyeon Oppa, dan Yifan Oppa khawatir, Appa. Dan kalau mereka khawatir, aku juga ikut khawatir. Agar kita semua tidak khawatir dan Eomma tidak akan mengganggu Appa lagi soal ini, kita pergi cek, ya?"

Tuan Do menghembuskan napasnya dan garis-garis keras kepala muncul pada keningnya, tapi kemudian dia mengangguk dan berkata sambil menggerutu, "Tapi harus kau yang bawa Appa ke dokter, ya. Appa tidak mau pergi dengan Joonmyeon, dia itu betul-betul tidak ada belas kasihannya dengan orang. Sudah tau orang sedang sakit, bukannya disayang-sayang malah habis diomeli dengannya."

Kyungsoo mencoba menahan tawanya. Kyungsoo sudah mendengar tentang pertengkaran Appa dan Joonmyeon Oppa dari mulut kakak keduanya itu beberapa hari sebelum Kyungsoo berangkat ke Jeju. "Joonmyeon Oppa bukannya mengomel, Appa, dia cuma khawatir. Habis Appa juga bandel. Sudah tau sakit, tetap saja ngotot tidak mau ke rumah sakit. Appa tau sendiri Joonmyeon Oppa orangnya tidak sabaran. Ya jelas dia mengomel." Kata Kyungsoo mencoba menenangkan appanya.

"Kau memangnya bisa cuti lagi? Bukannya kau baru ambil cuti untuk pergi ke Jeju? Appa tidak mau kau kena masalah dengan bosmu gara-gara harus mengantar Appa ke rumah sakit."

"Tidak masalah kok." Balas Kyungsoo. Pada dasarnya status Kyungsoo sebagai seorang Senior Web Designer, Kyungsoo hanya perlu berada di kantor kalau memang perlu saja. Untungnya bos Kyungsoo cukup fleksibel dan tidak bawel. Selama pekerjaan Kyungsoo yang seabrek itu selesai tepat waktu, bosnya tidak pernah mempermasalahkan di mana akan mengerjakannya. Harus Kyungsoo akui bahwa kreativitasnya lebih mudah mengalir kalau Kyungsoo sedang duduk di depan laptop-nya di kamar Apartemen daripada di kantor yang kadang suka terlalu berisik. Meskipun Kyungsoo sudah bekerja lebih dari lima tahun di perusahaan itu dan membawa masuk keuntungan yang cukup besar untuk perusahaan, tetapi Kyungsoo belum juga diberi ruangan pribadi.

"Cuma kau memang yang peduli dengan Appa. Jangan Tanya soal Joonmyeon dan Yifan. Mereka terlalu sibuk untuk peduli kalau Appa sakit."

Kyungsoo hanya tersenyum dan mencoba menenangkan appanya yang kebiasaan ngambeknya semakin hari semakin menjadi. "Appa, Joonmyeon Oppa yang mencari info tentang dokter yang bagus untuk cek jantung dan Yifan Oppa kan sudah berkali-kali menawarkan untuk mengantar Appa cek jantung, tapi Appa selalu menolak. Jadi bukan salah Yifan Oppa kalau akhirnya dia tidak menawari lagi?"

"Jangan salahkan Appa juga, ya. Kalau sampai Yifan yang mengantar Appa untuk cek jantung, bisa-bisa Appa meninggal di jalan karena terkena serangan jantung. Cara dia membawa mobil itu seperti orang kesetanan. Pembalap saja kalah ganas dengannya. Omel Tuan Do.

Kyungsoo mencoba menah tawa, tetapi tidak berhasil.

"Kau juga tidak pernah mau diajak pergi dengan Yifan kalau dia yang menyetir."

Kyungsoo hanya menggeleng-geleng melihat tingkah laku appanya yang sudah seperti anak umur lima tahun.

.

.

.

Hari Kamis pagi Kyungsoo dan orangtuanya duduk di ruang tunggu rumah sakit bagian Kardiologi. Entah kenapa, tapi beberapa hari belakangan ini Kyungsoo merasa sedikit waswas, tapi berusaha untuk tidak menghiraukan perasaan itu. Kyungsoo beralasan mungkin dia agak khawatir saja dengan keadaan Appanya.

Oppa Kyungsoo sudah membuatkan janji untuk jam sepuluh pagi itu dengan Dokter Kim. Kyungsoo menahan diri untuk tidak mengerutkan wajah ketika tau nama dokter ini.

Kyungsoo diminta eommanya untuk mengisi formulir yang diberikan suster, yang pada dasarnya menanyakan tentang kondisi kesehatan appanya beberapa bulan belakangan ini. Nyonya Do dengan bantuan Tuan Do sekali-sekali, membantu Kyungsoo memastikan agar tidak ada informasi yang tertinggal. Seorang suster lalu meminta Tuan Do masuk suatu ruanagn lain untuk mengukur tekanan darah dan berat badan sebelum kemudian mencatatnya pada formulir yang baru saja selesai Kyungsoo isi. Mereka lalu diminta menunggu lagi sebelum kemudian dipersilahkan masuk menemui dokter.

Nyonya Do yang berjalan paling depan berkesempatan bertemu muka dengan Pak Dokter lebih dulu dibandingkan Kyungsoo dan Tuan Do. "Selamat pagi, Dok." Sapa Nyonya Do dengan ceria. Untuk orang yang belum mengenal eomma Kyungsoo, mereka mungkin akan menyangka bahwa Dokter Kim adalah teman lama eommanya, tetapi bagi orang yang sudah mengenal eommanya, mereka akan tau bahwa memang begitulah eomma Kyungsoo menyapa setiap orang. Eommanya adalah orang yang paling ramah yang Kyungsoo kenal. Kyungsoo merasa dia mendapatkan sifat ramahnya dari eommanya.

"Selamat Pagi." Terdengar balasan dari sang dokter yang terdengar jauh lenih muda daripada yang Kyungsoo pikirkan. Kyungsoo selalu menyangka seorang ahli kardiologi setidak-tidaknya sudah berumur di atas empat puluh tahun, berkacamata, dan berkepala botak. Suster yang tadi mempersilahkan masuk sudah menghilang. Kyungsoo memastikan agar pintu ruang dokter itu tertutp rapat sebelum mengalihkan perhatian Kyungsoo kepada orangtuanya lagi. Dan… Kyungsoo merasa mendapat serangan jantung.

"Soo?"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

Kim Kuki kambek/? Gimana chap ini? Kecewa yaa? Belum ada Kaisoo moment ceklis. Belum ada adegan NC ceklis. Masih basa basi ceklis. Nyiksa Jongin ceklis. Nyiksa readers juga ceklis. Yaa sama kecewanya Kuki saat tau IGnya kimkaaaaaa di hapus. Saat yang lain bisa nyepam biasnya bisa liat biasnya post photo terbaru nan alaynya, nah Kuki apah atuh, cuma bisa liatin nahan rasa iri bareng hayati di rawa2. Ya masak sekarang harus numpang lagi di IGnya Bang Ceye dll kalau nanyain Kaisoo T_T Jongin emang jaat sama Kuki, php beeeett masak, Kuki udah ngarepin dia post photo selca sama Kyungsoo padahal. Hueeeee~~ Tapi seneng juga pathcode Kyungsoo dan lagu Call Me Baby akhirnya release. Ngga sabar buat besok pas release album EXODUS. Seneng sedih campur lah pokoknya *curhatterselubung*

Disini udah dijelasin ya kenapa Kyungsoo bisa sampai sebenci itu sama Jongin xD Buat readers sabar yaa, chap ini memang agak lambat, tapi musti gimana lagi, emang cerita dari sononya begini, Kuki ngga bisa ngrubah, takut kena azab/? Oh iyaa kali ini Kuki ngga bisa bales review kalian atu-atu gaiss, Kuki lagi sakit, frustasi sambil menggila nyanyi2 lagu Call Me Baby yg Kuki belum jelas liriknya, asal nyanyi lah pokoknya/? Tapi Kuki baca semua kok reviewan kalian sambil kadang2 ngakak guling2 bareng Kyungsoo xD Kuki tetep bales kok dalam hati Kuki/? Pokoknya selalu setia aja yaa sama epep ini, makasih yang udah favs, follows apalagi review, ketjub basah deh atu-atu buat kalian, tunggu next chap yess!

Sampai ketemu di chat depan. Bhay…

GOMAWO

KISS HUG

CHU

KIM KUKI

BIG THANKS TO :

One | uffiejung | Re-Panda68 | GyuKyumin | Sorra988 | exindira | .1 | Baby Kim | cho hyena | Estrella Choi | vousmevoyez | sehunpou | yixingcom | Kaisoo32 | KaiSooLovers | steffifebri | SognatoreL | Kim YeHyun | ruixi1 | 9394loves | MaudiRein | kkamjjong30 | Hun.K Salvatore | ExoKaisooShipper | NopwillineKaiSoo | 1004baekie | .568 | siscaMinstalove | Rly. | nana | kyle | nakamura11 | Lovesoo | meimei | Guest | cute | IbnaNurulBaiti1 | InSoo-nim