Chapter 3 Update
PRODUCER
By AKLight
Bae Jin Young || Park Ji Hoon || Lai Guan Lin
Ji Hoon x Jin Young VS Guan Lin x Jin Young
Genre :
Entertainment Life, Drama, Romance
PRODUCE 101 SEASON 2 FANFICTION
AKL present-Story Begin-
.
.
.
"Aaaa- Aku mendapatkan fotonya. Wahh- Senangnya. Oppa, aku akan-"
TAK.
"Akh- Kamjakgiya!"
"Pesanan anda Nona, maaf mengganggu."
Gadis yang sedang fokus dengan kameranya tersebut otomatis terkejut saat pesanan jus nya tiba-tiba diletakkan diatas meja dengan sedikit hentakan keras. Menoleh pada si pelaku-
"YAK! Kim Dong Hyun! Kau selalu mengagetkanku." Protes sang gadis.
Pemuda tampan yang bertugas sebagai pelayan di Coffe Shop tersebut dengan sengaja duduk didepan sigadis.
"Hei- Kapan kau akan berhenti dari kegiatan tidak bergunamu itu ngomong-ngomong Bin-ah?" Si pemuda malah membalas dengan pertanyaan.
"Yak! Apa nya yang tidak berguna? Aku mendapatkan nama dari kegiatan ini. Kau tau? Jadi ketua fansite dari Park Ji Hoon itu sebuah kehormatan tertinggi. Ck." Balas si gadis yang diketahui bernama Lee Yu Bin tersebut sambil mencebikkan bibir tidak suka terhadap sahabat sehidup-sematinya yang duduk -dengan menampilkan tampang datar- dihadapan nya.
"Ck. Dasar."
"Ne- Aku tau, kau dapat banyak keuntungan dari itu. Tapi juga pikirkan masa depan mu, tidak mungkin kau akan melakukan kegiatan ini terus menerus. Ini hampir terhitung 3 tahun, kau sekarang sudah berumur 21 tahun Lee Yu Bin." Lanjut pemuda yang diketahui bernama Dong Hyun tersebut.
"Aku tau Dong-ah. Aku akan berhenti sebentar lagi. Ada beberapa hal yang masih ingin kulakukan. Aku juga tidak menyusahkan orang tua ku, kalau kau perlu tau. Buktinya kau bisa melihat aku bisa menghidupi diriku dari pekerjaan ini. Padahal aku hanya iseng awalnya." Cengir sang gadis.
"Ck. Ini mungkin sudah beribu kali aku memperingatkanmu Nona Yu Bin yang terhormat. Jangan pernah terlibat dengan dunia seperti itu. Sekarang kau senang dengan kegiatan ini, karena kau belum mendapat masalah. Kalau sampai ada sesuatu, kita tidak tau apa yang akan terjadi padamu. Itu bisa membahayakanmu Bin-ah."
"Uuuuu~ Kau sangat perhatian Dong-ah." Balas Yu Bin sambil mencubit pipi Dong Hyun gemas.
Dong Hyun hanya memasang wajah malas sambil menyingkirkan tangan Yu Bin. "Kalau kau sampai terkena masalah, jangan cari aku."
"Uuuu~ Itu seperti mengisyaratkan ku untuk mencarimu." Balas Yu Bin sambil mencubit pipi Dong Hyun gemas menahan tawa.
"Aish- Sudahlah terserah kau saja. Bulan depan tes masuk Perguruan Tinggi, jangan sampai kau mangkir lagi dari tes. Belajar sana. Ck." Balas Dong Hyun sambil berdiri, ingin melanjutkan pekerjaan nya karena ada seorang pelanggan yang datang ke Cafe. Ini jam setelah makan siang, jadi Cafe sedikit sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat di beberapa sudut Cafe.
"Ne- Dong Oppa~."
"Hiii. Berhenti memanggilku Oppa. Itu menggelikan dan membuatku merinding." Balas Dong Hyun dengan wajah menahan geli, dan berlalu menuju balik counter pembuatan Coffe.
"Ck. Dasar. Dongdong." Gumam Yu Bin dengan senyum lebar lalu beralih menghadap layar camera kesayangan nya yang sempat terabaikan. Terlihat foto Park Ji Hoon disana, salah satu member 101 yang telah diikutinya selama beberapa tahun terakhir ini.
Senyuman yang awalnya merekah dibibirnya perlahan memudar saat melihat layar kamera yang menampilkan Ji Hoon yang tersenyum bahagia di sana.
'Hah- Kalau untuk masalah. Selama ini posisiku sudah bisa dibilang selalu dalam bahaya Dong Hyun-ah. Terlalu banyak rahasia yang aku simpan selama ini. Tapi aku tidak ingin membuat mu khawatir dan terseret dalam masalah ini. Dan mungkin hanya tunggu sebentar lagi, setelah ini selesai, aku akan berhenti. Aku janji.'
.
.
.
~~o0o~~
"Kau tidak pernah mengganti password nya Bae." Kekeh pemuda tampan yang ada di hadapan Jin Young saat ini.
Jin Young hanya memutar bola mata malas dan meraih sodoran minuman kaleng dingin yang diberikan oleh Guan Lin.
Ya, yang berada di apartemen Jin Young saat sekarang ini adalah Guan Lin. Sahabat sehidup-semati nya yang selalu mengaku sebagai kekasih. Dasar.
Sebenarnya bukan sesuatu yang aneh untuk Guan Lin tiba-tiba berada di apartemen Jin Young. Karena sebelum kesibukan nya yang sangat padat beberapa bulan terakhir, Guan Lin sering mampir bahkan menginap di apartemen Jin Young. Yah, atau bisa dibilang ini hal biasa sebelum 6 bulan yang lalu lelaki jangkung itu memiliki jadwal di New York, sebagai Producer tentunya.
Semenjak kepindahan Guan Lin 3 tahun yang lalu ke asrama yang sama dengan boygroup yang ditangani nya. Membuat Guan Lin terpaksa meninggalkan Hyung kesayangannya tersebut. Dan Jin Young juga tidak berapa lama setelah kepindahan Guan Lin juga pindah ke apartemen yang baru, untuk memperdekat jarak antara kampus dengan tempat tinggal nya. Berhubung saat itu tahun awal Jin Young menjadi mahasiswa. Dan apartemen sederhana nya itulah yang ditempatinya sampai sekarang. "Terlalu nyaman untuk ditinggalkan." Kira-kira seperti itulah balasan Jin Young saat kakak nya dan Guan Lin bertanya perihal tempat tinggal nya sekarang.
Walaupun begitu tidak menghalangi Guan Lin untuk selalu berkunjung disaat ada waktu luang, dan bukan hal aneh kalau sampai Guan Lin hafal dengan password apartemen nya.
Jin Young menatap Guan Lin yang telah mengambil duduk dilantai karpet menyandar pada meja sambil menghadap Jin Young balik. Guan Lin tetap sama seperti dulu seingat Jin Young. Seperti tidak ada yang berubah pada dirinya. Mungkin hanya karena kesibukan masing-masing saja yang membuat mereka memiliki sedikit waktu untuk bersama.
Dan- Hei! Jin Young juga baru mengetahui bahwa grup yang ditangani oleh Guan Lin adalah sebuah grup yang populer. Hal itu wajar, Jin Young bahkan tidak mempunyai ketertarikan untuk itu. Dia bukannya membenci artis atau idol. Hanya saja tidak tertarik.
Grup populer seperti 101. Kadang Jin Young mengakui Guan Lin memang jenius musik, sampai bisa membuat grup setenar itu dengan lagu-lagu ciptaan nya. Apalagi dengan member 101 yang mempunyai ketampanan diatas rata-rata. Dan itu juga baru diketahui Jin Young akhir-akhir ini setelah beberapa saat berselancar di internet untuk mengetahui tentang 101.
Tiba-tiba bayangan seseorang terlintas dipikiran Jin Young saat mengingat 101. Siapa lagi kalau bukan salah seorang member 101 yang sukses membuat kepala nya hampir terasa hampir pecah hari ini. Oke, Jin Young tidak ingin mengingatnya. Lupakan.
"Hoi. Bae, kenapa melamun?" Sontak Jin Young terlepas dari lamunan nya saat suara Guan Lin kembali terdengar. Meneliti kaleng soda nya yang masih belum terbuka, saat akan mencoba membuka minuman kaleng ditangan nya tetiba kaleng soda tersebut sudah berada ditangan Guan Lin, dengan cekatan Guan Lin membuka kaleng soda tersebut dan kembali memberikan pada Jin Young.
"Aku tidak mau ambil resiko dengan telujuk mu yang kembali berdarah karena membuka kaleng soda dengan tangan kosong. Ck dasar." Gumam Guan Lin. Jin Young hanya memutar bola mata malas, selalu, Guan Lin selalu tau apa kekurangan dari seorang Bae Jin Young.
Hei- jangan tertawa. Jin Young bukan lemah, hanya saja terlalu ceroboh dalam melakukan hal ringan semacam membuka tutup kaleng soda. Aku harap kalian tidak tertawa. Jangan sampai karena Jin Young akan marah saat tau.
"Kau sakit Bae?" Khawatir Guan Lin saat melihat Jin Young yang terlihat lemas. Jin Young yang merasakan kepalanya kembali berdenyut, meletakkan kaleng soda yang sudah habis setengah nya itu diatas meja lalu kembali merebahkan badannya.
"Aku rasa, aku butuh istirahat Guan-ah." Gumam Jin Young sambil memejamkan mata.
Guan lin yang melihat itu hanya bedecak dan juga meletakkan kaleng soda diatas meja lalu beranjak ke arah Jin Young. Melepas jacket yang masih terpasang di badan Jin Young dengan susah payah karena si tersangka utama sudah seperti bayi besar. Lalu mengecek suhu tubuh Jin Young menggunakan tangan kanan dikening Jin Young dan tangan kiri di kening nya sendiri.
"Tidak panas. Tapi kau berkeringat berlebihan Bae. Kau belum makan pasti? Mau aku pesankan sesuatu?" Tanya Guan Lin sambil menyibak poni Jin Young sekaligus menyeka keringat berlebihan didahi nya.
Jin Young yang sudah mulai untuk memejamkan matanya menganggukkan kepala pelan dan mencoba untuk tidur supaya sakit kepala nya hilang.
Guan Lin bangkit dari duduk dilantai dan merogoh ponselnya untuk memesankan makanan. Dengan ponsel di telinga kiri nya, Guan Lin menunduk dan mencium sayang kening Jin Young yang terlihat berkerut seperti sedang menahan sakit dikepalanya. Lalu setelahnya berlalu dengan ponsel ditelinga menuju dapur. Mencoba melihat-lihat isi kulkas.
Jin Young yang merasa Guan Lin sudah menjauh, perlahan membuka matanya dan melihat ke arah counter dapur dimana Guan Lin yang terlihat sibuk dengan beberapa buah yang diambilnya dikulkas masih dengan ponsel yang menempel ditelinganya.
Jin Young tersenyum tulus.
'Maafkan aku. Guan Lin ah. Aku menyayangimu.'
.
.
.
~~o0o~~
"Wah- Hyung ini melelahkan, bolehkah aku tidur sebentar saja?" Itu Eui Woong ngomong-ngomong yang sedang berbicara dengan wajah memelas menatap sang leader grup. Park Woo Jin.
"Tidurlah, masih ada 40 menit lagi menjelang penampilan terakhir kita hari ini." Balas Woo Jin.
"Baik Hyung." Balas Eui Woong dengan senyum lebar lalu mencoba untuk menyamankan kepala nya disandaran sofa yang ditempatinya bersama Seon Ho saat ini. Seon Ho terlihat mempermainkan anak rambut Eui Woong yang sedang mencoba terlelap.
"Ji Hoon. Kau juga istirahat. Jangan melihat ponsel mu terus. Kau bahkan nyaris tidak tidur selama 3 hari belakangan ini." Tukas Woo Jin selanjutnya dan dengan cepat mengambil ponsel dari tangan pemuda di hadapan nya.
Park Ji Hoon hanya diam dan menuruti semua perkataan sang leader. Ji Hoon mencoba untuk memejamkan mata dan bersandar dengan nyaman di sofa single yg ditempatinya. Mencoba untuk lebih rileks.
Tetapi itu semua tidak membuat sang empu yang sedang memejamkan mata bisa dengan mudah mengistirahatkan pikirannya. Terbukti dari kerutan yang tercipta di kening si pemuda.
Tidak jauh-jauh, yang dipikirkan oleh nya adalah tanggapan beberapa netizen akhir-akhir ini yang membahas tentang keluarganya. Hal itu tiba-tiba menjadi marak akhir-akhir ini. Walaupun hanya dikalangan netizen, tetapi tetap membuat Ji Hoon merasa tidak nyaman.
Semua itu secara tidak sengaja disinggung pada sebuah acara reality show yang tayang beberapa hari lalu, saat itu Ji Hoon yang menjadi salah satu bintang tamu bersama Hyeong Seob rekan satu tim nya. Ji Hoon sudah mencoba untuk berhati-hati, tetapi ternyata tingkat penasaran para netizen lebih tinggi, mereka sangat penasaran dan mencoba untuk membuktikan beberapa fakta. Dan perbincangan itu belakangan menjadi topik hangat di forum netizen.
Ji Hoon tidak mempermasalahkan apa pendapat para netizen terhadap dirinya. Tetapi tidak dengan keluarganya. Tidak dengan para haters nya yang mencoba untuk membicarakan hal yang buruk tentang keluarganya. Tidak untuk satu-satu nya anggota keluarga yang tersisa. Satu-satunya yang dimilikinya.
Tiba-tiba sebuah elusan tangan seseorang terasa di kening berkerut si pemuda. Sontak Ji Hoon membuka mata untuk melihat sang pelaku.
"Tidurlah. Kau terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini. Kita akan tampil setengah jam lagi. Masih ada waktu untuk istirahat." Ucap sang pelaku yang tidak lain adalah Hyeong Seob, pemuda yang biasanya sangat cerewet dan selalu menampilkan senyum dimanapun dan kapan pun itu merupakan seseorang yang sangat peduli dengan member tentunya.
Ji Hoon tesenyum dan mencoba untuk menyamankan kepala nya di perut Hyeong Seob yang duduk di pinggir sofa sambil mengelus kening Ji Hoon.
"Gomawo-ne. Seob-ah."
Woo Jin yang tidak jauh duduk dari mereka hanya tersenyum bangga melihat bagaimana kekasihnya sangat tahu tentang kondisi para member. 'Kau hebat.' Sebuah ucapan tanpa suara dilayangkan oleh Woo Jin terhadap Hyeong Seob yang juga menatap padanya. Dan dibalas acungan jempol dan senyum lebar dari Hyeong Seob.
.
.
~~o0o~~
"Selamat datang di Flower Bean Coffe. Anda ingin memesan apa tu- an?" Ucapan Dong Hyun menggantung saat melihat siapa yang berada dihadapan nya saat ini. Terlihat sang pelanggan masih asyik melihat-lihat menu yang ada dan setelah menemukan apa yang diinginkan nya-
"Bisakah aku memesan 1 Chocomate dan 2 Red Velvet?" Ucap si pelanggan sambil memperhatikan pelayan yang masih terlihat termenung di balik counter.
"Halo. Permisi." Im Young Min, si pelanggan terlihat melambaikan tangan membuyarkan lamunan Dong Hyun.
"Ah- Jeosonghamnida. Bisa anda ulangi?" Dong Hyun yang sudah kembali dari lamunan nya, terlihat sedikit salah tingkah dengan pelanggan di hadapannya.
Young Min tersenyum saat melihat tingkah si pelayan yang menurutnya lucu. "Hahaa- Apa kau sangat lelah? Uhmm- Dong Hyun-ssi?" Tanya Young Min bercanda sambil melihat kartu nama Dong Hyun yang tersampir didada sebelah kiri baju pelayannya. Untuk mengetahui nama sipelayan tentunya.
"Maafkan saya." Balas Dong Hyun canggung.
"Oke- Tidak apa. Aku pesan 1 Chocomate dan 2 Red Velvet. AH- 1 lagi uhmmm... 1 Mango Float."
Dong Hyun menginput semua pesanan Young Min dimesin kasir beserta harga pesanan. Setelah semua proses pembyaran selesai, Dong Hyun dengan sopan menyuruh Young Min untuk menunggu pesanannya untuk diantarkan.
Young Min mengambil tempat untuk duduk di sudut cafe dengan jendela transparan di sampingnya yang menghadap jalan. Young Min mengeluarkan beberapa peralatan dari tas ransel yang dibawanya. Dan mulai melakukan pekerjaan nya dengan serius.
...
..
.
TAP. TAP. TAP.
"Permisi Tuan. Pesanan anda." Sebuah suara membuyarkan konsentrasi Young Min.
Young Min meletakan Mouse Pen yang dipegang nya dan tersenyum pada pelayan yang ternyata sama dengan yang di counter tadi. Dong Hyun meletakkan semua pesanan di atas meja.
"Terima kasih Dong Hyun-ssi." Balas Young Min dengan senyum lebar.
"Silahkan dinikmati."
"Akh- Chakkaman." Young Min menginterupsi Dong Hyun yang sudah akan berbalik menuju counter. Dong Hyun hanya mengangkat alis penasaran.
Young Min meraih pesanan Mango Float nya yang berada diatas meja dan meletakkan nya kembali ke tangan Dong Hyun. "Ini untukmu, kau telah bekerja keras. Setauku minuman ini bagus untuk membuat mu kembali fresh."
"Ne?" Dong Hyun kebingungan.
"Ambilah. Anggap itu hadiah dariku." Balas Young Min dengan senyum dan kembali meraih Mouse Pen nya dan melanjutkan pekerjaan yang sempat terinterupsi oleh si pelayan.
Dong Hyun yang cepat tersadar dari kebingungan nya langsung berucap- "Ah- Kamsahamnida Tuan." Ucap Dong Hyun dengan sedikit membungkuk.
"Ne. Sama-sama Dong Hyun-ssi." Young Min menampilkan senyum lebarnya dan kembali fokus.
Dong Hyun membungkukan badan sekali lagi dan berbalik dengan senyum lebar di bibirnya.
'Ahh- Manisnya.'
.
.
.
~~o0o~~
"Woo Jin-ah. Aku langsung ke kamar, kalau ada apa-apa bangunkan aku nanti." Ji Hoon berucap lesu setelah memasuki asrama grup nya. Memasuki kamar dan langsung merebahkan diri. Mencoba untuk masih terjaga walaupun sekarang baru menunjukkan pukul 4 sore sangat sulit bagi Ji Hoon. Waktu tidur semestinya yang tidak berlaku pada Ji Hoon karena jadwal individu nya yang padat dari beberapa hari yang lalu.
"Aku juga, Jin-ah." Ucap Daniel lalu memasuki kamar yang ditempatinya bersama dengan Woo Jin. Lelah setelah 3 hari ini sibuk dengan konferensi pers drama terbarunya yang akan tayang 2 hari lagi.
"Ne- Hyungdeul. Aku akan bangunkan saat jam makan malam. Sekarang silahkan semuanya istirahat." Balas Woo Jin dan beringsut menuju sofa ruang tengah asrama. Mendudukan diri disamping Hyeong Seob yang sudah berada disana sambil menyenderkan kepala ke sandaran sofa.
Woo Jin mengambil alih sandaran kepala Hyeong Seob ke pundaknya. Terlihat Hyeong Seob yang masih asyik dengan ponsel ditangan nya. Mencoba menyamankan kepala nya di pundak Woo Jin.
"Kau lihat apa Seob-ah?" Tanya Woo Jin penasaran sambil melihat ke arah layar ponsel Woo Jin.
"Hanya melihat berita Jin-ah. Dan juga- chakkaman. Ini apa?" Hyeong Seob terlihat bingung dengan berita yang ada pada layar ponsel nya.
Woo Jin mengambil alih ponsel Hyeong Seob dan membaca sekilas berita yang ada. Disana terlihat artikel dengan headline 'Park Ji Hoon salah seorang member 101 yang mencoba memanipulasi kehidupan masa lalunya.'
Woo Jin hanya menarik alis bingung. Setau dia pihak perusahaan ataupun Ji Hoon tidak pernah memanipulasi tentang kehidupan keluarga nya. Bahkan di profil member juga dijelaskan bagaimana kehidupan Ji Hoon.
Woo Jin dan Ji Hoon bahkan sudah bersama selama 6 tahun, dia tau bagaimana kehidupan Ji Hoon. Ji Hoon yang hanya memiliki satu orang anggota keluarga yang tertinggal. Walaupun sampai sekarang Woo Jin belum pernah bertemu dengan kakak laki-laki nya Ji Hoon, tetapi ia yakin bahwa saudara Ji Hoon bukan lah seperti yang dibahas oleh netizen.
'Satu-satu nya anggota keluarga yang tersisa? Siapakah keluarga Ji Hoon itu? Aku yakin dia adalah salah seorang yang tidak diinginkan, oleh karena itu sampai sekarang kita tidak mengetahui siapakah dia.'
'Hei hei atau mungkin Hyung nya itu seseorang kriminal, sehingga pihak mereka sangat menutup rapat kehidupan pribadi Ji Hoon.'
'Aku memang sudah tidak menyukai nya dari awal.'
'Hahaha baguslah, aku berharap dia membaca ini. "Park Ji Hoon jangan terus bersembunyi seperti seseorang yang tidak bersalah sama sekali, kau telah membohongi semua. Apalagi fans-fans bodohmu itu."'
'Hei, kalian. Jangan hanya disini berbicara yang buruk. Dasar brengsek.'
'Ayo, lindungi Ji Hoon oppa.'
'Oppa kami akan selalu mendukungmu.'
'Dasar para fans bodoh.'
Woo Jin menautkan alis sedikit terganggu dengan kata-kata benci yang dikatakan oleh netizen. Atau lebih tepatnya para Haters Ji Hoon.
Woo Jin tidak menampik, disamping ketenaran mereka saat sekarang ini akan ada banyak halangan yang akan mendampingi mereka. Termasuk para haters grup maupun individu, apalagi dengan memiliki member yang sepopuler Ji Hoon. Dibalik fans yang banyak maka akan ada pihak yang tidak menyukai. Itu sudah merupakan hukum alam.
Tapi itu tidak akan membuat mereka menjadi terganggu. Woo Jin sudah sering memperingatkan para member untuk tidak terlalu sering membaca komentar negatif tentang diri mereka. Itu hal yang wajar terjadi apabila ada yang berkomentar buruk. Yang perlu para idol lakukan adalah jangan terlalu memikirkan kalau hal tersebut tidak benar, itu hukum wajib untuk mereka lakukan.
"Umm- Apa ini yang mempengaruhi Ji Hoon akhir-akhir ini Woo Jin-ah?" Gumam Hyeong Seob pelan sambil menatap Woo Jin yang juga sudah membaca semua komentar netizen di layar ponsel Hyeong Seob.
"Hah- Aku rasa iya Seob-ah. Ji Hoon sering tidak fokus beberapa hari ini. Apalagi dengan jadwal nya yang sangat padat itu." Balas Woo Jin.
"Mungkin untuk sekarang kita biarkan saja dulu, berharap masalah ini tidak terlalu besar, aku menjadi sangat kasihan dengan Ji Hoon." Ucap Hyeong Seob sambil memainkan jari-jari tangan Woo Jin. Sebelah tangan Woo Jin mengusap sayang rambut Hyeong Seob.
"Sudah, jangan terlalu kau pikirkan, kau akan terlihat jelas jika ikut stres seperti ini. Nanti biar aku yang berbicara dengan Ji Hoon tentang masalah ini."
"Ne. Aku harap Ji Hoon tidak down dengan keadaan ini Jin."
"Iya sayang. Sekarang kau istirahat saja. Arraseo?"
Hyeong Seob balas tersenyum dan mengeratkan pelukan nya pada Woo Jin. "Siap. Leader."
.
.
.
~~o0o~~
Suara denting sendok yang beradu dengan piring lah yang menjadi satu-satu nya bunyi di ruangan kecil tersebut. Diantara Guan Lin maupun Jin Young tidak ada yang memulai pembicaraan. Terlihat dari Jin Young yang lebih fokus dengan makanan dihadapannya dengan handuk kecil yang masih tersampir di pundak.
Dia baru saja selesai mandi 10 menit yang lalu, bertepatan dengan datang nya makanan yang dipesankan oleh Guan Lin.
"Ck. Tumben Hyung menjadi sangat diam. Yah- aku tau kau memang tidak banyak bicara, tapi ini keterlaluan. Ini bahkan kunjungan pertama ku setelah 6 bulan Hyung." Renggut Guan Lin memecah keheningan diantara mereka.
Jin Young yang merasa terpanggil melirik Guan Lin untuk sesaat dan setelah nya kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Aish- Ck." Gerutu Guan Lin kembali menyuapkan makanan ke mulutnya dengan kesal. Disaat suapan kedua, tiba-tiba sebuah sumpit dengan beberapa potongan kimchi sudah ada didepan mulut nya.
"Makan." Titah Jin Young. Guan Lin yang melihat suapan kimchi dihadapannya hanya menghela nafas dan menerima suapan Jin Young.
"Makan sayur yang banyak. Kau selalu menyisihkan nya." Lanjut Jin Young.
"Hyuuuuung."
"Ck. Makan."
"Kau menjadi tambah tidak menyenangkan Hyung." Gerutu Guan Lin. Kesal. Dia bermaksud datang ke sini untuk melepas rindu dengan Jin Young. Tapi lihat apa yang dbuat oleh Jin Young hanya membuatnya kesal dan mengelus dada sabar.
Jin Young yang melihat Guan Lin dalam mood yang tidak baik hanya mendengus. Sedikit merasa bersalah karena telah mengabaikan Guan Lin semenjak dia datang, Jin Young masih terbawa dalam mood yang buruk karena kejadian hari ini.
Tidak ingin membuat pemuda bersurai hitam dihadapannya semakin menjadi-jadi dalam mood yang buruk, Jin Young terpaksa harus membujuknya. Tetapi disamping itu melihat Guan Lin dalam mode kesal mungkin bisa membuat Jin Young menjadi lebih bersemangat dan melupakan hari ini.
Senyum Jin Young tiba-tiba merekah."Aihh- Nae dongsaeng." Ucap Jin Young tiba-tiba sambil mengacak rambut Guan Lin. Melihat Guan Lin yang dalam mode merajuk adalah hal yang dapat membangkitkan mood Jin Young. Ini tidak patut untuk dicontoh.
"Apa kau rindu pelukan Hyung?"
"Ani-"
"Yakin?"
"Anirago."
"Uuuu apa kau merajuk?"
"Menurutmu Hyung? Apa diabaikan itu menyenangkan? Tidak Hyung. Dan kau mengabaikanku dari tadi, bahkan semenjak kedatanganku tanpa tau apa masalah yang ada."
"Aigooo. Makan. Nanti kau boleh memeluk ku sepuasmu." Balas Jin Young mengacak surai hitam Guan Lin masih dengan cengirannya. Benar membangkitkan mood nya untuk hari ini.
"Aku tidak mau."
"Ck. Anak kecil."
"Yak- Hyung. Jangan buat aku semakin marah."
"Aku tidak."
"Kau iya."
"Ani-"
"Iya."
"Aish- terserah kalau begitu. Dasar anak kecil."
"Ya! Hyung!"
.
.
.
~~o0o~~
Gerimis malam ini yang mengguyur kota Seoul cukup membuat udara menjadi sangat dingin, apalagi dengan mulai masuk nya musim gugur, membuat siapa saja sebenarnya enggan untuk keluar. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah dengan segelas coklat panas tentunya.
Tetapi tidak dengan seorang pemuda bersurai merah di halte sana. Dia bahkan sudah lebih dari satu jam duduk disana sambil melihat-lihat lalu lalang kendaraan dihadapannya dengan headphone yang menyumpal kedua telinganya.
Dan tepat ditepi sana, disisi lain tempat duduk halte terlihat seorang pemuda lainnya yang terlihat betah memandang si pemuda bersurai merah tersebut. Hanya ada mereka berdua disana. Dan sepertinya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Hei- Apa kau tidak merasa bosan memandangiku sedari tadi?" Tiba-tiba suara si pemuda bersurai merah memecah keheningan yang ada. Dia tetap memandang ke depan, ke arah lalu lalang kendaraan.
Pemuda lain disana tentu terkejut dengan suara tiba-tiba itu, dan menolehkan kepala ke kanan dan kiri untuk melihat dengan siapa pemuda manis disana berbicara. Tetapi tidak ada hanya mereka berdua disana.
"Aku berbicara dengan mu-
.
.
Dong Hyun-ssi." Lanjut si pemuda manis setelah mengalihkan tatapan nya ke kanan menghadap Dong Hyun yang terlihat salah tingkah karena ketahuan memperhatikan nya semenjak 10 menit yang lalu.
Dong Hyung gelagapan. "A... a.. aku ha.. hanya-"
"Im Young Min."
"Hah?"
"Kau bisa memanggil ku dengan itu, Dong Hyun-ssi." Jawab Young Min sambil tertawa.
"Ah- Ne." Jawab Dong Hyun kikuk.
Keheningan tiba-tiba tercipta. Young Min kembali memperhatikan laju kendaraan lalu lalang dihadapan nya. Dan Dong Hyun sibuk merutuki tindakan bodohnya yang memperhatikan orang yang bahkan baru dikenalnya hari ini dan lebih parahnya sang objek mengetahui tindakannya. Mau ditaruh dimana wajah tampan Dong Hyun setelah ini.
"Ekhem- Hmm. Apa kau menunggu seseorang Young Min-ssi?" Setelah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya Dong Hyun mencoba untuk mencairkan suasana canggung diantara mereka.
"Ah- menunggu ya. Uhmm mungkin? Ah- tapi tidak juga. Aku hanya lagi menunggu bus." Balas Young Min masih dengan pandangan yang fokus ke depan sana.
"Tapi sudah terlalu banyak bus yang kau lewatkan dari tadi?" Ucap Dong Hyun dengan pernyataan sekaligus pertanyaan. Dia sendiri juga bingung.
"Ah- aku hanya ingin menikmati suasana musim gugur. Dan aku baru melewatkan 1 bus menuju tempat tinggal ku, sekitar 10 menit lagi akan datang."
"Tetapi ini dingin Young Min-ssi. Kau bisa sakit." Balas Dong Hyung dengan nada sedikit khawatir.
Young Min akhirnya mengalihkan tatapan nya menghadap Dong Hyun yang telah menatapnya sedari tadi. Jarak diantara mereka ada sekitar 3 meter jadi masih memungkinkan untuk berbicara dari jarak segitu.
"Aku sedikit tersentuh karena kau mengkhawatirkan ku. Sudah lama semenjak aku tidak mendengar orang lain mengkhawatirkan ku disaat seperti ini." Balas Young Min tulus sambil memberikan senyum dengan menampilkan deretan gigi rapinya. Terlihat pipi nya sedikit memerah mungkin karna udara yang semakin dingin malam ini.
"Uh? Ne." Balas Dong Hyun kembali gugup. Kenapa dia seperti ini. Dong Hyun juga bingung dengan diri nya sendiri. 'Ayo lah, Dong Hyun.'
"Aku-"
"Dingdong. Apa kau sudah lama menungguku?" Tiba-tiba sebuah suara wanita mengagetkan dan memotong ucapan Dong Hyun. Saat menolehkan kepala ternyata disana sudah berdiri Yu Bin dengan kamera yang masih setia berada ditangannya.
"Apa aku lama? Maafkan aku." Gumam Yu Bin langsung mendudukkan diri disebelah Dong Hyun dan merangkul atau mencekik leher Dong Hyun main-main.
"Apa yang kau lakukan, ini sakit." Komentar Dong Hyun sambil melepas rangkulan paksa erat Yu Bin pada leher nya. Dong Hyun merasa tidak enak karena Young Min masih memperhatikan mereka dari sana.
"Yak, kau sensitif sekali hari ini." Ucap Yu Bin sambil memajukan bibir sedikit kesal.
"Kau lama-lama akan menjadi bebek kalau memajukan bibir mu terus-terusan seperti itu." Balas Dong Hyun sambil mencubit gemas bibir Yu Bin.
"Aish-"
"Ah iya." Dong Hyun teringat disana masih ada Young Min. Mengalihkan tatapannya dan- "Young Min-ssi. Aku akan mem-"
"Wah. Bus ku sepertinya sudah datang. Kalau begitu aku duluan Dong Hyun-ssi." Potong Young Min sambil berdiri dan tersenyum menghadap mereka berdua.
"Uh? Baiklah kalau begitu. Hati-hati." Balas Dong Hyun. Young Min menganggukkan kepala dan melangkah menaiki bus.
Yu Bin yang hanya memperhatikan dari tadi sedikit terkejut.
'Bukan kah dia? Ani. Aku rasa memang benar, aku tidak salah lihat.' Batin Yu Bin dengan tampang serius melihat pemuda yang sudah duduk didekat jendela bus sana.
"YA! Kenapa kau malah melamun? Kajja- bukannya kau ingin aku temani ke toko buku? Ini sudah semakin malam." Ucapan Dong Hyun mengagetkan Yu Bin yang masih setia berdiri di dekat halte. Terlihat Dong Hyun yang sudah berada di bagian sisi lain halte berencana untuk pergi.
"Ah- Ne Dong Hyun-ah. Tunggu aku." Balas Yu Bin lalu berlari mendekati Dong Hyun yang sudah jalan terlebih dahulu.
'Aku tidak salah lihat. Itu memang dia. Tetapi kenapa dia bisa ada disini? Dan kenapa dia bisa kenal dengan Dong Hyun? Mungkin nanti aku harus menanyakan ini pada Dong Hyun.'
'Aku harap Young Min-ssi tidak salah paham saat melihatku dengan Yu Bin.'
'Ternyata dia sudah punya kekasih. Hah- kenapa aku kecewa?'
.
.
.
~~~ o0o ~~~
Chapter 3 END
Note :
Halloooo
Apakah ada yang merindukan cerita ini?
Astaga AKL baru sadar hampir 2 bulan mengabaikan cerita ini. Maafkan AKL reader-deul. AKL benar-benar dalam masa kritis saat sekarang ini. Tugas Akhir AKL benar-benar tidak bisa diabaikan. 2 bulan menghilang karena masih dalam proses pembuatan robot untuk penelitian AKL, AKL harus wisuda tahun ini /crying/ . Mana penelitian nya susah lagi T_T . So I am so sorry guys /AKL malah curhat/. Untuk mingyoukes , terima kasih atas semangat nya ya dek, sampai bela-belain PM AKL /huhu AKL terharu/. Selalu support AKL ya. Talanghaeeee :*
Oh iya, disini ada penambahan tokoh ya, AKL nambahin Im Young Min dan Kim Dong Hyun. Ayooo DongPaca Shiper mana suara nya wohohoho. Disini peran mereka penting sih menurut AKL, makanya disini kehidupan mereka lebih detail AKL bikin wohohoho~
Yah- berharap reader suka saja dengan update an ini. Udah AKL panjangin 4.3k+ , jangan lupa comment, follow dan favourite ya. Komen dari kalian membangkitkan semangat AKL untuk menulis, so jangan pernah bosan ya. Saranghaee
Annyeoong~
Ppyong~
AKLight
2017.07.22
