TITLE : Enchanté
GENRE :Romance, Humour
LENGTH : 4 of (..)
RATE :T+
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu, Jungkook (GS),
DISCLAIMER : semua tokoh punya YME, yang saya punyaCuma plot dan typo yang bertebaran di ff gaje ini. Jika ada kesamaan plot, nama tempat, dll. Itu semua murni Cuma kebetulan. Karena saya bikin ff ini karena dapat inspirasi pas liat Mingyu lagi fansign..
SYNOPSIS : Jeon Wonwoo yang mencintai keluarganya demi apapun dimintai tolong agar bisa meminta tandatangan seorang idola yang sedang naikdaun. Tapi bagaimana jika ditengah acara fansign itu ia malah salah orang? Ia salah mengenali sang idola yang malah membuat semuanya jadi runyam!
This is a Genderswith. Please just close the tabs if you don't like any of 'genderswitch'. Please do not bash. I was just write my wild imagination into this absurd ff please enjoy
.
.
.
"apa kau sedang membalas dendam padaku?" tanya Wonwoo masih dengan raut wajah tidak percayanya.
Mingyu yang merasa heran pun menaikkan sebelah alisnya.
"apa maksudmu?"
"ani, kemarin aku sudah membuatmu malu dan kesal karena salah mengira dirimu dan Seungcheol. Lalu apa karena hal tersebut kau akan membalas dendam padaku dengan cara ini?" ulang Wonwoo karena Mingyu tidak mengerti.
"cara ini bagaimana maksudmu?" Mingyu benar-benar tidak paham akan cara kerja otak seorang Jeon Wonwoo.
"ya, dengan cara kau akan mendekatiku, lalu setelah aku menyukaimu, kau akan meninggalkanku." Ujar Wonwoo dengan wajah emo nya kepada Mingyu yang memasang wajah kosong dan menatap penuh minat pada Wonwoo.
"hahahahahahaha.." sebagai balasannya, Mingyu tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan gadis dihadapannya ini.
Mingyu bahkan sampai memegangi perutnya yang mulai terasa kram karena terlalu banyak tertawa. Sudah berapa tetes air mata yang jatuh di kelopak matanya akibat tawa menggelegar itu.
Dan Wonwoo yang ditertawakan pun hanya menghempaskan tangan Mingyu yang masih menggenggam tangannya, lalu beranjak meninggalkan bangku taman tersebut. Namun belum juga dua langkah, lengannya kembali ditarik oleh Mingyu yang sepertinya sudah bisa menguasai dirinya kembali.
"ah.. hahha.. ha.."
"ya tuhan, Jeon Wonwoo. Kenapa imajinasimu aktif sekali? Ah! Apa kau suka menonton drama? Atau-ah! Aku tahu! Kau adalah seorang penulis cerita fanfiksi, kan?!" ucap Mingyu masih mengatur nafasnya.
"jangan bodoh, Kim Mingyu-ssi! Kalau bukan karena balas dendam, lalu untuk apa kau melakukan ini?" tanya Wonwoo dengan suara tingginya.
"jika aku bilang aku menyukaimu sejak pandangan pertama, bagaimana?" Mingyu menatap mata Wonwoo dalam, mencoba mencari sesuatu disana. Senyum kini bahkan sudah menghilang dari wajah tampannya, digantikan dengan wajahnya yang terlihat sangat serius dan rahang yang mengeras.
"hmph" wonwoo hanya mendenguskan nafasnya kasar mendengar ucapan Mingyu.
"lihat! Kau bahkan tidak percaya pada perkataanku! Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau bisa percaya? Aku sungguhan ingin dekat denganmu!" Mingyu mulai frustasi. Ia mengacak rambutnya, membuat rambut indahnya berantakan tidak karuan.
"tidak ada yang bisa kau lakukan, Kim Mingyu-ssi. Yang bisa kau lakukan hanyalah jauhi aku, dan kita jalani hidup kita masing-masing seperti biasa." Wonwoo bangkit dari duduknya. Ia sedikit menundukkan kepalanya tanda memberi salam, kemudian pergi dari taman itu tanpa sepatah kata apapun lagi.
Membuat MIngyu terdiam frustasi.
Wonwoo menyisir rambutnya yang panjang didepan cermin. Ia jadi kembali teringat akan kelakuan Mingyu barusan.
Semakin dipikir, wajah Wonwoo semakin merah. Itu adalah pengalaman pertamanya diperlakukan demikian rupa oleh seorang pria. Ia patut merasa tersanjung, terlebih pria itu bukan orang biasa. Ia adalah seorang idola yang sedang naik daun! Namun bersamaan dengan rasa senangnya, muncul rasa takut akan akibat yang timbul.
Wonwoo tidak bisa begitu saja membiarkan rasa senang menutupi matanya dan mengabaikan fakta bahwa para fans Mingyu yang ganas itu bisa saja membahayakan dirinya dan keluarganya.
Well, Wonwoo tahu apa itu sasaeng fans. Dan ia tidak mau mengambil resiko.
Wonwoo jadi semakin pusing. Setelah selesai menyisir rambutnya, ia memutuskan untuk tidur. Dan bermimpi indah.
Setelah pulang dari rumah sakit, wajah Mingyu tidak menampakkan adanya tanda kehidupan. Ia terus melamun, tidak lama kemudian mendengus, lalu setelah itu mengacak rambutnya kesal. Terus seperti itu berulang-ulang.
Sudah pukul dua malam, namun kantuk belum juga menyerang. Akhirnya Mingyu memutuskan untuk menghubungi seseorang.
Ia masuk kedalam kamarnya, kemudian duduk didepan laptop putih miliknya. Mingyu tidak sengaja melihat sebuah notifikasi yang masuk di akun social medianya.
Kim Jongin is Online.
Ah, pucuk dicinta ulam pun tiba, batin Mingyu.
Ia membuka tombol chat pada kontak Jongin, dan sesaat kemudian ia mengetikkan sesuatu pada kakak kandungnya yang hanya berjarak lima tahun lebih tua, yang kini sedang berada di London karena urusan bisnis bersama Do Kyungsoo, istrinya.
Kimingyu: hyung.
Kimingyu: hyuuuuung!
jongin_kim: aish! Wae? Bocah nakal kenapa kau tidak tidur? Sekarang sudah tengah malam di Seoul!
Kimingyu: aku tidak bisa tidur, hyung.
Kimingyu: hyung apa kau sibuk? Aku ingin cerita.
jongin_kim: cerita apa? Cepat waktuku terbatas.
Kimingyu: hyung bagaimana rasanya bisa bersama dengan orang yang kau cintai?
jongin_kim: tentu saja bahagia. Wae? Kau jatuh cinta?
Kimingyu: molla. Aku tidak yakin. Tapi saat bersama gadis ini hatiku rasanya dugeun dugeun. Aku juga tidak bisa melupakan pertemuan pertama kami. Apa itu cinta, hyung? Apa itu yang kau rasakan pada Soo noona dulu?
jongin_kim: bocah! Apa kau belum pernah berpacaran sebelumnya? Kenapa hal seperti itu saj akau tanya aku? Lagipula bukankah kau banyak terlibat skandal dengan para aktris muda?
Kimingyu: aish hyung! Jangan percaya skandal murahan seperti itu! Kalau aku punya kekasih, aku pasti akan memberitahu keluargaku terlebih dulu.
Kimingyu: Lagipula jangan panggil aku bocah terus!
jongin_kim: geurae. Jadi apakah gadis ini dari kalangan biasa atau seorang idol sepertimu?
Kimingyu: dia gadis biasa hyung.
jongin_kim: apakah ia menunjukkan bahwa ia tertarik padamu?
Kimingyu: ani. Ia bahkan secara langsung bilang agar aku menjauhinya.
jongin_kim: lalu? Kau mau?
Kimingyu: of course not!
jongin_kim: ada beberapa factor yang membuatnya tidak suka kepadamu:
1. Dia sudah punya pacar.
2. Dia sudah menikah dan berkeluarga.
3. Dia memang secara pribadi tidak suka padamu.
4. Dia merasa minder dengan dirinya jika harus bersanding denganmu.
5. Dia takut pada fans-mu yang ganas.
Kimingyu: whoa! Hyung! Tidak salah kau menjadi wakil presdir di London!
jongin_kim: tentu saja! Aku menghabiskan masa kuliahku dengan rajin belajar!
jongin_kim: coba kau kenali dia lebih lanjut.
Kimingyu: itu dia masalahnya! Saat aku ingin mendekatinya, ia malah memintaku menjauh!
jongin_kim: kau ini lelaki atau bukan? kenapa mudah sekali menyerah!
Kimingyu: kau benar, hyung. Aku tidak seharusnya menyerah.
jongin_kim: kalau kau benar-benar emnyukainya, perjuangkan man!
Kimingyu: ne hyung. Kau benar. Aku akan kembali mendekati gadis itu.
jongin_kim: itu baru pria keluarga Kim! Baiklah kalau begitu. Aku masih ada pekerjaan. Lain kali akan kuhubungi lagi. Bye.
Kimingyu: bye hyung. Terima kasih saranmu.
Kim Jongin is offline.
Setelah bercerita tentang masalahnya kepada kakak yang sudah dua tahun tidak ditemuinya, perasaan Mingyu kini lebih ringan daripada sebelumnya.
Kini ia tinggal membuat rencana. Ya, rencana pendekatan dengan seorang Jeon Wonwoo.
Namun sebelum itu ia harus tidur karena matanya mulai memberat dan memerah.
Wonwoo menghela nafasnya pelan sambil mengaduk makan siang dihadapannya tanpa minat. Padahal ini adalah jam makan siang yang paling ditunggu-tunggu oleh para karyawan seperti dirinya.
"Wonwoo-yah. Neo wae geurae?" tanya Jung Eunji sahabatnya yang bekerja sebagai editor majalah di kantor penerbitan Wonwoo.
Melihat Wonwoo yang hari ini terlihat tidak semangat turut membuat beberapa sahabatnya yang lain turut penasaran.
"ne. neo waeyo?"
"aniya. Geunyang. Bisakah kalian berhenti membicarakan soal Seventeen?" tanya Wonwoo memandangi ketiga sahabatnya yang duduk satu meja dengannya.
Ternyata sedari tadi mereka sedang membicarakan para idol, dan entah bagaimana caranya topic pembicaraan melompat menjadi tentang Seventeen, dan tidak lama kemudian lompat lagi menjadi topic 'wanita tidak tahu diri di acara fansign sebong'.
"wae? Aku tahu kau bukan seorang fangirl, tapi tidak biasanya kau melarang kami membicarakan soal oppa-oppa kami." Eunji yang merasa sahabatnya ini aneh kembali bertanya.
"yah.. hanya bosan saja. Tidak bisakah kita membicarakan hal lain yang dapat aku mengerti? Saat bersama dengan Jungkook, aku harus mendengarkannya membicarakan tentang Seungcheol oppa-nya. Dan sekarang saat bersama kalian jangan bilang kalau aku juga harus mendengarkan tentang para pria itu." Wonwoo berkata dengan nada yang datar tanpa ekspresi, namun ketiga sahabatnya ini tahu bahwa Wonwoo tidak dalam mood yang baik.
"Wonwoo-yah, apa kau sedang pms?" kali ini Hong Sera, karyawan bagian administrasi yang bertanya pada Wonwoo.
"heum. Tidak biasanya kau protes soal topic pembicaraan kita. Yah, kecuali saat kau sedang pms dan merasa bad mood." Sahabat Wonwoo yang lain, Lee Mari menimpali perkataan sahabatnya.
"yah, kan sudah kubilang kalau aku hanya sedikit bosan. Lagipula kalian terus membicarakan wanita di acara fansign itu. Apa kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apa identitasnya sudah dietahui? Kenapa para netizen berlebihan sekali menghujat perempuan itu?" tanpa dirinya sendiri sadari, Wonwoo berujar dengat sedikit emosi, yang mana membuat ketiga sahabatnya menatap Wonwoo bingung.
"yah, baiklah kalau begitu. Kelihatannya Wonwoo benar-benar tidak suka topic pembicaraan kita kali ini. Mari kita bicarakan hal lain saja." Ujar Sera yang sedikit merasa bahwa Wonwoo sudah mulai kesal, tidak ingin memperburuk suasana.
Dan Wonwoo pun akhirnya sadar bahwa ia sudah bereaksi berlebihan. Ia akhirnya hanya bisa menunduk dan meminta maaf kepada ketiga sahabatnya.
"gwenchanayo, Wonwoo-yah. Aku tahu kau sedang stress karena Jungkook dan keluargamu. Terlebih target dari manager yang sangat tidak masuk akal pasti membuatmu tertekan."
Dengan merasa terharu Wonwoo bangkit dari kursinya dan memeluk ketiga sahabatnya dengan sayang sambil mengucapkan banyak terima kasih.
Satu hal yang ia pikirkan saat melangkah dengan pasti menyusuri lorong koridor rumah sakit ini. Yaitu mencari tahu tentang Jeon Wonwoo lebih lanjut. Dan hanya Jeon Jungkook yang bisa memberikannya informasi itu.
Dengan hoodie hitamnya, Mingyu masuk kedalam kamar 1797, bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Padahal ini bukan jam besuk. Tapi ia tidak peduli. Sekarang atau tidak sama sekali, pikirnya.
Mingyu masuk kedalam dan berdiri didepan pintu kamar Jungkook. Dan Jungkook yang melihat sesosok siluet berpakaian serba hitam pun kaget. Ia segera memasang gerak siaga.
Hingga Mingyu membuka topi kupluk pada hoodienya dan memperlihatkan wajahnya yang tampan, seperti biasa.
Tanpa sadar Jungkook kembali merelakskan tubuhnya kembali saat tahu yang datang itu adalah Mingyu. Ia menghela nafas dan bertanya dengan nada sengitnya, apa tujuan Mingyu kali ini.
"kau benar." Ujar Mingyu masih berdiri dihadapan Jungkook sambil memasukkan kedua tangannya didalam saku celana, memasang gaya setenang mungkin, padahal didalam hatinya ia merasa waswas.
"soal apa?" tanya Jungkook mulai penasaran.
"Jeon Wonwoo. Eonni-mu."
"ada apa dengan eonni-ku?"
Mingyu kembali berjalan, kini ia berjarak lebih dekat dengan Jungkook. Ia melipat kedua tangannya didepan dada, dan berkata dengan nada yang pelan.
"aku tertarik pada eonni-mu."
Jungkook hanya menaikkan sebelah alisnya merasa bingung dengan ucapan Kim Mingyu tersebut. Namun baru saja ia membuka mulut untuk membalas perkataan Mingyu, pria itu kembali menyela ucapannya.
"aku menarik ucapanku soal eonni-mu yang tidak cantik."
Terlihat dari gelagatnya, Mingyu merasa sedikit malu melakukan ini. Ia seolah menjilat ludahnya sendiri. Namun ia tidak peduli lagi. Ia kembali melanjutkan ucapannya setelah menghela nafasnya pelan.
"kenyataannya eonni-mu sangat cantik. Aku bahkan suka pada pandangan pertama padanya. Dan tolong jangan bilang kalau aku hanya ingin balas dendam padanya, karena aku serius."
Keduanya terdiam, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga Jungkook angkat bicara.
"lalu kenapa kau katakan padaku? Katakanlah pada eonni-ku" ucap Jungkook santai.
"kau pikir aku belum mengatakan itu padanya? Aku sudah mengatakannya! Dan kau tahu apa reaksinya? Ia malah menyuruhku menjauhinya! Ia malah menuduhku bahwa aku hanya ingin membalas dendam padanya!" Mingyu frustasi. Ia bahkan menjambak rambutnya sendiri dihadapan Jungkook.
"lalu?" tanya Jungkook.
Mingyu kembali bersikap tenang. Perlahan ia mengembangkan senyum mautnya, meski tanpa ada niatan untuk menggoda Jungkook karena hatinya sudah tertambat pada seorang wanita bernama Jeon Wonwoo.
"aku ingin meminta tolong padamu. Ah, sekaligus restu. Karena kelak kau akan jadi adik iparku." Ucap Mingyu dengan percaya dirinya yang tinggi, membuat Jungkook mengernyitkan alisnya tidak suka saat mendengar kata 'adik ipar'
"what?! Siapa yang kau panggil adik ipar?! Kau? Dengan eonni-ku? Dalam mimpimu tuan Kim yang terhormat!" jungkook kini tidak segan-segan memperlakukan Mingyu dengan sengit. Ia masih belum percaya bahwa pria dihadapannya ini bahkan rela datang ke rumah sakit menemui dirinya hanya demi menanyakan soal eonni-nya.
"tentu saja kau yang kupanggil adik ipar. Lagipula, ya! Jeon Jungkook! Bersikaplah sopan! Aku ini lebih tua beberapa tahun diatasmu! Aku panggil kau adik ipar, dan kau memanggilku oppa, eotte?" masih dengan senyum jahilnya, Mingyu terus saja mengganggu Jungkook. Namun ia tidak bercanda bahwa ia akan memanggil Jungkook dengan sebutan adik ipar mulai sekarang.
"euwh. Menyebalkan. Lagipula apa yang kau tahu soal eonni-ku? Kau tidak tahu apa-apa!" dengan wajah kesal Jungkook mencoba membuat Mingyu down dengan kata-kata pedasnya.
Namun ia salah. Mingyu kini malah menjentikkan jari tangannya. Dan berkata dengan wajah senang.
"itu dia! Itu yang kumaksudkan! Disini aku ingin minta tolong padamu agar memberitahuku soal eonni-mu. Yah, tidak perlu semuanya. Cukup hal yang wajar, seperti pekerjaannya, atau apakah dia sudah punya pacar atau belum. Dan sisanya aku akan mencari tahu sendiri." Mingyu menatap wajah Jungkook kini penuh minat.
Dan jungkook pun terdiam, memutar otak bagaimana caranya agar pria dihadapannya ini berhenti mengejar-ngejar eonni-nya.
Lalu Jungkook pura-pura memasang wajah memelas. Ia berkata dengan nada lesunya.
"yaah.. sayang sekali.. padahal aku ingin sekali mempunyai seorang kakak ipar seorang idol. Bukankah itu sebuah keuntungan? Siapa tahu saja aku jadi bisa bertemu banyak idol lainnya."
Mingyu dengan girang membenarkan jawaban Jungkook.
"geureomyo! Itu salah satu keuntungan jika menjadi adik iparku! Jangankan Seungcheol. Jika kau ingin bertemu Kai EXO pun itu hal mudah bagiku!" ujar Mingyu sambil menunjukkan ujung jari kelingkingnya seolah itu adalah hal yang mudah.
Namun Jungkook yang masih memasang wajah memelasnya kembali berakting.
"heum. Hanya saja…"
"hanya saja kenapa?" mingyu bertanya dengan penasaran.
"eonni-ku sudah punya kekasih. Mereka saling mencintai. Dan sepertinya tahun depan kekasih eonni akan melamarnya." Jungkook sudah melemparkan umpannya. Hanya tinggal menunggu Mingyu memakan umpan pancingannya.
Mingyu terdiam mendengar jawaban Jungkook. Senyum di wajahnya perlahan memudar, namun tidak beberapa lama ia kembali memasang senyum penuh pesona.
"tidak apa. Aku siap bersaing secara sehat. Selama dijari manisnya belum ada cincin melingkar, dan sumpah sehidup semati belum terucap, Jeon Wonwoo masih belum termiliki. Dan aku masih bebas mendekatinya."
Shit. Jungkook salah bicara. Seharusnya sekalian saja Jungkook katakan bahwa eonni-nya itu sudah bertunangan dengan orang lain. Sekarang sudah tidak mungkin meralat ucapannya. Ia harus mencari alasan lainnya.
"ah! Tidak bisa! Kedua keluarga kami sudah sangat mengenal! Keluarga kekasih eonni bahkan selalu menyuruh eonni cepat menikah dengan anak keluarga mereka!" Jungkook masih mencoba bertahan dengan alasannya yang lama, namun dengan sedikit bumbu.
Jungkook berusaha begitu keras agar pria di depannya menyerah akan perasaannya pada Wonwoo. Karena ia tahu orang seperti apa Wonwoo itu. Dan jika saja Wonwoo tahu Kim Mingyu mendekati dirinya melalui Jungkook, maka bisa dipastikan nama Jungkook dicoret dari kartu keluarga mereka.
Lagi-lagi, dengan senyuman tenang penuh pesona, Kim Mingyu membalikkan keadaan.
"sudah ku bilang bukan, Jungkook-ssi? Selama di jari manisnya belum ada cincin melingkar, Jeon Wonwoo masih bebas didekati oleh siapa saja."
Jungkook mulai kesal. Kenapa Mingyu ini keras kepala sekali, batinnya.
"tetap tidak bisa! Kami.. kami.." jungkook tetap dengan pendiriannya, namun ia kehabisan akal untuk membohongi Mingyu.
"kami punya hutang yang besar kepada keluarga kekasih eonni. Dan hanya eonni yang bisa melunasi hutang keluarga kami." Jungkook berkata demikian dengan suara yang sangat pelan. Sesungguhnya ia tidak sampai hati berkata seperti ini. Namun demi meindungi eonni yang sangat ia sayangi, apa boleh buat.
Mingyu masih belum bereaksi. Ia seolah terkejut dengan sebuah fakta baru ini. Otaknya berpikir keras. Keluarga Jeon mempunyai hutang yang besar kepada sebuah keluarga, dan sebagai gantinya, mereka akan menikahkan anak perempuan mereka. Bukankah itu sama saja dengan menjual Wonwoo?
Memikirkan fakta tersebut, Mingyu mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Namun ia segera menggelengkan kepalanya ringan. Dan sampailah ia pada sebuah keputusan yang diyakininya benar.
"berapa banyak hutangnya? Aku yang akan melunasinya. Dengan begitu Wonwoo tidak perlu menikahi pria itu." Ucap Mingyu dengan aura disekitarnya yang tidak terasa mengenakkan.
GLEK.
Sepertinya lagi-lagi Jungkook salah bicara. Kini ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa berdoa agar ada yang menolongnya.
Dan sepertinya Tuhan mendengar doa pendusta seperti Jungkook, tiba-tiba saja pintu kamar Jungkook terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik meski termakan usia.
"eomma!" pekik Jungkook kelewat senang. Yah, ia senang eomma-nya datang, juga sekaligus sebagai penolongnya dari mahluk bernama Kim Mingyu ini.
Kini Mingyu tahu darimana Wonwoo mendapatkan kecantikannya. Tentu saja, karena Wonwoo mirip sekali dengan eommanya. Tubuh mereka memiliki postur yang sama, hanya saja Wonwoo sedikit lebih tinggi. Bentuk bibirnya yang indah serta matanya yang agak sipit. Wonwoo benar-benar cetak biru eommanya.
Dan Mingyu berani bertaruh, Wonwoo yang sudah paruh baya pun pasti masih akan tetap terlihat menawan seperti ibunya.
Nyonya Jeon berjalan mendekati Jungkook dan Mingyu. Ia kemudian memeluk Jungkook dan mencium kedua pipi putri bungsunya. Dan segera beralih memandang Mingyu dengan tatapan teduh.
Mingyu segera membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada nyonya Jeon. Ia memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"annyeong haseyo, ahjumma. Kim Mingyu imnida. Saya teman lama Wonwoo, saya datang kemari karena ingin menjenguk Jungkook, juga ingin mengetahui kabar Wonwoo karena sudah lama sekali kami tidak bertukar kabar." Mingyu mengucap salam sambil menampilkan senyum penuh pesonanya.
Tak bisa dipungkiri, nyonya Jeon bahkan tersipu melihat Mingyu yang sangat sopan, terlebih ia sangat tampan.
Namun Jungkook yang mendengar dusta Mingyu pada ibunya hanya mendelik pada pria berkulit tan itu lalu memalingkan wajahnya sebal.
"ah, kau adalah teman Wonwoo? Tapi kau tahu darimana kalau Jungkook dirawat disini? Sedangkan kau dan Wonwoo sudah lama hilang kontak?" tanya nyonya Jeon pada Mingyu masih dengan senyum anggunnya.
Checkmate. Mingyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa yang harus ia katakan pada nyonya Jeon, batinnya.
"kebetulan temanku adalah adik kelas Mingyu-ssi, eomma. Mungkin ia tahu dari temanku." Ujar Jungkook membantu MIngyu. Entah ada angin apa.
Dan mingyu hanya bisa tersenyum seolah berkata 'terima kasih' pada Jungkook. Dan tentu saja dibalas dengan Jungkook memutar bola matanya malas.
"ah.. begitu rupanya. Tapi kenapa sepertinya Wonwoo tidak pernah bercerita kalau ia punya teman setampan ini?"
Mingyu hanya tertawa mendengar ucapan nyonya Jeon. Nyonya Jeon adalah orang yang menyenangkan, tidak seperti kedua putrinya yang sangat galak.
"ah, mungkin itu karena saya dulu tidak tampan. Dan juga saya sempat pindah keluar negeri selama beberapa tahun. Jadi kami hilang kontak begitu saja." Kali ini Mingyu tidak berbohong, ia memang pernah tinggal di Jepang saat SMA selama beberapa tahun, meski saat itu ia belum mengenal Wonwoo, tentunya.
"heum.. aku mengerti. Jadi sekarang kau kemari ingin bertemu kembali dengan Wonwoo?" tanya nyonya Jeon setengah menggoda MIngyu.
Mingyu hanya tertawa sumbang sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dan Jungkook yang melihat pemandangan itupun hanya mendecih.
"hahaha… yah, kalau anda tidak keberatan…"
"hey! Kenapa aku harus keberatan! Kau adalah teman Wonwoo, kan? Wonwoo pasti senang bertemu dengan teman lamanya! Kemarilah, aku akan memberikan nomor ponsel Wonwoo juga alamat tempatnya bekerja. Ah! Apa perlu sekalian kuberikan alamat rumah sehingga kau bisa langsung menemui Wonwoo suatu saat?" tanya nyonya Jeon antusias.
Bak gayung bersambut, tidak bisa mendapat informasi dari adiknya, dari ibunya pun boleh. Bahkan lebih bagus lagi. Bukankah itu seolah eomma Wonwoo sudah memberi restu?
Mingyu menganggukkan kepalanya semangat sambil menunjukkan senyum senangnya yang terlihat seperti anak kecil, membuat nyonya Jeon gemas.
"kau catat ya…" ujar nyonya Jeon sambil bersiap menyebutkan digit nomor ponsel Wonwoo, hingga teriakan Jungkook menghentikan kegiatan mereka.
"eomma! Kenapa eomma beritahu nomor ponsel eonni tanpa izin eonni terlebih dulu? Nanti eonni marah bagaimana?" ujar Jungkook tidak peduli lagi meski Mingyu ada didepannya dan bisa mendengar perkataan mereka.
"aish! Kau ini! Wonwoo mana mungkin marah! Dia adalah teman lama Wonwoo, eonni-mu itu pasti senang kembali dihubungi teman lamanya! Sudah anak kecil diam saja!" nyonya Jeon menegur putrinya yang menurutnya kurang sopan tersebut.
"ish! Yasudah! Kalau eonni marah bukan salahku!" jungkook tidak peduli lagi. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, dari awal ia tidak akan capek memikirkan alasan untuk berbohong. Menambah dosaku saja, batin Jungkook.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Wonwoo dan alamat rumah, serta alamat kantor tempat gadis itu bekerja, Mingyu segera undur diri dengan alasan masih ada pekerjaan.
Lagi-lagi ia berbohong. Padahal agendanya hari ini hanyalah beristirahat di dorm hingga esok hari. Alias libur.
Dengan secarik kertas ditangan berisikan alamat kantor tempat Wonwoo bekerja, Mingyu melangkah dengan girang menuju mobilnya diparkirkan.
Sudah pukul enam sore lebih sepuluh menit. Jam kerjanya sudah habis dari satu jam yang lalu, namun sekarang ia baru selesai membereskan barangnya agar dapat pulang ke rumah.
Wonwoo melangkahkan kakinya dengan gontai. Ia berjalan menyusuri lobby kantor dengan malas. Terlebih Ia baru ingat kalau mobilnya tadi pagi baru saja dimasukkan kedalam bengkel karena mogok. Jadilah Wonwoo harus menggunakan transportasi umum beberapa hari ini.
Baru meninggalkan gedung kantor beberapa ratus meter, Wonwoo merasa lengannya ditarik oleh seseorang. Ia dipaksa berjalan hingga masuk kedalam sebuah jalan kecil yang sempit dibelakang sebuah restaurant yang terpencil.
Wonwoo rasanya ingin berteriak minta tolong, namun entah mengapa lidahnya terasa kelu. Tangannya dingin, kakinya pun gemetar. Langit sore mulai gelap berwarna biru tua. Wonwoo takut sesuatu yang buruk menimpa dirinya.
Namun hal yang ia takutkan tidak terwujud tatkala orang yang menariknya, seorang pria yang menggunakan hoodie hitam itu membuka topi dan masker wajahnya.
"K-Kim Mingyu?!"
TBC
Halo halooo…. Kukembali membawakan update ff nista ini.. hehehe
Oia sebelumnyaa…
GONG XI FA CHAI, XIN NIAN KUAI LE, WAN SHI RUYI.
selamat tahun baru Cina untuk semua yang merayakan (termasuk aku.. hehehe) semoga ditahun baru cina ini semua angan-angan dan cita-cita kalian terpenuhi ya. Amin. Smoga dapet banyak angpao juga. Hahaha.
Sebenarnya kemarin malem aku udah mau apdet ff ini. Udah sempet ku post juga. Pasti ada beberapa yang liat notifnya. Tapi ga lama aku apus lagi karena sadar ada kesalahan. Setelah kuperbaiki, Jadi baru bisa update sekarang. Huhuhu..
Oia mumpung lagi mood, aku mau jawabin beberapa pertanyaan dari para reviewers yang kucintah.
Msmiya : thanks dear, your comment also made my day far so betterrr
Mbee99 : ya smoga kita ama bias kita masing-masing bisa di pdkt-in. (ih tapi aku mah udh di pdkt-in ama orang yang aku taksir aja udah seneng banget loh.. hehe)
Nikeisha Farras : ebuset. Ngebet banget bu? Hehehe sabar atuh neng, smua ada prosesnya biar mantaf :D
Chypertae : IYA SAMA AKU JUGA. NEED MOMENT.
Jeononu : *uhuy sesame jombs* ah makasi loh komenanmu bikin aku tambah niat lanjutin nih ff.
Awmeanie : ahh makasih dearrr…
Zizisvt : seriously, your comment just made my day. I just can't stop smiling after reading your comment :D tapi sayangnya aku bukan training jadi artis tuh :((( (pengennya sih, biar dicasting ama SM ato Pledis gitu yak) aku lagi training di sebuah hotel di sebuah daerah di Jakarta. Yah, sebut saja hotel 'S' wkwkwkw
Xiayuweiliu : iya gyu, nyebut. Eh tapi da aku mah suka kalo Mingyu nya agresip. *uhuy
DevilPrince : hmmm gimana yaa. Enaknya gimanaaa?
Merli Kim : iya loh seriusan. Mau segemerlap apapun diluar sana, kita pada akhirnya pasti kembali pulang (pada yang maha kuasa *eh) pada orang yang bikin kita nyaman dan jadi diri sendiri. ah, iya say. aku udah sempet update ini semalem, tapi kuapus lagi..
Segitu dulu ya answer nyaaa.. sekali lagi kuucapin banyak terima kasih kepada kalian yang udah mau read, favorite, follow, apalagi review ff ku yang pemula serta abal-abal nan pasaran ini.
Maap gabisa disebutin satu-satu, karena mata juga udah tinggal 5 watt.
Aku juga selalu mengharapkan review dari kalian. Boleh yang mengkritik, yang memberi saran, memberi pertanyaan, apapun. Aku terbuka untuk semua jenis review dari segi manapun.
THANK YOU AND SEE YOU NEXT CHAPTER…
