Author : Back update! Anoo... Alurnya kecepetan ya? Hieee? *pundung*. Hehehe sebenernya alurnya memang author percepat sih, karena dari awal author gak berniat untuk bikin story ini lebih dari 10 chapter... Maaf ya kalau kurang berkenan. Oh, ya cuma sekilas inti cerita aja, disini author ingin menggambarkan kalau rasa cinta itu bisa muncul secara tiba-tiba tanpa terduga, seperti Sakura yang langsung mengalami love at first sight ke Sai tanpa bisa dia kontrol. Dan ini juga peringatan buat para cowok jangan pernah membiarkan ceweknya kesepian huehuehue, cewek yang kesepian bakalan lebih gampang jatuh cinta ke orang lain ck ck ck.

Sasuke : Kok elo malah khotbah disini?.

Author : Iya juga ya? *Garuk-garuk pala*.

Sai : Pengalaman ye?

Author : Err... Whatever... Nah semoga chapter ini bisa berkenan, please enjoy it, and sorry for my bad typos and words.

Warning : T rate, banyak galaunya.

Pairing : SasukeXSakuraXSai/ Slight SaiXIno.

Disclaimer : I do not own Naruto cs, Masashi Kishimoto yang punya.


7 Days Under The Moon

Chapter 4

(I know I love you)

.

.

"Hah… Hah… Hah… Nona Sakura, ini sudah pagi!" Ino berteriak sepanjang lorong menuju kamar Sakura, " Selamat pagi nona Sakura!" sambungnya lagi sambil membuka pintu kamar Sakura, tapi betapa terkejutnya dia melihat sang nona sudah rapih dan kini sedang menyisir rambutnya.

"Selamat pagi Ino!" sapa Sakura dengan riang.

"Apa ini? Aku sudah capek-capek lari kemari, ternyata nona Sakura sudah bangun!" keluh Ino agak kecewa, tadinya dia pikir kalau dia bisa sedikit menggoda nona-nya tadi.

"Tee-hee… Kau perlu bangun lebih awal hari ini untuk membangunkanku Ino!" jawab Sakura sambil tersenyum nakal.

.

TOK… TOK… TOK! Terdengar suara ketukan pintu dari luar.

"Nona Haruno" panggil sang pengetuk pintu.

"Ah, itu pasti Sai!" kata Sakura cepat yang langsung segera berlari membukakan pintu dengan semangat.

"Selamat pagi, nona Haruno." Sapa Sai begitu bertemu Sakura, sambil memberikan seutas senyum tipis.

"Sai, kau datang!" tanpa terduga Sakura memeluk cowok itu dengan setengah melompat, Sai yang tak menduga hal tersebut sempat gelagapan.

"Te-tenu saja nona Haruno, saya sudah berjanji pada anda, kan?" balas Sai yang akhirnya bisa mengkontrol diri dan melepaskan pelukan Sakura darinya.

"Baiklah, Ino aku pergi dulu ya! Ayo kita pergi Sai!" kata Sakura sambil melambaikan tangan kepada Ino, dan dengan cepat dia segera merangkul lengan pemuda tersebut membawanya pergi.


Keduanya berjalan mengelilingi mansion, sesuai dengan janji Sai yang akan mengajak Sakura berkeliling pagi ini. Dan sepanjang jalan Sakura terus saja menempel pada Sai, hal ini tentu menjadi perhatian beberapa orang disana, bahkan sampai ada yang berbisik-bisik. Sai bukannya tidak mendengar, tapi dia mencoba bersikap cuek, lagipula menurutnya dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Mengajak tunangan dari tuan muda Sasuke bukan sesuatu hal yang berdosa, kan? Tapi apakah benar dia tidak menginginkan sesuatu yang lain? Apa ini bukan suatu alasan yang dia buat agar bisa bersama Sakura?, dengan cepat Sai menepis pikiran itu.

"Wah, bagus sekali!" teriakan Sakura tadi menyadarkan Sai dari pikiran-pikiran yang sempat berkecamuk di dalam hatinya

"Ah… Ruangan ini adalah galeri kecil milik keluarga Uchiha" jawab Sai menjelaskan ruangan yang sedang mereka masuki.

"Hebat, kau tau aku menyukai lukisan. Dan siapa yang melukis semua ini?" tanya Sakura sambil berjalan mendekati lukisan anak-anak kecil yang tengah bermain di bawah pohon Sakura. "Yang jelas, pasti bukan Sasuke yang membuat ini semua!" sambungnya lagi sambil mengingat cowok dingin tersebut dengan wajah yang bertanduk.

"Tuan Fugaku dan saya yang membuat ini" jawab Sai sambil menerawang ke semua lukisan yang ada disana.

"Hahahaha, sudah kuduga sebelumnya!" balas Sakura yang sepertinya puas dengan jawaban Sai.

"Kau tau, Sasuke selalu saja marah-marah setiap kali aku memintanya untuk belajar melukis. Dia bahkan tidak mau melakukannya meskipun itu untukku, calon istrinya!" ucap Sakura sambil bercerita dengan nada setengah kesal, sampai-sampai alisnya bertaut.

"Anda tidak boleh seperti itu nona Haruno, tuan muda Sasuke bukannya tidak mau, melainkan karena dia sibuk", ucap Sai sambil meletakkan beberapa lukisan yang tergeletak di bawah lantai ke dinding yang kosong.

"Tapi… Apakah aku salah… Apakah salah kalau aku memintanya untuk melakukan hal yang kusuka? Dia selalu saja beralasan tidak ada waktu untukku… Sedikit saja… Sedikit saja aku minta dia bisa mengerti dan memberikan waktunya yang sedikit itu untuknya… Terkadang aku berpikir apakah Sasuke benar-benar kekasihku? Kau tau, setiap Sasuke memintaku untuk melakukan perintahnya pasti kulakukan... Tapi... " Sakura bercerita sampai tak terasa matanya meneteskan air mata.

"Nona Haruno… " melihat Sakura bersedih seperti itu, entah mengapa membuat dadanya ikut terasa sesak, dia seperti ikut merasakan apa yang dirasakan Sakura saat ini.

"A-ah… Kurasa aku sudah terlalu banyak mengeluh, Maaf yah Sai… Sekarang kau pasti berpikir aku ini menyebalkan!" kata Sakura begitu menyadari kalau dia sudah terlalu banyak bicara, dia juga tidak tau kenapa saat bersama dengan Sai, dia dapat dengan mudah mengungkapkan semua beban pikirannya, hal ini berbeda bila dia sedang bersama Sasuke, karena cowok itu selalu saja marah-marah tiap kali dia bercerita, benar-benar egois.

"Tidak apa-apa, anda bisa bercerita kapan saja… Saya akan mendengarkan setiap cerita dan keluhan anda… Jadi jangan menangis lagi", ucap Sai sambil menyeka air mata yang membasahi pipi Sakura dengan tangannya yang pucat.

"Terima kasih… Sai" balas Sakura sambil menatap sosok pemuda dihadapannya itu dengan tatapan lembut. Suatu perasaan nyaman hinggap dihatinya saat Sai memperlakukannya seperti ini, perlakuan yang selama ini dia inginkan dari pria yang dia cintai.

.

.

"Hei, rupanya kalian berdua disini?" sapa seorang pemuda berambut panjang yang membiarkan rambutnya terurai lepas.

"Itachi-nii, kapan pulang?" tanya Sai yang terkejut begitu melihat Itachi sudah berdiri di depan pintu ruangan sambil bersandar.

"Baru saja, dan aku langsung mencari kalian" ucap Itachi sambil menatap Sakura dengan tajam.

"Selamat pagi Itachi" kata Sakura sedikit berbasa-basi pada Itachi yang entah mengapa rasanya saat ini dia seperti orang yang kesal.

"Sai, kau dipanggil ayah. Sepertinya ada urusan yang sangat penting" kata Itachi tanpa membalas sapaan dari Sakura.

"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu nona Haruno. Terima kasih Itachi-nii sudah memberitahu" jawab Sai yang dengan sopannya berpamitan kepada Sakura dan Itachi.

.

"Saya juga permisi dulu" kata Sakura tak lama setelah Sai pergi, dia merasa agak sungkan dengan Itachi dan ekspresi yang terlihat diwajahnya kini.

"Tunggu dulu Sakura, aku ingin bicara" Itachi dengan cepat menahan tangan Sakura dan memaksa gadis itu untuk masuk kembali ke dalam ruangan.

"Mau bicara apa Itachi-san?" tanya Sakura sedikit khawatir, apa Itachi melihat kejadian tadi? Apakah Itachi dapat melihat kejanggalan yang ditunjukkannya kepada Sai? Hatinya terus bertanya-tanya.

"Sakura… Apa kau mencintai Sai?" tanya Itachi secara tak terduga, membuat jantung gadis itu berdebar sangat keras.

"Ke-kenapa tanya seperti itu secara tiba-tiba?" tanya Sakura balik, sambil menahan hatinya yang bergejolak dengan pertanyaan Itachi.

"Kau tau Sakura… Meskipun Sai bukanlah keluarga asli Uchiha, tapi aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Sama seperti Sasuke. Dia anak yang baik dan memiliki bakat, jadi aku tidak mau dia terkena skandal ataupun masalah, kau mengerti maksudku, kan. Sakura?" kata Itachi menjelaskan tanpa melepaskan tatapan tajamnya dari Sakura, dan dari kalimat itu seperti ada suatu ancaman.

"Itachi-san, aku benar-benar tidak mengerti apa alasannya kau berbicara seperti itu padaku" balas Sakura berusaha tenang, walaupun sebenarnya dia ingin sekali mencabik-cabik sosok pemuda didepannya ini.

"Aku yakin kalau kau mengerti, dan mulai sekarang ku minta jauhi Sai… Jangan terlalu dekat dengannya" balas Itachi sambil memberikan sebuah sunggingan senyum yang menyebalkan.

"Aku tau itu, permisi!" dengan kasar Sakura mendorong tubuh Itachi dan segera pergi keluar.


Sakura yang hendak kembali ke kamarnya bertemu dengan Fugaku dan Sai yang sepertinya ingin pergi keluar mansion.

"Selamat pagi Fugaku-san" sapa Sakura kepada pria yang merupakan ayah dari Itachi dan Sasuke.

"Selamat pagi juga Sakura. Kau tidak menyapa Sai?" tanya Fugaku yang melihat Sakura tidak memberikan sapaan pada Sai.

"Kami sudah bertemu tadi pagi Fugaku-san" balas Sai cepat sebelum Sakura sempat memberi penjelasan.

"Oh, begitu ya? Hahahaha, bagus-bagus sekali! Ayah senang sekali mendegarnya, berarti kalian sudah akrab. Memang harusnya seperti itu, karena kelak kalian akan menjadi satu keluarga, hahahaha" ucap Fugaku sambil tertawa, kelihatannya dia sangat senang sekali melihat calon menantunya bisa akrab dengan Sai.

"Begitulah… Oh, ya Fugaku-san mau pergi kemana?" tanya Sakura berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

"Saya ada urusan kerjasama dengan keluarga Hyuuga, ada beberapa kontrak kerjasama yang masih harus di diskusikan".

"Sai… Juga ikut?" Sakura memberanikan diri untuk bertanya dengan raut wajah yang seperti tidak rela membiarkan cowok itu pergi.

"Ya, tentu saja dia ikut! Saya membutuhkannya, dia anak yang hebat, hahahaha" jawab Fugaku sambil menepuk punggung Sai.

"Kalau begitu selamat jalan, Fugaku-san, Sai…".

"Sakura… Bisa katakan pada Shizune kalau saya dan Sai mungkin tidak akan pulang malam ini".

"Baiklah, akan saya sampaikan".

"Kami berangkat dulu, nona Haruno" dengan sebuah senyuman Sai berpamitan pada Sakura.


Malamnya, Sakura kembali tidak bisa tidur. Dia sudah mencoba untuk memejamkan matanya tapi tak berhasil. Kata-kata Itachi pagi tadi benar-benar merasuk ke dalam otaknya.

"Kau tau Sakura… Meskipun Sai bukanlah keluarga asli Uchiha, tapi aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Sama seperti Sasuke. Dia anak yang baik dan memiliki bakat, jadi aku tidak mau dia terkena skandal ataupun masalah, kau mengerti maksudku, kan. Sakura?".

"Jadi mulai sekarang jauhi Sai… Jangan terlalu dekat dengannya".

Sakura sangat mengerti apa yang dikatakan Itachi kepadanya, tapi hatinya seperti menolak semua kenyataan itu. Dia juga tidak tau, perasaan itu muncul begitu saja. Apakah mencintai seseorang bisa begitu mudahnya seperti yang saat ini sedang dia alami. Sai begitu baik dan tulus padanya, dan dia sendiri juga terkejut kenapa setiap perlakuan dari Sai mampu membuat hatinya berdebar sangat kencang. Apakah hal ini disebabkan karena dia merindukan Sasuke? Apakah Sai hanyalah pelarian? Sakura benar-benar bingung dengan situasi yang dihadapinya saat ini. Belum lagi perkataan dari Fugaku-san yang ikut membuat pikirannya semakin keruh.

"Karena kelak kalian akan menjadi satu keluarga, hahahaha".

"Yang dikatakan Fugaku-san benar…" kata Sakura berbicara kepada dirinya sendiri, "yang dikatakan Itachi juga benar… Aku harus sudah mulai menjauhi Sai" sambungnya lagi dengan lirih sambil mengingatkan dirinya.

Tapi karena pikirannya yang tak bisa berkompromi, Sakura jadi benar-benar pusing dan benar-benar tidak bisa menikmati tidurnya.

'Aku butuh udara segar untuk menenangkan pikiranku' ucap Sakura dalam hati sambil memijit keningnya.

~o0o~

.

Sakura berjalan kembali keluar dari kamar, tanpa disadari kakinya melangkah ke tempat biasa Sai memainkan pianonya. Begitu tersadar, dirinya sudah berada di luar ruangan tersebut.

'Tanpa kusadari kakiku berjalan kemari…' Sakura berbicara sendiri didalam hati kecilnya yang kini tengah berperang untuk tidak masuk kedalam, tapi sepertinya tubuhnya bergerak tanpa dia sadari, dengan perlahan Sakura membuka pintu dan masuk kedalamnya.

Krieett...!

'Apa yang kupikirkan… Sai kan sedang pergi… ' batin Sakura berkata lirih, bisa-bisanya dia mengharapkan seseorang yang tidak seharusnya dia harapkan. Dengan langkah berat Sakura keluar dari ruangan itu dan menutup pintu ruangan dengan pelan.

"Anda mencari saya, nona Haruno?" sapa sebuah suara yang saat ini memang sedang ingin didengar Sakura.

"Sai!" Sakura sangat terkejut begitu melihat sosok pemuda yang ingin ditemuinya sudah berada dihadapannya saat ini.

"Ti-tidak juga… Kau tau kan, akhir-akhir ini aku tidak bisa tidur, ja-jadi aku pergi jalan-jalan dan tanpa kusadari kakiku melangkah kemari" ucap Sakura menjadi tegang.

"Begitukah?" tanya Sai datar, tapi entah mengapa sekilas terlihat raut kekecewaan yang tergambar diwajah pucat Sai. Apakah Sai kecewa dengan alasan yang diberikan Sakura?.

"Lu-lupakan itu! Kenapa kau sudah kembali? Bukankah Fugaku-san bilang kalian tidak akan kembali malam ini?" tanya Sakura memilih untuk membahas yang lain.

"Oh… Pekerjaan yang kami lakukan di rumah Hyuuga ternyata lebih cepat dari dugaan. Fugaku-san juga langsung istirahat setelah kembali dari sana", jawab Sai menjelaskan sambil membuka pintu ruangan tersebut kembali.

"Lalu… Kenapa kau tidak istirahat Sai? Kenapa kau malah kemari?" tanya Sakura yang ikut masuk mengikuti langkah Sai yang kini sedang berdiri di depan piano yang sering dia mainkan.

"Kupikir, nona Haruno akan merindukanku dan mencariku disini" jawab Sai sambil tersenyum. Sakura kembali merasakan untuk yang kesekian kalinya jantungnya berdetak cepat dan pipinya memanas begitu melihat senyum Sai yang begitu menawan, ditambah sinar rembulan yang masuk menerangi wajah pucat pemuda itu. Mau tak mau Sakura jadi salah tingkah dibuatnya.

"Ini hanya kebetulan Sai!" balas Sakura cepat sambil mengalihkan pandangannya dari Sai, dia tidak ingin semburat rona yang muncul diwajahnya terlihat oleh Sai.

"Sayang sekali… Padahal aku ingin sekali nona Haruno benar-benar merindukanku" ucap Sai setengah tertawa kecil.

"Jangan terus-terusan menggodaku Sai!" ucap Sakura galak, meski terdengar galak, hati kecilnya bertanya-tanya, apakah yang dikatakan Sai barusan sungguh-sungguh? Atau itu hanya sebuah candaan saja.

"Baiklah, karena kita berdua sudah terlanjur ada disini, saya akan memainkan sebuah lagu untuk anda" kata Sai yang sekarang sudah duduk dan bersiap untuk memainkan pianonya malam ini. Sakura secara spontan ikut duduk dan mendengarkan setiap dentingan melodi yang dimainkan Sai.

Malam ini keduanya kembali menghabiskan waktu bersama, biarlah waktu yang menjelaskan dan memberi jawaban atas semua perasaan yang dirasakan Sakura saat ini. Untuk sesaat dia bisa melupakan beban pikiran yang dari tadi terus berkutat diotaknya dan dia bisa melepas semua beban itu hanya dengan berada dekat dengan Sai. Pemuda yang tanpa dia duga mampu menarik perhatiannya sejak awal mereka bertemu. Yang akan terjadi, terjadilah nanti, yang penting saat ini dia bisa duduk bersama dengan orang yang dia sukai.

TBC...


Author : Sasuke cepat pulang, Sakura mau dirampok sama Sai tuh! *Nunjuk Sai lagi berduaan sama Sakura*.

Sasuke : *Dateng siapin chidori*.

Author : Wih, Sasuke galak bener nih! Oh, ya skor untuk SasuSaku (2), SaiSaku (3).

Sasuke : Cih, gue kok bisa kalah skor!.

Sai : Sabar ya *senyum nista*.

Sakura : Untuk apa point itu?.

Author : Point itu akan menentukan nasibmu Sakura! Author udah siapin alternate ending buat Sakura selain main ending, jadi yang mau dukung pilihannya kirim reviewsnya! Coblos pasangan favorite kalian! Dan chapter depan mungkin akan author tambahkan sedikit konflik. Yang mau kasih saran lagi dan kritik silahkan. Di chapter ini author sudah berusaha memperbaiki alurnya biar gak kecepetan... Tapi sesuai judul, nasib cinta Sakura akan berakhir pada malam ke tujuh, dan kalian yang memutuskan kekekekeke *ketawa laknat*. Kalau begitu saya pamit! Terima kasih yang udah baca.

.

.

HAPPY READ ^_^V.