wAHAAAAAA...nGERUBAH genre lagi. bener2 gak punyapendirian. Mav ya reader. Maav buat segalanya. hiks..hiks...
Okeh, selamat membaca dan semoga menghibur. Semoga typosemakinberkurang. Terima kasih untuk semua ripyu..
Summary : Jangan pernah menangisi takdir. Karena sekalipun air matamu menjadi darah, takdir tidak akan pernah berubah…
Discalimer : Tite Kubo. Sumpah deh, kalo Bleach milikku, Ulquiorra tak perlu mati. Apa lagi dengan cara kejam begitu.
Warning : AU (tidak ada Espada atau pun Shinigami), OOC, abal, typo, gaje, nista.. Jika terjadi kebetean tidak ditanggung.-plakk-
Rate : T
Pair : UlquiHime (so pasti), GrimmNel (slight, beneran dikiitt banget..*digampar bolak balik sama grimmnel fc*).
APARTEMEN PUTIH
BY
RELYA SCHIFFER
Pagi hari ini, Orihime dipanggil ke ruangan kepala apartemen. Dia tahu, pasti akan diberikan nasehat-nasehat lagi. Padahal ia ingin bermain-main di dekat danau pelangi. Apalagi setelah 'stay to heaven' kondisi Ulquiorra kelihatan lebih baik.
Setelah urusannya selesai, pemilik rambut orange panjang itu pun langsung menuju taman yang lokasinya dekat dengan danau pelangi. Sebutan ini diberikan Orihime lantaran ia melihat pelangi pertama sejak menghuni apartemen ini, melengkung di atas danau luas itu. Seperti menjadi perisai warna bagi danau berair jernih itu. Setibanya Orihime di tempat yang ia tuju, matanya mencari-cari sosok yang ingin ia temui. Rambut hitam..kulit pucat..mata emerald.. Ada dimana dia sekarang? Sekali lagi permata kelabu itu mencermati setiap jengkal taman. Tapi orang yang dicarinya tetap tidak ada. Ini aneh. Biasanya dia selalu ada disini di jam-jam seperti sekarang. Mungkin masih di kamar, pikir Orihime.
Tanpa membuang waktu gadis manis itu segera menuju tempat yang akhir-akhir ini tak pernah lepas dari 'invasi'nya. Namun sesampainya di tempat itu, ia agak heran. Kenapa tirai jendela kamar Ulquiorra masih tetutup?
Tok! Tok! Tok!
Orihime mengetuk pintu. Tapi tak ada sahutan. Jangan-jangan Ulquiorra tidak ada di dalam? Ah, rasanya tidak mungkin! Dia sudah berjanji akan menunggu ku di tempat biasa, Orihime membuang jauh-jauh prasangka buruknya.
Tok! Tok! Tok!
Orihime kembali mengetuk pintu. Kali ini diiringi panggilan.
"Ulquiorra?"
Sunyi. Masih tak ada sahutan, membuat gadis manis itu memutuskan untuk mengetuk sekali lagi. Ini yang terakhir. Jika masih tak ada yang menyahut, berarti memang harus didobrak paksa. Hei,hei…Orihime…Kau bukan rampok, kan? Orihime tersenyum kecil mengingat bisikan-bisikan aneh di kepalanya itu.
Tok! Tok! Tok!
"Ulquiorra… Aku masuk, ya?" ucap Orihime saat panggilannya lagi-lagi tak disahuti. Ia yakin bahwa suaranya sudah cukup memberi peringatan bagi pemilik kamar bahwa 'tamu' yang masih berdiri di luar ini sudah tak sabar menunggu. Tangan mungilnya pun meraih handle pintu dan memutarnya perlahan.
Cklik!
Pintu langsung terbuka. Orihime tertegun sejenak. Kamar Ulquiorra rapi, tak ada tanda- tanda aneh. Tapi dimana pemiliknya? Apa memang tidak ada di dalam?
"Ulquiorra?" Orihime merasa hari ini adalah hari terbanyak ia memanggil nama itu. Langkah kakinya bergerak tanpa ragu memasuki ruangan. Setelah menutup pintu, matanya berkeliling ke seluruh sudut. Tiba-tiba ia tersenyum kecil disusul dengan helaan nafas lega yang meluncur dari bibirnya.
Ternyata, sosok itu ada di sana. Di salah satu sudut ruangan yang menghadap danau pelangi. Dia terdiam sambil menatap danau itu dari balik jendela kamar dengan membelakangi Orihime.
"Ulquiorra? Kamu kenapa?" tegur Orihime.
Ulquiorra tak menjawab. Hanya melirik sejenak dari bahunya, kemudian berpaling lagi. Melihat tingkah pemuda itu yang agak aneh, Orihime pun langsung menghampirinya. Ia berdiri tepat di sebelah Ulquiorra dan mengamati wajah tampan yang pucat itu dengan seksama. Kening Orihime berkerut heran. Aneh. Ulquiorra kenapa? Kenapa wajahnya pias begitu? Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah ada kejadian buruk yang menimpanya?, deretan pertanyaan melintas di benak Orihime.
"Ulquiorra, kamu kenapa?" untuk yang kesekian kalinya gadis itu mengulang pertanyaannya beberapa saat yang lalu. "Ada apa? Kalau ada masalah, ceritakan saja padaku. Kamu kan tahu, memendam perasaan itu tidak baik bagi kesehatan." bujuknya.
Ulquiorra masih bersikap acuh. Tatapannya menyorot tajam, menghujam permukaan danau pelangi yang hari ini meriak cukup deras. Ada sesuatu yang membuat ia berubah drastis seperti ini. Memang sih, Ulquiorra itu tipe orang yang pendiam. Terhadap Orihime pun ia tak segan-segan bersikap dingin. Tapi kediaman pemilik mata emarald itu kali ini terasa janggal. Apalagi bagi Orihime yang terus mengamatinya.
"Ulquiorra…" panggil Orihime lagi. Dia tidak akan mengalah. Dia tidak akan membiarkan sosok ini tenggelam lagi oleh kegelapan yang ia ciptakan sendiri.
Kali ini usaha Orihime membuahkan hasil. Ulquiorra bereaksi. Masih dengan membungkam mulutnya, pemuda berambut hitam itu beralih. Ia meraih secarik kertas yang tergeletak di atas meja. Diberikannya kertas berukuran sedang itu kepada Orihime. Mata emeraldnya masih mengabaikan sosok gadis berambut panjang yang masih menatapnya.
Merasa penasaran, Orihime segera menerima kertas yang baru saja diberikan Ulquiorra. Seperinya sebuah surat pemberitahuan. Ia pun membaca kop surat tersebut. Dan sepasang mata indahnya langsung terpaku pada stempel laboratorium yang terdapat di sisi kanan atas kertas itu. Sebenarnya Orihime sudah tahu isi surat itu, tapi tetap dibacanya juga benda yang telah menimbulkan perubahan pada Ulquiorra itu. Seulas senyum tipis terukir di wajah gadis bermata abu-abu itu.
"Oh, ini…"desisnya pelan. " Jadi kamu dapat juga. Isinya pun sama seperti aku. Tak terselamatkan…" sambil berkata begitu Orihime mengeluarkan sesuatu dari balik saku bajunya.
"Nih, mau lihat milikku?" ia menawarkan, hanya sekedar berbasa-basi.
Reaksi dari Ulquiorra sudah bisa ditebak. Pemuda itu mendesah berat. Matanya yang menyorot sendu menatap sosok di sebelahnya itu dengan tajam.
"Kenapa kau tersenyum?" cecarnya dingin.
Orihime terdiam. Masih dengan senyuman di wajah cantiknya yang sekarang menjadi lebih tirus karena berat badannya yang kian menurun.
" Kenapa kamu bertingkah seolah semuanya baik-baik saja? Kenapa kamu bersikap seperti masih bisa hidup seribu tahun lagi? Kenapa kamu masih terus bersenang-senang sementara kematian sedang mengintai mu?" tanpa Ulquiorra sadari, suaranya meningkat tiap kali pertanyaannya tak mendapatkan jawaban. Dia benar-benar tak peduli pada siapa ia melampiaskan protesnya. Takdir yang telah menjatuhkan vonis padanya, tapi gadis manis ceria ini yang menjadi pelampiasan. Egois memang, namun Ulquiorra tak peduli. Semua perasaan negatif yang terpendam di hatinya sudah tak tertahankan lagi.
Orihime tetap tersenyum sekalipun Ulquiorra kelihatan sangat marah. Bukan itu yang membuatnya khawatir. Kekecewaan di mata pemuda itu lah yang membuat gadis itu terenyuh. Namun bukan Orihime namanya jika tak mampu mengendalikan suasana. Dengan gerakan lincah, gadis berambut sewarna dengan senja itu duduk di ranjang Ulquiorra. Mata bulatnya memandangi sosok yang sedang mengepalkan tangan erat-erat itu.
"Lantas kenapa kamu marah pada ku, Ulquiorra?"
Sebuah pertanyaan yang sangat telak. Fokus Ulquiorra kembali menyatu. Keringat di dahinya meluncur cepat dan menetes di ujung dagunya. Pemuda itu bisa merasakan pelipisnya yang berdenyut keras, seiring dengan irama detak jantungnya yang meningkat. Jadi inikah yang dinamakan emosi? Kemarahan? Kekecewaan yang membuatnya tak bisa menerima kenyataan. Dia tak bisa menerima ini. Benar-benar tak bisa!
"Apa kamu pikir dengan marah-marah seperti itu kamu akan sembuh? Apa kamu pikir dengan melayangkan protes pada ku penyakit itu bisa pergi dari tubuh mu?" Orihime sedikit memiringkan kepalanya sambil menatap Ulquiorra, terkesan meremehkan.
"Jika memang bisa, tak hanya kamu, bahkan akan ku minta penghuni disini untuk melakukan apa yang baru saja kamu lakukan pada ku. Agar mereka tak perlu menderita. Agar orang-orang yang menyayangi mereka tak perlu merasakan kehilangan." tatapan gadis manis itu menajam untuk beberapa detik, lalu berubah sendu di saat ia melanjutkan kata-katanya.
"Tapi aku tidak bisa... Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa menolong siapa pun, termasuk diri ku sendiri.." imbuhnya lemah.
Ulquiorra masih tak bergeming. Genggaman tangannya tampak gemetar pertanda emosinya hampir meledak.
"Dan maaf saja, Ulquiorra... Meski kenyataan ini sangat pahit untuk dipercaya, tapi aku tidak sudi untuk meratapi nasib. Waktu tidak akan mungkin kembali. Jadi aku tidak mau menyia-nyiakan waktu ku yang tersisa demi kemelankolisan diriku sendiri." Orihime menatap sepasang emerald Ulquiorra yang tampak sangat terluka dengan penuh keyakinan. "Jangan pernah menangisi takdir. Karena sekalipun air matamu menjadi darah, takdir tidak akan pernah berubah…" tegasnya.
Ulquiorra tampak terperangah mendengar kalimat terakhir itu. Orihime sendiri masih bertahan dengan dalam hati dia membenarkan semua kata-kata pemuda itu. Siapa pun yang masuk ke apartemen putih ini bisa dipastikan sudah tak punya harapan hidup lagi. Sejatinya, apartemen putih ini adalah rumah sakit khusus bagi penderita kanker. 'Tiket' itu pun merupakan vonis terakhir yang kebanyakan bertuliskan tak terselaamatkan bagi penerimanya. Inilah tempat tinggal mewah bagi penderita kanker yang terus berusaha untuk menghadapi hidup sebelum nafas benar-benar berhenti. Sebuah kamuflase? Mungkin benar. Dan mungkin juga keceriaan Orihime adalah cara pribadinya untuk menghadapi kamuflase itu.
Hening yang terbangun diantara dua sosok yang masih bertatapan itu terusik oleh gerakan Orihime. Gadis manis itu menuruni ranjang putih yang sempat ia duduki. Sekarang Orihime berdiri lima langkah dari Ulquiorra. Ia bisa melihat jelas tatapan apa yang menyorot di mata pemuda berambut hitam itu. Ia juga bisa melihat dengan jelas ada setetes cairan yang mengalir di wajah tampan itu, sekalipun wajah tersebut masih berusaha untuk tampak sedatar mungkin. Orihime tahu, bahwa kali ini ia berhadapan dengan sosok yang terguncang namun berusaha memendam perasaan itu sendirian. Tak ingin berbagi, karena takut untukdikhianati (lagi).
Akhirnya, Ulquiorra mengalah. Dia kalah dari tatapan gadis yang berdiri tegak di hadapannya. Gadis remaja yang sangat tegar dan mencairkan kebekuan di hatinya. Entah sejak kapan, Ulquiorra telah melupakan caranya memasang ekspresi dataryang membuat tak seorang pun mampu menebak isi pikirannya. Pemuda bermata emerald itu mulai merasakan tetesan yang membasahi wajahnya semakin banyak. Ia bahkan tak menyadari bahwa isakan kecilnya mulai terdengar. Yang ia sadari hanyalah tubuhnya yang tiba-tiba melemah dan terjatuh di lantai dengan kepala yangterkulai lemah di atas kedua lututnya yang menekuk. Ulquiorra tersudut, terdesak oleh kelemahannya sendiri yang berhasil diungkap Orihime. Membuatnya dengan mudah meneteskan air mata lebih banyak lagi, sesuatu yang sangat memalukan bagi seorang laki-laki. Wajah tampannya kini benar-benar berantakan dengan tetesanbening yang tercecer disana, bahkan ada beberapa tetes yang jatuh ke lantai.
Orihime bergerak pelan, menghampiri sosok itu. Tangisan dan air matanya menggetarkan batin Orihime. Membuatnya semakin inginagar waktunya bisa diperpanjang. Dia tak ingin meninggalkan sosok itu dengan segala kepedihan yang tak bisa sditanggungnya sendiri. Baru kali ini, Orihime memahami arti kata egois. Ya, karena egonya membuat pemilik rambut orange panjang itu tak ingin pergi kemana-mana dan tetap menemani sosok itu. Tetap bersama Ulquiorra...
"Ulquiorra..." panggil Orihime pelan seraya duduk di hadapan Ulquiorra yang masih menunduk. " Aku ada disini, Ulquiorra. Kamu tidak sendirian karena aku selalu ada disini. Kamu bisa lihat sendiri, kan? Aku-" suara Orihime terputus ketika satu lengan yang kuat meraihnya. Merengkuhnya dengan sekuat tenaga.
Orihime terhempas dalam pelukan erat yang dengan mudah melingkupi tubuh mungilnya. Dia sedikit kaget karena Ulquiorra tiba-tiba memeluknya. Sebuah pelukan yang sangat erat sampai-sampai nafasnya sesak. Sebuah pelukan yang mengandung pesan tersirat bahwa Ulquiorra tak ingin lagi kehilangan. Dan itu membuat Orihime bahagia. Gadis manis itu tersenyum di dalam pelukan yang terasa hangat baginya. Ia memejamkan mata kelabunya. Perlahan, Orihime mengusap punggung Ulquiorra dengan tangan mungilnya. Orihime tek ingin mengatakan apapun. Dia hanya ingin membuat Ulquiorra tenang. Dia ingin pemudabermata emerald indah itu melepaskan semua beban yang selama ini ditanggungnya.
"Kamu akan berjuang, Ulquiorra... Bersama semua penghuni apartemen putih.. Bersama ku... Kita tidak akan menyerah hanya karena kertas itu.." bisik Orihime pelan.
Mendengar bisikan itu, isakan Ulquiorra mereda. Sesaat kemudian hilang sama sekali. Nafasnya yang sebelumnya kacau pun mulai beraturan dan normal kembali. Dia melepaskan pelukanny dan menatap Orihime yang sedang tersenyum. Sebuah senyuman yang mempu menghentikan semua gerakan yang sanggup ia lakukan pada gadis manis itu. Mungkin mendorongnya dan mengusirnya seperti saat mereka pertama kali bertemu? Tapi kenyataannya, Ulquiorra malah terdiam. Dia masih terpaku ketika jemari lentik Orihime menyapu bersih air mata di wajahnya.
Ulquiorra tak mengerti. Dia benar-benar tak bisa berpikir dengan baik. Kenapa? Kenapa sosok mungil ini tampak begitu kuat? Kenapa gadis ini bisa tersenyum manis? Kenapa pemilik rambut orange senja ini mampu melakukan semua yang Ulquiorra sebagai laki-laki tak mampu melakukannya? Kenapa mata itu terus berbinar dengan semu harapan yang nantinya akan terputus seiring dengan nafas yang terhenti? Dan yang terpenting...kenapa Ulquiorra selalu bisa tenang hanya karena mendengar suaranya? Kenapa?
"Kamu adalah orang yang kuat, Ulquiorra... Aku yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini!" sepasang mata kelabu itu menatap sepasang mata emerald yang masih berkaca-kaca."Iya,kan? Benar, kan?"
Tak ada sahutan. Setelah sekian detik berlalu dengan keheningan, akhirnya Orihime bisa mendengar jawaban dari Ulquiorra saat pemuda itu menjawab sengan suara lirih.
"Hanya...jika bersama dengan mu, Orihime..."
Tak ayal lagi, kata-kata itu membuat Orihime sangat terkejut. Lebih terkejut lagi ketika tangan pucat itu terangkat dan memagari wajah. Sepasang mata emerald yang menyorot tajam membuat mata kelabu Orihime melebar. Jantungnya berdetak berpuluh kali lebih cepat, membuatnya lebih sulit bernafas. Tak cukup sampai disitu, Ulquiorra kembali menarik Orihime mendekat. Lebih dekat. Semakin dekat sampai tak ada lagi jarak diantara mereka. Bibirnya menyentuh bibir Orihime perlahan.
Puluhan kembang api seperti meledak di kepala Orihime saat menyadari sesuatu yang hangat dan lembut mengunci bibirnya. Dia tak bisa bergerak bukan hanya karena Ulquiorra terlalu erat memeluknya, tapi juga karena tenaganya yang tiba-tiba menghilang seketika. Ini adalah ciuman pertama Orihime, jadi ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Dan memang tak ada yang bisa dilakukan Orihime sekarang ini selain... membalasnya.
Sejak kejadian di kamar Ulquiorra kemarin lusa, Orihime dan penghuni baru yang baru menetap di apartemen putih beberapa hari yang lalu itu semakin akrab. Jujur saja, Orihime tak begitu mengerti kenapa Ulquiorra melakukan 'hal' itu kepadanya. Ia bingung dan tak bisa mengerti perasaan pemuda itu. Satu hal yang bisa membuatnya bersikap seperti biasa adalah menganggap kejadian itu adalah sebuah kebetulan. Ya, sebuah sikap yang lepas kendali. Ulquiorra pasti sedang terbawa suasana. Ya, pasti benar begitu. Tak ada maksud lain. Buktinya, Ulquiorra saja tak pernah lagi membahas soal itu. Dia tidak lagi tampak seputus-asa seperti saat pertama kali menerima 'tiket' itu. Sekalipun tetap pendiam, tapi ini sudah lebih cukup bagi Orihime. Lagi pula ada hal lain yang sedang mengusik pikiran gadis itu sekarang ini. Hal lain yang lebih penting.
Pagi ini setelah sarapan, Orihime kembali mengajak (lebih tepatnya memaksa) Ulquiorra bermain di pinggir danau pelangi. Sebuah kegiatan yang jelas-jelas dilarang petugas apartemen. Awalnya Ulquiorra tampak segan. Tapi kemudian sditurutinya jga kemauan aneh Orihime setelah gadis itu memaksanya sedemikian rupa.
Cuaca hari ini agak mendung. Danau pelangi meriak deras seiring dengan tiupan angin yang cukup keras. Rambut panjang Orihime tersibak dan menari dengan indah di belakang tubuhnya. Diatersenyum penuh semangat seperti biasanya. Ulquiorra masih membisu dengan kedua tangan bersedejap. Dia seperti tak peduli pada sekelilingnya, termasuk sosok Orihime yang jelas-jelas berdiri dihadapannya. Mata tajam emerald pemuda itu menatap lurus tanpa objek yang jelas.
"Bagaimana kondisi mu hari ini, Ulquiorra?" tanya Orihime membuka obrolan.
Belum ada sahutan. Tapi mata tajamkhas elang itu melirik sedikit ke arah sosok perempuan yang berdiri di tepi danau sambil merentangkantangan ke samping. Sepasang mata kelabunya terpejam. Begitu tampak bahwa ia sedang menikmati hembusan angin, menghirup udara, dan mendengarkan riak air. Atau dia juga sedang memanfaatkan waktunya yang sempit?
Cih...Ulquiorra mengutuk dirinyasendiri. Dia sangat ingin menjadi seperti Orihime. Yang selalu bisa ceria dan berkeliaran kesana kemari dengan riang. Membuat seluruh penghuni apatemen menjadi lebih hidup. Membaa manfaat bagi orang lain. Tapi kenyataannya, Ulquiorra sadar bahwa dia tidak mampu. Jika dia saja tidak mampu mengendalikan kepedihannya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa mengusir kepedihan orang lain? Dan...oh,sial...Ulquiorra juga hampir lupa bahwa Orihime pun memiliki batas waktu yang tak pernah ia ketahui lantaran gadis itu terlalu sibuk membangun dan mewarnai dunianya dengan warna-warna cerah yang membawa kebahagiaan tersendiri.
"Aku rasa sore ini akan turun hujan." Orihime bersuara lagi, memecah pemikiran Ulquiorra. Kelopak matanya terbuka perlahan. "Jika benar, maka akan ada pelangi disini...di danau ini..."
Kepala gadis manis itu bergerak menoleh. Ia menatap pemuda tampan di belakangnya yang masih berdiri dalam diam.
"Apa kamu mau melihatnya bersamaku, Ulquiorra?" tanyanya pelan. Sebuah penawaran yang sebenarnya adalah transformasi dari sebuah permohonan.
Ulquiorra menghela nafas perlahan.
"Jika mood ku sedang baik." jawabnya tatapannya masih tak pasti.
"Menurutmu...untuk apa kamu hidup, Ulquiorra?"
Fokus Ulquiorra menyatu. Untuk pertama kalinya dia menatap sosok di hadapannya itu dengan pasti. Tatapan mereka bertaut. Seolah saling bertanya tentang apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan saat ini.
"Untuk apa kamu hidup?" Orihime kembali mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.
Sekalilagi Ulquiorra bersikap acuh. Sinar matanya meredup seiring dengan kepalanya yang agak menunduk.
"Tidak seharusnya kamu menanyakan hal itu pada ku. Itu pertanyaan yang tidak berguna."
"Kenapa?" cecar Orihime polos.
Tak ada jawaban. ULquiorra kembali mengunci suaranya. Kebisuan pemuda berambut hitam itu membuat Orihime tak berpaling dari wajah itu sejengkal pun. Dan hal itu membuat Ulquiorra agak terganggu.
"Jangan tatap aku seperti itu! Aku tidak butuh rasa kasihan dari siapa pun!"sergahnya seraya menatap Orihime tajam. Nada sinis meluncur dari bibirnya saat ia kembali berbicara.
"Kamu begitu ingin dengar jawaban ku, ya? Baik, akan ku katakan. Dan bagaimana jika aku menjawab...bahwa aku hidup untuk mati?"
Orihime masih terdiam.
"Apa itu membuat mu puas, Orihime Inoue?"
Tak ada ekspresi kaget atau terkejut yang muncul di wajah Orihime setelah mendengar kata-kata bernada sinis yang diucapkan Ulquiora barusan. Dia bahkan justru tersenyum manis dan membuat Ulquiorra benar-benar tak habis pikir dengansikap yang sedang ditunjukkan gadis manis itu. Sekuat itukah dia? Mustahil!
Mati muda. Dalam usia 18 tahun. Jelas sungguh terlalu cepat. Dan lagi siapa yang mau?
"Aku agak ngantuk." Orihime memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Ulquiorra. " Jika kamu mau melihat pelangi, sore ini aku akan ada disini. Aku yakin sore ini akan turun hujan. Dan aku yakin, pelangi itu pasti ada."
Itulah kata-kata terakhir Orihime sebelum ia kembali memejamkan mata dan merentangkan tangan. Bersikap seperti beberapa saat yang lalu. Ulquiorra hanya membisu. Dia bahkan sudah tidak lagi menatap Orihime. Karena itulah dia tidak mengetahui saat setetes bulir bening mengalir dari sudut mata bulat yang menutup itu...
"Apa kamu sudah siap?"
"Ya, kita berangkat saja sekarang. Sebelum sore.."
"Kamu yakin?"
"Hei..kau meragukan ku, Grimmjow? Kau pikir aku siap,hah?"
"Tapi, Ulquiorra-"
"Baka! Kaumau kita tidak mendapat restu, kucing bodoh?"
"Diam! Jangan memanggil ku bodoh, Neliel! Kau yang bodoh!"
"HAHAHAHA... A ku memang bodoh. Karena itu aku jatuh cinta padamu. Jika aku pintar, maka aku akan lebih memilih Ulquiorra. Dasar Grimmjow memang bodoh. Hahahaha..."
Tawa itu membuat pemuda berambut biru langit itu tersenyum kecil. Tangan besarnya mengacak-acak rambut hijau toska panjang perempuan disebelahnya. Tanpa peduli pada omelan si pemilik rambut, ia pun menjalankan mobilnya menuju sebuah tempat yang sangat ingin ia kunjungi. Menemui orang yang sangat ingin ia temui untuk meminta maaf karena telah menjadi korban dari pengkhianatannya...
#TBC#
jIAHAHAHAHAA... bELOM ABIS YA? Maav ya scene grimnel nya dikit. Berhubung waktu udah mepet, langsung ajah deh...RIPYUUUUUU!
(ditabok ulqui gara2 berisik)
