"Kau baik-baik saja?"

Melihat gadis berseragam yang menabrak tubuhnya menunduk ketakutan. Niatnya memprotes batal, menyadari itu juga salahnya akibat melamun di tengah jalan.

"Hn," bergumam singkat, ia mengambil pena yang terjatuh dari selipan buku sketsa.

Entah masih berada dibawah pengaruh alkohol, atau memang kepalanya senang memvisualkan imajinasi yang tidak-tidak. Sejak kemarin, Sasuke tidak bisa fokus lantaran dihantui si pirang tanpa nama; pelanggan ke-1.000 yang seharusnya mendapat secangkir kopi gratis.

Pertama di kedai kopi, dan kedua di area club malam. Sangat yakin jika itu sosok yang sama, karena insting kuat tidak pernah meleset sebelumnya. Ditambah, si pirang selalu menatapnya tanpa berkedip, meninggalkan kesan tersendiri yang sialnya sulit dilupakan hingga sukses membuatnya bergidik.

Sekarang, lihat keadaannya menyesali keputusan tadi malam.

Hanya gara-gara ajakan kolega; mobilnya masuk bengkel sebab sekumpulan remaja—mabuk—menggores kaca kemudi dengan sengaja, para wanita ahli merayu yang menariknya paksa ke dalam club membanjiri notifikasi email menggunakan emoji 'cium', juga wajah bodoh si pirang yang tidak mau enyah dari benaknya.

Jika saja menolak, ia tidak akan repot seperti ini. Waktunya tidak terbuang percuma untuk membereskan masalah yang harusnya tidak terjadi, dan pekerjaannya yang menumpuk bisa diselesaikan tepat waktu.

"Taksi!"

Ini sudah kali ke-empat. Jangankan menyadari keberadaannya, si pengemudi bahkan tidak sudi untuk menoleh.

Sasuke menghela napas, ditambah gerutu pelan saat tidak ada yang melihat. Ia ingin cepat-cepat pulang. Istirahat, dengan harapan otaknya tidak lagi membayangkan wajah bodoh yang sama.

"Taksi!"

Lewat.

"Taksi!"

Lewat.

"Taksi!" Kali ini sudah mengintai dari jauh. Lampu taksi menyala, dinilai sebagai indikasi tidak ada penumpang yang sudah lebih dulu duduk di dalam sana.

Akhirnya Sasuke tersenyum. Semakin dekat jarak si pengemudi dengannya, semakin puas tarikan bibirnya terlihat.

Sedikit lagi, hanya beberapa meter lagi.

"TAKSI!"

Tidak.

Pantulan sosok si pirang yang berlari cepat dari dalam toko buku, membawa blueprint di genggaman tangan kiri, dan kanan terlihat jelas di kedua bola matanya.

Tidak.

Tidak.

Tidak.

Itu taksinya. Taksi incarannya yang sudah ditunggu-tunggu. Terlebih lagi, dari sekian banyak manusia di muka bumi, mengapa harus—

"Si pirang brengsek itu!"

Sasuke ingin meledak. Ekspresi wajahnya tidak lagi datar seperti biasa. Si pirang tidak melihatnya adalah hal yang menguntungkan, meskipun begitu tetap saja tidak habis pikir mengapa nasibnya sangat sial hari ini.

Menit berikutnya; menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Malu ditatap aneh, juga ditertawakan beberapa pasang mata pejalan kaki lainnya.

Sudahlah.

"Aku memaafkanmu kali ini saja pirang. Lagipula, aku sengaja mengabaikanmu tadi malam saat kau terlihat ingin menyapa."

.

Continued