.

Fight With Me

.

Pengarang: Kristen Proby

.

.

.

Park Chanyeol

Kim (Byun) Baekhyun

.

.

Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya ingin me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.

.

Please read a/n

.

Hope u will enjoy this remake^^

Sorry for typos

Happy reading!

.

.

Previous chapter:

"Terimakasih, kau juga terlihat mengagumkan." Aku membenamkan jari-jariku di rambutnya dan mencoba menyisir rambut itu, aku tidak peduli jika diriku sekarang sedang nyengir seperti orang bodoh. "Aku menyukai rambutmu yang tertata kebelakang."
"Benarkah?" Chanyeol membungkukkan badannya dan mencium leherku, tepat di bawah telingaku. "Kau membuatku tidak bisa bernafas, Baekhyunie."
"Aku lega kalau memang seperti itu." Aku mengecup dagunya dan merapikan salah satu kancing yang ada di kemejanya. "Kita akan pergi kemana malam ini?"
"Ada restoran Seafood yang masakannya begitu lezat di dekat waterfront."
"Kedengarannya menyenangkan." Chanyeol menciumku, menyapukan bibirnya ke bibirku, dan kemudian menyandarkan keningnya di keningku sejenak.
"Ayo pergi."

.

.

Makan malam kami sangat menyenangkan dan makanannya benar-benar nikmat. Kami mengobrol seperti teman lama, dan sekarang aku lebih mengenal dirinya. Chanyeol menceritakan padaku tentang masa kecilnya, dia adalah seorang anak tunggal dan tumbuh besar hanya bersama ayahnya. Sepanjang malam Kami berusaha untuk tidak membicarakan tentang pekerjaan, namun pada akhirnya aku memutuskan untuk membuka topik tersebut.

"Jadi, apa yang akan terjadi pada hari senin nanti?" Tanyaku sambil menyesap anggurku, masih menunggu hidangan penutup kami.

"Aku rasa kita akan tetap berangkat ke kantor." Jawabnya singkat dan dan menatapku dengan tidak nyaman.

"Kau tahu apa yang kumaksud."

"Well, aku mau bertanya kepadamu," Chanyeol meraih tanganku, melihatnya seolah baru pertama kali ini dia melihatnya, lalu mengecup jari tanganku dengan penuh perasaan. "Apakah ini seperti satu kali akhir pekan untukmu? Apakah setelah malam ini, kau ingin kita kembali hanya menjalin hubungan kerja yang profesional?"

Tidak!

Apakah itu yang dia inginkan? Pikiran itu membuatku muak. Aku telah belajar banyak hal mengenai dirinya selama empat puluh dua jam terakhir, dan melihat betapa mengagumkannya sisi lain dari dirinya yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Aku memang menikmati sisi dirinya yang konsevatif pada saat kerja, namun aku juga tidak akan pernah merasa puas akan sisi liarnya yang telah ku lihat hari ini.

"Tidak," jawab ku lemah, "Bukan itu yang aku inginkan."

Chanyeol menarik nafas lega dan mengecup jariku sekali lagi, bukti kelegaan terpancar dengan jelas di wajahnya. "Begitu juga aku."

"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"

"Kita akan bersikap profesional saat berada di kantor, dan apapun yang terjadi di luar kantor, itu adalah urusan kita." Chanyeol mengatakannya dengan santai, seolah itu adalah hal yang mudah untuk di lakukan.

"Aku bukan aktris yang baik."

"Oh, aku tidak tahu itu, tapi selama delapan bulan terakhir ini kau telah melakukannya dengan sangat baik." Chanyeol bersandar kembali di tempat duduknya, menyesap anggurnya, namun dia tidak melepaskan tanganku.

Tidak ada pilihan lain. Jika sedikit saja kami menunjukkan keintiman di tempat kerja kami, kami berdua pasti akan dipecat.

Jika kami memutuskan untuk berpisah, aku akan hancur dan patah hati. Kedua pilihan yang ada ini bukanlah pilihan yang mudah.

"Oke, bisnis seperti biasanya."

"Permisi," pelayan kami mendekati meja kami dan aku tersenyum padanya. "Apakah benar anda Kim Baekhyun dari majalah Playboy?"

Wajahku pucat. Belum pernah ada orang yang mengenali diriku sebelumnya, sama sekali belum pernah. Sudah lima tahun berlalu sejak terakhir kali aku menjadi model di majalah itu, dan kenapa sekarang, saat aku sedang bersama Chanyeol, seorang remaja mengingat telah melihatku di majalah itu, mungkin saja majalah itu dia temukan di bawah tempat tidur ayahnya.

Aku pura–pura tersenyum dan mengedipkan mata padanya "Ya, itu aku."

Chanyeol melepaskan tanganku dari genggamannya dan aku merasa rendah diri di hadapannya.

"Wow!" Wajah pelayan itu merona dan tersenyum padaku. "Saya pikir saya mengenali anda, saya tidak ingin mengganggu anda, saya tadi hanya penasaran saja. Makanan penutup akan diantar sebentar lagi."

"Terima kasih Derrick," aku membaca tanda pengenal di dadanya dan menjawab dengan pelan. Dengan canggung dia mengangguk dan meninggalkan kami, dan aku menarik nafas panjang dan mengalihkan pandanganku untuk bertemu dengan mata Chanyeol yang sedang menatapku dari seberang meja.

"Aku rasa seharusnya aku mengatakan padamu bahwa aku pernah berpose untuk majalah Playboy." gumamku.

"Aku rasa kau harus," dia merespon, suaranya terdengar dingin dan aku merasa semakin tidak nyaman.

"Itu bukanlah hal yang membuatku malu, namun hal seperti barusan tadi jarang terjadi. Lagi pula itu adalah masa lalu-ku." Aku mencoba tetap tenang dan melihat bahwa ekspresinya sama sekali tidak berubah.

"Kenapa kau melakukan itu?" dia bertanya.

"Well, dulu Luhan sering mengambil fotoku. Sampai sekarang pun dia masih melakukannya. Bagian terpenting dari pekerjaannya adalah memotret pasangan. Dia mendalami profesinya itu pada saat masih kuliah, dan untuk berlatih, dia menjadikan diriku sebagai modelnya."

"Teruskan," Ucapnya setelah Derrick menyajikan makanan penutup kami di meja.

"Kemudian, pada suatu hari ada acara pencarian bakat di Seattle, aku pergi ke sana dengan membawa fotoku, hasil karya Luhan, untuk mengetahui apa pendapat mereka. Satu bulan setelah itu aku sudah berada di L.A. melakukan pemotretan untuk sebuah majalah." Aku mengangkat bahu dan menggerak-gerakan garpuku dengan gelisah. "Aku tidak mendapat bayaran yang cukup, tapi aku juga tidak membutuhkan uang pada saat itu. Waktu itu aku merasa berpose seperti itu membuat diriku merasa cantik dan seksi. Pada saat itu, hal itu sangat penting untukku karena aku selalu berada di lingkungan para pria. Lagipula itu sangat menyenangkan. Fotografernya sangat profesional, begitu pula dengan para kru yang ada. Aku pernah tinggal di Playboy Mansion beberapa kali dan bergaul dengan para model lainnya dan Heff, disana aku juga pernah bertemu dengan beberapa selebriti. Untuk seorang wanita yang berusia 21 tahun, hal seperti itu sangat glamor dan menyenangkan."

"Tetapi?" Chanyeol bertanya memaksaku untuk melanjutkan ceritaku.

"Tetapi, aku tidak suka pria kurang ajar yang selalu kutemui setiap kali aku pergi keluar bersama Luhan. Pernah pada suatu malam di sebuah bar, seorang pria memojokkan diriku di lorong, saat aku hendak pergi ke kamar mandi. Well anggap saja pria ini terlalu bodoh untuk bisa mengerti saat aku bilang tidak padanya." aku menelan ludah, tertunduk melihat tanganku yang terkepal. "Aku menghajarnya hingga menjadi bubur." Diatas meja itu aku melihat tangan Chanyeol juga mengepal hingga menjadi sebuah tinju yang keras dan aku melihat kearah dirinya. "Secara harafiah. Aku benar-benar mengirimnya ke Rumah Sakit."

"Bagus." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.

"Aku memutuskan bahwa beberapa kali berpose untuk majalah itu sudah cukup untukku, hal itu akan selalu ada di dalam hidupku, namun bukan sesuatu yang aku perlukan. Aku terkejut ketika anak itu mengenaliku tadi." Aku menggelengkan kepala dan menutup mataku, dan berharap Chanyeol bisa memberikan petunjuk padaku tentang apa yang ada di dalam pikirannya.

"Please, katakan sesuatu," aku berbisik lemah ketika beberapa menit berlalu dan Chanyeol masih terdiam.

"Aku tidak menyukainya." Jawabnya singkat dan dingin, perutku mengejang diselimuti rasa takut.

"Itu bisa di mengerti," aku tertunduk lesu. Memfokuskan mataku untuk melihat taplak meja dan memainkannya dengan jari-jariku, mempersiapkan diriku untuk kemungkinan terburuk, dia kecewa padaku. Dia pasti berpikir bahwa aku adalah wanita murahan.

Hal yang sudah pernah kudengar sebelumnya.

"Aku merasa bahwa kau sangat mengagumkan."

Apa?

Aku mengangkat wajahku, melihat kearahnya, mencoba mengerti apa yang baru saja dia ucapkan dan mulutku terbuka karena begitu terkejut.

"Apa?"

"Kau mendengarnya."

"Kau tidak menganggpku wanita murahan? Benarkah?"

Matanya sedingin kutub utara. "Jangan pernah kau mengatakan hal itu lagi."

"Maafkan aku, aku hanya..."

"Kau hanya apa?" dengan cepat dia memotong ucapanku.

"Aku hanya pernah mendengar hal itu sebelumnya," Aku berbisik dan kembali memandang ke bawah.

"Lihat aku," suaranya terdengar lebih lembut dan lebih tenang, dan aku kembali menatap wajahnya. "Kau adalah wanita yang pintar dan cantik Baekhyunie. Kau memang memiliki sisi liar pada saat kuliah, dan aku bisa mengerti itu." Alis matanya terangkat dan sebuah senyuman terselip di bibirnya.

"Yang menjadi masalah bagiku adalah," dia melanjutkan "ada pria lain yang melihat tubuhmu yang indah."

"Aku sudah tidak perawan saat kita bertemu," Aku mengingatkannya.

"Tidak, kau salah, aku bisa menghadapi kalau masalahnya itu, meskipun itu juga membuatku hampir gila. Namun saat mengetahui ada pria lain yang melihat tubuhmu dan berfantasi mengenai dirimu, itu membuatku ingin menghajar mereka dan mengirim mereka ke Rumah Sakit, mungkin bisa dimulai dengan pelayan muda kita itu."

Oh. Aku tidak tahu kenapa hal itu begitu menyentuhku, dan aku merasa air mata mulai menggenang di ketua mataku. Aku berkedip cepat agar menemukan keseimbangan pada diriku, berharap aku bisa menahan air mataku agar tidak jatuh. Chanyeol selalu membuatku terpesona.

"Jadi," Aku menelan ludah dan menggenggam tangannya. "Kau masih ingin bersamaku?"

"Tentu saja," Dahinya berkerut, seolah aku telah menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal.

Aku mengangguk dan melihat kearah cake coklat yang ada di atas meja. "Bisakah kita membawa pulang ini?"

"Ide yang bagus." Chanyeol memberi sinyal kepada pelayan agar membungkus makanan penutup kami yang terlihat begitu lezat ke dalam sebuah kotak, agar kami bisa membawanya pulang.

Saat perjalanan pulang, Chanyeol menjadi sangat pendiam, namun tangannya tidak pernah beranjak dari pangkuanku. Aku bernafas lega saat mengetahui dia tidak menjauhkan tangannya dari tubuhku.

Dia masih menginginkan diriku!

Aku menyeringai ketika melihat sepeda motornya yang seksi, tepat pada saat aku keluar dari mobil. Mengingat kembali apa yang telah kami lakukan sore tadi. Seolah memikirkan hal yang sama denganku, Chanyeol tersenyum dan mencium tanganku, "Aku tak sabar ingin melakukannya lagi," godanya.

Oh aku juga!

"Apa kau ingin makanan penutupnya sekarang?" Dia bertanya sesaat setelah kami masuk ke dalam apartemen.

"Ya." Jawabku sambil tersenyum, aku bermain-main dengan rambutnya yang lembut dan hitam itu dengan menggunakan jari-jariku.

"Aku akan menyiapkannya di piring." Chanyeol berbalik, hendak menuju ke arah dapur. Namun aku menarik pakaiannya, meraih tubuhnya agar mendekat padaku.

"Bukan itu maksudku." Aku berbisik. Dia berbalik dan menghadap ke arahku, mata kecoklatannya yang indah itu nampak gelap, dan menatap kearah bibirku saat aku menggigit bibirku.

"Bukan?" Dia berbisik padaku dan membelai lembut pipiku. Aku menggelengkan kepalaku dan mengambil kotak yang berisi makanan penutup kami itu dari tangannya. Lalu aku berjalan kearah lemari es, suara sepatuku berdetak di atas lantai kayu, gaunku melambai-lambai di sekitar pahaku, memberikan sensansi pada kulitku.

Aku memasukan kotak makanan itu kedalam lemari es dan berbalik, ternyata Chanyeol sudah berdiri di belakangku.

"Oh!" aku terkejut.

"Makanan penutup harus dimakan di dapur," ucapnya pelan, kedua tangannya berada di kedua sisi wajahku, menggigit bibirku, dan mendorong tubuhku ke lemari es.

"Apa harus seperti itu?"

"Ya, tidak boleh membawa makanan ke dalam kamar tidur." Aku tersenyum, dan memiringkan kepalaku, memberi akses pada bibirnya yang indah saat dia mencium telingaku lalu meluncur turun ke leherku. Aku melingkarkan tanganku di tubuhnya, mengelus punggungnya lalu menarik keluar bajunya dari dalam celananya, agar tanganku bisa leluasa masuk ke dalam dan membelai kulit punggungnya yang hangat dan lembut.

"Kau terasa menyenangkan." Bisikku.

Chanyeol mengerang, lalu mengangkat tubuhku, membawaku ke arah meja dapur, lalu mendudukkan diriku disana, kemudian dia memposisikan dirinya dengan berdiri diantara kedua kakiku. Tanganku meremas rambutnya, dan aku menatap wajahnya. "Kau sangat tampan." ucapku sambil tersenyum padanya.

Wajahnya merona dan dia mengelengkan kepalanya, lalu dengan lembut menggigit bahuku yang terbuka.

"Hmmm." Oh rasanya begitu nikmat, tangan Chanyeol masuk dari bagian bawah gaunku lalu mengangkat gaunku ke atas hingga berada di pinggulku.

"Kau tidak mengenakan celana dalam?" Matanya melebar saat melihat kewanitaanku, namun senyuman nakal terselip di bibirnya.

"Aku berpikir itu tidak ada gunanya? Pada akhirnya kau pasti akan merobeknya lagi." jawabku sambil tertawa, Chanyeol berlutut lalu melingkarkan kedua kakiku di bahunya.

Whoa!

Dia menarik tubuhku hingga ke tepi meja, tak ada lagi tempat bertumpu untuk tubuhku, tanganku harus meraih pinggiran meja agar aku tidak terjatuh.

"Aku akan jatuh." Aku mengeluh.

"Tidak akan baby." Dia menaikkan bagian bawah gaunku keatas, bagian bawahku terbuka, "Ya Tuhan, lihat dirimu."

"Chanyeol," tubuhku menggeliat, kepalanya mendongak keatas dan aku melihat dia tersenyum kepadaku.

"Aku rasa kau adalah makanan penutupku, Baekhyunie."

Dan dengan pernyataan itu dia mulai memainkan lidahnya, menjilat keatas melalui bibir kewanitaanku menuju daging kecil yang terselip disana, lalu lidahnya bergerak lagi semakin kedalam menjelajah bagian sensitifku, mengecupnya dalam-dalam, bibirnya yang berbakat itu memanjakan bibir kewanitaanku. Lidahnya bekerja keluar-masuk dengan ritme yang sempurna. Aku berpegangan pada kepalanya dan mencengkram rambutnya dengan jariku. Tubuhku menggelinjang dan aku menghentakkan kepalaku kebelakang menikmati apa yang dilakukan oleh mulut Chanyeol pada kewanitaanku itu.

Ya Tuhan, aku merindukan apa yang dia lakukan padaku saat ini, padahal dia baru sekali melakukan hal seperti ini pada diriku!

Saat ibu jarinya merangsang daging kecil di bagian organ sensitifku, aku seperti tersengat aliran listrik yang mengalir di tubuhku mulai dari ujung kaki hingga ke tulang belakangku. Aku tidak sanggup lagi mengendalikan tubuhku, aku mendorong tulang panggulku semakin menempel di mulutnya.

"Oh Chanyeol."

Chanyeol menghisap bibir kemaluanku dan menekan lebih keras daging kecil yang ada di sana. Aku seperti benar-benar dibawa ke surga saat ini. Chanyeol menghujani bagian sensitifku dengan ciuman yang lembut. Kemudian dia mendudukkan diriku dan berdiri di hadapanku, celananya sudah terbuka, kejantanannya yang indah itu telah mengeras dan siap untukku. Tanganku meluncur turun meraih dan membelai lembut ujung kepala dari kejantanannya, merasakan dua buah bola besi yang ada disana dengan jari tanganku, aku semakin menyukai, bahkan sangat menyukai kedua bola besi itu.

Sangat-sangat menyukainya!

Napasnya tersengal, rahangnya mengeras, aku mendorong tubuhnya kesamping agar aku bisa meloncat turun dari atas meja, dia masih berbusana lengkap.

Aku mendorongnya ke lemari es, dan aku berlutut. Aku membungkus kejantanannya dengan tanganku, lalu aku menggerakan tanganku naik-turun menyusuri daging panjang yang keras seperti batu namun di lapisi kulit yang lembut itu.

"Ya Tuhan, kau tidak perlu melakukan ini Baekhyun." Aku mendongak ke atas menatap mata kecoklatannya dan mengerutkan dahiku.

"Kau baru saja memanggilku Baekhyun." Chanyeol hanya mengangkat bahu dan tersenyum sombong, dan aku menyeringai pada dia.

Aku kembali memberikan pijatan pada kejantanannya yang luar biasa itu, lidahku menjilat ujung kejantanannya, kurasakan cairan pelicin yang muncul disana. Aku menyukai cara 'apa' itu saat melewati lidahku.

Aku menatap kearah Chanyeol dan melihat bahwa matanya terbakar oleh gairah, kemudian kembali menjilati batang kemaluannya dan memasukkannya ke mulutku.

"Ya ampun."

Butuh waktu bagi diriku untuk terbiasa dengan tindikan itu, namun akhirnya aku menemukan irama-ku, naik-turun, mendorong kejantanannya ke dalam mulutku, gigiku berada di sekitar kejantanannya.

Aku menekan lebih dalam, hingga aku bisa merasakan dua buah bola besi itu berada dibelakang kerongkonganku, untung saja aku tidak tersedak karenanya. Aku menariknya keluar, lalu memutar lidahku di sekeliling batang yang keras itu, melewati kepalanya, lalu membawanya masuk ke dalam mulutku lagi, aku melakukannya berulang-ulang, Nafas Chanyeol mulai terengah-engah dan aku merasa itu sangat seksi.

Akhirnya, aku merasakan dia mulai menegang dan aku bergerak dengan lebih cepat.

"Baby hentikan. Aku akan keluar."

Masa bodoh.

"Demi Tuhan Baekhyun, hentikan." Dia menarikku ke atas, ke dalam pelukannya, lalu menciumku dengan liar. Aku bisa merasakan diriku dan dirinya menyatu di bibir kami, aku mengerang.

"Di dalamku sekarang." Chanyeol bertukar tempat denganku, sekarang punggungku berada didepan lemari es, kedua telapak tangannya memegang pantatku, lalu mengangkat tubuhku dan dengan cepat kejantanannya memasuki bagian sensitifku.

"Oh baby." Wajahnya tenggelam di leherku, dan aku melingkarkan tanganku di bahunya.

"Ya," aku berbisik.

Chanyeol keluar-masuk bergerak dengan ritme yang cepat, dan aku tahu ini tidak akan berlangsung lama. Otot kewanitaanku menegang dan menjepit kejantanannya yang ada di dalam diriku, kakiku lebih kuat mencengkram dirinya dan aku berpegangan pada bahunya saat tubuhku lemas, setelah aku mendapat orgasmeku yang kedua.

Setelah melakukan beberapa hentakan keras, Chanyeol menyusul, meledak di dalam diriku.

"Sialan." Chanyeol berbisik dan menyandarkan kepalanya padaku.

"Wow." aku menjawab.

"Tuhan, kau memiliki mulut yang luar biasa," Nafasnya masih terengah dan aku membelai rambutnya, menatapnya dengan senyum bahagia.

"Begitu juga dirimuYeol, kau membuatku gila."

ooOoo

"Apa kau yakin akan pulang malam ini?" Chanyeol bertanya padaku, tubuhnya bersandar di pintu yang menuju ke kamar tidur cadangan, melihat diriku yang sedang membereskan barang-barang milikku. Aku membungkus sepatu Louboutin merah muda milikku dengan tisu, kemudian memasukkannya kedalam koperku.

"Yeah, aku yakin. Aku punya banyak pakaian kotor yang harus segera dicuci, aku juga harus bersiap-siap untuk bekerja besok pagi." Aku tersenyum kepadanya, melihat betapa mengagumkan dirinya. Aku mulai terbiasa melihat Chanyeol dengan pakaian kasualnya.

Chanyeol mengenakan kaos berwarna kecoklatan muda, menonjolkan otot lengan dan dadanya yang bidang. Ya Tuhan, aku menyukai tato di lengan kanannya itu. Celana jeans yang warnanya sudah mulai memudar itu menggantung sempurna di kakinya yang panjang, dia tidak memakai alas kaki, dan rambutnya tergerai.

Saat mata kami bertemu, sebuah senyuman tersungging di bibirnya yang seksi dan sensual itu, seakan dia mengerti bahwa aku menghargai pemandangan yang ada di depanku.

Tentu saja aku menghargainya.

"Kapan kita bisa bertemu lagi?" Dia bertanya.

"Uhm, sekitar dua belas jam lagiYeol." Aku menyeringai, lalu memasukkan barang terakhir ke dalam koper dan menutupnya.

"Kau tahu apa yang ku maksud, sok pintar."

"Bagaimana kalau makan malam besok?" tanyaku.

"Besok malam aku ada pertemuan bisnis." Chanyeol mengacak-acak rambutnya. "Apa kau punya rencana untuk ulang tahun mu?"

Aku terkejut dan menatap kearahnya dengan mata agak tebelalak, "Bagaimana kau tahu kapan hari ulang tahunku?"

"Baekhyun, kita bekerja di kantor yang sama. Sebuah kartu ulang tahun muncul di profilmu minggu lalu, tidak perlu disebutkan juga bahwa aku mempunyai akses ke data pribadi milikmu."

"Well...itu menakutkan."

"Menurutmu Kartu ulang tahun itu menakutkan?" Dia menatap geli ke arahku dan aku pun tidak kuasa menawan tawaku.

"Bukan, kau membaca data pribadiku, itu yang menakutkan."

"Aku suka tawamu."

"Jangan mencoba mengucapkan kata-kata manis padaku, kau keterlaluan Yeol." Aku berkacak pinggang, mencoba sekuat tenaga untuk terlihat galak. Chanyeol menjauh dari pintu tempat dia bersandar dan berjalan kearahku. Dia memegang wajahku dengan tangannya yang besar, dan dengan lembut mengecup keningku.

"Aku hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang dirimu, Baekhyunie."

Oh.

"Jadi, apakah kau mempunyai rencana di hari ulang tahunmu?"

"Tidak."

"Bagus. Aku sangat ingin kita bisa bersama di hari ulang tahunmu nanti." Aku meletakkan tanganku di pinggangnya, dan kusandarkan kepalaku di dadanya.

Dengan lembut tangannya membelai pipi dan rambutku, kami hanya berdiri terdiam untuk beberapa saat, tidak satupun dari kami menginginkan kepergianku.

"Aku akan menikmatinya. Terima kasih."

Aku merasakan senyumannya di atas kepalaku, dan aku mengangkat kepalaku untuk memandang dia. "Maukah kau datang ke tempatku pada hari Selasa malam untuk merayakan hari ulang tahunku? Hanya tinggal di rumah, menonton film atau melakukan kegiatan yang lain."

Chanyeol mengerutkan dahinya dan kemudian menyapu bibirku dengan ibu jarinya, mengirimkan getaran listrik padaku, "Kau hanya ingin tinggal di rumah?"

"Ya, aku hanya ingin mengahabiskan waktu berdua denganmu, aku tidak menginginkan yang lain."

Chanyeol membungkuk dan mencium lembut bibirku, lalu dia menyandarkan kepalanya di atas kepalaku. "Jika itu yang kau inginkan, baby, itu tidak jadi masalah untukku, aku akan datang dan membawa makan malam untuk kita."

Aku tersenyum kearahnya. "Oke."

"Apa kau yakin harus pergi?" Dia bertanya sekali lagi sambil merapikan rambutku yang berantakan.

"Aku yakin. Tapi besok pagi kita akan bertemu lagi." Wajahnya Nampak sedih dan melihat kearah bibirku lalu menatap mataku. Chanyeol terlihat sangat rapuh. "Ada apa?"

"Keadaan di kantor akan berbeda. Terima kasih telah memberiku akhir pekan yang sangat menyenangkan, Baekhyunie. Aku sudah menginginkan ini begitu lama, dan aku rasa aku tak ingin ini berakhir." Aku membelai pipinya yang di tumbuhi rambut halus.

"Terima kasih untuk segalanya Chanyeol, aku juga mengalami waktu yang menyenangkan."

Aku melangkah lebih dekat padanya, melingkarkan tanganku di tubuhnya dan menyandarkan perutku di panggulnya, aku harus mendongak keatas agar bisa melihat wajahnya.

Dia masih memegang kepalaku dengan tangannya yang kekar, jemarinya bermain di rambutku. Dia menatap mataku untuk waktu yang lama. Sebuah kesedihan tersirat di wajahnya, dan aku terpesona olehnya.

Akhirnya, aku bersandar dan mencium dadanya lagi, memeluknya erat. Dia melingkarkan tangannya di bahuku dan memeluk erat tubuhku, mencium ujung kepalaku dan bernafas di atasnya.

"Hati-hati saat mengemudi dalam perjalanan pulang," ucapnya lirih, membuat diriku tersenyum.

"Akan aku lakukan." Aku melepaskan diri dari pelukannya dan melangkah menjauh hendak mengambil koperku, namun Chanyeol menyingkirkan tanganku dan mengangkat koperku dengan satu tangan dan tangannya yang satu lagi menggandeng tanganku. Kami berjalan keluar dari apartemennya, turun menuju tempat parkir di mana mobilku berada. Chanyeol menempatkan koperku di kursi belakang lalu menciumku.

"Telpon aku begitu kau tiba di rumah nanti."

"Okay, sampai bertemu besok, Chanyeol." Aku tersenyum genit padanya, menyalakan mobil kecilku dan melambaikan tangan padanya saat mobilku berjalan.

Lalu lintas tidak begitu padat pada hari Minggu malam sehingga tidak memerlukan waktu lama bagiku untuk tiba di rumah. Aku segera membongkar isi koperku, dan mulai memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci lalu Taoeluarkan HP-ku dari dalam tas tanganku.

Ada pesan menunggu di sana.

Akhir pekanku sungguh menyenangkan.

Aku tersenyum dan menjawab.

Aku juga.

Setelah beberapa saat, Chanyeol menjawab.

Apakah kau sudah sampai di rumah?

Ya. Sampai di rumah dengan selamat. Baju kotor sudah di masukkan mesin cuci. Apa yang sedang kau lakukan?

Aku berjalan menuju dapur, mengambil sebuah apel dan sebotol air mineral, lalu duduk di sofa, menyalakan TV untuk melihat salah satu acara reality show kesukaanku.

Hanya mengerjakan sedikit pekerjaan.

Aku tersenyum membayangkan Chanyeol sedang duduk di meja kerjanya dan terlihat seksi dengan kaos dan celana jeansnya. Aku sangat senang ketika bisa mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya. Ya, itu adalah daftar yang harus aku lakukan pada saat berikutnya dan aku yakin tidak akan menunggu lama untuk bisa melakukannya.

Kau terlalu banyak bekerja.

Aku mengirimkan pesan dan menonton dengan serius pertengkaran antara dua orang ibu rumah tangga yang sangat menjengkelkan di layar televisi. Aku tidak tahu kenapa aku suka sekali menonton acara ini. Aku tidak akan mengakui hal ini pada siapapun, hanya Luhan yang mengetahui tentang kecanduanku pada acara ini, itu juga karena dia yang pertama kali mengajakku menonton acara ini.

Kami akan membawa rahasia kami hingga ke liang kubur.

Teleponku berbunyi lagi.

Aku tidak akan bekerja jika kau masih ada di sini.

Aku menyeringai.

Tidak? Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku ada di sana?

Dia menjawab sangat cepat.

Menciumi setiap inchi tubuhmu yang luar biasa itu.

Ya Tuhan. Wajahku nyaris terbelah menjadi dua bagian oleh senyumku yang lebar dan aku menekuk kakiku di bawah tubuhku mencari posisi yang nyaman untuk melakukan sextingdengan kekasihku.

Hanya jika kau mengijinkan diriku melakukan hal yang sama padamu. Aku akan menelusuri tatomu dengan mulutku.

Aku suka menelusuri kewanitaanmu dengan mulutku.

Sialan!

Mmm...kau sangat ahli dengan mulutmu, Yeol.

Dua orang ibu rumah tangga itu masih saling berteriak di televisi. Sehingga pada akhirnya aku harus mengecilkan suara TV ku. Teleponku kembali berbunyi.

Kembalilah kemari, dan akan aku tunjukan betapa mahirnya aku dengan mulutku.

Oh aku sangat-sangat tergoda.

Kupikir kau mempunyai pekerjaan yang harus kau selesaikan.

Kau selalu lebih penting dari pekerjaanku, baby.

Sialan, dia bisa menjadi sangat romantis.

Aku tidak ingin tidur tanpa dirinya di sisiku, dengan atau tanpa hubungan seks. Tetapi aku membutuhkan sedikit jarak. Ini adalah hal yang benar-benar baru untukku, dan aku tidak ingin gairah yang ada pada kami membakar diriku. Aku harus menjernihkan kepalaku agar aku bisa bekerja besok pagi.

Kau juga sangat berarti bagiku Chanyeol.

Aku ingin tidur lebih awal untuk bermimpi tentang dirimu dan juga untuk memulihkan diriku dari hubungan seks yang luar biasa selama akhir pekan ini, sampai bertemu besok pagi.

Selamat malam cantik, Tidur yang nyenyak.

Tapi aku tidak bisa tidur, semalaman aku gelisah dan memikirkan dirinya, berharap saat ini aku bisa bersama dengan Chanyeol.

Sialan, aku sangat menginginkannya.

ooOoo

.

Hari Senin pagi. Walaupun pagi tadi sebelum aku berangkat bekerja aku sudah berlari sejauh sejauh lima mil, namun aku masih belum mampu menenangkan sarafku saat aku berangkat ke kantorku, setelah melewati akhir pekan yang luar biasa bersama Chanyeol.

Aku langsung menyalakan komputerku begitu tiba di mejaku. Sambil menunggu mesin itu menyala, aku meninggalkan ruanganku untuk mendapatkan segelas kopi, berharap untuk bisa menghilangkan rasa kantuk yang masih menghantui diriku.

Aku berjalan menuju ruang istirahat untuk para karyawan. Di sana aku melihat seorang pria berdiri di depan mesin pembuat kopi, menuangkan kopi ke cangkirnya. Pria itu tidak lain adalah Chanyeol.

Seketika tubuhku terasa seperti tebakar. Aku merasa sangat terkejut ketika melihat dirinya yang sedang membelakangi diriku. Tubuhnya di balut dengan setelan jas yang rapi, dengan rambut di sisir kebelakang, terlihat begitu profesional dan… menggairahkan.

Aku bersyukur dia saat ini sedang membelakangiku, sehingga dia tidak perlu melihat wajahku yang terkejut saat melihatnya tadi, kemudian aku berjalan kearahnya, seperti yang selama tujuh puluh dua jam yang lalu biasa kulakukan.

"Selamat pagi." sapaku. Aku puas pada diriku sendiri karena mampu mempertahankan nada suaraku agar tetap terdengar normal.

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan melihat ke arahku, untuk beberapa saat aku melihat kehangatan di mata kecoklatannya, namun setelah itu tatapannya berubah dingin.

Dia mengaduk kopinya dengan sebuah sedotan kecil berwarna merah dan putih, lalu membuangnya setelah selesai mengaduk, kemudian dia menganggukkan kepalanya kearahku tanpa melihat mataku.

"Baekhyunie."

Hanya seperti itu, lalu dia pergi menuju ke ruang kerjanya.

Aku menatap kearah mesin kopiku, aku membelakangi dirinya, kemudian memejamkan mataku dengan erat. Oke itu tadi sangat menyakitkan.

Aku tahu aku harus terbiasa dengan hal ini. Tidak ada yang berubah di antara kami. Tetapi ketika melihat tatapannya yang dingin dan mengetahui aku tidak bisa menyentuhnya... ah itu sangat menyakitkan.

Aku menuangkan kopi kemudian kembali ke ruanganku, ada sebuah email dari Chanyeol yang menungguku disana, memintaku untuk mengumpulkan beberapa data untuk sebuah laporan dan mengirimkan kepadanya dengan segera.

Lalu aku mengambil HP dari dalam tas tanganku untuk memeriksa apakah ada pesan yang masuk, dan disana aku melihat sebuah pesan dari Chanyeol, yang masuk sekitar dua menit yang lalu.

Selamat pagi. Kau terlihat mempesona dengan busana berwarna hitam itu. Tadi aku ingin bercinta denganmu di ruang istirahat, tapi aku berpikir itu pasti akan lebih menyenangkan jika kita melakukannya nanti.

Ya Tuhanku! Aku tertawa geli, dan rasa sakit hatiku langsung menghilang.

Kau terlihat menggiurkan pagi ini. Aku hampir lupa bahwa kau begitu menggairahkan dengan setelan jas. Tentu saja kau juga menggiurkan meskipun tanpa setelan jas, Yeol.

Semalam aku sangat merindukanmu.

Aku mendesah.

Aku juga merindukanmu. Apa tidurmu nyenyak semalam?

Aku membuka internet di komputerku untuk melakukan tugas yang diberikan Chanyeol tadi, kemudian HP-ku berbunyi lagi.

Tidak.

Oh.

Aku menyesal mendengarnya. Apakah kau kau punya waktu luang saat makan siang nanti? Aku ingin menanyakannya pada nyonya Glover, tapi itu akan terlihat tidak profesional.

Aku tenggelam di dalam penelitianku, dan kemudian menyadari bahwa waktu sudah berlalu lebih dari sepuluh menit dan dia masih belum menjawab pesanku. Aku mengerutkan dahiku, berpikir kapan dia akan membalas pesanku, namun tidak lama kemudian HP-ku berbunyi.

Jadwalku kosong sekitar pukul 12:30, kita mempunyai waktu selama tiga puluh menit. Akan kukatakan pada Jenny untuk mengatur pertemuan denganmu pada saat makan siang.

Kemudian telepon di mejaku berdering.

"Baekhyun Kim."

"Ini Nyonya Glover, Baekhyun. Tuan Park meminta anda datang ke ruangannya pada pukul dua belas lewat tiga puluh menit untuk melakukan rapat." Suaranya terdengar mantap dan sopan.

"Terima kasih Nyonya Glover, aku akan berada disana nanti siang."

Aku menutup telepon di mejaku dan mengambil HP-ku.

Ini adalah saatnya bagiku untuk melakukan aksiku.

ooOoo

.

Bisakah pagi sialan ini berlalu dengan lebih lambat lagi? Setiap menit terasa begitu menyakitkan saat aku duduk bekerja dan sekali-kali melihat jam, aku berharap waktu lebih cepat belalu. Akhirnya, jam dua belas lebih tiga puluh menit. Aku langsung mematikan komputerku dan mengunci laci mejaku, mengambil ipad dan berjalan menuju ke ruang kerja Chanyeol.

"Kau bisa langsung masuk Baekhyun." Nyonya Glover tersenyum padaku dan aku langsung menuju ke ruang kerja Chanyeol. Aku bersyukur kantor Chanyeol tidak memiliki jendela yang mengarah ke area resepsionis, aku masuk ke dalam kantornya kemudian menutup pintu dan menguncinya dari dalam dengan perlahan-lahan.

"Jadi," Aku tersenyum padanya, menikmati pemandangan yang ada di depanku. Matanya begitu hangat menatapku saat aku melangkah mendekati meja kerjanya.

"Jadi," Dia menjawab.

"Aku hanya ingin memastikan, bahwa saat ini kau bukanlah bos-ku"

"Oke."

Aku berjalan memutari mejanya, Chanyeol memundurkan kursinya agar dia bisa berhadapan denganku. Senyuman nakal terselip di bibirnya membuatku tak bisa menolak dirinya. Aku membungkuk, meletakkan tanganku di bahunya, lalu menciumnya, mendorong lidahku masuk di sela bibirnya, menggodanya, lalu berhenti memainkan lidahku.

Namun tiba-tiba dia melingkarkan tangannya di tubuhku dan menarik tubuhku untuk duduk di pangkuannya.

Dengan satu tangan mengapit pinggangku, dan tangannya yang lain meremas rambutku, dia mendekap erat tubuhku dan mengambil kendali atas ciuman kami.

Aku hanya bisa melingkarkan tanganku di lehernya.

Dia menciumku seakan dia sangat membutuhkannya, seakan dia begitu menderita karena kehausan dan aku adalah air minum yang pertama kali dia temukan untuk diminum.

Sebuah ciuman yang memabukkan dan menggetarkan hatiku.

Setelah beberapa saat berada di dalam pelukannya, aku teringat akan rencanaku.

Aku berdiri dan melepaskan diri dari pangkuannya.

"Kau mau kemana?" Dia menarik tanganku, namun aku menjauh dari jangkauan tangannya, dan berjongkok di lantai di sela-sela kedua kakinya.

"Tidak Jauh."

Matanya membesar "Baekhyunie..."

"Shh," aku menekan bibirnya dengan jariku, "Duduk yang manis dan nikmati saja babe. Tidak ada yang bisa mencerahkan hari Seninku selain menikmati kejantananmu dengan mulutku."

Aku membuka celananya dan mengeluarkan kejantanannya yang besar dan keras dari dalam celana boxernya. Pinggulnya terangkat dari kursi saat aku menggoda 'apa'-nya dengan ujung lidahku.

"Ya ampun babe!" Dia berpegangan pada kepalaku dan mencengkeram rambutku, saat aku mengapit kejantanannya dengan bibirku, menghisap bagian batang yang keras itu dan memasukkannya ke dalam hingga aku bisa merasakan logam itu berada di belakang tenggorokanku, menggerakkannya maju-mundur.

Aku mengerang diantara kejantanannya dan mengurut batang panjang itu dengan satu tangan sementara tanganku yang lain bermain di kedua bolanya yang menggantung di sana.

Aku tidak pernah merasa seseksi ini, berkuasa, dan memegang kontrol atas dirinya. Membuat Chanyeol gila akan gairahnya padaku adalah perasaan yang menyenangkan untukku.

"Oh Tuhan, yeah Baekhyun.. hisap lebih keras...oh nikmati itu baby." Kata-kata kotor yang keluar dari mulutnya membuatku semakin liar, dan akupun mulai bergerak lebih cepat, menghisap lebih keras, sampai akhirnya dia berdiri, meraih bahuku dan menarik tubuhku untuk berdiri.

Dia membungkukkan tubuhku dengan posisi membelakanginya dan entah apa yang dia lakukan karena begitu cepat dan sekarang kejantanannya sudah mengisi rongga sensitifku.

Dia mencengkram rambutku dengan satu tangan, dan tangannya yang lain mendekap erat pinggangku. Dengan ritme yang cepat dia mendorong tubuhnya ke dalam diriku, hingga aku bisa merasakan kejantannya menghantam dinding kewanitaanku yang paling dalam, hingga akhirnya dia mengerang karena mendapatkan puncak kepuasannya dan membawaku ikut serta merasakan kepuasan untuk diriku sendiri.

Aku merasakan cairan hangat turun di antara kakiku saat Chanyeol mengeluarkan kejantanannya dari tubuhku, dan melangkah mundur. Chanyeol berkata, "Itu adalah cara bercinta yang paling seksi, baby."

Aku menyeringai dan berdiri, memperbaiki posisi rok yang kukenakan, lalu mencium dagunya saat dia melangkah mundur dan menutup kembali celananya. "Bolehkah aku menggunakan kamar mandimu?"

"Tentu saja, kau bebas menggunakannya." Chanyeol lalu menunjukkan sebuah pintu yang menuju ke kamar mandi pribadinya, aku masuk kedalam kamar mandi tersebut dan membersihkan diriku.

"Well, nampaknya waktu yang tersisa untuk rapat tinggal sepuluh menit lagi, tuan Park." Aku berjalan kembali ke dalam kantornya dan mendapati Chanyeol sedang berdiri di dekat jendela, menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya, dan memandang keluar jendela, di luar jendela tampak pemandangan sungai Sound dan Space needle. Aku berjalan mendekatinya dan mememeluk tubuhnya dari belakang dan mencium punggungnya.

Dia meletakkan tangannya di atas tanganku, dan kami hanya berdiri di sana untuk waktu yang lama, sampai akhirnya aku bertanya, "Ada masalah apa?"

"Tidak ada." Di berbalik untuk menghadap diriku dan mendaratkan kecupan lembut di pipiku. "Tadi itu adalah sebuah kejutan yang menyenangkan."

"Jika kau tetap melakukan sexting kepadaku seperti yang sudah kau lakukan tadi malam, aku akan memberikan kejutan yang menyenangkan kepadamu untuk setiap hari." Aku mengedipkan mataku kepada dia dan dia tersenyum lebar padaku.

"Sejauh ini, bagaimana harimu baby?"

"Hari yang panjang, bagaimana dengan harimu?"

"Sama, tapi sekarang jauh lebih baik." Chanyeol menciumku dan duduk kembali di kursinya, dan menarik tubuhku ke dalam pangkuannya. "Sepanjang hari ini aku akan disibukkan oleh beberapa pertemuan bisnis, jadi aku tidak akan bisa melihatmu sampai besok."

Aku melingkarkan tanganku di pundaknya dan menenggelamkan wajahku di lehernya, "Baiklah."

"Setelah pulang kerja datanglah ke rumahku. Kau bisa tinggal bersamaku malam ini." Dia memijat punggungku dengan gerakan memutar, membuatku merasa nyaman.

"Kau akan sibuk sampai malam, ingat?"

"Aku ingin kau ada di sana saat aku pulang."

Aku menyandarkan tubuhku dan melihat ada ketulusan di matanya. Aku tidak ingin mengatakan tidak padanya. Semalam tanpa dirinya di sisiku sungguh sangat mengerikan.

"Aku tidak ingin tidur tanpa dirimu." Chanyeol berbisik. Bagaimana aku bisa menolak dirinya?

"Baiklah." Jawabku lirih dan kembali menenggelamkan wajahku di lehernya, aku menikmati menit-menit terakhir kebersamaan kami sebelum kami mulai bekerja lagi.

"Aku akan datang."

ooOoo

.

TBC

.

ooOoo

.

.

.

Thanks to:

Pinbaek - leeminoznurhayati - Rly. C. JaeKyu - Rly. C. JaeKyu - Guest - Cindynovieta94 - BunnyJoon - Guest - cookiebyun - HHSNeverDie - Nadiya Af - Nadiya Af -ChanBMine - ChanHunBaek - zoldyk - B - exindira - BaekQiu - BaekQiu - JonginDO - chenma - mrsbunnybyun - mrsbunnybyun (chapter ff ini sekitar beelasan^^ jangan bosan ya~) - AGNESA201

.

a/n

Terima kasih buat pengertiannya dan setia menunggu ff remake ini update^^

Abaikan sejenak ff yang berlumur dosa ini dan sebagai pemilik akun cactus93 yang berlumuran dosa ini aku mengucapkan:

"Selamat Hari Raya 'Idul Fitri 1 Syawal 1437'. Semoga Allah menerima ibadah kita. Taqabbalallah Minna Wa minkum Minal Aidzin al faidzin Mohon maaf lahir dan batin."

^/\^

Next update hari sabtu ya~