-unedited-

Jongin meletakkan bouquet bunga serta paper bag yang ia pegang diatas meja kerjanya. Setelah itu Jongin menarik kursi meja kerjanya dan mendudukinya. Matanya menatap kosong kedua item di depannya.

Jongin mulai memejakan kedua matanya kemudian menghela nafas pelan. Sejujurnya tak ada yang Jongin pikirkan sekarang. Pikirannya kosong jujur saja. Tapi ntah kenapa ia merasa bebannya semakin bertambah bukan malah berkurang.

Deringan ponselnya membuat Jongin membuka matanya. Setelah melihat siapa yang menghubunginya, Jongin memilih menaruh ponselnya di hadapannya dan membiarkan ponsel itu terus berbunyi.

.

.

.

Sehun bangkit perlahan dari kasur milik Luhan, kemudian membenarkan letak selimut milik Luhan agar menutupi hampir seluruh tubuh kecil itu.

Sehun merenggangkan sedikit tubuhnya terutama dibagian bahunya yang sedikit kaku karena menjadi sandaran Luhan menangis tadi. Setelah menegak segelas air penuh dari dapur, Sehun berjalan menuju sofa panjang yang menghadap pemandangan kota seoul pada malam hari.

Sehun merogoh kantung celananya kemudian mendial kontak Jongin. Nada dering terus mengalun tanpa ada tanda-tanda Jongin mengangkatnya. Mata Sehun menatap jam tangan yang bertengger di tangannya.

Pukul setengah 12 malam.

Dan itu belum terlalu larut menurutnya. Karena ia tahu Jongin terbiasa tidur pukul 12 malam.

Sehun kembali mendial kontak Jongin. Ia tahu mungkin Jongin tak akan mengangkat telepon ini. Tapi setidaknya Sehun ingin berusaha dan memastikan bahwa Jongin baik-baik saja.

Tepat panggilannya yang ketiga, suara serak Jongin mulai menguasai indera pendengaran Sehun.

"Ada apa?" Senyum Sehun memudar. Ia berharap Jongin akan mengangkat teleponnya dengan nada ceria seperti biasanya.

"Kau dari mana saja?" Tak ada jawaban dari Jongin yang membuat Sehun menghela nafas pelan.

"Jong?"

"Ada apa?"

"Kau darimana saja hm? Aku menu..."

"Aku lelah. Kalau kau mau bertanya sebaiknya besok pagi saja" Setelah itu telepon itu di putus sepihak oleh Jongin.

Sehun diam. Menerawang semuanya. Jonginnya berubah. Ya, Jonginnya berubah.

.

.

.

"Sehun, bangunlah. Pindah kekamarmu" Ucap Luhan sambil menepuk pelan bahu Sehun. Mata Sehun mengerjap pelan. Jadi ia tertidur di sofa?

"Pindah ke kamarmu Hun-ah. Aku sudah nyalakan penghangat ruangannya. Atau kau mau membersihkan tubuhmu terlebih dahulu?" Sehun menggeleng kemudian melenggang menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar Luhan.

Sejujurnya ini bukan kamarnya. Tapi Luhan sendiri yang memberikan kamar itu padanya. Sekarang sudah pukul 5 pagi. Sedikit tanggung kalau Sehun harus melanjutkan tidurnya.

Sehun membuka lockscreen ponselnya dan roomchatnya dengan Jongin langsung menghiasi layar ponsel itu.

Sehun mendesah kecewa. Pesan yang tadi malam ia kirim pada Jongin, tak di balas sama sekali. Tapi setidaknya Sehun tahu kalau Jongin sudah membacanya. Kemudian Sehun mengetik pesan lagi pada Jongin.

Aku akan menjemputmu hari ini. Kita harus berbicara bear.

.

.

.

Jongin menaruh coatnya pada kursi makan, kemudian mencari sesuatu di kulkasnya berharap ia menemukan sesuatu untuk dimakan.

"Kau sedang apa Jong?" Jongin menoleh kebelakang dan mendapati pacar kakaknya disana.

"Mencari sesuatu untuk di makan eonni. Eonni kau mau juga?" Tawar Jongin sambil menyodorkan satu bungkus roti pada Taemin.

"Kau duduklah, biar aku yang siapkan" Ucap Taemin mengambil alih bungkus roti yang Jongin pegang. Jongin tersenyum. Inilah enaknya kalau pacar kakaknya ada dirumah. Ia jadi tak perlu repot-repot membuat sarapan.

"Dimana Minho oppa?" Tanya Jongin.

"Jeju. Perusahaannya sedang bermasalah disana" Jongin mengangguk mengerti kemudian mulai memasukkan satu potong roti selai cokelat kedalam mulutnya.

"Jong?" Mata Jongin langsung menatap Taemin yang duduk di hadapannya.

"Apa seserius itu?" Jongin ngerutkan keningnya.

"Apanya yg serius eonni?"

"Sehun. Kau bertengkar dengannya?" Jongin menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya.

"Tidak eonni"

"Benarkah? Tapi Sehun menunggumu kemarin"

"Tidak mungkin eonni. Waktunya Sehun itukan untuk Luhan. Eonni tahu itu" Ucap Jongin dengan nada sedikit naik.

"Tapi Sehun sungguhan menunggumu. Hampir 3 jam mungkin. Bahkan Minho dan aku sudah berkali-kali mengajaknya masuk, tapi ia menolak dan mengatakan ingin menunggumu diluar" Jongin diam, kemudian mengambil ponselnya dan membukanya.

Sejujurnya ia membaca semua pesan permohonan maaf Sehun dan ia tahu Sehun juga mengiriminya pesan pagi ini, tapi ia mengurungkan niatnya untuk membaca pesan itu.

Jongin, kau marah ya?

Haha tentu saja kau marah.

Jongin

Baby bear

Maafkan aku.

Maaf

Maaf

Maaf

Aku tak akan mengulanginya lagi.

Aku akan luangkan waktu untukmu besok.

Sudah tidur ya?

Kalau begitu selamat malam dan mimpi indah. Aku mencintaimu bear.

Jongin-ah kau sudah bangun?

Aku akan menjemputmu hari ini. Kita harus bicara bear.

Jongin memilih untuk menatap pesan terakhir Sehun dalam diam. Sampai pada akhirnya tangannya membalas pesan terakhir Sehun.

Ok.

Dua huruf serta satu titik sudah cukup bukan untuk membalas semua pesan Sehun?

"Bicarakan masalahmu baik-baik. Katakan apa yang kau suka dan yang tak kau suka. Kalau kau tak bicara pada Sehun, Sehun tak akan tahu" Jongin memghela nafasnya.

"Aku sudah pernah mengatakannya eonni"

"Apa kau langsung mengatakannya? Atau hanya memberikan kode belaka?" Taemin menggegam kedua tangan Jongin.

"Sehun bukan anggota pramuka yang peka dan hafal dengan semua kode. Aku selalu membicarakan apa yang aku suka dan tak suka pada Minho, dengan itu Minho mengerti diriku. Coba kau lakukan" Jongin mengangguk, kemudian mengambil coatnya yang berada di samping kursinya.

Taemin ikut bangkit dari kursinya dan mensejajarkan jalannya dengan Jongin.

Sampai Jongin membuka pintu depan, Taemin membisikkan Jongin sesuatu.

Semoga berhasil.

Jongin tersenyum, "Doakan aku eonni" Setelah itu Jongin berjalan menuju Sehun yang sudah menunggunya.

"Selamat pagi bear"

Ucapan Sehun itu hanya dibalas deheman oleh Jongin. Sehun terus berusaha tersenyum dan membuat suasana hati Jongin baik.

"Mau berangkat sekarang?" Jongin mengangguk. Saat tangan Jongin ingin membuka pintu mobil Sehun, tangan Sehun menahannya terlebih dahulu.

"Biar aku yang membukanya untukmu" Jongin langsung menepis itu.

"Tak perlu. Aku punya tangan untuk membukanya" Setelah itu Jongin membuka pintu mobil itu sendiri. Sehun hanya menghela nafas, kemudian menatap Taemin yang sedang memperhatikan mereka.

Setelah Sehun membungkuk dan pamit, Taemin terdengar berteriak, "Jaga Jongin, Sehun" Sehun mengangguk dan mengangkat satu jempolnya kearah Taemin.

Sebelum Sehun membuka pintunya, ia menghela nafas dulu sebelum akhirnya ia membuka mobil itu dan mendapati Jongin asik dengan ponselnya.

Setelah memakai seatbeltnya, ia kembali menatap kearah Jongin. Jongin belum mengenakan seatbeltnya, lagi-lagi Sehun mencoba untuk mendekatkan diri pada Jongin. Namun sayangnya baru tubuh Sehun mendekat kearah tubuh Jongin, Jongin lebih dulu mengenakan seatbeltnya.

Sehun memaksakan senyumnya dan menyakinkan dirinya untuk sedikit lebih bersabar.

"Sudah siap?" Jongin hanya membalas dengan anggukan. Sehun langsung melajukan mobilnya dengan tempo sedang.

Jongin terlihat bingung, karena Sehun mengambil arah menjauhi kantor mereka. Tapi Jongin memilih diam, mengingat ia masih dalam mode marah pada Sehun.

Seakan mengerti Sehun menjawab pertanyaan yang terus berputar di kepala Jongin.

"Kita tak akan pergi ke kantor hari ini. Aku akan mengajakmu kesuatu tempat" Jongin hendak protes, tapi ia memilih diam. Karena sekarang ia sedang malas berbicara dengan Sehun.

.

.

.

Satu jam berkendara tak ada satupun dari Sehun ataupun Jongin yang membuka suara. Tak ada alunan musik dan suara radio. Hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka.

Berulang kali Sehun ingin memulai pembicaraan, tapi berulang kali juga Sehun mengurungkan niatnya. Karena ia tahu Jongin pasti tak akan membalas ucapannya.

Sampai pada saat ponsel Sehun berbunyi dan terpampang nama Luhan disana.

"Kau tak mengangkatnya?" Tanya Jongin. Sehun tersenyum kemudian menekan screen lock ponselnya.

"Tidak"

"Kenapa? Jangan hanya karena kau ingin berbaikan padaku, lalu kau mengabaikan Luhan. Sementara setelah kita berbaikan, kau akan kembali mengabaikanku" Sehun tersenyum kemudian mengambil tangan Jongin. Sehun tahu Jongin akan menepisnya, tapi Sehun mengantisipasi itu.

"Kau cemburu?"

"Tidak, untuk apa? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau dan Luhan hanya sahabat? Dan menyuruhku untuk tidak cemburu?"

Sehun mengeratkan gengaman tangannya pada Jongin, kemudian menyiumi jemari Jongin yang berada di gengamannya.

"Maaf" Jongin langsung menoleh kearah Sehun.

"Maaf" Ulang Sehun. Jongin diam tapi matanya tetap menatap Sehun.

"Aku tahu mungkin aku keterlaluan selama ini. Aku tak peduli dengan perasaanmu. Aku selalu mementingkan Luhan. Aku selalu mengabaikanmu. Aku minta maaf" Kemudian Sehun menepikan mobilnya dan menatap Jongin lekat.

"Aku tahu mungkin kata maaf tak akan cukup untuk memaafkan semua kesalahanku. Tak akan cukup untuk menyembuhkan rasa sakitmu. Aku juga tahu kata maaf tak akan mengembalikan waktu dimana seharusnya kita bersama. Tapi aku mohon dengan sangat padamu, bisakah kau memaafkanku dan memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semuanya?"

"Dengan apa aku bisa mempercayaimu? Dengan apa kau akan menepati janjimu? Dan dengan apa ucapanmu bisa ku pegang?"

"Action speaks louder than words, aku berpegang teguh pada quotes itu" Jawab Sehun dengan senyum yang melekat di bibirnya. Dan tepat saat itu juga ponselnya kembali berdering dan lagi-lagi nama Luhan yang berada disana.

"See, no Luhan today. Hanya ada Jongin dan Sehun. Aku berjanji untuk itu" Ucap Sehun sambil mematikan ponselnya.

"Kau bisa menyimpannya kalau kau mau. Tapi kalau kau tak mau, aku akan menyimpannya dibagasi" Jongin diam dan hanya menatap ponsel Sehun. Saat Sehun membuka pintu mobilnya dan menarik ponselnya dari pandangan Jongin, Jongin menahannya.

"Bagaimana kalau ada meeting mendadak hari ini? Yang bisa menghasilkan jutaan won? Atau dengan investor incaranmu?" Sehun tertawa.

"Aku mengosongkan jadwalku hari ini Jongin, untukmu"

"Yang namanya mendadak, tak ada seorangpun yang tahu Sehun. Dan yang namanya mendadak juga, tak peduli kau sedang libur sekarang atau tidak" Sehun menghela nafas pelan.

"Lalu kau ingin aku menyalakan ponselku dan Luhan menganggu kita begitu?"

"Bukankah memang selalu begitu?" Jawab Jongin sarkas. Sehun lagi-lagi menghela nafasnya.

"Apa kau percaya kalau aku bilang aku tak peduli kalau memang disaat aku mematikan ponselku, meeting itu memang terjadi, dan aku kehilangan jutaan won bahkan investor incaranku?"

"Tidak" Jawab Jongin cepat.

"Tapi aku akan benar-benar melakukannya Jongin. Kau lebih penting dari jutaan won dan investor itu. Aku bisa mencari jutaan won dan investor yang lain, tapi aku tak bisa mencari Jongin yang lain. Kurasa ucapan itu cukup untuk membuktikan kalau aku memilihmu hari ini"

"Lalu kalau aku bertanya, Luhan secara tiba-tiba masuk rumah sakit hari ini, apa kau akan lebih memilihku? Seperti yang kau katakan tadi?" Suara Jongin mulai bergetar. Hatinya mulai terasa sesak. Sebenarnya Jongin akan menangis sekarang, tapi ia menahannya dan membiarkan matanya kini berubah menjadi merah.

Sehun diam.

Jongin tahu itu.

Jadi Jongin memilih untuk memasukkan ponselnya kedalam tas, kemudian membuka pintu mobil Sehun dan keluar dari sana.

Mungkin ia akan menyewa taksi untuk kembali kerumah. Atau kalau tak ada taksi ia akan menumpang pada mobil orang lain.

Jongin terus berjalan dengan air mata yang jatuh dari kedua matanya. Ia tahu kalau ia tak akan pernah mengantikan posisi Luhan dan ia sangat percaya dengan itu.

Kalau tahu akan seperti ini, Jongin memilih untuk tak mendengarkan ucapan Taemin eonni dan berangkat ke kantor seperti biasa dan berbincang dengan Baekhyun atau Minhyun teman barunya.

Isak tangis Jongin semakin menjadi saat ia merasa seseorang memeluknya dari belakang.

"Lepaskan aku. Aku tahu kau akan memilih Luhan. Jadi kumohon lepaskan aku dan aku akan melepaskanmu untuk Luhan" Mendengar itu Sehun langsung membalik tubuh Jongin secara paksa kemudian mengecup bibir Jongin.

Jongin terkejut. Tentu saja. Ini pertama kalinya setelah sekian lama Sehun kembali mengecup bibirnya.

"Jangan ucapkan kata-kata itu lagi Jongin" Ucap Sehun dengan tatapan tajam tapi lembut secara bersamaan.

"Kenapa memang? Bukankah itu maumu? Aku melepaskanmu untuk Lu..." Sehun kembali mengecup bibir Jongin untuk menghentikan ucapan Jongin.

"Aku memilihmu" Ucap Sehun tegas.

"Ya kau memilihku diantara jutaan won dan juga investor itu" Isakan Jongin kembali mengeras.

"Aku tak perlu kau pentingkan diantara jutaan won dan investor sialan itu. Aku hanya butuh satu. Kau lebih mementingkan aku daripada Luhan. Apakah itu sesulit itu?" Sehun memilih diam dan merengkuh Jongin dalam pelukannya.

"Aku tak butuh apapun. Aku hanya butuh hubungan kita normal seperti pasangan lain. Tanpa ada Luhan diantara kita" Sehun mengangguk kemudian mencium pucuk kepala Jongin.

"Aku memilihmu, bear. Mulai hari ini. Tak akan ada Luhan lagi. Kumohon percaya padaku" Ucap Sehun sambil memperdalam rengkuhanannya.

.

.

.

Sehun menatap Jongin yang tertidur disebelahnya. Sehabis menangis hebat tadi Jongin langsung tertidur. Bahkan air mata yang mengering masih tercetak jelas di pipi lembutnya.

Kedua ibu jari Sehun mulai mengusap lembut kedua pipi itu. Menghapus air mata yang mengering. Kemudian dengan perlahan Sehun mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jongin dan mencuri kecupan kecil di bibir Jongin.

"Kumohon percaya padaku dan jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi. Aku mencintaimu Jong" Setelah itu Sehun melepas coat yang ia gunakan dan menyelimuti Jongin dengan coatnya, kemudian saat Sehun ingin beranjak keluar, Jongin mulai gelisah dalam tidurnya.

Sehun kembali mendekatkan dirinya pada Jongin, kemudian mengelus lembut rambut Jongin.

"Sttt, tak apa-apa. Kembalilah tidur" Bukannya merasa nyaman, Jongin malah ngeratkan tangan Sehun yang berada diatas perutnya.

"Jangan tinggalkan aku Sehun" Ucap Jongin dengan nada hampir menangis.

"Aku disini dan tak akan meninggalkanmu. Kembalilah tidur bear" Jongin bergerak sedikit menyamankan posisinya, kemudian kembali tidur dengan tenang. Sementara Sehun tetap berada di posisi tak nyaman itu, karena ia tak mau membangunkan Jongin.

.

.

.

Butuh lima belas menit sampai Sehun bisa meninggalkan Jongin. Sehun mulai berjalan mengiringi pantai sambil sesekali merenggangkan tubuhnya. Jujur posisi tadi membuat pinggangnya sakit sekarang, tapi kenyamanan Jongin yang utama bukan?

Angin di pantai saat musim dingin sangat menyakitkan sungguh. Terlebih tak ada orang gila lain selain Sehun yang tak menggunakan coat disini.

Namun angin menyakitkan itu seakan sirna saat tubuh kecil Jongin memeluknya dari belakang. Sehun hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah apapun. Tangannya mulai mengenggam tangan Jongin yang melingkar di perutnya. Walaupun Sehun tahu tangannya sedingin es, tapi ia ingin memberikan kehangatan untuk Jongin.

"Kenapa tak menggunakan coatmu dan malah meninggalkannya bersamaku? Sekarang musim dingin Sehun. Kau bisa terkena flu nanti" Sehun mengangguk kemudian memutar tubuhnya menjadi memeluk Jongin.

"Kehangatanku sudah datang. Jadi aku tak perlu khawatir lagi untuk kedinginan"

"Hentikan mulut manismu. Gunakan ini" Ucap Jongin melepaskan pelukannya, kemudian menyodorkan coat milik Sehun. Wajah Sehun langsung berubah sedih. Jongin langsung mencibirnya.

"Cepat pakai. Aku lapar" Sehun malah terkekeh dan menyampirkan coatnya di tangan kirinya.

"Kau lapar atau malu mendengar mulut manisku hm?" Wajah Jongin berubah kaku kemudian pipinya berubah memerah.

"Ten--tentu saja aku lapar. Ayo cepat" Ucap Jongin berjalan kedepan menjauhi Sehun. Tawa Sehun meledak, kemudian menyusul Jongin dan memutar tubuh Jongin.

"Kau salah ambil jalan tuan putri. Restaurantnya kearah sini" Karena semakin malu, Jongin melepaskan rangkulan Sehun kemudian berjalan mendahului.

"Kenapa mendahuluiku terus? Kau itu sungguhan lapar atau malu?" Goda Sehun saat langkah kakinya sejajar dengan Jongin.

"Lapar" Jawab Jongin singkat.

"Kau ingin makan makanan sungguhan atau mulut manisku ini?" Jongin langsung memukul pelan lengan Sehun beberapa kali.

"Hentikan Sehun, aku malu" Sehun kembali terkekeh kemudian merangkul pundak Jongin.

"Baiklah baiklah, maafkan aku sweetie" Ucap Sehun sambil mencium pipi kiri Jongin.

"Jadi mau makan di restaurant yang mana?" Tawae Sehun.

"Yang ramai saja bagaimana?" Tanya Jongin sambil menatap Sehun.

"Katanya kau lapar? Kenapa kita tak memilih yang sepi saja?"

"Karena yang ramai pasti makanannya lebih enak, ayo kesana sebelum antriannya semakin panjang" Sehun hanya pasrah saat tangannya sudah di tarik oleh Jongin mendekati restaurant yang Jongin maksud.

.

.

.

Selesai makan Sehun dan Jongin memilih berjalan di pinggir pantai sebentar. Tangan mereka saling mengenggam dan terkadang terayun di udara.

"Kau tahu?" Ucap Sehun memutus keheningan dan Jongin langsung menatap Sehun lekat.

"Aku merasa bahagia hari ini" Jongin melepas gengaman mereka, kemudian merangkul lengan Sehun dan menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.

"Rasanya sudah lama bukan? Kapan terakhir kita seperti ini?" Tanya Sehun.

"Tiga atau empat tahun lalu mungkin"

"Selama itu?"

"Ya selama itu kau mengabaikanku hanya untuk seorang Luhan"

"Maaf" Jongin tersenyum, "Lupakan. Bukankah kita sepakat untuk tak membahas Luhan hari ini?"

"Tapi kau yang memulai nona" Ucap Sehun menggoda Jongin.

"Aku tak sengaja--yah mungkin karena itu terlalu menyakitiku dan aku selalu mengingatnya" Sehun diam yang diikuti oleh Jongin.

"Sudah jangan bahas Luhan lagi, bagaimana kalau kita menceburkan diri kelaut?" Sehun langsung menatap Jongin tak percaya.

"Jongin jangan gila" Tapi ucapan Sehun tak di gubris sama sekali oleh Jongin. Jongin langsung melepas coat, sepatu serta kaos kakinya.

"Yang masuk terakhir harus mentraktir makan malam dan pakaian ganti" Mengingat keduanya tak membawa pakaian ganti.

Baru Sehun mau memprotes, Jongin lebih dulu berlari kearah air. Mau tak mau Sehun mengikuti jejak Jongin.

"SEHUN AYO KEJAR AKU. INGAT TARUHAN KITA" Teriak Jongin sambil berjalan mundur. Saat Sehun akan mengejar Jongin, Jongin langsung berteriak dan menceburkan dirinya dalam air.

Mungkin semua orang disana menganggap mereka pasangan aneh yang menceburkan diri di air di cuaca sedingin ini? Tapi siapa peduli? Toh Sehun dan Jongin menikmatinya.

"OH SEHUN AKU MEMBENCIMU" Teriak Jongin saat di dalam air. Sehun yang mendengar itu langsung memeluk Jongin.

"KIM JONGIN AKU MENCINTAIMU MENIKAHLAH DENGANKU" Jongin yang tadinya sedang tertawa di dalam pelukan Sehun, langsung terdiam.

"Menikahlah denganku Jongin" Pinta Sehun dengan nada serius.

Jongin tetap diam. Bibirnya kelu. Ia tak tahu harus menjawab apa sungguh.

Sehun tersenyum karena Jongin tak kunjung menjawab lamarannya.

"Kau sudah kedinginan. Lebih baik kita keluar sekarang dan aku akan mencari handuk untuk kita" Ucap Sehun sambil terus mendekap lengan Jongin.

Jongin hanya mengangguk sebagai tanda persetujuannya.

.

.

.

Jongin menatap punggung Sehun yang sedang berdiri di meja resepsionis. Malam ini mereka memilih untuk menginap di salah satu hotel dekat pantai itu.

Selain karena Sehun kelelahan untuk berkendara pulang, baju mereka sekarang sedang berada di laundry. Karena Sehun hanya bisa menemukan kaos dan celana ala pantai serta pakaian dalam seadanya. Alasan itu juga yang membuat mereka mau tak mau harus menginap dulu.

"Jongin kamar yang tersisa hanya satu dan itu single bed room. Apa tak apa? Apa kita harus mencari hotel lain?" Jongin menggeleng.

"Tak apa, lagipula baju kita sudah masuk di laundry hotel ini" Sehun mengangguk ragu, kemudian berjalan terlebih dulu untuk menunjukkan kamar mereka.

Sehun membuka pintu kamar hotel mereka selebar mungkin untuk memberi jalan pada Jongin. Sehun sedikit lega karena menemukan sofa panjang di sudut ruangan. Tak mungkinkan ia tidur di ranjang yang sama dengan Jongin, selain sempit, Jongin juga baru menolak lamarannya.

"Aku akan tidur disofa itu. Kalau kau sudah lelah kau boleh tidur terlebih dahulu" Ucap Sehun sambil berjalan kearah tempat tidurnya malam ini.

"Ah iya, selamat tidur Sehun" Ucap Jongin sambil menaiki kasur satu-satunya di kamar ini.

"Selamat tidur Jongin"

.

.

.

Tigapuluh menit Jongin mencoba untuk tidur, tapi itu tak berhasil sama sekali. Suara Sehun menganggunya. Bukan karena dengkuran, tapi karena Sehun terus menganti posisi tidurnya yang berakibat sofa itu terus mengeluarkan suara.

"Sehun?" Suara decitan sofa itu seakan menghilang dari udara dan di gantikan oleh keheningan.

"Sehun, kau belum tidur?"

"A-aku sedang berusaha untuk tidur"

"Apa sofa tak nyaman?"

"Nyaman kok hehe... pergilah tidur. Maaf mengganggumu"

"Sehun kemarilah. Ada space kosong disini dan kurasa cukup untuk kita berdua"

"Tak apa Jong"

"Sehun kemarilah" Karena Jongin sudah mengulang perintahnya, mau tak mau Sehun beranjak dari sofa itu dan berjalan kearah ranjang.

Saat Sehun mendekat, Jongin menggeser posisi tubuhnya dan memberi space lebih luas untuk Sehun.

Saat Sehun sudah tidur menyamping, Jongin mendekat kearah Sehun dan memeluknya.

"Kau tahu?" Tanya Jongin memecah keheningan.

"Aku juga bahagia hari ini Sehun, terimakasih" Tangan kiri Sehun kini sudah menjadi bantal untuk Jongin.

"Dan untuk lamaranmu..."

"Kau tak perlu menjawabnya sekarang. Lebih baik kita tidur dan mengisi energi untuk besok"

Jongin diam, tapi kemudian Jongin mendongakkan wajahnya dan menatap wajah tampan Sehun yang sudah menutup matanya.

Dengan keberanian penuh, Jongin mengecup bibir Sehun terlebih dahulu. Mata Sehun langsung terbuka secara spontan.

"Aku menerimamu" Setelah itu Jongin langsung membenamkan wajahnya di dada Sehun.

Mau tak mau bibir Sehun membentuk senyuman sekarang.

"Kau tadi bilang apa?" Tanya Sehun. Tapi Jongin diam. Sehun tahu Jongin sedang berpura-pura tidur sekarang karena tak dapat menahan malunya.

"Jongin tadi kau bilang apa?" Jongin masih diam. Tapi senyum Sehun sama sekali tak memudar di bibirnya.

"Kau sudah tidur?" Terdengar deheman kecil dari Jongin. Sehun langsung mendongakkan wajah Jongin kemudian mencium bibir Jongin serta memberi sedikit lumatan.

"Terimakasih. Aku mencintaimu. Aku tak akan mengecewakanmu. Aku berjanji" Jongin menggeleng pelan.

"Jangan berjanji. Karena janji akan menjadi janji belaka. Tapi tolong buktikan padaku" Sehun mengangguk.

"Baiklah, aku akan membuktikannya padamu"

Tbc

Maaf agak lama upnya. Aku baru pulang liburan dan juga ffn aku agak error kemarin.

Semoga kalian ga kecewa dengan alur yang di paksakan.

Terimakasih!!!!!

-Love, Amanda.