TAKE MY HEART
EXO Fanfiction
HunKai
Cast : EXO member and other
Rating : T
Warning : BL, Typo
Romance, Humor, Drama, or call it what you want
Previous
Jongin menoleh ke kiri mengamati sisi kanan wajah Sehun, heran, bagaimana dia bisa mengatakan hal yang lumayan tepat mengenai hubungannya dengan sang ibu.
"Hubungan kalian terlihat jelas."
"Aku tidak butuh simpatimu. Terimakasih."
"Kau tahu kapan pernikahan kita diadakan?"
"Tidak."
"Tidak ingin tahu?"
Jongin mendengus semua ucapan Sehun memuakan. Berarti dirinya menganggap Sehun sama seperti bagaimana Sehun menganggapnya. Lalu tiba-tiba Jongin melihat masa depan suram terbentang luas di hadapannya.
"Sebelum kau kembali ke kampus kita sudah menikah. Kau tahu apa yang akan dilakukan setelah pernikahan?"
BAB EMPAT
"Apa yang dilakukan setelah pernikahan?"
"Jangan sok polos."
"Apa maksudmu?" Kening Jongin berkerut dalam.
"Tentu saja berkembang biak."
Berkembang biak. Astaga! Jongin tidak tahu darimana seorang Pangeran Oh Sehun bisa sangat menyebalkan. "Berkembang biak?"
"Hmm. Memang apalagi, Istana butuh penerus."
"Apa tidak ada kalimat yang lebih bagus lagi." Sindir Jongin.
"Apa? Aku harus mengatakan padamu maukah kau hidup bersamaku dalam suka dan duka sampai maut memisahkan. Kau ingin aku mengatakannya. Cih, murahan sekali."
"Lalu kau pikir berkembang biak bukan kalimat murahan?! Kau pikir aku Sapi hah?!" protes Jongin bersiap melayangkan pukulan pada kepala Sehun.
"Kepalaku benjol aku bisa menjebloskanmu ke dalam penjara." Ancam Sehun.
"Astaga kau….," Jongin menahan kesal kedua tangannya mengepal erat. "Aku tidak yakin kau seorang Pangeran! Pasti kau tertukar di rumah sakit!"
"Tertukar? Imajinasimu terlalu berlebihan dan tidak beralasan."
"Aku yakin wajahmu itu hasil operasi plastik."
"Aku bisa menuntutmu di pengadilan atas ucapan tidak sopanmu."
"Demi Stone aku malas berdebat denganmu. Turunkan aku di kafe dekat Namsan."
"Dan kau pikir aku akan menuruti permintaanmu?"
"Dengar, aku memiliki kehidupanku sendiri jadi turunkan aku sekarang."
"Baiklah, tunjukan arahnya dengan tepat."
"Tentu." Balas Jongin menahan senyum, akhirnya dia terbebas dari hari paling sial dan hari paling membosankan di dalam hidupnya. Berjalan-jalan dengan Pangeran Dinding Oh Sehun.
Sehun menghentikan mobilnya di halaman parkir kafe. Dia melangkah turun dari mobil diikuti Jongin yang berlari kecil mendekatinya bersiap melancarkan protes.
"Kau tidak akan mengikutiku kan?" Jongin bertanya ragu-ragu.
"Untuk apa aku mengikutimu, seperti tidak ada pekerjaan yang lebih penting."
"Lalu kenapa kau memarkir mobilmu? Kau bisa langsung pergi aku tidak memintamu menemani atau menungguku."
"Masuklah, aku haus." Ujar Sehun sebelum mengambil langkah mendahului Jongin memasuki kafe, mengabaikan seluruh perhatian yang diberikan padanya.
"Bolehkah aku mengumpat? bolehkah aku mengumpat?" Jongin tidak tahu dia sedang bertanya kepada siapa. Setelah punggung Sehun menghilang ke dalam kafe, Jongin berlari menuju tangga samping kafe.
Di lantai dua teman-temannya sudah menunggu. Di meja yang sudah mereka pesan, meja langganan. "Jaebum! Hanbin! Yugyeom!" Jongin berteriak girang sembari berlari menghampiri meja teman-temannya.
Ketiganya tersenyum lebar, Jongin memberi pelukan singkat kepada mereka sebelum mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Hanbin. "Kalian sudah lama menungguku?"
"Lima menit." Balas Hanbin kemudian tersenyum.
"Mari memesan sesuatu…," ujar Jaebum melantunkan kalimatnya membuat ketiga temannya tersenyum.
"Aku pesan menu biasa." Jongin mendorong buku menu di hadapannya tanpa minat.
"Bagaimana kencanmu?"
"Aku tidak ingin membahasnya Hanbin."
Hanbin mengangguk pelan ia lantas memanggil pelayan dan bahkan dengan berbaik hati menyebutkan semua pesanan yang diinginkan oleh teman-temannya.
"Seharusnya kau membawa Taehyung ke sini, bisa meramaikan suasana." Ujar Jaebum.
"Aku diciduk dari rumah mustahil aku membawa Taehyung." Jelas Jongin yang mengundang tawa ketiga temannya. "Aku serius!" kesal Jongin.
Sepuluh menit kemudian pelayan datang membawakan empat gelas minuman dan dua piring kentang goreng serta satu cake cokelat. Tangan kanan Jongin mengaduk sedotan di dalam gelas, mencampur warna hijau dan merah menjadi satu. Kemudian mendengus kasar karena dia tidak mendapatkan campuran warna yang dia inginkan. Berikutnya Jongin berubah kesal dengan cepat.
"Brengseeekkk!"
Jongin berteriak sekuat tenaga mengabaikan tatapan teman-temannya yang bisa diartikan sebagai tatapan jijik. "Sebenarnya apa yang terjadi?"Jaebum bertanya dengan nada tenang.
"Pangeran Sehun menurunkanmu di depan kafe, wah ternyata dia lumayan pengertian juga." Ujar Yugyeom yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Jongin.
"Pengertian pantatku!" dengus Jongin sebelum menjatuhkan dahinya ke atas meja kafe, menimbulkan suara benturan yang lumayan menyakitkan bahkan membuat ketiga teman semejanya mengernyit.
"Aku rasa itu sakit." Hanbin ragu-ragu mengucapkan kalimatnya.
"Aku ingin memukul wajahnya!" geram Jongin sambil mengangkat kepalanya, terlihat jelas bagaimana dahinya memerah akibat benturan. "Dimana Jackson dan Bobby?" Jongin memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan menjadi lebih menyenangkan.
"Bobby dia sedang sibuk dengan tugas akhir kuliahnya dan Jackson dia ingin membantu bisnis keluarga. Maksudku belajar membantu bisnis keluarga." Terang Jaebum. "Jangan menatap Yugyeom seperti itu?!" pekik Jaebum menyeret Jongin kembali pada kewarasan.
"Si—siapa yang menatap Yugyeom." Kilah Jongin dengan kalimat terbata membuat teman-temannya tertawa kecuali satu orang, Yugyeom.
"Sebenarnya apa yang dikatakan Pangeran Sehun padamu?" Jaebum mengembalikan topik pembicaraan. Mereka berada di lantai dua, jauh dari keramaian dan telinga-telinga lain yang bisa saja mencuri dengar.
"Bukan hal penting." Gerutu Jongin sembari menikmati sirup melonnya.
"Jika bukan hal penting tidak mungkin kau uring-uringan seperti sekarang." Jaebum menunjuk wajah Jongin dengan garpu plastik.
"Bukan hal penting….," Jongin menggantung kalimat kemudian bergidik ngeri. "Sudahlah!" putus Jongin.
"Kenapa pesananku tidak segera sampai?" Hanbin menoleh menatap Yugyeom dan Jaebum yang dibalas dengan gelengen pelan. Sambil mengeluarkan keluhan Hanbin memutuskan untuk mencari tahu kemana makanan yang dia pesan tersesat.
"Dia benar-benar tidak sabaran." Komentar Yugyeom.
"Kau bisa tenang karena perutmu kenyang." Balas Jaebum, Yugyeom mendengus sementara Jaebum hanya tersenyum santai. "Aku pergi ke toilet sebentar." Pamit Jaebum.
Jongin mengikuti pergerakan tubuh Jaebum dengan pandangannya. "Jongin."
"Hei!" protes Jongin karena entah untuk yang keberapa kalinya seseorang yang lebih muda darinya memanggil namanya tidak sopan. Demi wajah dinding Sehun, Yugyeom bahkan lebih muda dari adik kandungnya Kim Taehyung.
"Apa kau menyukai Jaebum hyung? Im Jaebum?"
"A—apa?!" beruntung Jongin tidak sedang meminum sirupnya, bisa-bisa dia menyemburkan cairan sirup di dalam mulutnya kepada Yugyeom. "Darimana kau mendapat kesimpulan seperti itu?"
"Hanya perkiraan saja, dan Jaebum hyung tahu kau menyukainya. Tapi semuanya menjadi sulit karena kau akan menikah dengan seorang Pangeran karena itu Jaebum hyung terus meledek jika kau menyukaiku." Terang Yugyeom panjang lebar.
"Itu—entahlah..," Jongin menggaruk pelan pelipis kanannya. "Kurasa itu—tidak bisa disimpulkan sebagai cinta."
"Bagaimana perasaanmu ketika berdekatan dengan Jaebum hyung?"
"Perasaan…," Jongin mencoba merangkai kata untuk menjawab pertanyaan Yugyeom. "Entahlah aku merasakan hal yang sama saat bersama kalian. Aku nyaman bersama kalian."
"Apa tidak ada perasaan yang lain? Maksudku perasaan yang lebih mendalam pada Jaebum hyung dibanding dengan aku dan teman-teman yang lain?"
"Jangan membuatku bingung." Gerutu Jongin, kemudian memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan sekaligus mengabaikan keberadaan Yugyeom dengan mencomoti kentang gorengnya.
Yugyeom tersenyum miring melihat tingkah konyol Jongin. "Baiklah kalau kau tidak bersedia menjawab, tapi apa yang kau katakan pada Pangeran Sehun sampai beliau bersedia mengantarmu ke tempat ini?"
"Aku katakan padanya jika aku harus menemui teman-temanku untuk urusan penting dia tidak mengatakan hal lain lalu mengantarkan aku ke tempat ini."
"Semudah itu?"
"Ya."
"Sesederhana itu?"
"Ya." Kali ini Jongin mengangguk untuk meyakinkan Yugyeom.
"Bagaimana jika Pangeran Sehun ke rumahmu dan mengadu pada ibumu. Habislah kau Kim Jongin."
Jongin menelan ludah kasar, membayangkan betapa mengerikannya semua yang Yugyeom katakan. "Ka—kau jangan mengatakan yang tidak-tidak!" protes Jongin nyaris memukul wajah Yugyeom jika laki-laki yang lebih muda dari Jongin itu terlambat menghindar.
"Jongin. Kita harus kembali."
Yugyeom menoleh, dia langsung berdiri dan membungkuk hormat kepada Sehun. Sehun mengacuhkan keberadaan Yugyeom dan berjalan mendekati Jongin. "Kita harus kembali."
"Aku ingin tinggal lebih lama, kau bisa pergi lebih dulu. Aku akan meminta Jaebum mengantar nanti atau naik taksi."
"Kita pergi bersama akan menjadi masalah jika kau tidak kembali bersamaku."
Mengabaikan semua rasa kesal yang bertumpuk Jongin berdiri dari kursinya. "Sampaikan salam dan permintaan maafku pada Jebum dan Hanbin."
"Tentu." Balas Yugyeom.
Kira-kira satu menit setelah Sehun membawa Jongin pergi Jaebum kembali dari toilet, dia menatap Yugyeom dan langsung mendapat jawaban bahkan sebelum dirinya mengutarakan apa yang ingin dia ketahui.
"Pangeran Sehun mengantar Jongin pulang, kurasa. Atau mungkin mereka pergi ke tempat lain, entahlah." Terang Yugyeom.
Jaebum tidak mengatakan apa-apa. Dia menduduki kursinya kembali. Menikmati jus jeruknya dan melirik ke halaman parkir dari ekor matanya disela kegiatannya menikmati sirup.
.
.
.
Jongin mengikuti langkah kaki Sehun, ia sengaja berjalan lambat dan membiarkan Sehun mendahuluinya. Bahkan sebelum pernikahan dilaksanakan Jongin sudah merasa dikekang. "Malang sekali nasibku…," gerutu Jongin.
Sehun berhenti melangkah, menoleh ke belakang menatap Jongin. "Bisakah kau berjalan lebih cepat? Matahari sangat menyengat apa kau tahu itu?!"
"Kau bisa pergi lebih dulu." Balas Jongin dengan nada malas. "Astaga!" pekik Jongin ketika Sehun menggenggam pergelangan kanannya dan menariknya. "Apa yang kau lakukan?!" protes Jongin.
"Membuatmu berjalan lebih cepat."
Jongin memasang sabuk pengaman ke tubuhnya dengan malas, dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman dekatnya, selama libur musim panas. Tapi, seorang Oh Sehun tiba-tiba dipaksa masuk ke dalam kehidupannya yang tenang.
Jongin menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. Merasakan dinginnya kaca mobil yang menjalari kulit sisi kanan wajahnya. "Apa kau tidak menderita?"
"Menderita apa?"
"Menikah di usia dua puluh tiga tahun itu sama sekali tidak wajar, kita terlalu muda. Ayolah kau pasti setuju dengan pendapatku."
"Tidak ada yang peduli dengan pendapatmu."
"Kau…," Jongin menahan keinginannya untuk memukul wajah datar Sehun entah yang keberapa kali hari ini.
"Kim Jongin dengar jangan memperumit sesuatu yang sederhana."
"Apa maksudmu?"
"Berhenti melebih-lebihkan segala urusan. Apa yang dibebankan padamu dan apa yang dibebankan padaku adalah kewajiban, jangan banyak bertanya."
"Aku tidak memiliki pilihan lain?"
"Kau pikir aku memiliki pilihan lain?" Sehun balas melempar pertanyaan kepada Jongin.
"Kenapa kau sangat menyebalkan Sehun! Aku membencimu! Aku ingin melakukan banyak hal bukannya diikat pada kewajiban konyol seperti menikahimu! Aku bahkan tidak mencintaimu sama sekali tidak!" pada akhirnya Jongin berteriak melampiaskan semua amarah yang dipendamnya.
Tanpa Jongin duga Sehun menepikan mobil yang sedang dia kemudikan, ketika Sehun menatapnya tajam. Jongin menelan ludah kasar, baiklah dia merasa sangat terintimidasi sekarang. Sehun terlihat menakutkan.
"Apa kau mencintai orang lain?" Sehun bertanya dengan nada dingin. "Apa kau berharap menikahi orang lain?"
"Tentu saja aku mencintai orang lain dan tentu saja aku berharap untuk menikah dengannya!" Jongin menjawab dengan nada tinggi penuh keberanian dan gertakan, tentu saja.
"Lupakan cintamu, dewasalah. Lupakan cinta dan romantisme picisan murahanmu. Lakukan kewajiban berbakti pada Istana dan Negara."
"Berbakti? Apa berbakti itu aku harus menikahi dinding sepertimu?"
"Kim Jongin." Peringat Sehun.
"Bagaimana aku bisa menikah dengan seseorang yang tidak bisa menghormatiku dan bahkan tidak tahu bagaimana caranya tersenyum?!" Jongin berteriak di hadapan wajah Sehun. Ia tarik lepas sabuk pengaman tubuhnya kasar. Membuka pintu mobil berniat berlari meninggalkan mobil Sehun.
Sehun mengunci pintu mobil cepat. "Kau pikir apa yang akan kau lakukan?" geram Sehun lantas menjalankan mobilnya kembali, mengabaikan perasaan Jongin.
Mobil berhenti tepat di halaman kediaman keluarga Kim. Jongin menarik napas dalam, berharap suaranya tidak terdengar bergetar. "Bisakah kau buka kunci pintunya?" pinta Jongin.
"Sudah." Jawab Sehun selang beberapa detik dari permintaan Jongin.
Jongin melangkah pelan melintasi halaman rumah kediaman keluarganya. Tanpa menoleh ke belakang, ia merasa sangat lelah dan tidak peduli lagi dengan apa yang Sehun akan lakukan.
Jongin sedikit lega karena ibunya bukan orang pertama yang menyambut kedatangannya melainkan Taehyung. "Ibu masih di Istana, beliau bilang akan kembali larut. Jongin…,"
Kalimat Taehyung menggantung ketika Jongin memeluknya. Menumpukan dagunya pada bahu kanan sang adik. "Sebentar saja Tae, aku sangat lelah." Gumam Jongin.
"Apa yang terjadi?" Taehyung bertanya sambil menatap wajah Sehun yang diam-diam mengikuti Jongin.
"Aku tidak bisa menikahi Sehun, aku rasa aku bisa mati jika menikahi Oh Sehun."
"Jongin jangan mengatakan hal-hal bodoh. Sebaiknya kita masuk, aku akan memasak sesuatu untukmu." Tawar Taehyung.
"Aku tidak meracau Taehyung." Jongin bersikeras. "Aku akan mati jika menikah dengan Sehun, dia sangat dingin, aku tidak bisa membayangkan seluruh sisa hidupku bersamanya. Apa tidak ada pilihan untuk menghindari pernikahan konyol ini Tae?"
"Jongin hyung kita masuk sekarang." Tegas Taehyung ia bahkan memanggil nama sang kakak dengan hormat. Taehyung merangkul bahu Jongin dan membimbing kakaknya memasuki rumah.
"Sehun mengatakan sesuatu yang sangat kasar padaku."
"Kita bisa membicarakan semuanya di dalam." Bujuk Taehyung, dia tidak ingin Sehun mendengar lebih banyak dan keadaan semakin runyam. "Kita bicarakan di dalam, kau bisa mengatakan semuanya. Aku akan mendengar sampai akhir."
"Tentu Tae."
Sehun terperanjat mendengar kalimat Jongin, ia melangkah mundur perlahan kemudian pergi meninggalkan dua Kim bersaudara itu. dalam perjalanan kembali ke Istana, kepala Sehun penuh dengan berbagai pertanyaan tentang Jongin. Apakah dirinya begitu buruk dimata seorang Kim Jongin? Apa yang salah dengan dirinya?
TBC
Halo semua terimakasih untuk semua pembaca, terimakasih review kalian Guest, Jongie, ohseh, Hana, cute, blackfire0611, Julia kie, falconidct, Park RinHyun, novisaputri09, ajxx11, Athiyyah417, BabyWolf Jonginnie Kim, NisrinaHunkai99, saya sayya, 2463, elidamia98, Kyunie, jjong86, Anak Hunkai, jongiebottom, GaemGyu92, MilkCoffe9488, Nico984, GestiPark, teukiangle. See Ya Next Chap...,
