.

.

United Babes vs Kopites Boy

.

CHAPTER 3

.

Awalnya aku berpikir menjadikan FF ini dua chapter, tapi sepertinya nggak bisa karena kalau dua chapter langsung alurnya terlalu cepat nanti jatuhnya jadi jelek. Setelah aku hitung matang-matang, kemungkinan besar sampai 4-5 atau bahkan 6 chapter.
para lelaki Koreksi aku jika ada penjelasan yang salah

.

Sebuah FanFiction NaruHina yang lain mungkin bisa dibilang anti mainstream #kepedean. FF ini terinspirasi dari kisahku sendiri dalam berdebat dengan fans Liverpool. Semoga kalian suka FF abal ini.

.

"Untuk apa dia mengajakku berteman di facebook?"

Hinata masih tak percaya kalau akun yang merupakan musuh bebuyutannya seumur hidup mulai berubah sikap. Ia juga masih tak paham kenapa akun ini sekarang berbalik membelanya. Biasanya, ia terlihat paling gembira dan bahagia melihat Hinata di bully oleh fans lawan. Sebagai korban yang sering dipermalukan dan dibully di group, Hinata tak mau percaya begitu saja dengan musuh bebuyutannya ini. Ia curiga kalau ajakan pertemanannya ini adalah jebakan dan buruknya lagi, TheReds08 akan membajak akunnya lalu kemudian menyebarkan hal-hal mesum. Kalau begitu caranya, nama baiknya sebagai gadis sopan akan tercemar. Tidak, lebih baik ia tidak menerima permintaan pertemanan ini. Tanpa ragu Hinata mengklik tanda hapus permintaan dengan begini TheReds08 tidak akan bisa add lagi. Lagipula ia tak pernah memasang fotonya.

"Kau pikir aku akan terjebak dengan permainanmu. Tidak akan pernah," gumam Hinata sendirian ditengah malam.

Saat dirinya asyik termenung memikirkan nasib club kesayangannya yang pada beberapa terakhir pertandingan selalu menelan pil pahit. Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah nomor tak dikenal muncul dilayar. Hinata penasaran dan memutuskan untuk menerima panggilan misterius itu.

"Halo, siapa ini?" tanya Hinata ramah.

"Ini aku, Naruto. Masih ingat denganku kan?" jawab Naruto riang. Mendengar suara laki-laki itu disaat-saat seperti ini, seolah menjadi sebuah obat mujarab kegalauannya terhadap Manchester United. Hinata merasa kehadiran Naruto sangatlah tepat.

"Ah ternyata kau. Aku senang sekali kau menghubungiku disaat seperti ini," ucap Hinata yang tampak bermuram durja.

"Ahahahah kenapa, apa gara-gara Manchester United kalah?" goda Naruto.

"Iya, entah kenapa akhir-akhir ini mereka tampil buruk."

"Ahahaha, mereka memang pantas menerima kekalahan," ujar Naruto puas dan bahagia karena Manchester United keok.

"Apa?!" tanya Hinata sedikit tersulut emosi dengan ucapan Naruto.

"Bukan maksudku, club yang tidak tampil maksimal dan tidak memiliki maotivasi bagaimana mungkin bisa menang. Tentu saja kemenangan diraih oleh club yang tampil lebih baik," ujar Naruto yang mencoba menutupi perkataannya. Sepertinya dia tidak sadar dan lupa kalau ia mengaku pada Hinata adalah fans Barcelona bukan Liverpool jadi kenapa ia harus gembira atas kekalahan .

"Ahhh yang kau katakan memang benar," lirih Hinata dengan ekspresi sedih.

"Sudahlah jangan sedih seperti itu, memang kekalahan adalah takdir Tuhan. Sebagai pengobat kesedihanmu, bagaimana kalau besok setelah pulang kuliah, kita ber-hanami ria di taman Ueno?"

"Ahh idemu bagus juga,"kata Hinata girang.

"Kalau begitu, Besok berangkat kuliah aku jemput dan mulai besok kita harus berangkat bersama. Bagaimana?"

"Oke, akan aku tunggu besok ."

"Bye, mimpi indah Hinata."

"Kau juga selamat malam dan mimpi Indah, Naruto."

ooOOoo

Hinata selalu menjalankan aktifitas sehari-hari seperti biasanya. Setelah pulang kuliah biasanya ia langsung pulang ke rumah tapi khusus hari ini berbeda. Ia akan melakukan Hanami bersama Naruto. Biasanya ia melakukan tradisi Jepang ini bersama keluarga, berhubung keluarga Hinata sibuk jadi ia memutuskan untuk melakukan Hanami bersama Naruto. Hanami adalah sebuah tradisi di Jepang yang sering dilakukan dimusim semi, biasanya orang Jepang menggelar tikar dibawah rindangnya pohon bunga Sakura. Mereka melakukan Hanami bisa bersama keluarga, teman sekelas ataupun rekan kerja. Hanami lebih seru dinikmati bersama banyak orang. Namun berbeda dengan Hinata yang menikmati indahnya bunga Sakura hanya berdua saja bersama seorang pria yang akhir-akhir ini membuat jantungnya berdebar.

Ueno park merupakan taman public yang berlokasi di dekat stasiun Ueno tepatnya ditengah Tokyo. Ueno parka dikenal sebagai salah satu tempat Hanami paling favorit dan paling terbaik di Tokyo. Periode mekarnya bunga Sakura di Ueno park sekitar akhir maret dan awal april. Ueno park hari ini begitu ramai, hampir seluruh sisi taman penuh. Untunglah Naruto pintar mencari tempat sehingga mereka bisa menikmati indahnya sakura. Hinata asyik memejamkan matanya, ia menikmati guguran Sakura yang jatuh ditelapak tangannya. Berbeda dengan Naruto yang asik memotret setiap sudut pemandangan indah dengan kameranya. Titik fokus kameranya tanpa sengaja mengarah ke arah Hinata. Cantik, itulah kata yang spontan keluar dari dalam benaknya. Naruto memotret Hinata berkali-kali. Empat kali jepretan namun Hinata masih tak menyadarinya dan jepretan kelima Hinata mulai menyadari sesuatu. Suara aneh yang mulai mengganggu telinganya.

"Kau memotretku?" tanya Hinata penasaran.

"Begitulah, kau tidak suka? Kalau tidak, akan aku hapus."

"Tidak perlu, aku tidak keberatan," ucap Hinata ramah.

Matanya beralih dari Naruto ke orang-orang di sekelilingnya yang lagi asyik menikmati indahnya pohon Sakura. Seulas senyum tipis nan manis terlihat jelas dibibir merahnya, entah kenapa Hinata merasa bahagia melihat setiap senyuman orang-orang yang ada disekitarnya. Mereka terlihat bahagia. Menikmati hanami, tak lengkap jika tidak membawa bekal makanan. Untunglah Hinata menyempatkan diri sebentar untuk menyiapkan bekal makanan untuk Naruto. Sebuah bento yang berbentuk lucu dan menggemaskan, yang dikemas dalam bentuk beberapa karakter kartun.

"Rasanya, kurang lengkap menikmati hanami tanpa makan sesuatu," ucap Hinata sembari mengeluarkan bento didalam tas pikniknya. Saat gadis cantik itu membuka bekalnya. Naruto tampak kagum melihat keahlian Hinata membuat bento.

"Kau yang membuat sendiri bento ini?" tanyanya kagum.

"Iya, maaf kalau bento buatanku berantakan," ujar Hinata merendah.

"Kau tahu, bento buatanmu ini terlalu bagus dan lucu. Aku jadi tak tega memakannya."

"Ahahaha, hei Naruto, aku sudah susah payah membuat semua ini untukmu. Tega sekali kalau kau tak memakannya," protes Hinata.

"Ahahahaha, iya aku memakannya."

Dibawah guguran kelopak bunga Sakura, Naruto menikmati bekal buatan gadis cantik yang bernama Hyuga Hinata. Gadis disampingnya itu memang sempurna, selain berparas cantik ia juga pintar memasak. Beruntungnya lelaki yang akan menjadi suami Hinata kelak dan Naruto harap pria itu adalah dirinya. Entah kenapa ia sudah memiliki rasa sayang kepada Hinata walaupun perkenalannya dengan Hinata masih tergolong singkat. Ia tak menyangka akan menyukai seorang united babes, sebutan fans perempuan Manchester United. Mungkin, ini yang namanya karma. Dulu Naruto bersumpah pada dirinya sendiri, ia tak akan pernah dan tak mau berpacaran dengan gadis yang berasal dari fans lawan. Dia begitu membenci Manchester United, apapun yang berhubungan dengan setan merah itu ia seakan jijik dan muak. Tapi, ketika berada di dekat Hinata, rasa benci itu seakan sirna. Cinta memang mengubah segalanya.

Jika Naruto asyik menyantap bekal dan memandang Hinata dengan sejuta pikirannya. Berbeda dengan Hinata yang melihat seorang anak kecil laki-laki yang asyik bermain sepak bola bersama ayahnya. Anak kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan, namun ada satu hal yang Hinata tak suka dari anak kecil itu. Jersey Liverpool tampak membalut tubuhnya yang mungil. Segala macam yang berasal dari Liverpool ia benci bahkan jika ada seorang pria yang seorang kopites sikapnya pun sama. Berbicara tentang pria, ia teringat kembali tentang sebuah akun yang dulu membullynya sekarang mengajak berteman di facebook. Bukanlah itu hal aneh, apalagi bajak membajak akun merupakan hal yang lumrah di group itu.

"Naruto, aku ingin bertanya sesuatu padamu?" ucap Hinata, mata indahnya masih melihat sosok anak kecil berjersey Liverpool.

"Apa, katakan saja."

"Apa yang kau pikirkan jika orang yang selama ini membullymu mendadak ingin berteman denganmu? bukankah itu aneh?"

Mendengar pertanyaan dari Hinata, tenggorokan Naruto tercekat. Bahkan menelan makannya pun sulit. Jadi Hinata sudah melihat permintaan pertemanannya. Ia tak menyangka jika hal itu akan dianggap aneh oleh Hinata.

"Menurutku itu bukan hal aneh. Bukankah itu merupakan hal bagus jika seorang yang dulunya jahat padamu ingin berdamai denganmu?"

"Aku tahu, tapi melihat sikapnya selama ini padaku mana mungkin ia akan berdamai denganku. Kau tentu masih ingat kan dengan akun TheReds08, si kopites itu tiba-tiba mengajakku berteman di facebook. Aneh sekali."

"Terima saja, mungkin dia tulus ingin berteman denganmu."

"Sepertinya tidak, dia berteman denganku karena ingin membajak facebookku lalu menyebarkan hal-hal mesum di group. Sudah banyak korban bajak membajak di group bola itu. Aku tidak akan menerima pertemanannya."

Lemas dan tak berdaya ketika Naruto mendengar jawaban atas permintaan pertemanannya. Tekat untuk menyembunyikan identitas sebenarnya semakin kuat. Bagaimanapun caranya, Hinata tak boleh tahu jika dia adalah seorang kopites dan pemilik akun TheReds08. Dan Naruto pun menyadari bahwa hidupnya mulai rumit karena urusan cinta.

ooOOoo

Banyak hal yang mereka lakukan selama melakukan Hanami, selain memakan bekal bersama mereka juga foto bersama. Asyiknya lagi, kegiatan hanami di taman Ueno tidak monoton. Disini disajikan beberapa hiburan, mulai dari konser musik dan perlombaan lucu antar pasangan. Walaupun lomba itu tak memberikan hadiah yang besar namun peminatnya begitu banyak khususnya pasangan muda-mudi yang menjalin asmara. Naruto dan Hinata juga tak mau ketinggalan, Mereka berdua ikut serta dalam lomba tersebut. Lomba joget berpasangan dengan balon yang diletakan di antara wajah mereka. Namun bukan kening yang dipakai sebagai tumpuan namun bibir mereka. Ketika music mulai diputar,

Naruto dan Hinata mulai meliukkan tubuh namun masih fokus untuk mempertahankan balonnya. Tak hanya itu mereka harus tiga kali bolak-balik antara garis yang satu dengan yang lain. Suara teriakan riuh rendah disekeliling mereka. Keduanya mencoba menahan tawa demi keutuhan balonnya. Karena terlalu fokus, mereka tak menyadari mendekati sebuah ranting tajam bunga Sakura yang menjuntai kebawah. Duaaar, balon yang mereka pertahankan tiba-tiba pecah. Wajah mereka terasa sakit, kecelakaan ini membuat seluruh penonton heboh bahkan diantara mereka berteriak histeris.

"Kyaaa, lihat mereka berdua. Romantis sekali," ujar seorang gadis berambut hitam panjang sambil menunjuk-nunjuk Naruto dan Hinata. Semua orang bertepuk tangan.

Riuh rendah para penonoton lomba seolah tak terdengar ditelinga Naruto dan Hinata. Keduanya terkejut bukan main, nafas mereka berhenti bahkan jantung pun rasanya seolah tak berdetak lagi. Tanpa sengaja bibir mereka saling menyentuh satu sama lain. Tubuh keduanya begitu mendadak kaku dan tak bisa digerakkan. Berciuman tanpa disengaja lebih membuat keduanya kehilangan akal karena dilakukan tanpa persiapan apapun terlebih lagi hubungan mereka masih dalam tahap teman belum lebih. Saat mulai tersadar, keduanya mulai menghindar. Wajah mereka memerah seperti tomat merah yang terlalu matang.

"Hinata….Naruto….. ," panggil mereka bersamaan.

"Kau dulu saja," ucap Hinata.

"Aku minta maaf, aku tak bermaksud melakukan hal itu padamu."

"Aku tahu, jadi untuk apa kau minta maaf padaku. Kita sudah gagal, ayo kita keluar," ajak Hinata dengan wajah memerah.

Dan lagi-lagi sebuah darah segar keluar dari hidungnya yang mancung. Mimisan adalah kebiasaan Hinata jika ia merasakan sesuatu yang membuat dirinya melayang tinggi. Dua kali sudah Naruto membuat Hinata seperti ini. Sifat malu-malu mereka membuat para penonoton gemas dan menganggap mereka pasangan paling cute hari ini. Berkali-kali Hinata memegang dada dan menghembuskan nafas panjang. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang dari tadi berusaha memberontak dibalik tulang rusuknya. Tak hanya Hinata, pikiran Naruto pun menjadi kacau. Bahkan diantara keramaian, ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ciuman ini diluar dugaan. Walaupun begitu, dilubuk hati keduanya begitu senang selama mengalaminya.

"Hinata, bukankah sebaiknya kita pergi dari sini? Lihat orang-orang itu menatap kearah kita," ujar Naruto sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Aku rasa juga begitu."

ooOOoo

Cahaya bintang terlihat terang mewarnai gelapnya malam. Bintang-bintang itu tampaknya ikut merayakan hati dua muda-mudi yang berbunga-bunga. Tak banyak kata yang mereka katakan ketika menyusuri sebuah gang yang tampak sepi menuju rumah Hinata. Keduanya merasa begitu malu dengan kejadian harian ini walaupun hati nurani mereka menyukainya. Banyak hal yang mereka lewati hari ini mulai dari kejadian memalukan saat berhanami sampai pergi bermain di Disney land, Tokyo.

"Sudah sampai, masuklah Hinata udara semakin dingin," ujar Naruto penuh perhatian. Hinata mengangguk dan berjalan perlahan memasuki halaman rumahnya. Pria berambut pirang itu melambaikan tangannya, tak lupa ia menyuguhkan senyuman termanisnya kepada gadis pujaan hati. Hinata membalas lambaian itu tak kalah manisnya.

"Hati-hati, Naruto-kun!" teriak Hinata. Naruto hanya mengangguk bahgia.

Begitulah hubungan Naruto dan Hinata terjalin selama beberapa minggu kemudian. Berangkat bersama, keluar bersama bahkan meluangkan waktu bersama. Walaupun Naruto sudah mengetahui perasaanya pada Hinata namun ia tak mau gegabah mengungkapkan perasaanya. Ia ingin Hinata berpikir wajar, ia tak mau Hinata menganggapnya pria yang mudah jatuh cinta pada semua gadis. Hinata dan Naruto tak pernah terpisahkan, mereka selalu bersama di setiap waktu. Namun pada suatu hari Naruto tak bisa menemaninya karena ada urusan penting. Hinata merasa kecewa karena sahabat sekaligus pria yang dicintainya untuk kali ini tak bisa bersamanya. Ia juga menyadari perasaanya kepada Naruto namun sebagai wanita tak mungkin mengungkapkan perasaan terlebih dahulu.

Dua jam sudah Hinata berkutat dengan novel-novelnya. Hal seperti ini begitu membosankan. Ponselnya yang tergeletak dimeja tiba-tiba berdering. Ia berharap itu dari Naruto namun ternyata itu dari Sakura. Gadis berambut merah itu mengajaknya keluar bersama Sasuke disebuah café untuk sekedar makan malam. Iya, ide Sakura bagus juga. Setidaknya ini lebih baik daripada harus berdiam diri di rumah. Saat keluar rumah kali ini Hinata tak mau berdandan. Ia hanya berpakaian ala kadarnya, tubuhnya yang indah hanya berbalut sebuah jersey Manchester United kebanggannya. Sasuke dan Sakura tampak kaget melihat penampilan Hinata yang ala kadarnya.

"Hinata, apa kau serius mengenakan jerseymu ini saat di café?" tanya Sakura.

"Kenapa tidak, memang kenapa aku harus tidak yakin?" tanya Hinata balik.

"Kau akan berada di kandang kopites dan kau tahu, hari ini disana diadakan nonton bersama bigmatch antara Liverpool vs Arsenal. Bisa-bisa kau dimakan oleh mereka!" ucap Sasuke mencoba menakuti Hinata.

"Siapa takut. Aku ingin tahu bagaimana ekspresi mereka ketika mengetahui fans Manchester United hadir ditengah-tengah mereka."

"Kau cari mati?" tanya Sasuke.

"Mungkin saja hehehe."

"Dasar gadis gila," ledek Sakura.

ooOOoo

Suasana café terlihat lebih hening. Jika biasanya café ini dipenuhi dengan pertunjukan musik, namun tidak untuk hari ini. Tak ada musik, semua pengunjung terpaku melihat layar besar yang menampilkan pertandingan Liverpool vs Arsenal. Saat Hinata, Sakura dan Sasuke memasuki ruangan. Barisan kopites paling belakang menatap Hinata tajam. Mereka saling berbisik satu sama lain. Gadis bersurai ungu itu tak peduli, ia tetap stay cool mengambil tempat duduk dan memesan beberapa menu. Ia tak percaya berada ditengah-tengah barisan kopites. Hinata salut dengan kesetiaan mereka terhadap The Reds, walaupun terpuruk fans tak pernah surut mendukung mereka. Tanpa sengaja mata Hinata terpaku pada seseorang yang berjalan membelakanginya dengan nama TheReds08 dibelakang jerseynya. Hinata meringis melihat fenomena ini. Ternyata pria ini yang selama ini membullynya. Hinata penasaran wajah dibalik rambut pirang itu. Mulutnya ternganga lebar ketika pria yang menjadi pusat perhatiannya berbalik. Naruto? Ia tak percaya jika pria itu adalah Naruto. Beribu pertanyaan muncul di otaknya, bukankah ia bilang kalau dia fans Barcelona dan pencinta liga spanyol. Hinata tak pecaya dengan apa yang ia lihat, ia berjalan perlahan mendekati Naruto yang asyik bergurau sembari melihat pertandingan. Lagi-lagi Hinata menjadi pusat perhatian para kopites. Bukan karena kecantikannya tapi karena ia mengenakan jersey Manchester United. Tangan kanan Hinata meraih pundak pria berambut pirang itu. Ia menoleh, pria itu tampak terkejut melihat kehadiran Hinata.

"Naruto, jadi benar kau Naruto? dan TheReds08 itu kau?"

TO BE CONTINUE