The Feeling Between Us

Chapter 4: I Don't Care

Disclaimer:

Bleach

by Tite Kubo

warning: AU, OOC, paragraf/kalimat (bukan kata) dengan cetak miring (Italic) adalah adegan drama.

.

"Mungkin hanya aku yang bisa menyadarkan mereka berdua..." pikir lelaki berambut coklat yang masih mengenakan gakuran yang berjalan sendiri sore itu.

.

.

Siang itu—di hari Sabtu yang cerah, Keigo menemui Rukia yang sedang asyik menikmati ramen di kedai Paman yang tempo hari Rukia datangi.

"Heiho!" sapa Rukia dengan mulut penuh ramen.

"Telan dulu ramenmu itu," balas Keigo sembari mengambil tempat duduk di samping Rukia. "Soal ending drama kita.. Ini.." Keigo mengambil beberapa helai kertas dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Rukia, "itu lanjutan naskah drama buatanku. Aku.. mengubah jalan ceritanya. Aku tak tahu kenapa—tapi itulah cerita yang ingin kupentaskan. Yaah, kalau kalian tidak setuju dengan ideku, bisa langsung menggantinya."

"He?" Rukia berhenti meminum kuah dari mangkuk ramen-nya dan memandangi Keigo, "Kenapa? Waktu kita tinggal seminggu lagi dan kau mau kita mengulang semuanya?"

"Tidak semuanya. Kumohon, Kuchiki!" Keigo menyatukan telapak tangannya di hadapan gadis beriris violet itu—memohon dengan sangat.

Rukia tertegun melihat apa yang dilakukan Keigo. Ia memiringkan kepalanya, dan berkata, "Baiklah, kali ini saja aku menuruti kata-katamu. Tapi, kau harus mentraktirku ramen tiap akhir minggu selama sebulan penuh!"

"Eh?!" Keigo terlihat tidak setuju, tapi kemudian dia mengangguk. "Baiklah. Nah, aku pergi dulu, Kuchiki-san." Lelaki berambut coklat itu menghilang di balik tirai kedai.

Sepeninggalan Keigo, Rukia yang telah menghabiskan ramennya, berjalan menuju rumahnya. Sambil melangkah perlahan, ia melihat-lihat naskah buatan orang-yang- labil-memanggilnya-antara-Rukia-dan-Kuchiki.

"Memangnya dia ingin dramanya seperti apa sih?" Rukia membalik-balikan halaman naskah itu dan..

"I.. ini..?!" Rukia terkejut, menghentikan langkahnya, dan menengadahkan kepalanya ke langit. "..ini akan menjadi kisah yang panjang..."

.

.

Senin pagi.

Ichigo tampak bersemangat pagi itu. Ia mendatangi meja Rukia, "Ruki-chan, kau akan menjadi sahabatku~"

"Hanya dalam drama. Ingat itu, baka," balas Rukia ketus.

Ya, dalam naskah yang baru, Rukia menjadi teman dekat Ichigo sedangkan Keigo menjadi teman dekat Hinamori. Benar, kebalikan dari peran mereka sebelumnya. Jalan ceritanya yang diubah hanya sedikit, karena itu tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan drama tersebut.

"Ngomong-ngomong Keigo, naskah yang kau berikan padaku belum selesai," kata Rukia sambil menunjukkan 2 lembar halaman yang masih putih bersih pada naskah yang dipegangnya.

Keigo hanya tersenyum misterius, "Kau akan mengetahui akhirnya sendiri nanti," katanya. 'Tergantung bagaimana kau memainkan drama itu,' gumam Keigo dalam hati. "Baiklah, kita berlatih saat istirahat pertama nanti."

.

(berikut ini *huruf yang terketik miring/mode italic* adalah adegan drama kelompok 3)

Ichigo membuka pintu kelas dengan cepat, dan tergesa-gesa menghampiri Rukia yang sedang asyik membaca.

"Ada apa, Ichigo?"

"Kau harus dengar ceritaku! Jadi kemarin.. ah, aku bingung harus memulainya darimana! Ini benar-benar kejadian yang membahagiakan.."

Rukia membetulkan letak kacamata bacanya dan berkata, "Tenang. Baliklah kursi di depan supaya kau bisa duduk menghadapku. Bicaralah perlahan, aku mendengarkan."

Ichigo pun melakukan yang Rukia minta dan menceritakan pengalamannya kemarin, ketika Hinamori menyatakan perasaanya..

"Bodoh!" bentak Rukia.

"Eh?" Ichigo bingung. Tanpa pikir panjang, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Rukia, "Ruki-chan, bicara apa kau? itu tidak ada di naskah," bisiknya.

"Terserah!" Rukia bangkit dari kursinya dan melepas kacamatanya. Ia berlari keluar kelas.

Ichigo menoleh pada Keigo yang sibuk memegang kamera. "Ada apa dengan gadis itu? Apa sebaiknya aku mengejarnya?"

"Aku tidak tahu," balas Keigo dengan senyum simpul.

.

'Apa yang baru saja kulakukan?' pikir Rukia resah sambil terus berjalan di koridor kelas, 'aku mengacaukan dramanya. Tak seharusnya aku membentak Ichigo.. Tapi..' Rukia masuk ke bilik toilet wanita dan membasuh wajahnya—ia berniat menghilangkan 'galau'nya.

Rukia memandangi dirinya sendiri di cermin toilet itu. 'Tapi... aku tak suka ia membicarakan Momo terus, bahkan dalam drama sekalipun.. Kenapa aku ini? Kenapa aku egois?' Rukia menyeka air di wajahnya dengan handuk kecil yang selalu ada di sakunya, dan kembali menuju kelas.

"Hai, Kuchiki, ayo kita lanjutkan adegan yang tadi," kata Keigo saat melihat Rukia kembali ke kelas.

"Baiklah. Maaf atas sikapku tadi. Aku hanya.. Aku kira aku salah melakukan adegan. Bukankah ada adegan selanjutnya, di mana Ichigo curhat padaku soal Momo dan aku tidak suka mendengarnya? Tak apa kan kalau aku improvisasi sedikit."

"Asal tak menyusahkanku sih, tak apa," Ichigo menghampiri kedua temannya itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Baiklah, mari kita mulai adegan ke-12." Keigo menekan tombol record di handycam-nya.

.

"Rukia, kenapa waktu itu kau membentakku?"

"Tidak apa. Aku hanya teringat temanku yang kisahnya sepertimu, tapi kemudian ia menyia-nyiakan si gadis yang menyukainya."

"Benarkah?"

"Ya. Bagaimana hubunganmu dengan Momo? Sudah seminggu kalian pacaran kan?"

Ichigo mengangguk, "sejujurnya aku bingung dengan sikapnya. Dia yang menyatakan perasaannya padaku lebih dulu, tapi dia banyak sejauh ini hubungan kami baik-baik saja."

"Mungkin dia punya pemikiran sendiri soal bagaimana remaja berpacaran?" terka Rukia.

"Aku tidak tahu... Ngomong-ngomong soal bagaimana kami berpacaran, kami sudah mulai memanggil nama kami masing-masing, meski awalnya canggung juga. Waktu kami bergandengan tangan pertama kali.. Wah, tangannya benar-benar mungil dalam genggamanku!"

"Ohya?"

"Ya, dan ketika dia tersenyum padaku, senyumannya benar-benar. Keigo bilang, ia bahagia bisa berdampingan denganku. Aku melihat..." Ichigo memandang keluar jendela kelas, tempat mereka berbincang, "...sosoknya seperti malaikat yang sangat manis.."

"Ichigo—"

"Selain itu, tiap pagi dia membuatkan bekal untukku—"

"Ichigo—"

"—bekal buatannya luar biasa. Dia memang pandai memasak. Bahkan masakannya..."

"ICHIGO!"

Rukia berdiri sambil memukul meja dengan kedua telapak tangannya.

"Eh?" Ichigo yang sedari tadi melihat sosok Momo yang sedang berada di lapangan sekolah menoleh—menatap gadis yang tampak kesal itu di hadapannya. "Ada apa Rukia?"

"Aku tidak bertanya bagaimana kau memandang Momo! Aku tidak bertanya apa saja yang sudah kalian lakukan! Aku—"

"Hei hei, kau ini kenapa sih? Ayolah, aku kan sudah sering menceritakan pacar-pacarku padamu.. dan kali ini hanya Momo. Ada apa dengannya?"

Rukia mengambil nafas perlahan, berusaha menahan emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Emosi sungguhan. Bukan emosi dalam drama.

"Apa... Apa kau cemburu Ruki-chan? Kau cemburu padaku kan?" Ichigo berdiri dan mendekatkan wajahnya pada wajah Rukia yang mulai memerah. "Kau suka padaku kan?"

Deg!

Rukia masih menenangkan dirinya sambil menunduk, memalingkan wajah dari wajah lelaki berambut oranye di hadapannya, "Kau..!" Rukia mengangkat wajahnya dan menatap Ichigo. "Jaga perkataanmu itu! Kau terlalu percaya diri! Aku tidak menyukaimu! Aku tak peduli lagi pada hubunganmu dan Momo! Aku—aku membencimu!"

Deg!

Ichigo terperangah dengan semua kata-kata yang meluncur dari bibir gadis di hadapannya itu dengan cepat. Ia memandang lantai yang ia pijak, dan kemudian berjalan cepat menuju pintu. Ia keluar, dan menutup pintu dengan membantingnya.

Rukia hanya terdiam di tempatnya berdiri, dan tiba-tiba jatuh berlutut. "Apa yang baru saja kukatakan..."

Keigo yang telah mengamankan handycam-nya menghampiri gadis dengan rambut hitam itu. "Akting yang bagus, Kuchiki-san!" katanya sambil mengacungkan jempol.

"Tidak.." Rukia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "yang tadi itu.. bukan akting.. Aku telah menyakiti perasaan Ichigo!" Rukia tampak menahan tangis.

"Tenanglah, Kuchiki. Aku mengerti perasaanmu.." ujarnya berusaha menenangkan gadis yang bahunya berguncang menahan tangis itu.

'Apakah alur seperti ini akan mengarah ke akhir yang baik?' pikir Keigo.

.

.

Karena kejadian kemarin, Ichigo dan Rukia sama sekali tidak mau bertatap muka—apalagi menyapa.

"Rukia, Ichigo, hari ini kita latihan drama lagi ya, sepulang sekolah.." ujar Momo Hinamori.

"Aku...—"

Belum sempat Rukia menyelesaikan kata-katanya, Ichigo menimpali, "Aku tidak akan ikut latihan hari ini." Ichigo menghampiri Hinamori dan menempatkan rambutnya yang terjuntai di wajahnya ke belakang telinganya. "Maafkan aku." Ichigo tersenyum dan berlalu.

Deg!

'Apa-apaan itu?' ujar Rukia dalam hati melihat adegan yang baru saja terlintas di hadapannya. "Eh, Momo.. aku.. juga tidak bisa ikut latihan hari ini. Maafkan aku." Rukia berlari kecil keluar kelas, dan berpapasan dengan dua orang teman sekelasnya di koridor.

"Hai, Kuchiki-san, apa kau sudah dengan gosip terbaru kelas kita?" tanya Inoue Orihime—gadis berambut oranye kecoklatan. Di samping Inoue, berdiri seorang gadis tomboi yang bernama Tatsuki.

"Gosip apa?"

"Momo dan Ichigo jadian! Benar-benar pasangan yang serasi ya?" ujar Inoue bersemangat.

Apa?

"Benarkah? Bagaimana, maksudku—bagaimana bisa?" Rukia sebenarnya tidak ingin mendengar lanjutan pembicaraan ini, tapi ia sungguh penasaran.

"Memangnya siapa yang mengatakan mereka tidak bisa jadian?" timpal Tatsuki. "Tampaknya mereka dekat karena pembagian kelompok drama," gumam Tatsuki.

"Ngomong-ngomong, kelompokmu mementaskan drama apa Kuchiki-san?"

"Eh, ano, itu.. rahasia kelompok," jawab Rukia sambil tersenyum kecil. "Ohya, siapa yang menyebarkan gosip ini pertama kali?"

"Hmm.. tidak ada. Tapi, tidak usah ada yang mengatakan juga terlihat kok," ujar Tatsuki.

"Ya, kami bisa melihat 2 orang yang saling menyukai. Dan Ichigo serta Momo salah satunya," tambah Inoue.

"Baiklah, kami akan kembali ke kelas. Kau mau ke mana, Kuchiki-san? Apa kau ikut?" tanya Tatsuki.

"Aku.. Misato-sensei memanggilku. Kalian duluan saja, sampai nanti." Rukia memalingkan wajah, dan berlalu dengan perasaan aneh yang semakin membesar di hatinya.

.

.

"Jadi mereka sudah benar-benar jadian? Hah.. tak ada bedanya dunia nyata dengan dunia drama. Aku tak punya kesempatan lagi..." Rukia menggumam sambil berendam malam itu.

"Pantas saja Ichigo terang-terangan melakukan hal itu di hadapan anak-anak sekelas.. Tapi kenapa mereka tak cerita padaku? Mereka anggap aku ini siapa? Dan, kapan mereka mulai berpacaran? Haah.." Rukia menenggelamkan sebagian wajahnya dan memandangi dinding di hadapannya.

"Tapi ini lebih baik.. daripada dikhianati.."


Halo semuanya, apa kabar? Baru beres UTS nih, jadi baru bisa ngetik lagii~ gimana ceritanya? Kurang berasa konfliknya atau garing?._. Saya seorang pemula dan ini fict pertama saya, yoroshiku onegaisimasu _

Naah, selanjutnya, terimakasih untuk yang sudah review lavender kururu-chan dan eghiserelaa :))

Btw minna, saya mau bertanya. Kan itu saya ngasih jeda kejadian dengan enter pake titik., gimana ya biar bisa pake strip (-) makasih:)