Hazy Moon (Colorful x Melody)
Author: Park Hyesung
Pairing: YeWook (Yesung x Ryeowook) , JongWook (Jongwoon x Ryeowook)
Genre: Romance,Family, Friendship, Humor
Rate: T
Summary: Kau akan mendapat kejutan tak terduga
Warning: YAOI, GenderBender
Disclaimer: Author hanya meminjam
nama mereka untuk kepentingan
cerita. Tak suka dengan pairing ini?
Tinggal keluar dari halaman ini kok
Butiran salju mulai menghujani beberapa negara yang sudah memasuki musim dingin. Termasuk negara Korea Selatan, Seoul. Begitu dingin butiran putih bersih itu jika mengenai kulit.
"Kya! Kita hampir terlambat!" Ketiga pemuda itu berlari secepat mungkin. Mengacuhkan pandangan orang-orang pada mereka dan suhu udara yang sangat minus. "Lebih cepat lagi!" Perintah Yesung yang paling depan disusul Kyuhyun dan Donghae. "Cih, aku juga sedang berusaha!" Seru Donghae keras.
Kalau bukan karena Jongwoon tidak membiarkan Yesung pergi, mungkin mereka sudah bekerja dari lima belas menit yang lalu. 'Akan kubalas kau, Jongwoon!' Batin Yesung kesal
Jongwoon mengadu pada appanya jika Yesung seminggu ini sering keluar malam, tidak jelas untuk apa baginya. Ketika Kangin, appa si kembar ini tahu Yesung sering keluar malam jadilah Jongwoon disuruh menjaga kakaknya secara ketat walaupun itu tidak berhasil
"Hahh... Hahh... Hahh..." Ketiganya berhenti di depan cafe, mengambil nafas memburu. Satu tangan bertumpu di lutut dan satu lagi memegang perut yang sakit. Ayolah, ketiganya belum makan malam saat ini.
"Aku hahh capek!" Keluh Kyuhyun. "Ya! Sedang apa kalian disini? Cepat bantu aku!" Siwon yang kebetulan keluar cafe langsung menyeret ketiganya masuk.
Siwon dan Kibum bekerja di cafe ini saat siang hari sedangkan Yesung, Kyuhyun dan Donghae menggantikan mereka saat malam hari.
Langsung saja mereka masuk ke ruang staff, mengganti baju tebal mereka dengan baju pelayan berwarna hitam dan putih.
Sexy Free and Single Im ready to bingo
Sexy Free and Single Im ready to bingo
Dering ponsel Yesung memecahkan keheningan "Yesung, ponselmu berbunyi tuh." Ujar namja berambut ikal itu sambil menata rambutnya yang dipenuhi salju. Dengan ogah-ogahan Yesung mengambil ponselnya di jaket yang digantungnya.
"Yeobosaeyo?"
"..."
"Mwoya? Aku tidak peduli kalau kau mengadu! Aku hanya ingin menikmati hidupku sekarang!"
"..."
"Aish, Jongwoon!" Yesung berteriak kesal dan hampir saja membanting ponselnya jika Kyuhyun tidak memegang tangannya. "Ya, ada masalah apa hah?"
Yesung mendecak, "Bukan urusanmu." Jawabnya dingin sambil berjalan keluar. Donghae dan Kyuhyun saling bertatapan, "Ada apa ini?"
=.=.=.=.=.=.
Namja bermata ungu tua itu melempar ponselnya ke tempat tidur kakaknya. "Dia bekerja di club malam lagi. Aku yakin." Gumamnya menahan amarah. "Yesung hyung!"
"Ya! Kenapa berisik sekali?" Ryeowook yang baru selesai masak langsung menghampiri Jongwoon. "Hyung?" Melihat Jongwoon menidurkan dirinya diatas tempat tidur, Ryeowook pun mendekatinya
Mendudukkan dirinya disebelah Jongwoon, "Yesung hyung... Kau..." Geram Jongwoon kesal. Tangannya menggepal kuat. Dia sama sekali tidak sadar kalau Ryeowook duduk disebelahnya.
Tangan lentik itu memegang salah satu tangan Jongwoon kemudian mengecupnya pelan. "Hyung... Bolehkah aku bertanya?" Tubuh namja tampan itu mengubah posisinya jadi terduduk. "Tanya apa?"
Ryeowook terdiam sebentar, "Hyung dan Yesung sering menbicarakan kalimat 'kejadian tiga tahun yang lalu', Aku jadi penasaran. Kejadian apa itu sebenarnya?"
Hening
Setelah Ryeowook mengucapkan pertanyaan lancang seperti itu, Jongwoon hanya menatap datar dirinya. Seperti Yesung... Tatapannya yang datar itu mampu membuat detakan jantungnya semakin cepat.
"Tanyakan saja pada Yesung hyung." Ucap Jongwoon cepat dan menidurkan kembali tubuhnya. Memunggungi Ryeowook yang menatapnya bingung.
=.=.=.=.=.=
...Tiga tahun yang lalu...
"Hyung mau kemana? Ini kan sudah malam." Namja bocah berumur tiga belas tahun dengan polosnya bertanya saat kakaknya akan keluar dari jendela tengah malam seperti ini.
Sang kakak, Yesung menoleh ke arah Jongwoon. Menatap adiknya datar sambil memikirkan sesuatu. "Hyung? Kenapa tidak menjawab ku?"
Yesung menggaruk kepalanya, "Tak harus ku jawabkan? Cepat kembali tidur dan jangan ikuti aku. Oh ya, satu lagi. Jangan bilang pada appa dan umma kalau aku pergi ne? Bye." Setelah berucap demikian, bocah bermata mutiara hitam ini melompat keluar jendela.
Jongwoon terdiam di tempat tidurnya, "Eh? Sebenarnya hyung mau kemana?" gumamnya kecil. Tadi yang ia lihat walaupun cahaya kamar mereka berdua sangat minim, dia melihat kakaknya membawa kantung plastic yang cukup besar.
Berinisiatif, dia mengikuti kakaknya setelah mengambil jaket tebal. Musim dingin kali ini begitu dingin, sangat dingin.
Kakinya berusaha mengejar langkah kaki kakaknya yang sudah agak jauh. Hampir setengah jam ia berjalan mengikuti sang kakak tapi Yesung masih kuat berjalan ditambah kantung plastic yang sepertinya berat.
Yesung berbelok kearah kiri dan berjalan terus, tentu saja Jongwoon mengikutinya terus tanpa sepengetahuan Yesung. Tiba-tiba bau alkohol menusuk hidungnya. Dia sampai di depan sebuah club malam yang dipenuhi oleh yeoja berdandan menor dan para ahjussi yang mabuk.
Tapi yang dipikirannya sekarang, untuk apa Yesung masuk kesana? "Yesung? Sedang apa kau disini? Bukannya jam kerjamu sekarang?" seseorang menepuk bahu Jongwoon. Dengan cepat Jongwoon mengangguk sambil menatap orang asing itu.
Pasti dia dikira Yesung karena mereka kembar.
Orang itu beranjak masuk setelah melihat anggukan Jongwoon yang ia kira Yesung. Kakinya tidak melangkah masuk kedalam sana, masalahnya akan tambah panjang jika kakaknya tahu kalau dia berada disana.
Dia bersembunyi di semak-semak menunggu Yesung keluar. Tiga jam dia menunggu akhirnya Yesung keluar dengan kantung plastic ditangannya. Lelah memang duduk diantara semak selama tiga jam tapi rasa penasaran membuatnya bergerak lagi
Yesung tidak berjalan ke arah rumahnya, melainkan berlainan arah. Terus diikutinya Yesung hingga sampai di sebuah rumah yang tidak begitu layak ditinggali. Senyum namja bermata hitam kelam itu begitu mengembang saat kucing-kucing jalanan mengikutinya.
"Aigoo, kalian semakin manis saja." Yesung mengelus bulu-bulu kucing itu dan berjalan lagi masuk kedalam rumah tersebut. Jongwoon masih begitu penasaran dengan tujuan datangnya Yesung kesini
Namun semuanya terungkap saat ada seorang yeoja berperawakan kecil memeluk kakaknya sebelum dia masuk kedalam rumah. "Oppa!" Seru yeoja itu senang disela-sela pelukannya. "Aku senang oppa datang lagi kesini!"
Yesung terkekeh kecil melihat tingkah manja sang gadis. "Luna-ya, aku membawa makanan enak. Ayo kita masuk kedalam ne?" Pemuda tampan itu mengelus punggung sang yeoja walaupun baju yeoja itu sangat kotor dan kusam
"Jinjja? Yeah, oppa bawa makanan lagi!"
Setelah mereka berdua masuk, Jongwoon keluar dari semak-semak dengan wajah yang sangat terkejut. "Siapa Luna? Apa hubungannya dengan Yesung hyung? Aku harus mengadu kepada appa."
=.=.=.=.=.=.=
Bruk!
Pintu kayu itu terbuka lebar hingga terjatuh ke lantai karena yang membukanya sangat kasar. "Yesung!" Suara itu menggelegar di rumah kumuh tersebut. Istri dan anaknya menunggu diluar dengan cemas
Yesung bergumam kecil karena berisik yang masuk kedalam telinganya. Dipeluknya erat yeoja yang ia sayang itu. Yeoja itu juga masih tertidur nyenyak dengan Yesung di atas ranjang.
"Yesung!" Kangin dengan kasar menarik tangannya yang memeluk pinggang Luna dan membiarkan Yesung jatuh. "Apa yang kau lakukan dengan yeoja ini hah?" Bentakan kasar itu sukses membuat Luna terbangun.
"Appa? Kenapa bisa ada disini?" Tanya Yesung takut. "Jongwoon yang memberitahuku. Sekarang cepat pulang! Appa akan mengurungmu selama seminggu!"
"Appa!" Yesung meringis kesakitan saat Kangin memegang tangannya kuat dan menyeretnya keluar. "Oppa!" Luna mengejarnya namun Kangin menatapnya tajam sehingga Luna tak berani mengejarnya lagi.
"Luna! Appa, jebal lepaskan aku!" Berontak Yesung namun kekuatannya masih kalah dengan appa. "Luna! Aish, tunggu aku ne? Aku akan kembali lagi!"
=.=.=.=.=.=.=
"Appa! Lepaskan aku! Aku tidak mau dikurung! Aku harus menemui Luna, appa!" Air mata Yesung jatuh seketika sembari memukul keras pintu kamarnya. "Luna hanya temanku! Aku menemukannya saat aku pulang sekolah. Dan soal bekerja di club malam itu hanyalah cara aku mencari uang untuk memberikan Luna makan. Kumohon appa!"
Seruan Yesung membuat telinga Kangin hampir tuli selama lima hari ini. Kedua orang tuanya bisa mendengar semuanya dengan jelas di ruang tamu, seperti sekarang ini.
"Kangin-ah, sudah lepaskan saja Yesung. Biarkan dia bertemu gadis bernama Luna itu." Bujuk Leeteuk, istri Kangin sambil memberikan secangkir teh. "Aku akan melepaskannya jika sudah satu minggu. Aku mau membuatnya kapok dan tidak akan bekerja macam itu lagi."
"Seharusnya dia berucap jujur kepada kita. Aku akan senang hati mengadopsi gadis kecil itu." Lanjut Kangin menyeruput tehnya. "Oh ya, dimana Jongwoon?"
"Dia bilang mau membeli koran untuk pelajaran sekolahnya." Jawab Leeteuk. "Umma! Appa! Ini gawat!" Teriak Jongwoon berlari mendekati mereka. "Apanya yang gawat?"
"Luna... Gadis itu meninggal karena kebakaran..." ujar Jongwoon sambil memperlihatkan koran ditangannya
Prang! Cangkir teh itu jatuh seketika.
=.=.=.=.=.=.=.=
Tubuh tegap itu jatuh seketika melihat makam yang menguburkan jasad perempuan yang ia sayang. "Lu-luna..." Suara baritone itu bergetar. Tangan mungilnya mengelus permukaan tanah yang masih basah.
Kedua orang tua namja itu beserta sang adik menaruh bunga diatas makan tersebut. Kemudian membungkuk kecil. "Yesung..." Pemuda tampan yang sedang sedih itu menghempas tangan ayahnya yang hendak menyentuh pundaknya.
"Aku benci appa." Ketiganya tersentak mendengar penuturan Yesung. "Ini semua salah appa. Seandainya appa tak mengurungku. Seandainya saja Jongwoon..." Tiba-tiba matanya menatap Jongwoon tajam. "Kau..."
Yesung berdiri, meninju wajah kembarannya secara kasar hingga terjatuh ke tanah. "Yesung!" Leeteuk menghampiri Jongwoon dan membantunya berdiri. "Kau mengacaukan semuanya!"
"Aku membencimu! Melebihi appa! Kau... Kau membunuhnya! Dasar adik tidak tahu diuntung!" Yesung kembali ingin memukul wajah Jongwoon tapi ditahan Kangin. "Yesung, hentikan!"
Yesung mendecak, "Oke jika itu mau kalian. Tinggalkan aku disini, sendirian! Aku akan pulang sendiri jadi tinggalkan aku!" Serunya penuh amarah.
"Tapi hyung..."
"Kubilang tinggalkan aku! Aku benci appa dan Jongwoon. Gara-gara kalian, Luna sekarang meninggal. Aku tidak bisa memaafkan kalian! Tinggalkan aku!" Ulangnya terus dengan emosi yang memuncak.
Hingga akhirnya keluarganya menurutinya. Membiarkan dia sendirian di makam Luna.
Ia mendudukkan tubuhnya di sebelah makam. Tangannya mengelus lagi permukaan tanah basah itu. "Salahku jika kau seperti ini." Terik matahari menghilang perlahan diantara awan-awan mendung. "Aku belum sempat mengatakan perasaanku padahal."
Senyum miris tercetak pada bibir tipisnya, "Saranghae Luna. Neomu saranghae." Tetesan air matanya terjatuh bersamaan dengan langit yang ikut menangis. "Nae sarang, jebal kajima... Dorawa.."
=.=.=.=.=.=
"Hey, jangan melamun." Kyuhyun merangkul Yesung yang berdiri di depan kasir saat cafe sedang akan jam tutup. Ia menoleh dan memandang Kyuhyun yang begitu dekat dengannya. "Kau masih sedang bekerja, sayang. Jadi jangan banyak melamun." Senyum simpul terpampang jelas diwajah pucat namja itu.
Yesung ikut tersenyum. Kyuhyun dan Donghae sangat menyayanginya. 'Senang dapat sahabat seperti mereka.' Batinnya bahagia. "Yesung, itu ada pengunjung lagi. Aku tinggal ke dapur ne?" Pamit Kyuhyun.
Namja itu mengangguk dan membiarkannya pergi kemudian menatap lurus. "Selamat datang di cafe..." Senyumnya menghilang ketika melihat sosok itu. "A-appa?"
Yesung mundur dua langkah saat Kangin memintanya keluar dari tempat kasir itu. "Ke-kenapa appa bisa..."
"Cepat keluar!" Bentak appanya membuat Donghae dan duo SiBum menengok kearahnya. "Tapi appa..." Kangin mendengus kesal. "Cepat keluar!" Ulangnya lebih keras.
Kyuhyun keluar dari dapur dengan tergesa-gesa, "Ada apa ini?" Donghae membekap mulutnya, "Itu appa Yesung." Bisiknya kecil saat keadaan semakin canggung.
"Appa Yesung?"
Perlahan Yesung mulai keluar dari tempatnya menuju salah satu meja. Wajahnya berubah datar.
Bukh!
"Akh!" Ringis Yesung kecil saat merasakan perutnya dipukul. Tubuh bagian belakangnya menabrak meja. "Appa?!"
"Wae? Wae?!" Balas Kangin menantang. "Appa tak salahkan? Seharusnya kau sadar kenapa appa menyuruhmu menjauh dari para yeoja. Appa tidak mau melihatmu terpuruk hanya karena yeoja lagi! Sebaiknya kau juga sadar kenapa appa memasukkanmu ke sekolah asrama agar kau tidak bisa kerja malam lagi."
Yesung mendecak, kemudian menatap Kangin tajam. "Apa appa tidak mengerti? Bekerja seperti ini lah yang ku suka! Lagi pula ini tidak termasuk kerja malam." Kangin menggertakkan giginya.
"Awas kau!"
Grep!
"Mianhae, Tuan Kim jika aku ikut campur tapi Yesung sudah besar. Tidak usah dipukuli juga dia sudah sadar. Dia juga pasti bisa berpikir apa yang baik untuknya." Kyuhyun memegang tangan Kangin yang hendak memukul Yesung.
Yesung terkekeh kecil melihat kelakuan namja ikal itu, "Sudahlah, Kyu. Kau tidak usah melawannya." Dia mendekati Kyuhyun sembari memegang perutnya yang masih kesakitan. Merangkul Kyuhyun dan tersenyum manis pada appa-nya.
"Appa tenang saja. Aku bekerja disini bukan untuk mendekati para yeoja melainkan cari uang untuk targetku. Seorang namja mungil dan manis." Senyum manis itu tiba-tiba berubah menjadi seringaian.
=.=.=.=.=.=
Dengan perlahan pintu itu berderit, membuat sang pelaku meringis kecil takut jika orang yang ada di dalam sana terbangun tengah malam. Setelah mengunci pintu, Yesung masuk kedalam kamar dengan perasaan bahagia.
Kangin memberinya sedikit uang untuk beberapa hari kedepan. Namja berstatus orang tuanya itu juga sudah menyetujui pekerjaannya. Yang penting dia bisa melupakan bekas luka terdalamnya akan Luna.
Appa mengetahui dia bekerja di cafe itu karena kebetulan akan membeli kopi untuk diminum sebelum berkendara untuk pulang. Kan bahaya kalau menyetir dengan keadaan mengantuk. Tapi malah sepertinya Kangin malah mendapat 'kopi' yang membuatnya tak akan bisa tidur semalaman karena senang.
Tapi senyum bahagia seketika menghilang melihat adiknya tidur satu ranjang dengan namja manis idamannya. Memang mungkin sudah biasa terdengar tapi baru kali ini Yesung melihatnya langsung dengan matanya.
"Hahh..." Ditepuk kecil dadanya yang tiba-tiba terasa sesak dan mulai menghela nafas berat sembari naik ke atas. Jongwoon begitu memeluknya erat, sangat erat. Dan Ryeowook tersenyum dalam tidurnya dalam dekapan Jongwoon.
Dia cemburu. Entah kapan perasaan cemburu ini datang dan membuatnya gelisah. Setelah mengganti baju, dia berbaring diatas ranjang. Memikirkan bagaimana bisa sebegitu mendadak dia menyukai namja manis bernama Kim Ryeowook itu.
Mungkin karena pertemuan pertama mereka begitu manis, saat ia bisa menatap secara dekat caramelnya, merasakan bibir Ryeowook di indra perasanya. Aigoo, wajahnya jadi memerah mengingat kejadian waktu itu.
Disaat tangannya mengelus paha Ryeowook dan bibirnya bergrilya di leher Ryeowook. Sejujurnya dia tidak bermaksud melakukan hal bejat seperti itu, hanya ingin bermain sebentar dengan namja mungilnya.
Tapi dia masih dendam dengan adiknya. Kenapa saat kebahagiaan datang padanya, Jongwoon juga mengikutinya? Lalu menghancurkan segalanya. Yesung bertekad akan mengambil Ryeowook dari Jongwoon. Bagaimanapun caranya.
Dendamnya pada sang adik sangatlah besar. Dari kecil dia tidak pernah dimanjakan. Dia diajarkan agar menjadi pria yang kuat dan bijaksana. Sedangkan Jongwoon selalu dimanja. Segala keinginannya selalu dipenuhi. Bagi Yesung harta itu memang tidak dipedulikannya tapi kasih sayang orang tuanya juga lebih banyak di Jongwoon daripada di dirinya
Sejak itu dia mulai merasa benci pada adiknya. Ditambah lagi setelah kejadian Luna meninggal, dia semakin membenci adiknya. Meminta kepada ummanya agar Jongwoon dikirim ke luar negeri atau ia akan berhenti bersekolah. Membiarkannya sendirian di Seoul bersama orang tuanya sudah cukup baik baginya
Dan tak disangka kembarannya itu pulang ke Korea dan mendadak tinggal bersamanya. Mungkin juga akan menghancurkan semuanya. Merebut pujaan hatinya seperti membunuh pujaan hatinya di masa lalu.
Tapi rasa sayangnya masih ada. Dia masih bisa memberikan rasa sayangnya sesekali kepada dongsaengnya. "Huft, begitu rumit."
=.=.=.=.=.=.=
Kening Yesung berkerut saat melihat cara berpakaian seragam Ryeowook. "Lho? Nggak pakai rok lagi yah?" Tanya namja tampan itu keheranan. Pemuda cantik itu menoleh kebelakang melihat Yesung berdiri tepat dibelakangnya.
Begitu dekat, hanya berbeda beberapa senti saja. "Engh.. Ne.." Jawabnya malu. Yesung mangut-mangut, "Kenapa? Bukankah kau akan semakin manis jika memakai rok?"
Blush! Pipi tirus itu merona merah, seperti warna apel yang baru matang. Pujian Yesung baginya seperti sebuah gombalan. "A-anou... Aku ingin sekali-kali memakai celana. Tidak apakan?" Tanya Ryeowook balik, dia menunggu persetujuan Yesung dengan takut-takut. Tak seharusnya dia begitu kan?
Namja tampan itu tampak berpikir, kemudian tangannya mengacak surai madu milik Ryeowook. "Kenapa harus bertanya padaku? Itu kan hak mu. Aku hanya memberikan pendapatku saja. Sudah ya aku pergi dulu." Pamit Yesung.
Sepasang caramel itu menatap punggung Yesung hingga menghilang dari pintu. "Hm? Ada apa denganku?" Tanyanya pada diri sendiri. Menyandarkan tubuhnya ke cermin yang menggantung. "Kenapa perasaanku..." Tangannya memegang dada kiri.
"Dia bilang seperti itu karena memuji saja kan? Masa aku..."
"Aku apa, Wookie-ya?" Tiba-tiba wajah kembaran Yesung ada di hadapannya. Membuatnya tersentak kebelakang menabrak dinding. "Hyung!" Serunya kesal. Jongwoon terkekeh, dia baru saja keluar dari kamar mandi tapi sudah disuguhi pandangan bingung nan imut Ryeowook.
"Lho? Tumben Wookie tidak memakai rok." Pertanyaan Jongwoon membuatnya teringat akan kejadian tadi. Mereka berdua benar-benar memiliki pikiran yang sama atau hanya keheranan belaka?
Ryeowook mengembungkan pipinya, "Salah ya kalau aku memakai celana?" Bertingkah ngambek seperti ini sudah biasa dilakukannya kepada Jongwoon. Hanya kepada Jongwoon
Namja bermata ungu itu kembali terkekeh, "Tidak kok tidak. Sudahlah jangan bertindak imut lagi." Tangan Jongwoon mencubit pipi Ryeowook gemas. "Mmh... Hyung, appo!"
"Sakit?" Bibir Jongwoon mengecup pipi Ryeowook sekilas. "Eotthe? Sakitnya hilangkan?" Ryeowook mengangguk semangat. "Cha, ayo kita pergi." Ajak Jongwoon sambil merangkul Ryeowook
Termenung sebentar untuk memikirkan kejadian tadi, Ryeowook merasa aneh pada dirinya. Kenapa disaat dia bersama Yesung jantungnya berdetak sangat cepat bahkan hanya dengan jarak mereka yang kecil.
Sedangkan Jongwoon yang sudah sering memeluknya bahkan mengecup pipinya selama hampir tiga minggu ini begitu tabu baginya?
The End
or
The And
Tsah apalagi ini chap -_- kejadian tiga tahun yang lalu telah terbongkar. Lalu, inilah awal perebutan Ryeowook dari si kembar Kim ho ho ho /ketawa ala shindong/ (?) Sebelumnya saya mau bilang, ada suatu alasan kenapa saya memakai mata Yesung itu mutiara hitam. Di ff IGAB ada yang review 'Author kenapa pake mutiara hitam? Author plagiat ff HaeWook dari salah satu author sini kan? trus gombalan di ff ini juga plagiatan dari ff Oh My Teacher kan?' Dan setelah itu saya di nasihati agar gak memplagiat. Oke sip itu gak terlalu masalah kalo memang saya dinasehati untuk tidak plagiat tapi jika dibilang plagiat saya gak terlalu setuju.
Pertama, saya gak suka crack pair. Jadi nggak mungkin saya baca ff HaeWook. Saya minta maaf kalo soal ini. Saya gak suka crack pair entah kenapa -.- Kedua, saya gak tahu mata obsidian itu kayak gimana '-' yang saya tahu mata Yesung itu kan hitam. Dan saya ingat mutiara hitam yang ada di game makan ikan ._. yang freeding frenzy yah kalo gak salah judulnya? Kalo salah yah maap kan saja, udah gak pernah main game itu lagi -.-
trus soal gombalan di ff IGAB, memang harus saya akui kalo saya suka ff Oh My Teacher TAPI kalau gombalan itu murni dari otak saya. Kenapa? Saya sering di gombalin dan lumayan suka menggombal orang lain. Jadi terserah kalian mau mengerti atau tidak, yang penting saya udah bilang sejujurnya. Dan yang kemarin nanya 'Author YeWook shipper ya?' Dan saya jawab, ne saya YeWook hard shipper.
Mian gak bisa balas review kalian, terlalu banyak dan takut nyepam lagi -.- Ngoceh soal ini saja udah nyepam -" Maaf kalo ada typo dan semacamnya. Kunjungi wp ku fanfictionyewookshipper . wordpress :) sebenernya chap 5 nya udah kelar tapu saya gak publish sekalian disini xD but, can give me review? ^^
