Eugenie : Tanpa terasa, sodara-sodari.. Nie crita dudutz udah sampe chapter 4.. Padahal gw rencanain cuma 1 chapter doank, tapi karena banyak yang request sihh.. –mohon maap pembaca, emank nie author kelewat narsizz-

Kenya : Ih, narsiz banget seh loe??

Chitose : Yah, itu sih dimaapkan saja.. Tapi, KENAPA MUSTI GW KORBAN FIC LOE???

Shiraishi : ... Saiia juga.. –pasang tampang bete-

Eugenie : Maap deh.. Namanya juga orank biadab.. Kebetulan aja muka loe berdua kebayang waktu mikir nie cerita..

Kintaro : Yujin juga mikirin aku dunz???

Eugenie : Tentu dunz, Kintaro sayang.. –maklum, nie Author emank biadab, bejadh en shouta-

Zaizen : Kelamaan ngomz nie!! Lanjutin aja yukk!!

Eugenie : Oke dehhh!! 3... 2... 1..

--------------------------------------

Mereka pun memasuki ruangan Shiraishi. Tampak Shiraishi kelelahan, sekali-kali Ia menatap bayinya dengan wajah senang bercampur kesal.

"Shiraishi-buchou.." Semua anggota Shitenhouji serempak memanggil buchou mereka itu.

"Ah, kali..." Shiraishi tak sanggup melanjutkan kata-katanya ketika melihat keberadaan si makhluk tak diharapkan satu ini, Tezuka Kunimitsu.

"KE... KENAPA KAMUUU???" Shiraishi langsung berdiri di atas ranjangnya dengan gagah, padahal seharusnya orang yang baru melahirkan berdiri pun susah.

"Buchou, nanti jahitanmu terbuka lagi.." Zaizen berusaha menenangkan Shiraishi. Shiraishi pun dengan tampang pongo duduk kembali di ranjangnya.

"Shiraishi-kun, tenang.. Aku tak akan memberitahukan siapa pun.." Tezuka ikut menenangkan Shiraishi.

"Ta.. Tapi.. Kau kan musuh!! Jangan-jangan kau akan menyebarkan aib Shitenhouji!!???"

"Perlu kubungkam??" Gin bersiap-siap melancarkan Hadoukyuu-nya.

"Tenang saja.. Kami bukan tipe orang yang seperti itu.." Jawab Tezuka degan tenangnya.

"Buchou.. SeiGaku sepertinya adalah sekolah yang baik.. Sudah, percayai saja.." Tambah Kenya. Akhirnya Shiraishi tenang juga.

"Baiklah.. Aku percaya padamu, Tezuka.. Awas kalau kau memberitahu.." Kata Shiraishi.

Tezuka membisiki Shiraishi, "Kapan, di mana dan bagaimana kau membuatnya?? Kok bisa seperti itu??"

"AAAARRRRGGGHHHH!!!!" Shiraishi jadi tambah stress. Tezuka yang Ia percayai ternyata mesum seperti itu.

Kita kembali ke Senko-chan..

Sementara Shiraishi ber-stress ria dengan Tezuka, Chitose dengan riangnya memeluk Senko dan membawanya kesana kemari.

"Senko-chan.. Jadilah kau orang yang cantik seperti ibumu dan pintar seperti ayahmu.." Katanya pelan, "Aku sangat menantikanmu.."

Seluruh anggota Shitenhouji saling berpandangan.

"Tunggu, jadi Chitose memang menginginkan anak??" Tanya Zaizen.

"Sepertinya iya.." Jawab Yuuji.

"Aniki memang sudah lama menginginkan anak.." Tambah Miyuki, "Aku juga tidak tahu kenapa ini terjadi.. Sangat kebetulan.."

Dasar oom-oom!!! Pikir semua anggota Shitenhouji. Mereka tak sanggup mengatakannya karena melihat Chitose yang dengan riangnya menggendong Senko, sementara Senko tampak cemberut .

Beberapa bulan kemudian..

"Shiraishi.."

"Hm??"

Pada pengambilan urutan kejurnas berikutnya, seluruh ketua klub tennis mengumpul di dekat Shiraishi. Shiraishi bingung.

"Bukankah sebaiknya kau ada di rumah saja?" Tanya Atobe.

"Hah, kenapa? Kalian takut akan kekuatanku??" Jawab Shiraishi dengan pede-nya.

"Bukan, ini masalah Senko.. Tidak apa-apa Ia ditinggal ibunya untuk bermain tennis??" Tambah Yukimura prihatin.

"APAAAAAA!!!!??? TAHU DARI MANA KALIAN????" Teriak Shiraishi histeris. Ia pun memelototi Tezuka dengan penuh kebencian.

"Tenang, yang memberitahu kami adalah bocah yang bernama Miyuki Chitose itu.."

Shiraishi terdiam. Betul juga, Ia sudah membungkam Tezuka maupun seluruh anggota Shitenhouji, namun Ia lupa untuk membungkam gadis cilik itu!! Shiraishi pun kehabisan kata-kata.

P A S R A H

Hanya itu satu-satunya pilihan Shiraishi. Ia pun memutuskan untuk menyerah, Karena semua sekolah sudah mengetahui aib terbesar Shitenhouji.

7 TAHUN KEMUDIAN

Di sebuah SD di daerah Osaka..

"Senko Chitose!!" Guru bertampang kecut itu menyerahkan raport akhir semester. Seorang gadis kecil berkuncir dua dengan riangnya melangkah ke depan kelas.

"Selamat, Senko-chan.. Kamu mendapat nilai tertinggi untuk semester ini.."Guru itu menyerahkan raport pada Senko, sementara seluruh kelas bertepuk tangan dengan meriahnya.

"Tapi, Senko.. Ibu penasaran dengan satu hal.."

"Apa itu, bu??"

"Kau menulis nama ibumu KURANOSUKE SHIRAISHI... Bukankah itu nama cowok?? Kamu tidak salah tulis, kan??"

"Tentu tidak, bu!! Itu nama mama!!" Senko bersikeras.

"Terus.. Cowok yang diperban sebelah yang menjemputmu tiap pulang sekolah itu papamu, bukan??"

"Bukan, itu mama!!" Jawab Senko polos.

Gubrakkkk... Bu guru itu pun pingsan.

END

Dengan demikian, selesailah fic pertama gw!!

Bikin paling pertama, selesainya belakangan XDD

If u like, pliz comment..

Ada yg mau request fic lage??? Silakan saja..