One Call Away

Min Yoongi (BTS) short story

Yoongi (Suga) X Reader

by Morning Eagle

Rating: T

Genre: Romance

.

Disclaimer:: BTS members are belong to God

::Author don't take any material profit from this fiction::

.

.

.

"Dia tidak menjawab panggilan teleponku," gumam si gadis, menggerutu. Setiap sepuluh detik sekali hatinya digerogoti oleh rasa penasaran, selalu memeriksa layar ponselnya yang tak menunjukkan notifikasi apa pun. Kosong.

Si gadis menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, membiarkan pendingin ruangan memberikan rasa gelitik pada permukaan kulitnya. Dia belum mendengar kabar lebih dari dua puluh empat jam dari sang kekasih—kekasih rahasianya. Menaruh ponselnya dalam posisi terbalik di atas meja adalah rutinitas hariannya, mencegah hal buruk ketika wajah sang kekasih terpampang jelas dari pesan notifikasi. Dia tidak ingin mengambil risiko ketika rekan kerjanya yang mungkin tak sengaja lewat dan memergokinya.

Itu akan menyebabkan kegemparan dashyat di seluruh Seoul. Mungkin dunia, bila itu tidak terdengar berlebihan.

Si gadis memejamkan matanya, mendesah, lalu menggumamkan nama sang kekasih seperti sebuah mantra sakral baginya. Atau mungkin sebuah rutukan yang teredam dalam bisikan sendu.

"Min Yoongi…."

Satu lagi hari yang terasa berat baginya. Berusaha untuk mengerti bahwa mereka memiliki kesibukan masing-masing. Yoongi tak seperti dirinya yang bisa pulang ketika jam menunjukkan pukul lima sore. Dia bukanlah pegawai swasta yang bekerja delapan jam sehari. Seorang idola memiliki beban tersendiri yang bahkan orang awam pun tak akan bisa mengerti jelas kecuali mereka menjadi idola itu sendiri.

Si gadis merasa kecewa juga bersalah kepada dirinya sendiri. Ketika dia mengharapkan perhatian lebih dari Yoongi. Ketika sang kekasih meminta sang gadis untuk mempercayai dirinya. Rasa percaya itu sulit untuk dilakukan, didapatkan.

Dan langkahnya terhenti di jalur penyebrangan jalan saat ponselnya berbunyi. Tangannya langsung mencari, menemukan benda persegi panjang itu dengan wajah Yoongi yang muncul di layar depan.

Senyum lebarnya selalu membuat hatinya berdebar lebih kencang.

Dia akhirnya menelepon.

"Yoongi?" tanya sang gadis, tidak bisa meluapkan emosinya. Dia yang selalu luluh bila berhadapan langsung dengan sang kekasih.

"(y/n), kau di mana?" Suara Yoongi terdengar berat, lebih dalam. Si gadis tersenyum seperti orang bodoh hanya dengan mendengar suara itu, dari yang dirindukannya.

"Mengapa kau tidak menjawab teleponku, pesanku? Kau sedang rekaman?"

"Aku lapar. Bawakan aku makanan."

"Yoongi? Tapi—"

"Yang biasanya. Ke studio."

Dan sambungan terputus sebelum si gadis sempat bertanya lebih jauh.

Si gadis tidak bisa merutuk. Kakinya langsung bergerak tanpa perintah, mengikuti intruksi apa yang sudah dikatakan Yoongi kepadanya. Dia yang tidak bisa membantah sama sekali.

.

.

.

Kakinya mengetuk konstan di dalam lift. Napasnya tidak lagi terengah. Sekantong pesanan khusus dari Yoongi tergenggam erat di tangan kanannya. Lamb skewers. Entah apa yang membuat Min Yoongi tergila-gila dengan daging domba satu ini.

Pintu berdenting, membawa langkahnya ke lantai teratas gedung. Lorong terlihat sepi hingga ruangan pertemuan kecil di depan pintu lift. Tidak ada siapa pun yang bekerja larut hari ini, kecuali beberapa staf musik—komposer utama yang tentunya mengurung diri di dalam studionya masing-masing. Termasuk Yoongi, di pintu pertama lorong sebelah kanan.

Si gadis berhenti, menatap karpet bergambar kucing yang seakan sedang memperingatkannya, 'dilarang masuk' garis keras. Dan kunci kode menandakan seorang Min Yoongi tidak bisa diganggu.

Tangan si gadis terangkat, mengetuk staccato dengan ritme yang hanya dia dan Yoongi yang tahu—kode morse. Tidak lama setelah itu pintu terbuka. Yoongi muncul di sana, matanya menatap setengah terbuka. Jelas dia sedang berusaha menahan kantuk.

"Ah, kau datang," gumam Yoongi, membiarkan pintu terbuka untuk si gadis, sedangkan dia kembali melangkah ke dalam studio kecilnya. Langkah malas menuju kursi kerja di depan layar komputer besar. Studio jenius milik Min Yoongi.

Si gadis mendesah, masih tidak terbiasa dengan sikap acuh tak acuh Yoongi. Dia menutup pintu sebelum duduk di sofa kecil, memerhatikan bagaimana sang kekasih langsung bekerja dan tak mengalihkan pandangan dari layar.

"Aku datang dengan membawa pesananmu," kata si gadis, mengangkat kantong putih yang berada di pangkuannya. "Kau tidak mau makan?"

"Hmm." Hanya itu jawaban Yoongi, sebelum memutar musik demonya.

Si gadis memiliki kesabaran ekstra. Dia yang mengerti bahwa Yoongi akan sulit untuk diganggu bila sedang bekerja hingga larut. Kantong matanya adalah salah satu tanda yang jelas terlihat. Tidak ada yang bisa menyanggahnya.

Memberikan ruang pribadi untuk sang kekasih, si gadis mulai menyibukkan diri dengan ponselnya. Memeriksa pesan masuk atau berita terbaru dari SNS. Tubuhnya terasa lelah tapi otaknya tetap bekerja, yang menjaga matanya tetap terbuka, telinganya mendengar setiap ritme yang diperbaiki Yoongi.

Si gadis sangat mengidolakan sosok Min Yoongi—orang-orang kebanyakan mengenalnya dengan sebutan Suga, nama panggungnya. Sikapnya yang profesional juga ambisius dalam bermusik, dia yang benar-benar menekuni bidang profesinya dari hati. Berbeda dengan si gadis yang mulai merasa jengah dengan dunia kerjanya, bahkan dia tidak mengerti lagi mimpi seperti apa yang diinginkannya. Dia yang tak menginginkan apa pun lagi di dunia, secara materi.

Kecuali berada di sisi Yoongi. Walau hanya seperti ini—saling berdiam diri tanpa kata terucap—itu sudah lebih dari cukup baginya.

"Bagaimana harimu?" tanya Yoongi tiba-tiba. Satu jam lebih sepuluh menit setelah kedatangan si gadis. Akhirnya dia benar-benar menatap kekasihnya, tepat di mata.

"Lamb skewer-mu sudah dingin," kata si gadis, mengalihkan pertanyaan.

"Ada microwave di dapur kecil."

"Kupikir itu sudah rusak? Apa kau yang memperbaikinya?"

Yoongi mengangguk, ekspresi wajahnya sama sekali tak berubah. Masih acuh tak acuh. "Aku yang membawanya ke tempat service. Semua orang terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing."

Si gadis terkekeh geli hanya dengan membayangkan hal itu. "Min Yoongi akhirnya keluar dari sarangnya untuk memperbaiki sebuah microwave."

"Tidak lucu, (y/n)."

"Kau selalu peduli, walau terlihat tak begitu peduli."

"Pengandaian macam apa itu?" Dahi Yoongi berkerut, matanya menyipit tajam.

"Itu bukan pengandaian, tapi sebuah pernyataan. Aku sedang memujimu."

Yoongi terdiam beberapa saat sebelum bangkit berdiri dari kursinya. Dia beranjak ke sisi si gadis, duduk tepat di sebelahnya hingga lutut mereka saling menyentuh. Sofa itu terlalu kecil untuk ditempati lebih dari dua orang dewasa.

Dan Yoongi sengaja menaruhnya—di dalam ruang kecilnya—hanya untuk si gadis. Dia yang selalu beralasan butuh tempat untuk tidur di sela-sela waktunya bekerja.

"Kau belum makan malam?" tanya Yoongi.

"Aku langsung kemari begitu kau menelepon. Dan setelah mengantri untuk memesan lamb skewers."

"Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu?" Yoongi sedikit menegakkan punggungnya, seakan baru tersadar bahwa lawan bicaranya ada di depan matanya. "Kau bisa makan lebih dulu tanpa menungguku."

Si gadis, dia yang mengerti bahwa posisi Yoongi berada di tempat yang berbeda dengannya. Dia yang mengerti itu dan mencoba untuk memakluminya.

"Rasanya aneh ketika makan seorang diri. Lagipula, tidak akan ada yang bisa memantaumu—memastikan kau memakan makan malammu. Aku tahu kau akan duduk di sini hingga pagi buta, Min Yoongi."

Yoongi mengerucutkan bibirnya dan alisnya berkerut dalam, hanya di depan si gadis, dia bisa menunjukkan sisi dirinya yang lain. Dia yang merasa lebih normal.

"Kau benar-benar aneh, (y/n). Setidaknya pikirkan dirimu sendiri sebelum mengkhawatirkan orang lain, huh?"

Si gadis menggelengkan kepalanya, tersenyum simpul. Sebelah tangannya memukul ringan lengan atas Yoongi. "Lalu, apa kau tidak akan merasa kesepian?"

"Selama kau baik-baik saja."

"Jawaban apa itu? Kau tidak sedang menyusun lirik sekarang, bukan?" Si gadis mendengus.

"Aku sedang serius. Bahkan, kau boleh menegur atau memarahiku. Sesekali, ingatkan aku untuk memperhatikanmu."

Si gadis tidak bisa menahan senyumnya mengembang lebih lebar. Kata-kata itu terdengar terlalu manis baginya. Hingga jantungnya berdebar lebih kencang.

"Aku mengerti, Yoongi-ya."

.

.

.

Yoongi tidak pernah berlari secepat itu di sepanjang karirnya, bahkan berlatih koreografi rasanya tak sesulit saat ini. Berlari hingga paru-parunya mengempis, tenggorokannya terasa panas. Jantungnya bergemuruh tak tenang, bersamaan dengan rasa khawatir yang memberikan keringat dingin di tenguknya. Dia tak begitu mendengar panggilan namanya dari belakang. Fokusnya tertuju pada pintu ganda yang menuju ruang rawat gawat darurat, pertolongan pertama di bagian terdepan rumah sakit.

Matanya mencari di antara perawat berikut dokter jaga yang masih memantau kondisi beberapa pasien di dalam sana. Moncong topinya menutupi sebagian wajahnya, tapi tak menepis bahwa aura seorang Min Yoongi begitu berbeda dari orang kebanyakan. Sang idola yang bergerak panik, mulai mencari satu per satu ranjang yang ditutupi gorden.

Hingga ke bagian baris terakhir. Dia melihat seorang dokter jaga yang sedang berbicara dengan seorang gadis. Gadis itu yang terduduk dengan perban melilit di lengan atasnya. Wajahnya sedikit terhalang gorden biru muda pucat, tapi Yoongi tahu bahwa raut wajahnya sungguh kacau.

Dia, sang gadis yang juga sang kekasih.

Yoongi berteriak lega di dalam hatinya.

Si gadis menoleh, mendapati Yoongi berjalan ke arahnya. Seperti gerak lambat, gadis itu tidak bisa berpikir selain berusaha menyusun kata-kata di dalam benaknya. Semuanya terajut kusut. Dia yang merasa lidahnya kelu sesaat.

Yoongi mengambil tempat duduk di sebelah si gadis ketika dokter jaga meninggalkan mereka berdua. Privasi yang didapatkan di salah satu bilik perawatan di ruang gawat darurat. Yoongi benci hal itu ketika bau disinfektan tercium pekat di udara. Warna putih dari lantai marmer juga lampu seakan sedang membutakan indera penglihatannya.

"Yoongi…" Si gadis memanggil namanya, berbisik. Dia yang takut ketika keheningan begitu kental dirasa di antara keduanya.

"Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak meneleponku?" Suara Yoongi seakan terdengar datar, namun rasa geram terasa kuat di antara setiap kata yang terucap. Si gadis tahu itu. Yoongi marah kepadanya.

"Aku baik-baik saja. Aku sedikit tidak fokus saat berjalan ketika ada kecelakaan terjadi tepat di depanku. Mungkin … aku sedang tidak beruntung."

"Tidak menjelaskan alasan kau tidak segera meneleponku," tuntut Yoongi.

"A-aku panik dan bahkan aku tidak bisa mengangkat ponselku. Motor itu hampir menindih tubuhku…."

"Dan kau masih mengatakan kalau kau baik-baik saja?" Kali ini suara Yoongi meninggi.

"Hyeong…"

Si gadis mengangkat wajahnya, mendapati sosok Jungkook berdiri di sana, di belakang Yoongi. Pria itu terlihat kalut juga kebingungan. Tudung hoodie menutupi wajahnya, dia yang berusaha bersembunyi dari perhatian orang banyak.

"Jungkook melihatnya—kejadian itu," jelas Yoongi. "Dia baru menyadari bahwa salah satu korban adalah dirimu, tapi terlambat. Kau sudah masuk ke dalam mobil ambulans ketika Jungkook meneleponku."

"Ka-kalau aku tahu itu adalah noona, aku akan segera menolong—"

"Tidak apa, Jungkook-ah," potong si gadis, dia yang melihat rasa bersalah mewarnai wajah si anggota terkecil dalam grup. "Itu akan membuatmu dalam masalah juga, bukan? Orang-orang akan melihatmu di tengah-tengah keramaian."

"Ini tidak ada hubungannya dengan identitas, (y/n)," tegur Yoongi. "Kau terluka dan ini tidak ada hubungannya dengan orang lain atau media apa pun!"

Si gadis tersentak. Dia terdiam, menundukkan wajahnya untuk menutupi air mata yang berusaha turun dari pelupuk mata. Kepalanya terasa pening, sekarang lebih menyakitkan dari sebelumnya.

"Sejin-hyeongnim menunggu di depan," ujar Yoongi kepada Jungkook, tanpa berbalik.

Jungkook yang sejak tadi mematung hanya bisa mengangguk sebelum berjalan keluar dengan langkah kikuk.

Air mata hampir menetes, sebelum si gadis menyekanya dengan punggung tangan.

"(y/n) … aku tidak bermaksud memarahimu," ucap Yoongi. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah si gadis yang merona merah. Rasanya panas, bukan dalam batasan normal. Mata Yoongi terbelalak karenanya. "Kau demam? Apa lukanya masih terasa sakit? (y/n)?"

Dokter jaga kembali lagi dengan membawa gelas plastik di tangannya. Dia yang terpaku di tempat, mengerjap saat Yoongi memelototinya.

"Ahh, (y/n)-ssi mengalami demam ringan, aku membawakan obat untukmu," ujar sang dokter yang memberikan sebuah pil ke tangan si gadis. "Tidak perlu khawatir, ini tidak ada hubungannya dengan luka memar di tangannya. (y/n)-ssi hanya menderita luka ringan dan akan membaik setelah satu minggu istirahat."

"Lalu, demamnya? Apa karena infeksi luka?"

"Sebelum terluka karena kecelakaan, (y/n)-ssi sudah menderita demam ringan," jelas sang dokter. "Itu akan membaik setelah kau meminum obatnya berikut resep yang akan kuberi, juga istirahat yang cukup."

Yoongi merasakan ikatan di dadanya sedikit melonggar. Dia bisa kembali bernapas sedikit lebih lega setelah dokter jaga pergi untuk menuliskan beberapa resep obat. Si gadis masih menunduk setelah meminum obat pereda demamnya.

"Kau demam, lalu tidak fokus saat ada kecelakaan yang terjadi di depan matamu," kata Yoongi, menyusun kembali kronologis yang sudah terjadi.

Dan itu membuat si gadis makin merasa bersalah.

"Maaf, Yoongi…."

"Mengapa kau meminta maaf?"

"Aku membuatmu khawatir, juga yang lainnya. Aku selalu melakukan ini, sebuah kesalahan kecil lalu berakhir menjadi hal yang lebih besar. Aku—"

"Kau baik-baik saja itu sudah lebih cukup bagiku," kata Yoongi, menarik tubuh si gadis ke dalam pelukannya. Dia yang mendekap tubuh ringkih itu, bergetar karena menahan rasa tangis. Ketakutan yang akhirnya meluap. "Maaf karena aku meneriakimu, (y/n)-ah … jangan menangis, hmm?"

Si gadis hanya bisa mengangguk, sambil menyandarkan wajahnya pada bahu Yoongi, membasahi kemeja sang kekasih dengan air matanya. Tangan Yoongi menepuk-nepuk bahunya, berusaha menenangkan dalam cara yang tak biasa.

Menunjukkan sebuah afeksi dalam bentuk fisik, Yoongi hanya bisa menunjukkan hal itu kepada si gadis. Rasa lembut yang perlahan menjadi sebuah kehangatan yang terasa nyaman.

"Sudah kukatakan, tidak apa kau bergantung kepadaku. Apa pun yang kaubutuhkan, jangan ragu untuk meneleponku. Bahkan saat kau merasa sakit sekalipun, aku akan segera datang untuk menjemputmu." Yoongi berbisik, terasa manis dan membuat napas si gadis terasa sesak. "Telepon aku bila kau membutuhkan sesuatu, apa pun itu. Aku akan segera datang untukmu."

"Bahkan … saat perutku sakit?" tanya si gadis, terisak di sela tangisnya.

Dahi Yoongi mengkerut dalam. Dia tahu bahwa dia tidak bisa menolak. "Ya, bahkan saat kau sedang sakit perut sekalipun."

Si gadis terkekeh geli. Dia tidak tahu harus terus menangis haru atau tertawa karena kejujuran sang kekasih. "Kau benar-benar menggelikan, Min Yoongi. Benar-benar manis."

"Apa itu sebuah pujian?"

"Hmhm," gumam si gadis, mengeratkan pelukannya pada tubuh Yoongi. "Kurasa obatnya mulai bekerja. Aku mengantuk, Yoongi-ya."

"Kalau begitu tidurlah, aku akan menemanimu di sini."

"Janji?"

Yoongi tersenyum geli, mengecup kening si gadis sebelum menatap matanya. Kedua mata nanar itu yang balas menatapnya penuh pujaan yang begitu manis. Hanya miliknya seorang.

"Janji."

.

.

.

.

.

Author's note:

(y/n): your name, namamu atau sebutan lainnya (noona, dsb.)

-ya: suffix untuk kata/nama yang berakhir vokal, untuk memanggil orang yang sederajat atau lebih rendah angkatannya

Hyeongnim: bentuk formal dari panggilan hyeong

-ssi: suffix untuk panggilan pada orang yang dihormati atau lebih tinggi derajatnya

Sudah lama tidak melanjutkan fic ini dan sekarang butuh banyak inspirasi. Karakter Suga yang dingin, namun bisa berubah di depan sang kekasih, mungkin ini yang dimaksud Suga kalau perubahan dirinya bakalan jelas terlihat saat sedang menjalin hubungan. Author hanya berusaha membayangkannya dalam sebuah fanfiksi. ^^