Di malam musim semi yang tenang, bulan bersinar terang, bintang berkilauan dan langit malam terlihat cerah. Tirai berwarna pucat terbuka oleh angin hangat yang berhembus di dalam ruangan, membawa masuk aroma bunga sakura. Saat itu merupakan malam musim semi yang hangat dimana Hibari menemukan dirinya sulit untuk tertidur. Tidak seperti biasanya-pria yang menyukai tidur itu kini menemukan dirinya tidak bisa tidur. Jauh di dalam dirinya, ia tahu, kekhawatiran yang mengambang di sekitar dirinya, pikirannya, dan kecurigannyalah yang menyebabkan dirinya kurang tidur.
Melepaskan dirinya dari pelukan Mukuro, Hibari bangkit duduk. Dadanya terasa bergetar ketika angin berhembus, mengacak-acak lembut rambut hitam pekatnya. Ia melemparkan pandangannya ke ranjang bayi, pada anaknya yang tertidur nyenyak, tidak terganngu. Menghela napas, Hibari mengambil dan memegang salah satu tangan Mukuro, mengelusnya lembut, menyusurinya, mengerutkan tangan miliknya sendiri di sekitar tangan tersebut, menyayanginya sepenuh hati.
Hibari menyadari hal itu sulit; sulit untuk menunjukkan perasaannya sendiri. Sudah sangat lama ia menjauhi diri untuk tidak berkerumun dengan manusia lain. Pria Jepang itu enggan bersosialisasi dengan herbivora. Biarpun begitu, dia terus mencari, mencari seseorang, seseorang yang bisa menghilangkan perasaan gelisah yang ada pada darinya. Kebiasaannya, sebuah kelaziman. Orang lain pasti merasa aneh, jika seseorang seperti Hibari Kyoya terbuka, atau tersenyum tulus.
Hibari mengurung perasaan yang ia anggap tidak penting. Dia tidak membuangnya, dia hanya menyegelnya, merasa bahwa hal seperti itu tidak dibutuhkan. Tetapi ia masih memiliki hati untuk tidak membuang perasaan picik itu.
Biarpun begitu, diia adalah seseorang yang memiliki perasaan Hal itu dapat terlihat jika dilihat dengan baik. Kebencian dan kemarahannya terhadap herbivora, kecintaannya terhadap Namimori, dan ketertarikannya terhadap seseorang yang kuat, seperti Reborn.
Meskipun ia telah menunjukkan perasaanyan secara tidak berlebihan, hanya kepada Mukuro ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi perasaannya, bagaimana caranya untuk menggambarkan perasaannya kepada orang itu.
Hibari menyusup ke dalam selimut ketika udara di sekitarnya terasa semakin dingin. Walau bagaimanapun ia harus berhati-hati. Sistem kekebalan tubuhnya tidak bisa dibilang normal, dan tentunya tidak di atas rata-rata. Di bawah rata-rata merupakan kata yang tepat. Dia tidak ingin berakhir di rumah sakit besok. Hal tersebut akan menjadi satu waktu yang akan terasa lama.
Masih menggenggam tangan Mukuro, Hibari menempelkan tangan tersebut di pipi miliknya, menikmati rasa hangat yang diberikan.
Betapa ia mengharapkan tangan tersebut untuk selalu berada di sampingnya.
Tanpa sadar, air mata mengalir keluar, perlahan menetes turun di wajahnya. Dengan seketika melepaskan kehangatan yang ada, Hibari membangkitkan tubuhnya dan duduk, kedua telapak tangannya menutupi wajah. Dalam diam ia menuruni tempat tidur, segera menutupi tubuhnya dengan selimut lain. Ia meringkuk, di sudut ruangan, gemetaran. Tidak seharusnya ia memikirkan tentang masa depannya, terutama masa depan dengan seseorang yang bernama Rokudo Mukuro. Membenamkan kepalanya di kedua lutut—
"Itu sebabnya—"
Hibari Kyoya berbisik pelan kepada dirinya sendiri,
"—itu sebabnya kenapa sejak awal aku harus membuang perasaan ini."
- Chapter 4 : Discarded Petty Emotions -
Original Story by CitrusSunscreen
Translated by hibalicious and Rokudo Renna
Disclaimer KHR (c) Amano Akira. Let Me Leave Three Words Behind (c) CitrusSunscreen
Beware of OOC, Yaoi, M-Preg, OCs, Chara Death, Implicit Lemon
.
.
.
Keesokan paginya, Rokudo Mukuro mendapati dirinya sendiri di tempat tidur. Khawatir, dia segera beranjak dari kasur-hanya untuk menemukan pria hilang yang dimaksud meringkuk di sudut kamar.
Melompat turun dari kasur, Mukuro berbisik, "Kyoya." Sambil berlutut, menggoncangkan pria yang sedang tidur tersebut. "Kyoya, bangun."
Terbangun, Hibari Kyoya mengerjap beberapa saat sebelum berdiri, langsung menarik tonfanya. Selimut yang menutupi dirinya jatuh dan membentuk gumpalan kecil di lantai.
Terhibur, Rokudo Mukuro dengan perlahan berdiri. "Oya? Kenapa kau memasang sikap waspada seperti itu? Apakah aku mencoba untuk memperkosamu tadi malam?" Jarinya menyusuri bekas air mata di wajah Hibari.
Merenggut, Hibari mengibaskan tonfanya pada Mukuro-yang kemudian dihindari dengan mudah.
Suara ilusionis itu terdengar senang. "Aah, jadi aku benar. Itulah sebabnya kenapa kau meringkuk di pojokan."
Hibari membeku; alasan kenapa ia menjauhkan dirinya dari Mukuro tercermin di belakang kepalanya. Dia menurunkan tonfanya, berjalan melewati Mukuro. "Aku mau mandi. Masuk dan aku akan menggigitmu sampai mati." Dan masuk ke dalam kamar mandi.
Ia tidak ingin membiarkan Mukuro melihat air matanya lagi, atau pria itu akan menyadarinya.
- o O o -
"Ayahku dibunuh, oleh Vongola."
Mukuro berusaha memahami nada suara yang benar-benar serius dan dicampur dengan kebencian itu; menatap lurus kepada pemuda tersebut dengan mata dwi warnanya. Butuh beberapa saat sebelum tawa kecilnya mengisi ruangan. "Jangan bercanda denganku." Suaranya terdengar tidak senang. "Kyoya tidak akan pernah dibunuh oleh orang-orang lemah seperti itu."
Mengangkat alisnya, remaja itu bertanya, "Kau menyebut keluargamu sendiri orang-orang lemah?"
Seperti sedang memikirkan cara untuk menjawab pertanyaan tersebut, Mukuro mengelus dagunya, mengernyitkan alisnya. Terjebak di situasi yang sulit. "Bila dibandingkan dengan Kyoya, kurasa iya. Mereka orang-orang lemah. Sebagian besar dari mereka."
Ingin tahu lebih banyak, pemuda itu terus mendesak. "Sebagian besar?"
"Satu-satunya yang lebih kuat daripada yang lain kurasa hanya Tsuna…" Mukuro terhenti, mendadak menyadari sesuatu. "… Apa kau bermaksud untuk mengatakan bahwa Bos Vongola membunuh Kyoya?" Matanya menajam, suaranya penuh dengan bahaya. Beragam emosi yang berbeda satu sama lain tersirat di wajahnya.
Mencemooh, pemuda tersebut menjawab, suaranya terdengar arogan. "Tentu saja tidak."
Ada jeda sejenak sebelum dia mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan lagi; keinginannya untuk mengetahui tentang sosok di hadapannya lebih banyak. "Dia ditembak mati oleh kerumunan mafia yang mengenakan seragam Vongola." Suaranya sedikit bergetar seraya ia mengepalkan kedua tangannya—sepasang tangan yang dilumuri dengan merahnya darah di malam itu.
Kali ini, sang ilusionislah yang mencemooh, tidak mempercayai kata-kata pemuda di depannya. "Kau seharusnya tahu seperti halnya aku tahu bahwa Kyoya tidak akan bisa ditangkap dengan cara seperti itu, Anak Muda. Kau lebih baik berhenti berbohong kepadaku."
Terdapat satu menit singkat dalam keheningan.
"Dan lagi, kita semua tahu dia hilang," lanjutnya sebagai tambahan.
Kesunyian kembali melanda ketika anak itu bangkit berdiri, wajahnya gelap, tangannya masih terkepal dan bergetar. "Aku tidak mengerti apa yang Ayahku lihat darimu, Rokudo Mukuro," bisik remaja itu dengan nada tidak senang diiringi kekecewaan sebelum ia berjalan keluar ruangan, menjauhi seseorang yang ia lihat sebagai seorang idiot, seseorang yang tidak mengerti Ayahnya sama sekali.
- o O o -
Mukuro memandangi Hibari yang dengan gugup menyajikannya sarapan ala Jepang. Dimasak secara elegan dengan sepasang tangan indah. Dan sesuatu yang jarang terlihat; Hibari bangun lebih awal di pagi hari tanggal 9 Juni, memasak untuk orang tertentu.
Sambil tersenyum riang, Mukuro menatap kagum meja makan yang dipenuhi dengan banyak piring yang digunakan untuk menyajikan semua sarapan di depannya.
"Kyoya! Kau membuat ini semua untukku? Aku senang sekali!" Mukuro berseru, memeluk pria yang dimaksud dari belakang.
Reflek, Hibari memaksa dirinya untuk mempercayai kata-kata yang Mukuro ucapkan ketika tonfa miliknya melakukan kontak dengan wajah Mukuro. Matanya menajam, wajahnya memuram. "Kau yang meminta sarapan merepotkan ini untuk ulang tahunmu, dan aku tidak berhak untuk berargumen denganmu." Tonfanya diangkat, siap untuk menyerang lagi, sekali lagi mendapatkan kepercayaan diri seraya ia melayangkan serangan lain.
Butuh kurang dari satu detik untuk Mukuro menyambar tangan Hibari, langsung memerangkapnya di lantai dapur yang berkeramik. "Kufufu. Jika aku ingat dengan benar, kau memang tidak berargumen waktu itu, bukan?"
Mukuro menyusupkan tangannya ke balik celemek merah muda berenda yang dikenakan Hibari, melingkari jemari miliknya di sekitar organ pribadi Hibari. Desahan terdengar sebelum pria berambut hitam pekat itu menghantam muka Mukuro dengan tinjunya.
Mengelus pipinya, Mukuro menyeringai kepada Hibari, terlihat jelas bahwa ia merasa senang melihat perlawanan yang diberikan pria itu.
Berdiri, Hibari membersihkan celemeknya dari debu kasat mata, mencoba untuk menarik turun celemek pendeknya itu.
"Situasi waktu itu berbeda. Aku diikat dan dianiyaya." Hibari menajamkan instingnya, merasakan tatapan yang tidak diinginkan tertuju padanya. Pria berambut hitam itu memandang ke Mukuro dan menaikkan satu alis, memutuskan untuk mengabaikan sang ilusionis.
Hibari berjalan menuju meja yang dipenuhi dengan banyak sekali hidangan dan mulai makan. Bagaimanapun juga, semua makanan itu merupakan hasil kerja kerasnya, bukan?
Dia berhenti saat ia memutarkan pandangannya untuk menatap Mukuro, yang masih belum mengalihkan pandangan darinya. Mengerutkan alis, Hibari berdiri dan berjalan ke arah kepala nanas cerewet itu. "Kau sadar aku tidak akan pernah melakukan ini lagi, bukan?" Hibari menyatakan dengan jelas, merujuk kepada apa yang tengah ia kenakan; hanya sebuah celemek merah muda yang terlampau pendek.
"Kita lihat saja nanti, Kyoya." Mukuro menyeringai.
Sedikit ragu, Kyoya meletakkan kedua tangannya di pundak Mukuro. Berjingkat, ia menempelkan bibirnya lembut di bibir pria lain. Tiba-tiba ia merasakan tangan Mukuro memegang kepalanya, makin merapatkan bibirnya pada bibir yang lain. Lidah Mukuro dengan mudah menyerang mulutnya yang terbuka dikarenakan kaget seraya ia merasakan tangan yang terasa dingin meraba pantatnya. Hibari langsung menggigit lidah yang ia kenal betul di dalam mulutnya, melepaskan ciuman di antara keduanya. Mukuro menjilat bibirnya dengan lidahnya yang digigit, dengan riang berjalan menuju sarapan, meninggalkan Hibari yang tertegun dikarenakan tindakannya.
- o O o -
Mukuro menggelengkan kepalanya, menjauhkan dirinya dari kenangan dimana ia menghabiskan hari ulang tahunnya dengan seseorang untuk pertama kali. Sekarang bukanlah waktu yang tepat. Memegang trisulanya dengan erat, sang Mist Guardian beranjak dari kasur, meninggalkan aroma teratai di belakang dan dengan cepat mengejar pemuda itu. Wajahnya tidak lagi dihiasi dengan sebuah seringai.
Dia sangat membenci perasaan yang ada di dalam dirinya sekarang. Jarang ia merasakan perasaan berdosa itu; perasaan bersalah. Rokudo Mukuro tidak seharusnya merasakan perasaan seperti itu. Bagaimanapun juga, dia melakukan segala hal dengan sempurna, dan bila tidak, pada akhirnya dia pun akan melakukannya dengan hal yang sama. Tetapi perasaan bersalah yang mengganggunya itu mengatakan sebaliknya. Pendapat yang dimiliki perasaan itu sangat merendahkan keyakian yang dimiliki sang ilusionis.
Membuang perasaan mengejek dan tidak ada gunanya itu, Mukuro memutuskan untuk menemukan pemuda itu sebelum dirinya ditenggelamkan ke dalam perasaan bersalah miliknya sendiri.
Matahari telah terbenam, kegelapan menyelimuti langit malam, bulan bersinar terang di belakang awan, jalanan basah dan licin karena hujan yang turun beberapa saat yang lalu. Lampu jalanan menyala, dan suara serangga mengisi kesunyian malam.
Berlari dengan hati-hati agar tidak tergelincir, Mukuro melompat dari belakang, mendarat di depan remaja yang masih terlihat kesal itu, anak laki-laki dari Hibari dan Mukuro. Seringai muncul di wajahnya dengan waspada, seraya ia mengayunkan trisulanya, menatap lurus sepasang mata biru kelam yang ia kenal.
Angin tipis berhembus, membawa kelopak sakura menuju dua orang itu. Aromanya menyelimuti keduanya. Dan awan berlalu, menerangi sinar bulan, menyembunyikan bintang-bintang yang ada, melingkupi langit malam.
"Kamu sedang menyangkal, bukan?"
- o O o -
Tsuna membuka pintu rumahnya. Cahaya terang menyambut, seraya anak laki-lakinya keluar dari ruang duduk, tersenyum dengan riang. "Malam ini kare 'kan, Ayah!" Harapan bersinar dengan jelas di kedua mata amber miliknya, jarinya menunjuk kepada belanja bawaan yang dipegang Tsuna.
Tertawa kecil dikarenakan ketidakdewasaan anak itu, Tsuna menjawab, suaranya terdengar seceria suara milik anaknya. "Tentu saja. Kamu memesan kare, bukan?"
Tersenyum lebar, anak laki-laki itu berlari dan memeluk Ayahnya erat, terus-menerus berterima kasih kepadanya.
"Jadi," Tsuna mulai angkat bicara seraya ia berjalan menuju dapur. "Di mana Papamu?" Tanya bos Vongola itu sambil mengeluarkan bahan makanan dari kantong belanjaannya dan meletakkan semuanya di atas konter, siap untuk memotong semuanya untuk memasak kare instan.
Anak laki-laki Tsuna melompat ke salah satu bangku, mengayunkan kedua kakinya kencang, dia menjawab, suaranya terdengar jauh dari kecurigaan,
"Aku melihatnya mengejar seorang anak laki-laki. Apakah Ayah tahu apa yang sedang Papa lakukan?"
Pergerakan Tsuna yang tiba-tiba terhenti memunculkan keraguan di dalam pikiran anak laki-lakinya. Dia bertanya, ingin tahu lebih banyak,
"Ayah?"
Kembali tenang, Tsuna tersenyum dengan ceria kepada anaknya.
"Bukan apa-apa, anakku. Dia hanya sedang mengejar masa lalunya."
- T s u z u k u -
Update yang sangat telat.
Saya mau beralesan gara-gara kelas tiga boleh? Eh? Ngga?
... Orz;
Jaa. Makasih berat(?) buat Rokudo Renna, mulai sekarang update tiap minggu kalau kuat =D;; #apanyayangkuat
Makasih juga buat J.J psycho, Sad Ending Lover, Hyuuzu, dan AiNeko-chan.
Mind to review?
