Naruto by Masashi Kishimoto. I don't take any material advantage by writing this story.

Enjoy! :)

.

.

"Sasuke!"

Sekujur tubuhku terasa basah. Aku yakin penyebabnya adalah keringat. Seseorang yang berpeluh banyak normalnya tengah dibakar suhu tinggi, tetapi aku justru kedinginan. Rasanya lebih, lebih dingin jika dibandingkan dengan semusim yang harus kulalui setiap tahun. Namun, ada satu bagian yang terasa hangat. Itu bersumber dari kedua telapak tanganku. Aku membuka kedua mataku perlahan dan mendapati Sakura yang menatapku dengan pandangan khawatir. Kalau sebelumnya seluruh tubuhku terasa mati rasa, kini tanganku terasa remuk di dalam genggaman tangan Sakura.

"Aku di sini," kata Sakura, penuh dengan kekhawatiran. "Aku di sini."

Mimpi.

Yang tadi hanya mimpi buruk. Sakura ada di sini. Masih ada di sini, meski batas waktu yang kami tentukan hanyalah sebentar lagi. Aku berusaha melepaskan diri dari genggaman tangannya. Dia melepasku, seolah-olah memang mengerti apa yang mau kulakukan. Kusentuh wajahnya lembut, hangat. Dia masih bersosok manusia, bukan tumpukan batuan kecil yang ada di mimpiku tadi. Aku memeluk tubuhnya. Pergerakanku seakan-akan memang refleks, tanpa ada instruksi dari otak.

"Sakura," bisikku di dekat telinganya. Aku terkejut mendengar suaraku sendiri yang parau.

Sakura balas melingkari tangannya pada tubuhku. Dia berdiri di atas lutut, sementara aku masih terduduk di sofa. Hidung dan mulutnya berada di dekat indra pendengaranku, hingga daun telinga bisa dengan mudah mengumpulkan deru napasnya yang terputus-putus. Tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada sistem pernapasanku.

"Kau menyerukan namaku berkali-kali dalam tidurmu. Sangat keras, sampai aku yang sedang tidur pun bisa mendengarnya." Sakura berucap dengan nada lirih. "Apa yang mengganggumu?"

Aku melonggarkan dekapanku hingga Sakura memahami dan ikut melepas lingkaran tangannya. Kutatap matanya di bawah cahaya remang dari lampu. Dadaku bergejolak, lidahku kaku untuk berkata. Kuputuskan untuk menyimpan sendiri apa yang kulalui dalam mimpiku.

"Aku membuatmu terbangun. Maaf," kataku pelan. "Tidurlah lagi."

Sakura menggeleng. "Sasuke, beri tahu aku."

Aku mengatup mulutku rapat-rapat. Kuusap leherku yang basah untuk mengenyahkan peluh, dan usapan itu merambat ke dahi hingga tanganku menutupi seluruh muka. Licin terasa ketika kulit di telapak tanganku berkontak dengan wajah. Aku menatap Sakura lagi yang masih tak kehilangan mimik khawatir.

Napas kuhela banyak-banyak. Seharusnya ini bukanlah hal yang perlu Sakura ketahui. Namun, aku tahu dia keras kepala. Dia tak akan menyerah sampai mendapatkan apa yang ingin dia ketahui. "Mimpi buruk. Sekarang, tidurlah kembali, Sakura."

"Mimpi buruk? Tentang aku? Kurasa ... itu ... akan menjadi ... realita dalam waktu dekat."

Aku membisu, begitu pula Sakura. Tensi yang berkeliaran di dalam ruangan ini terasa mencekik. Aku tahu itu. Aku sadar kata-kata Sakura tak bisa kusangkal. Tenggorokanku tersekat ketika membayangkan rasa sakit yang kurasakan saat mimpi akan terulang kembali di kenyataan. Barangkali ... akan lebih sakit dari itu ... tetapi aku masih berharap aku tak perlu melaluinya.

Tatapan mata kami belum terputus. Di kedua mata hijau Sakura, berlarian kontaminasi emosi yang kutebak terdiri dari kecemasan dan kesedihan. Di pipinya menempel beberapa helai rambut yang tak menutupi paras jelitanya. Bibirnya melengkung ke bawah. Cahayanya meredup. Dia tidak seharusnya sesedih ini. Saat waktu yang sudah kami tentukan datang, yang kehilangan hanyalah aku, Sakura tak akan merasakan apa-apa. Dia tidak perlu merasa sedih.

Pipi yang mulai dibasahi setetes air mata kuusap perlahan, sembari menyelipkan rambut yang mengotori wajahnya ke belakang telinga. Aku berusaha menenangkan diri agar tak menambah alasan kesedihannya lagi. Aku menarik kedua sudut bibirku untuk menghiburnya dengan cara melakukan apa yang sering dia pinta.

Upayaku tampaknya tak berhasil. Bibir Sakura kini bergetar dengan frekuensi tinggi. Tak ada setetes pun air mata yang memiliki kesempatan menggantung di sudut matanya karena terus-menerus didorong likuid lain. Dia tak mengisak, mungkin sengaja ditahannya karena susunan gigi atasnya menggigit bibirnya keras-keras hingga lebih memerah.

Aku tidak tahu harus melakukan apa. Melihat Sakura seperti ini membuat dadaku terasa nyeri, menambah luka dari khayalan-khayalan tak menyenangkan dalam bentuk mimpi tadi. Aku berdesis, mengisyaratkan padanya untuk berhenti. Akan tetapi, tangisannya semakin parah. Kali ini dia sampai membekap mulutnya sendiri untuk meredam isakan, yang sebetulnya masih tertangkap daun telingaku.

"Sebaiknya kau kembali tidur, Sakura," aku mengulang saranku lagi. Kusentuh bahunya, merambat ke lengan, sampai ke telapak tangannya yang bebas. Selimut yang melapisi pinggangku merosot ketika aku berdiri. Aku menarik Sakura untuk mengikuti gerakanku, dan menuntunnya ke kamarku.

Sakura masih menangis seperti anak kecil ketika dia sudah berbaring di atas tempat tidur. Aku tidak tahu cara membuatnya berhenti. Maka yang kulakukan hanya diam, duduk di sisi tempat tidur sampai isakannya tak terdengar lagi. Dia meringkuk dan membelakangi tubuhku.

"Menangis ... hanya akan membuang-buang waktu," bisikku. "Kau sendiri yang bilang kita habiskan sisa waktu bersama selagi masih bisa."

Aku tak menerima tanggapan apa pun. Kurasa Sakura sudah kembali tertidur. Setidaknya aku bisa merasa lebih tenang. Kubenahi selimut sampai menutupi bahunya. Usapan ringan kulakukan pada rambutnya sebelum beranjak dari tempat tidur. Tiba-tiba tangan Sakura menahanku. Dari tenaga yang mengalir di tangannya, kutebak dia belum benar-benar tertidur sedari tadi.

"Kenapa Sasuke harus jatuh cinta padaku?"

Aku terdiam mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba, tak mampu menjawab pertanyaannya secara spontan.

"Kalau itu tidak terjadi ... semuanya bisa lebih mudah. Kau tidak akan terluka nantinya. Ayahmu pasti sudah sembuh dari sepuluh hari yang lalu. Kau seharusnya tak perlu memedulikan aku.

"Aku tidak tahu apa yang kulakukan sampai bisa membuatmu merasakan seperti itu padaku. Namun, apa pun itu, aku benar-benar menyesal, walaupun aku melakukannya secara tak sadar. Aku harus apa? Apa yang bisa kulakukan agar Sasuke tidak merasa sakit nantinya? Aku tidak mau kau terluka. Tidak mau."

Tubuh Sakura yang masih membelakangiku bergetar kencang. Sementara sekujur badanku terasa kaku, terlalu ragu untuk menyentuhnya sekarang. Lidahku kelu, tak tahu harus menjawab apa, karena kurasa memang tak ada jawaban jujur yang bisa kuberikan.

"Aku tidak bisa tidak menolong ayahmu, tapi aku juga tak ingin membayangkan dirimu yang terluka nantinya."

"Kalau begitu jangan dibayangkan." Aku memejamkan mata sejenak. "Kau ... tidak akan tahu apa-apa nantinya."

"Itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan."

"Ya, sama dengan ucapanmu tentang menghabiskan waktu bersama selagi masih bisa. Itu ... tidak semudah yang dikatakan."

Karena dengan menghabiskan waktu bersama, aku yakin perpisahan yang harus kami alami akan jauh lebih berat daripada yang kami duga.

Tak ada lagi suara yang keluar dari bibir kami. Kelengangan di ruangan ini terasa mencekikku, sampai Sakura memutar tubuhnya dan menghadap ke arahku.

"Aku bicara seenaknya, ya?"

Aku menggeleng. "Tidurlah, Sakura," ucapku lagi padanya. Setidaknya tidur bisa membantunya melupakan segalanya selama beberapa jam.

Aku baru sadar bahwa tangan Sakura belum berhenti melingkari pergelangan tanganku sedari tadi ketika genggamannya mengerat. Sekali lagi aku ditahan untuk tidak beranjak.

"Tetaplah di sini." Sakura menenggelamkan sebelah wajahnya ke dalam bantal. Matanya masih sembap. "Aku tahu ini tidak pantas, tapi ... aku bisa tidur di bawah. Aku tidak perlu tempat nyaman untuk tidur. Di mana pun, asal kau ada di sini bersamaku."

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana."

Sakura mengangguk kecil dan tersenyum. Jemarinya diselipkan pada ruas-ruas jemariku dan menggenggamnya erat. "Selamat malam, Sasuke," bisiknya pelan.

Aku tak menjawabnya. Kedua kakiku dinaikkan ke atas tempat tidur. Punggungku disandarkan pada kepala ranjang. Aku ingin memeluknya selama tidur, tapi seperti yang Sakura katakan, itu tak pantas. Aku pun tersadar bahwa ... selamanya aku tak akan pernah memiliki kesempatan itu. Dan pemikiran itu membuatku mendekapnya perlahan, mengecup pucuk hidungnya, membisikkan, "Selamat malam," kemudian buru-buru menarik diri sebelum terlarut ke dalam rasa nyaman.

.

.

Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela cukup untuk membuat mataku silau walaupun masih tertutup rapat. Aku mengusap wajah perlahan sampai mataku benar-benar terbuka. Sakura sudah tidak ada di sisiku. Saat bertemu nanti, aku yakin kedua matanya masih bengkak.

Ada selimut yang membungkus tubuhku dari ujung kaki sampai ke dada. Aku ingat kuasa penuh selimut ini kuberikan pada Sakura. Kurasa dia yang memasangnya ketika dirinya terbangun lebih dulu.

Udara pagi yang cukup dingin menusuk tengkukku. Aku berusaha beranjak dan melangkah ke luar kamar. Di sofa tempat aku seharusnya tertidur, Sakura tengah duduk sembari menyesap teh dari cangkirnya. Dugaanku benar, matanya bengkak.

Sakura menoleh ke arahku ketika derapan langkahku semakin nyaring. Dia tersenyum tulus, sekarang. Rupanya tidur cukup untuk membuatnya lupa akan masalah semalam.

"Pagi, Sasuke," sapanya. "Ayahmu sudah makan tadi, dan sekarang sudah istirahat kembali."

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, merasa tidak enak karena bangun lebih siang darinya. Selama ini dia memang selalu memerhatikan selagi aku menyiapkan makanan, kurasa dia memutuskan untuk mulai mempraktekannya. "Aku ... mau melihat kondisi ayahku," kataku sembari berjalan menjauh.

Dan aku tak menduga istirahat yang Sakura maksud adalah tertidur lagi. Memangnya ini pukul berapa? Seberapa siang aku bangun? Bangun siang memang kebiasaan burukku di setiap hari libur, dan baru kali ini aku berharap aku bisa menghilangkan kebiasaan itu.

Aku menghampiri tempat tidur ayah dan mengamati wajahnya. Kalau dalam kondisi tidur seperti ini, ayah sama sekali tak tampak seperti seseorang yang sakit parah. Seseorang yang sisa hari dalam hidupnya ... bisa dihitung menggunakan jari dalam satu tangan, bila pertolongan dari Sakura tak aku perhitungkan. Aku meneguk ludah membayangkan satu di antaranya. Kalau saja bisa ... aku tak ingin kehilangan keduanya.

Pandanganku beralih pada meja nakas di samping tempat tidur. Ada kulaci sebesar alas piring di sana. Bukti kuat bahwa ayah benar-benar sudah makan. Aku jadi merasa semakin tidak enak pada Sakura.

Ada sebuah benda yang menarik perhatianku. Entah kenapa aku mau menaruh atensi pada benda ini. Sebuah vas bunga transparan. Isinya bukanlah air, melainkan kerikil-kerikil kecil sehitam jelaga. Bunganya tampak mekar dan sehat, padahal aku sama sekali tak pernah menyiramnya. Ayah pun tidak memungkinkan untuk menyiram bunga ini. Dan yang lebih aneh lagi ... kenapa ayah menyimpan vas bunga di kamarnya? Dan kenapa bunganya tak pernah layu?

Setelah kuamati lebih terperinci, bunga ini adalah bunga yang sudah dipetik. Yang dimilikinya hanyalah tangkai dan daun, juga bunganya sendiri. Seharusnya bunga ini sudah mati, mengingat keberadaannya yang sudah cukup lama. Dan anehnya ... tidak. Apa yang membuat bunga ini berbeda dari yang lainnya?

Aku menyentuh kerikil yang ada di dalamnya. Tunggu dulu ... kerikil ini ... adalah serbuk bintang? Teksturnya mengingatkanku pada mimpi pahitku semalam yang terasa begitu nyata. Ya, tidak salah lagi. Mungkin bunga ini selalu mekar pun karena tanahnya bukanlah tanah biasa. Tapi ... serbuk bintang ini dari mana? Kenapa ayah menyimpannya?

Ketika aku memegang vas bunga erat-erat dan menggenggam kerikil yang kupikir adalah serbuk bintang, tiba-tiba aku mendengar ayah memanggil namaku. Aku buru-buru menaruh vas kembali ke tempatnya dan memasukkan serbuk bintang ke dalam saku dengan ceroboh.

"Bagaimana perasaan Ayah?"

Wajah ayah kelihatan lebih pucat ketika dalam keadaan terbangun. Aku tak mengerti apa yang membedakannya dengan tadi.

"Baik-baik saja."

"Syukurlah." Aku mengembuskan napas lega. Setidaknya ayah tidak sedang merasa kesakitan sekarang. "Ada yang Ayah perlukan?"

"Tidak ada," jawab ayah. "Kau tidak bekerja?"

"Ini akhir pekan. Aku libur."

"Oh." Ayah mengangguk. "Aku benar-benar buta hari sekarang."

Ketidaktahuanku untuk menanggapi membuat ruangan ini menjadi sepi. Rasanya tak nyaman merasakan canggung ketika sedang bersama ayah sendiri. Kuakui ini adalah salahku juga yang sangat jarang mengunjungi ayah semenjak ayah pindah kemari. Dan aku benar-benar menyesal sekarang.

"Vas bunga itu ..."

Aku lekas menoleh dengan wajah kaku. "Ah, maaf aku menyentuh barang Ayah."

Ayah menggeleng, seolah-olah tak mempermasalahkan apa yang baru saja kulakukan. Aku ingin bertanya lebih lanjut mengenai vas bunga itu dan isinya, tetapi aku tahan.

"Vas bunga itu ada kaitannya dengan apa yang pernah kukatakan padamu sebelumnya."

Aku menarik alis. Yang pernah ayah katakan padaku ada banyak.

"Kau ingat malam ketika Sakura menghilang?"

Aku mengangguk dan mencoba mengingat-ingat apa yang ayah katakan saat itu.

"Gadis itu ... sama seperti ibumu."

"Separuh dirimu pun sama dengan gadis itu."

Aku nyaris menganga memikirkan konklusi yang ada di kepalaku setelah mengingat beberapa kalimat yang ayah ucapkan waktu itu. Sekali lagi kulirik vas bunga tersebut, kemudian arah pandangku beralih pada ayah. Isi vas bunga itu memang serbuk bintang! Dan kali ini aku tahu dari mana ayah memiliki serbuk bintang itu.

"Ibu ... Ibu adalah bintang ...?"

Ayah mengangguk. Kali ini aku benar-benar menganga, tetapi mulutku langsung ditutupi bagian dalam siku.

"Ketika Sakura jatuh ke bumi, halaman rumah tempat kau tinggal pasti berantakan, bukan?"

Aku menanggapinya dengan anggukan. Masih terkejut untuk berkata-kata.

"Itu bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya ibumu yang menyebabkan halaman belakang rumah itu berantakan ketika aku tinggal sendiri di sana."

Kata-kata Sakura yang menyatakan bahwa tubuhku sehangat bintang terjawab alasannya sekarang. Karena aku memang lahir dari rahim seorang bintang. Aku menatap kedua tanganku sendiri. Ini masih sangat sulit untuk aku percayai.

"Apa yang membuat Ibu turun ke bumi?" tanyaku hati-hati, khawatir melukai ayah karena ini pasti berkaitan dengan meninggalnya ibu.

"Awalnya ibumu tidak tahu. Berbulan-bulan ibumu hidup di bumi, sama sekali tak ada pertanda bahwa ibumu dibutuhkan di sini. Itu membuat ibumu berpikir bahwa jatuhnya dirinya ke bumi berbeda kasus dengan yang lain, yaitu hanyalah kebetulan. Akhirnya kami menikah dan memiliki Itachi dan kau."

Ayah terdiam sejenak. Entah kenapa, aku merasa kata-kata selanjutnya akan terasa berat untuk didengar.

"Kau pasti tahu ibumu sangat suka membaca. Aku ingat saat itu adalah musim dingin ketika ibumu ke kota untuk membeli buku baru. Ibumu terjebak badai salju di kota dan tak bisa pulang selama lebih dari satu minggu. Saat itu Itachi sakit. Aku bahkan tak sempat tahu Itachi sakit apa karena ... dia mengembuskan napas terakhirnya terlalu cepat sebelum ibumu kembali.

"Saat pulang, ibumu histeris. Benar-benar merasa hancur. Dia bilang, kalau dia pulang lebih cepat, Itachi bisa selamat, dan mungkin alasannya turun ke bumi adalah Itachi. Menurutku itu tak masuk akal. Kakakmu belum lahir ketika pertama kali ibumu diturunkan ke bumi. Alasannya pasti bukan itu, dan memang takdir kakakmulah yang sudah menggariskan kapan hidupnya akan berakhir.

"Ibumu terus menyangkal kata-kataku. Tapi bagaimanapun juga, tak ada yang bisa diupayakan lagi. Jantung bintang hanya bisa menyembuhkan penyakit atau memanjangkan umur, bukan membangkitkan seseorang yang sudah meninggal.

"Yang memperbaiki hidup ibumu adalah kehadiranmu, Sasuke. Semuanya baik-baik saja sampai ... werewolf menyerang desa dan nyaris menghancurkan segalanya. Banyak orang yang terluka dan diambang kematian setelah kejadian itu. Ibumu memutuskan untuk menolong mereka tanpa persetujuanku. Katanya, kejadian itu pasti adalah alasan sebenarnya dia diturunkan ke bumi."

Tenggorokanku mengering. Aku benar-benar kehilangan kata-kataku. Telingaku terasa berdenging hingga kepalaku pusing. Aku segera memegang ujung meja nakas untuk menyeimbangkan diri ketika lututku mulai melemas. Semua ini terlalu tiba-tiba. Aku tidak percaya hidup keluargaku serumit ini.

Ketika aku mulai bisa mengendalikan diri, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otakku mulai membuatku frustrasi. Aku menjambak rambutku sendiri dan terengah. Menatap wajah ayah kemudian bertanya, "Werewolf itu ... apakah Naruto? Dan kenapa 'mereka'? Bukankah Ibu hanya sendiri? Bagaimana bisa?"

"Kau sekarang percaya Naruto itu werewolf? Selama ini kau selalu menganggap itu omong kosong, dan menilai orang-orang yang menjauhinya karena alasan itu adalah orang bodoh."

Jadi benar karena Naruto?

"Untuk menyembuhkan seseorang tidak perlu satu jantung secara utuh. Mungkin ibumu memberi pesan pada orang-orang untuk membaginya sebelum mengorbankan dirinya. Aku sama sekali tak tahu."

Aku membalikkan tubuh dan melangkah ke arah jendela. Ujung hidungku kupijat untuk menghilangkan pening yang melanda. Aku sama sekali tak menduga, satu cerita dari ayah sanggup membuka hal-hal yang selama ini tak aku ketahui secara sekaligus. Aku merasa sehabis ditampar keras oleh kenyataan berkali-kali. Tentang kakakku, ibuku, dan Naruto.

Aku tidak mengerti. Setelah apa yang Naruto sebabkan pada desa ini membuat ibuku mengorbankan nyawanya, kenapa dia dengan ringannya memaksaku untuk menggunakan Sakura sebagai penawar sakit yang ayah derita?

Mungkin dia berpikir Sakura bukan siapa-siapaku, sementara ayah adalah ayahku, satu-satunya keluargaku yang tersisa. Mungkin Naruto hanya ingin berusaha agar aku tak ditinggal keluargaku lagi. Meskipun ini sudah menjadi kesepakatanku dan Sakura, tapi mengingat Naruto yang akan membuat seseorang yang berarti bagiku menghilang dari hidupku sekali lagi tetap membuat dadaku mencelos perih.

Padahal ... selama ini aku menganggapnya sebagai satu-satunya sahabat baikku. Kalau aku tahu ini sedari dulu, mungkin aku akan menginjak nomor satu di daftar orang-orang yang paling membencinya.

"Maaf baru memberi tahumu segalanya sekarang, Sasuke."

Aku menunduk dan berjalan mendekati pintu. Tanpa menoleh, aku berkata, "Aku butuh waktu sendiri." Kemudian kututup pintu sebelum memberi kesempatan bagi ayah untuk menanggapi.

Sakura memanggilku ketika aku baru keluar dari kamar ayah. Aku tak menanggapinya. Dia terus bilang bahwa aku belum sarapan dan harus segera melakukannya. Namun sekali lagi, aku tak menanggapinya. Hatiku terasa kebas begitu saja.

Perasaanku terasa membeku. Aku bahkan tak merasakan apa-apa saat melihat Sakura yang terluka karena aku tak mengindahkan kata-katanya. Aku bahkan menyentak tangannya ketika genggamannya menahanku untuk pergi ke luar. Dan ketika dia terus mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalaku semakin pusing, aku membalikkan tubuh dan menatap matanya tajam.

"Bisakah kau berhenti menggangguku?" desisku sengit.

Luka kembali melintangi wajah Sakura. Masih sama seperti sebelumnya, aku tak merasakan apa-apa. Dia buru-buru mundur dan mengulas senyum palsu.

"Maaf, Sasuke. Aku hanya khawa—"

Aku menutup pintu rumah sebelum Sakura menyelesaikan kata-katanya. Tak ada yang kupikirkan lagi selain benar-benar ingin sendiri. Aku memaksa kudaku menghentikan kegiatan makannya dan membawaku jauh dari sini. Ke mana saja, tempat yang lengang dan cukup untuk membuatku tenang.

Tanpa sadar aku memacu kudaku ke perbukitan yang jauh dari desa. Setelah mengikat tali kekang pada pohon yang jauh dari sarang lebah, aku mendaki bukit kecil yang bisa kucapai puncaknya hanya dengan dua puluhan langkah lebar.

Aku berusaha menenangkan diri dan melepas beban yang membebani dadaku dengan berteriak. Tak akan ada siapa pun yang terganggu oleh apa yang sedang kulakukan. Dan kalau ada pun aku tak peduli.

Siapa yang akan mengerti rasa kalut yang dialami seseorang yang bersahabat dengan sosok yang secara tak langsung membunuh ibunya? Padahal kenyataan itu sudah tersuguh di depan mataku selama ini. Namun, otakku yang terlalu memikirkan segala hal logis menyangkalnya dan tak pernah percaya bahwa Naruto adalah sosok yang nyaris menghancurkan desa dalam semalam, tepat di hari kematian ibuku. Padahal semua orang sudah mengatakan itu padaku, baik secara langsung maupun tidak.

Padahal ... tekanannya soal Sakura padaku sudah berusaha aku maafkan. Akan tetapi untuk kasus yang ini, bukan aku tak bisa memaafkannya, tapi tak mau memaafkannya.

Selama ini aku berpikir bahwa ibuku pergi meninggalkanku dengan cara yang normal. Mungkin karena sakit yang tak aku ketahui atau apa pun. Bukan mengorbankan diri untuk memperbaiki apa yang sudah Naruto rusak. Hal itu sama sekali tak pernah melintas di kepalaku. Secara tiba-tiba aku merasa sangat merindukan ibu lebih dari yang pernah kurasakan sebelumnya.

Tubuhku dihempaskan di atas rumput yang menusuk kulitku, menembus kain yang melapisi punggungku. Aku memasukkan tanganku ke dalam saku, menggenggam serbuk bintang yang ayah bilang adalah milik ibu. Ujung-ujung gigiku menggertak satu sama lain, dan mataku dipejamkan erat-erat hingga dahiku mengerut.

Aku yakin bahwa ujung-ujung mataku yang membasah hanyalah perasaan semata. Aku benar-benar merindukan ibu saat ini, hingga terasa sakit ...

Di bawah teduhnya pohon rindang, semilir angin yang sepoi-sepoi, tanpa sadar aku tertidur hingga matahari mulai menyilaukan dan menembus celah-celah dedaunan. Aku sudah merasa lebih tenang sekarang. Perutku yang terasa kosong membuatku berasumsi bahwa aku berada di sini lebih dari tiga jam.

Aku memutuskan untuk segera kembali ke rumah ayah. Ketika sampai dan membuka pintu, tatapanku bersinggungan dengan tatapan Sakura yang tengah membaca buku di ruang tamu. Dia tersenyum sekilas, tapi tak bertanya apa-apa lagi.

Mungkin dia masih mengingat sikapku padanya tadi pagi hingga kini merasa segan. Aku ingin meminta maaf, membuka mulut untuk mengucap kata-kata, tapi entah kenapa aku tak bisa. Mengingat hanya tiga hari lagi menuju hari kesepakatan kami, semakin kami dekat di tiga hari terakhir ini, akan semakin berat juga perpisahan yang harus dilalui.

Barangkali memang lebih baik seperti ini. Kedekatan yang terjadi di hari-hari lalu sudah lebih dari cukup untuk memberatkan perpisahan kami nanti. Tidak perlu ditambah lagi. Dan paradigmaku tentang ini membuat aku dan Sakura sama sekali tak berinteraksi sampai dua hari ke depan.

.

.

Satu hari sebelum hari kesepakatanku dan Sakura. Hawa di dalam rumah yang lengang ini terasa patetis. Suara yang terdengar sepanjang hari hanyalah suara langkah kaki di lantai, pintu yang dibuka atau ditutup, dentingan alat-alat makan, suara halaman buku yang dibuka, dan hal-hal lain yang bukan suara pembicara.

Selama aku ada di sini, kondisi ayah tak pernah kritis lagi seperti saat pertama kali pingsan. Ketika aku tak ada di rumah pun sepertinya tak pernah terjadi hal yang gawat, karena Sakura tak pernah mengindikasikan apa-apa.

Aku pernah dengar obat paling mujarab adalah kehadiran seseorang yang disayangi. Karena, eksistensi seseorang yang disayangi tersebut akan mendukung mental si penderita sakit agar semangat sembuh. Mungkin ayah merasa seperti itu, dan kalau memang begitu ... kuharap vonis dari dokter Yakushi bisa dipatahkan oleh kehadiranku di sini, sebagai satu-satunya keluarga ayah yang tersisa. Meskipun sebenarnya aku sama sekali tak yakin.

Suara ketukan di pintu utama membuyarkan pikiranku. Jam yang baru saja kulirik menunjukkan pukul tujuh malam. Di daerah sini jarang ada yang mau keluar malam-malam, karena desas-desus mengenai binatang buas yang keluar malam hari. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa yang ada di balik pintu. Dan yang berdiri di sana adalah orang yang paling tak ingin kutemui saat ini. Naruto. Pantas saja dia tak takut. Dia adalah makhluk yang lebih mengerikan dibandingkan dengan binatang-binatang buas itu.

Wajahku mengeras. Aku menatapnya dengan pandangan sengit. Membiarkan emosi mengambil alih sistem kerja tubuhku, aku menarik kerah pakaian Naruto dan membantingnya ke dinding bagian luar. Gerakanku cepat hingga Naruto terkejut dan meringis.

"Apa yang mau kaulakukan di sini, Monster Berengsek?!"

Naruto berusaha melepaskan tanganku yang mencengkeram kerah pakaiannya. "Sasuke, lepaskan, sialan! Apa yang kaulakukan?!"

"Apa tujuanmu datang kemari?! Setelah membunuh ibuku, kau akan membunuh ayahku, begitu?!"

"Sasuke! Kau bicara apa?! Lepaskan aku! Aku hanya ingin menjenguk ayahmu!" Naruto berusaha memberontak dengan sorot mata yang masih diliputi keterkejutan. Aku yakin dia tersentak karena akhirnya aku tahu apa yang menyebabkan ibuku mengembuskan napas terakhirnya.

"Kau pikir aku akan percaya pada monster pembunuh sepertimu?! Kau salah, Naruto. KAU SALAH!"

Cengkeraman kedua tanganku semakin erat hingga telapak kaki Naruto tak lagi menyentuh permukaan bumi. Aku yakin dia bisa melawanku, tapi kenapa hanya diam? Ingin berlagak seperti seseorang yang tak berdosa? Tch, itu tak akan berpengaruh apa-apa padaku.

"A-aku tak bisa bernapas," dia bersuara seperti seseorang yang tengah tercekik. Aku memang tak mencekiknya, tapi rupanya cengkeraman tanganku bisa membuatnya merasakan itu.

"Sasuke!"

Ada seseorang yang menarik tubuhku dari belakang. Dari dekapan yang dilakukannya, serat suara yang baru saja kudengar, aku tahu sosok yang ada di belakangku sekarang adalah Sakura. Namun, itu tak membuatku melepas cengkeramanku. Aku benar-benar membenci Naruto atas apa yang sudah dia lakukan terhadap ibuku. Dan dia layak mendapatkan ini. Lebih dari layak ...

"Sasuke, hentikan!" Sakura menarik tubuhku lagi dengan usaha yang lebih besar hingga tubuhku benar-benar tertarik dan ubun-ubun si monster ini tak lagi menempel dengan dinding.

"Kita pergi sekarang."

Pergi? Pergi apa?

"Lepaskan, Sasuke!" Sakura berteriak sembari berusaha melepas cengkeraman tanganku, membantu upaya Naruto yang sedari tadi tak berhasil.

"Jangan ikut campur, Sakura," desisku tajam. Aku berusaha menyentak tanganku agar Sakura melepasnya. Tak berhasil. "Lepaskan tanganmu dariku. Kau harus lihat dan tunggu sampai tangan-tangan ini, tangan-tangan yang baru saja kau bantu dan bela ini," arah pandangku tertuju pada kedua tangan Naruto, "akan segera melukaiku dengan kuku-kuku tajamnya yang akan muncul dari balik bulu SERIGALANYA."

Alih-alih mendengarkan apa yang kuucap, Sakura justru menarik tanganku semakin kuat hingga kerah pakaian Naruto sobek. Belum sempat aku menggapai Naruto lagi dengan luapan emosiku, Sakura menyeretku menjauh dan entah kenapa aku merasa kehilangan tenaga untuk melawannya. "Sasuke! Kau harus tenang! Kita pergi. Kita pergi sekarang. Menjauh dari sini agar kau bisa lebih tenang."

"Ayo, Sasuke. Lepas tali kudamu. Kita pergi sekarang. Aku tak akan melepaskanmu sampai kita pergi."

Kepalaku terasa mendidih, kurasa nyaris darah di sekujur tubuhku sudah berpindah pada kepala seluruhnya. Aku benar-benar kalut. Tanpa berpikir lagi, aku mengikuti apa kata Sakura dan mengabaikan Naruto yang masih terbatuk-batuk kencang di depan pintu rumah.

Di atas pelana, Sakura mendekap tubuhku erat-erat dari belakang. Dekapan ini bukanlah dekapan hangat yang selama ini selalu dia berikan, tapi dekapan ini terasa menyakitkan. Kuku-kuku di seluruh jarinya ditanamkan ke dalam pakaianku, meskipun tak menembus hingga ke kulit. Sakura bukan memelukku, tapi mencengkeram tubuhku layaknya elang yang membawa mangsa.

Tanganku yang memegang tali kekang dan lampion terasa mati rasa karena dikepal terlalu lama. Sakura menempelkan keningnya pada punggungku. Berbeda dengan kukunya, air matanya menembus pakaianku. Aku tahu dia tengah menangis dari isakan-isakan yang tak mampu ditahannya.

Tepat saat itu juga, aku tertegun. Fokusku bukan lagi jalanan gelap yang hanya diterangi satu lampion yang tadi sempat dibawa Sakura. Aku memikirkan apa alasannya menangis. Apakah air mata itu terjatuh karena aku?

"Sakura ..." Aku berusaha melemaskan tubuhku. Bersamaan dengan itu, cengkeraman tangan Sakura pada tubuhku pun ikut melemas. "... maaf."

"Jangan katakan apa-apa."

"Aku tidak bermaksud—"

"Sudah kubilang jangan katakan apa-apa." Dia mengisak beberapa kali. "Aku tahu kau mengabaikanku karena tak ingin terluka lebih jauh saat kita berpisah nanti. Maaf aku sudah merusak prinsipmu yang satu itu. Tapi Sasuke, aku merindukanmu." Sebelah tangannya melepas tubuhku. Aku merasakan Sakura tengah menyeka wajahnya. "Dan aku tidak bisa melihat kau dan Naruto bertengkar seperti tadi."

Jika suara isakan tertahan dan derapan kaki kuda tak diperhitungkan, suasana benar-benar sepi. Aku tak menduga Sakura mengerti maksud dari apa yang kulakukan belakangan ini. Dan tak melintas apa pun di kepalaku untuk menjawab pertanyaan mengapa Sakura tak bisa melihat aku dan Naruto bertengkar seperti tadi. Maka, kuputuskan untuk diam.

"Kalau kau tak tahu kita harus ke mana sekarang, ikuti saja ke mana kaki kudamu melangkah."

Dengan prinsip yang sama seperti yang pernah terjadi sebelumnya, kaki kudaku melangkah menuju perbukitan. Aku tak takut akan adanya desas-desus mengenai binatang buas yang berkeliaran malam-malam. Yang mengisi benakku sekarang hanyalah tempat ini adalah tempat di mana aku bisa lebih tenang, meskipun gelap.

Tangan Sakura yang bebas dari lampion menggenggam pergelangan tanganku erat-erat. Dia menuntunku sampai ke bukit yang pernah kudaki. Setelah sampai di puncaknya, aku baru sadar bahwa tangisnya sudah berhenti. Dia menaruh lampion di atas tanah, kemudian menyentuh lenganku dengan lembut.

"Kau sudah lebih tenang sekarang?"

Aku tak langsung menjawab. Mataku dipejamkan sebelum aku menghela napas panjang dan mengembuskannya sepuluh kali. Detak jantungku sudah tak terasa seperti meledak-ledak. Kepalaku tak sepanas tadi lagi.

"Ya."

"Syukurlah." Sakura tersenyum lembut. Dia menempelkan gaun panjang di bagian kakinya ke paha bagian belakang dan duduk. "Maaf membuatmu meninggalkan ayahmu. Tapi, aku yakin ayahmu akan baik-baik saja."

Ya ... mungkin lebih baik ayah merasa tenang tanpa mendengar pertengkaran di luar rumahnya.

Aku ikut duduk di samping Sakura. Dia menoleh dan menatapku lama-lama. Aku mengernyitkan dahi merasakan tatapannya yang ... mendamba?

"Sasuke, ini pendapatku sejak awal melihatmu, kurasa aku belum pernah mengatakannya, kau itu tampan sekali." Ibu jarinya mengelus pipiku pelan-pelan.

Kernyitan dahiku semakin dalam mendengar penuturannya yang tiba-tiba. Bohong jika kukatakan aku merasa biasa-biasa saja setelah mendengar ucapannya. "Hm?"

"Aku mengatakan ini bukan karena aku ingin menghiburmu. Tapi ... karena sepertinya ini adalah satu-satunya kesempatan aku bisa mengatakannya." Sentuhan ibu jarinya merambat ke atas hingga aku terpaksa memejamkan mataku. Kulitnya bersinggungan dengan bulu mataku dengan tekanan ringan. "Dan kau punya bulu mata yang sangat cantik."

"Sakura," dengusku padanya.

Dia terkikik geli sembari menjauhkan sentuhannya dari wajahku. Aku membuka mata dan mendapati pandangannya mengarah pada langit yang ditaburi bintang. Gemerlapnya terpantul di kedua mata hijau bening Sakura. Dia mengulas senyum hingga wajahnya bercahaya.

"Aku masih tidak percaya aku seindah itu saat bercahaya di malam hari." Sakura melipat kedua kakinya. Dagunya ditaruh di atas lutut.

Awalnya aku tak tahu harus menanggapi apa. Sampai cahaya yang menerangkan wajahnya seolah menawan pandanganku. "Kau kelihatan lebih indah di sini."

Sakura tertawa kecil. "Apakah itu berarti aku cantik?"

"Kau adalah sesuatu yang menurutku cantik." Aku mengulum senyum tipis. "Sesuatu yang bisa kau lihat di permukaan danau."

"Aku tidak mengerti." Sakura menautkan alisnya. Kurasa dia lupa. Padahal di telingaku masih terngiang-ngiang:

"Daun ini cantik sekali. Bagaimana menurutmu?"

"Bagus."

"Hanya itu?"

"Hn."

"Kalau begitu, apa yang menurutmu cantik?"

"Sesuatu yang kau lihat di permukaan danau."

Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kau akan melihat refleksimu di sana."

Sakura tersipu setelah tampak mencerna kata-kataku. Kurasa dia sudah mengingatnya sekarang. "Terima kasih."

Tiba-tiba Sakura menggenggam tanganku.

"Aku senang. Kau benar-benar terdengar seperti seseorang yang jauh lebih tenang sekarang."

"Aku memang sudah tenang."

"Kalau begitu, maukah kau berbagi tentang masalahmu dengan Naruto? Kurasa ... kali ini masalahnya lebih rumit daripada sebelumnya. Aku tidak tahu kapan kalian pernah bertemu lagi selain ketika aku melihatnya sendiri."

Aku sedikit ragu untuk bercerita. Tak yakin aku tak akan terbakar emosi lagi setelah ini. Namun, aku tahu Sakura bisa dipercaya. Dan ... mata hijau beningnya pasti sanggup untuk membuatku tenang lagi.

Aku merogoh saku dan mengambil yang ada di dalamnya. Ketika aku membuka kepalan tanganku, aku melihat jumlah benda ini menjadi lebih sedikit daripada saat pertama kali aku mengambilnya. Barangkali karena tanpa sengaja terbuang setiap kali aku memindahkan ke celana yang akan aku pakai. "Kau tahu apa ini?"

"Batuan kerikil?" Sakura bertanya dengan nada skeptis. Tak lama setelahnya, kedua matanya melebar, tampak tak percaya. "... serbuk bintang."

"Ya."

"Dari mana kau mendapatkan ini? Serbuk bintang adalah bentuk dari bintang ... yang sudah mati."

"Mimpiku pernah memberi tahuku soal itu." Aku kembali mengembalikannya ke dalam saku. "Serbuk bintang ini adalah ibuku."

"Ibumu bintang?" Suara Sakura melengking. Kentara sekali mencirikan seseorang yang sangat terkejut.

"Aku pun baru tahu tentang ini dari ayahku beberapa hari yang lalu."

"Sasuke," bisiknya dari celah-celah bekapan tangan di mulutnya. "Jadi kau ... setengah bintang?"

"Mengejutkan bukan? Selama ini aku selalu menganggap kata-katamu yang menyatakan bahwa kau adalah bintang merupakan omong kosong besar. Padahal setengah diriku sama dengan apa yang kubilang omong kosong itu."

Sakura mengeratkan genggaman tangannya. "Tubuhmu hangat, tapi kau tak bisa bercahaya. Setengah-setengah."

"Hn."

"Lantas, apa hubungannya dengan Naruto?"

Aku menceritakan segala yang ayahku ceritakan. Tentang kakakku, ibuku, dan kaitan meninggalnya ibuku dengan Naruto. Aku meringis merasakan dadaku terasa perih selama menceritakannya. Tak bisa kubayangkan seperti apa perasaan ayah saat menceritakan ini padaku, dan aku malah berlaku tidak sopan setelahnya.

"Setelah mendengar semua itu, terutama tentang akhir hidup ibuku, aku tak bisa menahan diri untuk membencinya." Aku mengakhiri ceritaku pada Sakura.

"Kalau begitu, apakah setelah aku pergi nanti, kau akan bertambah benci pada Naruto? Dia ... dia adalah orang yang memberi tahumu soal khasiat jantung bintang."

Aku tersenyum sinis. "Bila memang bisa lebih benci dari ini, mungkin saja."

Sakura tampak kecewa setelah mendengar jawabanku. "Kau tahu tidak bahwa itu membebaniku? Aku, 'kan, pernah bilang, aku tak mungkin diturunkan ke bumi tanpa alasan. Ini memang yang sudah digariskan untukku. Dan kau tetap menyalahkan Naruto soal itu. Padahal dia hanya ingin membantumu."

"Aku—"

"Ayahmu mungkin lebih kehilangan ibumu daripada kau. Apa kau pernah lihat ayahmu menyalahkan, atau bahkan membenci Naruto? Dari yang kulihat, ayahmu bahkan percaya pada Naruto sebesar rasa percayanya padamu.

"Naruto begitu peduli pada ayahmu. Tanpa adanya Naruto, sampai detik ini kau mungkin tak akan tahu bagaimana keadaan ayahmu. Tentang kejadian penyerangan werewolf pada desa beberapa tahun lalu, memangnya kau pikir Naruto melakukannya dengan suka-suka? Jika mengingat sikapnya yang hangat, aku yakin kejadian itu di luar kendalinya. Dia seumuran denganmu, bukan? Berapa umurmu saat kejadian itu?"

"Delapan." Aku masih tak punya suara untuk menanggapi kata-kata panjangnya.

Sakura mengembuskan napas berat. Dia menggenggam tanganku semakin erat. Entah kenapa, kali ini aku merasakan gestur yang menyatakan bahwa dia gemas.

"Apakah kira-kira memungkinkan sesuatu seperti menghancurkan desa melintas di kepala anak berumur delapan tahun? Meskipun aku bukan manusia, dan Naruto pun bukan manusia, aku tahu itu sangat janggal. Kejadian itu pastilah bukan sesuatu yang diinginkannya."

Kedua matanya menatapku tanpa keraguan. Aku sama sekali tak bisa memutus pandanganku dari sana. "Dan satu lagi, kalau ibumu tahu bagaimana perasaan bencimu pada Naruto saat ini, ibumu pasti merasa terbebani sekali."

Aku terdiam. Kata-kataku seolah menguap bersama karbon dioksida yang kulepas.

"Saat aku pergi nanti, bisakah kau memperbaiki hubunganmu dengan Naruto? Berteman lagi dengannya seperti sebelum aku bertemu denganmu?"

Seluruh kata-katanya tadi seakan-akan baru tercerna oleh otakku. Aku akui bahwa Sakura benar. Ayah pun tak tampak membenci Naruto, sama sekali. Bahkan selama ini Naruto pun tak pernah melukaiku atauu ayahku. Apakah ... aku bertindak berlebihan tadi?

Aku meneguk ludahku hingga bersuara. Kurasa aku sudah tahu jawaban apa yang pantas kuberikan pada Sakura. "Aku akan berusaha."

"Terima kasih, Sasuke. Aku bisa lebih tenang sekarang." Sakura kelihatan jauh, jauh lebih lega daripada sebelumnya. Seolah beban berat yang menumpuk di bahunya sudah melenyap.

"Sakura."

"Hm?"

"Dulu kau memintaku untuk mencari cara agar bisa kembali ke langit, apakah karena kau ingin menghindar dari sesuatu seperti ini?" Keraguan yang meliputi pertanyaanku telah dikalahkan oleh rasa ingin tahuku.

"Tidak," jawabnya. "Kalau aku sudah tahu alasanku dijatuhkan ke bumi sejak awal, aku tak akan memintamu mencari cara agar aku bisa kembali. Kupikir aku jatuh karena kecelakaan semata, karena tak ada pertanda apa pun bahwa aku dibutuhkan di sini. Padahal bintang lain akan langsung tahu latar belakangnya dijatuhkan ke bumi paling lambat satu hari. Itulah sebabnya. Kau tahu sendiri, semenjak aku menemukan alasanku dijatuhkan ke bumi, aku tak pernah lagi memintamu mencari cara agar aku bisa pulang."

"Kupikir ..." Aku menggantungkan kata-kataku. Jika saja bisa, aku ingin mengulang waktu dan membekap mulutku agar tak berkata apa-apa sekarang.

"Apa?"

"Tidak."

"Apa, Sasuke?" Dia mengguncang tubuhku. Sikapnya masih sama meskipun dia terdengar jauh lebih dewasa tadi. "Ayo katakan. Kapan lagi kau bisa mengatakannya selain sekarang?"

Kalimat terakhirnya membuatku mengecap pahit, sekaligus melanjutkan kata-kataku. Aku berdeham sebelumnya. "Kupikir, kau tidak pernah ingin kembali lagi karena ... kau jatuh cinta padaku."

Sakura tersenyum lebar hingga gigi-giginya terpamerkan. Pipinya dijalari rona kemerahan dan cahaya yang tak menyilaukan. "Itu termasuk."

Sudut-sudut bibirku terangkat. Tanganku yang bebas mengusap pipinya, kemudian memelintir ujung rambut yang membingkai wajahnya. "Kau tahu, kau sudah tidak sepolos dulu. Sudah tidak seperti anak kecil lagi."

Dia melepas cengir. "Terima kasih pada buku-buku yang ada di rumahmu dan rumah ayahmu. Aku banyak belajar dari sana."

Suasana mendadak hening dan aku tak menyukainya. Kondisi seperti ini membuatku mengingat bahwa malam ini adalah malam terakhir kami bisa bersama. Sementara jika kami bicara, akan ada pengalihan untuk itu.

"Ngomong-ngomong soal buku," aku bersyukur dalam hati karena Sakura memecahkan keheningan, "kau pernah dengar istilah star-crossed?"

Dan ternyata topik yang diangkat kali ini bukanlah sesuatu yang bisa kusyukuri.

"Shakespeare," jawabku. Pahit terasa di tenggorokanku. "Pasangan kekasih yang saling mencintai tetapi ditakdirkan akan memiliki akhir yang tragis. Star-crossed lovers. Prolog dari kisah Romeo and Juliet."

Sakura masih tersenyum, tapi cahaya di wajahnya meredup. "Terdengar familier, ya?"

Aku enggan mengangguk. Namun kenyataan memaksaku untuk mengangguk.

"Kau tahu apa yang lebih ironis?"

"Memangnya bisa lebih ironis dari ini?"

"Star-crossed bisa diartikan digagalkan bintang. Orang yang percaya astrologi bilang bintanglah yang menentukan takdir." Aku mengepalkan tanganku yang bebas. "Kau bintang, aku setengah bintang, tapi tak ada yang bisa kita lakukan."

Sakura menunduk lama dan tak menanggapi apa-apa. Aku semakin tak menyukai keheningan ini. Tiba-tiba Sakura mengangkat dagu. Di wajahnya terlukis ekspresi tak percaya. "Aku tidak menyangka kau percaya astrologi."

"Memang tidak. Walaupun aku tak percaya, istilah ini tetap terdengar ironis untuk kita."

Mata Sakura dipejamkan sebelum kedua tangannya melingkari leherku. Dia merapatkan diri padaku dan memelukku erat. Keningnya menempel di leherku. Denyut nadiku di leherku dan denyut nadi di lehernya saling bersahutan. "Aku mencintaimu, Sasuke. Benar-benar mencintaimu."

Napasku terasa berat untuk dilepas. Aku balas melingkari kedua tangan pada tubuhnya erat-erat, seolah tak ingin melepasnya. Kalau saja bisa ... aku harap waktu dapat berhenti di detik ini juga. "Sakura, aku mencintaimu ..." Kutenggelamkan wajahku ke dalam rambutnya, kemudian berbisik, "... selamanya."

"Kau setengah bintang, memiliki setengah dari karasteristik bintang. Bagaimana jika ... jatuh cinta hanya satu kali dalam seumur hidup adalah salah satunya?"

Aku meringis perih. Sakura tak mendengarkan kata yang kuucap ke dalam kumpulan rambutnya. Entah aku harus merasa bersyukur atau sebaliknya.

"Semuanya akan baik-baik saja." Rahangku bergetar keras hingga gigiku bergemeletuk setelah mengatakannya.

Aku tidak dapat menjamin kata-kataku sendiri. Karena dari semenjak aku sadar bahwa aku jatuh cinta pada Sakura, aku sudah tahu bahwa dialah satu-satunya.

Bersambung

.

A/n:

Haiiiiiii. Udah lama ya gak update. Hehehe. *dibuang* Makasih buat yang masih nungguin dengan sabar :") dan makasih banget, bangeeeet buat yang dukung fic ini hingga bisa menang di kategori Best Fantasy MC di IFA 2015. Makasih banyak untuk 126 orang yang kasih suara. Makasih, makasiiiih banget. Bahkan reviewer, fav-er, dan follower fic ini nggak sampai sebanyak itu, tapi ternyata yang vote lebih dari dua kali lipatnya. Nggak nyangka :"D oke, saya tau ini telat banget wkwkwk.

I changed the summary since I cringed every time I read the last one ... Btw nulis chapter ini capek. Sampai puyeng. Susah diketiknya ._. Dan maaf kayaknya saya bikin Sasuke kelihatan melankolis dan alay banget. Huhu. Tuntutan peran :'( terus chapter kemaren gue nge-troll gagal. HAHA. Gak deng, bukan nge-troll. Banyak yang nebak juga itu mimpi. :)) Sad ending, happy ending, atau lainnya (?) bisa terjawab chapter depan yang merupakan chapter terakhir.

Tanpa mengurangi rasa terima kasih saya atas feedbacks yang masuk, maaf sekali nggak bisa balas review satu-satu. Tapi buat Daun Momiji (berhubung jawaban dari pertanyaannya nggak bisa saya jawab lewat cerita), yang benar itu bersirobok. Sila cek KBBI :)

Ini nggak diedit atau dicek lagi. Capek wkwk. Ntar kalo ada waktu sekalian mau edit miss-miss yang baru saya temuin ketika baca ulang. Kalo ada kesalahan mohon bantu koreksi ya! Feedbacks are kindly accepted :)

daffodila.