Akh…
Akhirnya bisa nulis fic lagi,,,
Padahal sudah tertunda beberapa hari….
Tapi akhh tetap bersyukur krna msih bisa lanjutin ficnya…
Oke makasih buat anastasya atau B. Nate yang udah mau baca ficku yang asal-asalan dengan rate dan lain sebagainya. Aku benar benar tertolong dengan semua yang ada di reviewnya…
Buat kak Kiyo yang udah mau nyempatin waktu mau baca ficku yang asal-asalan makasih banget…
insyaAllah bakalan nambahin adegan berdua KibaHina walaupun masih agak ragu apakaha bakalan ada waktu buat mereka berdua (mungkin bakalan ada banyak waktu sih. Tapi yang jadi masalah adalah dengan Hinata)
buat Higashi yang dah setia mau review ficku yang masih rada gaje dan banyak kekurangan ini. syukurlah karena ficku sudah lebih baik dari sebelumnya
jiahaha…
padahal auhor yang nentuin ya ceritanya?
Akhh sudahlah
Pokoknya terima kasih buat yang udah review ficku yang asal-asalan ini…
Oke deh
Selamat membaca…
Disclaimer: NARUTO MASASHI KISHIMOTO
Rate: aduh bingun mau nentuin ratenya apa. Ngambil rate M saja…
Warning: ARA, OC, AU, lebay, gaje (mohon maaph jika ada banyak typo)
summary: Naruto telah berada tepat dihadapanku. apa yang akan aku lakukan dengan hal ini...
aku benar-benar bingung
~^akhirnya^~
Sekarang cowok yang sedang aku impikan itu benar-benar ada di Konoha. Dia telah bercanda dengan Kiba dan Shino, akh…
Aku tak bisa menafsirkan bagaimana keadaan wajahku sekarang. Aku benar-benar senang namun aku tetap saja malu dengan kehadirannya.
"Hinata," sapanya. Yang kini telah berada didepanku.
"akh, Naruto-kun" jawabku. Ketika mata kami bertemu, mata birunya yang indah membuatku harus tertunduk
"kau tak lupa janjimu sebelum aku meninggalkan Konoha kan?" ucapnya
Janji?
Flashback
"Naruto-kun, benar kau akan pergi?" tanyaku padanya disuatu sudut didesa Konoha
"ya, aku akan pergi bersama pertapa genit" jawabnya dengan cengiran hasnya dan tangannya dia lipat dibelakang kepalanya
"kapan Naruto-kun akan kembali?"
"entahlah, mungkin saja dua tahun atau tiga tahun lagi"
"a… aku akan menunggu Naruto-kun" ucapku tertunduk. Aku benar-benar malu pada saat mengucapkan itu. Entah semerah apa wajahku sekarang
"boleh aku mendapat ciuman dari seorang gadis cantik sepertimu?"
Akh. . . apa yang dia katakan? Gadis cantik? Berarti dia melihatku sebagai seorang gadis cantik?
Aku benar-benar senang, namun kata-kata Naruto-kun benar-benar membuat wajahku merah padam. Maksud ucapannya apa? Mendapat ciuman?
Akh,,
Aku mau tapi…
"mungkin akan lebih baik jika aku mendapatkannya ketika aku kembali saja ya? Hinata-chan?" ucapnya setelah berhasil mencium pipiku.
He?
Dia…
Dia…
Dia. . .
Telah mencium pipiku?
Akhh. . .
Naruto-kun benar-benar membuatku berblushing ria. Aku senang, tapi aku juga malu dibuatnya. Dia benar-benar tak bisa ditebak. Setidaknya olehku…
"aku akan menantikannya Hinata-chan! Yosh, sampai jumpa" ucapnya kemudian berlalu dari hadapanku, melambaikan tangannya dari belakang
Flashback end
"sekarang, apakah aku boleh menagih janji itu?"
"ya" ucapku malu-malu
"kau yakin akan melakukan ini didepan setim mu?"
"itu tergantung kamu saja, Naruto-kun" jawabku dengan tentu saja kalem dan lembut (sepertinya kalem dan lembut sama saja ya? Aku gak tau ngebedainnya)
"nanti malam tunggu aku di gerbang Konoha"
"ya"
Akh. . .
Ngapain sih Naruto-kun melakukannya
"sebagai pembuka bahwa kau sudah setuju dan akan menungguku di gerbang."
Akh. . .
Dia, mencium pipiku lagi
BRUK
Aku pingsan. Ya ampun, apa yang aku lakukan sih? Kok bisa-bisanya aku pingsan padahal ini sudah yang kedua kalinya dia mencium pipiku? Aduh! Aku benar-benar tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada tubuhku. Malah aku pingsan sebanyak dua kali di depan Naruto-kun.
"Hinata, kau ini kenapa sih?" tanya Kiba-kun ketika hanya ada kami berdua. Shino telah pergi sejak tadi, dan Naruto-kun sudah pergi ketika aku pingsan untuk yang kedua kalinya. Mungkin dia akan kembali, akhh
Nanti malam ya. . .
"Hinata-chan?" kali ini Kiba-kun menjentikkan jarinya tepat dihadapanku
"akh. . . ya?" jawabku.
"kau melamun?" tanya Kiba-kun, lalu bersandar dan mengikuti posisiku. Bersandar di pohon. Namun dia melipat tangannya dibelakang kepala. "kau pasti memikirkan Naruto ya?" lanjutnya
Aku tak tahu. Namun ada perasaan kecewa dibalik ucapannya yang terakhir itu. Kenapa?
Ada apa jika aku memang memikirkan Naruto-kun?
Salahkah jika aku memikirkan orang yang sangat aku sukai itu?
"ya, aku memikirkannya. Setelah sekian lama, aku akhirnya bisa bertatap muka dengannya, namun aku malah menyia-nyiakannya. Aku benar-benar bodoh." Ucapku. Kini aku juga bersandar di pohon, namun tanganku berada diatas perutku.
"aku akan terus mendukungmu Hinata-chan. Walaupun. . ." ucapannya terhenti. Aku menanti lanjutannya, namun lama kutunggu, tak ada juga.
"sebaiknya kita melapor ke guru Kurenai. Aku yakin Shino telah berada bersamanya." Ucapku kemudian berdiri dan membersihkan pantatku dari pasir yang menempel. "kau mau ikut?" tawarku
"ya." Jawabnya singkat lalu bangkit dari tempatnya berdiri dan meniru apa yang aku lakukan.
Selama perjalanan kami hanya diam. Tak ada yang berani membuka pembicaraan. Aku masih ak tahu apa yang mesti aku ucapkan untuk membuka topic percakapan hari ini. Tiba-tiba dia berhenti.
"ada apa?" tanyaku padanya. Aku melangkah sampai aku benar-benar telah berada dihadapannya.
Namun tak ada jawaban dari Kiba-kun. Dia hanya terus menunduk, sementara Akamaru hanya telungkup disamping Kiba-kun. Hari ini dia kenapa sih?
PLUK….
He? Dia.. . .
Kiba-kun memelukku. Ada apa dengannya hari ini? Aku benar-benar tak mengerti
"Kiba-kun lepaskan aku" ucapku dan mencoba berontak, namun dia memelukku terlalu erat
"biarkan aku begini untuk sebentar saja." pintanya. Aku yang sejak tadi memberontak kini diam, bahuku kini basah. Dia menangis?
Kiba-kun menangis?
Terakhir kali aku melihatnya menangis ketika Akamaru kritis pada saat bersama Naruto-kun dan yang lainnya menyelamatkan Sasuke-kun. Si cowok dingin bermata gelap sekelam masa lalunya dan berambut pantat ayam.
"ada apa Kiba-kun? Adakah yang bisa aku lakukan untukmu?" tanyaku membuka percakapan setelah lama dalam posisi seperti ini.
Dia tak menjawab, namun terus mendekapku. Erat.
Aku merasa hangat. Namun entah kenapa fikiranku melayang pada Naruto-kun. Saat ini dia sedang apa? Apakah dia masih sibuk mencari teman setimnya?
"maafkan atas ulahku hari ini." Ucap Kiba-kun setelah melepaskan pelukannya. "aku hanya takut kehilangan gadis polos sepertimu dalam tim, Hinata-chan"
"akh. . . tak apa, tenang saja Kiba-kun. Kalian tidak akan kehilangan Hinata. Hinata akan tetap berada disisi kalian. Disisi Guru Kurenai, serta disisi Kiba-kun dan Shino-kun" ucapku mencoba menenangkannya.
"yuk!" ucapnya kemudian kami melanjutkan perjalanan. Sesekali Akamaru menggonggong untuk menutupi rasa sepi yang menyelimuti kami. Entah mengapa salah satu diantara kami tak ada yang ingin membuka percakapan.
.
.
.
Malam hari di desa Konoha. Salah satu dari lima desa terbesar di dunia Ninja.
Sekarang aku telah berada di gerbang selamat datang Konoha, atau lebih tepatnya salah satu akses untuk memasuki Desa Konoha secara cepat dan aman. (mungkin saja)
Naruto-kun ada dimana sih? Sudah lama aku menunggunya, namun dia tak datang juga.
"yo! Hinata-san!" sapa seseorang. Aku sepertinya mengenali suara ini? Tapi siapa ya?
Aku mencari asal suara tersebut. Kuputar kepalaku untuk mencari sumber bunyi, dan mataku terpaku pada sosok yang kini tengah berdiri diatas gerbang masuk Konoha.
"na. . . Naruto-kun" ucapku. Aduh, kok aku jadi gagap sih? Mungkinkah karena janjinya yang akan kutepati malam ini.
"kau sudah siap?" tanyanya setelah lompat dan berdiri didepanku.
Aku hanya menjawab dengan anggukan. Aku tentu saja malu jika mengingat janji apa yang harus kutepati.
Dia menarik tanganku masuk kedalam hutan Konoha. Ngapain sih Naruto-kun membawaku kesini? Disini kan banyak pasukan Anbu yang menjaga, mengingat ini adalah salah satu jalan masuk bagi para penyusup yang ingin menghancurkan Konoha.
Naruto-kun menyandarkanku ke pohon, dan dia mengunci posisi tubuhku sehingga aku tak bisa bergerak. Aku hanya menunduk kini.
Dia memegang daguku, mengangkatnya sehingga aku bisa menatap jelas mata birunya yang kini diterpa sinar rembulan. Akh, kenapa mata itu begitu indah setiap kali aku melihatnya?
"kau sudah siap Hinata-san?" tanyanya.
Lagi-lagi aku hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Dia memegang pipiku dan mengelusnya, yang membuat semburat merah di wajahku. Lalu mulai mencium bibirku. Dia mulai melumat habis bibirku. Aku hanya diam. Entah sudah semerah apa wajahku sekarang. Lidahnya meminta izin untuk masuk, aku hanya menuruti apa yang dia inginkan. Aku membuka perlahan dan dia benar-benar melahap apa yang ada didalam mulutku. Dekarang lidahnya telah berada didalam mulutku. Akhh. . . apa yang dia lakukan
Tanpa sadar aku mengalunkan tanganku, aku benar-benar menikmati setiap detik bersamanya.
Dia melepaskan ciumannya, yang berhasil membuatku lemas.
Hosh. . . hosh. . . hosh. . .
Aku berusaha mengatur nafas. Aku hampir saja jatuh andai saja dia tak menahanku.
"bolehkah lebih dari ini?" tanyanya
APA?
.
.
.
Akh…
Maaph.
Aku rasa sampai disini dulu ya chapter 4nya. Lain waktu akan saya lanjutkan.
Aku mohon maaph jika cerita ini aneh.
Ok
See you in the next chapter…
Author
~^Yuu^~
