Mad City

Lee Taeyong - Ten Chittaphon Leechaiyapornkul


4

Ten mengetuk-ngetukan ponsel itu dengan pahanya. Berusaha untuk tetap fokus dengan semua pelajaran yang dosennya terangkan namun otaknya menolak, menariknya untuk semakin memperluas pikirannya tentang siswa Columbia University yang sudah tidak ia temui satu minggu lamanya.

Bukannya ia menjauhkan diri, tidak sama sekali terbesit di pikirannya untuk melakukan hal itu. Namun Johnny kerap mengajaknya untuk berpergian, mengelilingi Manhattan sampai ke Bronx, makan, window shopping, minum kopi, membicarakan urusan sekolah (termasuk guru dan juga para perempuan tentu saja) dan tidak jarang mengungkit-ungkit Lee Taeyong.

"Sebenarnya tidak masalah selama dia tidak menawarkannya kepadamu."

Kalimat yang mungkin sudah Johnny ucapkan sepuluh kali sejak minggu lalu.

Hingga akhirnya suara bel mengakhiri kegiatan belajarnya di hari ini, jam empat sore kali ini. Ten langsung menutup layar laptopnya dan memasukannya ke dalam tas khusus laptop berwarna biru itu lalu meninggalkan kelasnya.

Meninggalkan gedung kampusnya, berbaur dengan pejalan kaki lainnya menuju Rubin Hall. Sesampainya di kamar pun Ten tidak tau apa yang harus ia lakukan selain bermalas-malasan. Membiarkan televisinya stuck di channel Cartoon Network yang sedang menyiarkan We Bare Bears, Ten merebahkan tubuhnya di sofa tanpa mengganti pakaiannya. Episode The Road yang entah sudah diputar berapa kali masih sanggup membuat Ten memiringkan tubuhnya untuk menonton.

Ketika handphonenya bergetar, ia spontan mengambilnya. Sedikit ragu untuk membuka pesan yang baru saja ia dapatkan namun tidak dipungkiri kalau Ten memang tidak bisa menahan diri untuk menggeser lockscreennya untuk membalas pesan itu.

Hidup itu rumit, ya?

Banyak orang yang menekankan bahwa kita harus berteman dengan siapa saja, tidak boleh ada diskriminasi. Namun pada kenyataannya, sisi lain mereka menyuarakan hal berbeda. Mungkin memang logis alasannya, agar tidak ikut terjerumus ke hal negatif.

Kalau begitu, seharusnya dari awal tidak perlu menekankan larangan pilih-pilih teman, iya tidak? Atau cuma Ten yang berpendapat seperti itu?

Menahan egonya untuk menjadi orang yang mendiskriminasi itu, Ten membuka pesan dari Lee Taeyong. Singkat namun sanggup membuatnya berdebar, entah karena senang atau karena seram.

"Its been a long time. Bryant Park, maybe?"

Loh, dia rindu?

Agak besar kepala memang. Mungkin saja Lee Taeyong ini memang hanya ingin mencari teman untuk jalan-jalan.

Tetapi tidak ada salahnya, kan?

"Okay. Meeting point?"

"Your dorm. Aku sudah di bawah."

Ten mengerutkan dahinya. Gila, dia penguntit?

"Okay, wait a minute."

Menyambar dompet yang tadi ia letakan di meja, Ten langsung berjalan keluar.

"Sejak kapan kau di sini?" Tanya Ten setelah menemukan Taeyong di depan dorm.

"Saat kau membalas pesanku, aku baru sampai."

Ten menghela nafas, "Kenapa tidak bilang dulu, sih?"

Taeyong hanya tersenyum miring.

Ide berjalan bersama orang dekat memang tidak pernah buruk. Membahas hal-hal yang sejatinya tidak penting menjadi hal yang seakan-akan seluruh dunia harus tau. Melupakan kehidupan lainnya, yang ada hanya Ten, Taeyong dan jalan yang mereka injak.

"Terus kau bagaimana?"

"Ya, mau tidak mau keluar kelas, Ngomong-ngomong, kita sudah sampai."

Melihat sekeliling, Ten menemukan taman di sekitarnya. Banyak orang namun tidak cukup ramai untuk membuatnya memeluk lengan Taeyong lagi agar tidak hilang.

"Di sini ada reading room juga, kan?"

Taeyong mengangguk, "Kau suka membaca?"

"Biasa saja."

Langit memang mulai menggelap, namun bagaimana tawa setiap orang di taman ini tidak pernah padam. Dari mereka yang tertawa sambil ditemani oleh buku di tangan masing-masing di reading room, anak yang sedang menggandeng tangan kedua orangtuanya dan sampai individu yang tersenyum penuh arti saat melihat ke layar ponselnya.

Memang ada kalanya kota dipenuhi dengan kebahagiaan.

"Maaf agak lama." Taeyong menyodorkan satu kotak hot dog, "Kau tidak masalah dengan saus, kan?"

"Nope. Most of Thai loves spicy foods."

Menghabiskan roti sosis itu tanpa kata, hanya menikmati setiap keadaan yang mereka peroleh di taman itu.

Namun kadang ketika Ten tidak berbicara, ia berpikir.

Dan saat itu juga topik utamanya selama satu minggu muncul lagi, tanpa rasa berdosa bahkan ketika objeknya sedang duduk dengan tenang di sebelahnya.

Kalau Lee Taeyong benar seorang bandar obat-obatan, apa dia memang berbahaya?

But he looks innocent as hell!

"Ten?"

Yang dipanggil langsung mengedipkan matanya berulang, kembali ke dunia nyata. "Ya?"

"Kenapa kau memandangiku seperti itu?"

Oh, shit.

"Hah? Maaf, aku hanya tidak fokus," ia tersenyum canggung.

Taeyong hanya mengangguk, melanjutkan menggigit hot dognya yang hampir habis. Sementara miliknya masih ada setengah, jadi Ten buru-buru menggigit makanan itu lagi.

Ada sekitar tujuh menit sampai mereka memulai pembicaraan lagi setelah menghabiskan hot dog tadi. Penuh dengan senyuman, membahas kondisi langit yang semakin gelap namun tidak pernah padam. New York terlalu sibuk untuk dipadamkan.

Ketika pengunjung di depan mereka semakin berkurang, Ten sudah tau konteks pembicaraan selanjutnya akan jauh lebih dalam.

"Kenapa kau mau berteman denganku?" Pertanyaannya sesederhana itu, namun jawabannya tidak. Tidak ada versi sederhana untuk jawaban pertanyaan ini.

"Karena aku ingin."

"Kenapa kau ingin?"

"Ada yang salah dengan keinginan untuk menambah teman, Tuan Lee?"

Taeyong mengangguk, kembali menatap lurus ke depan.

Si Laki-Laki Thailand sudah tau kalau ada yang tidak beres. Mungkin apa yang Johnny katakan memang benar.

Lagipula, kalau tidak ada masalah, untuk apa Taeyong bertanya hal nonsense seperti itu?

"Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" Ten bertanya.

Butuh tiga detik sampai Taeyong menghela nafasnya, "Nothing. I'm just… Curious. That's all."

Ten sebenarnya yakin itu hanya satu dari berbagai alasan yan mendorong laki-laki berambut silver ini untuk mengungkapkan pertanyaannya tadi, namun ia hanya mengangguk, enggan menunjukan rasa penasarannya lebih dan lebih lagi.

Kalau Taeyong memang menganggapnya teman, pasti ada saatnya dia akan bercerita, kan?

"Well, apa ini terlalu malam untuk berjalan-jalan lagi?" Tanya yang yang bersurai hitam. Dengan senyuman di wajahnya, mencoba menarik Taeyong untuk ikut tersenyum. Kota sudah memiliki banyak orang sedih, Taeyong tidak perlu repot-repot untuk menambah populasinya.

"Karena kau adalah Ten, kurasa iya."

Ten mengerutkan dahinya, "Memang ada apa dengan Ten?"

"Seorang bayi tidak boleh tidur larut malam." Taeyong tersenyum saat Ten mendengus, kesal.

"Geez. First, I'm not baby anymore, okay? Lalu, astaga, sekarang, kan, baru jam setengah tujuh."

"Memangnya kau mau kemana, sih?"

Benar juga sih. Ten tidak punya tujuan mutlak. Dia hanya ingin berjalan-jalan, itu saja.

"Kemana saja. Bawa aku ke dormmu juga tidak masalah," jawabnya asal.

"Serindu itukah kau kepadaku, Leechaiyapornkul?"

Ten mengangguk lalu mencebik. Niat awalnya adalah menggoda.

Yang di sebelahnya malah tersenyum lebar, bukan tersenyum kecil ataupun miring seperti biasanya.

"Kurasa kau mulai mengantuk sampai-sampai mengatakan hal semacam itu."

Namun Ten berakhir dengan kesal karena anggukannya hanya dianggap sebagai candaan, seakan-akan niat yang ia patenkan di otak tidak sejalan dengan niat hatinya.

Memang niat hatinya apa, sih?

Tangan yang berambut silver menjalar ke bahu kanannya, merangkulnya lalu membawanya menuju bagian luar dari Bryant Park.

Entah karena tidak sadar atau karena terlalu menikmati malam, tau-tau tangan yang awalnya merangkul Ten sudah berpindah tempat. Menggenggam tangan orang di sebelahnya, menyelipkan setiap jari-jarinya di sela-sela jari Ten.

Namun karena ia menikmatinya, jadi ia membiarkannya.

Satu-satunya hal yang tidak bisa ia terima hanyalah kenyataan bahwa ada sesuatu yang membuncah di hatinya. Perasaan yang mungkin masih terlalu dini hingga membuat Ten ingin menahannya kuat-kuat sebelum itu semakin membesar dan makin menyetirnya menjadi lebih gila lagi.

Mereka berhenti di tempat pertama kali mereka bertemu pagi itu. Melepaskan tautannya.

"Jangan tidur malam-malam, besok masih ada kelas, kan?"

Ten mengangguk semangat.

"Kalau begitu aku pulang, ya. Selamat malam."

Taeyong baru membalikan badannya saat tiba-tiba Ten kembali memanggilnya.

"Uhm, sleep well!"

Yang berambut silver hanya tersenyum. "Yeah, you too."

Ten melihat dengan jelas saat laki-laki dengan sweater putih itu menjauh dari pandangannya, menghilang di tengah kerumunan pejalan kaki Manhattan.

Namun bukan itu yang sebenarnya ingin ia ungkapkan.


Tangannya baru membuka bungkusan burrito saat pandangan Ten menangkap Lee Taeyong di depannnya. Tidak sendiri, dia bersama laki-laki lain dengan hoodie hitam yang turut menutupi rambut silvernya yang mencuat.

Matanya beralih ke tangan kiri Taeyong, menyipitkan matanya untuk mengidentifikasi barang yang dia pegang.

A cigarette.

Beberapa detik kemudian ia baru menyadari keberadaan Ten yang sedari tadi ia punggungi. Mengucapkan salam perpisahan kepada temannya lalu berjalan mendekat ke arahnya.

"Hei, sejak kapan kau—"

"Baru, kok."

Menangkap basah seseorang memang tidak selalu memuaskan. Terkadang malah menciptakan sekat penambah kecanggungan yang sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan.

"Uh, kau merokok?" Tanya Ten, mengusap tengkuknya.

"Kadang-kadang kalau sedang stress."

"Jadi sekarang kau sedang stress?"

"Sepertinya begitu."

Ten hanya mengangguk lalu mengigit ujung burrito yang sudah ia buka dari tadi. Mungkin normal bagi seorang freshman Columbia University untuk stress, pelajaran ereka bisa jadi lebih berat dibandingnya. Sesaat kemudian Taeyong meninggalkannya menuju tempat sampah lalu kembali dengan tangan kosong.

"Sepengelihatanku tadi batang rokokmu masih panjang."

Taeyong mengangguk, "Memang masih."

"Kenapa dimatikan?"

"Perokok pasif jauh lebih beresiko dibanding perokok aktif. Aku yakin kau tau itu."

Ten semakin mengerutkan dahinya. Laki-laki ini….

"Kenapa sejak kemarin-kemarin kau begitu perhatian dengan kesehatanku?"

Tetapi dia hanya tersenyum miring, meraih pergelangan Ten lalu menariknya untuk ikut berjalan.

Membelah Lexington Ave bersama pejalan kaki lainnya, Taeyong membiarkan Ten memakan setengah bagian burritonya sampai ia kembali bersuara.

"Kenapa sendirian? Kemana temanmu-temanmu?"

"Pub." Jawab Ten, singkat namun jelas.

"Lalu kenapa kau pergi sendirian sejauh ini?"

Demi apapun, Taeyong sudah seperti ibunya sendiri.

"Karena aku ingin. Tidak, aku bukan bayi dan sekarang adalah Jumat malam, menonton tv sendirian itu membosankan." Jelasnya.

"Kau bisa menghubungiku."

Ten menengok ke arah Taeyong. Lalu laki-laki itu melanjutkan, "Berdua lebih baik daripada sendirian."


Mungkin lain kali ia tidak mau mengajak teman non-NYU ke dormnya kalau ia tau akan serumit ini. Untung Taeyongnya membawa identitas lengkap sehingga ia tidak perlu repot-repot untuk keluar dari dorm lagi dan mencari tempat hangout lain.

"Nah, ini dormku. Maaf sedikit berantakan." Ujar Ten setelah mempersilahkan Taeyong untuk masuk.

"Ya, sedikit berantakan."

Namun matanya berkata lain. Bagaimana ia melihat meja dan sofa yang dipenuhi dengan jaket, gelas bahkan bungkus keripik benar-benar sinis.

"Uhm, akan aku bereskan." Ten langsung mengambil semua barang di atas sana, mengembalikannya di tempat yang seharusnya. Mungkin Taeyong tidak perlu masuk ke dalam kamarnya kalau yang akan orang itu lakukan hanya mengernyit karena betapa berantakan kamarnya itu.

Sebenarnya tidak terlalu berantakan juga, sih. Tetapi kalau sofa dan meja penuh barang saja ia langsung sinis, apalagi keadaan kamar?

Menyediakan sepotong pie dan segelas susu coklat yang sukses membuat Taeyong terheran-heran, mereka menghabiskan Jumat malam bersama dengan televisi yang menyiarkan Grey's Anatomy. Itu pun setelah Taeyong kecewa karena kartun Spongebobnya baru saja habis saat mereka memindahkan channelnya.

"Aku tidak menyangka kau menyukai Spongebob."

"Apa masalahnya?"

"Aku kira kau bad boy."

"Tidak ada larangan bagi bad boy untuk menonton Spongebob, Ten, serius."

Ten masih tenggelam dalam tawanya sampai Taeyong menghabiskan pienya. Semakin puas saat laki-laki itu juga menghabiskan susu coklat yang ia berikan.

Butuh setengah jam lagi sampai episode kali itu habis, menampilkan credit dengan latar hitam yang berjalan dengan cepat.

"Sudah terlalu banyak orang yang mati dengan cara bodoh seperti itu."

Ten langsung menoleh, menaruh perhatian kala Taeyong mulai berbicara.

Lalu melanjutkan, "Dan aku sudah cukup berdosa untuk membantu mereka semua untuk mati."

Dia mau membahas yang tadi lagi?

"Membantu apa?" Tanya Ten. Berusaha menahan otaknya untuk mengeluarkan spekulasi liar yang belum dikonfirmasi kebenarannya.

"Ya, ratusan ribu masyarakat Amerika meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh rokok. Sedangkan kafein, mungkin aman kalau sedikit tetapi aku tidak tau sudah berapa banyak kafein yang kau minum." Jelasnya.

Berusaha menebak-nebak, memposisikan dirinya layaknya orang bodoh yang tidak tau apa-apa.

"Kau pemasok rokok dan minuman kafein?"

"Drugs."

Membelalakan matanya. Ia pikir teman Johnny salah orang namun kenyataannya tidak. Dan astaga, kenapa Taeyong dengan mudahnya mengakui hal itu kepadanya?

"Kau tidak sedang bercanda, kan?"

"As expected."

"Tidak bukan begitu. Aku hanya bertanya!"

Taeyong menghela nafasnya, "Tidak, aku serius."

Masih menatap laki-laki di depannya, Ten dapat melihat air muka Taeyong yang langsung berubah menjadi lebih dingin, tawanya setengah jam yang lalu menguap habis tanpa sisa.

"Kalau kau merasa berdosa, kenapa kau terus melakukannya?"

"Demi bertahan hidup, mungkin?"

Entah hal apa yang mendorong Ten untuk melakukannya, ia menggenggam tangan Lee Taeyong. Mengusapnya.

"Kota memang begitu keras dan terkadang kita harus melakukan hal buruk untuk melawannya," Ten tersenyum.

"Dan menambah kekerasan kota itu sendiri." Taeyong grins.

.

.

.

TBC

.

.

a.n: Jadi… Enggak, our dearest Lee Taeyong bukan seorang pecandu. Mungkin pemakai, tapi sekedar 'pernah'. Gak lucu kalo pas lagi ngedate atau sekolah tiba-tiba dia sakaw pengen nyimeng soalnya :(( Dia cuma bandar, sebut aja distributornya karena aku sendiri gak begitu tau seluk beluk tentang dunia itu, sotoy banget emang sampe buat ff dengan tema yang gak begitu aku tau.

And for the places, pilihannya antara dua, entah kalian mau cari atau 'asal tau ada tempat dengan nama itu', lucu sih kalo dicari bcs bayanginnya jadi berasa!1!1 Kenapa harus search, karena aku sendiri juga ngesearch semua tempat itu sekaligus menjelajah Manhattan lewat maps HAHAHA. Dan baca buku, aku gak nonton film soalnya, nah ini buat yang waktu itu nanya referensi ya hehe. Aku gak pernah ke sana, serius deh, makanya ini (terutama di chapter 2) berantakan sekali.

Author's note kali ini panjang sekali, ya dan kenapa bahasa notenya jadi gak sefriendly di PoM, sih? Mungkin faktor mood pas nulis a.n ini, maaf semuanyaa.

Don't forget to fav, follow & review! Thank you very much~