Ch 3 Sadness, and Attack
Di sebuah gedung tua yang terbengkalai di pinggir kota Tokyo. Nampak di dalamnya tengah terjadi pertarungan antara Akuma yang menjadi liar dengan kelompok Rias. Dan dalam waktu singkat semua Akuma-Akuma tersebut berhasil di basmi oleh mereka.
" ok, ku rasa sudah cukup untuk hari ini. Ayo kita pulang, Akeno" Kata Rias dengan melirik kea rah Queennya. Dan Akeno pun segera menyiapkan lingkaran sihir teleport. Lalu mereka pun segera menghilang di balik lingkaran tersebut.
Sesampainya di ruang club, Issei dan semuanya segera berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
" Asia. Bisakah kau membelikan ku minuman itu. Uangnya ada di laci" Pinta Rias dengan menatap bintang-bintang malam dari balik jendela.
" hmm. Baiklah. Hime-sama" jawab Asia tidak bertanya lagi tentang minuman apa yang di maksud oleh sang majikan.
Tak sampai 5 menit, Asia sudah kembali dengan membawa satu kresek berisi satu botol Sake. Setelah itu Asia segera menghidangkan minuman tersebut ke Rias yang sedang duduk di atas atap.
" temani aku minum." Ujar Rias singkat.
" tanpa Hime-sama mintapun, saya akan menemani anda minum." Sahut Asia sambil mengangkat cawan sakenya. Kedua gadis belia tersebut saling bersulang kemudian saling meminum sakenya.
Di tempat lain. Terlihat seorang pemuda berambut putih jabrik, berpakaian seperti pertapa Yamabushi a.k.a Naruto sedang berdoa di depan beberapa batu nisan di sebuah lembah hijau yang banyak di penuhi oleh bunga-bunga liar yang cukup cantik. Dan di belakang Naruto juga terlihat dua gadis 'Miko' yang adalah Meme dan Misa turut berdoa bersama sang majikannya.
" ayo kita pergi." Ucap Naruto singkat sambil memakai topi capin, dan mulai berjalan. Kemudian Meme dan Misa menyusul sang majikan yang mulai menjauh. Dan secara perlahan ketiganya lenyam dalam gelapnya malam.
" goshujin-sama. Bolehkah aku keluar sebentar malam ini?" Tanya Meme memberanikan diri.
" pergilah. Dan cepat kembali, tugas kita masih banyak malam ini." Jawab Naruto member ijin pelayannya itu.
Dengan mengepakkan dua pasang sayap hitam pekatnya, Meme melesat cepat di langit malam tak berbintang tersebut.
"dia masih melakukan hal itu." Ujar Misa tersenyum menatap kepergian Meme beberapa detik yang lalu.
" menjaga cintanya, walau harus menderita karena mendapat kenyataan pahit." Sambung Misa lagi. Naruto yang sedari tadi diam hanya berkata kalau semua hal yang terjadi adalah hal yang sangat misteri di dunia ini.
ψψψ
Kuoh Gakuen
Semua siswa, maupun siswi di sekolah itu namapak berbisik-bisik ketika melihat kedatangan Naruto. Mereka membicarakan masalah kejadian beberapa waktu yang lalu. Tepatnya saat Issei menghajar seorang siswa lain yang membully pemuda buta tersebut. Dan berita itu langsung menyebar cepat. Tapi sayangnya banyak cerita yang beredar tidak sesuai dengan fakta aslinya, dan mengakibatkan Naruto mendapat beberapa tatapan sinis dari siswa, atau siswi lainnya. Namun ada juga yang malah meminta maaf pada pemuda itu, karena kesalahanya.
" Naruto. Hari minggu nanti apakah kau sibuk?" Tanya Issei di saat jam makan siang.
Naruto berpikir sejenak, dan mengatakan kalau dirinya tidak ada kesibukkan di hari itu.
" begini. Ma, maukah kau hadir di pesta ultah Buchou hari minggu ini?"
Mendengar perkataan Issei barusan, Naruto segera menjawab kalau ia bersediah untuk datang. Dan tak lupa Asia turut menyampaikan kalau Rias meminta tolong pada pemuda buta tersebut untuk bernyanyi di pesta ultahnya itu.
" tidak apa-apa nih? Kan suara ku pas-pasan." Ujar Naruto merendah. Namun Issei maupun Asia mengatakan kalau suara sahabat baiknya itu sangat bagus.
Dan tepat di hari minggu, acara ultah Rias Gremory berlangsung di mansion kecil atau bisa di bilang gedung club penelitian hal-hal gaib berada. Dan setiap anggota club, maupun para staf Seito Kaicho membawa kado ultah untuk Rias, juga gadis berambut merah tersebut mendapatkan hadiah dari kelurganya di Jigoku.
" arigato kau sudah mau datang ke acara ultah ku, Naruto." Ucap Rias pada Naruto yang sedang bersandar di dekat pohon.
" sama-sama. Ah, ini kado untuk mu. Semoga kau suka." Ucap Naruto dengan menyerahkan sebuah kado berukuran sedang dari tas yang di bawanya.
" boleh ku buka?"
" silahkan"
Saat kado tersebut di buka oleh Rias dan di saksiakan oleh semua yang hadir. Semuanya pun langsung sweat drop melihat kado apa yang di berikan oleh pemuda berambut kuning tersebut. Karena ternyata yang di berikan oleh Naruto adalah sebuah kotak serangga.
" bagaimana, apakah kau suka, Rias?" Tanya Naruto tersenyum.
" ano..Naruto-san. Kau memberikan kotak serangga pada Buchou." Kata Kiba dengan sopan.
Mendengar hal itu, Naruto segera mengatakan kalau ia di beri tahu oleh Issei kalau gadis berambut merah tersebut menyukai serangga.
Sontak semua mata tertuju kearah Issei yang berebut kue-kue dengan Koneko.
" I-S-S-E-I. bisakah kau memberikan ku alasan untuk tidak mengharja mu saat ini?" Tanya Rias sambil tersenyum dan meremas-remas jemari, dan juga jangan lupakan aura suram yang mencuat keluar.
" … ….gomenasai, gomenasai….!" Ucap Issei bersujud meminta maaf kepada majikanya itu.
Rias pun memaafkannya setelah Naruto mengatakan kalau ia baru tahu kalau teman baiknya itu suka jahil juga selain bertingkah ecchi.
" kali ini aku memaafkan mu, Issei. Tapi lain kali tak ada ampun untuk mu." Peringat Rias dengan menyeringai sadis. Melihat hal tersebut membuat Issei kesulitan untuk meneguk ludahnya.
Acara Ultah milik Rias berlangsung dengan ceria. Di mulai dari permintaan Rias dan para anggota club, lalu Staf Seito Kaichou kepada Sona untuk bernyanyi bersama dengan Naruto, dan itu sukses membuat Sona yang biasa bersiakp dingin menjadi malu-malu, Issei yang kedapatan sedang bermesaraan di pojok halaman bersama Asia, dan banyak lagi. Tanpa terasa hari pun mulai malam, dan pesta Ultah pun di tutup dengan peluncuran kembang api.
Setelah acara benar-benar selesai. Semuanya pun berpamitan untuk pulang.
" kau terlihat bahagia sekali hari ini, Hime-sama. Apa ini karena kedatangan Uzumaki-san?" Tanya Akeno saat duduk bersama dengan Rias dan Asia di ruang club.
Rias menatap sejenak ke arah Akeno, lalu mulai menjawab kalau apa yang di katakan oleh Queennya itu tidak ada hubungannya dengan kedatangan Naruto. Ia menjelaskan kalau dirinya merasa senang merayakan hari kelahirannya itu bersama dengan keluarganya tersebut.
" satu hal lagi Akeno. Jaga mulut mu lain kali. Besok banyak pekerjaan yang harus kita kerjaakan. pulanglah" kata Rias memberi perintah.
" go, gomennasai. Hime-sama. Sa, saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya permisi." Ucap Akeno bernada takut, dan kemudian segera pamit pulang, dan menghilang di balik lingkaran teleportnya.
Sepeninggal Akeno. Rias dan Asia segera mandi, dan bersiap-siap untuk tidur.
" ne, ne…Hime-sama. Malam ini bolehkah aku bermain dengannya?" Tanya Asia sambil merebahkan kepala dipaha Rias yang sedang membaca buku.
Rias pun menutup bukunya dan tersenyum kepada pelayannya itu, kemudian berkata kalau ia mengijinkan gadis tersebut untuk bermain. Tak lupa mengingatkan untuk cepat pulang sebelum matahari terbit.
Kini tinggal Rias sendiri di mansion sederhana miliknya. Perlahan ia berjalan mendekat kearah jendela dan menata sendu langit malam yang nyaris tak berbintang akibat tertutup awan. Gadis cantik berambut merah tersebut perlahan menangis karena suatu memori kelam yang ia pendam selama ini
' happy birthday, Luc-kun….' Batin sang gadis terisak lirih dalam tangisannya.
ψψψ
Meme POV
Mungkin ini yang namanya karma. Yah bisa di bilang karma itu adalah suatu hukuman yang kau terima akibat perbuat mu di masa lalu, dan hal itu sedang ku alami saat ini. Yah, saat ini aku melihat pemuda yang sudah merebut hati ku sejak ia berumur 13 tahun. Karena suatu perintah yang memaksa ku untuk melakukannya, dengan tangan ku sendiri aku membunuhnya. Dan sejak saat itu dia membenci ku hingga sekarang.
Tapi ada hal lain yang membuat ku semakin menderita, yaitu Issei sedang 'bercumbu' dengan Asia. Keduanya Nampak menikmati permainan yang mereka mainkan di atas ranjang. Dan dengan jelas aku mendengar desahan nafas tak teratur dari keduanya, erangan manja dari mulut Asia, dan pernyataan yang semakin hati ku hancur berkeping-keping.
Ingin rasanya aku berteriak untuk mengatakan kalau Issei adalah masih kekasih ku. Namun apadaya. Aku sudah di putuskan oleh pemuda itu, dan aku sudah bukan siapa-siapa lagi bagi dia. Sudahlah mungkin kami tidak di takdirkan untuk bersama. Itu sudah suratan takdir dari Kami-sama untuk ku.
'ku harap kau sudah memaafkan ku, Darling. Dan semoga Asia bisa membahagiakan mu' pinta ku dalam hati.
Meme POV End
Meme pun mengepakkan dua pasang sayap hitam kelamnya, dan pergi meninggalkan tempat ia selalu melihat Issei berada. Tapi tanpa di sadari oleh sang Miko, ternyata Issei juga sudah cukup lama mengetahui kedatangan sang gadis.
" ke…napa Issei-kun?" Tanya Asia sambil menutupi setengah tubuh telanjangnya dengan selimut.
" bukan apa-apa? Sekarang ayo tidur, Asia-chan" senyum Issei dan mencium sejenak bibir ranum gadis yang sudah resmi menjadi kekasih baru sang pemuda tersebut. Asia mengangguk pelan dan keduanya pun segera tidur dengan saling berpelukan.
Kuil Uzumaki
Seperti biasa Naruto sedang melakukan meditasinya di sekitar air terjun dekat kuilnya tersebut. Selang beberapa menit kemudian Misa datang dengan membawa nampan yang terdapat seceret teh beserta gelas, dan cemilannya.
" Goshujin-sama saya sudah menyiapkan teh." Kata Misa dengan pelan.
Perlahan Naruto membuka matanya, dan segera menghentikan meditasinya, lalu bertanya apakah Meme sudah pulang. Misa pun menjawab kalau Meme sudah pulang dan sedang memasak perjamuan bersama Miko lainnya di dapur.
" ku harap ia tegar menjalaninya. Terkadang aku kasihan padanya yang sepertinya masih di benci oleh teman Goshujin-sama."
" Issei bukan orang seperti itu. Dia pastih sudah memaafkan Meme, dan berharap kalau ia bisa bertemu kembali dengan kekasih pertamanya."
" dan kita lihat saja nanti. Biarlah Kami-sama yang menuntun semuanya, termasuk masa suram yang akan hadir dalam waktu dekat ini."
" BOLEHKAN AKU MEMAKAN MEREKA…KUSO GAKI !?" senyum Misa yang terlihat seperti seorang pysco.
Naruto yang sudah tahu sifat dari salah satu pelayannya itu mengangguk pelan. Tapi dengan sebuah peringatan tegas darinya, Misa pun tak keberatan asal permintaannya terpenuhi. Keduanya pun segera masuk kedalam kuil, karena beberapa tamu penting telah datang. Yaitu para roh-roh yang sedang masih bergentayangan di dunia.
ψψψ
Suatu hari di SMU Kuoh. Terlihat sebuah pemandangan yang nampak tak terduga dimana tepat di depan pintu masuk sekolah tersebut tengah tergelatak pingsan sesosok pemuda berjubah compang-camping berwarna merah, dan juga nampak pemuda itu mengalami banyak luka-luka di sekujur tubuhnya.
" cepat bubar. Biarkan kami yang mengurus pemuda ini !" perintah Sona kepada siswa, maupun siswi yang nampak ingin tahu tentang apa yang sedang terjadi di sekolah mereka.
Dan setelah semua murid-murid masuk kedalam sekolah, Sona segera memerintahkan Saji untuk membawa pemuda yang sedang terluka tersebut ke Mansion milik Sitri. Guna mengobati pemuda tersebut. Begitu Saji sudah membawa pemuda tersebut ke Mansion miliknya, Sona dan beserta pelayannya segera masuk keldalam kelas masing-masing karena jam pertama pelajaran sudah berbunyi.
" hei. Ku dengar tadi ada seseorang yang pingsan di depan sekolah kita, aku yakin dia adalah seorang Yakuza." Komentar beberapa siswa yang membicarakan kejadian tadi pagi.
Issei dan Asia yang tak sengaja mendengar hal tersebut segera menemui majikan mereka di ruang club. Untuk bertanya tentang kebenaran kejadian tersebut.
" yah, aku sudah mendapatkan infonya dari Sona. Menurutnya pemuda itu seperti sehabis bertarung dengan seseorang yang cukup kuat. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, kalau Sona merasakan kekuatan yang cukup kuat dari pemuda tersebut." Kata Rias menjelaskan semuanya kepada semua pelayannya.
" dan soal dua suster yang kemarin sempat datang kemari, aku mendapatkan kabar kalau salah satu dari mereka sedang mengalami luka-luka parah" sambung Rias dengan menaruh cangkir teh yang telah kosong, dan dengan sigap Akeno menuangkan teh kembali kedalam cangkir milik Rias.
Issei dan yang lain hanya diam mendengarkan apa-apa saja yang di sampaikan oleh majikan mereka. Setelah di rasa cukup, Rias pun segera menyuruh Issei dan yang lain untuk kembali ke kelas.
" dan ajak Naruto kemari saat jam sekolah sudah selesai." Pesan Rias kepada Issei sebelum pemuda itu keluar dari ruang club. Issei pun mengangguk sebagia jawaban.
(skip jam pulang sekolah)
Sesuai perintah dari Rias. Issei dan Asia mengajak Naruto untuk ikut ke ruang club mereka. Namun kali ini Naruto bersediah untuk ikut. Katanya ia tidak enak terus-menerus menolak. Dan di sinilah ia, di ruang club milik Rias Gremory.
" arigato sudah mau menerima undangan ku kali ini. Naruto." Ucap Rias dengan tersenyum manis kepada pemuda buta tersebut.
" ya sama-sama. Aku juga merasa tak enak terus menolak undangan mu. Oiya katanya ada hal yang mau kau bicarakan dengan ku. Tentang hal apa?" tanya Naruto penasaran.
Rias pun kembali tersenyum seraya memberi isyarat kepada semua pelayannya untuk keluar dari ruang club. Dan dengan patuh Issei dan yang lainnya segera keluar dari ruang club. Kini tinggal Naruto dan Rias yang masih dalam kondisi terdiam karena pikirannya masing-masing.
" a, ano…kenapa hanya kita berdua yang berada di ruangan ini?" tanya Naruto canggung membuka pembicaraan.
" karena aku ingin bicara empat mata dengan mu. Apakah tidak boleh?" sahut Rias singkat.
" bu, bukan begitu sih. Hanya saja aku merasa aneh saja."
" kalau begitu biasakanlah. Ok langsung saja aku katakan di sini dan sekarang juga. Aku harap kau berkata jujur pada ku!"
" hmm, baiklah. Aku akan menjawab semampu ku."
Rias diam sejenak, dan nampak menghirup napas dalam-dalam, lalu kemudian dengan setengah berteriak gadis muda itu berkata kalau dirinya telah jatuh hati kepada pemuda buta berambut kuning tersebut.
Reaksi Naruto yang mendengar pernyataan tak terduga dari salah satu great Onee-sama di SMU Kouh tersebut membuatnya sangat terkejud. Ia mencoba mencerna kata-kata tersebut, apakah saat ini dirinya sedang di kerjai, ataukah gadis berambut merah di hadapannya itu serius. Namun menginagat sifat-sifat yang ia dengar dari sahabat baiknya itu, maka tidak mungkin Rias sedang menjahilinya.
" a, ano mung-" perkataan Naruto terputus saat Rias mengatakan kalau ia hanya bercanda, dan itu cukup membuat Naruto menggerutu tak jelas karena di permainkan oleh gadis di depannya itu.
" ok, ok. Kali ini aku serius. Naruto bolehkah aku bertanya sesuatu tentang mu?"
" silahkan saja. Tapi jangan mengerjai ku lagi"
" ya aku tahu. Menurut mu aku ini gadis yang jahat tidak?"
Sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Rias Gremory membuat Naruto terdiam sejenak, dan sebuah senyuman terlihat di wajah Naruto.
Sitri Mansion.
Di sebuah kamar yang terlihat cukup rapi dan bersih tersebut, sesosok pemuda berusia sekitar 15-16 tahun tengah tertidur di atas ranjang empuk. Kondisi dari pemuda tersebut terlihat cukup memperhatinkan karena hampir di sekujur tubuhnya di perban seperti orang yang banyak mengalami pertarungan, dan juga di tubuh pemuda tersebut dipasangi alat-alat kesehatan, seperti infus, di tektor jantung, dll. Pemuda yang sempat di temukan di depan gerbang masuk SMU Kouh, dan di bawa ke Mansion Sitri oleh Sona, kini mulai tersadar dari tidurnya.
" di, diamana ini..?" tanya nya lirih dengan mengamati sekitarnya ketika sudah tersadar.
Dan di rasa cukup sadar, pemuda tersebut berusaha bangun dari kasurnya, dan tak lupa melepasi alat-alat yang menempel di sekujur tubuhnya, lalu mulai berjalan keluar dari kamar tersebut. Namun sebuah suara feminim, tapi tergas menghentikan langkah sang pemuda.
" kau mau pergi kemana dengan luka separah itu !? apa kau gila ha!" hardik sang pemilik suara a.k.a Sona.
Dengan hati-hati Sona pun membopong pemuda tadi untuk kembali kekamaranya, walau harus sedikit memaksa. Dan di sinilah mereka, berdua di kamar tempat pemuda tadi di rawat.
" ok. Kalau kau tak keberatan kau ini siapa, dan kenapa kau banyak mengalami luka-luka yang nyaris merenggut nyawa mu?" tanya Sona beruntun.
" aku tidak tau maksud kau mengintrogasi ku, nona. Tapi yang ku bisa ku jawab adalah aku ini seorang pengembara yang tak punya tujuan pastih, dan juga ku ucapkan banyak-banyak terima kasih karena menolong ku. Jadi aku harus segera pergi." Ucap sang pemuda bernada agak dingin.
Namun bukannya menyerah, Sona malah dengan tegasnya mengatakan kalau ia tidakkan mengijinkan pemuda tersebut pergi sebelum menjawab semua pertanyaan darinya.
" kau keras kepala, Sitri. Bahkan Serafall saja tidak berani berbuat sejauh ini pada ku." Kata sang pemuda tersenyum, namun dengan intonasi sedikit mengintimidasi.
" apa maksuda mu? Dan apakah kau kenalan Nee-sama?"
" bukan urusan mu, Sitri. Aku kenal atau tidak dengan gadis yang mengaku sebagai 'Maho Shoujo' itu. Jadi bisakah kau menyingkir dari hadapan ku, atau aku akan menggunakan cara kasar." Ancam sang pemuda dengan sedikit menaikkan energi kekuatannya. Dan itu sukses membuat Sona jatuh terduduk dengan nafas yang cukup berat.
' si, siapa dia…..hah..hah…ke-' Sona pun langsung ambruk tak sadarkan diri karena nafasnya kian sesak, dan membuatnya pingsan.
" hah…apa aku berlebihan ya? Sudahlah dia sendiri yang keras kepala." Guma sang pemuda sedikit mendesah, dan dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun pemuda itu meninggalkan Sona yang masih tergeletak di lantai.
Selang beberapa menit kemudian, Tsubaki yang tiba di mansion milik majikannya itu merasa aneh karena sedari tadi ia menekan bell namun sang majikan tak kunjung membukakkan pintu rumahnya. Dengan rasa penasaran ia pun segera membuka pintu.
" permisi….Sona-sama, apakah anda di dalam !?" panggil Tsubaki setengah lirih. Namun tak ada jawaban sama sekali.
Tsubaki pun semakin masuk kedalam rumah dan sambil memperhatikan setiap sudut mansion. dan saat ia berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Ia terkejud dengan keadaan sang majikan yang sedang tergeletak pingsan di lantai salah satu kamar tamu.
" Sona-sama! " jerit Tsubaki panik. Gadis itupun segera mencoba membangunkan Sona yang sedang pingsan tersebut. Dan tak sampai 5 menit, Sona pun sudah tersadar dari pingsannya.
" Tsubaki….di, dimana dia?" tanya Sona sambil memegangi kepalnya yang masih terasa sakit.
" dia, Dia siapa? Apa maksuda anda adalah pemuda yang kemarin kita temukan di depan sekolah?" tanya Tsubaki
Sona pun menangguk pelan. Tsubaki yang melihat anggukan dari Sona baru tersadar kalau sang pemuda misterius tersebut tidak ada dimana-mana. Tapi dari pada memikirkan hal itu, Tsubaki lebih mencemaskan keadaan majikannya itu.
Setelah keadaan Sona membaik, gadis itu segera menceritakan hal yang terjadi padanya, juga sebelum kesadarannya sempat menghilang, ia sempat medengar perkataan pemuda yang ia tolong kalau pemuda tersebut ingin membunuh orang yang di kenalnya.
" tapi untungnya anda tidak apa-apa Sona-sama. Oiya malam ini kita di minta oleh Leviathan-sama untuk menemuinya di istanah. Katanya ada hal yang mau ia bicarakan bersama anda" Mendengar kalau dirinya dan wakilnya di panggil oleh kakaknya itu, dan membuat Sona bertanya-tanya ada masalah apa hingga ia harus di panggil ke istanah Leviathan.
" baiklah. Malam ini kita akan berangkat, dan kau juga harus bersiap-siap. Aku punya sedikit firasat buruk dengan pemanggilan kita" ujar Sona dengan nada seperti mencemaskan sesuatu.
Dan tepat malam harinya, Sona dan Tsubaki sudah berada di istanah Leviathan, dan segera menemui sang kakak yang telah menjadi Maou.
" hormat kami, Maou-sama" ucap Sona dan Tsubaki berlutut di hadapan Serafall yang sedang duduk di singgahsananya, bersama dengan para penasehat dan para petinggi kerajaannya.
" mou…Sona-tan, jangan bersikap kaku begitu kepada Nee-chan mu ini ! santai saja" kata Serafall yang terlihat tidak suka dengan sikap kekakuan imouto tersayangnya itu.
Walau begitu Sona malah menagatakan kalau dirinya tidak bisa bersikap begitu, walau yang menjadi Maou adalah Nee-chan nya sendiri. Maka mau tak mau Serafall harus menerima kekalahanya itu.
" hah…kali ini aku menyerah. Ok langsung saja ku katakan alasan pemanggilan mu kemari, yaitu tentang masalah penting menyangkut kerja sama dengan seseorang yang mendukung kesepakatan damai antar ketiga fraksi. Ia adalah seorang yang cukup penting dan kau juga akan bersama Rias. Kalian akan berangkat dua hari lagi, Rias juga sudah ku beri tahu soal ini. Baiklah kalian boleh pergi" kata Serafall menyudahi titahnya yang cukup berwibawa sekali.
Sona dan Tsubaki pun segera undur dari hadapan Serafall, dan kembali pulang ke mansion Sitri di dunia manusia. Sesampainya di sana kedua gadis tersebut di kejudkan dengan adanya Rias beserta Akeno yang tampak duduk manis di sofa sambil menikmati secangkir teh.
" okaeri Kaichou." Sapa Rias dengan tersenyum anggun, saat menyambut kedatangan teman masa kecilnya tersebut. begitupula Akeno yang turut tersenyum manis.
" ada apa kalian datang kemari?" Tanya Sona agak jengkel dengan sikap temannya itu yang suka datang tiba-tiba ke mansion pribadinya itu. Rias pun menjawab kalau ia ingin curhat masalah cintannya kepada seseorang pemuda yang membuat kepala Sona terasa di jatuhi batu-batu besar, dan sambil merutuki sifat kaku nan dinginya yang sampai sekarang tak kunjung laku-laku juga di mata kaum pria. Padahal kenyataannya pernyataan cinta Rias belum mendapatkan respon dari pria yang di maksud oleh Rias.
" sepertinya anda harus mulai mengurangi sifat kekakuan anda, Sona-sama" bisik Tsubaki yang mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh sang majikan. Sona pun mendeath glare Tsubaki yang tidak peka dengan keadaan. Sementara Rias dan Akeno tertawa cekikikan melihat tingkah Sona yang jarang-jarang tersebut.
Setelah sesi merutuki diri sembuh, Sona dan Tsubaki duduk di sofa yang telah tersediah dan bersiap untuk mendengarkan curhatan teman mereka tersebut. Rias pun dengan tanpa sungkan-sungkan menceritakan semua hal yang di rasakan olehnya. Di mulai dari detakan jantung yang tak beraturan setiap kali ia dan dirinya berduaan, kenyamanan saat sedang ngobrol, dan yang lain-lain.
Semua yang di cerikan oleh Rias dengan sukses membuat Sona benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke tembok dengan sangat-sangat keras.
ψψψ
hari pertemuan antara Sona, Rias dan orang yang dikatakan oleh Serafall pun tiba. Kedua gadis yang menjadi perwakilan dari fraksi Akuma kini berada di sebuah kuil yang berada di dekat hutan. Tak lupa kedua gadis tersebut bersama dengan wakilnya masing-masing. Dan karena itu di kuil tempat pertemuan kedua belah pihak sengaja di pasang semacam 'fuin' agar pihak Akuma dapat masuk kedalam kuil tersebut.
" jadi ini tempat tinggal orang yang di anggap penting oleh para Maou. Tak ku sangkah dia adalah seorang pendeta di kuil ini." Ujar Rias yang setengah terkejud dengan lokasi tempat tinggal orang yang dianggap penting oleh semua Maou tersebut.
" yah aku sendiripun baru tahu. Dan menurut Leviathan-sama dia adalah calon kandidat dari 'Tochigami' saat ini. Jadi kita harus menjaga sikap di hadapannya." Peringat Sona kepada Rias dan begitu juga yang lain.
" aku tahu, Kaicho" sahut Rias enteng.
Keempatnya pun tiba di pintu masuk kuil yang kebanyakkan seperti pintu masuk kuil-kuil lain, dan juga mereka di sambut oleh kedua Miko bertopeng Rubah dengan sangat ramah.
" silahkan masuk. Goshuji-sama telah menunggu anda" ucap keduanya bersamaan setelah membungkuk hormat.
Sona dan yang lain pun mengikuti kedua Miko tersebut. mereka berempat pun masuk kedalam kuil. dan saat melintasi sebuah ruangan yang pintunya baru tertutup setengah tak sengaja Rias melihat seorang pemuda buta yang sangat di kenalnya sedang berdoa di depan sebuah papan sembayang. Lalu di sebelahnya ada seorang gadis berambut hitam yang digulung setengah dan terdapat beberapa tusuk konde di rambutnya, dan mengenakan sebuah 'yukata' berwarna merah cerah dengan motif kupu-kupu juga turut berdoa dengan khusu.
" Rias, ada apa?" Tanya Sona yang melihat Rias masih berada di belakangnya, dan seperti melihat sesuatu di balik pintu ruangan tersebut.
Rias menatap sejenak kearah ketiga temannya, dan lalu berkata kalau tidak ada apa-apa. Kemudian sang gadis berambut merah tersebut kembali berjalan kearah ketiganya.
Selang beberapa lama kemudian keempat gadis yang menjadi perwakilan dari fraksi Akuma tiba di sebuah ruangan yang terdapat sebuah tirai bamboo yang membatasi, dan di balik tirai tersebut terdapat bayanga seseorang yang di duga sebagai orang penting yang di maksud.
" selamat datang di kuil sedarhana ku. Sitri-san, Gremory-san" sapa orang di balik tirai tersebut dengan ramah.
" ya. Kami ucapkan terima kasih karena anda mau berbaik hati untuk membantu kami dalam melakukan perdamaian di antar ketiga fraksi." Ucap Sona dengan nada penuh sopan santun.
" itu tidak masalah. Perkenalkan nama ku Mikage. Yorosiku"
" ha'i. nama ku Sona Sitri, di sebelah ku adalah Tsubaki Shinra, lalu Rias Gremory, dan terakhir adalah Akeno Himejima."
Tak lama kemudian keduanya saling berbasa-basi sebelum memasuki topic inti mereka. Namun selagi Sona sedang berbicara dengan Mikage, Rias Nampak memejamkan matanya seakan menyimak semua yang sedang di bicarakan oleh keduanya itu. Akeno yang paham dengan posisi Rias yang seperti itu segera membisikkan sesuatu ke telinga Sona dan Tsubaki.
" hee. Kenapa di saat sekarang. Ya sudah pergilah" bisik Sona yang terlihat agak malu saat mendengar apa yang baru saja di bisikkan oleh salah satu temannya itu.
" a, ano…mungkin ini tidak sopan. Tapi kami berdua mendapatkan pesan darurat dari Maou-sama untuk membasmi para Akuma-akuma yang berkhianat, jadi kami berdua mohon pamit." Kata Akeno dengan tersenyum sopan.
" oh begitukah. Kalau begitu silahkan saja, dan semoga kalian baik-baik saja." Sahut Mikage mempersilahkan Rias dan Akeno untuk menuntaskan tugas mereka.
" kalau begitu kami permisi dulu. Sona maaf tidak bisa menemani mu. Ja" setelah berkata demikian, Rias dan Akeno menghilang di balik lingkaran sihir mereka.
Kini tinggal Sona, Tsubaki, dan Mikage yang kembali melanjutkan pembicaraan penting mengenai perdamaian ketiga fraksi.
ΨΨΨ
Naruto POV
Ini yang ke sekian kalinya aku di kunjungi oleh seorang pemuda yang bernama Michael. Dan juga ini yang kesekian kalianya ia meminta ku untuk menggantikan posisi-Nya. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa aku yang manusia biasa ini selalu dianggap pantas menjadi sosok pengganti Kami-sama, ok ku ralat kata-kata 'manusia biasa' tadi. Tapi manusia yang dengan paksaan menerima kekuatan terdahsyat tersebut dari 'leluhur' yang lebih ku anggap sebagai 'kutukan' .
" sekali ku katakan tidak ya, tidak Michael-san. Aku ini hanya seorang pertapa yang tidak mau banyak mencampuri urusan kalian, kecuali bila kalian membahayakan manusia maka aku baru akan ikut campur." Ujar ku menolak permintaan dari petinggi Seraphim tersebut.
" saya mohon agar anda mau mempertimbangkannya lagi. Jujur saja kami dari para Seraphim sangat mengharapkan anda untuk menjadi Kami-sama yang baru. Dan itu semua demi umat manusia juga." Kata Michael memberikan sebuah alasan yang cukup logis bagi ku. Yah alasan yang sangat penting bagi seluruh umat manusia yang memiliki kepercayaan kepada Kami-sama. Dan mari kita bayangkan bagaimana reaksi para manusia yang memiliki agama tahu kalau sang Kami-sama tewas saat terjadi 'Great War' ratusan tahun lalu, maka jawabannya adalah sebuah kekacauan yang tak bisa di bayangkan lagi, namun bagi ku berita tersebut cukup membuat ku ingin menertawakan kebodohan ketiga fraksi itu yang percaya dengan kematian kami-sama. Walau demikian aku tetap kepada pendirian ku yang tidak mau menerima jabatan sangat merepotkan tersebut.
" Michael-san. Sebaiknya anda pulang, dan kerjakan apa yang telah di perintahkan oleh-Nya seperti saat sebelum terjadinya peperangan. Saya percaya kalau Kami-sama sedang mengawasi kita semua dari suatu tempat guma menguji kita dari semua ini." Ujar ku dengan tersenyum sangat palsu. Untuk kali ini aku berterima kasih pada mu Sai.
" baiklah kalau keputusan anda sudah bulat. Saya tidak memaksa anda lebih dari ini lagi, dan saya permisi" ucap Michael dengan berdiri dan mengembangkan keenam pasang sayapnya yang bercahaya nan menghangatkan tersebut. kemudian dalam sekejab pemuda tersebut menghilang dari pandang ku.
' Kaguya-Obaa-sama. Sebenarnya apa yang kau inginkan dari cicit kecil mu ini?' batin ku dengan memandang bulan yang entah mengapa terasa buram di mata ku. Di malam musim panas yang sama seperti hari ini, kejadian itu tengah berlangsung. Sebuah peperangan yang membuat ku harus terus dan terus berjalan di dunia fana ini.
Naruto POV End
Sebuah tepukan pelan membangunkan Naruto dari lamunan masa lalunya. Ketika melihat siapa orang yang menepuk bahunya tersebut, entah mengapa sebuah senyuman kecut terukir di wajahnya.
" kau masih memikirkan kejadian di hari itu ya. Naruto-kun" ucap seorang gadis loli berkimono serba hitam, dan dengan rambut hitam yang setengah di sanggul kesamping kiri. Gadis bertubuh loli tersebut duduk di sebelah Naruto, dan merebahkan kepalanya di bahu pemuda tersebut.
" aku tidak suka raut wajah sedih mu itu. Sama sekali tidak cocok untuk mu, jadi tersenyumlah seperti kau yang biasanya." Sambung gadis itu lagi menghibur Naruto yang masih diam di tempat.
Naruto pun mengusap pelan kepala sang gadis seraya berkata terima kasih karena sudah mau menghiburnya di saat pertama kali perjumpaan mereka 1800 tahun lalu. Sang gadis langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
" hmm. Sama-sama." Sahut sang gadis lirih.
Keheningan langsung menghampiri keduanya. Tiada yang mau memulai pembicaraan duluan, tapi bagi keduanya saat-saat hening tersebut terdapat kesan tersendiri. Dan sampai akhirnya keheningan tersebut pecah, di saat sebuah diagram sihir berwarna putih muncul di hadapan keduanya.
Keduanya cukup familiar dengan siapa orang yang datang tersebut. Ia adalah seorang, ah tidak tiga orang gadis cantik dengan postur tubuh bak seorang model terkenal, ketiganya memakai pakaian 'cheongsam' biru muda dan dengan mahkota berbentu tanduk yang berjumlah dua di sisi kiri dan kanannya, dan juga dua dari ketiga gadis tersebut membawa tombak yang berhiaskan kepala Naga, dan satu nya lagi membawa sebilah pedang juga berhiaskan kepala Naga . Ketiga gadis itu adalah putri Dewa Lautan yang bernama 'Kaijin'.
" hah…sekarang apalagi?" desah Naruto yang cukup terlihat frustasi karena hamper setiap hari dirinya di kunjungi oleh pihak-pihak penting seperti Kami-sama(dalam agama Shinto), Dewa-dewa Olympush, dan juga Dewa Norse, dan juga para Tenshi.
" mou…apa kau tidak suka di kunjungi oleh kami bertiga ini, baka-shiro!" hardik salah satu gadis yang berambut merah pucat sebahu yang Nampak kesal dengan ucapan Naruto barusan.
" Rin-Rin. Jaga sikap mu di hadapan Uzumaki-dono. Gomen Uzumaki-dono atas ucapan kasar adik ku. Dia masih anak-anak, jadi mohon tidak diambil hati" Kata seorang gadis berambut hitam panjang yang ia kuncir ke samping kiri, dan juga meminta maaf atas kelakuan adiknya yang bernama Rin-Rin.
Naruto pun tak mempermasalahkanya, namun gadis yang bernama Rin-Rin tersebut Nampak masih membuang muka karena kesal.
" Aisha-nee. Kenapa kau meminta maaf padanya!? Jelas-jelas wajahnya terlihat tidak suka dengan kedatangan kita." Gadis yang di panggil Aisha tersebut kembali menegur adiknya yang bertindak tidak sopan dengan orang yang sedang di hadapan mereka.
" sudah-sudah, Aisah, Rin-rin jangan bertengkar. Ehm..sebelumnya maaf kalau kedatangan kami yang tiba-tiba ini. Tapi Otou-sama meminta ke hadiran anda ke istanah kami minggu depan, ada hal yang mau ia bicarakan dengan anda" ucap seorang gadis berambut merah terang dengan cukup sopan. Ia adalah Tohka sang kakak tertua dari dua gadis tersebut.
" baiklah aku akan datang. " ucap Naruto singkat.
" kalau begitu kami permisi dulu" ucap Tohka dengan member hormat, begitu pula Aisha dan juga Rin-rin. Walau gadis kecil tersebut masih uring-uringan. Kemudian ktiga gadis tersebut menghilang di balik diagram sihir mereka.
Sepeninggal ketiga gadis tersebut, Naruto menyuruh gadis berkimono serba hitam tersebut untuk segera pulang. Namun sang gadis malah mempererat pelukannya seraya berkata kalau ia tidak mau pulang, dan ingin melakukan 'itu' dengan Naruto.
" baka" kata Naruto datar dengan menyentil dahi sang gadis dan meninggalkannya sendiri di teras rumah. Namun sang gadis sama sekali tidak amrah, malah tersenyum simpul seraya menggumamkan sesuatu.
' cepatlah terbuka, dan sampai hari itu tiba ijinkanlah aku masuk kedalam' batin sang gadis penuh harapan. Kemudian muncul sebuah kepala ular atau semacam Naga yang seperti menelan bulat-bulat sang gadis. Dan detik selanjutnya sang gadis pun telah lenyap dari tempatnya duduk.
In A Dark Room
Terlihat seorang gadis muda berambut biru dengan sedikit pirang hijau di bagian poni rambutnya tampak tak sadarkan diri dengan tangan lalu kaki yang terikat di sebuah kursi dengan cukup erat. Selang beberapa menit kemudian sang gadis yang bernama Xenovia mulai tersadar dari pingsannya itu.
" eng..i, ini dimana…?" bisik Xenovia lirih. Perlahan matanya mulai menerjab-nerjam mencoba untuk memulihkan kesadaranya yang masih Nampak berat.
" akhirnya kau bangun juga, Suster Xenovia." Kata sebuah suara feminism namun terasa cukup dingin, dan bersamaan dengan sebuah nyala lampu terang yang menyorot tepat kehadapan Xenovia.
" siapa kau. Cepat tunjukkan wajah mu!?" hardik Xenovia dengan suara keras. Namun bukannya sebuah jawaban, melainkan sebuah suara tawa seperti seorang psyco yang terdengar di penjuru ruanganan tersebut.
" kau cukup tenang juga sebagai seorang manusia. Aku kagum dengan mu, tapi sayangnya kami tidak bisa berlama-lama dengan mu. Lakukan" perintah dari sang suara.
Dan dari balik kegelapan muncul seseorang berjubah serba hitam dengan mengenakan topeng putih polos menghampiri Xenovia. Di tangan orang berjubah tersebut terdapat semacam helem yang di penuh kabel.
" apa ma-hmmph!" perkataan Xenovia terhenti ketika helem tersebut di pasangkan kekepalanya, dan menutupi seluruh wajahnya.
Kemudian orang yang tadi memasangkan helem ke kepala Xenovia mengeluarkan sebuah remot kecil dari balik saku jubahnya dan menekan sebuah tombol di remot tesebut.
Detik kemudian suara jeritan yang samar-samar terdengar dari arah Xenovia yang Nampak seperti orang yang tersengat aliran listrik yang cukup tinggi. Juga suara tawa dari suara feminim tersebut.
" HMMMPPHH!"
ΨΨΨ
Suasana suram tiba-tiba saja menghampiri SMU Kouh. Hari yang semula cerah, mendadak menjadi gelap dengan awan-awan merah yang cukup terliaht jelas di langit. Tak lupa dengan gemuru petir-petir yang silih berganti saling menyambar.
[DDZZZTT….DDZZZTT..!]
[JDDAARRR…! JDDAAARRR!]
Pemandangan yang tidak normal tersebut menarik perhatian seluruh siswa yang tengah belajar di kelasnya masing-masing. Bagi mereka perubahan cuaca yang terlihat unik tersebut membuat mereka keheranan, namun lain lagi bagi kaum Akuma seperti Gremory, dan Sitri. Bagi mereka perubahan cuaca yang cukup extrim tersebut adalah pertanda buruk. Dan demi keamanan para murid-murid sekolah, maka seluruh Klan Sitri menidurkan semua siswa maupun dewan guru sekolah. Begitu juga Klan Gremory yang turut membantu.
" Sona, apakah kau juga merasakan tekanan energy ini!?" Tanya Rias ketika semua anggota Akuma berkumpul di atap sekolah mereka.
" yah. Dengan sangat jelas. Dan ini seperti pertanda buruk." Sahut Sona dengan wajah datarnya. Namun terlihat jelas kalau gadis berkaca mata itu berkeringat dingin.
Tak lama kemudian, apa yang di khawatirkan oleh semuanya pun terwujud. Dari arah jam dua di sekitar lapangan muncul diagram sihir besar, dan detik berikutnya muncul dua, tidak. Tapi tiga ekor anjing berkepala tiga atau yang lebih di kenal sebagai 'Cerberus' sang penjaga pintu masuk dua akhirat milik Dewa Hades.
" GRROAARR!" aung ketiga Cerberus tersebut mulai meporak porandakan wialayah sekolah SMU Kouh. Namun sebelum merusak banyak gedung sekolah, sebagian klan Sitri lebih dulu mengahadapi ketiga Cerberus tersebut.
" Saji, Tomoe, Bennia, Loup, kalian bantu klan Gremory untuk menghadapi para Cerberus tersebut, dan sisanya kita buat 'Kekkai' " perintah Sona kepada seluruh pelayannya.
" Ya!" sahut semua pelayan Sitri.
Sesuai apa yang di perintahkan oleh Sona. Perlahan seluruh gedung sekolah mulai tercipta suatu kubah lebar yang menutupi seluruh wilayah sekolah.
" Issei, Kiba maju !" perintah Rias dengan menunjuk kearah salah satu Cerberus yang berada di depan mereka. Maka kedua pemuda dari klan Gremory pun melesat maju dengan gaya bertarungnya masing-masing.
" jangan lupakan kami juga. Vritra!" Saji pun turut ikut melesat maju dengan mengeluarkan Sacred Gearnya berupa jam tangan berkepala Naga hitam. Dan dari dalam mulut kepala Naga tersebut keluar semacam cambuk panjang dan segera melilit salah satu leher Cerberus tersebut, kemudian menariknya keras hingga sang anjing berkepala tiga tersebut terduduk. Kemudian Saji mengaktifkan kemampuan dari Sacred Gearnya yang dapat menyedot energy milik lawan, dan membuatnya menjadi energy sendiri.
" nice, Saji ! karyu no saiga" Issei pun melepaskan pukulan berlapis apinya ke salah satu kepala Cerberus, hingga anjing berkepala tiga tersebut menjerit keras. Selanjutnya Loup yang terlah berubah menjadi 'WereWolf' juga memukul kepala yang sama dengan tangan yang terlapisi energy sihir besar.
" GRROOAAARRR!"
Tidak sampai di situ, Kiba, Tomeo dan Bennia langsung menyabetkan pedang dan sabit mereka ke dua kepala sisanya. Hingga dua kepala Cerberus terputus, lalu satu hancur.
Di sisi lain. Terlihat Cerberus yang kedua dan ketiga sedang di hadapi oleh Rias, Akeno, dan Koneko.
" Akeno sekarang !" komando Rias dengan menciptkan sebuah diagram sihir berukuran raksasa di langit, dan Akeno yang sudah mensiapkan sihir petirnya, segera menembakkan petirnya kearah diagramyang sudah di ciptkan oleh majikannya. Dan detik kemudian kedua Cerberus yang sudah di lumpuhkan oleh Koneko seorang diri itu tewas saat terkena sihir penggabungan milik Rias dan Akeno.
" Asia. Obati Koneko." Ucap Rias memerintah Asia untuk mengobati Koneko yang mengalami luka-luka, walau tidak begitu parah.
Setelah Koneko sudah di sembuhkan oleh Asia. Rias beserta para pelayannya segera berjalan menuju ke tempat Issei, dan yang lainnya yang sudah selesai menghadapi Cerberus yang satunya lagi.
" Hime-sama." Ucap Issei, dan Kiba bersamaan langsung berlutut ketika Rias menghampiri mereka.
" hmm. Kerja bagus, Issei, Kiba. Da-" perkataan Rias terhenti saat Kiba dan Tomoe menyabetkan pedang guna menahan sebuah pedang berukuran agak besar yang mengarah kearah gadis berambut merah tersebut.
" hoo….Konbawa Suster." Sapa Rias agak menyeringai saat melihat siapa pelaku penyerangan dirinya. Yaitu Xenovia.
" bunuh…bunuh.." guma Xenovia kembali mengayunkan pedang besar di genggamannya, yaitu pedang Excalibur Destruction. Namun serangan tersebut berhasil ditahan oleh Kiba dengan menyilangkan kedua pedang di tangannya.
" takkan ku biarkan Rias Hime-sama kau lukai. Xenovia" ujar Kiba menatap tajam Xenovia yang tampak berekspresi kosong.
Tidak sampai hitungan detik kedua nya kembali mengadu pedangnya masing-masing. Cukup sulit untuk melihat pertarungan keduanya yang bagaikan sebuah kilat, Tomoe, dan Bennia yang bermaksud membantu malah di tahan oleh Issei yang mengatakan kalau tidak boleh mencampuri urusan temannya itu.
" yang dikatakan Issei-kun itu benar. Sebaiknya kita focus saja dengan sang dalang pertempuran ini. " kata Rias dengan menembakkan 'Power Of Destruction'nya kearah seseorang Da-Tenshin yang memiliki lima pasang sayap berwarna hitam pekat. Namun serangan terkuat dari Rias tersebut berhasil di tepis oleh sang Da-Tenshin tersebut.
" ara, ara…ternyata salah satu petinggi Da-Tenshi ada di tempat ini. Ada apakah gerangan tuan hingga datang ke wilayah kecil kami ini?" Sapa Rias dengan gaya seorang Lady terhormat, yaitu sedikit menarik kedua sisi roknya dan sedikit membungkuk.
Semua yang mendengar perkataan dari Heiress Gremory tersebut memandang horror saat melihat kedatangan salah satu petinggi Da-Tenshi tersebut dan memasang posisi waspada apabila terjadi serangan. Termasuk para pelayan milik Rias.
" hoo…sopan sekali kau Oujo-chan. Tak ku sangkah ada dari kalangan Akuma yang bisa bersikap sopan seperti itu." Ucap sang petinggi Da-Tenshin tersebut memuji ke sopanan Rias. Gadis berambut merah tersebut hanya tertawa pelan seraya mengatakan kalau salah satu dari Da-Tenshi tersebut terlalu berlebihan memuji.
" nah tuan Kokabiel. Bisakah anda menjelaskan maksud semua ini?" Tanya Rias dengan tersenyum ramah. Beda lagi dengan Sona dan anggota Peeragenya yang masih waspada. Kokabiel yang di tanyai begitu oleh Heiress klan Gremory tersebut menyeringai lalu berkata kalau ia ingin mengulang sejarah ribuan tahun lalu.
" ku rasa sebaiknya anda mengurungkan niat anda untuk memulai peperangan. Dan saya harap anda mau membebaskan Suster yang kau hipnotis itu." Kata Rias seraya memohon dengan sopan.
Namun saying. Permohonan dari Rias sama sekali tidak di gubris oleh Kokabiel, petinggi Da-Tenshi tersebut malah menyerang Rias dan yang lain dengan membuat beberapa tombak cahaya berukuran sedang, kemudian cepat melemparkannya kearah Rias dan yang lain.
[DUUUUAAAAARRRR!]
[DUUUUAAAAARRRR!]
[DUUUUAAAAARRRR!]
Dalam waktu singkat, areal lapangan SMU Kuoh sudah banyak terdapat lubang-lubang berkawah cukup besar. Kokabiel yang melihat serangannya cukup berhasil membuatnya tertawa puas dan nyaring.
Namun tawa dari salah satu petinggi Da-Tenshi itu terhenti saat melihat Rias dan yang lain dalam kondisi baik-baik saja, walau Rias maupun Akeno tampak terengah-engah dalam membuat sihir pelindung tingkat tingga mereka.
Class Room
Tanpa di sadari oleh mereka yang sedang bertarung. Naruto dengan setianya mengamati pertarunga yang sedang terjadi di luar sana.
" hmm. Sebaiknya mereka ku bantu sedikit." Gumam Naruto dengan mengeluarkan sebuah kertas jimat dari saku celananya dan melemparkannya kearah Kokabiel yang tidak disadari oleh siapa pun. Dan ketika kertas jimat itu menempel ke punggung petinggi Da-Tenshi tersebut, Naruto segera menggambar symbol bintang di lantai dan kemudian membanca sebait mantra.
[ Oh Great Kokuuzou Bodhisattva]
[Dengan Nama Elemen Ke Lima]
[Aku Memanggilmu Untuk Menghancurkan Dinding dalam]
[Order !]
Sesaat setelah Naruto selesai melafalkan mantranya. Secara tiba-tiba Kokabiel tersengat aliran listrik yang cukup untuk melumpuhkan sementara Kokabiel. Dan membuat Kokabiel langsung terjun bebas, dan mengahantam tanah dengan cukup keras.
"ukh..ku, kurang ajar! Siapa !? siapa yang melakukan ini!?" teriak Kokabiel dengan amarah meluap-luap. Petinggi Da-Tenshi itu mencari-cari pelaku yang membuatnya tidak bisa bergerak sedikit pun.
Dan kesempatan itu segera di sadari oleh Rias, lalu gadis berambut merah tersebut mengacungkan jarinya yang membentuk 'pistol' dan dari ujung jari telunjuknya itu muncul laser berwarna hitam pekat agak kemerahan mengarah langsung kearah Kokabiel. Tak turut ketinggalan Akeno juga menembakkan sebuah panah petirnya, juga Issei dengan Dragon Shoot-nya.
Namun sebelum ketiga serangan gabungan itu mengenai tubuh Da-Tenshi tersebut, Kokabiel lebih dulu menghindarinya, dan secara bersamaan melemparkan sebuah tombak cahaya yang sempat ia buat. Walau kekuatannya kurang, namun itu cukup untuk membunuh Akuma yang menyerangnya barusan.
" tidakkan ku biarkan !" dengan cepat Issei menangkap tombak cahaya yang di lemparkan oleh Kokabiel, kemudian melemparkannya kembali.
Tapi sebelum tombak itu mengenai Kokabiel. Tiba-tiba muncul seorang pemuda berjubah merah compang-camping yang memotong tombak tersebut menjadi dua bagian.
" pertarungan kalian. Cukup sampai disini." Ucap sang pemuda tengan mengacungkan kedua pedang yang di genggamnya kearah Rias dan Kokabiel.
Sementara itu, pertarungan antara Xenovia dan Kiba masih beranjut di sekitar lapangan bola sekolah. Saling menebas dengan pedangnya masing-masing masih mereka lakukan. Sekilas keduanya seimbang, namun bila di perhatikan Kiba lah yang saat itu sedang terdesak. Banyak luka-luka sayatan pedang yang di terimanya dari Xenovia.
'cih…ternyata dia sulit juga untuk ku tumbangkan. Brengsek 'kalian'!' batin Kiba merutuk kesal karena masih belum bisa memberikan luka-luka berarti bagi Xenovia yang notabennya adalah pemegang salah satu pedang Excalibur, yaitu Exalibur Destruction.
" sebaiknya ku pakai 'itu'. Walau belum sempurna." Gumam Kiba pun mulai mengangkat pedangnya kelangit, dan mengumpulkannya semua kekuatan Demonic nya di satu titik, yaitu pedangnya. Perlahan pedang tersebut bersinar dengan dua cahaya yaitu hitam dan putih. Kemudian dua cahaya tersebut menjadi satu di dalam pedang Kiba.
" dengan pedang ini akan ku akhiri semuanya. aku kan menjadi pendekar pedang untuk klan Gremory, dan juga untuk teman-teman ku !"
Saat itu juga muncul tulisan aksara kuno di pedang milik Kiba. Dan muncul dua kekuatan yang saling bertolak belakang saling bersatu.
[SWORD BIRTH !]
[BALANCE BREAKER !]
[SWORD BETRAYER !]
" pedang pengkhiatan. Pedang yang merupakan penggabungan dari kedua kekuatan suci dan iblis. Hentikan ini kalau bisa." Kiba melesat cepat dengan mengarahkan pedangnya lurus kearah Xenovia yang masih diam di tempatnya. Disaat jarak pedang Kiba tinggal bebearapa senti dari tubuh gadis berambut biru tersebut, menahan pedang tengan pedang yang di genggam erat olehnya. Dan walau serang Kiba membuatnya harus terseret sekitar 2 meter, namun Xenovia sama sekali tidak terdesak.
" bunuh..bunuh…" gumam Xenovia lirih.
Merasa serangannya tidak berpengaruh, Kiba menambah tekanan energy Demonic nya kebatas maksimum dan menebaskan pedangnya secara vertical kearah Xenovia yang masih diam di tempat.
" Hyaaaa….!"
[TRANK..!]
Dua logam tajam kembali beradu. Namun kali ini dengan tekanan yang berbeda. Xenovia yang semula merasa tidak terdesak, kini gadis berambut biru dengan sedikit pirang hijau di poni rambutnya mulai terdesak dengan pola serangan Kiba yang mulai acak tapi terasa cukup efektif.
Akhirnya dengan perjuangan keras, Kiba pun berhasil menumbangkan Xenovia dengan serangan terakhirnya itu. Walau begitu stamina dan kondisi fisiknya sudah tidak mampu lagi untuk berdiri. Lain lagi dengan Xenovia yang sudah tak sadarkan diri dengan luka tusuk di perut. Untungnya luka tusukyang di terima oleh gadis Excorcist tersebut tidak mengenai bagian vital, dan tentunya gadis tersebut masih bernafas.
" sa..yang…seharusnya ak..u mu…tapi…" perkataan dari Kiba terhenti saat dirinya mengeluarkan sebuah tabung kimia dengan cairan ungun di dalamnya dari rune sihirnya, dan segera meminumnya sedikit, lalu memberikan sisanya ke Xenovia.
Perlahan luka-luka di sekujur tubuh keduanya mulai menutup, dan tinggal masalah waktu saja, kondisi tubuh mereka akan kembali normal.
Kembali ke pertarungan.
Rias, dan yang lain masih terdiam di tempatnya masing-masing, menatap sosok pemuda berjubah merah di hadapan mereka saat ini.
" siapa kau mahluk rendah. Berani sekali kau memerintah ku !?" bentak Kokabiel dengan melemparkan tombak cahayanya kearah pemuda berjubah tersebut.
Sang pemuda yang melihat tegurannya tidak di tanggapi oleh petinggi Da-Tenshin tersebut, dengan cepat memotong tombak cahaya yang mengarah kearahnya dan melesat cepat kearah Kokabiel.
[JRAASS…!]
" AAARRGGHHH….!"
Seketika itu juga petinggi Da-Tenshi tersebut menjerit kesakitan saat dada, dan dua dari sepuluh sayapnya yang terpotong akibat terkena sabetan pedang pemuda misterius tersebut.
Semua yang melihat kecepatan dari pemuda tersebut terbelalak takjub di buatnya.
" kau terlalu arogan, sobat." Ucap sang pemuda melirik tajam kearah Kokabiel yang menahan sakit.
" ku,ku,kurang ajar kau bedebah! Mati kau !" Kokabiel segera menciptkan sebuah tombak cahaya berukuran cukup besar dan melemparkannya kearah pemuda tersebut.
" awas!" teriak Rias memberi peringatan. Namun pemuda berjubah merah tersebut malah menyeriangai, kemudian menancapkan kedua pedangnya ketanah, dan menangkap tombak cahaya yang baru saja di lemparkan oleh Kokabiel.
[BBUUUMM…!]
Suara gemuru ledakkan terdengar keras ketika serangan tombak cahaya milik Kokabiel mengenai sosok pemuda misterius tersebut.
" hahahaha…..rasakan itu keparat. Sekarang giliran kalian yang akan ku bereskan, dan setelah itu gendering peperangan akan kembali di perdengarkan. Hahaha…..!" Ucap Kokabeil dengan tawa psyconya.
Rias, Issei, Akeno, Koneko, beserta tiga anggota OSIS Kuoh kembali memasang posisi tempur mereka, walau tahu kemampuan mereka tidak seberapa namun cukup untuk menghadapi petinggi Da-Tenshi di hadapan mereka.
" hahaha…..genderang perang kata mu!? Jangan membuat ku tertawa Gagak. Hahah..!" sebuah tawa yang menggelegar mengejutkan kedua kubu yang berlawanan tersebut. Tawa itu berasal dari sosok pemuda yang mereka semua kira telah tewas akibat serangan Kokabiel barusan.
" ba, bagaimana mungkin ka,ka, kau…." Nampak Kokabeil berbicara terbata-bata menyaksikan keadaan pemuda tersebut dalam keadaan tidak terluka sedikit pun.
" bagaimana mungkin dia tidak terluka setelah terkena serangan dahsyat seperti itu." Tanya Bennia dan Tomoe terkejud, begitupula yang lain.
" siapa kau sebenarnya keparat !?" Tanya Kokabiel membentak.
" hoo…apa kau lupa pada ku 'Gagak' bukankah 800 tahun lalu kita pernah bertemu di medan peperanga."
Sontak mata Kokabiel membulat lebar. Ia baru teringat sosok yang ada di hadapannya itu. Sosok yang dahulu pernah ikut dalam 'Great War' 800 tahun lalu, dan hampir membantai seperempat pasukan tiga fraksi sekaligus tanpa pandang bulu.
" ka, ka, kau Kakugyouki no Oni !."
Sesaat setelah mendegar siapakah sosok pemuda berjubah merah tersebut dari mulut Kokabiel membuat Rias terbelalak terkejud. Karena tahu sosok Oni yang katanya setara dengan salah satu dari 'The Great Maou', yaitu Maou Satan.
" tunggu dulu. Kalau anda adalah Kakugyouki itu, bukankah tangan anda Cuma hanya ada satu." Ujar Rias angkat bicara mencoba memastikan kebenaran pemuda di hadapan mereka semua.
Tapi pemuda jelmaan Kakugyouki itu mengindakan pertanyaan yang di lontarkan oleh Rias, tapi malah kembali menyerang Kokabiel dengan dua buah katana di tangannya. Walau keduanya sempat bertarung sejenak, tapi karena luka-luka yang di derita oleh petinggi Da-Tenshi tersebut, maka Kokabiel pun tewas di tangan jelmaan Kakugyouki dengan cara memotongnya hingga menjadi dua bagian.
Setelah pertarungan keduanya selesai. Tiba-tiba saja muncul sosok lain yang memakai baju zirah besih berwarna putih keperakan, dan memiliki sepasang sayap berwarna biru cerah di punggungnya. Sosok itu menghampiri jelmaan Kakugyouki dan Rias untuk meminta maaf atas keterlambatannya untuk menghentikan Kokabiel yang hamper saja memulai peperangan kembali. Tak lupa pula juga memperkenalkan dirinya sebagaia Hakuryuuko yang notabennya adalah 'Rival Abadi' dari Sekiryuutei.
" sekali lagi saya selaku perwakilan dari Da-Tenshi meminta maaf atas tindakan salah satu dari pihak kami. Dan kami harap hal ini tidak akan memulai peperangan kembali." Ucap Hakuryuuko dengan sopan.
Rias dan yang lain juga berharap demikian. Mereka juga berharap kalau peperangan tidak akan berlangsung kembali.
" oi Shiro. Apa kau sidah tidak berminat untuk melanjutkan urusan kita waktu itu?" Tanya Issei kepada 'Rival' nya.
" tentu kita akan melanjutkannya, Tapi tidak sekarang. Ada banyak pekerjaan yang mestih ku selesaikan. Kalau begitu sampai nanti semua." Setalah berkata begitu Hakuryuuko pun beranjak pergi dengan membawa serta jasad Kokabiel.
Masalah penyerangan Kokabiel pun berakhir, dan Rias beserta Sona secara bersama-sama membentulakan keadaan sekolah yang sempat hancur akibat penyerangan Kokabiel dan ketiga Cerberus.
Di sela-sela perbaikkan sekolah tersebut, Sona Nampak terlihat jengkel dengan sosok pemuda jelmaan Kakugyouki yang katanya sempat membuat gadis berkacamata tersebut pingsan.
Namun pemuda jelmaan Kakugyouki tersebut malah dengan santainya menghilang sebelum gadis berkacamata tersebut sempat mengomel kepada pemuda tersebut.
" nah ku rasa semua kerusakan sudah kita bereskan. Ayo kita kembali ke kelas." Kata Sona dengan diikuti oleh para staf OSISnya. Begitu pula Rias beserta anggota clubnya. Dan secara perlahan keadaan sekolah yang semula di tidurkan oleh kedua Heiress masing-masing klan, kini mulai terbangun dan tidak merasa terjadi apa-apa.
ΨΨΨ
Tanpa terasa seminggu semenjak terjadinya penyerangan tiba-tiba dari salah satu petinggi Da-Tenshi, yaitu Kokabiel. Dan karena masalah itu pula pihak Akuma, khususnya para Maou terkejud dengan berita yang di sampaikan oleh Sona beberapa waktu yang lalu. Serafall yang notabennya adalah kakak dari Sona saja nyaris membuat perhitungan kepada pihak Da-Tenshi namun berhasil di tahan oleh Ajuka, dan sang adik yang megatakan kalau nantinya akan merusak rencana perdamaian antar ketiga fraksi yang akan di rundingkan dalam waktu dekat. Dan kini Sona dan Rias di panggil ke Neraka untuk menjelasakan secara rinci tentang kasus penyerangan tersebut.
" ta, tapi mereka sudah membuat Sona-tan ku nyaris mati. Dan aku-" perkataan Serafall terhenti saat Sona mengatakan kalau ia tidak apa-apa.
" o iya, menurut laporan yang kau berikan kepada kami, katanya kalian berempat di tolong oleh Kakugyouki. Benarkah itu?" Tanya Falbium- Asmodeus kepada Sona.
" yah. Dia memang membantu kami dalam menghadapi Kokabiel. Namun ada yang sedikit janggal soal penampilannya yang menurut saya tidak sesuai dengan apa yang tertulis di buku." Sahut Rias angkat bicara menjawab pertanyaan dari Falbium.
" maksud mu?" Tanya Sirzech dan yang lain minta kejelasan dari Rias.
" dia tidak bertangan satu, dan bertubuh raksasa." Jawab Rias singkat dengan datar.
Semua yang mendengar apa yang dikatakan oleh Rias sedikit terkejud. Jujur saja saat 'Great Wars' tengah terjadi, keempat Maou tersebut dengan mata kepalanya sendiri melihat sosok raksasa bertangan satu dengan buasnya membantai hampir seperempat pasukan dari tiga fraksi yang berbeda tanpa pandang bulu. Dan mereka bersyukur masih selamat dari kebuasan Oni tersebut.
" dan satu hal lagi. Katanya ia mengenal mu, Leviathan-sama. Saat saya menemukan ia yang sedang terluka di depan sekolah. Apakah anda memang mengenal dia?" pertanyaan yang di lontarkan oleh Sona membuat semua pasang mata mengarah pada satu-satunya gadis yang memegang gelar Leviathan tersebut.
" aku hanya sebentar mengenalnya. Itupun sebelum 'Great War' terjadi. Dan tak ku sangkah kalau kau melakukan hal yang sama seperti ku saat pertama kali bertemu dengan dia" jawab Serafall sambil menyesap Teh hitamnya sedikit dan sedikit menerawang masalah lalu.
" baiklah. Kami sudah cukup senang kalau ia mau menolong kalian. Dan kalian boleh pulang, dan kembali bekerja sebagaiman mestihnya." Ucap Sirzech mempersilahkan kedua gadis tersebut untuk pulang.
Sepeninggal Rias dan Sona. Keempat Maou itu juga segera kembali ke istanah masing-masing, dan melanjutkan tugasnya.
" bagiamana hasilnya Hime-sama?" Tanya Asia dan yang lain saat majikan mereka telah kembali dari Neraka.
" tidak ada masalah. Ayo kita mulai saja ritual untuk membangunkan 'dia' malam ini. Dan mulai sekarang kita mulai rencana 'itu' " perintah Rias dengan sedikit menyeringai jahat.
" yes, Hime-sama." Sahut kesemua peerage milik Rias bersamaan.
Maka Rias berserta anggota clubnya segera berteloport ke sebuah gua yang terdapat semacam altar yang di tengahnya terdapat sebuah peti mati yang terdapat beberapa symbol aksara kuno di sekitar peti mati tersebut, dan Peti mati tersebut terlihat terkekang oleh rantai-rantai yang mengikatnya.
" Gasper. Sudah waktunya kau bangun dari tidur panjang mu." Gumam Rias dengan menuangkan seteko darah yang sengaja di bawanya sejak awal ke atas peti mati tersebut. Secara perlahan, darah-darah yang di tuangkan oleh Rias terhisap masuk kedalam peti. Dan tak lama kemudian peti mati tersebut mulai meretak, dan hancur.
[DUUAARR…!]
Dari dalam peti mati tersebut munculah sesosok pemuda berambut pendek berwarna kuning pucat, bermata merah dengan pupil berbentuk vertical, dan memakai pakaian khas bangsawan.
Semua yang menyaksikan kemunculan pemuda bernama Gasper tersebut hanya diam, tanpa ada suara sedikit pun.
" arigato sudah mau repot-repot membangunkan saya, Hime-sama." Ucap pemuda bernama Gasper tersebut berlutut di hadapan Rias.
" yah. Sudah waktunya rencana ku untuk di jalankan. Semuanya ayo kita pulang" ucap Rias dengan membuka portal sihirnya. Begitu pula yang lain mengikuti dari belakang.
Esok harinya di SMU Kuoh, kedatangan dua siswa pindahan. Satu seorang pemuda yang bernama Gasper Vladi, Ia mengaku sebagai murid pindahan dari Romania di kelas satu. Dan di kelas dua yang juga kedatangan seorang siswi berambut biru tua dengan sedikit pirang hijau di poni rambutnya a.k.a Xenovia. Gadis tersebut pindahan dari Vatican Roma.
" nah Arlen-san. Silahkan duduk di bangku belakang Argento-san. Argento-san tolong angkat tangannya" Ucap sang Sensei mempersilahkan Xenovia untuk duduk.
Setelah Xenovia duduk di bangkunya, maka pelajaranpun di mulai. Saat jam istirahat Xenovia segera di Tanya-tanyai oleh beberapa teman kelasnya soal pribadi gadis berambut biru tersebut, mulai dari makanan kesukaannya, apakah ia orang yang religious, pria idamannya, dan juga alasan kepindahannya ke SMU Kouh.
" aku bukan orang yang religious kok. Jadi bisa dikatakan kalau aku orang yang biasa-biasa saja. Soal makanan aku tidak pilih-pilih, lalu soal pria idaman sih aku belum memikirkannya. Dan alasan kepindahan ku kemri karena permintaan mendiang Mama ". sesaat setelah mendengar kalau alasan kepindahannya karena wasiat dari mendiang ibu Xenovia, membuat teman-teman kelasnya meminta maaf.
" maaf kami tidak tahu." Ucap salah satu teman mewakili.
" tidak apa-apa. Itu sudah berlalu. Kalau tidak ada lagi yang ditanyakan aku pamit ke katin dulu." Kata Xenovia dengan tersenyum dan meninggalkan teman-teman kelasnya untuk menuju kantin sekolah.
Di atap gedung sekolah. Saat jam istirahat terlihat Issei, Asia, dan Naruto sedang menikmati 'Bento' yang khusus di buatkan oleh Asia. Dan dengan lahab ketiga nya memakan 'Bento' tersebut.
" enak sekali masakan mu, Asia-san" ucap Naruto yang sudah lebih dahulu menghabiskan bentonya.
" arigato Naruto-san. Aku sudah berusaha yang terbaik untuk ini" sahut Asia senang karena masakanya mendapat pujian, lebih-lebih saat sang kekasih juga memuji masakannya.
" Asia-chan. Lain kali masak yang lebih enak lagi ya." Ujar Issei dengan mengelus kepala Asia, dan itu membuat wajah gadis berambut kuning sepunggung tersebut merona dan menagtakan kalau ia kaan memasak lebih enak lagi nantinya.
Ketiganya pun mulai saling bercanda, dan juga sambil menikmati waktu istirahat siang mereka yang damai itu. dan tanpa terasa jam istirahat pun berakhir, maka ketiganya pun kembali kekelas.
Saat jam sekolah berakhir, semua murid-murid pun mulai pulang ke rumah masing-masing. Kecuali yang memiliki jadwal club. Termasuk club penelitian hal-hal gaib yang saat ini kembali berkumpul di gedung tua sekolah mereka.
" hari ini kita kedatangan teman baru. Silahkan memperkenalkan diri kalian." Ujar Rias mempersilahkan dua anggota baru di club nya itu.
" perkenalkan nama ku Xenovia Arlen. Aku adalah Knight dan juga murid dari Kiba-sama. Senang bisa berganbung dengan kelurga ini" ucap Xenovia dengan sedikit membungkuk hormat. Penampilan Xenovia saat itu terbilang cukup langkah karena gadis tersebut memakai pakaian layaknya seorang 'Suster' Gereja berwarna biru, lengkap dengan kalung salip terbalik keperakkan yang melingkar di lehernya.
" dan aku Gasper Vladi, seorang Bishop dan aku adalah seorang Vampire." Ucap seorang pemuda bernama Gasper yang kemarin malam di bangkitkan oleh Rias dari tidur panjangnya. Pemuda tersebut memakai jaket berhoody berwarna hijau tua, dan memakai celan jins, dan bersepatu kats merah.
" nah dengan bertambahnya Xenovia dan Gasper di keluarga ku, kini tinggal satu bidak lagi yang belum ku dapatkan. Baiklah malam mini kita mulai saja pekerjaan kita hari ini." Ucap Rias menyeriangai kejam.
Mereka semua pun segera menghilang di balik portal sihir yang sudah di buka oleh Akeno, dan menuju ke sebuah hutan di sekitar kompleks perumahan. Dan sesampainya mereka disana, semua stray-Akuma yang hendak mereka basmi sudah tewas terbunuh dengan cara yang brutal yaitu dengan kondisi organ tubuh sudah terburai keluar dan juga beberapa bekas gigitan seerti hewan buas di sekitar tubuh mereka. Walau begitu sama sekali tidak mengganggu Rias beserta pelayannya.
" ho…ternyata seorang Heiress Gremory dan para pelayannya sudah datang. Maaf aku tidak membuat acara penyambutan" ucap seorang gadis muda berambut putih, dan berpakaian Miko. Terlihat pula di bajunya itu banyak cipratan darah, dan juga mulutnya juga terdapat noda darah.
" siapa kau. Apakah kau yang membunuh dan memakan mereka?" Tanya Rias berwajah datar.
" hmm, begitulah. Kalau masalah siapa aku, maaf saja aku tidak bisa mengatakannya. Dan kau yang berambut coklat. Sesekali temuilah Meme, dia sering terlihat menangis memikirkan kesalahannya pada mu. Mata ashita" ucap sang Miko dengan membentangkan sesapasang sayap berwarna keabuan dan melesat cepat ke langit gelap.
Sementara Issei mengerutkan dahinya bingung dengan perekataan ari sang Miko yang menyebutkan nama 'Meme' yang sama sekali tidak ia kenal. Namun sempat terbesit seorang gadis yang dulu pernah melukai hatinya.
" anata, ada apa ? wajah mu terlihat pucat" Tanya Asia yang terlihat khawatir dengan keadaan kekasihnya itu.
" tidak. Tidak apa-apa." Sahut Issei setengah lirih.
Kemudian Rias segera memerintahkan Akeno untuk membuka kembali portal sihir, dan segera menyuruh semuanya untuk kembali pulang.
Tanpa di sadari oleh mereka sepasang mata dengan pola riak air berwarna merah dan sepasang Sembilan magatama Nampak menatap intens melihat kepergian Rias dan para pelayannya.
" kau sudah membangunkan dia ya. Haruskah kejadian itu akan terulang kembali ?" gumam sang pemilik 'Yogengan' a.k.a Naruto entah kepada siapa. Dan secara perlahan sosok tubuhnya berubah menjadi sekawanan burung-burung Gagak.
" kaak..kaak..kaak…!"
TBC
Yosh, akhirnya selesai juga untuk chapter 3 ini.
