Keadaan Kakashi saat pelatihan membuat dirinya gerah. Hampir sepanjang hari Ibiki tampak seperti mengawasinya bahkan ketika ia sedang berbincang dengan peserta yang lain, pria bermasker itu tampak seperti dimata-matai. Meski begitu, ia tetap memperlakukan Ibiki dengan penuh hormat, meski dalam diskusi pendapat mereka sering bertolak belakang satu sama lain. Kakashi sangat merindukan Anko padahal baru saja sehari tidak bertemu, selain itu ia juga cemas karena 2 minggu pelatihan ini ia tidak membawa buku Icha-icha paradise kesukaannya. Tentu saja, itu berkat saran pak kepala sekolah yang mengatakan bahwa ini demi merebut perhatian Anko.
Kakashi lagi-lagi menghembuskan napasnya saat ia mendapati pak Ibiki yang terlihat sangat bersemangat dalam mengikuti pelatihan ini. "Anak muda, kau akan menjadi tua lebih cepat bila kau seperti ini terus. Kita berdua adalah utusan sekolah, jangan membuatku malu di depan mereka…" Serentak bulu kuduk Kakashi merinding mendengar suara pak Ibiki itu. Astaga. Apa yang ia pikirkan, pak Ibiki pasti sangat marah…ia lalu ingat pesan Anko bahwa Pak Ibiki suka dengan orang yang bekerja keras. Kakashi mengangguk walau sedikit ketakutan saat pria itu mendekat padanya.
"Hhhhhh, aku tidak percaya. Juniorku yang galak itu memiliki teman yang aneh sepertimu. Tukang telat, pervert dan suka malas-malasan, mengapa Anko tidak pacaran dengan Kabuto saja ya?". Kakashi terkejut mendengar penjelasan Ibiki itu, ia memandang Ibiki bingung.
"Huh? Kau tidak usah memandang aku dengan pandangan aneh begitu Kakashi. Kabuto adalah asisten paman Anko, Orochimaru. Guru biologi pendahulumu. Ia keluar dari sekolah karena ia merasa tidak bebas untuk melakukan eksperimen dengan ular-ularnya dan satu-satunya yang mau adalah Kabuto". Kakashi mengangguk bego di depannya.
"Aku tidak berkata bahwa aku sempurna untuk Anko tapi aku akan berjuang untuk membuat dirinya jatuh cinta padaku. Senior…"lanjutnya sambil tersenyum pada Ibiki. Ibiki hanya geleng-geleng kepala dan tidur di tempat tidurnya.
"Anko sudah seperti adikku sendiri, melihat dirinya yang sangat disiplin bergaul dengan dirimu yang aneh dan tukang telat. Aku tidak rela….lebih baik aku saja yang jadi pacarnya daripada kau yang jadi sahabatnya."sahut Ibiki pelan sebelum tidur.
"Wuu aaapaaaaa?"Kakashi tersentak begitu mendengar pengakuan dari senior Anko itu. Ia pun mengingat perkataan Anko bahwa Pak Ibiki sangat peduli padanya dan menganggapnya seperti kakak sendiri. Kakashi menggerutu dalam hati, "Sial, ternyata galak-galak begitu, bisa menarik perhatian pak Ibiki. Aku harus waspada, jangan-jangan juniorku juga bisa jatuh cinta padanya."pikirnya serius.
Mau tidak mau, malam itu Kakashi mengirim SMS pada Anko. Isi SMSnya seperti ini, "My Sweet wife, how are u? Do u miss me?". Ya ampun isi SMS itu sangat gombal hingga Anko terbahak-bahak. "Dasar Kakashi, ada-ada saja…Pasti Pak Ibiki memarahinya. Baiklah kubalas…". Anko langsung menulis balasan SMS untuk sahabat genitnya itu, "Heh, dasar! Aku ini shbtmu tau…Kenapa bhsmu spt itu? Apa Pk Ibiki memarahimu? Jgn nyerah tau…Pak Ibiki itu ska dgn mereka yg bisa membuktkan dri mrk…."tulisnya. Kakashi yang membaca SMS itu tersenyum, terlepas dari penolakan terhadap lamarannya Anko tetap menjadi sahabatnya yang bisa membuatnya kuat.
Anko senyum-senyum sendiri mengingat kisah malam itu. "Anko san, kenapa anda melamun?"suara di samping membuatnya terkejut. Ternyata Yamato sudah ada di sampingnya. "Pagi Yamato, bagaimana harimu? Apa kau sudah siap masuk ke kelas Naruto? Oh, Aku tidak sabar liat mukanya yang pucat saat melihat ekspresimu…hehehe". Yamato tersenyum tipis, ia baru sadar bahwa orang di sampingnya ini mirip seperti dirinya super killer. Pantas saja, Kakashi menyukainya. Yah, Yamato sepertinya tahu bahwa Kakashi punya kepribadian masochist. Oke, itu diluar cerita…kita lanjutkan saja.
Benar saja, ketika Yamato melangkah ke kelas Naruto untuk membagikan hasil ulangan, anak itu tampak pucat. "Gu..guru Yamato. Meng…mengapa anda ada di sini?"tanyanya. Yamato tersenyum ramah, "Anak-anak selama 2 minggu saya akan bersama kalian untuk mengajar biologi menggantikan pak Kakashi yang sedang pelatihan". Serentak sekelas pada ribut, sebagian meributkan mengapa pengganti pak Kakashi adalah guru seram seperti Yamato sedangkan sebagian besar murid wanita mengeluhkan mereka kehilangan waktu mencuri-curi pandang wajah tampan yang sempat terlihat dibalik masker beberapa waktu lalu.
Tentu saja, Naruto mendapatkan ganjarannya di ruangan guru setelah pulang sekolah. Anko diam-diam mengintip bagaimana Yamato mengajar kembali bahasan soal-soal ulangan yang tidak dimengerti Naruto. Ketika anak itu merasa bosan maka Yamato memamerkan wajah ajaibnya yang seram pada Naruto, tentu saja anak itu ketakutan setengah mati. Anko kasihan juga melihatnya, jadi ia membawakan sebungkus ramen agar iaa semangat. Yah itu semua juga dari saran Guru sosiologi Iruka, yang merupakan tetangga anak itu.
Yamato menyetujui usul Anko dan membuat Naruto mendengarkan pengajarannya di kantor dengan hadiah bahwa ia akan mendapatkan semangkok ramen jumbo. Naruto yang punya kelemahan ramen itu mau tidak mau berjuang untuk bisa mendapatkannya. Kendati harus bertahan dengan guru seaneh dan sekiller Yamato. Setelah 2 jam disiksa, Naruto lega bisa mendapatkan makanan kesukaannya dan Yamato terbebas dari rasa terbebannya. "Fuuh, aku heran mengapa Kakashi senpai bisa bertahan dengan anak aneh itu. Padahal dulu ia orang yang keras.".
Anko tertarik dengan perkataan Yamato itu. "Oh ya? Memangnya dia dulu seperti apa?"tanyanya penasaran. Yamato langsung gugup dan pergi meninggalkan Anko di kantor sendiri. Anko yang penasaran lagi-lagi berusaha mencari jawabannya. Ia mendapatkannya dari rival terbesar Kakashi, Guy setelah diming-imingi dan sedikit dibujuk bahwa ia ingin mendengar nostalgia mereka.
Kata Guy, ia sudah mengamati Kakashi sejak dulu. Kakashi dulunya adalah orang yang amat disiplin dan keras. Ia juga menjadi incaran para gadis karena ketampanannya apalagi dulu ia belum memakai masker. Anko baru tahu itu karena ia baru mengenal Kakashi saat SMA kelas 3. Ia memiliki 2 sahabat lain yaitu Obito dan Rin. Obito yang tukang telat sering menjadi bulan-bulanan Kakashi yang menghukumnya untuk bersih-bersih walau begitu Obito tidak begitu kecewa karena Rin selalu membantunya. Hingga suatu saat Obito kecelakaan mobil dan membuat dirinya koma 2 minggu. Tak disangka Rin yang saat itu menungguinya malah menceritakan perasaan sukanya pada Kakashi.
Obito yang saat itu sadar malah menjadi sakit hati. Kakashi lalu minta maaf pada Obito dan menjelaskan bahwa ia tidak memiliki perasaan apapun pada Rin. Sejak saat itu ia pindah dan tak disangka ia malah mengenakan masker. Nampaknya ini terjadi agar tidak ada lagi wanita yang sembarangan jatuh cinta padanya. Anko manggut-manggut mendengar penjelasan Guy. "Yah, begitulah Anko…sejak itu aku memutuskan untuk menjadi rival beratnya. Aku tidak suka dengan orang yang bisa apa saja tanpa perlu kerja keras karena menurutku kerja keras adalah masa muda yang menggebu. Liat aku, masih terlihat muda, kan?"sambil memberikan pose andalannya. Anko mengangguk sambil menutup matanya yang silau karena kilauan semangat dari gigi Guy.
Setelah mendengar penjelasan Guy, ia mengerti mengapa sekarang sifat pria itu berubah sama sekali. Pantas saja ia mau menangani anak seperti Naruto tanpa marah-marah, mungkin karena ia teringat dengan sahabatnya, Obito yang kata Guy sangat periang mirip anak itu. Anko berpikir mungkin perilakunya yang sekarang terjadi karena rasa bersalahnya di masa lalu. Ya, ia memang ingat anak itu pertama kali sedikit kaku dan tertutup tapi rasanya bila dilihat sekarang Kakashi sudah menjadi guru yang luwes karena masih banyak juga wanita yang mau meliriknya meski sudah memakai masker untuk menyembunyikan wajahnya.
Anko melirik ke arah buku favorit sahabatnya itu sambil tersenyum. "Udahlah, hitung-hitung dia terhibur saat pulang". Ow, Anko ternyata menyampul buku Kakashi..CkCkCk….Anko meyakinkan dalam hati bahwa ia melakukannya untuk menghibur sahabatnya itu setelah pulang nanti, mengingat ia tidak membawa buku favoritnya sama sekali (Anko memastikannya dengan membantunya beres-beres sebelum pergi) dan juga karena pak Ibiki akan memarahinya habis-habisan selama pelatihan.
Di lain pihak, Kakashi dan Ibiki menjalani pelatihan yang penuh dengan kejutan seperti bertemunya lagi dirinya dengan Obito. Jika dulu Obito suka bercanda maka yang ada di depannya ini adalah Obito yang sangat serius. Ia sangat terlihat keras dan sangat berambisi. Kakashi menyapanya namun nampaknya Obito menghindarinya. Kakashi mengikuti pelatihan dengan apa adanya dirinya, ia memang masih memiliki sifat kerja kerasnya hanya saja ia jauh lebih santai dan penuh dengan canda sehingga para peserta lain sangat kagum padanya. Ibiki yang bersamanya juga sangat disegani oleh rekan-rekan yang lain karena sifat kerasnya namun juga perencanaan yang sangat baik dalam menganalisis kasus pengajaran.
Kakashi penasaran dengan Obito dan memutuskan untuk menemuinya malam itu. Ia keluar dan mendapati pria itu tengah duduk memandangi air terjun mini di tengah penginapan itu. "Kau sendirian saja Obito? Tidak baik lo, stress nanti kau cepat tua….hahahahahaha"sahutnya sambil menurunkan maskernya. Obito menoleh dan mendapati Kakashi di sana, "Apa? Jadi kau Kakashi yang super duper strict itu? Aneh sekali sifatmu sekarang berubah?".
Kakashi tersenyum dan mengangguk, "Ya, Obito…jujur aku ingin minta maaf karena terakhir kali kita bertemu aku membuatmu celaka dan Rin…". Obito menggeleng, "Sudahlah, aku tidak mau membahas hal itu…..itu sudah beberapa tahun yang lalu dan mengapa kau memakai masker? Apa hal itu karena Rin juga?". Kakashi lagi-lagi mengangguk, "Aku…aku tidak mau menarik perhatian wanita dari kekasihnya hanya karena wajahku ini, Obito….Aku cukup merasa bersalah padamu setelah Rin menyatakan perasaannya padaku saat kau siuman. Oleh karena itu, aku pergi dan memakai masker ini. Kau masih marah padaku?".
Obito memandang langit dan menghembuskan napas panjang, "Jujur, aku masih menyimpan sedikit dendam padamu tapi karena kau menjelaskannya malam ini. Aku sedikit lega, tapi boleh kutahu saat kau meninggalkan kami dan pindah apa kau menyimpan perasaan yang sama dengan Rin?"
Sejujurnya Obito sedikit dag dig dug mendengar jawaban Kakashi karena ketika Kakashi pindah, Rin mencoba untuk membuka hatinya pada dirinya tapi Obito tidak tenang bila mengetahui Kakashi memiliki perasaan yang sama pada Rin. Kakashi nampaknya menangkap kegelisahan Obito "Tidak Obito, aku tidak punya perasaan apapun padanya. Justru aku pindah agar aku tidak melukai perasaannya dengan berada di sampingnya. Kaulah yang berhak ada di sampingnya. Jadi apa kau lega?". Obito mengangguk-angguk.
"Ngomong-ngomong Kakashi, temanmu yang senior berkata kau tukang telat dan pervert. Apa maksudnya?". Kakashi tersenyum misterius sambil ngeles, "Ya, kau tahu aku sering tersesat di jalan yang bernama kehidupan dan kadang-kadang aku membantu orang yang nyasar di jalan itu saja. Soal pervert, hehehehehehe, aku tidak bisa memberitahumu Obito". Obito memandangnya aneh, "Jangan katakan kau menyukai ICha-icha paradise juga sama sepertiku, kau tahu Rin sangat kesal dan langsung membuang buku itu saat menemukannya". Mata Kakashi melonjak, "Apa? Jadi kau suka dengan buku itu? Kita berdua sama ya? Aku juga suka membacanya dan membawanya kemanapun tapi aku takut disita jadi aku tidak membawa buku itu ke sini."
Obito melotot, "Kakashi jangan-jangan selain menyembunyikan wajahmu masker itu juga untuk menutupi nosebleedmu saat membaca buku itu ya?"sahut Obito riang. Kakashi mengangguk-angguk cepat.
Dasar duo pecinta ICha-icha, nampaknya Jiraiya senang sekali mengetahui ada satu lagi fans fanatik bukunya. Di tempat lain Jiraiya bersin-bersin 4 kali. "Kyaaaa…ada yang ngintiiiiiip"sahut perempuan dari balik toilet. Jiraiya pun berusaha kabur sambil mengelus dada. "Sial kalo begini, kapan keluar yang terbaru dong? Andai saja Kakashi berhasil melamar Anko dan menikahinya. Kan lumayan dapat inspirasi gratis dari pembaca setia…."bisiknya sendiri. Ugh dasar author mesum. Untung saja Anko tidak ada disitu, jika ya mungkin ia akan menghukum pria mata keranjang itu dengan ular piton peliharaannya dulu.
