Abbreviation Chapter Four
.
.
.
Disclaimer: Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei.
Warning: The same as the previous chapters.
Characters: Aomine, Kise, OC, Kaijou's regular team
Pair: AoKise
Rated: T with hint of unsuitable conversation for people under 13+
.
.
A/N: enjoy-ssu~
S stands for Scarf
Kise terus melirik ke arlojinya untuk keenam kalinya dalam lima menit. Kedua kakinya bergerak tidak sabar dan kedua lengannya terlipat rapi di dada. Dua iris mata madunya menyipit dan kedua pipinya menggembung karena kesal.
"Mou, Aominecchi mana sih-ssu?" Kise mengeratkan syal merah di lehernya. Menunggu kedatangan si pemuda ganguro tergarang se kisedai.
Kise berdecak, sudah setengah jam lebih dirinya menunggu Aomine di depan Game Centre tempat biasanya Kise dan Aomine main. Seperti biasanya Aomine selalu saja telat. Tabiat buruk yang perlu di hilangkan. Kise memandang langit kelabu musim dingin. Dalam hati dia berjanji jika dalam waktu lima menit Aomine tidak muncul juga, Kise akan pulang. Capek batin nungguin si daki itu.
"Oi, Kise! Lama menunggu ya?" datang juga tuh ganguro sialan.
"Menurut Aominecchi bagaimana hah?! Aku kedinginan tahu!" Aomine mengacak rambut Kise, "Iya maaf tadi aku piket dulu makanya lama. Ayo ke lapangan biasa." Aomine lalu menggandeng tangan Kise dan mereka pun berjalan menuju tempat tongkrongan mereka, basketball court—yang lumayan jauh dari sekolah Aomine.
Kise memperhatikan sepasang kekasih yang lewat di samping mereka yang asyik berbincang. Sudah lebih dari dua pasang orang lewat di depan Kise memakai syal yang identik satu sama lain. Tanpa ia sadari raut wajahnya berubah menjadi sendu dan hal itu tidak luput dari perhatian Aomine yang melihat Kise dari ekor matanya lalu menoleh ke arah pasangan yang baru melewati mereka.
Aomine berhenti melangkah, Kise yang menyadari tautan tangan mereka terlepas melihat Aomine bingung. "Kenapa berhenti Aominecchi?" Aomine diam sesaat lalu angkat suara, "Kise one-on-one nya lain kali saja. Bagaimana kalau ke Mall? Aku ingat ingin membeli sesuatu." Kise tersenyum bahagia mendengar kata Mall dan menganggukkan kepalanya dengan antusias. Jiwa shopahollic nya berteriak girang dalam hati. Apalagi ini Aominecchi nya yang mengajak. Jarang-jarang loh! Seperti menunggu hujan turun di padang pasir kesempatan Aomine mengajaknya belanja.
"Ya ya ya! Aku mau-ssu!" Kise dengan wajah berseri-seri memeluk lengan Aomine saat mereka memutar balik menuju Mall.
.
.
.
Saat di Mall.
"Kise, aku mau ambil uang dulu ya di ATM sekalian ambil buat uang makan seminggu. Kau tunggu saja di toko olahraga langganan kita." Aomine mengacak rambut Kise lalu pergi di saat yang bersamaan Kise merengut kesal.
"Aominecchi jangan kelayapan ya! Langsung menyusulku pokoknya!" Aomine hanya melambaikan tangannya malas sebagai jawaban.
Kise mendesah lalu segera berjalan menuju toko olahraga yang Aomine maksud. Pemuda pirang itu melihat sekelilingnya sambil berpikir kira-kira perlu membeli sesuatu atau tidak.
"Eh? Kau kan..." Orang yang di maksud Kise sontak menoleh dan langsung menunjukkan ekspresi kaget dan takut.
"Eh? Kise-san? Ah! Maaf maaf aku tidak bermaksud memanggilmu seenaknya. Maafkan aku maafkan aku..." Sakurai membungkukkan badannya tidak berhenti meminta maaf.
Kise keringat dingin, "Eh iya sudah tidak perlu minta maaf. Kau itu teman setim nya Aominecchi kan? Etoo..mmm... maaf aku lupa namamu... ehehehe," Kise menggaruk belakang kepalanya dengan canggung, merasa tidak enak melupakan nama anggota tim basket Touou.
Sakurai menggelengkan kepalanya cepat, "Kise-san tidak salah aku memang tidak pantas di ingat orang sehebat Kise-san, ah maaf maaf seenaknya bicara. Maaf aku tidak memperkenalkan diri... Namaku Sakurai Ryou aku memang satu tim dan juga sekelas dengan Aomine-san, maaf maaf maaf aku banyak bicara."
"Ah, tidak apa-apa kok Sakuraicchi! Tolong berhenti minta maaf kita di lihat orang-ssu..." Kise yang tidak mau di kira berbuat salah dan bikin ribut, menenangkan si kepala jamur dari Touou tersebut.
"Ah, aku minta maaf. Umm, Kise-san sedang apa di Tokyo? Maaf bukan maksudku ikut campur!" Sakurai membungkuk lagi.
"Oh, aku sedang menunggu Aominecchi disini-ssu. Sakuraicchi sedang melihat-lihat apa?" Kise menoleh ke arah benda yang sedang Sakurai pilih.
"Ah, itu..aku ingin membeli wristband baru Kise-san sendiri?"
"Aku hanya lihat-lihat saja kok. Wristband ya? Aku tahu merek yang bagus kalau Sakuraicchi mau aku rekomendasikan-ssu." Tawar Kise dengan senyum merekah yang membuat para pengunjung terpaku bahkan Sakurai sendiri sampai merona wajah jamurnya.
"Ah, maaf jadi merepotkan Kise-san."
"Tidak merepotkan kok-ssu!"
Mereka lalu berbincang seru mengenai macam wristband yang akan di beli sampai mereka tidak sadar Aomine sudah tiba di toko itu.
"Oi, Kise! Ayo makan du—eh? Ada Ryou rupanya,"
"Aomine-san, ah maaf aku tidak bermaksud apa-apa dengan Kise-san. Kami hanya ngobrol tolong maafkan aku."
"Iya terserah. Kami duluan ya Ryou, sampai jumpa besok. Ayo Kise..." Aomine menyeret Kise keluar toko.
"Senang bertemu denganmu Sakuraicchi! Sampai ketemu lagi-ssu~!" Kise melambaikan tangannya lalu menoleh ke Aomine, "Aominecchi! Aku masih ngobrol dengan Sakuraicchi tahu ih!"
Aomine menguap, "Ngobrol saja pake email. Nanti aku kasih email dia ke kamu." Kise melipat kedua lengannya di dada dan membuang muka.
"Sudah jangan ngambek ah jelek kaya bebek. Nih!" Kise menangkap benda yang Aomine lempar dengan kaget.
"Ini apa Aominecchi?" Kise mengguncang kotak putih polos hanya bertuliskan merek di tutupnya.
"Buka saja sendiri," tanpa ba-bi-bu Kise membuka kotaknya. Seketika iris madunya membesar, "Aominecchi ini kan..."
Aomine lalu mengeluarkan kotak lain dari tasnya yang sama dengan Kise lalu mengeluarkan isinya. Dan mengalungkannya ke lehernya sendiri.
"Kenapa tidak di pakai?" tanya Aomine heran.
"Ah, maaf-ssu tapi kan aku sudah memakai syal." Aomine memutar bola matanya, "Kau itu kadang bodoh. Tinggal di ganti susah amat." Aomine melepas syal merah Kise lalu mengganti dengan syal bermotif kotak-kotak biru tua di lehernya.
"Nah, sekarang kan syal kita kembaran. Ayo makan!" Aomine langsung menggandeng tangan Kise yang berwajah merah.
H stands for Hair
"Aominecchi, lihat dimana hair dryer ku tidak?" teriak Kise dari dalam kamar.
Aomine menoleh malas sebentar lalu berteriak, "Tidak tahu."
DRAP DRAP DRAP. PLETAK!
"Sakit! Woy Kise kenapa menjitak kepalaku?"
"Aominecchi bohong!" teriak Kise di depan wajah Aomine.
"Hah?" Aomine menaikkan satu alisnya bingung salah apa.
"Katanya tidak tahu dimana hair dryer-ku! Ini apa hah? Aku lihat ini di atas lemarimu! Kenapa di letakkan disana sih?" Kise mencak-mencak sembari mengacungkan hair dryer miliknya yang berdebu.
"Oh, aku taruh disana biar tidak menuhin tempat." Jawab Aomine cuek. Membalik lagi majalah Mai-chan nya.
"Menuhin tempat apanya coba? Itu kan aku letakkan di laci milikku sendiri!"
"Itu laci punyaku. Kau yang seenaknya memonopoli laci itu. Majalah Mai-chan ku jadi tidak punya tempat pribadi." Aomine mulai tarik urat. Apalagi nyawa majalahnya jadi ancaman.
Kise mendengus, "Halah kau bohong! Sebelum aku suka menginap disini juga tumpukan majalahmu kau taruh di pojokan kamar. Ayo mau alasan apalagi?" Kise mengibaskan handuk yang membungkus helaian pirang yang basah miliknya.
Aomine menelan ludah lalu memalingkan wajahnya. Kise hanya menunggu kemudian menghela napas. "Aku cerita soal kenapa tiba-tiba ada produk rambut macam conditioner dan vitamin rambut di apartemenmu ke Kurokocchi." Aomine mebelakakan matanya tanpa sadar.
"Aku pikir itu belanjaan milik Momocchi yang tidak sengaja terbawa olehmu, mengingat kau sering di paksa membawa belanjaannya. Kau tahu Kurokocchi bilang apa?"
Aomine masih diam tidak bersuara.
"Kurokocchi bilang itu memang milikmu yang kau beli sengaja untukku." Kise menundukkan wajahnya yang mulai merona supaya Aomine tidak melihatnya. Tanpa Kise ketahui wajah Aomine sama merahnya dengan si pirang. "Nee, apa itu benar Aominecchi?" tanya si model dengan suara pelan.
'Ah, sialan si Tetsu pake bilang-bilang. Ember banget mulutnya...' batin Aomine.
Si surai biru gelap berdeham seraya menggaruk leher belakangnya, "Itu memang untukmu kok..."
'Sialan, aku malu nih harus ngaku!' jerit batin Aomine lagi.
Kise mendongak memasang tampang bingung, "Eh kenapa untukku? Aominecchi pakai itu juga tidak akan aku ledek kok,"
"Kau tidak mengerti, Kise..." Aomine beranjak lalu berdiri di depan Kise.
Melepas handuk dari kepala Kise, Aomine mengelus helaian pirang basah milik Kise.
"Aku suka helaian rambutmu yang halus tiap kali aku menyelipkan jemariku ke surai pirangmu yang berkilau. Tapi akhir-akhir ini rambutmu sedikit kasar dan mulai rusak. Aku pikir itu pasti karena hair spray yang kau pakai saat pemotretan. Kau juga sering memakai hair dryer untuk mengeringkan rambutmu. Aku tidak suka makanya benda itu aku letakkan di atas lemari supaya kau tidak memakainya. Alasan itu pula aku membelikan conditioner dan vitamin rambut itu..." tangan gelap Aomine berpindah menangkup wajah merah Kise yang membuat warna rambut Akashi kalah gelapnya.
"Ha-harusnya Aominecchi bilang kalau tidak suka. Aku kan mana tahu jika Aominecchi diam saja-ssu..." Kise menepik tangan Aomine di pipinya. "Sudah ah, aku ada pemotretan nih mau ganti baju dulu..." si pirang lalu berjalan kembali ke kamar.
Aomine masih melihat Kise yang tiba-tiba berhenti di depan pintu kamarnya, "Terima kasih Aominecchi." ucapnya lirih.
Yang bersangkutan mengeryitkan dahinya bingung untuk apa Kise berterima kasih. Menaikkan bahunya menyerah Aomine kembali duduk di sofa melanjutkan kegiatan sebelumnya.
A stands for Accident
"Kise-kun!" Pemuda yang di panggil menolehkan kepalanya dengan raut bingung.
"Adha aphua?" tanya Kise dengan mulut sibuk menguyah permen.
Wanita yang memanggil Kise tadi mengontrol napasnya yang terengah, "Aku dapat kabar dari temanmu yang bernama Kuroko kalau Aomine-san kecelakaan."
"OHOK OHOK SE—SAK!" alhasil Kise pun tersendak permen yang ia makan hingga semua kru ribut memberikan pertolongan pertama.
.
.
BRAK!
"AOMINECCHI KAU TIDAK APA-APA KAN-SSU?!" teriak Kise memasuki kamar rumah sakit yang terdiri dari banyak ranjang. Gampangnya sih masuk bangsal itu si Kise.
"Jangan berisik!" teriak suster yang membalutkan perban ke lengan kiri Aomine.
"Maaf-ssu..." bungkuk Kise dalam-dalam pada suster yang terlihat killer itu.
Mendekati ranjang tempat Aomine duduk Kise bertanya, "Aku dengar kau kecelakaan. Kau terluka? Dimana saja? Perlu di operasi kah? Jangan bilang ada yang patah? Huweee Aominecchiii~!" Kise melonglong buana, stres rupanya.
"Berisik woi! Banyak orang disini!" omel Aomine yang melihat lirikan garang dari para pasien di sekelilingnya.
"Sudah ya! Jangan memberatkan lengan kirimu. Jahitannya belum kering. Memang belum sakit karena masih pengaruh obat, tapi kalau sudah sakit dan tidak tertahankan panggil aku. Dan kau..." tunjuk suster itu ke Kise. "Jangan berisik atau aku lempar kau keluar jendela..." Yang hanya di balas dengan anggukan cepat oleh si pirang.
"Ampun deh itu suster galak amat... balut perban boro-boro lembut. Dasar tua bangka," Astaga Aomine itu orang tua nak! Tobat tobaaaat!
Kise hanya menundukkan wajahnya yang sudah Aomine yakin super maji 2000% terlihat khawatir.
"Hei..." Kise terhentak baru sadar dari lamunannya.
"Ah! Aominecchi mau minum? Aku tuangkan ya?" Kise buru-buru mengambil gelas dan menuangkan teko berisi air mineral ke dalam gelas dan memberikannya pada Aomine.
"Makasih," ujar Aomine menerima gelas dengan tangan kanannya. Menyamankan posisi duduknya di kasur rumah sakit setelah mengembalikan gelas tadi ke Kise.
"Aominecchi sebenarnya kecelakaan apa? Aku tidak sempat tanya manager-ku karena aku langsung bergegas kemari..." sesal Kise bercampur sedih.
"Oh, bukan masalah besar kok kepalaku hanya terbentur aspal dan lengan kiriku terluka cukup lebar hingga harus di jahit. Salahkan motor terkutuk yang nyaris membunuh anak kecil sedang menyebrang yang melintas dengan cepat." Aomine menunjukkan luka perban tipis yang melingkari di kepala birunya serta lengan kirinya yang terbalut perban.
Napas Kise tercekat, "Itu sama sekali bukan masalah kecil Aominecchi! Kau tidak boleh meremehkan luka sekecil apapun."
Aomine mengorek telinga kanannya cuek, "Kamu lebay deh. Aku pernah merasakan sakit lebih dari ini tahu."
Kise mendesah lalu duduk dengan posisi merosot di kursi samping ranjang Aomine, "Padahal aku sangat cemas sampai menabrak belanjaan ibu-ibu hamil di jalan. Aku takut Aominecchi kenapa-napa-ssu. Sampai sini malah Aominecchi tidak ambil pusing. Aku jadi menyesal datang kemari-ssu..." wajah Kise sudah memperlihatkan kesedihan yang membuat hati Aomine cekit-cekit seperti di tusuk jarum.
"Kise, sini..." panggil Aomine. Tangannya menepuk-nepuk pahanya sendiri. Mata Kise melotot, "Kau menyuruhku duduk di pangkuanmu?! Ini tempat umum Aominecchi!" desis Kise dengan suara tertahan ingin teriak.
"Bukan itu bodoh! Maksudku sandarkan kepalamu di pangkuanku! Jangan mikir mesum makanya!" balas Aomine ikutan berdesis seperti anaconda yang penulis bahkan tidak tahu suaranya seperti apa.
Kise mendengus tapi menurut dan menyandarkan kepalany di pangkuan Aomine yan mengelus helaian pirangnya.
"Rambutmu kusut amat. Jariku nyangkut semua," keluh Aomine berusaha menarik jemarinya yang terjebak di rambut Kise. "Aduh! Sakit Ahominecchi!" Kise menepis tangan Aomine yang tidak terluka dan menyamankan dirinya lagi di pangkuan si biru tua.
"Kapan kau boleh pulang?" tanya Kise pelan. Merasa nyaman dengan belaian Aomine yang melembut dan menyisir surainya yang berantakan bak kaset kusut.
"Hm? Nanti malam nunggu hasil scan kepalaku dulu ada masalah atau tidak. Kau mau menginap di tempatku?" Aomine tersenyum begitu merasakan Kise mengangguk di pangkuannya.
"Maaf sudah membuatmu khawatir, Kise. Nanti kita main one-on-one sampai kau puas saat aku sembuh, oke? Jadi jangan menyesal datang menemuiku sekarang ini..." bisik Aomine lalu mengecup puncak kepala Kise.
"Aominecchi janji?" tanya Kise menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Aomine.
"Iya aku janji." Jawab Aomine mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Kise.
N stands for Nails
CTIK
CTIK
CTIK
Aomine menggeliat tidak nyaman di balik selimut tebalnya.
CTIK
CTIK
Tidak tahan mendengar suara berisik yang mengusik tidurnya, Aomine dengan sangat terpaksa membuka matanya mencari sumber suara berisik itu.
"Ah, Aominecchi sudah bangun toh. Selamat pagi~!" sapa pemuda bersurai kuning yang teramat sangat ngejreng.
"Selamat pagi apanya!? Kau itu ngapain sih? Berisik tahu cetak cetik!" omel Aomine yang kembali memejamkan matanya dengan suara yang masih kental khas bangun tidur.
"Makanya melek kalau mau tahu," balas Kise cuek.
Dengan malas dan terpaksa Aomine membuka satu matanya, mengintip apa yang di lakukan si pemuda pirang.
"Demi ubur-ubur dan dewa Neptunus, kau itu kurang kerjaan banget sih pagi-pagi gini potong kuku!" Aomine melempar satu bantal di kasurnya kesal ke Kise yang duduk bersila di lantai.
"ADUH! AHOMINECCHI IH KUKUNYA JADI KEPENDEKKAN AH! DASAR GANGURO IDIOT" teriak Kise menarik paksa selimut Aomine yang membungkus badannya.
"Balikin selimutnya! Dingin woi!" Aomine protes.
"Tidak mau! Lihat nih ulahmu jariku jadi berdarah-ssu!" Kise menunjukkan salah satu jarinya—yang kebetulan jari tengah—tepat di depan wajah si pemuda remang.
"Hah?! Ngajak ribut nih ceritanya?!" Aomine yang setengah sadar tiba-tiba alert melihat Kise mengacungkan jari tengahnya. Jiwa preman yang ia sandang sedari SMP kini membara.
"Ngajak ribut apanya?!" bentak Kise.
"Itu ngapain mamerin jari tengahmu kalau bukan meledekku hah?!" Kise menepuk jidat putih mulusnya yang tanpa jerawat itu.
"Aominecchi masih ngantuk tuh. Aku kan menunjukkan luka di jariku bukannya sengaja menaikkannya di depan wajahmu." Kise manyun lalu melanjutkan acaranya memotong kuku.
"Salah sendiri potong kuku pagi-pagi," jawab si biru ketus menarik lagi selimutnya lalu berbaring menghadap kiri. Tepat mengarah ke Kise.
Tak lama pun napas teratur Aomine terdengar samar. Kise menoleh sesaat lalu menyengir yandere. Merangkak mendekati Aomine, Kise menarik kedua tangan Aomine yang kebetulan tidak di bawah selimut.
"Bwahahaha, rasain..." Kise memposisikan gunting kuku di kuku jari yang panjangnya persis nenek sihir dan memotongnya teramat sangat pendek melewati garis kuku jari. Semua kuku ia pangkas sampai akhirnya Kise puas lalu keluar kamar sambil mendengus bangga.
Begitu Aomine bangun, Kise berani bersumpah teriakan yang Aomine keluarkan—saat ia tahu perbuatan si pirang—nyaris membuat kedua telinganya berdarah.
A stands for Ache
"Aduduh...duh...duh pinggangku sakit banget-ssu," keluh Kise tidak ke siapa-siapa karena dirinya kini berjalan sendiri menuju sekolah.
"Mou, Aominecchi memang tidak kira-kira kalau main. Entah sampai berapa ronde itu kemarin, aduduh..." Kise berhenti sejenak bersandar ke tembok rumah orang.
"Haahhh... selesai sekolah ada latihan basket lagi-ssu. Kalau aku bolos pasti bakal di bunuh Kasamatsu-senpai. Izin saja harus dapat tendangan dulu baru di perbolehkan...duh aduh..." Kise berjalan tertatih-tatih memegangi punggungnya yang kaku.
.
.
.
KRETEK!
"WADAW! Senpai pelan-pelan punggungku sakit-ssu!" rengek Kise saat dirinya dan anggota reguler Kaijou lainnya sedang pemanasan.
"Ah, maaf kelebihan tenaga rupanya. Habisnya ada gadis cantik tadi lewat depan
gym, aku jadi terpaku..." Balas Moriyama tanpa dosa sambil mengibaskan poninya. Menebar aura pink penuh bunga bermekaran sangat kontras dengan aura Kise yang hitam kelam.
"Ayo semuanya latihan!" teriak Kasamatsu yang sudah di tengah gym memegang bola basket.
Semuanya pun langsung ambil posisi. Ketika peluit berbunyi Kobori langsung menghalangi Kasamatsu yang mengelak dengan mudah. Melirikan matanya sesaat pandangan Kasamatsu menangkap Kise yang berhasil lolos dari penjagaan Moriyama.
"Kise! Pass!" bola berwarna jingga itu kemudian di lemparkan ke arah Kise yang memasang kuda-kuda. Tepat saat bola di tangkap tiba-tiba—
KRETEK
"Emak! Punggungku! Time out senpai! Time out-ssu!" Kise membentuk huruf T dengan kedua tangannya sambil meringis lalu memegangi punggungnya yang linu.
Semua pemain reguler Kaijou bubar dari lapangan lalu menghampiri Kise yang berjalan ke pinggir lapangan seperti orang tua asam urat.
"Kise, kau itu kenapa sih? Baru juga kita mulai masa sudah encok?!" teriak Hayakawa dengan suara supernya yang membahana ke seluruh penjuru gym. Desas-desus dan bisikan juga terdengar dari kalangan fans Kise dan penonton lain yang melihat mereka berlatih.
"Kau kenapa Kise? Dari tadi aku lihat kau kesulitan saat berjalan." Tanya Kasamatsu serius sampai kedua alisnya nyaris bersatu karena kerutan dahinya yang dalam(?)
"Etooo, maaf semuanya... punggungku sakit karena kelamaan main one-on-one dengan Aominecchi kemarin..ehehehe..." Moriyama mengerutkan dahinya tidak suka yang lain hanya mendesah.
"Dasar kau ini memang tidak tahu batas. Tubuhmu protes kan sekarang. Di kira-kira dong kalau main basket." Kasamatsu geleng-geleng melihat kelakuan Kise.
Bibir Kise berkedut kesal dan dirinya tertawa garing. Padahal dalam hatinya ia berkata, 'Semua salah Aominecchi. Awas saja ketemu dia lagi akan aku German Suplex* dia nanti.'
"Tapi tidak biasanya kau sampai kaku gini sehabis one-on-one dengan Aomine loh Kise. Pasti kau begitu-begitu yah dengan gadis cantik? Tuduhan Moriyama sukses membuat kedua mata Kise melotot hebat sampai Kobori takut matanya tiba-tiba copot.
"Enak saja-ssu! Aku tidak pernah begitu dengan perempuan!" protes Kise sampai muncrat ke wajah Kasamatsu.
"Kau bohong. Pasti kau habis melakukan 'itu' kemarin dan saking dahsyatnya punggungmu sakit sekarang. Ngaku deh Kise..." Terang Moriyama menolak percaya dengan protes si pirang.
Kise keringat dingin. 'Duh emak toyong, Moriyama-senpai peka banget sih masalah ginian. Gimana dong-ssu?'
"Aku sudah bilang tidak pernah! Kasamatsu-senpai percaya kan padaku," Kise menoleh ke arah Kasamatsu dengan mata berlinangan air mata dan puppy dog eyes sampai batas maksimum.
Kasamatsu yang melihat tatapan minta tolong Kise mendesah. Hatinya luluh dan kasihan dengan Kise, "Oi, Moriyama sudah jangan menuduh lagi. Kalau Kise bilang tidak ya berarti tidak. Sudah kita latihan lagi. Oi Kise!" Kise menoleh, "Ya, senpai?"
"Kau istirahat dulu saja di bench di kuarter pertama. Kalau masih sakit kau aku perbolehkan pulang." Kasamatsu pun berlalu menyusul yang lainnya sementara Kise mendesah lega.
Note:
*German suplex menurut wiki itu: teknik gulat dengan cara mengunci gerakan lawan di sekitar perut dengan berdiri di belakangnya lalu melempar musuh ke belakang dengan posisi kayang agar tidak mencelakai diri sendiri.
Bagi yang pernah nonton Angel beats itu tuh teknik gulat yang pengen Yui kuasai sebelum ngilang dan akhirnya Otonashi rela jadi objek bantingan. Kalau masih bingung juga browse aja deh di mbah gugel... =.="
A/N: huwaaaa gomen ini ga apdet-apdet! Saya abis ngurusin krs dan galau tiga hari liat jadwal kuliahnya T^T Dan lagi-lagi chap ini mengandung unsur nyaris rated M. Salahkan audio s*x tape Aoki yang saya temukan di surga. Chapter kali ini saya dedikasikan untuk Shana~ Shan, tuh udah gue apdet! Bawel lu ah =_=
Lupakan pesan saya untuk si shana ulala, jaa minna-san ripiu pwease? :3 saya butuh semangat dan usul kata (huruf U dan I masing 2 biji. English tapi...)nya buat nyelesain fic ini T^T
