CONTRACT

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Warning : OOC! Typo(s)! Bahasa tidak baku!

Rated T serempetan M

Pair : Aomine x Fem!Kagami

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian setelah membaca, ya

Mohon kesempatannya untuk review

Klik FOLLOW dan FAVORITE

TING TONG TING TONG!

"That must be mom and dad." Kagami tak lagi mempermasalahkan insiden yang baru saja terjadi, perhatiannya beralih pada bunyi bel yang begitu nyaring. "Cepat rapikan penampilanmu. Kita akan menemui orang tuaku." Pundak kokoh Aomine dipukul-pukul pelan. Kagami mendorong pria berkulit redup itu ke kamarnya, ia tentu tidak lupa untuk mempersiapkan dirinya sendiri.

Pintu apartemen perlahan dibuka, tampak seorang wanita separuh baya dengan penampilan yang begitu rapi dan berkelas menanti disana. "Aa… mom. Kukira kau akan datang lebih siang. Where's dad?" Pintu apartemen dibuka lebih lebar, mempersilahkan orang tuanya untuk masuk.

"Dad tidak bisa kemari, ia sudah berangkat berangkat ke New York semalam. Aku kemari untuk memastikan keadaanmu terlebih dahulu, sebelum pergi menyusul ayahmu." Tangan lembut wanita setengah baya itu menyentuh lembut pipi putri semata wayangnya. Kagami tersenyum sembari memeluk hangat ibunya. "I miss you too, mom. Tapi aku bukan anak berumur 10 tahun, kau jelas tahu hal itu, bukan?" Surai crimson bergoyang ketika kepalanya digeleng-gelengkan.

Momen kehangatan mereka seketika berhenti ketika pandangan ibunya beralih pada sosok pria berkulit tan yang berdiri tidak jauh dibelakang Kagami.

"Mom is everything okay?" Kagami mendapati tatapan ibunya tidak lagi mengarah pada manik crimsonnya. Wanita setengah baya itu hanya mengangkat alis, kembali melirik ke sosok pria dibelakang Kagami.

"Well, seperti yang sudah aku janjikan. Mom, perkenalkan ini Daiki." Kagami segera menjawab tatapan ingin tahu dari sang bunda. "Daiki, ini orang tuaku." Kepala crimsonnya menoleh kearah Aomine dan tersenyum.

"Perkenalkan, namaku Daiki. Aomine Daiki." Aomine melangkah mendekati Kagami dan ibunya. Tutur katanya terdengar begitu santun, hingga membuat Kagami agak terkejut.

"Glad to meet you Kagami-san. Taiga tampak begitu senang ketika bertemu dengan anda." Aomine menambahkan, kemudian melirik dan merangkul Kagami dengan lembut.

"Oh boy, look at this guy. Nice to meet you too Aomine." Mom memberikan senyumnya, tampak sangat puas dan sekaligus tertarik dengan pria yang berdiri disamping putrinya. Langkah yang bagus Aomine, batin Kagami puas.

"Taiga, kau yakin akan terus membiarkan ibumu berdiri disini? Tidak dipersilahkan masuk?" Ia kembali bertanya. Apa ini, Aomine menjadi sangat lihai sekarang. Baru saja ia bergabung, tapi sekarang ia sudah berani untuk mengubah suasana dan arah pembicaraan.

"Oh, ya. Sebaiknya kita masuk. Mom, tapi aku belum mempersiapkan apapun. Bagaimana kalau kita sarapan bersama? Lagipula aku baru saja selesai memasak beberapa porsi makanan." Kagami membawa langkah bersama ibunya menuju ruang makan. Aomine mengikuti dibelakang.

"Seperti biasa, masakan buatanmu memang sangat enak, sayang." Mom menyanjung anak gadis satu-satunya. "Mom berani bertaruh, Aomine juga menyukainya, benar kan?"

"Itu benar sekali, Kagami-san. Putri anda begitu piawai dalam mengolah bahan mentah, seperti ada sihirdi tangannya. " Aomine menjawab seakan-akan sudah terbiasa dengan rasa masakan Kagami. Ia bahkan tidak segan-segan memuji Kagami, meskipun dengan bahasa yang terbilang agak hiperbola. Gestur tubuhnya terlihat begitu menikmati makanan yang ia santap. Kagami tidak menyangka Aomine akan mengatakan hal seperti itu.

"Taiga memang sangat suka memasak sejak kecil, dan ia punya bakat dalam hal itu. Sampai kadang-kadang aku lebih menyukai rasa masakan buatannya ketimbang buatanku sendiri." Ibu Kagami tersenyum, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu.

"Mom.. aku tidak sehebat itu." Kagami tersipu malu.

"Ngomong-ngomong, Aomine, kau bisa menceritakan dirimu." Pertanyaan itu sontak membuat Kagami terkejut. Hatinya ikut berdegup cepat, harap-harap cemas dengan jawaban macam apa yang akan Aomine keluarkan. Karena, ia juga belum mengetahui apapun tentang pria itu, tidak lebih dari seorang pria agak mesum yang ditemuinya di bar semalam.

"Aku lahir di Jepang, tepatnya di Tokyo. Sewaktu kecil keluargaku sempat berulang kali pindah ke beberapa kota, namun akhirnya kami kembali menetap di Tokyo sejak aku masuk sma. Sejak lulus dari bangku kuliah, aku memutuskan untuk hidup mandiri dengan bergantung dari penghasilan yang kudapat di apartemen, sampai saat ini." Aomine menjelaskan.

"Aomine mandiri, ya. Sama seperti Taiga dulu, dia bersih kukuh untuk membeli apartemen dan hidup sendiri setelah mendapat gaji pertamanya. Lucu rasanya, tapi sekaligus sedih harus melepas putri kesayanganku untuk mengikuti ambisinya." Terlihat raut sedih muncul di wajah sang bunda.

"Mom, jangan melankolis begitu. Aku melakukannya agar aku fokus dan terpacu hingga mencapai kesuksesan, itupun demi membuat kalian bangga. Lagi pula kau selalu mengunjungiku beberapa minggu sekali, sampai sekarang, bukan?" Kagami menaikkan kedua alis ketika membicarakan fakta yang menurutnya agak memalukan. Aomine hanya tertawa kecil melihat tingkah ibu dan anak itu.

"Okay, okay. Mom hanya merindukan sikap manjamu saat dirumah, sayang."

"Mom.." Kagami kini sudah bersemu merah, merajuk, setelah digoda habis-habisan oleh ibunya. "Daiki berhenti menertawakan aku seperti itu." Bibirnya mengerucut ketika mengetahui tawa pria tan disampingnya menjadi semakin keras.

"I just reveal what I feel, okay. Ngomong-ngomong Aomine, apa kesibukanmu sekarang?" Itu adalah pertanyaan yang paling sakral dari figure orang tua, pekerjaan. Kagami agak tersedak mendengar ibunya begitu santai melontarkan pertanyaan seperti itu.

"Aku sempat memegang bagian di perusahaan keluarga selama satu tahun, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk merintis usahaku sendiri. Dua tahun terakhir aku sedang fokus mengepalai dua anak perusahaan dari Teiko Corporation dan memiliki beberapa penginapan di Osaka, Hokkaido, dan Kyoto." Aomine menjelaskan tanpa ragu.

Kagami melirik kearah Aomine sejenak, sedikit tidak percaya dengan apa yang pria itu bicarakan. Jejak karirnya dan kenyataan jika ia adalah pria muda yang bergelimang harta, belum dapat Kagami terima, ketika melihat sikap pria itu yang menurutnya agak bodoh dan mesum. Tapi mengingat jam tangan Eric Clapton 1971 Rolex Daytona seharga jutaan dollar yang melingkar di pergelangan tangan kiri pria itu saat pertama kali mereka bertemu, membuat Kagami berpikir kembali apakah pria itu hanya bicara omong kosong atau tidak.

"Begitu rupanya. Tapi meskipun kau adalah eksekutif muda dengan kesibukan dan jam terbang yang sebegitu padatnya, aku tidak mau tahu, aku ingin putriku tidak kesepian, dengan alasan sering ditinggal sibuk bekerja. Kau itu pacarnya, seharusnya bisa menjaga dan menemaninya, bukan malah sibuk dengan pekerjaan kemudian datang jika sudah lelah." Perkataanya benar-benar tegas dan tidak kenal ampun. Mom mengungkapkan permintaannya, seperti begitu tidak rela anak semata wayangnya ditelantarkan. Kagami jadi agak takut, tangan kanannya reflek menggenggam tangan kiri Aomine yang saat itu sedang kosong. Tapi herannya

"Mom, jangan seperti itu. Aomine memegang kewajiban dan tanggung jawab yang banyak, tidak seharusnya kita memaksa untuk-"

"Maafkan aku jika sudah membuat anda cemas, Kagami-san. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan dan selalu meluangkan waktu untuk Taiga." Aomine menjawab dengan tenang, membalas genggaman tangan Kagami dengan lembut.

"Daiki-" "Okay, kalau begitu. Aku senang jika kau pria yang bisa dipercaya." Mom seketika berubah melunak.

Apa-apaan ini. Topik dan pembicaraan di meja makan menjadi begitu berat dan serius. Mom tidak lagi seperti berkenalan dengan orang baru, tapi begitu serius layaknya sedang mencarikan jodoh untu putrinya. Sedangkan Aomine seperti menganggap ini benar-benar nyata. Sandiwara yang ia lakukan jauh melampaui dari kata baik, bahkan hampir tidak bisa melihat dimana letak ekspresi pura-pura dari wajahnya. Kagami jadi sedikit agak cemas sekarang.

Sarapan baru saja selesai, Kagami mengangkat piring piring kosong untuk dicuci. Mom tampak mengikuti langkah putrinya ke arah dapur. Seperti ada yang ingin dibicarakan. Namun Kagami kali ini tenang, ia yakin betul tidak ada hal berbahaya yang akan dibicarakan ibunya, dan ia tidak perlu mencemaskan apapun. Sedangkan, Aomine ijin untuk pergi ke kamarnya sejenak untuk menjawab panggilan telepon. Ini jadi waktu yang tepat untuk berbicara secara intim antara ibu dan anak.

"Taiga," Mom membuka percakapan saat keduanya sedang asyik membersihka piring sisa sarapan. "Mom senang akhirnya kamu membawa calon ke depan mom. Itu akan meringankan sedikit beban pikiran dad."

"Ya aku rasa itu sudah menjadi tanggung jawabku untuk tidak membuat kalian berdua khawatir." Senyum simpul tergambar di wajahnya.

"Lagipula mom setuju jika kamu dengannya. Dia pria yang sopan. Ditambah lagi dia sudah benar-benar mapan untuk usia seumuranmu. Penampilannya juga menarik, tinggi dan atletis, meskipun sedikit gelap ya, tapi itu tidak jadi masalah." Mom terang-terangan menilai Aomine. Bukan tersipu, Kagami malah merasa agak bersalah.

"Mom.." Kagami mengeluarkan nada manja. Sebenarnya ia benar-benar tidak tega melakukan hal seperti ini. Berbohong dengan begitu rapi dan pada akhirnya ketika sandiwara ini selesai, ia akan membuat kedua orang tuanya kecewa dan akan bertambah buruk jika mereka terluka. Tapi ia juga tidak ingin berterus terang dengan keadaan yang sebenarnya, kemudian skema perjodohan itu terjadi. Kagami benar-benar gundah sekarang. Senyum getirnya samar-samar muncul.

"Mom, kau akan pergi sekarang?'

"Sepertinya begitu. Masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan sebelum berangkat ke New York untuk beberapa hari kedepan." Mom tampak berbenah, mengambil tas dan mantel bulu warna abu-abu miliknya. Kagami membantu ibunya mengenakan mantel. Aomine kembali bergabung, urusannya sudah selesai.

"Mmm ya. Tampaknya mom tidak perlu ragu untuk meninggalkanmu bersama Aomine untuk beberapa hari di Amerika. Setelah beberapa urusan selesai, mungkin dua minggu dari sekarang, aku akan menyiapkan makan malam bersama, dan kau harus datang bersama Daiki. Okay honey?" Ucap Mom.

"What?!" "M-maksudku okay mom, aku usahakan untuk datang." Kagami sedikit terkejut, pertemuan ini bukan akhir dari permasalahannya. Masih ada yang harus ia hadapi, dengan kata lain sandiwaranya akan terus berlanjut.

"Kalian. Kau dan Aomine. Tidak ada kata tidak sempat, karena aku sudah memegang janjimu akan meluangkan waktu kerja untuk menemani Taiga, benar kan Aomine?" Raut muka mom tampak serius dengan hal ini. Kagami tidak berniat untuk membantah perkataannya.

"Yes ma'am." Aomine menjawab tegas. "Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu." Sembari merangkul pundak Kagami lembut. Mom mencium pipi kanan dan kiri putri semata wayangnya, sebelum akhirnya pamit.

Kagami menghela nafas panjang. "Aomine, kau bisa pulang sekarang." Manik crimson Kagami bergulir mengarah pada pria tan disampingnya.

"Hah? Ibumu sendiri yang bilang, aku harus menjagamu, dan kau juga mendengarnya, bukan? Jadi sandiwara ini belum tuntas." Aomine menjawab dengan seenaknya.

"Ha?! Kenapa jadi kau yang mengendalikan perjanjian ini?! Harusnya kan aku. Aku yang membuat perjanjian ini." Kagami tidak terima posisinya tergeser menjadi korban perjanjian.

"Ooo.. pelayanku sepertinya mulai berani ya. Aku bisa datang ke orang tuamu dan mengatakan semua kebenarannya kapan saja dan-"

"Aomine, kau bisa tetap tinggal disini." Senyum kemenangan dari pria berkulit redup itu samar-samar terlihat.

POJOK AUTHOR

Sudah update! Maaf kalu sudah membuat kalian menunggu lebih lama, Itsuka punya beberapa urusan yang harus diselesaikan *gomen ne* tapi sekarang sudah selesai. Jadi bisa fokus lagi melanjutkan cerita abang-eneng kece satu ini XD

Terima kasih buat semua reader, klik follow dan favorite, juga review dari kalian semua.

Ja, see you next chapter ^_^