16/10/2012/05:16 P.M
|Balas-balasan|
Curhat dulu ya ^^
Holla Minna-san ^^
Hah...tadinya aku mau update chapter ini agak lama karena tugas kuliah yang menumpuk, tapi setelah aku tahu kabar bahwa Fic ini lolos nominasi bagian I, aku jadi mendadak kaget karena aku samasekali gak ngerti soal IFA-IFA'an dan aku gak merasa ikut nominasiin apa-apa karena aku memang gak ngerti. Rasanya, kalau ada kategori 'Author ter'gaptek' maka aku yakin 'Hakkuna Matata' lah pemenangnya XD
Bagi teman-teman yang sudah sudi membuang waktunya untuk menominasikan Fic ini, aku ucapkan banyak terimakasih, terbukti kan, tanpa teman-teman, aku ini bukan siapa-siapa. tapi aku gak yakin Fic ini bisa berhasil. Yah...mengingat banyak sekali kekurangannya. apalagi ini samasekali belum masuk konfliknya, belum rame istilah kerennya sih ^^
Apapun hasil IFA nanti, aku berharap semoga banyak Fic SasuHina yang menang ^^
Nah...ini dia chapter selanjutnya. saya persembahkan untuk teman-teman yang sudah bersedia menominasikan Fic ini. Terimakasih banyak.
finestabc : Hayo ngapain ya? langsung baca aja dehh ^_^
mamoka : Hahaha….gomen ya Mamoka-san aku kadang kalau bikin chapter panjang suka bosen sendiri ngebaca nya makanya aku bikin chapter pendek. Apa mau diperpanjang?
gece : Oke ini udah update ^_^
Guest : Wah maksih kalau menurut kamu cerita ini keren ^_^ ikuti terus ceritanya yaaa.
azure249 : Pilih salah satu aja donk, GaaHina apa SasoHina ayo di pilih-di pilih :D
dekda nurlageenyanmanteng : Haa? fic ini keren? aduh makasih ^_^ kenpa SasuHina cepat jadian jawabannya ada di chapter ini.
VilettaOnyxLV : Iya ini udh update ^_^
n : Waduh ada yg kesindir nih :D makasoh banget udah ripiyu ^_^ tenang aja kok kalau ada ehem-ehem nya pasti aku batasin.
Lily Purple Lily : Ah iya, andaikan aku jadi pacarnya :D ah mreka ngapain ya? ayo bruan baca aja.
Deshe Lusi : Ini termasuk lama ga ya?
AA Jebug Ueureu Bulbabs : Aku gak bisa menghindar dari adegan mesum karena fic ini rated M lemon :D
Guest : Nah jawabannya ada di chapter ini ^_^
daisuke : Iya ini update kok ^_^ maaf anda kurang beruntung karena fic ini bkal nge-angst.
Indigo Mitha-chan : Nah pas banget ripiyu nya pas mau update
.
.
Gadis dari Masa Lalu
.
.
Mobil Sasuke di parkir di tempat parkiran ruang bawah tanah kampus Hinata. Disana sangat sepi. BMW berwarna hitam. Kaca mobil yang berwarna gelap. Jok mobil dari kulit yang dingin. Lalu, suara napas Hinata terdengar canggung di sela-sela keheningan.
Walaupun ini bukan pertamakalinya Hinata duduk berduaan di mobil dengan Sasuke, kali ini, entah mengapa jantungnya berdegup cepat. Seperti akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tak terduga. Sasuke juga terdiam.
"S-sasuke-kun, kau mau bicara apa?"
Sasuke harusnya berterimakasih pada Hinata karena telah memecahkan kesunyian yang membuat mereka canggung.
"Ini."
Dengan Hati-hati, Hinata menerima dan membuka kotak kecil berlapis beludru biru yang tiba-tiba diberikan Sasuke. Dari ukuran kotak itu, Hinata dapat memperkirakan isinya. Ia memikirkan tentang cincin pasangan yang sederhana. Emas putih yang hanya di hiasi satu mata cincin di tengahnya. Namun ternyata isinya permata berlian biru yang dikelilingi delapan berlian putih berkilauan.
Harusnya Hinata menyadari apa itu arti 'sederhana' bagi Sasuke.
"Ca-cantik sekali."
Sebenaranya, hadiah seperti itu terlalu mewah bagi Hinata yang masih kuliah. Kedua mata pucatnya masih terus memandangi berlian biru yang berkilat-kilat.
"Sasuke-kun, benar ini untukku? Benar?"
"Cerewet. Benar itu untuk mu. Kalau kau bertanya lagi, akan ku ambil kembali."
Hinata langsung menutup kotak itu dan menggenggamnya erat.
"Ya ampun. Mengapa begitu? Sasuke-kun! Kau tidak boleh mengambil kembali barang yang sudah di berikan."
Sasuke tersenyum tipis. Hinata kadang bertingkah seperti anak kecil.
Beberapa detik kemudian, Hinata membuka kembali kotak itu.
"Cantik sekali." Katanya untuk kesekian kalinya. "Ini mahal ya?"
"Memangnya kenapa kalau mahal? Mau pamer ke teman-teman mu?"
"Ti-tidak." Hinata menggeleng kuat. Dan ia memang tidak pernah berpikir untuk itu.
Cincin sebagus ini, harusnya hinata segera memakainya, lalu melambaikan tangannya di depan Sasuke dan bertanya 'apakah cincinya bagus?'. Sebaliknya, Hinata hanya bisa mengagumi dan merasa tidak percaya akan benda dihadapannya.
Merasa tidak sabar, Sasuke langsung menyambar kotak itu dari tangan Hinata.
"Sampai kapan kau akan memandanginya saja?"
Sasuke langsung menarik tangan kanan Hinata. Memakaikan cincin itu di jari manis Hinata.
Saat cincin yang dingin itu berhasil tersemat di jari Hinata, Hinata tersenyum lebar.
"P-pas sekali." Hinata terharu. Dan wajar saja jika perempuan terharu ketika dibelikan cincin yang ternyata memang sangat pas dengan ukuran jarinya.
"Aku hanya mengira-ngira. Syukurlah kalau itu pas."
"Sasuke-kun. Aku takkan melepaskan ini seumur hidupku. Kalau aku mati lebih dulu, aku akan membawa cincin ini ke peti mati ku." Kata Hinata penuh semangat.
"Apa itu? perjanjian verbal tidak bermakna."
"Huh...tidak apa-apa kalau perkataanku tidak dapat di percaya. Aku akan melakukannya." Hinata cemberut. Membuang muka.
Namun seperti biasanya, Sasuke selalu memiliki kejutan dibalik ekspresi datarnya.
"Itu cincin pernikahan."
Hinata langsung memandang Sasuke. Matanya melebar, mulunya sedikit terbuka.
"Tutup mulutmu, Dasar ikan mas." Sasuke mendengus menahan tawa.
Hinata langsung merapatkan mulutnya. "Me-menikah? Kapan?"
"Segera."
"Tapi kan aku masih kuliah."
"Lagi pula, kau tidak membutuhkan ijazah kan jika hanya ingin menjadi pelukis."
"Seperti itukah cara mu melamar ku, Sasuke-kun?"
Sasuke tersenyum. Ia meraih tangan Hinata yang tadi disematkan cincin.
"Menikahlah dengan ku, Hinata Hyuuga."
"Kalau aku tidak mau?"
"Ya sudah."
"A-apa? Kau main-main, Sasuke-kun?"
Sebelumnya, Sasuke tidak pernah tertawa sampai giginya terlihat. Namun kali ini, ia merasa ekspresi wajah Hinata sangat lucu sekali ketika Hinata menyiratkan kekecewaan bercampur kesal yang sangat jelas sekali. Sasuke tertawa lepas seolah melupakan makna cincin yang sangat berat itu.
"Tidak ada yang lucu." Hinata menekuk wajahnya.
Sasuke menghentikan tawanya. Lalu berdehem kecil.
"Tidak ada pilihan 'Tidak mau'. Yang ada hanyala 'Aku mau' dan 'aku sangat bersedia'." Sasuke memberikan pilihan yang jawabannya memang sudah jelas.
"Kalau begitu, aku pilih yang kedua."
Tak lama kemudian setelah Hinata menjawab. Sasuke menekan tombol pada audio sistem di mobilnya. Alat itu melantunkan instrumen Kiss the Rain milik Yiruma yang diputar oleh chanel radio setempat. Hinata langsung mencegah Sasuke ketika pria itu akan mematikan kembali audio sistem nya.
"Jangan. Aku suka instrumen ini. Coba dengarkan."
Mereka bersandar tenang pada kursi mobil. Mendengarkan lantunan instrumen yang Hinata sukai. Hinata memejamkan kedua matanya saat Sasuke menggenggam tangannya yang dingin karena gugup akibat menerima lamaran yang sangat mendadak.
"Kau tahu, Sasuke-kun. Aku bahagia." Katanya dengan mata yang masih terpejam.
Sasuke semakin menggenggam erat tangan Hinata. Ia tak berucap apa-apa, hanya tersenyum pada Hinata yang terpejam.
"Aku akan menjadi istri yang baik. Aku janji."
"Sepertinya parkiran bawah tanah bukan latar yang cocok." Sasuke menyadarkan.
Hinata membuka mata, lalu membenahi posisi duduknya. "Aku tahu tempat yang indah. Air terjun. Bagaimana?"
Tanpa banyak bicara. Sasuke menyalakan mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Mereka masih duduk tenang di dalam mobil, di temani oleh alunan instrumen Kiss the Rain milik Yiruma, suara gemericik air terjun yang tenang menambahkan efek dramastis pada lagu itu. Air terjun yang menjadi objek lukisan Hinata, kini bagaikan lukisan nyata yang terpampang di depan mata dengan kaca mobil sebagai figura nya. Dua batu besar yang berlubang itu masih berada di sana. Mungkin ini saatnya untuk merealisasikan keinginan Hinata, berdiri di atas batu itu dengan Sasuke yang memeluknya dari belakang. Romantis bukan?
"Sasuke-kun?"
"Hn."
"Sepertinya, kita harus berjalan ke batu itu dan berdiri di atasnya." Hinata menunjuk dua batu berlubang di depan air terjun.
"Untuk apa?"
"K-kita berfoto disana, bagaimana? Latarnya indah sekali."
"Ah...begitu,ya?"
-Perkataan itu lagi? Apa dia benar-benar tidak mengerti arti keindahan?-
"Bagaimana?"
Sasuke langsung membuka pintu di sisinya, keluar. Lalu mebukakan pintu untuk Hinata.
Sasuke setengah terduduk pada bagian depan mobilnya, kedua matanya menyipit menahan silau matahari terik musim panas.
"Ini musim panas. Jadi arusnya tidak terlalu membahayakan." Kata Hinata sambil memposisikan kameranya pada tempat penyangga.
"Mau untuk apa itu?"
"Kita berfoto disana. Sebentar, aku atur dulu waktunya." Tangannya menekan-nekan layar kameranya.
Hinata berhasil mencapai batu besar dengan di gendong oleh Sasuke. Mereka berdiri di atas batu, di bawah air terjun yang tenang. Kilatan lampu merah pada kamera semakin cepat. 1...2...3... Gambar Hinata yang berdiri dengan senyum manis dan Sasuke yang memeluknya dari belakang, berhasil diabadikan dalam kartu memori.
"Akhirnya, tersampaikan juga." Kata Hinata puas. Lalu ia beringsut duduk dengan kaki telanjang yang menjuntai kebawah, hampir menyentuh permukaan air.
Sasuke berbaring terlentang pada batu besar yang satunya. Ia meregangkan kedua tangannya, menikmati percikan-percikan air yang mengenai wajahnya.
"Darimana kau tahu tempat ini?"
Hinata mengingat-ingat kapan ia pertamakali menemukan tempat ini. Namun sayang, ia tidak bisa memanggil memori tentang tempat ini kembali pada otaknya. Kemampuannya mengingat akan sesuatu sangat buruk sekali.
"Aku lupa." Balasnya pasrah.
"Hah...dasar pelupa. Jangan dibiasakan." Desah Sasuke.
"Aku tidak membiasakan. Kadang aku sering lupa akan sesuatu. Itu hal yang wajar, Sasuke-kun." Hinata membela diri.
"Terserah kau saja. Tapi sifat pelupa itu terkadang merepotkan orang lain."
"J-jadi aku merepotkan Sasuke-kun?"
"Kau ini bicara apa sih? Itu kan cuma contoh."
Pada akhirnya Hinata hanya bisa memijit-mijit pelipisnya. Entah mengapa, memikirkan kapan pertamakali ia menemukan tempat ini, justru membuat kepalanya pening.
"Sasuke-kun."
"Hn?"
"Lihat di atas bukit sana. Kalau membangun rumah di sana, dengan jendela kamar yang menghadap ke air terjun, pasti indah sekali."
Di luar dugaan, tadinya Hinata sudah mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban 'Begitu, ya?' tapi prediksinya salah. Sasuke justru bangkit dan mengamati bukit itu. Memperhatikan dengan seksama seperti sedang merancang sesuatu.
"Rumah seperti apa yang kau mau?"
"Eh—?"
"Tidak mau?"
"B-bukan. A-ano...rumah yang sederhana saja. Jangan terlalu besar."
.
.
.
"Bukankah itu terlalu cepat, Sasuke?"
Seorang wanita berpenampilan elegan berbicara melalui telepon genggamnya. Tubuhnya merebah pada sofa empuk berwarna putih di bawah naungan atap rumah keluarga besar Uchiha.
"Aku tahu betul apa yang terbaik untukku, Bu. Jangan khawatir."
"Tapi masalahnya—"
"Sudahlah, Bu. Ini hidup ku. Ibu tidak usah khawatir. Sudah dulu."
Tepat setelah Sasuke memutuskan sambungan teleponnya, Hinata datang memasuki mobil dengan menjinjing pelastik berlogo mini market Konoha.
Gadis itu duduk di samping pria nya yang sedang bersandar santai pada jok mobil sambil memejamkan kedua matanya. Hinata tahu, jika Sasuke sudah begitu, itu berarti Sasuke sedang melepaskan pikiran berat yang berkumpul di otaknya. Maklum saja si Uchiha itu sering terlihat stres, karena di usia semuda itu, ia harus mengatur perusahaan yang begitu besarnya, pasti sangat melelahkan.
Tanpa pikir panjang, Hinata mengeluarkan soft drink dingin dari pelastik yang dibawanya. Menyerahkan kaleng berembun itu pada Sasuke.
"Ada apa, Sasuke-kun?" tanya Hinata Saat Sasuke membuka kelopak matanya, lalu membuka penutup minuman yang diterimanya. "Apa ada pekerjaan mendadak?"
"Tidak."
"Kalau Sasuke-kun sibuk, acara berkunjung ke rumah ku bisa di tunda. Tidak apa-apa."
"Kau ini bicara apa, sih? Dasar!"
Setelah mengatakan itu dengan nada sedikit tinggi, Sasuke mengemudikan mobilnya keluar dari garis parkiran di pinggiran jalan.
.
.
.
Rumah itu sangat sederhana. Hanya sebuah bangunan bercat warna krim dengan halaman depan rumah yang ditumbuhi pohon sakura besar. Sepetinya, kebahagiaan itu tidak di ukur dari seberapa besar dan mewah rumah yang ditinggali, di sini, di rumah Hinata yang sederhana ini, Sasuke dapat merasakannya. Sebuah kelarga yang hangat.
Beberapa piring berisi makanan tertata rapi di atas meja. Satu hal yang berhasil menarik perhian Sasuke, ikan Bass yang dimasak dengan saus merah, rasanya Sasuke pernah melihat makanan yang sama sebelumnya.
"Rasanya aku pernah merasakan makanan ini sebelumnya. Tapi— aku lupa kapan dan dimana?"
"Yang benar Uchiha-san? Apa itu berarti Uchiha-san pernah berkunjung ke desa kecil di pinggirn kota Konoha?"
"Desa kecil?"
"Ini makanan khas desa itu, Desa Kawa."
"Dulu kami tinggal di desa Kawa, Sasuke-kun."
Sasuke memandangi Hinata yang masih asik menikmati makanannya. Kedua bola mata oniks itu tak berkedip seolah lupa bagaimana cara berkedip. Sasuke teringat pada 'gadis itu'. Entah mengapa dan bagaimana, rasanya Hinata sangat mirip dengan 'gadis itu' teutama warna iris matanya yang masih sangat Sasuke ingat.
Flashback
"Ayo tuan muda, minum dulu obatnya."
Seorang perempuan berpakaian maid berusaha membujuk anak lelaki berusia 10 tahun yang sedang terbatuk-batuk, namun sepertinya sang anak bersikeras untuk tidak mau meminum obat yang sedari tadi di sodorkan oleh pelayannya.
"TIDAK! Apa kau tidak dengar kalau aku tidak mau minum obat!" Anak itu melebarkan iris oniks nya, menutup rapat-rapat mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
"Ayolah tuan muda. Biar cepat sembuh, ayo minum." Seolah tak memiliki batas kesabaran, sang pelayan masih membujuknya dengan senyuman hangat.
"Aku tidak mau minum obat! Aku ingin pulang ke rumah saja! Aku tidak betah di sini!" anak itu kembali berteriak-teriak menumpahkan rasa kesalnya.
Tak lama setelah itu, datanglah seorang wanita berpenampilan elegan. wanita yang memiliki kemiripan dengan anak laki-laki tadi, hanya warna rambutnya saja yang berbeda. Wanita itu bermata oniks dengan rambut coklat tua yang di sanggul rapi. Kedatangan wanita itu membuat sang anak sedikit tenang, anak itu berhenti berteriak dan diam menundukkan kepalanya.
"Sasuke, cepat minum obat mu." Perintah wanita itu dengan tegas.
"Aku tidak mau minum obat, Nek. Aku ingin pulang."
"Jangan membantah."
Setelah kalimat itu, pelayan tadi menyerahkan segelas air putih pada sang anak laki-laki. Tak ada pilihan lain selain meminum obat yang diberikan oleh pelayannya.
Wanita itu mengelus rambut cucu tercintanya, lalu mencium puncak kepala sang cucu.
"Cepat sembuh, Sasuke."
"Bolehkan aku bermain di luar?"
"Tidak, Sasuke!" wajah wanita itu langsung menegang "Jangan. Nanti kau bertambah parah."
"Tapi aku kan hanya sakit batuk, Nek."
"Jangan membantah Nenek, ya. Jangan ya, Sasuke sayang." Wanita itu langsung mendekap cucu nya.
Selanjutnya Sasuke barada di dalam kamarnya, mengamati pemandangan luar rumah yang menampakkan aliran sungai kecil dengan pohon-pohon yang rindang, semua tampak jelas dari atas sana. Ini samasekali tidak seperti liburan yang ia harapkan, percuma saja menginap di desa yang jauh dari keramaian, sebuah desa yang seharusnya memberikan efek tenang, semuanya percuma jika yang dilakukan hanya berdiam diri di kamar. Nenek Sasuke selalu over poroteksi pada Sasuke. Sebagai anak laki-laki yang sedang bandel-bandelnya, Sasuke memikirkan cara menuruni kamarnya yang terletak di lantai dua. Pernah ia melihat tayangan film yang menayangkan seorang anak yang berusaha kabur dari kamarnya dengan menggunakan seprai-seprai yang diikat menyambung. Uchiha kecil itu membuka lemari, mencari kain-kain sedapatnya, lalu mengikat kain-kain itu dan mengulurkannya ke bawah dari jendela yang terbuka lebar, terus mengulurkan sampai kain itu nyaris menyentuh tanah.
BRUK...Punggungnya mendarat duluan, ia memijit pelan punggungnya yang sakit, lalu bangkit dan berjingkat menjauh dari rumah. Sasuke berlari, terus berlari menuju arah utara mengikuti arus sungai yang tenang.
Desa ini, sangat sejuk bahkan di siang hari pun. Di langit sana, gumpalan-gumpalan awan putih bergulung bergerak perlahan, burung-burung meloncat dari dahan satu ke dahan yang lainnya. Ikan-ikan berenang melawan arus sungai yang bening, batu-batu di dasar sungai tampak terlihat jelas. Sasuke duduk di bibir sungai, mencelupkan kedua kakinya pada sungai yang dangkal. Bosan dengan hanya berduduk saja, akhirnya ia bangkit dan menginjakkan telapak kakinya pada batu-batu di dasar sungai, berjalan melawan arus, mengejar ikan-ikan yang berenang menjauhi kaki Sasuke. Pada langkah-langkah selanjutnya, sesuatu menyentuh kakinya.
"ARRGGHHH!"
Sasuke meringis mengangkat kaki kirinya, air bening sungai menjadi sedikit kemerahan bercampur darah sang Uchiha kecil. Dengan tergopoh-gopoh, Sasuke berjalan sebisanya menghampiri tepian sungai.
"Hei...kau tidak apa-apa?"
Seorang gadis seusianya berlari menghampiri Sasuke yang terduduk di tepi sungai dengan luka terbuka pada telapak kaki kirinya.
Saat Sasuke mengangkat wajah untuk melihat siapa yang menegurnya dari belakang, gadis kecil itu malah langsung mengelap darah Sasuke dengan sapu tangan yang dibawanya.
Rambut gadis itu pendek, berwarna indigo. Ah iya...iris matanya yang tidak biasa membuat Sasuke dapat mengingatnya dengan baik jika suatu saat nanti mereka akan bertemu kembali.
"Minggir! Aku tidak kenal kau!" bentak Sasuke, menolak pertolongan gadis itu.
"A-apa? A-aku tidak—"
Sasuke ingat betul nasihat Neneknya untuk tidak menerima apapun dari orang yang tidak dikenal. Akhirnya Uchiha itu bangkit dengan susah payah dan berjalan menjauh. Tapi sejauh mana sih kekuatan seorang anak lelaki yang sedang terluka di bagian telapak kakinya? Sejauh mana ia bisa berjalan terseret-seret begitu?
Gadis itu langsung berlari mengejar Sasuke ketika kedua iris pucatnya menyaksikan Sasuke yang ambruk tak tahan menahan rasa sakit. Mau tidak mau, Sasuke harus menerima pertolongan gadis itu.
End of Flashback
"Sasuke-kun?" Hinata melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Sasuke yang terbengong.
"Ah..iya, kenapa? Ada apa?" Sasuke terseret kembali pada dunia nyata, meninggalkan ingatan jauhnya.
"Mengapa jadi diam begitu setelah memakan ikan Bass?"
"Apa Uchiha-san tidak suka?" tanya Ibu Hinata.
"Maaf, Bu. Bukan begitu. Ini enak sekali." Sasuke tersenyum pada calon Ibu mertuanya.
Hinata membuang napas lega. "Aku kira ikan Bass nya kenapa."
Sasuke menjejalkan potongan kecil ikan Bass ke dalam mulutnya, merasakan kombinasi rasa ikan Bass dengn bumbu-bumbunya. Ini sama persis dengan ikan Bass yang itu, rasanya sama seperti yang pertamakali ia makan di rumah gadis kecil itu. Gadis kecil ber iris pucat seperti milik Hinata.
Kriiiiiiiiiing...Kriiiiiing...deringan telepon di ruang tamu terdengar sampai ke ruang makan. Ibu Hinata langsung bangkit dan berlari kecil untuk mengangkat teleponnya, meninggalkan Sasuke dan Hinata di ruang makan.
"Hei, Hinata?"
"I-iya?"
Sasuke memandang lekat-lekat iris pucat Hinata.
"Apa ada orang lain selain keluarga mu yang memiliki iris mata seperti itu?"
"Ha—?"
"Apa ada orang lain selain keluarga mu?"
"I-ini, sebenarnya hanya klan Hyuuga yang punya. Kenapa?"
"Tidak. Hanya bertanya."
Sejak awal Sasuke mengenal Hinata, membuatnya teringat pada gadis kecil yang menolongnya dulu. Waktu itu Sasuke hanyalah bocah keras kepala yang tidak mau mengakui kecantikan dan kebaikan gadis itu yang berhasil membuatnya selalu teringat akan malaikat kecilnya. Sasuke menetapkan hati, gadis itu pasti Hinata, karena mereka memiliki kemiripan yang sama. Ah...andaikan saat itu Sasuke menanyakan nama gadis itu, pasti pertanyaan dihatinya akan terasa mudah untuk dijawab. Gadis itu, apakah Hinata Hyuuga?
-Gadis itu Hinata. Pasti Hinata. Aku yakin-
Sasuke meraih telapak tangan Hinata, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Hinata, Aku mencintaimu. Bahkan jika kita telah terpisah jauh pun, aku yakin bahwa aku hanya akan jatuh cinta pada mu lagi."
Kalimat itu di sudahi dengan sebuah senyuman tipis.
Hinata mengangguk pelan, garis merah di pipinya di tutupi oleh bibir Sasuke yang mengecupnya.
.
.
.
Hari ini adalah hari perpisahan Hinata dengan teman-temannya, Ino dan Sakura. Karena besok Hinata sudah tidak akan kuliah lagi, ia harus mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan acara pernikahannya dengan generasi ketiga keluarga konglomerat.
Masih di tempat biasa dimana mereka selalu berkumpul saat tidak ada jam perkuliahan, di sebuah kafetaria Fakultas seni, di meja terbelakang pada bagian kiri. Hari ini tidak ada banyak makanan di atas meja, hanya empat gelas espresso yang mengepul hangat, tanpa roti ataupun kue keju yang biasa menemani acara mengobrol mereka. Atmosfirnya pun sangat berbeda, tidak ada saling cibir mencibir ataupun berita gosip baru tentang kejadian-kejadian ter'Hot' di kampus, yang ada hanya tatapan sedih untuk Hinata.
"Mengapa harus berhenti, sih?" keluh Ino.
"Lagipula, tak akan jadi masalah kan jika tetap kuliah. Maksud ku, banyak juga mahasiswi yang sudah menikah lalu tetap berkuliah." Kini Sakura yang menceramahi keputusan Hinata
"Haaaah...suami mu itu bagaimana, sih? Payah." Tiba-tiba saja Ino merasa kesal pada calon suami Hinata yang menurutnya sangat menyebalkan dan seenaknya saja.
"A-ano...Ino-san, Sakura-san. Sasuke-kun tidak memaksa ku, hanya saja...ini kemauan ku sendiri. Maaf."
Ino dan Sakura saling bertukar pandang, lalu memandang Hinata yang tertunduk seperti sedang dimarahi orang tua.
"Baiklah kalau begitu, Hinata. Kami hanya berharap yang terbaik untuk mu. Kalau itu memang yang terbaik, kami dukung sepenuhnya. Selamat menempuh hidup baru." Kata Sakura bijaksana.
"Ihh...kau...kau menyebalkan sekali sih, Hinata. Kau menyebalkan." Kata Ino parau, lalu memeluk Hinata dengan erat sebagai tanda perpisahan mereka.
"Maaf, Ino-san." Hinata membalas pelukan Ino.
Sakura menghela napas, menyaksikan Hinata dan Ino berpelukan seperti akan berpisah selamanya saja. Ino memang terkadang sedikit 'lebay', tapi diatas semua itu sebenarnya Ino hanyalah seorang gadis yang sangat menyayangi dan mengkhawatirkan temannya, Jadi wajar saja jika Ino memeluk Hinata dengan sedikit mengeluarkan airmata dari akuamarinnya.
"Sudahlah, Ino. Lagi pula, kita kan masih bisa main ke rumah Hinata." Sakura mengingatkan sekaligus meredakan tangisan Ino.
"Apa suami mu akan mengizinkan juga, Hinata?" Ino menggangkat wajah, memandang Hinata.
Hinata mengangguk pelan "Pasti, Ino-san. Kalian teman ku. Berkunjunglah jika ada waktu, ya?"
"Huaaa...Sakura...Aku tidak menyangka Hinata pergi secepat itu..." Ino kembali menangis.
"Baka! Ino pig! Jaga kata-kata mu, Dasar!"
"Kyaaa...Sakura, Jidat! Mengapa kau memukul kepala ku seenaknya begitu!"
Dan memang selalu terjadi hal semacam itu disetiap kali pertemuan. Kalau sudah begitu, Hinata lah yang kebingungan melerai mereka, dua gadis cantik yang menjadi temannya sejak SD.
-Ino-san, Sakura-san. Cepat menyusul, ya. Terimakasih atas semuanya-
Hinata tersenyum tipis di tengah perkelahian mereka.
.
.
.
Wait For the Next Chapter
.
.
|Hakkuna Matata|
Jangan lupa ripiyu ya ^^
Makasih
