Silence spring
.
.
NARUTO MILIK MK-SENSEI. TERIMA KASIH ATAS PINJAMAN CHARANYA
.
.
Yang salah-salah semuanya murni tidak disengaja, tidak mungkin tidak ooc, dan semuanya yang ga banget.
.
.
Happy reading
.
.
Jangan lupa "blaaa" bahasa isyarat
.
.
.
Suara jeritan Hanabi membuat Hinata mematung. Darah menetes disepanjang lantai menuju ruang keluarga. "Ayah!" teriak Hanabi memeluk tubuh Hiashi.
Tes.
Tes.
Darah mulai menggenang di dekat kaki Hinata yang kini berdiri didepan pintu ruang keluarga. Apa yang terjadi? 'Ayah kau pura-pura tidurkan? ' langkah Hinata mendekat dan duduk disamping Hanabi.
Tangannya menguncang tubuh Hiashi. 'Ayah? Ayah?' tangan yang berlumuran darah beralih menyentuh pelan pipi Hiashi.
"Ayah!" teriak Hanabi memeluk Hiashi yang tergeletak didepan ruang keluarga. Menguncang tubuh itu agar segera bangun "Ayah!"
Kami-sama, apa yang terjadi? Hinata jatuh terduduk. Tangannya bergetar meraih wajah Hiashi. Hanabi masih sibuk membangunkan Hiashi. Darah Hinata menetes diwajah Hiashi "NYAYA! NYAYA! (ayah)"
Tapi wajah sekeras Batu itu masih tenang dan matanya masih tertutup. Hinata meraih pundak Hanabi dan mengguncangnya. "Hahabi! (Hanabi)"
Hanabi menatap Hinata ditengah isakannya ketegangan terlihat diwajah Hinata, tangan Hinata segera lepas dari pundak Hanabi ''Panggil dokter ''
'Ayah, jangan tinggalkan kami, bukankah ayah hanya malu dengan Hinata? Biar Hinata yang pergi dari dunia ini' Batin Hinata, mengelus pipi Hiashi dengan tangan berlumuran darah.
oOo
Ketegangan lain terlihat dari raut wajah keluarga Naruto. Sejak tadi Kushina berkali-kali pingsan. Jika bangun yang Dia tanyakan hanya 'Apa ini hanya mimpi? Naruto mencoba bunuh diri?' kemudian matanya mulai berair lagi. Menangis sesenggukan dipelukan Minato dan pingsan lagi.
Menma yang duduk agak jauh dari pintu ruang operasi dan orangtuanya meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. "Bodoh" gumamnya Merutuki tindakan Kakaknya. Apa yang dia fikirkan sampai mencoba bunuh diri? Opsi bunuh diri adalah daftar paling bawah yang bisa Menma prediksikan akan diambil oleh Naruto. Tangan Menma berganti meremas pelan surainya, dalam hati dia terus berdo'a memohon agar Kami-sama menyelamatkan kakaknya.
Suara derap langkah dari ruang UGD menuju ruang operasi menggema disepanjang koridor, Menma melirik kamar operasi yang ada disembrang kamar operasi Naruto. Hiashi didorong diatas bangsal rumah sakit diikuti langkah lari kedua saudara itu dengan wajah cemas dan panik.
"Hinata-Nee ayah akan baik-baik saja kan?" Tanya Hanabi berhadapan dengan Hinata didepan pintu ruang Operasi.
Hinata menggeleng tidak tahu, apa yang bisa Hinata katakan? Beberapa saat yang lalu dirinya bersiap meninggalkan dunia ini? Tapi kenapa malah ayahnya yang sekarat sekarang? Tangangisannya semakin menjadi.
"Jawab aku!" Bentak Hanabi menyudutkan Hinata ke dinding. Ini salah siapa? Haruskah Hanabi menyalahkan Hinata? Semua ini Karena Hinata? Prasangka buruk ini menggelapkan mata Hanabi "Kalau saja-"
Hinata semakin tersengal ditengah tangisannya. Entah apa yang dirinya rasakan saat ini? Semuanya berputar dan diaduk menjadi satu. 'Maafkan aku, maafkan aku. Aku yang salah'
Neji yang baru datang melihat Hanabi membentak Hinata segera menaarikn tangan Hanabi menjauh. "Apa yang terjadi?" Tanya Neji.
"Ayah tiba-tiba pingsan, dia baru saja memarahi Hinata-Nee agar tidak melanjutkan kuliahnya lalu.."
"Lalu?"
Hanabi tersadar dirinyalah yang membuat Hiashi seperti itu. Dirinya memberontak sang ayah agar tidak melarang Hinata kuliah "Aku yang salah" lirihnya menatap Hinata.
"Minta maaflah pada kakakmu" nasehat Neji.
"Ma-Maafkan aku, aku tidak tahu apa yang merasukiku. Aku yang salah" ucap Hanabi mendekati tubuh Hinata yang berguncang dan memeluknya erat.
Hinata membalas pelukan Hanabi, harusnya Hinata yang minta maaf, harusnya Hinata tidak perlu sedih dengan keputusan sang ayah dan memperlihatkan airmatanya pada Hanabi. Seharusnya Hinata bisa menerima semuanya dengan senang Hati.
oOo
Naruto sudah keluar dari ruang operasi lima belas menit yang lalu, Kushina membelai lembut surai Naruto yang masih dibawah pengaruh obat bius. "Anakku yang malang" bisiknya lirih "Kenapa kau lakukan ini pada Kaa-chan?"
Dibelakangnya Minato menyentuh pelan bahu Kushina dengan wajah Khawatir "Istirahatlah Sayang, kau bisa sakit" Nasehatnya
"Tidak suamiku, Aku takut Naruto mencoba bunuh diri lagi dan aku tidak bisa menolongnya" Tolak Kushina.
"Tapi kau belum istirahat, kau juga makan sedikit sekali" Bujuk Minato meraih jemari Kushina, rencananya dia akan mengandeng tangan Kushina keluar ruangan ini.
"Kubilang tidak Minato!" Teriak Kushina menarik tangannya menjauh.
Minato menghela nafas lelah dan frustasi "Apa kau ingin melihat aku dan Menma kerepotan mengurus 2 orang yang sakit huh? Cukup hanya Naruto saja yang sakit disini Kushina" ujar Minato benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Kushina menulikan telingannya. Yang dia inginkan hanya merawat, mendampingi, dan selalu ada disamping Naruto.
"Baiklah, aku dan Menma akan segera kembali dari kantin" ucap Minato pasrah kemudian meninggalkan ruangan itu. Mereka berjalan dalam diam.
oOo
Kedua saudara itu telah selesai menangis, Hinata menyeka airmata Hanabi. Hanabi terkejut melihat darah di lengan Hinata. "Hinata-Nee tanganmu berdarah!" teriak Hanabi memegang tangan Hinata, disana terlihat luka sayatan yang hampir sampai diurat utamanya.
Hinata meringis saat Hanabi membalut lukannya dengan sapu tangan.
"Kau harus segera diobati" ucap Neji menarik tangan Hinata. Pria berambut panjang itu berjalan seolah tahu seluk beluk rumah sakit Konoha dan dengan cepat menemukan ruangan yang dia tuju. Neji menarik masuk Hinata ke ruang dokter Gaara, "Obati luka adikku" perintahnya.
Gaara bersandar dikursinya, laporan hari ini tersisa sedikit lagi dan Neji dengan kejam tanpa minta tolong segera mengobati luka Hinata. Eh? Gadis itu terluka lagi? "Katakanlah tolong Neji, kau tidak menghargaiku sebagai dokter" Ucapnya sembari bangkit dari tempat duduk menuju bangsal perawatan. "Kemarilah, Hinata-chan"
Hinata melanggkah perlahan, dengan isyarat Gaara menyuruhnya duduk dan meraih tangannya yang terluka. Melakukan prosedur pembersihan sebelum menindak luka Hinata. "Apa yang kau lakukan padanya?"
Neji melirik dari kursi di depan meja Gaara. "Kau dengar itu Hinata?"
Wajah Hinata berpaling menatap ke arah selain Neji dan Gaara. Apa dia harus bilang kalau beberapa saat yang lalu dia mencoba bunuh diri.
"Untungnya belum menyayat Nadi utama, hanya perlu dijahit biar lukanya segera menutup" Terang Gaara menyimpan kapas penuh darah diatas baki Khusus.
Sensasi dingin alkohol menyengat kulit Hinata saat Gaara kembali membersihkan lukanya. "Apa kau ingin melihat aku menjahit lukamu?" Tanyanya lembut.
Hinata menutup matanya dengan cepat. 'Tidak akan!'
Malam semakin larut, Hiashi yang sudah keluar kamar operasi di tempatkan dikamar pasien. Neji menyentuh pelan Bahu Hinata yang tidak beranjak dari samping ranjang Hiashi sejak keluar dari ruang operasi.
"Pulanglah, hari ini aku yang akan menjaga ayah. Besok kau kuliah kan?"
Hinata menggeleng pelan kemudian berbalik menatap Neji. "Apa kata dokter?" tanya Hinata lebih mencemaskan keadaan ayahnya dibanding dirinya sendiri.
"Serangan jantung." jawab Neji jujur matanya melihat Hiashi yang masih tertidur. "Kondisinya masih lemah, mungkin akan lama dirumah sakit"
Hinata kembali memfokuskan diri pada Hiashi, digenggamnya erat tangan tua itu. 'cepatlah sembuh ayah'
"Apa kau tidak kasihan dengan Hanabi?" Neji kembali membujuk Hinata.
Hinata menghela nafas panjang, menurut apa kata Neji. Hanabi terlihat berantakan tertidur disofa dengan mata bengkak.
oOo
Sinar mentari pagi menampakkan cahayanya dengan malu-malu. Tubuh Kushina mulai lelah menatap Naruto yang tidak kunjung bangun. Minato pergi pagi-pagi sekali untuk mengambil pakaian bersih dari rumah bersama Menma. Kelopak mata Kushina semakin lama semakin sulit terbuka lebar. Hingga tanpa sadar tertutup lama.
Entah berapa lama Kushina tidur dengan posisi tidak nyaman itu, sudah Minato bilang untuk istirahat saja kan. Tapi matanya menatap bingung bangsal Naruto yang kosong.
"Kushina. Sayang" Ucap Minato membangunkan Kushina yang terlelap dengan posisi tidak nyaman.
Belum sepenuhnya kesadaran Kushina kembali pertanyaan Minato membuatnya seketika menarik kesadaran penuhnya.
"Dimana Naruto?" Tanya Minato.
"Dia ada? Astaga!" pekik Kushina tak mendapati putranya diatas bangsal rumah sakit. "Aku tidak sengaja tertidur" lirihnya.
Orang yang dimaksud ternyata sedang berjalan menuju Kampus konoha dan mulai meniti tangga menuju lantai 4. Lantai itu sedang kosong karena tidak ada jadwal perkuliahan fakultas seni musik.
Pintu gudang musik terbuka, Hinata yang sedang memainkan keyboard terlonjak kaget. Ruangan itu tidak sepenuhnya kedap udara, jika dibuka kasar seperti tadi. Orang itu pasti tidak menyadari ada Hinata di dalam gudang musik. Segera Hinata bersembunyi di sebrang ruangan, jauh dari pintu masuk satu-satunya ruangan ini dibalik sederet angklung.
Naruto menatap gudang alat musik yang baru dimasukinya. Jendela besar memenuhi sisi lain ruangan itu, sedikit apek tapi semua alat musik terlihat bersih tidak berdebu. Sebuah grand piano tua berwarna putih diletakan didekat jendela.
Tidak sengaja Hinata menyenggol sebuah drum hingga terjatuh. Dengan waspada dilihatnya pria yang sedang membetulkan duduknya didepan grand piano.
Alisnya terangkat, suara drum jatuh itu cukup kencang tapi, pria itu sama sekali tidak mendengarnya?. Dengan teliti diperhatikannya pria yang duduk membelakanginya. Seragam pasien rumah sakit Konoha. Rambut kuning. Apa dia pria yang dipukuli Kisame kemarin?.
Jemari Naruto mulai menekan tuts piano. Memainkan fur elizen -beethoven dengan tempo lambat. Lagu ini dimainkan Kushina saat mengandung adiknya, Menma.
Hinata mulai relaks mendengar alunan piano pria itu. Sempurna.
Ting.
Sebuah nada salah terdengar ditelinga Hinata, hanya satu nada. Tapi pria itu segera menghentikan permainannya.
Naruto tertegun menatap jemarinya yang masih berada diatas tuts piano. Dia salah menekan tuts piano. Tapi dikepalanya nada itu mengalun sempurna. Sesempurna Kushina memainkannya
'Aneh' batin Hinata. Pria itu tidak mendengar suara drum jatuh tapi tahu dia salah menekan Nada.
Naruto tiba-tiba bangkit sampai kursi yang didudukinya terjengkang dan jatuh. Kemudian mulai menendang dan memukuli kursi piano tak berdosa itu dengan kaki dan tangannya seperti orang kesetanan. "Sial! Kau *****"
Telinga Hinata langsung menyaring umpatan kasar pria itu. 'Apa yang dia bilang?' Hinata tidak pernah mendengar bahasa asing yang pria itu umpatkan. Bahasa paling kasar yang Hinata dengar adalah kata sial dan sialan.
Seperti orang gila, Naruto marah kemudian menangis menyeka airmatanya kasar. Kenapa dia tidak mati saja kemarin? Kenapa dia harus selamat. Naruto sudah tidak mau hidup lagi, kenapa Kami-sama menolaknya agar cepat mati?
Perlahan Naruto berjalan kearah jendela besar di dekat grand piano. Sedikit membuka jendelanya dan melihat kebawah, cukup tinggi rupanya. Sebelah kakinya mulai naik ke atas jendela.
Dengan panik Hinata berlari ke arah Naruto. Sejak tadi memperhatikan gerak-gerik pria itu, Hinata mendadak cemas saat pria itu mendekati jendela dan melihat ke bawah.
Naruto merasakan seseorang menarik bajunya menjauhi jendela.
BRUK!
Keduanya terjengkang ke belakang dengan keras pantat keduanya mencium lantai. Hinata segera berdiri dan mengosok-gosok pantatnya cepat 'Sakit! Sakit!'. Sementara Naruto meringkuk dilantai sama-sama memegang pantat "Aduuuuh!"
"Sepertinya aku mendengar sesuatu" ucap seseorang diluar gudang alat musik.
Panik, Hinata menyeret pria itu untuk bersembunyi dengannya dibalik sebuah podium tempat biasa kepala sekolah pidato. Oke. Jantung Hinata berdebar cemas sekarang. Bagaimana kalau mereka ketahuan tanpa izin masuk ruangan ini?
"Kau itu mengada-ada ya? Cepat ambil gitarmu sana" ucap suara lain.
"Loh tumben ga dikunci?" Tanyanya bingung sembari masuk ke gudang alat musik.
Naruto menatap gadis dihadapannya. "Ada apa?" tanya Naruto heran melihat Gadis itu waspada dan mengajaknya bersembunyi.
Suara Pria itu terdengar kencang. Hinata segera memalingkan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya "Sssst-"
Mata Hinata melebar seketika, darahnya berdesir dan berkumpul diwajahnya. Bibirnya menyentuh hangatnya bibir pria itu tak sengaja. Jantungnya semakin berdebar kencang.
"Hah? Kau mengatakan sesuatu?" tanya si pengambil gitar.
"Kau parno sekali. Ayo cepat ambil atau aku akan meninggalkanmu disini" Komentarnya ketus.
"KYA-mmmph" Hinata sudah bersiap mengeluarkan suara pinguin terjepitnya tapi pria itu membungkam bibirnya dengan menciumnya dalam.
Naruto melihat dari sudut matanya ke sebuah cermin yang memperlihatkan orang sedang masuk dan mengambil sesuatu di sudut lain gudang alat musik. Jadi, itu alasan gadis ini mengajaknya sembunyi.
Hinata meronta, ingin segera mengakhiri ciuman ini.
"Diamlah" bisik Naruto, kalau gadis itu terus bergerak seperti itu , orang itu akan sadar akan kehadiran mereka yang sedang dalam posisi berciuman dari cermin yang sama.
Wajah Hinata pasti sudah gosong, Nafasnya pendek, Hinata butuh oksigen yang banyak sekarang. Mendengar pria itu menyuruhnya diam. Ada rasa enggan, tapi pasti ada alasan pria itu menyuruhnya diam. Tapi oh! Bibir itu terasa lembut dan hangat, terasa seperti sengatan-sengatan listrik kecil dibibirnya. Ini salah, Hinata yakin ini salah tapi kenapa Hinata malah merasakan hal yang berbeda?
Naruto melihat wajah Hinata semakin merona, matanya sudah terlihat pasrah. Pria mana yang tidak akan tergoda dan menyia-nyiakan kesempatan melihat mangsa menyerah begitu saja dihadapannya. Kepalanya semakin miring, tangannya meraih tengkuk Hinata dan menekannya perlahan. Melumat bibir Hinata perlahan. Kecupan-kecupan kecil yang tak tertahankan, membangunkan ribuan kupu-kupu diperut Hinata. Bibir mungil gadis ini tidak bisa Naruto lepaskan begitu saja. Membangkitkan gairah yang tak tertahankan, semakin lama ciuman itu semakin menuntut, terus melumat tanpa henti.
Suara pintu ditutup menyadarkan Hinata kembali kealam nyata. Didorongnya tubuh pria itu sampai jarak yang aman. Hinata terengah, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Memalukan! Apa yang Hinata lakukan tadi? Hinata bahkan tidak mengenal pria dihadapannya ini tapi terhanyut oleh sebuah ciuman? Oh astaga! Ini membuat Hinata gila. Lebih baik pria itu membunuhnya sekarang daripada Hinata harus menanggung malu seperti ini. Kami-sama! Ini first kiss terburuk sepanjang sejarah.
Tes.
Tes.
Lelehan airmata Hinata membuat Naruto sadar akan kesalahannya, tidak seharusnya dia.. Ah lupakan itu sudah terlanjur. "Maaf, aku.. yah kalau kau tidak berteriak aku tidak akan membungkammu" jelas Naruto.
Hinata mengangguk. Tapi airmatanya semakin deras, bagaimana kalau Ayahnya sampai tahu hal ini? Tidak. Hinata tidak berani membayangkannya sekarang.
Naruto semakin bingung dengan sikap gadis di depannya. Apa dia malu? "Dengar Nona, tidak akan pernah ada yang tahu kejadian ini kecuali kau dan aku mengatakannya pada orang lain" tenang Naruto
Pria dihadapannya benar. Hinata menyodorkan kelingkingnya dan menatap pria itu penuh harapan.
Naruto menatap bingung kelingking Hinata "Apa?"
Hinata semakin mendorong kelingkingnya diwajah Naruto 'Kau bodoh ya?'
"Hentikan" perintah Naruto. Apa gadis ini marah dan tidak mau bicara padanya? Menyebalkan sekali. "Apa maksudmu? Jari kelingking? Apaan ini? Sungguh aku tidak mengerti!" gerutu Naruto.
Hinata mendengus kesal. Ditariknya tangan Naruto kasar dan menautkan kelingking Naruto dan kelingkingnya.
"Berjanji apa?" Lagi-lagi Naruto bertanya lagi.
Hinata memutar bola matanya kesal. Sangat kesal malah, Hinata menunjuk bibirnya.
"Oh" Seru Naruto mengerti maksud Hinata "Aku bersumpah tidak akan mengatakannya pada siapapun, kecuali kau yang minta"
Hinata mengangguk dan segera beranjak pergi keluar.
Cklek.
Oh.
Cklek. Cklek.
Hinata terus mencoba membuka pintu itu. 'Tidak! Pintunya terkunci!'
.
.
.
TBC…
.
.
Footnote :
Gomenasai.. agak lama updatenya, kebetulan lagi sibuk banget diduta dan gag keburu ke warnet, kalo keburu, ngantrinya lama :v *alasan klasik*
.
.
Terima kasih buat reviewnya.. dibaca kok ^^v
.
.
Min to R&R?
