"Matte ..."

tap.

tap.

tap.

Hup.

"Hehehe."

"Dasar gadis nakal, kau sedari tadi mengikutiku?"

"Hehehe ... Nee ... Ayo kita bermain bersama lagi."

.

-The Soul of the Abyss-

An Okikagu Fanfiction

.

Gintama Disclaimer By Sorachi-Sensei

-Story By Yuki Yahiko-

Warnings:

AU, Typo sedikit bertebaran, OOC demi kepentingan cerita, Rated T+, ada Slight OkiSoyo di beberapa chapter awal.

.

.

KAGURA POV's

Aku kembali membuka mataku sambil mencoba bangun dari posisiku saat ini.

'Are ... Kenapa aku bisa kembali ke sini lagi?' batinku, ketika aku menyadari bahwa aku telah kembali ke kamar ini lagi.

"Apa yang terjadi?" gumanku seraya memegang kepalaku yang berdenyut sakit.

Sekelebat bayangan aneh masuk ke dalam pikiranku. Seingatku, aku semalam tengah mencari Gin-chan guna meminta penjelasan lebih lanjut tentang perkataannya kemarin. Aku juga ingin bertanya kepadanya, sebenarnya apa yang terjadi padaku dan apa maksudnya bahwa yang mereka bunuh adalah bukan keluarga kandungku?

Dan di saat aku tengah sibuk mencari Gin-chan, aku melihat sesosok anak kecil yang tengah menangis sendirian di sebuah ruangan yang terlihat seperti perpustakaan. Lalu ...

"Arrghh ..." Aku menjerit ketika bayangan itu kembali berputar di kepalaku.


"Ah ... Akhirnya aku menumakanmu."

'Siapa?'

"Aku selalu menantikan agar bisa bertemu denganmu lagi."

'Siapa kau?'

"Hidoi na ... Kau melupakanku? Padahal aku sudah lama menantikan untuk bertemu denganmu."

'Siapa Kau?'

"Nee ... Ikutlah denganku."


Kagura Pov's end.

Puk.

"Na ... Oy China."

"Tidak ...!"

Kagura berteriak histeris dan secara reflek menapik tangan Sougo, ketika pemuda itu menepuk pundaknya.

"Oy, Kau kenapa, China musume?" sebuah pandangan aneh dilayangkan Sougo saat gadis itu sedari tadi bertingkah seperti orang frustasi.

"Sa-dist?" gumannya saat manik Sapphire-nya menangkap sosok pemuda berhelaian pasir yang kini berdiri di sampingnya.

"Ini?" rancau Kagura.

Pemuda itu menatap gadis dihadapannya dengan ekspresi yang tak terbaca. "Ini kamarmu dan berhentilah bertingkah seperti orang gila, Baka Onna." Ucapnya sarkastik.

Sapphire Kagura mengerjap pelan dan pandangannya kembali tertunduk.

"Bagaimana bisa?" gumannya pelan.

Sougo menatap jengah gadis Cina itu, "Kau hampir menghancurkan perpustakaan, kau ingat?" lontarnya malas.

"Eh?" dengan cepat Kagura menoleh ke arah Sougo.

"Menghancurkan perpustakaan?"

Aargghh, Sougo benci kepura-puraan gadis ini. Jelas-jelas dia sudah dua kali hampir menghancurkan rumahnya dan sekarang bertingkah layaknya orang bodoh.

Sougo mendorong tubuh Kagura kembali ke atas tempat tidur, mengunci gerak kedua tangannya dan menatap lurus manik Sapphire itu.

"Jangan berpura-pura bodoh, China. Kau hampir membunuhku sekali dan hampir menghancurkan rumahku sebanyak dua kali." Ucapnya mengintimidasi.

"Apa maksudmu, Baka Sadist?" Sungguh, Kagura tak mengerti dengan apa yang dikatakan manusia sadis di atasnya ini. Kagura mencoba untuk melepaskan cengkraman kasar pemuda tersebut sekuat yang dia bisa.

"Jangan bertingkah bodoh, China. Sebenarnya, kau ini siapa?" tanya Sougo dengan tatapan tajam yang mengarah tepat ke Sapphire gadis itu seraya mencoba mencari tahu siapa gadis ini sebenarnya.

"Aku ...," Suara kagura terputus.

Ya, dalam benak gadis itu sendiri dia masih bertanya-tanya Siapa dia sebenarnya? Dia itu apa? Kenapa rasanya sulit sekali untuk mengucapkan kalimat bahwa dia itu manusia normal sama seperti yang lainnya.

"Aku ini apa?" gumannya. Pikirannya seakan bercabang dan hatinya bergemuruh gelisah.

Dan lagi, Gadis itu kembali menangis karena kebingungannya sendiri.

Sougo terdiam ketika melihat liquid bening gadis itu kembali mengalir. Sial, gadis ini benar-benar tak dapat dia mengerti dan begitu ... cengeng?

Pemuda berhelaian coklat pasir itu melepaskan kuncian tangannya dan beranjak berdiri.

"Berhentilah menangis, Baka onna." Ucapnya, ah tidak, lebih tepatnya itu adalah sebuah perintah.

Kagura tak menanggapi, liquid bening itu terus turun tanpa bisa dia hentikan.

"Aahh ..." Sougo mengacak kasar surai pasirnya dan meninggalkan gadis itu seraya membanting pintu kamar tersebut.

Kagura hanya menatap kepergian Sougo dalam diam. Gadis itu terlalu lelah dengan pikirannya sendiri dan ketakutan akan sosok pemuda tadi. Gadis Vermillion itu selalu merasakan aura pekat yang mengelilingi sosok pemuda Sadis itu. dilihat dari sisi manapun, Kagura tak dapat melihat Sougo sebagai Sosok manusia normal.

Krieet ...

Pintu yang tertutup tadi kini kembali terbuka dengan menampakan sosok gadis yang terlihat lebih tua darinya, dengan surai biru dan manik merah tanpa ekspresi di wajahnya.

Tubuh gadis itu mendekat ke arah Kagura seraya mengamati tiap Inchi bagian tubuh Kagura.

"Sampai kapan kau akan menangis?" Ucapnya datar.

"Bukan urusanmu aru!"

Gadis itu menghela napasnya sejenak seraya kembali berkata, "Hah ... aku tak peduli denganmu. Tetapi, orang itu memerintahkanku untuk mengawasimu."

Kagura beringsut mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap tajam gadis bersurai biru tersebut.

"Apa pedulimu aru!"

"Kau ini keras kepala sekali."

"Aku tak peduli aru-Kagura menatap sosok tanpa ekspresi itu malas. "Kau bisa meninggalkanku sendiri aru!"

"Nobume."

"Apa?"

"Namaku Imai Nobume dan aku diperintahkan oleh Isaburou untuk membantu 'Sadist itu' untuk menjagamu."

Kagura mengerjap beberapa kali, "Aku ..."

"Kagura, bukan?" potong Nobume, "Aku sudah mendengar tentangmu dari Isaburou." Lanjutnya.

"Isaburou?"

"Aku baru tahu kalau Sakata-san sudah memiliki putri. Kau dan sakata-san nampak berbeda."

Manik Sapphire Kagura melebar mendengar perkataan Nobume. Lagi, perkataan Gintoki kembali terngiang di benaknya.

"Kau Putriku. Apa salahnya, jika seorang ayah mengambil kembali putrinya yang telah lama dicuri."

"Nee ... Apa yang kau tahu tentangku dan Gin-chan?" Cecar Kagura seraya mendekat ke arah Nobume.

"Aku tak tahu banyak. Yang ku tahu hanya, Sakata-san meminta bantuan Mimawarigumi dan Shinsengumi untuk mengambil kembali putrinya dan meminta kami menjaganya." Jawab Nobume datar.

Kagura nampak tetap tak mengerti. Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa hidupnya harus berubah menjadi kacau seperti ini. Apa yang harus dilindungi dari dirinya?

Ntah, lah. Diapun tak mengerti.

Nobume kembali mengamati Kagura yang nampak berpikir dan sepertinya masih belum bisa menerima posisinya saat ini.

"Hah ... merepotkan. Dengar, air matamu tak akan membuat keluargamu kembali. Ingat itu!" Ucapnya seraya berjalan ke arah lemari besar di sudut ruangan.

"Lagipula, harusnya kau bersyukur, karena ayahmu lebih cepat menemukanmu." Lanjutnya lagi sambil mengambil sebuah dress merah selutut dan memberikannya ke pada Kagura.

"Mandilah dan segarkan pikiranmu, Aku akan mengajakmu berjalan-jalan. Kau pasti bosan berada disini, bukan?" perintahnya seraya tersenyum.

Kagura menerima pakaian tersebut, memandangnya sejenak dan kemudian mengangguk menuruti perintah Nobume.

.

.

Kagura berjalan beriringan dengan Nobume yang tengah mengenakan pakaian Santai. Kagura dengan dress merahnya dan Nobume menganakan Dress berwarna biru muda.

Senyuman Kagura yang telah lama hilang kini kembali terkembang sedikit demi sedikit, membuat Nobume yang menyadarinya ikut tersenyum senang.

"Akhirnya kau mulai kembali." Ucap Ambigu Nobume seraya menpuk pelan pucuk kepala Kagura.

Perlakuan Nobume kepadanya membuat gadis itu mengalihkan tatapannya ke arah gadis bersurai biru itu.

"Eh?"

Nobume tersentak ketika menyadari ucapannya tadi, dia keceplosan.

"Ah, tidak. Lupakan yang aku ucapkan tadi." Ucapnya cepat seraya membuang muka.

Langkah kedua gadis itu terhenti dengan Kagura yang menatap penuh tanya ke arah Nobume.

"Kau meng-."

"Ah, Aku harus membeli sesuatu disana-Potong Nobume seraya menunjuk sebuah Toko Kue. "Kau tunggu di sini sebentar." Sambungnya seraya meninggalkan Kagura dengan pertanyaan yang tertahan di tenggorokannya.

.

.

Kagura menyandarkan dirinya pada tembok pembatas di depan toko tadi. Sudah lima belas menit berlalu, namun Nobume belum juga kembali.

Gadis berhelaian Vermillion itu menatap Toko di depannya dengan mals dan kembali memainkan kakinya. Hembusan napas bosan akhirnya keluar dari mulutnya. Sesaat Kagura kembali mengkat pandangannya, Manik Sapphirenya bertemu pandang dengan Manik cokelat yang begitu familliar baginya.

"Kau terlihat lebih baik." Ucap gadis berhelaian hitam panjang tersebut.

Kagura menatap heran gadis itu dengan manik yang melebar.

"Kita pernah bertemu?" tanyanya seraya mencoba mengingat sosok tersebut.

"He-em-Gadis itu tersenyum ke arah Kagura. "Kita sering bertemu malah." Jawabnya.

"Gomen, Aku tidak mengingat jika kita sering bertemu. Kau teman kakakku?" tanyanya. Kagura yakin jika gadis ini adalah teman dari kakaknya.

"Ah ... lebih tepatnya lebih dari itu." gadis yang diperkirakan seusia dengannya itu kembali menjawab.

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Ka-gu-ra-chan." Ucapnya seraya berlalu dari hadapan Kagura.

Kagura menatap bingung ke arah gadis berhelaian hitam yang sekarang sudah beberapa langkah di depannya.

"Matte!" Kagura berseru seraya mengejar sosok tersebut. gadis itu melupakan perintah Nobume yang menyuruhnya untuk tetap menunggu dirinya.

.

.

.

Sougo kembali berjalan dengan langkah ogah-ogahan di keramaian Kota Edo. Sesekali pemuda itu melirik malas kerah Hijikata yang tak berhenti mengoceh di sampingnya.

"Oy, Kau dengar semua kata-kataku tadi, kan!" Seru Hijikata, ketika menyadari bahwa Sougo manatapnya ogah-ogahan.

"Hai' ... Hai' ... Aku mendengar semua perkataanmu dengan jelas Toushi." Sahutnya malas.

"Toshiro da!" Hijikata berseru marah ketika namanya kembali diplesetkan.

"Maa ... Maa ... sabar Tou-." Ucapan pemuda sadis itu terputus ketika manik Ruby-nya menangkap siluet Gadis Vermillion, yang menjadi alasannya uring-uringan sedari pagi, tepat di seberang tempatnya saat ini.

'sedang apa gadis itu disini?' Batinnya bertanya-tanya.

"Hijikata-san, Aku ada keperluan sebentar. Tolong kau lanjutkan patrolinya." Perintah semaunya Sougo kepada Hijikata dan langsung meninggkalkan Si Mayora tanpa mendengarkan jawabannya.

"Oy, matte hora, Sougo! Sougo!" Hijikata meneriakan nama Sougo yang sayangnya tak didengar oleh pangeran sadis itu.

Kesal, Hijikata melemparkan putung rokok yang tadi berada di mulutnya ke tanah dan menginjaknya kasar.

"Dasar, Kuso Gaki yarou!" teriaknya marah.

.

.

Kagura terus berlari mengejar sosok gadis yang bertemu dengannya tadi. Dia memacu laju larinya dengan cepat agar tak kehilangan jejak gadis misterius itu. Kagura yakin, gadis itu pasti mengetahui tentang dirinya dan Siapa sebenarnya keluarga aslinya, serta kenapa gadis itu harus terlibat dalam kekacauan seperti ini. Apa yang ingin mereka lindungi darinya dan kenapa orang-orang di sekitarnya nampak menyembunyikan susuatu darinya.

Langkah gadis itu terhenti di depan sebuah Mansion tua yang nampak telah lama tak terawat.

Deg.

Jantung Kagura berdenyut nyeri ketika memandang bangunan tua itu. Insting terdalam Kagura menyerukan bahwa tahu dengan bangunan di depannya ini. Tetapi, Insting lainnya menyatakan untuk segera pergi dari sana.

Krieet ...

Dan di tengah kebimbangan hatinya, pintu gerbang besar itu tebuka tiba-tiba, dan membuat Kagura memundurkan tubuhnya. Gadis berhelaian Vermillion itu menatap ngeri sekaligus penasaran terhadap Mansion di depannya saat ini.

Setelah menimbang resiko yang mungkin terjadi, Kagura memutuskan untuk meinggalkan tempat tersebut tepat saat sosok gadis tadi kembali muncul dihadapannya dan berlari masuk ke dalam perkarangan Mansion tersebut.

Kagura yang kembali penarasan secara reflek mengejar kembali bayangan tadi.

.

.

Sougo kembali memasang wajah penuh tanya ketika mendapati dirinya terhenti di depan sebuah Mansion tua yang terlihat sudah lama tarawat. Manik Ruby-nya memandang datar bangunan tempat dimana Sosok gadis berhelaian Vermillion itu masuki.

Pemuda bersurai pasir itu memijit pelipisnya yang berdenyut sakit karena kekurangan tidur dan terlalu banyak berpikir.

Ya, sudah lima hari ini, sejak gadis Vermillion itu tunggal di Mansion miliknya atas permohonan Gintoki. Awalnya Sougo hendak menolak, namun melihat wajah Gintoki yang baru pertama kali meminta tolong kepadanya itu, membuat sougo mau tak mau mengiyakannya.

Tak ada yang menarik sebenarnya. Jika saja dia tidak terlibat dengan gadis Vermellion tersebut sejak awal misi itu di mulai.

Sougo sendiri heran, bagaimana bisa gadis Vermillion itu bisa menarik seluruh atensinya.

Selama ini Sougo selalu berpikir, kalau gadis yang selama ini dia cari itu adalah Soyo. Tetapi pemikiran itu mendadak memudar, ketika Kagura hadir dalam hidupnya. Wajah itu, Manik Violetnya saat itu, dan semua keanehan dalam diri Kagura membuat Sougo kembali berpikir ulang.

Ah, semua ini adalah salah mereka. Karena perperangan yang mereka ciptakan di dunia bawah lima tahun yang lalu, membuat memori Sougo berantakan.

Mengepalkan tangannya erat, Sougo hendak mengikuti langkah Kagura masuk ke perkarangan Mansion tua itu tepat saat sebuah benda berkecepatan tinggi meluncur ke arahnya.

Menyadari ada serangan mendadak, Sougo meloncat ke belakang guna menghindari serangan tersebut.

Kedua tangannya kini telah menggenggam Katana kesayangannya dan memasang pose siaga.

Manik Ruby itu membulat tak kala melihat sebuah payung berwarna ungu yang menancap di tanah, tepat di tempat dia di serang tadi.

"Itu ...,"

"Lama tak berjumpa, Omawari-." Sapa suara suara yang kini tengah berada di atas gerbang tersebut.

"Akuto?"

.

.

.

Kagura berjalan pelan mengitari perkarangan Mansion tua tersebut. Manik Sapphire-nya menyapu setiap sudut yang dapat dia jangkau tanpa tertinggal.

Rasanya berjalan di tempat ini adalah ... Nostalgia?


"Hahaha ..."

"Hahaha ..."


Deg.

Jantung Kagura berdetak kuat ketika mendengar suara tawa anak kecil. Gadis berdarah Yato itu menatap kaget bersama ngeri sekaligus, ketika melihat sosok anak kecil yang sangat mirip dengannya, tengah berlari dengan wajah ceria sambil membawa karangan bunga berbentuk mahkota.


"hehehe ... Mami ... Nii-chan ..." Seru riang gadis kecil yang tengah berlari menembus dirinya dan menghampiri kedua sosok yang tengah duduk di bawah pohon.

"Nee ... Nii-chan, Coba lihat, bunga ini bagus, kan?" Ucapnya seraya menyodorkan karangan bungan yang dia bentuk menjadi mahkota ke arah anak lelaki bersurai senada.

"Woah ... Kau hebat, Kagura!" puji sosok itu seraya mengelus sayang surai sang adik.

"Mami pakai." Serunya riang seraya meletakkan rangkaian bunga itu di atas kepala sang Mami.

"Woah ... Kirei." Ucap kedua kakak beradik itu dan dibalas tawa anggun dari wanita dewasa dihadapan mereka.

"Terima kasih, sayang." Sang mami mengelus sayang surai putrinya.

"Ah ... Kalian bersenang-senang tanpa mengajak Papi?" ucap suara di belakang mereka.

Kedua bocah itu menoleh ke sumber suara dan serentak berseru, "Papi!" dengan riangnya dan menghambur memeluk sang Papi.

"Are? Aku baru tahu kalau kau bisa membuat rangkaian seperti itu, China." Ucap Sosok lain yang juga muncul di sana.

"Kau menyebalkan, Sadist-Nii." Gadis kecil itu mencibir seraya mengembungkan kedua pipinya.

"Aku tidak mengejekmu desaa. Kenapa kau malah marah kepadaku?" ucapnya malas seraya turut bergabung bersama mereka.

"Habis, Nii-chan dan Sadist-Nii sering mengejekku aru!"

"ha-ah, terserahlah, China. tapi, Kau melakukan yang bagus." Pujinya seraya menepuk-nepuk pucuk kepala gadis kecil itu dan menyebabkan gadis itu tersipu malu.

"Arigatou, Sadist."

Mereka berlima akhirnya duduk seraya tertawa dan bercanda bersama di bawah pohon tersebut.


Deg.

.

Kagura terdiam melihat bayangan kejadian yang terasa nyata baginya tadi.

Siapa?

Mereka Siapa?

Kenapa perasaan Kagura menjadi sangat sedih ketika melihatnya?

"Kalian siapa aru? Kenapa aku merasa familiar dengan semua ini aru? Padahal kalian ada di depanku, Kenapa aku tak bisa melihat wajah kalian aru?" gumannya pada diri sendiri.

Kagura merasa lututnya lemas seketika, perasaan sakit itu kembali naik kepermukaan, dan dalam diam, gadis itu menangis.

.

.

Sementara di luar bangunan tua itu, Sougo tengah berdebat sengit dengan Sosok pemuda berhelaian Vermillion yang sangat dia kenal.

"Apa maksud semua ini, Akuto?"

Manik Ruby-nya menyalang marah diiringi aura hitam yang mengelilingi tubuhnya.

"Maa ... Maa ... Bagaimana Kalau kita bicarakan ini baik-baik, Omawari-san. Aku terkejut, ternyata kau akan bertemu dengannya secepat ini, Nee, Putra mahkota kerajaan Elf, Okita Sougo." Jawabnya dengan senyuman yang menyebalkan bagi Sougo.

"Aku tak peduli dengan semua yang kau ucapkan, Akuto. Tapi aku takjub karena kau bisa banyak bicara juga, Nee, Raja dari gerbang Abyss, Kamui." Balas Sougo dengan deadpan seperti biasanya diiringi seringai sadis.

"Aah ... Kau tidak asyik, Omawari-san." Kamui menatap Sougo dengan tatapan sedih yang dibuat-buat.

"Sudah kubilang, bukan? Berhentilah bercanda, Akuto. Gadis itu ... Sebenernya Siapa dia? Apa hubunganmu dengannya?"

"Dan aku tadi sudah menjawab, bukan? Dia adalah sosok yang berharga." Kamui mengangkat kedua bahunya seraya tersenyum menatap Sougo.

"Sangat berharga ..." lanjutnya dengan senyum misterius.

"Kau-."

Deg.

Perkataan Sougo terputus sepihak saat rasa sakit menyerang kepalanya. Sougo memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Langkah Sougo terhenti ketika sebuah suara kembali terngiang di kepalanya.

"Kagura?" gumannya ketika mendengar suara itu.


'Ya, Bagiku kau adalah orang yang berharga. Saat aku menderita ataupun tersakiti, kau akan selalu datang menolongku, bukan?'


"Itu tadi apa?" Sougo kembali berguman saat suara itu menghilang.

"Ah ... Sudah mulai rupanya." kamui berkata, "Kau tak ingin mengejarnya? Mungkin saja kau menemukan jawaban dari pertanyaanmu tadi." Lanjutnya, seraya kembali menghilang dari hadapan Sougo.

"Oy, Matte, Akuto!" terlambat, Sosok Kamui telah hilang ditelan lubang hitam tadi bersama dengan sosok bertudung yang dikejar oleh Kagura tadi.

"Cih!" Sougo berdecih, kemudian berlari memasuki bangunan tersebut guna mencari sosok Kagura.

.

.

Kagura menghampus kasar air matanya. Sudah cukup! Dia tak ingin menangis lagi sekarang. Peristiwa lima hari yang lalu, pembantaian seluruh keluarganya, dan bayangan tadi hanya perlu dia terima seperti biasanya.

Tak ada sesuatu yang menarik.

Semua hanya berjalan seperti biasa.

Dia hanya perlu menjadi Kagura yang dulu.

Are ... dulu yang mana?

Kagura hendak melangkah meninggalkan tempat itu ketika langkahnya terasa kaku karena perubahan suhu di tempanya saat ini.

"Manusia ... tidak, ada Jiwa Abyss di sini ... aku ingin memakannya."

Manik Sapphire itu menatap horror makluk abstrak di depannya. Makhluk itu tersihat seperti ulat dengan enam tangan dan dua belas mata di tubuhnya. Dan yang lebih membuat jantung Kagura nyaris jatuh ke perutnya ialah, sosok itu menatapnya dengan pandangan lapar.

"Abyss ... Abyss ..." makhluk itu berguman berulang kali seraya mendekati Kagura.

Tak butuh waktu lama, Kagura segera berlari secepat yang dia bisa guna menghindari makhluk itu.

'Gin-chan ... Shinpachi ... Siapapun tolong aku!' batinnya berteriak meminta siapapun untuk datang menolongnya.

Laju lari Kagura semakin dia percepat ketika makhluk tersebut hampir menggapainya.

"Gin-chan ... Gin-chan ..." gumannya berulang kali. Gadis itu berharap ada sebuah keajaiban dimana sosok perak tersebut akan muncul tiba-tiba dihadapannya.

Tapi nampaknya, Keberuntungan tidak berada pada dirinya. Nyatanya sosok Gintoki tak kunjung muncul dihadapannya.

Kagura semakin menatap ngeri ketika salah satu tangan makhluk itu hendak menggapainya. Tanpa berpikir panjang, Kagura kembali berseru.

"SADIST, TOLONG AKU!"

.

.

.

T.b.c


etto ... Yuki mau jawab pertanyaan dari Affsaini-san tentang umur mereka.

Yosh, Disini Kagura sama Soyo (15 tahun), sedangan Shinpachi (17 tahun), dan Sougo, Nobume sama Kamui (19 tahun).

buat Hijikata dan Gintoki dibuat setara yaitu 27 tahun. hhehehe #dilemparasbaksamaToshi.

itu penampilan mereka doang sih (^^)

Dan karena di atas ada clue kalau 5 tahun yang lalu mereka ada tragedi maka, umur mereka ditambah masing-masing 5 tahun (buat umur saat ini).

buat umur aslinya ntar dikasih tahu di tengah cerita #woy.

Gimana ... Gimana ... udah jelaskah penjelasan dari Yuki? (^^V).

hehehe ... jadi intinya, mereka sebenarnya udah dewasa yang terkurung di tubuh mudanya #plak.

Btw, Makasih atas reviewnya affsaini-san, Miu-san dan Freedom friday-san (^^).

Hope you'll enjoy this new chapter XD

Yosh ... Happy reading, Minna (^^).