A/N: ARRGGGGHHH! parahhhhh! chapter ini sempet ilang pas aku ngetik di hp, hweeee, jadi maaf kalau acak-acakan dan pendek. Padahal idenya lagi lancar, mulus semulus kulitnya Ma- ... *PLAKGUBRAKPRYANGBZZZTTTT #abaikan pikiran gila author yang makin lama makin bejad ini.
Bagi Readers yang penasaran lanjutannya silakan scrool sampe ke inti cerita yah. Kali ini ada prolog.
.
Don't Like? Don't Read.
Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo.
Pairing: PrusCan, USUK and other pairing (ini OTP saya, kalau tidak suka jangan dibaca) , Slight SpaMano and GerIta (ini juga OTP)
Summary: Dimana ketika hati itu terkoyak. Dimana saat kau bawa diri itu menghilang. Kupastikan aku akan menemukanmu. Karena tanpa kau sadari, benang merah yang selalu menghubungkan kita lah yang membawaku ketempat mu.
.
Dia tahu siapa itu.
Dia sangat tahu, siapa yang tengah berada bersama dua temannya.
Orang yang dulu pernah meninggalkan kenangan dalam dirinya.
Yang dulu pernah menjadi berharga baginya.
Yang kini semua keberadaannya hanya meninggalkan luka menyayat hingga hatinya meneteskan darah yang tak mengalir dalam hidupnya.
Yang kini sosok itu menjadi simbol kebencian untuknya.
.
Red Thread
(...Tak akan pupus... meski langit dan bumi menjadi pembatasnya...)
Original Story by Rin
Disclaimer © Hidekaz Himaruya
Family, Friendship, Hurt/Comfort, Romance
Rated T-M (rated bisa berubah sewaktu-waktu)
.
Chapter. 4
.
–"Gilbert...?
.
.
Ramai akan bising nada yang biasa dibandara seakan tidak menginterupsi akan pertemuan tidak terduga disana. Iris ruby itu tersirat rasa kejut yang berbeda, karena dibaliknya ada rasa senang yang disertai harapan jug akesedihan ketika mendapati sosok yang sangat dicarinya berada dihadapannya.
Menatapnya dengan dingin.
Tanpa seulas senyum manis terukir.
Yang digantikan kilat benci.
Ruby itu tersenyum miris, memanggil dalam bisik nama pemuda itu, mengucap kata pertemuan setelah lama tak bersua. "Lama tidak betemu,Matt..."
"Mau apa kau disini Beilschmidt?"desis Matthew yang bahkan kedua kakaknya yang tengah disampingnya tidak percaya adik mereka bisa berkata dengan nada yang begitu dingin.
Sementara dipihak sana kedua teman yang mengelilingi Gilbert, Francis dan Antonio yang menjemputnya dari bandara, hanya diam, tidak mencoba menahan teman mereka yang tengah dalam pergulatan mulut yang mempertaruhkan batin. Atau mungkin belum saatnya.
"Ahh, kalau mau jujur ... aku mencarimu." Bahkan dia sudah tidak memanggilnya seperti dulu. Memberanikan diri Gilbert mengambil satu langkah untuk memperkecil jarak mereka dan satu langkah lagi dan lagi.
Sementara dibelakang sana Alfred sudah mengepal erat kedua tangannya. Dia bisa saja menghajar wajah Albino-Brengsek itu dari tadi kalau kepalan tangannya tidak ditahan oleh Arthur. Alfred melihat Arthur yang menahannya, ia yakin Arthur merasakan sama dengan apa yang kurang lebih dirasakannya. Bisa dilihat dari raut wajahnya yang menyeramkan.
Baru disadarinya kalau jarak antara Matthew dan Gilbert sudah hanya tinggal menghitung jengkal. Niat sangat untuk segera menarik adiknya menjauh dan membuat babak belur Albino itu. Namun, sebuah bisik dari pemuda British disampingnya mampu menahan niatannya.
"Kita lihat situasi dulu." Meski begitu dalam hatinya Arthur juga merasa khawatir. Emeraldnya telah menangkap sebuah getar kecil dari genggam tangan yang terkepal milik Matthew.
Safir itu mendapati sosok seorang violet manis yang terbingkai oleh kaca yang bertengger dihidungnya. Permata violet dalam kelopak mata itu terbuka lebar, membelalak karena terkejut. Ada getar kecil yang tertangkap dari Sang pemilik Violet. Namun, satu sirat pasti dari kilau ungu manis itu.
Kebencian.
Juga rasa takut.
Disamping itu Matthew sendiri menatap balik pria dihadapannya, tanpa emosi tersirat, hanya menatap kosong balik eksitensi didepannya. "Aku sudah tidak ada urusan denganmu lagi Beilschmidt."
"Bisa kau panggil aku dengan namaku?" pintanya.
"Aku tak perlu menyebut nama orang sepertimu."
"Matt..."
"Jangan panggil aku!" pekiknya kecil. Selesai sudah. Emosi yang sedari tadi berusaha ditahannya membuncah keluar. Meledak dalam satu letusan kecil. Yang berurai dengan isak tangis. "PERGI DARI HADAPANKU SEKARANG!"
"Matthew!" Gilbert berusaha meraih tubuh yang lebih mungil darinya dengan sebelah tangannya. Yang refleksi dari tangan itu hanya membuat bayangan akan kenangan saat itu terputar ulang kembali dalam memori pikirannya.
– "Kenapa Matt...? Kau takut?"
.
.
.
"Hentikan! Hentikan Gilbert!"
.
"ARGH!"
.
BUAGH!
.
BRUK!
Memori yang terputar itu terputus ketika hantaman tinju dari sang American yang disusul dengan suara tersungkur ketika tubuh yang menjadi sasaran amuknya menyentuh keras lantai keramik dibawah. Sehingga menarik perhatian berpasang mata yang melihatnya.
"KAU TIDAK PUNYA HAK MENYENTUHNYA!" raungnya marah.
Tahu perkelahian besar akan terjadi, Arthur dan Matthew segera saja menahan Alfred yang sudah siapa menghajar lagi pria albino dihadapannya.
"Hentikan Alfred!" bentak Arthur.
Sementara Francis dan antonio yang sedaritadi hanya diam menonton, segera menahan Gilbert yang beranjak berniat menghajar alfred balik.
"Gilbert, tahan dirimu!"
"Mon cher~, disini tempat umum. Kalian tidak boleh berkelahi disini."
"Git, jangan berontak! Matthew cepat bawa Alfred pulang."dorong Arthur memberikan alfred pada Matthew. Matthew pu menurut dan menarik tubuh kakaknya, "Hentikan, Al. Kita pulang saja." Ucap Matthew membuat Alfred meredam emosinya.
Meninggalkan yang lain, kaki-kaki mereka melangkah menjauh meninggalkan tempat kejadian, tak mempedulikan tiap pandang heran yang dilontarkan pada mereka.
Satu hal yang terakhir ia dengar, adalah suara itu memanggil namanya yang makin menjauh.
.
.
Kenop yang terdapat pada papan coklat itu berputar, menghasilkan suara derit ketika pintu itu terbuka. Terhubung pada sebuah ruang gelap rumah itu. Dirinya mengizinkan seseorang yang memiliki gen yang identik dengannya melangkah terlebih dahulu masuk kedalam tempat bernaung milik mereka. Safir itu menatap tiap langkah yang dihasilkan oleh punggung kecil yang perlahan makin menjauh dan menghilang. Lepas dari retinanya.
Perlahan kakinya terangkat, melangkah mengikuti pemilik warna Lavender yang sudah berpergi dahulu ke tingkat atas dimana ruang pribadi adiknya berada. Derit sunyi yang dihasilkan tiap kaki itu memijak papan bertingkat dibawahnya. Langkahnya terhenti didepan sebuah papan yang dimana dibaliknya terdapat sebuah ruang kosong yang dia yakin belahan dirinya berada didalam sana.
"Matt..." panggil safir itu pelan. Tak ada jawab. Hanya sunyilah pengganti akan jawab itu.
Tangannya terangkat, mengetuk pelan papan coklat dihadapannya seraya meminta izin untuk memasuki ruang pribadi adiknya. "Aku akan masuk." Kenop itu terputar sebelum dirinya melangkah masuk kedalam ruangan yang didominasi oleh indigo sebagai latarnya.
Mata safir itu memperhatikan sekeliling. Beberapa pakaian berserakan dilantai yang dingin ditengah gelap ini. Hanya tirai korden yang sedikit tersibak membiarkan kilau mentari petang diluar sana menyusup masuk memberi sedikit terang kedalam gelap ini.
Namun, yang menjadi fokusnya hanyalah sosok seorang pemuda yang berada di atas kasurnya, meringkuk sendiri dalam gelap disekeliling.
Safir itu membawa tubuhnya mendekati satu-satunya eksitensi selain dirinya disana. Suara derit ketika tubuhnya dibawa duduk diatas situ. Hening menjadi penonton, meyusup dalam sunyi diantara kedua insan itu.
"Matt..." panggil namanya lagi. Namun, tetap hening yang menjadi jawab.
Memberanikan diri Alfred menarik dirinya untuk lebih dekat dengan sang adik. Memposisikan dirinya beriringan dengan Violet yang disembunyikan dalam lipatan tubuhnya. Tahu sang kakak semakin dekat dengannya, membuat dirinya makin membenamkan wajahnya semakin dalam. Menyembunyikan Violet yang kini telah meluncurkan titik-titik air dibaliknya.
"...hiks..." sayang dia tidak bisa menyembunyikan isakan yang dihasilkan tangis itu.
Alfre menatap sedih pada sosok rapuh dihadapannya. Tangannya terangkat menangkap tubuh itu dalam rengkuhan hangat. Bibirnya mengucapkan seluncur kalimat untuk menenangkan tubuh yang gemetar dalam pelukannya. Entah apa dia gemetar karena bersentuhan intim dengan dirinya? Atau menangis mengingat kejadian hari ini? Atau menyesali kejadian di masa lalu? Entahlah dia tidak tahu. Tiga-tiganya bisa jadi.
"Tenanglah Matt... aku akan menjagamu." Bisiknya pelan ditengah isak tangis yang semakin jelas terdengar.
Cengkram tangan pada tubuh itu menguat. Seakan membuktikan kesungguhan akan setiap kata yang telah diikrarkan. Dia akan melindunginya. Pasti akan menjaga adiknya. Agar tidak terpuruk jatuh layaknya daun kering yang gugur.
.
.
Ruangan yang didominasi oleh warna coklat dan krem sebagai penghiasnya terlihat rapi ketika ditinggalkan oleh pemiliknya. Namun kenyataan itu terbalik 180 derajat saat sang pemilik rumah membawa serta teman-temannya pulang dan melakukan pesta kecil-kecilan yang menyebabkan kekasih sang pemilik rumah memaki-maki marah akan ruangan yang berantakan.
Sampah botol dan kaleng wine juga bir dan beberapa sampah yang menjadi cemilan pesta mereka teronggok begitu saja tanpa ada seorang pun yang berinsiatif membersihkannya.
Sofa yang tadinya disusun secara harmonis sudah tergeser dari tempatnya. Televisi dibiarkan menyala oleh pemilik rumah yang sedang tidur bergelung berselimut memeluk sang kekasih diatas lantai karena mabuk. Kondisi serupa juga menyerang seorang pria Prancis yang kini tidur diatas sofa panjang.
Namun, disekitar mereka yang sudah tertidur lelap hanya ada satu eksitensi yang masih terjaga. Belah merah muda bibir miliknya mengapit sebatang rokok yang dihisapnya perlahan dan kembali di hembuskan keudara, lenyap seiring partikel-partikel iti semakin terpisah menyatu dengan angin. Setidaknya nikotin dapat menenangkan dirinya yang tengah kacau saat ini.
Dirinya beranjak dari duduknya, puntung rokok dimulutnya dimasukkan pada asbak diatas meja yang berisi beberapa puntung rokok lain milik mereka bertiga. Tujuannya saat ini adalah kearah balkon rumah ditingkat dua ini dimana hamparan bintang dapat terlihat jelas dari sana malam ini disamping pemandangan sebuah kebun dibelakang sana.
Suara jangkrik dan beberapa binatang malam meramaikan malam dikala hening memenuhi gelap. Tubuhnya disansarkan, berpangku pada lipatan tangan yang ditumpukannya pada pagar pembatas. Ruby miliknya ternengadah menatap rembulan yang saat ini berwarna senada dengan bola matanya.
Rembulan merah.
Pertanda kesialan bagi kalian yang mempercayainya.
Lamunnya dikejutkan oleh suara derit dari jendela balkon yang digeser, membuatnya memalingkan wajahnya pada asal suara itu datang. Dimana salah seorang sahabatnya berdiri disana, menyilangkan kedua tangannya didepan dada, bersandar pada salah satu tiang jendela.
Kemeja yang digunakannya sudah acak-acakan, empat kancing teratasnya tidak dikancingkan. Lengannya digulung hingga siku. Namun penampilannya saat ini justru menambah daya pikat pria tampan berdarah Prancis ini akan peampilannya yang tersa sangat sensual.
"Kau tidak tidur, mon Cher...?" tanyanya.
"Kau sendiri?" tanya Gilbert balik.
"Terbangun." Jawabnya singkat. Tak lama ia memposisikan dirinya agar bernasib sama dengan pria Albino sahabatnya. Sebelah tangannya membawa sebotol wine dan dua biah gelas kaca.
Ramai nada jangkrik terbawa oleh semilir angin malam yang berhembus dingin. Bersama suara denting kaca ketika beradu dengan botol yang mengalirkan air ke dalam bening kaca yang gelas kaca berisi cauir merah yang terlihat menghitam akibat refleksi gelap malam yang menipu diserahkan padanya. "Wine?" tawarnya.
Senyum seringai tersungging diwajahnya. "Ok."
Sedikit ia menyesap minuman anggur yang beralkohol itu, walau baginya bir itu tetap minuman yang paling enak.
"Wajahmu muram sekali malam ini? Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya yang memecah hening meluncur dari seorang Prancis yang tengah memainkan gelasnya.
"Kau tahu itu..."
"Menegenai Mattiue?" pertanyaan yang tepat sasaran. Iris merah Gilbert memandang francis dengan tatapan menyelidik, "... kelihatannya kau dekat dengannya?"
"Dia satu jurusan denganku." Jawab Francis, "Cemburu...?" tanyanya memprovokasi. Senyum seduktif miliknya tersungging tak lepas dari wajahnya. Ingin rasanya tertawa melihat raut wajah Gilbert yang sangat masam.
"Bukan urusanmu." Jawabnya memalingkan wajah.
Jemari Francis terangkat, menahan dagu Gilbert dengan tangannya sebelum memutar kepalanya hingga Ruby miliknya bertatap paksa, berhadapan dengan safir miliknya. "... Aku ingin tahu... begitu pula dengan Antonio." Gilbert membelalak, terkejut tidak tidak menyadari pemuda Spaniard itu tengah terduduk bersender tiang balkon. Senyum tetap menghias wajah kecoklatan miliknya, namun senyum kali ini terkihat sedikit berbeda. Kira-kira begitu pemikiran Gilbert.
"Kenapa aku harus menceritakannya?" tanya Gilbert.
"Kau harus melakukannya, kalau kami memang sahabatmu." Jawab yang kini diambil alih oleh antonio. "Setidaknya kau akan merasa lebih lega 'kan?"
Francis melepaskan dagu yang tengah disanderanya, mengangguk ketika Gilbert memandangnya dengan pandangan bertanya. Ah, tapi mungkin bukan hanya itu saja ia ingin Gilbert menceritakan semuanya. Semua hal yang telah membuat anak itu berubah sejak ia mengenal baik pemuda American tersebut sejak kecil.
Gilbert memandang kedua sahabatnya, sebelum akhirnya ia menyerah. "Baiklah." Ucapnya.
"Kalau Matthew bersikap seperti itu padaku seperti yang kalian lihat itu wajar."
Matanya menatap tiapa raut yang ditunjukkan sahabatnya. "Karena memang ini semua salahku..."
.
.
Kediaman Jones. Friday, Month XX, Year 20XX. 00.00 AM
.
"Ya, baik."
"Iya, aku mengerti Iggy."
"Matt? dia sudah tidur."
"Baiklah, hati-hati Iggy. I love you."
Tangannya menaruh kembali HP miliknya disembarang tempat dikasurnya. Ia jatuhkan tubuhnya dalam empuk kasur menatap langit-langit kamarnya. Pembicaraan dengan kekasihnya barusan berlangsung cukup singkat. Dia hanya menanyakan keadaan Matthew yang membuatnya khawatir.
Menghela. Tangannya melepas kacamata yang tengah bertengger diwajahnya, memperlihatkan wajahnya yang terlihat lebih dewasa.
'Matt..' batinnya. Tidak disuruh dua kali, segera ia beranjak kekamar dimana adiknya tengah tertidur lelap.
Ruangan yang tengah gelap itu menampakkan sesosok yang tengah terbaring dalam sebuah kasur. Bisa dia lihat, wajah tidur itu membekaskan sejalur air dipipinya. Alfred mengusap bekas itu. Pikirannya kembali berputar ketika ia menemukan Matthew setelah kejadian itu.
Dia tidak tahu sakitnya.
Dia tidak tahu kecewanya.
Kecamasannya, ketakutannya... kebenciannya.
Dia memang tidak tahu.
Tapi, itu bukan berarti ia akan diam saja, berlagak sebagai penonton yang tidak tahu apa-apa.
Setidaknya, agar dia tidak mengulang kesalahan yang lalu.
.
Detik jarum yang bersahutan akan jantung yang berdetak.
Memalingkan wajah, kembali menatap masa lalu.
Dimana setiap kesalahan yang kita lakukan terpahat dalam lembaran usang yang tengah lapuk dimakan waktu.
.
.
.
TBC
.
.
A/N: Kyaha! Hei kalian yang penasaran dengan masa lalu Matt en Gil. Silakan tunggu Chap depan! Hahahahahaha.*PRANGGPLAKBRUAK. udah pada bisa nebak gimana kira-kira masalalunya? bisa?bisa?
Osh, gak nyangka juga cerita ini awet juga. Hehehe. Untuk Chap depan atau mungkin dua chap lagi akan ada penaikan Rated. *kalau gak suka LEMON jangan baca, OK?*#blingbling-koda kumi (Lho?)
For Anonymous Reviewers:
Aiko-chan Lummierra: request anda dikabulkan. Bersiaplah membaca chap depan. Hohoho. Saking penasarannya sampe setengah mati? Tapi kalau mati jangan gentayangin saya... Thanks for your review sampe sekarang. See yuu
Salam penutup.
GIVE ME REVIEW!
