My Honey Boy

.

Cast : Lee Donghae X Lee Hyukjae

.

Rate : T

.

Genre : Romance, Fluffygagal

.

.

Warning !

Boy X Boy, BL, YAOI, EYD tak beraturan, Typo bertebaran dimana-mana, kata-katanya aneh, cerita pasaran

.

-oOo-

.

Happy Reading^^

.

.

Donghae tersenyum menatap catatan kecil yang ia tempelkan di dinding kamarnya. Misi besar pertamanya akan ia mulai hari ini. Mencari tahu nama honey boy-nya dan mengajaknya berkenalan. Donghae memakain blazernya. Mematut dirinya di depan cermin dan menata rambutnya sedemikian rupa agar wajah rupawannya semakin menarik. Tak lupa Donghae menyemprotkan parfum di tubuhnya. Ia memejamkan matanya sejenak, meresapi aroma parfum miliknya. Ah ini akan sangat sempurna jika ia bisa bertemu dengan honey boynya. Pemuda misterius yang memikat hatinya dengan mudah. Pemuda yang memiliki rambut madu, kulit putih susu, senyum merekah yang indah, mata bening kecoklatan dan kacamata tebal—tunggu. Bukankah itu ciri-ciri Hyukjae?

Donghae reflex membuka matanya. Ia mengerjap sesaat sebelum menggelengkan kepalanya dengan keras. Tidak! Apa yang sedang dipikirkannya hingga Hyukjae bisa terbayang dalam pikirannya? Ya Tuhan, sepertinya Hyukjae sudah mulai meracuni otaknya. Bagaimana mungkin honey boy-nya yang cantik berubah jadi Hyukjae yang aneh? Tidak! Tidak! Sepertinya Donghae memang kurang focus pagi ini. Donghae kemudian memukul pipinya sedikit keras. Ia berusaha membuang bayang-bayang Hyukjae dari pikirannya. Tapi tiba-tiba manik indah Hyukjae kembali terbayang. Manik yang baru Donghae perhatikan saat keduanya tak sengaja jatuh kemarin. Ya Tuhan! Donghae pasti sudah gila jika terus memikirkan tetangga anehnya itu.

"Lee Donghae! Sampai kapan kau akan bertingkah bodoh seperti itu hah?! Ibu memanggilmu untuk sarapan sejak tadi!" Teriak Donghwa. Ia yang sejak tadi menatap aneh tingkah bodoh Donghae hanya menggeleng. Sejak kapan adiknya menjadi aneh seperti itu?

"Bukan urusanmu!" jawab Donghae kesal.

Hei, Donghae sedang dilemma dengan otak dan hatinya. Otak dan hatinya tidak bisa diajak kompromi. Hatinya menginginkan membayangkan honey boynya tapi otaknya terus saja membayangkan wajah Hyukjae. Bagaimana mungkin Donghae tidak dilemma.

"Kau sedang jatuh cinta?"

Donghae tak menjawab. Ia melirik kakaknya sekilas lalu kembali mematut dirinya di cermin. Ia rasa kakaknya sudah pasti tahu jika ia bertingkah seperti ini. Yang harus ia lakukan hanyalah menutup telinga jika kakaknya terus-terusan menggodanya.

"Siapa? Apa Hyukjae?"

"Hah?!"

"Apa Hyukjae yang membuatmu bertingkah seperti orang bodoh?"

Donghae belum bisa merespon apapun. Otaknya masih memproses perkataan kakaknya. Hingga tawa kakaknya mulai menyadarkannya. Matanya melebar. Wajahnya memerah padam. Bagaimana mungkin kakaknya memiliki opsi demikian? Hyukjae? Tidak! Bukan Hyukjae yang membuatnya seperti ini. Donghae hanya memikirkan honey boynya, bukan Hyukjae!

"Kau jatuh cinta pada Hyukjae, kan?"

"Berhenti tertawa! Dia bukan Hyukjae!"

Donghwa menghiraukan kalimat Donghae. Ia terus tertawa dan memanggil nama ibunya. Donghae yang baru mengerti situasi segera keluar kamar dan mengejar kakaknya. Ia harus menjelaskan duduk perkaranya sebelum ibunya salah paham tentangnya. Ia harus memberitahu ibunya jika ia tak pernah jatuh cinta pada Hyukjae, meski sedikit mengagumi bola mata indah pemuda itu sih. Tapi Donghae bisa menjamin jika ia tak menyukai Hyukjae. Bukan Hyukjae.

.

.

.

Pagi ini Hyukjae tak berniat sama sekali untuk ke sekolah. Sejak semalam suhu tubuhnya meningkat. Ia demam setelah bermain air dengan Dongahe kemarin sore. Wajah Hyukjae memanas saat mengingat insiden kemarin sore. Ia masih ingat betul bagaimana wajah tampan Donghae jika dilihat dari dekat. Meski Donghae selalu menampakkan wajah datar padanya, tapi Hyukjae tak memungkiri jika Donghae sangatlah tampan. Hyukjae menarik selimutnya hingga menutupi sebagian wajahnya. Suhu tubuhnya semakin meningkat begitu pula dengan detak jantungnya. Perasaan apa ini? Hyukjae tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Ini baru pertama kali ia rasakan, dan entah kenapa perasaan itu selalu muncul ketika ia mengingat wajah Donghae.

"Sayang, apa demam-mu sudah membaik?"

Hyukjae hanya menggeleng pelan mendengar pertanyaan ibunya. Ia bisa melihat ibunya yang masuk ke kamarnya dengan nampan ditangannya. Hyukjae kemudian mendudukkan dirinya. Tubuhnya terasa lemas dan ia butuh makan agar tidak pingsan. Hyukjae menurut saja saat ibunya menyuapinya. Sesekali ia meminta ibunya untuk meniup sarapannya terlebih dahulu jika masih panas.

"Baru bermain air saja kau sudah demam seperti ini. Lain kali tidak udah ikut-ikutan main air jika ingin menyusahkan ibu."

Wanita paruh baya itu menyodorkan susu hangat pada Hyukjae. Dan Hyukjae menerima gelas susunya dengan wajah cemberut. Apa salahnya ia bermain air? Ia tidak pernah sakit sebelumnya. Mungkin saja kemarin bukan hari keberuntungannya.

"sudah kenyang."

Hyukjae memberikan gelas susunya pada ibunya. Ia mengecup pipi ibunya sebelum kembali berbaring nyaman di ranjangnya. Hyukjae butuh istrahat agar demamnya turun dan ia bisa beraktifitas kembali. Jujur saja Hyukjae tak suka jika ia jatuh sakit. Ia tak suka terkurung di kamarnya. Ia lebih suka berjalan-jalan atau melakukan aktifitas apapun yang tidak membosankan.

"Jangan lupa minum obatmu, sayang."

Ibu Hyukjae kemudian merapikan peralatan makan Hyukjae. Ia mencium kening Hyukjae kemudian beranjak dari sana. Membiarkan putra semata wayangnya beristirahat dengan nyaman. Setelah ibunya keluar dari kamarya, Hyukjae mendudukkan dirinya di atas ranjangnya. Ia bosan dengan kondisinya. Tangannya meraih komik yang ada di rak bukunya. Membaca beberapa bagian kemudian menaruhnya kembali karena bosan. Hyukjae benar-benar bosan.

Ia berbaring lagi. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Tak ada yang menarik. Hyukjae memilih memejamkan matanya namun kemudian bayangan dirinya dan Donghae yang saling menindih di pekarangan rumah Donghae melintas dalam pikirannya. Ia reflex membuka matanya. Jantungnya berpacu lagi. Ia seperti sesak nafas. Tak ada pilihan lain, Hyukjae menggigit selimutnya kemudian memekik keras. Bayangan wajah tampan Donghae dan hangatnya kulit Donghae membuat otaknya tak beres. Suhu tubuhnya semakin meningkat diikuti dengan wajahnya yang memerah sempurna. Oh tidak. Ini bukan sesuatu yang baik bagi kesehatan Hyukjae. Apa yang harus ia lakukan?

.

.

.

Donghae tersenyum sumringah saat bel istrahat berbunyi. Ia merapikan penampilannya. Kemejanya ia rapikan, dasinya ia kencangkan dan rambutnya ia biarkan sedikit berantakkan agar terkesan cool. Dengan penuh percaya diri Donghae melangkah keluar dari kelasnya. Waktu istrahat hanya tiga puluh menit dan ia harus menggunakan waktu tersebut agar bisa bertemu dan berkenalan dengan pujaan hatinya. Pesona Donghae memang tak main-main. Donghae bisa merasakan bagaimana kagumnya para kaum hawa saat ia melewati koridor sekolah. Kakinya menuruni tangga dengan lincah. Hanya satu tempat yang menjadi tujuaannya saat ini. Pohon cinta di halaman sekolah. Donghae sangat yakin jika hari ini ia bisa bertemu dengan honey boy pujaannya.

Saat kaki Donghae menginjak tanah, angin segar mulai menyapu wajah tampannya. Ia memejamkan matanya sejenak, meresapi lembutnya angin yang menyejukkan. Kemudian dengan penuh percaya diri Donghae mulai mendekati pohon cinta. Tak ada seorang pun disana dan Donghae bersyukur karenanya. Ia akan berdiri di balik pohon tersebut menunggu sang pujaan hatinya.

Sepuluh menit berlalu namun orang yang Donghae tunggu tak kunjung munncul. Donghae masih santai. Mungkin saja sang pujaan hati masih ada kelas tambahan jadi sedikit terlambat untuk datang. Donghae menguatkan hatinya. Ia merapikan penampilannya sekali lagi. Tak perduli pada beberapa siswa yang menatapnya aneh.

Dua puluh menit berlalu. Donghae mulai dilanda rasa cemas. Ia mulai berandai-andai jika honey boy pujaannya tak kunjung datang. Misi besar pertamanya akan gagal total jika sampai pujaannya itu tak datang. Donghae mulai gusar. Ia tak lagi berdiri di balik pohon. Ia bahkan menjelajahi sekitaran pohon tersebut kalau-kalau sang pujaan hati ada disekitar situ. Tapi nihil, Donghae tak menemukan siapapun di sana. Sampai bel masuk berbunyi Donghae tak mendapati honey boy-nya datang untuk menyantap makan siangnya di bawah pohon cinta. Raut kecewa tercetak jelas di wajah Donghae. Misi besarnya gagal total untuk yang kedua kalinya. Kenapa susah sekali untuk berkenalan dengan pemuda itu? Donghae berpikir mungkin saja honey boy pujaannya sedang malas keluar kelas hingga memilih makan siang di kelas. Ya, mungkin seperti itu. Donghae kembali menguatkan hatinya. Ia harus berpikir positif jika ingin semuanya berjalan lancar.

Langkah Donghae terlihat lunglai saat memasuki bangunan sekolah. Ia seperti orang yang kehilangan harapan hidup. Pengaruh ingin berkenalan dengan pemuda berambut madu itu sangat besar baginya. Donghae bahkan bertanya pada siswa yang berpapasan dengannya, menggambarkan ciri-ciri dari si honey boy tapi tak ada yang mengenal pemuda itu. Ck, kenapa dia misterius sekali? Tapi Donghae semakin penasaran dan semakin suka padanya. Hah. Seandainya saja yang menjadi tetangganya adalah si honey boy, bukan si kacamata tebal Hyukjae. Tunggu. Kenapa Donghae memikirkan Hyukjae lagi? Aish, sepertinya otak Hyukjae sudah mulai terkontaminasi dengan Hyukjae. Ia harus jauh-jauh dari Hyukjae sekarang. Tapi ngomong-ngomong soal Hyukjae, kenapa Donghae tak pernah melihatnya di sekolah? Apa Donghae perlu mencarinya? Ehm, bukan ide yang buruk.

"Donghae! Kim saem akan segera datang! Cepat masuk kelas sebelum kau di hukum!"

Donghae mengurungkan niatnya untuk mencari Hyukjae saat suara salah satu teman kelasnya memanggilnya. Ia segera berlari menuju kelasnya. Bolos dari kelas Kim saem bukan pilihan yang baik. Ia pasti akan mendapat tugas yang lebih berat lagi dari sekedar membersihkan perpustakaan.

.

.

.

Donghae tak pernah menyangka jika hatinya akan sesuram ini. Langit di atas sana terlihat cerah. Berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Dan itu tergambar jelas dari wajahnya yang tertekuk sejak tadi. Kali ini Donghae pulang dari sekolah dengan menuntun sepedanya. Ia seperti tak memiliki daya untuk mengayuh sepeda. Sesekali helaan nafasnya terdengar jelas. Huh, benar-benar hari yang buruk bagi Donghae. Matanya memandang sekeliling. Siapa tahu ada objek yang menyenangkan untuk di lihat. Tapi sepertinya Donghae tak mencari objek yang menyenangkan itu, lebih tepatnya ia mencari seseorang.

"Kenapa dia tidak kelihatan sih? Apa sudah pulang?"

Tanpa sadar Donghae menyuarakan isi hatinya. Bukan, Donghae bukan mencari honey boy-nya. Entah mengapa ia yakin hari ini ia tak akan bertemu dengan pujaannya itu. Ia tengah mencari Hyukjae. Siapa tahu saja Hyukjae bisa menaikkan moodnya dengan ia yang menjahili Hyukjae. Tapi kekecawaan harus di telan mentah-mentah oleh Donghae. Hari ketiga di sekolah barunya tetap sama dengan hari pertama dan kedua. Tak ada yang special dan bertambah suram.

Tangan Donghae membuka pagar rumahnya. Ia menuntun sepdanya dan memarkirnya di garasi. Berjalan sambil melamun membuat Donghae tak merasakan nikmatnya perjalanan. Donghae melirik rumah Hyukjae sebentar sebelum masuk ke dalam rumahnya. Lagi-lagi Donghae tersandung keset di depan pintu karena melamun.

"Ibu! Sudah kubilang jangan menaruh keset di depan pintu! Aish jidatku!"

Ibu Donghae yang tengah menata makan siang di meja makan hanya menatap tak percaya pada anak bungsunya. Bertahun-tahun ia hidup, ia baru melihat bagaimana cerobohnya anak bungsunya yang bisa tersandung karena keset kaki sebanyak dua kali.

"Kau yang bodoh! Keset tidak salah apapun!"

Donghae hanya bisa mendengus. Ia segera menuju meja makan masih dengan mengusap jidatnya yang ia yakini memerah karena terbentur lantai. Ck, seandainya keset dan lantai adalah benda hidup, Donghae akan membuat perhitungan dengan mereka. Wajah Donghae berubah cerah saat melihat menu makan siang di meja makan. Sup kue ikan. Tumben sekali sang ibunya memasakkan menu favoritnya.

"Ehm. Sup buatan ibu sangat enak." Gumamnya sambil menyendok kuah sup dan melahapnya dalam satu suapan.

Ibu Donghae hanya menggeleng pelan tapi wajahnya tersenyum senang saat melihat Donghae yang mulai makan dengan lahapnya.

"Bukan ibu yang membuatnya. Tadi Ibu Hyukjae yang membawanya. Katanya Hyukjae sedang sakit. Makanya ibu Hyukjae membuat sup kue ikan. karena memasaknya terlalu banyak, ibu Hyukjae membaginya dengan kita," jelas Ibu Donghae.

Donghae hanya mengangguk. Ia terlalu larut dalam lezatnya rasa kue ikan buatan ibu Hyukjae. Ia tak perlu tahu dari mana sup kue ikan ini. Yang pasti rasanya luar biasa lezat. Tapi tunggu, sepertinya Donghae melupakan sesuatu. Donghae sepertinya tidak salah dengar jika ibunya mengatakan bahwa Hyukjae sedang sakit. Pantas saja Donghae tak melihatnya di sekolah—meski sebelum-sebelumnya Donghae tidak pernah melihatnya juga sih.

Donghae masih melahap makan siangnya hingga ia tersadar akan sesuatu. Sesuatu yang hilang dari bawah kakinya jika ia sedang makan. Donghae memandang ke bawah kakinya, mencari sesuatu tersebut.

"Ibu, dimana bada?"

.

.

.

Hyukjae tertawa lepas saat anjing kecil berbulu putih itu menjilati wajahnya. Ia tak merasa jijik sedikitpun saat liur anjing kecil itu menempel di pipinya. Itu hanya membuatnya kegelian dan tak berhenti tertawa.

"Bada. Jangan nakal. Kesini. Kesini."

Lagi-lagi Hyukjae dibuat tertawa dengan tingkah anjing lucu tersebut. Ibunya yang sedang membereskan dapur hanya bisa tersenyum. Tadi saat ia mengantar sup kue ikan buatannya ke rumah tetangga, Ibu Donghae menyarankan membawa bada sebagai teman Hyukjae yang sedang sakit. Ia sempat menolak tapi Ibu Donghae memaksanya. Jadi dari pada berdebat, ia kemudian membawa bada ke rumahnya dan disambut dengan pekikkan senang oleh Hyukjae.

"Hyukkie, berhenti bermain. Kau harus istrahat."

Hyukjae menghiraukan kalimat ibunya. Ia sibuk menyisir bulu lembut bada dengan tangannya. Membuat pola tak jelas dengan bulu-bulu lembut anjing tersebut. Bada sangat menggemaskan. Sama dengan choco. Seandainya choco masih ada, Hyukjae yakin choco akan senang mendapat teman baru seperti bada.

"Hyukkie, kau harus tidur siang atau demam-mu tidak akan membaik, sayang."

"Sebentar lagi, bu."

"Sekarang, sayang. Atau ibu akan bawa pulang bada!"

Hyukjae cemberut. Ia memandang bada dengan sendu. Ia masih ingin bermain dengan bada tapi ia juga harus tidur. Lama menatap bada membuat sebuah ide muncul di otak cemerlangnya.

"Ibu, boleh aku tidur dengan bada?"

Ibu Hyukjae menoleh sejenak. Ia menatap wajah Hyukjae yang seperti memohon. Wanita paruh baya itu berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan.

"Asal kau tidak bermain lagi di kamar."

Hyukjae tertawa senang. Ia menggendong bada lalu masuk ke kamarnya. Sebelumnya ia berterima kasih pada ibunya yang sudah mengizinkannya.

"Dasar anak manja."

.

.

.

Senja yang indah. Tapi tidak bagi Donghae. Ia masih patah hati karena misi besar pertamanya gagal total. Kini Donghae duduk merenung di teras rumahnya. Berpikri kira-kira apalagi yang harus ia lakukan agar bisa bertemu langsung dan berkenalan dengan sang pujaan hati. Honey boy-nya. Ia mendongak menatap langit senja nan indah siapa tahu saja perasaannya akan membaik. Tapi percuma. Hatinya sudah benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Donghae menunduk, tangannya ingin meraih sesuatu di bawah kakinya tapi kosong. Bada tidak ada di dekatnya. Donghae menepuk jidatnya. Bagaimana ia bisa lupa? Tadi siang ibunya bilang jika bada sedang di rumah Hyukjae.

Ah, ya. Hyukjae. Kalau tidak salah tadi siang ibunya bilang Hyukjae sedang sakit. Dan ibunya dengan cerewet memintanya untuk menjenguk tetangganya itu. Donghae mendecih. Ia dan Hyukjae baru saling mengenal tiga hari lalu. Apa pantas jika ia mengunjungi Hyukjae yang sedang sakit? sewaktu di sekolah lamanya saja, Donghae tak pernah menjenguk temannya padahal mereka sudah berteman sejak lama. Donghae berdiri. Ia menatap rumah berwarna coklat lembut itu. Hatinya gamang antara ingin pergi dan tidak.

"Ck. Anggap saja aku hanya ingin mengambil bada!"

Donghae kemudian keluar dari pagar rumahnya dan masuk ke pagar rumah Hyukjae. Ia terdiam sejenak di tengah pekarangan. Apa yang harus ia katakana jika sudah masuk ke dalam? Ia bisa saja beralasan mengambil bada. Tapi bagaimana jika ibu Hyukjae menahannya untuk mengobrol sebentar? Donghae bukannya terlalu percaya diri. Itu bisa saja terjadi mengingat Hyukjae juga pernah di tahan oleh ibunya untuk sekedar basa-basi. Jiwa Donghae menciut. Ia sudah akan meninggalkan pekarangan rumah Hyukjae sebelum mendengar tawa lembut dari dalam rumah Hyukjae.

Tanpa sadar kaki Donghae melangkah mendekati pintu rumah Hyukjae. Pintu itu terbuka lebar sehingga Donghae bisa mendengar dengan jelas tawa lembut Hyukjae. Pelan-pelan Donghae masuk ke dalam rumah. Ia siap mengucap salam sebelum tubuhnya membeku seketika. Di depan sana, seseorang yang tiga hari ini menyita seluruh perhatiannya tengah bermain dengan bada. Tertawa riang dengan suara ringan nan lembut. Rambut madunya ia kuncir sebelah di bagian kanan. Bibir merekahnya terlihat kontras dengan deretan gigi putih yang terlihat indah dan apik. Belum lagi mata bulat sipit yang tak terbingkai kacamata. Donghae membeku. Benar-benar membeku dibuatnya. Ia yakin ini bukan mimpinya. Ia tidak sedang berhalusinasi karena patah hati tadi siang. Tidak. Kali ini Donghae yakin melihatnya dengan jelas. Sangat jelas malah.

"Ho—Honey boy?"

.

.

.

TBC