Learn and See.


Lekuk bibir bergerak kala mengulum, dan...
"Pop!"

...

"...Beri jeda, dammit!" Seruan Masamune saat menjejakkan kaki kanannya ke bidang dada Yukimura.
Namun pemuda itu tidak bergeming kala melepas kuncian sabuk zirah dan menurunkan celana panjang sebatas pinggul, berlanjut menangkap pergelangan kaki rival-nya.

"Tuan Masamune,"

Panggilan bertema menenangkan itu DITOLAK KERAS oleh Masamune. Tidak lagi! Sudah habis kesabarannya!

"Jangan men-Tuan Masamune-kanku! Sudah kubilang, TIDAK disini dan TIDAK sekarang!" Penekanannya untuk sesi seks yang dikehendaki rival-nya —Yang benar saja, di tempat 'terbuka' begini?!

Sedangkan Yukimura menarik pergelangan kaki tadi sampai rival-nya terseret jatuh merebah, langsung dikunci dengan posisi merangkap. Tidak ayal lagi tensi Masamune semakin mendidih ke ubun-ubun kepala.

"Bajingan...! Berhenti memperlakukanku seperti wanita —Aku bukan pelacurmu! Lebih baik ambil kedua tombakmu dan kita bertarung di luar —Kupastikan memotong kedua tanganmu agar kau tidak lagi dapat menyentuhku...!" Geraman berlipat-lipat kesal kala kedua telapak tangan mendorong wajah penangkapnya.

Yukimura terus bertahan, hingga tingkah penuh harga diri si 'One-Eyed Dragon' berakhir mengenainya.

"AKU MENYUKAIMU, TUAN MASAMUNE!" Bentaknya.

"GELEGAR!"

Gemuruh suara petir yang memecah langit hitam kelam seakan menambah efek dramatisasi.
Seketika itu juga dunia terasa berhenti berotasi dan Masamune... terpaku.

...

"Pop!"
Katup mulut mengukir senyum saat lidah merah muda menyisir sisi permen lolipop.

"Ah~ Akhirnya..." komentar Sarutobi Sasuke sambil memasukkan bola lolipop ke rongga mulut dan mengulumnya.

Sementara sosok Katakura Kojuro masih meremas kain jaket, rautnya terdeskripsi nano-nano.

"Aku... tidak percaya..." Pernyataan pertama Kojuro setelah sekian lama membisu —Mungkin terlalu stres karena Tuan-nya sampai sejauh itu meladeni Tuan Sanada, dan sungguh keajaiban pemuda itu masih utuh hingga detik ini.

Sedangkan Sasuke menopangkan dagu pada telapak tangan kiri sewaktu memperhatikan 'Right Eye' si 'Azure Dragon'.
"Tidak percaya di bagian mana nih?" Tanyanya mudah sambil memainkan batang lolipop.

"Semuanya...!" Jawab Kojuro penuh kontroversi.

"Ssshh..." Sasuke memberi signal peringatan agar merendahkan level suara.

Kojuro kini mengamati si ninja.
"Kau... terbiasa melakukan ini...?" Tanyanya seraya melayangkan pandangan ke sekitar, dimana sarang laba-laba banyak menghiasi siku-siku kayu penopang atap. Pastinya tempat ini cukup sempit untuk hitungan nyaman sebagai 'pos'.

Sasuke lagi-lagi menyimpulkan senyum.
"Aku adalah ninja, Tuan Katakura. Tempatku dimana saja yang... tersembunyi. Juga sudah tugasku untuk mengawasi semua keluarga Takeda, khususnya Tuan Muda Sanada, karena Anda tahu? Tidak sekali para pembunuh sekelasku dikirim oleh para pemimpin licik. Tapi..."

Bola lolipop dikeluarkan dari katup mulut, dan suara "Pop!" menyela momen jeda.

"Tidak pernah kusanggah kalau aku lebih menikmati pekerjaanku saat menemani Tuan Muda-ku yang... naive. Pemuda itu seperti gulali, semakin digoda akan semakin manis." Lanjutnya penuh intrik.

Tentu Kojuro mengangkat kedua alisnya.
"Tunggu. Kau pun..." kalimat digantung begitu saja saat Sasuke tertawa kecil.

"Aku 'lurus', Tuan Katakura." Sahutan si ninja sembari menjilat sisi bola lolipop.
Namun entah kenapa... Kojuro merasakan kata: 'tapi'. Dan benar saja, Sasuke membuka mulut kembali.

"Meski aku selalu fleksibel."

Kojuro pun menatap datar.

"Mau?"
Tiba-tiba lolipop disodorkan si ninja.

"Gak. Sudah bekasmu 'gitu..." kata Kojuro tanpa embel-embel tata kalimat formal.

"Ah~ Sayang sekali aku hanya ada satu— Oh ya, satu lagi, di 'bawah'..." goda Sasuke.

Ekspresi Kojuro beralih dongkol.
"Kalau bisa kutebas, aku akan sangat menikmatinya." Balasannya mengandung kaidah ancaman. Berharap si ninja menutup topik homoseksual di antara mereka, karena melihat Tuan-nya saja sudah memberikan skor trauma. Apalagi sampai menjalaninya...

"Aw~ Invitasi Anda sungguh menarik, Tuan Katakura~" Sasuke semakin hobi menggoda.
"Berarti kapan-kapan aku bisa bermain sedikit 'kagebushin' dan 'genjutsu' pada Anda dan Tuan Masamune. Pasti menyenangkan~" Imbuh selayaknya tantangan.

Kojuro kini memicing. Kilau pada kedua iris si ninja menunjukkan keyakinan. Sedangkan kisah sewaktu acara 'Takeda's Men Extravaganza' sudah memberikan gambaran padat bagaimana kemampuan si Sarutobi Sasuke.
Saat hendak membuka mulut untuk menimpal... mendadak suara erangan Tuan-nya terdengar, otomatis mengembalikan fokusnya.

Di bawah...
Terlihat bahwa situasi balik ke mode versus, dimana Tuan-nya sedang berupaya bertahan tepat kedua kaki dibuka paksa oleh Tuan Sanada, dan jemari tangan kanan pemuda itu telah meraih—

"Pop!"

"Hentikan itu...!" Bisik Kojuro pada Sasuke yang asik dengan lolipop.

...

"NGGH!"

Masamune menggiris seketika ukuran ujung ibu jari menguak pusat kerut dubur.
Tangan kanannya tetap memalang sebagai batas antara wajah, sementara tangan sepasangnya memegangi tangan kanan rival-nya agar tidak bertindak jauh. Dan sia-sia... Yukimura kini memasukkan jari tengah,

"F— AHH...!"

...Memaksa tubuhnya merenggang karena rasa-rasa mengganjal yang menyelami saluran anus.

"Bangsat... berkata seperti itu dengan momen begini..." geramnya, rasanya ingin menyikut wajah rival-nya.
Tapi sekali lagi, tapi... Jari yang menggesek dinding-dinding anus memberikan intensitas tersendiri, membuat distraksi sepanjang merasakan pergerakan yang mencari kedalaman.
Sejauh menolak... Seketika Yukimura menemukan 'spot', Masamune reflek membuka lebih kedua kakinya nyaris serupa undangan; pemuda itupun mengimbuhi isi dengan jari telunjuk,

"...U-uhh..."

...Membuatnya stres memilah rasa, mana yang tergolong 'harga' dan mana yang tergolong... 'cinta'.

"Aku menyukaimu, Tuan Masamune..." ulang Yukimura kembali saat mendorong kedua jarinya menghentak dalam, sebelum menariknya tipis selayaknya mengulur.

"...Kau..." geram Masamune seketika jemari merenggut jaket merah rival-nya.

Sementara gemuruh kilatan-kilatan petir yang sesekali lewat di antara kumpulan awan-awan mendung adalah pertanda badai mulai mendekat.

Pandangan Yukimura menjadi sayu menyadari perlawanan keras berlambang penolakan dari rival-nya.
"Setiap kali melihatmu... kamu yang selalu mencari lawan terkuat setara dewa, kamu yang membuat darahku memanas dengan kemelut rasa, kamu yang terus menatap perbatasan angkasa... Dan sekarang, mendapatkanmu di hadapanku seperti ini..." Jeda kala menatap wajah tampan di hadapannya...

"Aku tidak akan mundur lagi...!" Lanjutan untai kata setara sumpah, seiring menggerakkan kedua jari masuk kembali.

Sungguh... serius.

"...A-arghh...! Berhenti bicara soal perasaan denganku; mempersalahkanku... Tch... Bicara sama ember sana di pojokan— Anh-h...!"

Erangan-erangan rancu Masamune semakin membakar gairah Yukimura; kini jari manis pun diikutkan.
Sementara Masamune sendiri terlalu terokupasi oleh perdebatan ego sehingga tidak menyadari bahwa lubangnya telah dipersiapkan dengan baik; basah, sangat basah.

"Perasaanku... hanya untukmu, Tuan Masamune." Ungkap Yukimura tepat menarik ketiga jarinya dari pendam, dan Masamune menggeratkan baris gigi tepat kepala batang kemaluan rival-nya ditempatkan.
"Seluruhnya..." lanjutnya seketika batang didorong melesat memasuki rongga.

"...AHHH!" Teriak Masamune seketika keseluruhan ukuran panjang terpendam dalam; mengoyak raga, membelahnya... meretakkan keseluruhan ego-nya.

Butiran-butiran hujan berjatuhan dari langit, membasahi semua kawasan yang terbuka... Juga keduanya.

"Oh- OHH...!"

Teriakan seterusnya yang keluar dari mulut Masamune segetir menelan potongan buah simalakama; mengikis... menghancurkan segalanya dari dalam seiring Yukimura mencengkeram kedua paha dan memulai alur persetubuhan sekasar binatang.

...

"Pop!"

Kojuro sudah tidak tahan lagi, langsung menyabet lolipop dari pegangan si ninja.
"Kau ini..." geramnya kala meremas permen itu.

Sedangkan Sasuke membalasnya dengan senyuman manis.
"Tampaknya Tuan Muda-ku sedikit keterlaluan, eh?" Komentarnya saat mengamati kepingan-kepingan permen yang berguguran.

"..." Kojuro mengerti persamaan konotasi yang terselip sepanjang poin sorot kedua mata si ninja.

"Tapi memang, terkadang... cinta itu buta." Pernyataan lanjutan si ninja sambil mengalihkan pandangan ke adegan di bawah.

Kojuro memejam erat sejenak, sebelum jemari tangan kirinya berakhir memegang gagang pedang.
"Cukup. Aku akan kesana dan menyudahi pelecehan ini," ucapnya saat merangkak maju mendekati lubang plafon.

Sasuke segera menahan, "Lalu, Anda akan mengabaikan perasaan Tuan Masamune semudah itu? Tidakkah Anda melihat bagaimana posisi Tuan Anda yang saat ini berada di bawah Tuan Sanada yang seharusnya setara rival?"

"..." Kojuro lagi-lagi... terpaksa mengerti.

"Lagipula sudah saatnya, bukan? Seorang 'One-Eyed Dragon' dari Oshu untuk menentukan sikap terhadap pemuda yang sekarang sudah menjadi penerus gelar 'Tiger of Kai'."

Pertimbangan dari Sasuke tersebut sejelasnya membuat Kojuro terkejut.
"Tunggu. Kau berharap situasi ini akan menjadi cikal-bakal awal dari... aliansi?" Tanyanya tidak percaya.

Sasuke kini menyeringai.
"Menurutmu, kenapa ruangan yang keadaannya telah hampir tanpa privasi seperti itu... tetap jauh dari interupsi?" Balasnya.

"...!" Kojuro langsung melemparkan perhatian ke situasi di bawah, sehingga tidak menyadari si ninja telah mendekati sisinya.

"Dan tugasku selama itu adalah Anda, Tuan Katakura..." bisik Sasuke pada telinga kanan si samurai.

Sebelum Kojuro bereaksi menarik pedang, Sasuke menekankan sisi tajam bilah kunai pada siku antara dagu dan jenjang leher.
"Ssshh..." bisik Sasuke dikemudian, penuh kaidah menggoda.

"Kau... Tuan Besar-mu sungguh licik..." sinis Kojuro.

Sasuke semakin melebarkan seringai.
"Tidak se-frontal itu. Namun taktik... Seperti kalimat Tuan Muda-ku, 'hanya memanfaatkan celah yang ada'; selama berada di dalam aturan, tentu. Dan kami tidak pernah meremehkan Tuan Anda."

Pernyataan itu lebih dari cukup untuk membungkam 'Right Eye' si 'Azure Dragon'.

...

"...AAHH! AH!..."

Suara teriakan Date Masamune masih mengisi ruangan kamar yang separuh hancur.

"Clack...! Clack...!"

Suara pertemuan antara kulit tubuh beserta suara kecipak air terus mengiringi di selanya, dan gemuruh sambaran-sambaran petir tidak berhenti menaungi derasnya air hujan.

"...AH-H! Slow, dammit— Ohh-h...!"

Erangan bernada perintah dari Masamune tetap diacuhkan oleh Yukimura yang tetap menggerakkan pinggul, membawa batang kemaluannya untuk tetap memacu dalam dan dalam. Semakin serba salah... Masamune tetap mengerang penuh konfrontasi, menggeliat sekaligus mengimbangi.
Ini mungkin contoh pembukaan bab kisah asmara terburuk sepanjang masa, bagi keduanya. Semakin buruk... dengan kenikmatan yang menjalar tepat Yukimura mengenai 'spot' berulang dan berulang kali, Masamune tetap tidak dapat menahan diri untuk menghentak balik. Bahkan kini mengalungkan tangan kanannya pada punggung pemuda itu agar mengunci poros.

"...Tuan Masamune...! Ahh...! Nnh...!"

Erangan Yukimura kala meremas kedua paha rival-nya tepat maju menindih untuk memperoleh kehangatan antara tubuh secara maksimal...
Dan Masamune mencakar punggung pemuda itu seketika pinggul ke bawahnya terangkat.

"...NGHH! Nhhh- Ohh-mmmff...!"

Erangan Masamune beralih protes begitu Yukimura menangkap mulutnya, menghujamkan lidah dan mengait lidahnya... memaksa perputaran oksigen menjadi terbatas. Sepanjang itu, gesekan pada kulit barang kepemilikannya terhadap pak otot perut rival-nya tidak disanggah membawanya drastis menjajaki tangga kenikmatan.

'...Sanada...Yukimura...' Membatin saat mata kirinya memicing; terpaksa membuka mulutnya untuk keleluasaan melayani ciuman.

Gerakan Yukimura semakin cepat, memburu atau... sedikit terburu-buru karena kontraksi apit dari saluran anus yang mengalungnya ketat, membuainya seakan bercinta dengan gadis perawan.

"...G-ahh haa...!"

Sementara Masamune menjambak rambut rival-nya untuk memutus ciuman sewaktu—
"...Oh- Oh- Ohh shit—" Dan memejam erat tepat gerakan merajam di kesekian kalinya menaruh limit,

"AHHH!"

Kedua tangan Masamune memeluk leher Yukimura di detik ejakulasi keduanya, hampir berbarengan saat Yukimura memejam erat di detik klimaks.

...

"Ah~ Berakhir cepat."

"..." Kojuro menggeratkan baris gigi atas komentar si ninja, juga tersebab menyaksikan lelehan air mani yang mengalir berantakan pada perut dan yang merembes dari sela-sela penetrasi pada lubang anus milik Tuan-nya, dimana hasil kesimpulan disana sangatlah jelas: Date Masamune sudah takluk di tangan Sanada Yukimura.

"Kalian benar-benar kotor, menggunakan Tuan Masamune seperti itu..." geram Kojuro seketika melirik setajam pisau ke Sasuke yang sedaritadi masih memasang senyum menyebalkan.

"Sudah kukatakan, kami tidak pernah meremehkan Tuan Anda," sahut Sasuke sambil menekankan bilah tajam kunai pada kulit.
"Justru kebalikannya..."

Kalimat lanjutan itu membuat Kojuro terhenyak.

Lalu Sasuke mendekatkan bibir pada daun telinga kanan kala meneruskan,

"Ini pelajaran tentang harga."

"PLAK!"

Suara tamparan keras menggema dari celah lubang.

"...!" Kojuro pun menghibahkan fokus ke adegan di bawah.

...

Yukimura membelalak kosong saat memar membekas di pipi kirinya.

Sementara air hujan tidak kunjung reda mengguyur keduanya, dan setiap butir terus mengalir jatuh dari ujung-ujung rambut beserta pakaian yang basah kuyup.

"...Ya. Selamat, brengsek."

Utaraan Masamune di tengah sengal. Posisinya kini setengah duduk dengan satu tangan menopang. Sedangkan tangan sepasangnya...

"Dan baru saja adalah harga bagimu," lanjutnya selayaknya ungkapan sejijik racun.
"Mulai detik ini, 'kau' dan 'aku', hanya akan terjadi di medan perang. Dan pada saat itu, temanku. Akan kulimpahkan korban atas namamu dan menyelesaikanmu dengan kepalamu di ujung keenam pedangku. Itu... adalah harga bagi kita."

"..." Yukimura perlahan menoleh ke wajah rival-nya yang menampilkan ekspresi sedingin es. Kilau iris kuning pada mata kiri itu terasa membelah sukma, dan tamparan tadi yang tersebut 'harga' baginya benar-benar tercap jauh ke lubuk dada... menoreh hatinya.

Lalu kalimat terakhir itu...

Begitu Yukimura secara gusar hendak membalas kata—

"UWWWWOOOOOOO!" Gelegar suara menyela bersama penampilan sesosok orang yang melesat jatuh dari langit, dan—

"WOOOOOSH!"

Beliung angin langsung membawa terbang semua jenis air tepat sesosok orang itu mendarat mulus bersama senjata kipas serupa kapak besar.

Begitu Yukimura mengenali penampakan pakaian beserta rupa khas si sosok, kontan membuka mulut,
"Tu-Tuan Shin—"

"APA YANG KAU LAKUKAN... YUKIMURAAAAAA!" Potong Takeda Shingen disertai tinju secepat kilat yang bersarang telak pada pipi kiri anak didiknya, dan—

"UAAAAAAAAAA...!"

Teriakan Yukimura menghilang seiring tubuh pemuda itu terbang melabrak tembok... hingga tembok berikutnya... masih tembok berikutnya lagi... sampai tembok terjauh.

Kemudian Takeda melirik ke sosok yang sedang membenahi kimono.
"Kau mau pergi?" Tanyanya.

"Aku bukan tahananmu." Sahutan datar Masamune saat beranjak berdiri sedikit tertatih; memunggungi si pemilik rumah.

"Hm." Senyuman tipis terbentuk di wajah Takeda sewaktu lawan bicaranya berjalan pergi di tengah derasnya air hujan.
"Bisa kulihat, apa yang membuatnya tertarik padamu. Kau yang selalu memilih untuk bertarung sendiri... tanpa hati, selain ironi. Bahkan hingga detik ini."

Masamune menghentikan langkah, dan kilatan petir yang memecah langit hitam kelam menerangi partial wajahnya.

Mengetahui si 'Azure Dragon' kini menaruh atensi, Takeda pun melanjutkan,
"Begitu juga dengan Yukimura, hanya saja hati dan ironi adalah kebalikanmu. Dan kalian berdua sama-sama merasa diri adalah samurai."

"Heh." Decak Masamune.
"Jika kau ingin berkata bahwa aku dan dia saling melengkapi, itu adalah salah besar. Dan seharusnya kau menjodohkannya dengan wanita ketimbang diriku —Jangan sangka aku tidak tahu kalau kau sengaja membiarkannya sejauh ini.
Pastinya satu hal yang harus kutekankan padamu: Aku tidak akan membawa masalah pribadi ke proyek aliansi." Terangnya dengan intonasi dingin.

"Hahaha. Begitu." Ucap Takeda secara bercanda, sebelum sekejap beralih serius.

"Membawa korban dalam pertaruhan harga di antara kalian, berarti perang. Namun kupertegas, hanya di antara kita: Aku tidak keberatan menaruh kepala anak didik-ku sebagai simbolisasi, baik pada kepentingan pribadi maupun proyek aliansi. Meski begitu, bagaimana dengan tingkat ironi jika kau berdiri tanpa matahari?"

Masamune memejam sejenak untuk menelaah perumpamaan tersebut.
"Hmph. Kau mencampuri terlalu banyak. Aku tidak pernah menyesali pilihanku, dan ada baiknya kau bersikap sama: Biarkan dia sendiri yang bicara —Itu kalau kau rela," jawabnya disertai senyuman tipis, dan cercah kilau petir yang sekilas tampil kala mata kiri kini melirik lawan bicaranya... sama sekali bukan inisiatif tantangan.

Lalu Masamune memanggil 'Right Eye'-nya. "Kojuro! Kita pergi!"

Sedangkan Takeda mendesah panjang.
Belum lama dirinya menaruh anak didiknya sebagai penerima gelar 'Tiger of Kai', dan sekarang...

'Harga, huh...?' Pikirnya selama memperhatikan sosok si 'Azure Dragon' yang lagi-lagi terlihat menyimpan semua perasaan di balik topeng cool.


TBC...


A/n: ah Yukimura... *lol*

Tq reviewnya *hugs*
tsuki-san: hahaha. Awalnya saya malah pikir kalau ide 'luka' dan 'harga' terlalu klasik *tawa getir*. Tapi thx sekali~ *hugs sekali lagi* XD