Yuhuuu... saya bawa chapter 4.

Maap ya, udah bikin reader nunggu *ke PD-an*. Mohon maap bila chapter ini terkesan jelek, membosankan, atau sebagainya.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina, SaiHina

Warning : AU, OOC,

Last chapter :

...Karena aku membencimu Sasuke. Membencimu." Ucap Hinata panjang lebar. Sepertinya ia sudah benar-benar menemukan kebencian di hatinya untuk Sasuke. Dan menutup hatinya rapat-rapat untuk Uchiha yang terlihat sedih di hadapannya ini.

"Jangan ikuti aku." Setelah berkata demikian, Hinata pergi meninggalkan Sasuke untuk pulang menuju flat Sai.

Sasuke masih berdiri terpaku di tempatnya tadi. Hatinya sakit, melihat kebencian wanita itu terhadapnya. Hatinya terasa tersayat, mendengar pengakuannya bahwa gadis itu membenci dirinya dan sudah tidak mempercayainya lagi. Hatinya terasa tercabik-cabik, mendengar kalau gadis itu telah menemukan pria lain di hatinya yang pastinya lebih baik dari dirinya.

'Ia benar-benar membenciku..' pikirnya sedih.

.

-Karena Cinta Dan Balas Dendam-

Chapter 4

.

.

CKLEK

Suara kenop pintu yang dibuka oleh seorang pemuda berambut hitam dari luar. Pria terserbut memasuki flat miliknya itu dan menutup pintu bercat hitam itu kembali.

Sang pemuda yang baru memasuki flat mungil miliknya ini langsung disuguhkan dengan pemandangan ganjil di hadapannya. Pemandangan ganjil itu, tak lain dan tak bukan adalah seorang wanita berambut panjang yang tengah duduk di sofa yang membelakangi pintu masuk.

Memang sebenarnya tidak aneh, melihat Hinata yang sedang duduk di sofa. Tapi auranya itu yang agak berbeda. Entah apa yang berada di pikiran wanita tersebut. Sang pria tidak bisa menebaknya. Wanita itu tidak menoleh ke arahnya. Wajahnya seperti apa kini, tak terlihat. Yang terlihat hanya sebagian rambut panjangnya yang tidak terhalangi sandaran sofa.

Apa yang telah terjadi dengan wanita tersebut? Ia sendiri tak tahu. Yang pasti setelah ia meninggalkannya di jalan untuk pulang sendirian ketika ia mendapat panggilan dari bosnya, ia rasa wanita itu baik-baik saja. Ia yakin, wanita itu tahu kalau ia sudah pulang. Tapi kenapa ia diam saja? Apa ia tertidur? Ah.. tidur pada sore hari bukanlah kebiasaan gadis berambut indigo itu. Apalagi dalam posisi duduk di sofa seperti ini.

Ataukah.. melamun?

"Tadaima!" seru Sai, berharap sang gadis yang tengah duduk membelakanginya itu tersadar dari lamunannya.

"Okaeri.." jawab gadis itu lesu. Suaranya seperti ogah-ogahan untuk menjawab seruan Sai barusan. Benar kan, ada yang berbeda dari gadis itu. Dan satu lagi, gadis itu sama sekali tidak menoleh, apalagi berbalik menghadapnya.

Sai melepas sepatu yang sedari tadi melekat di kakinya, dan menaruhnya di rak. Lalu melepas jeket hitam yang dikenakannya dan di gantungkannya. Setelah itu, melangkah mendekati sofa tempat gadis itu dan duduk di lahan kosong di sampingnya. Ia menghela napas melepas lelah, kemudian bertanya pada sang gadis yang tengah menatap televisi yang hanya menyuguhkan warna hitam itu dengan hampa.

"Kamu kenapa Hinata?" Tanya Sai lembut seraya memiringkan kepalanya heran. Menatap gadis di sampingnya yang kelihatan tidak memiliki semangat hidup.

Sang gadis yang ditanya tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari televisi yang tidak dinyalakannya. Ia menghela napas panjang, setelah itu memejamkan mata lavendernya perlahan. Mencoba mengingat memori sebelum kepulangan gadis itu menuju flat calon suaminya ini. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, setelah itu menjawab, "Tadi aku bertemu Sasuke," jawabnya pelan, masih memejamkan matanya.

Sai tertegun sesaat. Hinata membuka kelopak matanya perlahan, lalu menengadahkan kepalanya. Mata lavendernya menatap langit-langit rumah. Mencoba menerawang kejadian yang membuat hatinya merasa tersayat kembali ketika menatap mata seorang pemuda berambut raven yang ia coba untuk benci.

"Lalu?"

"Ia mengajakku pergi dari kota ini. Ia bilang, ia bersedia bertanggung jawab." Jawab Hinata masih menatap langit-langit kosong yang haya diisi oleh satu buah bola lampu.

Lagi-lagi, Sai tertegun mendengarnya.

"Bukannya itu bagus? Bukankah ini yang kau inginkan?" Tanya Sai lagi, seraya mengelus helaian indigo rambut sahabatnya. Hinata memalingakan pandangannya menatap pria di sampingnya yang tengah mengelus halus rambutnya. Sorot mata wanita itu terlihat bingung. Terlihat dilema tentang apa yang diputuskannya ketika pria yang hampir menabraknya tadi siang mengajukan penawaran untuk bersedia bertanggung jawab atas kandungannya. Ia tidak bisa melakukannya. Rencana sudah terlanjur dilaksanakan. Ia juga telah terlanjur sakit dan telah mempercayakan seutuhnya masa depannya pada pria berambut hitam yang kini tengah menatap mata lavendernya. Sai.

Begitu banyak kejutan yang ia terima hari ini. Rasanya ia seperti dilamar oleh dua pria sekaligus. Ia mencintai Sasuke, tapi ia juga membencinya. Sementara Sai, ia baik, perhatian. Tapi.. apakah ada sesuatu di balik semua ini? Apakah ia melakukan semua ini dengan tulus? Rasanya.. ia terlalu baik jika melakukan semua ini secara cuma-cuma.

Hinata tahu, Sai selama ini juga hanya menganggapnya sebagai sahabat. Atau mungkin lebihnya sebagai seorang adik. Selama ini Sai juga tidak pernah mengatakn bahwa ia mencintai Hinata. Yang Sai katakan hanya bahwa ia bersedia menikah dengan Hinata, juga bersedia menjadi ayah dari bayi di kandungannya. Tapi bukan berarti dengan begitu ia mencintai Hinata seperti layaknya Adam mencintai Hawa kan?

Yang ia tidak mengerti, kenapa Sai sampai segitunya membela dan menolong Hinata setelah wanita itu menceritakan kejadian yang membuatnya terpuruk. Padahal, ia sendiri tidak mencintainya? Mungkin hanya sayang. Untuk apa ia berkorban sedemikian keras hanya untuk membantu orang yang tidak dicintainya? Walaupun sayang itu juga bermakna besar.

Kalaupun ada maksud tertentu, Hinata tak peduli. Yang ia inginkan kini hanyalah menuntaskan perintah terakhir ayahnya. Membalas dendam pada Uchiha. Walaupun ia harus mengorbankan cintanya pada salah seorang diantara beberapa orang yang bermarga Uchiha. Walau ia mencintainya, walau orang itu juga mencintai dirinya. walau ia tidak tahu, apakah yang dikatakan Sasuke tadi siang itu serius, atau hanyalah sekedar tipu daya Uchiha untuk ke sekian kalinya. Ia tidak boleh bertindak sembarangan. Rencananya juga sudah bulat, yaitu balas dendam.

"Tidak," jawabnya seraya menggeleng pelan.

"Mengapa?"

"Kita sudah terlanjur melaksanakan rencana kita. Lagipula kau juga sudah membantuku sampai sejauh ini. Aku tidak mungkin menghancurkannya hanya demi Uchiha penghianat itu," Ucap Hinata dengan tegas. "Kau sudah berusaha sampai sejauh ini, Sai.. aku tidak mungkin menyia-nyiakannya." Lanjutnya mantap.

.

-o.o.o.o-

.

"Bagaimana? Kau sudah mengetahui info tentang gadis itu?" tanya seorang pria bermata onyx yang menatap pria berambut silver di hadapannya.

"Ya, dugaan anda benar, Sasuke-sama. Wanita berciri-ciri sama seperti yang anda deskripsikan, memang sudah tidak tingal di rumah Hyuuga Hiashi. Ia sekarang tinggal di gedung flat di daerah utara kota Tokyo. Ia tinggal bersama seorang pria bernama Sai, yang bekerja di studio foto Tarakima. Mereka tinggal di flat bernomor 14." Jelas Suigetsu, bawahan yang paling Sasuke percaya.

"Terimakasih Suigetsu. Kau memang bisa ku andalkan." ucap Sasuke, seraya mengeluarkan segepok uang yang dibungkus dengan amplop coklat dari dalam tasnya dan mengulurkannya pada Suigetsu. "Sama-sama, bos. Tidak usah sungkan untuk meminta bantuanku.." balas Suigetsu, seraya menerima amplop dari Sasuke, dan menciumnya. Tak lupa juga menyeringai, menampakkan gigi-gigi runcingnya. Sasuke tersenyum puas akan hasil kerja Suigetsu. Suigetsu memang selalu mengerjakan tugasnya dengan baik.

"Aku akan terus setia padamu, Sasuke-sama."

.

-o.o.o.o-

.

Seorang pria berambut raven menyusuri koridor sebuah gedung flat dengan langkah gontai. Tidak terlalu buru-buru karena ia sudah tahu, di mana tempat orang yang sedang ia cari kini. Kedua telapak tangannya ia selamkan pada saku jaketnya, menambah kesan santai dan cool.

Direktur yang satu ini memang sedang berpakaian casual sekarang. Ia memakai kaos putih, dengan jaket hitam yang lengannya ia gulungkan sampai ¾, dan celana jeans biru panjang.

Ia tudungkan jaket yang ia pakai, menutupi rambutnya yang mencuat dan agak mencolok itu. Meminimalisir jika sampai ada orang yang mengenalnya, atau ada bawahannya di kantor yang bertempat tinggal di gedung flat yang sama.

Mata onyx yang dilapisi kacamata hitam itu, menatap nomor yang tertera di setiap pintu yang ia lewati. Selama ia berjalan, ia terus mengucap satu nama dalam hatinya. Bagai mantra yang dapat membuatnya mencapai kebahagiaan abadi dalam hidupnya. Ia terus menggumamkan nama tersebut.

'Hinata'

Ia terus menulusuri angka yang tergantung di depan pintu yang semakin dekat dengan angka yang ia cari.

12,

13,

...

14

Dan kini, angka yang ditunggunya muncul juga.

Ia telah sampai. Sebuah flat bernomorkan 14. Tidak salah lagi. Ini pasti flat milik pemuda yang tinggal bersama Hinata itu.

Sebuah seringai tersungging di bibir sang Uchiha. Pria yang tinggal bersamanya pasti sedang bekerja. Otomatis, wanita itu kini hanya sendirian di flat ini. Satu tangannya, ia keluarkan dari dalam saku. Diangkatnya tangan itu untuk mengetuk pintu bercat hitam tersebut.

Tok tok tok

Diketuknya tiga kali.

...

Tak ada jawaban. Tak terdengar suara langkah lembut dari kaki seorang wanita yang ia harapkan untuk membuka pintu bercet hitam ini untuknya.

Tok tok tok!

Ia coba lagi mengetuknya lebih keras.

...

Sial. Tetap tak ada jawaban.

"Urgh!" ia menendang kesal pintu bercat hitam itu. Wanita yang diharapkannya tidak ada. Dengan langkah gusar, ia meninggalkan tempat tersebut. Hentakan kakinya yang keras, menggema di sepanjang lorong yang ia lewati. Ia berjalan menuruni tangga yang menghubungkannya dengan lantai satu, dan keluar dari gedung flat tersebut. Memasuki mobil yang terparkir rapi, dan menutupnya dengan kasar.

Seketika, ia melesat menuju tujannya yang selanjutnya. Mungkin rencananya ini akan agak tersendat bila Hinata berada di tempat tersebut. Dan di tempat itu, ia tidak mungkin sendiri.

Studio foto Tarakima.

.

-o.o.o.o.o-

.

"Baiklah.. lagipula pekerjaanmu sudah selesai, sekarang kau boleh pulang. Tapi jangan lupa, nanti kau harus mengundangku!" Ucap Kabuto, seraya tersenyum kecil pada bawahannya. Ia menepuk pundak pemuda pucat yang tengah membenahi kameranya kedalam tas.

Hari ini Sai meminta ijin untuk pulang lebih awal. Dikarenakan ia dan Hinata akan mempersiapkan pernikahan. Membeli cincin, jas, gaun, kartu undangan, dan lain-lain.

Sebenarnya pernikahan akan dilaksanakan secara sederhana. Ia juga hanya akan mengundang orang-orang terdekat saja. Otomatis jika Sai menikah, ia menghentikan kegiatan kuliahnya dan fokus terhadap Hinata, dan pekerjaannya.

Sai hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Kabuto barusan. "Terimakasih, Kabuto-san. Kami pasti mengundangmu." Ucap Hinata yang ikut menemani Sai selagi Sai bekerja tadi. Ia merasa bosan, karena ia terus berada di flat selama seharian. Untuk itu, ia memutuskan untuk berkunjung ke tempat kerja Sai. Mungkin di sana ada yang bisa ia kerjakan sekaligus membantu Sai.

"Kalau begitu, kami pulang dulu." Pamit Sai, seraya keluar dari studio foto milik Kabuto itu.

Hinata keluar lebih dulu daripada Sai, yang masih membereskan tasnya. Setelah Sai menutup rel sleting tasnya, ia mengikuti Hinata yang tengah berdiri di depan studio. Masih mematung di depan studio, Sai bertanya.

"Jadi kita akan kemana dulu?" tanya Sai menatap Hinata yang berdiri di sampingnya.

"Bagaimana kalau beli cincin dulu saja." Usul Hinata.

"Hn, baikalah."

Mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju ke sebuah toko perhiasan di dekat studio foto tersebut. Wilayah di sekitar situ memang ramai. Ada banyak mall, dan gedunng-gedung tinggi. Tentu tidak sulit jika hanya mencari sebuah toko emas di wilayah itu. Jalan kaki sekitar lima menit juga sudah sampai.

.

-o.o.o.o.o-

.

Sebuah mobil sport berwarna merah, berhenti di depan sebuah bangunan.

Diturunkannya kaca jendela mobilnya sampai habis oleh si pengemudi yang belum beranjak dari kursi kemudinya. Kepalanya ia julurkan keluar dari jendela mobil. Menatap bangunan yang berada di sebelah bangunan tempat ia berhenti. Melepas kacamata hitam yang ia kenakan, untuk melihat lebih jelas papan plang yang terpasang di depan bangunan sebelah itu. 'TARAKIMA PHOTOS'.

'Tidak salah lagi.' Batinnya.

Seketika ia tersentak, dan memasukkan kembali kepalanya ke dalam mobil. Dipasangnya kembali kacamata di genggamannya. Melihat seorang wanita yang keluar dari pintu studio foto tersebut yang terbuat dari kaca. Sasuke menatap gadis tersebut tak berkedip.

Pompaan darah dari jantungnya terasa semakin kencang tatkala melihat gadis yang tengah memakai baju lengan pendek berwarna putih, dan rok hitam selutut yang di kenakannya, sungguh cantik. Hatinya kembali bergumam saat melihat mata lavendernya, rambut indigonya, dan seluruh aksen yang membuatnya terbentuk menjadi seorang..

'Hyuuga Hinata.'

Kali ini ia tersentak lebih keras dari sebelumnya. Seorang pria berambut Hitam ikut keluar dari studio foto tersebut dan berdiri di sebelah Hinata yang sedang memberikan senyum pada pria tersebut.

Hatinya terasa mengkerut. Sakit. Karena wanita yang selalu mengisi relung hatinya itu tengah bersama pria lain. Pria yang kemungkinan besar adalah pria yang diakui Hinata sebagai calon suaminya itu. Miris, tercabik, tersayat.

Baru kali ini Sasuke merasa sesakit ini. Paru-parunya serasa diremas. Sesak.

Ia melihat Hinata berbicara sebentar dengan pria tersebut. Dan mereka berdua melangkah bersama.

Kemana arah tujuannya? Ia tidak tahu. Yang pasti bukan ke arah flat tempat Hinata bernaung kini. Kearah yang berlawanan.

Uchiha Sasuke, kembali menghidupkan mesin mobilnya. Memajukannya perlahan, agak jauh di belakang mereka berdua, agar mereka tidak curiga karena Sasuke membuntutinya. Tak lama di perjalanan, kedua orang itu memasuki sebuah toko.

Ya, toko perhiasan.

Sasuke melihat mereka berdua dari kejauhan. Memilah perhiasan yang sepertinya cincin, dan satu pasang.

Harusnya ia yang berada di situ. Harusnya ia, yang menemani Hinata. Harusnya cincin yang tengah dicoba oleh pria yang bersama Hinata itu untuknya. Seharusnya dirinya.. bukan pria itu.

Andai saja, ia bisa mengulang waktu. Harusnnya ia menolak permintaan ibunya untuk membuat Hyuuga menderita. Perasaan yang sebelumnya hanya ia buat-buat utuk memikat hati Hinata, karena pada dasarnya, ia hanya diperintah. Ia hanya diperalat oleh ibunya sendiri.

Lama-lama, perasaan yang hanya ia buat-buat itu berubah seiring perhatian dari Hinata. Senyum bak bidadari yang dapat meluluhkan hati kerasnya. Hingga persaan itu berubah menjadi cinta yang seutuhya. Cinta yang tak lagi palsu. Berbagi senyum tulus, berbagi peluk hangat, berbagi cium mesra,

Ahh.. sakit rasanya ketika ia kembali ke masa kini. Di mana semuanya telah berubah drastis. Bukan lagi masa lalu yang indah, hanya ada rasa sakit, iri, rindu, dan penyesalan.

Kesalahan besar yang telah ia pebrbuat, tak mungkin bisa dimaafkan oleh Hinata. Apa mungkin ia harus rela melepas Hinata demi kebahagiaannya?

Tangan putih Sasuke meremas stir mobil dengan perasaan geram. Kedua rahangnya di tekan. Bibirnya yang bergetar mengucapkan sebuah kalimat.

"Bila kau akan jauh lebih bahagia bila tanpa aku, aku rela melepasmu."

.

Apa itu berarti kau menyerah, Sasuke?

Kehidupan memang telah jauh berbeda kini.

Bila perasaan Hinata juga telah berubah terhadapmu, tapi kau lupa menyebutkan satu hal. Satu hal yang tak akan pernah diubah sampai kapanpun.

.

.

Calon bayi yang ada di kandungan Hinata adalah darah dagingmu.

Dan itu abadi.

.

.

.

TBC

.

.

Hai semua... sudah berapa lama saya gak apdet?

Hari ini saya kembali. sekali lagi maaf bila tidak memuaskan.

Dan, maaf bila saya nanti apdetnya lama lagi. Maklum lahh.. sibuk sama ekskul di sekolah.

ripiu buat yang g login:

Hyuuga Nii, blossommeans, Lollytha-chan: yup ini udah apdet!

Hyuga Haura: aku jga dkung sasuhina ^^

Vipris: iya nih, sibuk berat! *sok sibuk*

hehehe.. semuanya, ripiu lagi ya...

Kritik, saran, flame juga boleh.

Review yaaa...