Title : Because you love me, Chanbaek ver
Couple : ChanBaek, JongMin/XiuChen dan couple baru HoMin..(maaf kalau ga suka..)
Meski judulnya sama tapi cerita sangat berbeda dan tak berkaitan..
. . .
Maaf sebelumnya untuk yang minta NC, aku ga bisa bikin NC dan aku masih belia.. ratingnya juga aku isi Teen.. hehe^^
. . .
Aku ingin memberikan penjelasan terlebih dahulu, biar kalian ngerti nanti bacanya..
Shaman itu seorang yang bisa berhubungan dengan roh, jiwa dan raga. Dulu Korea menganut agama shamanisme. Dan mereka termasuk bagian terpenting dalam kerajaan. Ada yang tau The Great Quen Seondeok atau The Moon that Embraces the Sun. Di drama itu ditunjukkan kalau mereka sangat penting. Tapi walau begitu mereka tetap dianggap kelas rendahan *cheonsanim/budak. Seorang shaman berbeda dengan indigo atau sixth sense karena mereka bisa berpindah-pindah raga dan sebagainya..
Biasanya shaman itu wanita.. contoh shaman modern ada di Master of Sun. Kurang lebih kehidupan mereka kaya gitu. Setiap saat dia bisa kerasukan dan tiba-tiba udah ada dimana gitu, ditempat roh itu membawa tubuhnya. Jadi jarang ada yang mau menikah dengan mereka. Dan kemampuan itu selalu di turunkan.. terkadang mereka bisa lihat masa depan, juga menyembuhkan.
. . .
Chapter 3
A shaman
Happy nice reading^^
. . .
. .
.
Sepulang dari gibang, Chanyeol langsung masuk ke kamarnya. Menghempaskan dirinya ke ranjang sekuat-kuatnya..
"Ahhh . . ."
Chanyeol mengeluarkan semua emosi yang sudah tertahan semalaman kemarin. Jujur, wanita cantik dengan tubuh yang .. Aw . … WANITA ITU tidur disamping nya!
Ohhhh . . . TIDAK !
"aku menyesal . . . hiks. . ." Chanyeol menundukkan kepalanya dalam-dalam
"Tidak! Kau sudah melakukan sesuatu yang benar , Chanyeol-ah.." Chanyeol menggelengkan kepalanya dan menyilangkan kedua tangannya didada, bangga.
"Aku menyesal . . .
Tidak! kau memang pria terhormat Chanyeol . .
Aku menyesal . .
Aku menyesal . .
Oh,, aku menyesal . . "
Chanyeol merutuki dirinya sambil memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangannya..
Sementara itu diluar, seorang pemuda sedang berdiri didepan pintu kamar Chanyeol berusaha mengintip apa yang sedang Chanyeol lakukan.
"kenapa hyung ku jadi gila?" gumam pemuda itu pelan.
"aku harus pergi ke tempat itu nanti malam!"
~Chan0-*.*-0Baek~
Minseok menghabiskan makan malam bersama anaknya di kamar Baekhyun. Setelah makan mereka mengobrol berdua seperti biasa.
"syukurlah keadaan mu sudah lebih baik sekarang, anak ku."
"itu mungkin karena ketampanan nae-ri yang kemarin, omma."
"kau ini.. bagaimana bisa ketampanan menyembuhkan penyakit.."
"kalau ketampanan itu bisa membuat ku tersenyum seperti orang gila, tentu saja bisa, omma."
Kemudian ibu dan anak itu tertawa bersama.
~Chan0-*.*-0Baek~
Sementara di pintu gerbang seorang gadis mengenakan hanbok hitam-hitam juga *jang-ot(bawahan hanbok/rok tapi dipakai untuk menutupi kepala wanita) yang hitam. Gadis itu memandang sinis pada penjaga gerbang. Ia masuk sambil bergumam kesal.
~Chan0-*.*-0Baek~
Baekhyun menyandarkan kepalanya dipundak Minseok.
"kapan appa akan datang?"
"hmm,, seperti nya beberapa hari kedepan. Kau sudah sangat merindukan appa, ya. Dia juga panik begitu mendengar kau sakit."
"aku sangat menyayangi appa, karena appa juga sangat menyayangi ku. Meski aku bukan anak kandung nya."
"ya,, omma bersyukur bisa mempunyai gibu seperti appa mu."
Minseok mengelus puncak kepala anaknya itu lembut dan halus.
~Chan0-*.*-0Baek~
Gadis tadi sekarang sudah sampai didepan kamar Baekhyun. Sebelum dayang penjaga memberikan pengumuman kedatangan nya. Gadis itu lebih dulu menatap tajam mata dayang penjaga, mengisyaratkannya untuk diam dan menyingkir.
~Chan0-*.*-0Baek~
"omma,," Baekhyun terdiam sejenak menatap mata Minseok sungguh-sungguh..
"dari pria-pria yang sudah menghabiskan malam bersama omma. Apa omma tak bisa mengenali siapa pria yang membuat omma hamil aku? Apa omma tidak tau siapa appa ku?"
Minseok tertegun mendengar pertanyaan anaknya. Selama ini Baekhyun tak pernah berani bertanya tentang appa kandung nya. Tapi kenapa tiba-tiba Baekhyun penasaran.
"omma,, hanya-"
Ucapan Minseok terpotong oleh teriakan seorang gadis yang langsung menggeser pintu kamar Baekhyun.
"SURPRISE!"
Gadis itu melebarkan tangannya pada Baekhyun sambil membuka jang-ot nya, sedangkan Minseok masih membatu ditempatnya melihat perilaku gadis itu. Baekhyun mengelus tengkuk ommanya, berusaha menenangkan sang omma yang masih kaget. Gadis itu sendiri tak kalah kaget ketika melihat Minseok didepannya. Entah kenapa gadis itu merasa mulutnya begitu kering sekarang.
"Do.. Do.."
Lirih Minseok sambil mengelus dada nya. Semakin bertambah nya usia dan rutinitasnya yang juga bertambah bukan berkurang. Jujur itu membuat Minseok cepat jantungan belakangan ini. Kini reflek nya sudah semakin lambat dan Baekhyun sangat khawatir pada kondisi ommanya.
"jesonghabnida.." gadis itu menunduk dalam-dalam.
"DO KYUNGSOO!" teriak Minseok sambil menepuk keras bagian lantai didekatnya.
"jesonghabnida.. jesonghabnida.. Jung ma-nim.."
Gadis itu-Kyungsoo- sujud berkali-kali meminta maaf pada Minseok.
"b-boh?!" Minseok memberikan Kyungsoo tatapan horror nya.
"ah,, jesonghabnida maksud ku.. Kim ma-nim."
"bagaimana kau bisa tau marga asli ku?"
"karena setiap hari omma selalu marah meneriaki nama anda, Jung ma-nim.." jawab Kyungsoo polos dan mendapat death glare dari Baekhyun. Tangan Kyungsoo reflek menutup mulutnya.
"ah.. jesonghabnida lagi, maksud ku Kim ma-nim.."
"kenapa omma mu marah meneriaki nama ku? Setau ku dia tidak marah pada ku. Minggu lalu kami bertemu saat berbelanja."
"sekarang berbeda Jung ma-nim, eh,, maksud ku Kim ma-nim. Omma berteriak-teriak kasar seperti ini-"
Kyungsoo berdiri lalu menggunakan telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk asal ke arah Baekhyun, menirukan gaya omma nya yang sedang marah.
"- 'DO! KYUNGSOO! Kau tidak bisa memperbaiki sifat mu! UHH.. SIAL! Kenapa si Jung Minseok itu bisa mendapat anak sebaik Baekhyun?! sedangkan anak ku seperti dia!' "
Minseok terpaku melihat pertunjukan drama singkat yang dipersembahkan Kyungsoo. Kemudian dengan bangga nya Kyungsoo duduk kembali di tempatnya..
"Lee Luhan melakukan seperti itu?!" tanya Minseok tak percaya
"ne.. Jung- ah, ani. Kim ma-nim." Kyungsoo mengangguk
"lalu kau ingin aku percaya pada mu? Anak nakal!"
Minseok langsung menjewer telinga Kyungsoo membuat gadis itu kesakitan.
"aku sungguhan. . J- ah,, ma-nim-" Kyungsoo merendahkan nadanya.
'lebih baik ma-nim saja..' batin Kyungsoo sebelum telinga nya semakin diputar.
"ma-nim harus hati-hati menjaga Baekhyun sebelum omma merasuki salah satu dayang disini atau bisa saja omma merasuki ma-nim. Kemudian membawa Baekhyun kabur dan menjadikan Baekhyun anaknya."
Minseok jadi pusing melihat tingkah Kyungsoo.
"omma belakangan ini jarang pergi ke gereja untuk bertemu pastor. Jadi omma sering kelepasan karena merindukan appa. Kasihan Oh ahjussi tampan, tetangga kami yang baru, harus menjadi korban omma. Setiap melihat Oh ahjussi, omma akan berteriak 'Do Seungsoo gajima! Na bogosipeoso.' "
Kyungsoo kembali menirukan gaya omma nya, dengan tangan yang berusaha meraih seseorang tapi tak dapat.
"Ahhh.. jantung ku.." lirih Minseok sambil berusaha berdiri dengan menggapai dingding disebelahnya.
"aku harus pergi dulu anak ku."
Minseok berjalan tertatih-tatih meninggalkan kamar Baekhyun dan kedua dayangnya langsung memapah tubuhnya. Membawa hojang mereka ke kamar pribadi nya.
Setelah Minseok pergi, Baekhyun langsung menutup pintu kamarnya. Ia lalu menarik Kyungsoo untuk duduk disampingnya.
"apa yang kau katakan itu sungguhan?"
"tentu saja. Kau pikir aku tidak sedih melihat omma ku seperti itu?!"
"kasihan Do ahjumma."
"gomaweo kau masih mau memanggil omma ku dengan marga itu. Walau appa ku sudah meninggal. Aku bahkan memanggil omma mu dengan marga aslinya."
"tidak apa-apa, aku sudah cukup mengenal mu luar dalam. Aku tau kalau kau itu suka pikun mendadak, tak tau sopan santun dan tatakrama. Sungguh, kasihan Do ahjumma punya anak seperti mu, Kyungsoo-ah.."
"kau sama saja seperti omma mu!"
"tentu, aku anaknya."
Kyungsoo berdiri sejenak memandangi langit dari jendela kamar Baekhyun. Kemudian duduk kembali di samping Baekhyun.
"omma mu benar-benar menyayangi appa mu ya,,"
"tentu saja, itu karena appa sangat mencintai omma. Kau tau dengan baik kehidupan seorang *shaman tidaklah mudah. Tapi appa dengan sabar tetap mencintai omma dan mau menikahinya. Omma bahkan hanya bisa membuat satu anak. Aku bisa membayangkan bagaimana susah nya omma saat mengandung ku. Mungkin ada banyak ritual dan penjagaan dari banyak roh. Jadi pantas saja mereka hanya membuat satu dan terpaksa aku mewarisinya karena aku satu-satunya, Baekhyun-ah.." lirih Kyungsoo
"tapi, kenapa pengendalian diri mu lebih baik daripada omma mu?"
"karena aku belum menikah dan lagi pula omma sudah menitipkan ku pada seorang pastur dari kecil. Jadi kemampuan ku tak sehebat omma. Aku belum benar-benar menjadi shaman sepenuhnya."
"semoga kau bisa mendapatkan pria yang baik seperti Do ahjussi yang mau menerima omma mu apa adanya."
"bicara soa jodoh.. bagaimana pria yang ku katakan pada mu?"
"kau tau,, dia sa. .ngattt! TAMPAN! Kyungsoo.."
"lalu apa yang terjadi?"
"seperti perkataan mu, dia tidak menyentuh ku" jawab Baekhyun senang
"jadi kau lebih memilih untuk tidak menghindari takdir?"
"kau sendiri yang bilang kalau takdir tak bisa diubah atau dihindari.."
"tapi kau bisa memperbaiki keadaan,, Baekhyun.."
"maksud mu keadaan bisa berubah kalau saja aku tak menemui nya?"
"entahlah,, aku sendiri tidak tau. Walau omma sudah berusaha keras untuk memperbaiki takdir appa tapi takdir yang lain datang.. appa tetap pergi walau dengan jalan yang berbeda dari yang penglihatan omma sebelumnya."
"karena itu juga aku takut, Kyungsoo. Kalau aku tidak menemui nya kemarin malam lalu kami malah bertemu disituasi yang lebih sulit, bagaimana?"
Baekhyun menyandarkan dirinya ke dingding.
"setidaknya kau lebih baik, Kyungsoo-ah. Kau bebas dan tak terkurung disini."
"ah,, kau lebih baik Baekhyun-ah. Kalau saja kau pergi keluar sana orang-orang tetap akan menghargai mu dan memperlakukan mu dengan layak, walau pun kau keturunan seorang gisaeng. Sekarang sudah ada hak asasi manusia. Tapi kalau aku? Seorang shaman baik zaman dulu atau sekarang. Seorang shaman tetaplah sama. Mereka tak akan pernah memperlakukan ku dengan layak. Mereka selalu menjauhi ku. Menganggap ku makluk yang hina. Padahal aku selalu membantu mereka."
"kita sama saja Kyungsoo-ah. Kita sama-sama *cheonsanim(kalangan budak) dan tak bisa berbuat apa-apa.."
Kedua gadis itu saling menatap satu sama lain lalu tertawa. Menertawai takdir mereka yang menyedihkan..
"tumben sekali kau memakai hanbok ritual mu?"
"tadinya aku ingin berlatih *salpuri(tari pengucian jiwa) bersama mu. Tapi sepertinya tidak jadi.."
"kenapa?"
"ada yang sedang mengikuti ku, Baekhyun-ah.."
"uhh.. lebih baik kau tutup mulut mu tadi. Jangan buat aku merinding.."
"tapi aku punya firasat bagus untuk kali ini Baekhyunnie."
Baekhyun mengkerutkan alisnya, tak mengerti maksud perkataan sahabatnya itu.
~Chan0-*.*-0Baek~
Di luar suasana nya begitu dingin dan sepi. Hanya ada bulan dan bintang yang berkelap-kelip menghiasi langit sebagai penerang. Seorang pemuda yang mengenakan mantel coklat muda sedang berjalan sendirian. Dari tadi ia hanya menatap secarik kertas sambil terus berjalan. Ia terlihat sedang bingung sendirian. Sesekali ia menatap jalanan yang begitu sepi dan sunyi bahkan semakin lama tidak ada lagi lampu jalan yang menerangi nya.
"Pyongyang-gibang.." gumamnya sambil melihat sebuah gerbang besar yang masih berada jauh didepannya.
"itukah tempatnya?"
Pemuda itu mempercepat langkahnya..
Tepat disaat pemuda itu berlari sampai ke gerbang. Kyungsoo membuka pintu gerbang itu diwaktu bersamaan. Wajah mereka saling bertemu dan waktu seakan berhenti detik itu juga.
Kemudian pemuda itu menurunkan kepalanya melihat hanbok hitam yang dipakai Kyungsoo saat ini.
"Hitam!"
Pemuda itu berlari menjauhi Kyungsoo. Entah kenapa Kyungsoo yang tadi nya tak ingin menghiraukan anak itu, tiba-tiba berubah. Kyungsoo membelakan matanya lebar seketika, ada kilatan yang muncul dimatanya detik itu juga. Kyungsoo lalu berlari memanggil pemuda itu.
"Jonginnie! Jonginnie!" panggil Kyungsoo.
Pemuda itu berbalik begitu namanya disebut. Sudah lama sekali ia tidak mendengar panggilan itu dan suara nya yang terdengar begitu familiar di telinga nya.
"Jonginnie kemari adeul, ini omma!"
Jongin berlari menghampiri Kyungsoo namun langkahnya terhenti kembali ketika melihat hanbok hitam yang dikenakan Kyungsoo saat ini.
"tidak! . . tidak!"
Jongin menggelengkan kepalanya kuat ketika sebuah kilasan masa lalu muncul dikepalanya..
"ini omma adeul, sini chagi.." panggilan itu semakin halus dan lembut..
Akhirnya Kyungsoo yang menghampiri Jongin dan memeluknya erat..
~Chan0-*.*-0Baek~
Semenjak tadi siang kediaman Park benar-benar kacau karena tuan muda mereka yang hilang. Chanyeol dan tuan Park apalagi.. mereka sangat khawatir terjadi sesuatu pada pemuda itu. Walau mereka sudah mengerahkan detektif dan kepolisian juga pengawal-pengawal pribadi mereka, tetap saja Chanyeol merasa belum tenang sampai berhasil menemukan adiknya itu.
Malam ini Chanyeol tak bisa tidur dan memutuskan untuk menemui appanya. Ia tau appa nya juga pasti sedang gusar saat ini. Tapi begitu ia sampai di kamar tuan Park. Chanyeol tidak menemukan appanya disana. Ini sudah tengah malam dan appa nya tidak ada dikamar. Membuat Chanyeol semakin khawatir.
Chanyeol berlarian mengelilingi rumahnya yang besar mencari sang appa. Tapi tetap tak menemukannya. Sampailah Chanyeol ke depan rumah nya. Saat Chanyeol berjalan menelusuri halaman rumahnya. Ia tak sengaja melihat sang appa yang tengah berpelukan dengan seorang wanita yang berpakaian aneh bagi nya dan yang lebih mengejutkan lagi itu warna hitam.
Chanyeol tidak peduli yang penting ia ingin menemui tuan Park. Ia berlari menghampiri appanya lalu menepuk pundak appanya. Sang appa dan wanita itu melepaskan pelukan mereka. Wanita yang memakai hanbok hitam itu-Kyungsoo- menangkup wajah Chanyeol dengan kedua tangannya. Membuat pemuda itu tercengang detik itu juga. Tapi melihat tatapan mata gadis itu.. membuatnya merasa hangat. Tatapan yang sudah lama dirindukannya..
"adeul, sudah lama omma tak melihat mu, chagi. Omma merindukan mu.."
Lalu Kyungsoo kembali memeluk seseorang yang sebenarnya tidak dikenalinya sama sekali.
Hey,, itu bukan kemauannya. .
. . .
. .
.
To be continue. .
Sorry for typho.. ^-^
Wahhh.. sorry ya makin ga nyambung…
Semoga di chap berikutnya semakin jelas..
Udah ku bilang.. aku bagus cuma di awal doang..
Maaf ga ada chanbaek moment nya disini..
Tapi aku akan berusah untuk mengadakan nya di chap berikutnya..
.. thanks.. untuk semuanya.. yang udah follow sama favorite FF ini..
Dan yang udah komen thanks a lot.. sorry ga bisa nulis nama kalian untuk saat ini.. aku buru2
Masalah appa kandungnya Baekhyun pasti akan aku ungkap tapi ga tau chap berapa pastinya..
Sekali lagi.. seperti yang udah aku jelasin di chap 1. Gibu itu suami gisaeng tapi bukan dalam artian suami yang sesungguhnya.. jadi pria itu cuma bayarin semua kebutuhan gisaeng yang disukainya tapi bukan berarti memperistrinya. Makanya Minseok tetap jadi gisaeng dan tinggal di gibang. Susah sih jelasinnya intinya gibu itu penanggung jawab gisaeng yang disukainya..
