MY INNOCENT LOOKED BOY
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please.
NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
Even if I try so hard, I can't win over your dazzling eyes...
.
.
"Aku dan Park Yoochun? Kenapa?"
Pekikan Yunho semakin membuat Eunhyuk penasaran, dengan siapa Eunhyuk akan sekamar? Daftar pembagian asrama sudah diumumkan, tapi Eunhyuk tidak bisa maju ke depan karena banyak siswa yang lebih tinggi darinya berkerumun di sana. Pengumuman soal pembagian asrama, baru saja di pasang setelah jam belajar habis, otomatis papan pengumuman itu langsung menjadi magnet untuk para siswa yang baru keluar kelas
"Kenapa aku berpisah dengan Jaejoong? Kenapa?"
Lagi-lagi Yunho memekik heboh sambil mengetuk-ngetuk papan pengumuman, tidak bisa dibayangkan ia tidur terpisah dari kekasihnya dan malah tidur sekamar dengan manusia playboy macam Park Yoochun.
"Hei, Jung Yunho! Carikan namaku, aku sekamar dengan siapa?"
"Cari saja sendiri!"
Sialan, Yunho mengabaikan permintaan Eunhyuk dan pergi begitu saja dari kerumunan. Eunhyuk tahu, dia kesal karena tidak sekamar dengan kekasihnya, tapi apakah harus dia bersikap semenyebalkan itu? Katanya ketua kelas yang bertanggungjawab, baru dimintai tolong sedikit saja dia menolak. Menyebalkan.
"Sedang apa?"
"Ah, Donghae bisa kah kau mencarikan—"
Tunggu.
Minta tolong pada Donghae? Eunhyuk melirik Donghae dari atas sampai bawah. Sudahlah, tidak akan ada gunanya. Tinggi badan mereka hampir sama, jadi sudah bisa dipastikan Donghae juga tidak akan mampu melihat papan pengumuman itu.
"Kau di asrama A, sekamar denganku di kamar nomor 7."
Layaknya anak anjing, Donghae tersenyum sambil memiringkan kepalanya. Sebelum pengumuman pembagian asrama itu di tempel di papan pengumuman, Donghae sudah melihatnya saat di ruang guru tadi. Kebetulan, wali kelas meminta bantuan padanya untuk membawakan tugas yang tadi dikumpulkan.
"Oh, begitu—"
Hening sesaat sebelum Eunhyuk membelalakan matanya dan melirik Donghae dengan tatapan ragu-ragu.
"Apa? Tunggu dulu, kenapa bisa?"
Donghae mengendikan bahunya sambil tetap tersenyum manis. Sesungguhnya, Donghae sangat manis dengan senyum seperti itu. Tapi sayangnya, senyum manis itu tidak berarti apa-apa kecuali alarm berbahaya bagi Eunhyuk. Entah orang akan percaya atau tidak, bila Eunhyuk menceritakan betapa mesumnya Donghae. Lihat saja dia, wajahnya lugu bak malaikat, dan senyumnya sangat manis seperti anak kecil. Saat dia tertawa lepas, maka dia akan terlihat seperti anak anjing yang menggemaskan.
Di balik semua itu, he is totally pervert boy...
"Sudahlah, bicara padamu tidak akan ada gunanya."
"Jadi, kau tidak keberatan kita satu kamar?"
"Aku akan minta kakakku agar tidak menandatangani surat ijin itu! Kalaupun kakakku tetap menandatanganinya, aku akan memintanya agar memindahkanku ke kamar yang lain. Aku duluan!"
Eunhyuk memakai helmnya, lalu berjalan menuju motornya dengan tergesa-gesa. Dan tanpa Eunhyuk sadari, Donghae mengikutinya dari belakang. Ketika Eunhyuk menyalakan mesin motornya, Donghae tetap berdiri di samping motor Eunhyuk sambil menatapnya dengan mata sendunya yang bersinar karena bias cahaya matahari.
"Mau apa?"
"Kenapa kita tidak pernah pulang bersama?"
Pertanyaan konyol macam apa itu? Memangnya kenapa mereka harus pulang bersama? Jelas mereka tidak pernah pulang bersama karena Eunhyuk selalu memakai motornya dan Donghae naik bus. Dan lagi, arah rumah mereka berbeda. Tidak ada alasan bagi mereka untuk pulang bersama.
"Apa ada alasan untuk kita pulang bersama?"
"Ada."
"Apa?"
"Kau pacarku. Sesekali, kita harus pulang bersama."
Eunhyuk menghela nafas panjang. Sebenarnya, Lee Donghae ini sok polos atau benar-benar polos? Kenapa kekanakan sekali? Jawabannya yang polos dan senyumnya yang manis, malah membuat Donghae terlihat seperti anak kecil sungguhan.
"Kau tidak mau di ajak kencan, kau juga tidak mau di ajak bicara saat di kantin. Jadi, apa salahnya kalau kita pulang bersama?"
"Lalu, mau bagaimana? Apa aku harus membawa motorku naik ke dalam bus?
"Aku saja yang naik ke motormu."
Donghae naik di belakang Eunhyuk, memeluk pinggang ramping favoritnya dengan erat. Sudah lama sekali Donghae ingin melakukan ini, tapi Eunhyuk selalu menghindarinya tiap kali Donghae berusaha memeluk pinggangnya.
"Hei, turun! Kau sudah gila?"
"Ayo, jalan!"
Tidak ada pilihan, mau Eunhyuk berteriak sekeras apapun, Donghae pasti akan tetap menempel padanya. Akhirnya, Eunhyuk terpaksa kembali menyalakan mesin motornya dan membawa Donghae bersamanya.
"Aku akan mengantarmu pulang, setelah itu—"
"Kita ke rumahmu dulu."
"Kenapa?"
"Jalan saja, jangan banyak tanya!"
Dan untuk kesekian kalinya, Eunhyuk menurut pada ucapan Donghae. Eunhyuk melaju dengan kecepatan biasa, menuju rumahnya dengan Donghae yang menempel erat di belakangnya. Saat di lampu merah, tangan jahil Donghae mulai beraksi, dia meraba bagian selangkangan Eunhyuk dengan seduktif. Lama-kelamaan, rabaan itu menjadi remasan lembut, dan akhirnya membuat konsentrasi Eunhyuk buyar.
Demi Tuhan! Ini masih di jalan, dan Donghae berani-beraninya melancarkan aksi mesumnya. Lampu sudah berganti hijau, yang artinya Eunhyuk harus kembali melaju, tapi Donghae tidak juga menghentikan aksinya dan malah semakin menjadi. Dia malah mengeratkan pelukannya dan tangannya tidak berhenti menggerayangi Eunhyuk. Takut terjadi sesuatu yang buruk, Eunhyuk memelankan laju motornya.
Bagaimana kalau kecelakaan? Tidakkah dia merasa takut? Eunhyuk benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa ada anak laki-laki macam Donghae di dunia ini.
"Kau akan mencium aspal jika tidak berhenti menyentuhku, Lee Donghae!"
"Jalan saja, aku tidak mendengar apa yang kau katakan."
"Turun!"
"Kenapa?"
"Sudah sampai!"
"Sudah sampai? Ah, kenapa cepat sekali?"
Donghae turun dari motor Eunhyuk, matanya langsung memeperhatikan selangkangan Eunhyuk yang mulai menggembung. See? Dia marah-marah, tapi sebenarnya menikmati perbuatan Donghae.
"Apa perlu aku selesaikan?"
"P—pergi sana!"
Eunhyuk menutupi selangkangannya dengan helm, matanya bergerak gelisah karena Donghae menatapnya dengan seduktif dari jarak dekat. Di saat seperti ini, wajah Eunhyuk akan merah otomatis dan terasa panas. Memalukan! Donghae selalu berhasil membuatnya salah tingkah.
"Baiklah, aku akan pergi."
Melihat wajah Eunhyuk sudah sangat merah, Donghae memutuskan untuk berhenti menggodanya. Jika diteruskan, Donghae merasa Eunhyuk akan matang kapan saja. Donghae mengecup kening Eunhyuk, kemudian tangannya menarik dagu Eunhyuk agar menatap matanya.
"Aku serius padamu, jadilah pacarku."
"Donghae, aku—"
"Kalau kau menolakku, aku akan minta bantuan pada kakakmu."
"Kau memaksa?"
"Ya, aku memaksa!"
"Kau—"
"Masuklah, kakakmu pasti sedang menunggumu. Ingat, jangan coba-coba pindah kamar karena kau tidak akan tahu apa yang akan aku lakukan padamu jika itu terjadi."
Apa itu ancaman? Serius, Eunhyuk benar-benar takut karena Donghae akan melakukan hal-hal yang tidak pernah ia duga. Bagaimana kalau Donghae mengikatnya di kamar? Melakukan BDSM dan—
Dan kenapa Eunhyuk malah berpikir kemana-mana?
"Oh, besok akan aku jemput jam sembilan pagi."
"Mau apa? Besok hari Minggu, aku harus bersiap-siap membereskan pakaian untuk di bawa ke asrama."
"Ah, aku lupa memberitahumu. Saat di kantin tadi, aku, Yunho, Jaejoong, Ryeowook dan Yoochun memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebelum masuk asrama. Mereka bilang, saat di asrama nanti mereka tidak akan punya banyak waktu untuk bermain."
"Kenapa tidak membahasnya dulu denganku?"
"Kau yang menghindar! Aku berkali-kali memanggilmu saat di kantin, tapi kau malah pergi ke tempatnya Junsu. Salah siapa?"
"Salahku."
Jelas saja menghindar, Donghae memanggilnya dengan tatapan yang mencurigakan. Dan senyumnya yang terlalu manis itu, justru terlihat seolah-olah dia akan memakan Eunhyuk hidup-hidup.
"Oke, sekarang masuklah. Ah, kalau kau perlu bantuan, hubungi aku."
"Bantuan apa?"
"Selangkanganmu. Kau tahu, phone sex?"
"Pergi sana!"
Donghae terkekeh, gemas melihat reaksi Eunhyuk. Ia kemudian mengecup singkat bibir plum Eunhyuk, lalu melambaikan tangannya. Meskipun diabaikan, senyum Donghae tidak pudar. Matanya terus menatap punggung Eunhyuk sampai akhirnya dia menghilang di balik pintu.
I just...
Curious...
What happen to my heart, it beating so fast whenever you around me...
.
.
ooODEOoo
Eunhyuk mematut dirinya di cermin, memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Rambut hitamnya ia sisir rapi, tapi kemudian Eunhyuk kembali mengacak-acak rambutnya. Kenapa hari ini Eunhyuk repot sekali dengan penampilannya? Hampir setengah jam Eunhyuk berdiri di depan cermin, tapi belum juga menemukan gaya yang pas untuk rambutnya.
"Hyukjae, mau sampai kapan kau mengurung dirimu di kamar? Kau tidak akan sarapan?"
Teriakan Heechul membuat Eunhyuk meringis, akhirnya Eunhyuk membiarkan rambut hitamnya berantakan begitu saja. Sudahlah, toh Eunhyuk tetap manis meskipun tidak menata rambutnya. Setidaknya, Eunhyuk sekarang punya pacar yang akan memujinya kapan saja.
Katakan saja begitu...
"Tidak bisakah kau tidak berteriak-teriak setiap pagi, Hyung? Hankyung Hyung akan benar-benar kabur kalau kau terus melanjutkan sifatmu!"
"Kau—kau benar-benar adik yang tidak tahu diri! Beraninya bicara begitu pada kakakmu!"
"Aku hanya berkata jujur!"
Heechul mendesis, lalu memukul kepala Eunhyuk dan menendang bokongnya. Sebelum Eunhyuk minta ampun, maka Heechul tidak akan berhenti memukuli adik semata wayangnya. Mereka benar-benar tidak berhenti, bahkan sampai bergulangan di lantai karena hal yang sepele.
"Ampun, Hyung!"
"Mulutmu benar-benar tidak bisa di jaga!"
"Bukankah kau juga sama, sayang? Kalian sama saja. Sekarang, hentikan dan mari kita sarapan dengan tenang."
Setelah Hankyung angkat bicara, barulah pertengkaran mereka berhenti. Heechul duduk di samping Hankyung, matanya tetap melotot ke arah Eunhyuk. Sementara Eunhyuk masih duduk di lantai sambil menggerutu, karena penampilannya yang sudah rapi kembali berantakan.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini?"
Hankyung tidak mempedulikan kedua kakak beradik yang masih saling memelototi satu sama lain itu, ia lebih memilih melihat intercom karena bel berbunyi dengan nyaringnya, tapi tidak ada satupun yang peduli.
"Oh, Donghae. Pacarnya Hyukjae datang."
Mendengar nama Donghae di sebut, Eunhyuk buru-buru bangun dari lantai dan membenahi penampilannya yang sedikit kacau. Dan Heechul bangun dari tempat duduk, lalu berlari untuk membukakan pintu untuk Donghae.
"Calon adik iparku yang manis!"
Dalam hati Eunhyuk mengutuk kakaknya. Manis? Manis katanya? Dia belum tahu, di balik wajah malaikat itu, ada monster yang sangat menyeramkan. Apakah Heechul masih akan memanggil manis, jika dia tahu Donghae pernah membobol lubangnya?
"Hyung, selamat pagi. Aku mau menjemput Eunhyuk."
"Masuklah. Ah, kalian mau kencan lagi? Bukankah besok kalian mulai masuk asrama? Kenapa bukannya siap-siap?"
"Justru itu, hari ini kami mau menghabiskan waktu sebelum masuk asrama. Kudengar dari teman-teman, jika sudah masuk asrama akan susah mendapatkan waktu bermain."
"Ah, begitu. Jadi, mau kemana kalian?"
"Hm, ke Myeongdong."
Eunhyuk hampir saja muntah melihat interaksi Donghae dan Heechul yang menurutnya sangat berlebihan itu. Heechul bahkan mengubah nada suaranya jadi lebih manis, dan Donghae terus tersenyum manis layaknya anak anjing untuk menarik simpati kakaknya. Dua orang itu benar-benar keterlaluan.
Ya Tuhan, kenapa Eunhyuk harus terjebak di antara dua makhluk mengerikan ini?
"Mau sarapan dulu?"
"Tidak, terima kasih Hyung. Aku sudah sarapan di rumah. Hyung, maaf aku tidak bisa lama-lama, teman-temanku yang lain menunggu di luar."
"Kalau begitu pergilah. Hati-hati di jalan. Ah, ingat jangan pulang terlalu larut malam, kalian harus masuk asrama mulai besok pagi."
"Aku mengerti, Hyung."
Sekali lagi Donghae tersenyum menunjukan gigi kelincinya, senyum yang menggemaskan hingga membuat Heechul luluh. Donghae kemudian menggandeng tangan Eunhyuk tanpa ragu di depan kakaknya, ia merasa sangat percaya diri karena Heechul yang begitu menyukainya dan memperlakukannya dengan baik.
"Kami pergi dulu, Hyung."
"Hm, hati-hati."
Setelah memastikan Donghae dan Eunhyuk masuk ke dalam mobil yang dikendarai Yunho, Heechul kembali masuk ke rumah lalu memeluk Hankyung tiba-tiba. Laki-laki berwajah kalem itu hanya menatap Heechul bingung, biasanya jika mendadak manis seperti ini, Heechul ada maunya.
"Apa?"
"Mereka manis sekali."
"Lalu?"
"Aku juga ingin kencan seperti mereka."
"Dari pada kencan seperti anak sekolah, bagaimana kalau kau memberiku morning sex?"
Tangan Hankyung meraba paha Heechul, lalu naik hingga ke pinggangnya. Tidak begitu ramping, tapi cukup sensual dan pas dalam rengkuhan Hankyung.
"Call!"
Dan suara pintu kamar Heechul yang berdebum, menandakan bahwa mereka sedang sibuk melakukan kegiatan yang cukup membuat berkeringat.
.
.
"Wah, aku benar-benar kehilangan kata-kata. Kau masuk kesana tanpa ragu dan bahkan bisa membawa Eunhyuk keluar tanpa lecet sedikitpun."
Yunho yang ada di balik kemudi bertepuk tangan begitu Donghae dan Eunhyuk masuk ke dalam mobil. Begitu pula dengan Jaejoong yang ada di samping Yunho, dia begitu takjub melihat keberanian Donghae masuk ke dalam rumah Eunhyuk.
"Kenapa Heechul Hyung mendadak lembek? Maksudku, dia biasanya mengusir siapapun yang mengajak Eunhyuk kencan. Kenapa kali ini tidak?"
"Hei, Jaejoong. Aku ini berbeda, aku laki-laki yang baik, tentu saja Heechul Hyung merestui kami."
Merestui?
Omong kosong macam apa itu? Jelas saja Heechul merestui mereka, itu karena dia belum tahu sifat asli Donghae! Lihat saja, tangan Donghae bahkan sudah meraba-raba paha Eunhyuk sekarang. Sialan, celana robek-robek yang ia pakai hari ini sama sekali membantu. Itu justru memberi kesempatan untuk tangan jahil Donghae.
"Ngomong-ngomong, Yoochun dan Ryeowook mana?"
"Oh, mereka sudah sampai duluan. Yoochun naik motor bersama Junsu dan Ryeowook mengajak pacarnya yang sudah mahasiswa."
"Mahasiswa? Kim Ryeowook?"
Donghae membelalakan matanya, ternyata Ryeowook yang tukang gossip itu punya pacar mahasiswa. Hebat sekali.
"Hm, pacarnya juga mengajar di sekolah kita sebagai guru musik."
"Maksudmu, Kim Saem?"
Mata Donghae semakin membelalak, mulutnya mengaga tak percaya. Wah, guru musik yang terkenal sangat dingin dan irit bicara itu ternyata pacarnya Ryeowook. Sulit di percaya. Donghae pikir, Ryeowook tidak punya pacar karena sifatnya yang—menurut Donghae—sedikit aneh.
"Kim Jongwoon Seonsaengnim adalah pacarnya Ryeowook. Hm, mereka sudah pacaran sejak kita kelas satu."
"Kenapa di sekolah kita banyak sekali kejutan?"
"Itu karena kau terlalu lama sekolah di desa."
Eunhyuk tiba-tiba menyambung obrolan Yunho dan Donghae, wajahnya tetap ia palingkan ke arah jendela, tangannya ia lipat di dada. Bersikap angkuh seperti saat pertama mereka bertemu.
"Desa? Sekali kau bilang sekolahku di desa maka aku—"
"Apa? Kau mau apa?"
"Mencium bibirmu sampai kau tidak bisa bernafas!"
Yunho dan Jaejoong yang duduk kursi depan langsung menganga, mereka menggelengkan kepala mereka sambil melirik kaca spion. Donghae benar-benar tidak sepolos kelihatannya.
"Hentikan! Cepat turun, Yoochun dan yang lain pasti sudah menunggu."
Yunho memarkirkan mobilnya di depan sebuah café, di sana sudah ada Yoochun, Ryeowook, Junsu dan Jongwoon menunggu mereka.
"Hai!"
Harus bagaimana mereka bersikap? Rasanya canggung sekali melihat seorang guru bergabung dengan acara mereka. Donghae sedikit kehilangan semangatnya, kalau ada Jongwoon di sana, bagaimana ia bisa meraba-raba Eunhyuk?
"Karena kalian semua sudah ada di sini, aku mau pamit."
Ryeowook beranjak dari kursinya sambil bergelayut manja pada Jongwoon. Awalnya, Ryeowook memang ingin bergabung dengan acara main yang di gagas Yunho itu, tapi karena waktu kencannya dengan Jongwoon juga tidak banyak, akhirnya ia memutuskan untuk kencan dengan Jongwoon dan membatalkan niat untuk dengan teman-temannya.
"Kau tidak setia kawan!"
Eunhyuk menarik tangan Ryeowook agar menjauh sedikit dari Jongwoon. Kalau tidak ada Ryeowook, pada siapa Eunhyuk minta tolong jika tiba-tiba Donghae menariknya ke tempat yang sepi?
Oh, no! Jangan pergi Kim Ryeowook!
"Kalian masih bisa bersenang-senang tanpa aku! Lagi pula, Jongwoon Hyung akan canggung jika bergabung dengan kalian. Sudah ya, aku pergi. Bye!"
Dan akhirnya Ryeowook pergi, menyisakan mereka berenam. Berenam? Benarkah mereka berenam? Sepertinya Yoochun mulai asik sendiri dengan Junsu, saling menatap mesra, lalu tertawa tidak jelas.
Seperti orang gila...
"Jadi bagaimana? Rencana main kita malah jadi acara kencan. Mau berpisah di sini saja? Kita main masing-masing saja, lalu bertemu lagi di sini saat mau pulang. Bagaimana?"
Usul Jaejoong membuat Donghae tersenyum cerah, akhirnya ada waktu berduaan dengan Eunhyuk. Baik untuk Donghae, belum tentu baik untuk Eunhyuk. Ia justru menentang usul Jaejoong dengan cara menggelengkan kepalanya, tapi sayangnya Jaejoong tidak melihatnya dan sudah terlanjur mengambil keputusan.
"Oke, aku akan belanja dengan Yunho. Kalian berempat terserah mau kemana."
Karena Yunho dan Jaejoong sudah pergi dan Yoochun sedang asik sendiri bersama Junsu, akhirnya Eunhyuk mengikuti langkah Donghae dengan pasrah saat laki-laki bermata sendu itu menariknya keluar dari café.
"Kita tidak mungkin main dengan Yoochun dan Junsu."
"Jadi?"
Donghae berpikir sejenak, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut.
"Sepeda-sepeda itu, bisa di sewa?"
"Itu memang untuk di sewa!"
"Kalau begitu, mau main sepeda denganku?"
"Hm?"
"Ayolah."
Tanpa persetujuan Eunhyuk, Donghae menyeret Eunhyuk ke tempat sepeda, lalu menyewa salah satu dari sepeda yang berjajar itu. Donghae benar-benar suka sekali menyeret Eunhyuk kesana kemari.
"Kenapa hanya menyewa satu?"
"Kau naik di belakangku."
"Hei!"
Mata Eunhyuk melirik ke kanan dan ke kiri, ada banyak mata yang akan memperhatikan mereka. Well, Eunhyuk memang terbiasa menjadi pusat perhatian, tapi ia tidak biasa menjadi pusat perhatian dengan Donghae disampingnya. Maksudnya, apa yang akan dipikirkan orang-orang nanti? Orang-orang pasti akan menganggap mereka berdua aneh.
"Cepat naik! Kita keliling sambil lihat-lihat, ini pertama kalinya aku ke Myeongdong."
Mau tidak mau, akhirnya Eunhyuk tetap naik di belakang Donghae. Benar-benar canggung, karena ini pertama kalinya Eunhyuk memeluk pinggang seseorang dari belakang. Biasanya, Eunhyuklah yang di peluk seperti ini.
"Oke, kau sudah siap? Kita jalan!"
Dari jarak sedekat ini, Eunhyuk dapat menghirup aroma tubuh Donghae yang khas. Ah, tubuhnya juga terasa hangat. Apa karena ini musim panas? Atau memang suhu tubuhnya selalu hangat? Lama-kelamaan, Eunhyuk mulai menikmati perjalanannya dengan sepeda bersama Donghae. Tatapan orang-orang sudah tidak Eunhyuk pedulikan lagi, ia hanya sibuk tertawa bersama Donghae, menikmati angin yang menerpa wajah mereka.
"Hei, jangan mengayuh terlalu cepat! Kita bisa jatuh."
Eunhyuk semakin mengeratkan pelukannya pada Donghae, wajahnya ia sembunyikan di punggung Donghae. Sungguh, Eunhyuk takut bukan main. Kalau jatuh, sakitnya tidak akan seberapa, tapi malunya yang nomor satu karena banyak orang yang berlalu-lalang di sini.
"Bukankah menyenangkan bersepeda di tempat ramai?"
"Kau sudah gila? Kalau jatuh atau menabrak orang bagaimana?"
"Tidak akan!"
"Hei, ngomong-ngomong aku belum makan sejak tadi pagi. Belikan aku makan."
Donghae menghentikan laju sepedanya, ia melirik Eunhyuk yang ada dibelakangnya. Ah, pantas saja Donghae mendengar bunyi-bunyi aneh tadi, suara perutnya Eunhyuk rupanya. Donghae mengedarkan pandangannya, sepertinya makan di kedai pinggir jalan bukan hal buruk. Makan mie dingin di musim panas seperti ini pasti segar.
"Kau belum makan?"
"Pagi tadi aku bertengkar dengan kakakku, lalu kau datang menjemput. Jadi, aku belum sempat makan."
"Kau mau makan mie dingin dan patbingsoo?"
"Call!"
Tanpa banyak berpikir, Eunhyuk mengacungkan jempolnya tanda ia setuju. Eunhyuk turun dari sepeda, lalu mengikuti langkah Donghae yang menuntun sepedanya menuju sebrang jalan. Harus Eunhyuk akui, kencan pertama mereka di luar ini benar-benar menyenangkan. Donghae bersikap sangat normal layaknya seorang pacar, dia tidak bicara hal-hal mesum atau meraba-raba Eunhyuk seperti saat di sekolah.
Menyenangkan sekali kalau setiap hari bisa begini...
Pandangan Eunhyuk tidak bisa berpaling dari punggung Donghae yang sedang memesan di kasir, dia tampak keren saat mengeluarkan dompet dari saku belakangnya, lalu membayar pesanan mereka. Hanya hal sederhana, tapi itu mampu membuat Eunhyuk tidak berkedip.
"Kenapa melamun? Cepat di makan, nanti cair!"
"Oh, ya."
"Kau suka?"
"Patbingsoonya? Hm, sangat enak.""
"Bukan. Padaku."
"Apa?"
"Kau menyukaiku?"
Eunhyuk berdeham, ia mangalihkan pandangannya, menghindari tatapan mata Donghae. Benar juga, kalau di pikir-pikir, Eunhyuk tidak pernah membalas kata-kata cinta Donghae. Sementara Donghae selalu mengatakannya di setiap kesempatan.
"Aku—"
"Tidak masalah kalau kau belum menyukaiku. Aku akan membuatmu menyukaiku."
Donghae menarik wajah Eunhyuk agar mendekat padanya, lalu mengecup bibir plum itu tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka.
"Kau—apa-apaan? Ini di tempat umum!"
"Mulutmu belepotan!"
Sadar semua orang mulai menatap mereka, Eunhyuk memilih keluar dari kedai itu. Udara sudah panas dan Donghae malah membuatnya semakin kepanasan. Eunhyuk mengipasi wajahnya yang panas dengan tangannya. Sungguh, tiap kali Donghae menciumnya, maka Eunhyuk akan merasa kepanasan dan wajahnya otomatis merona merah.
"Kau malu?"
"T—tentu saja!"
"Maaf, hm?"
"Lupakan! Sudahlah, ayo jalan lagi. Kita cari sesuatu untuk kamar kita nanti."
"Ah, maksudmu semacam hiasan?"
"Apapun untuk kita simpan di kamar kita nanti. Aku ingin suasana kamar yang sama dengan di rumah agar aku tidak merindukan rumah."
Ternyata, Eunhyuk tidak lebih dari anak manja yang mudah merindukan rumah. Donghae terkekeh, ada banyak sifat Eunhyuk belum Donghae ketahui, tapi begitu Donghae mengetahuinya, itu malah membuat Donghae semakin merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaksan dengan kata-kata pada Eunhyuk.
"Memangnya, ada apa saja di dalam kamarmu?"
Sambil mengayuh sepedanya, Donghae terus bicara pada Eunhyuk. Mendengarkan suaranya di cuaca secerah ini, bagaikan mendengarkan melodi yang indah. Entah sejak kapan, tapi Donghae menyukai suara Eunhyuk. Mendengarnya bicara dan tertawa, seolah menjadi melodi tersendiri bagi Donghae.
"Komik, Game, Dvd, dan masih banyak lagi."
"Saat di asrama kita tidak boleh membawa komik."
"Ah, benar juga."
Tanpa melihat ke belakang, Donghae sudah tahu Eunhyuk sangat kecewa. Suaranya terdengar berbeda ketika dia kecewa. Well, sepertinya Donghae mulai memepelajari banyak hal tentang Eunhyuk. Ia bahkan bisa menebak bagaimana ekspresi Eunhyuk hanya dengan mendengarkan suaranya saja.
"Hei, jangan bertingkah seolah-olah kau adalah murid yang sangat teladan! Kita bisa menyimpannya diam-diam, disembunyikan di tempat yang aman."
"Ah, kau benar!"
Suara Eunhyuk kembali bersemangat, membuat Donghae otomatis tersenyum.
"Kau sendiri, bagaimana? Kau mau menyimpan apa di kamar asrama nanti?"
"Hm, mungkin hanya gitar dan—"
"Dan?"
"Dan majalah porno."
"Hei! Dasar mesum! Kalau ketahuan pengawas asrama atau ketua asrama, kau bisa kena hukuman!"
"Bercanda! Lagi pula, siapa yang butuh majalah porno? Saat kau ada di hadapanku setiap malam."
Sifat mesumnya kembali lagi...
Eunhyuk hanya bisa memutar bola matanya sambil menggerutu pelan. Donghae benar-benar tidak bisa di ajak romantis. Oke, Eunhyuk juga memang mesum dan membaca majalah porno beberapa kali. Tapi setidaknya, Eunhyuk masih bisa menjaga mulutnya agar tidak bicara sembarangan. Apa lagi, ini di tempat umum.
"Berhenti. Kau ingin gitar, bukan? Lihat, ini toko musik."
"Ah, benar."
Donghae memarkirkan sepedanya, lalu masuk ke dalam toko musik itu bersama Eunhyuk. Di sana ada banyak peralatan musik di mulai dari yang kecil sampai yang besar. Dari pada gitar, mata Donghae terpaku pada sebuah piano di sana. Jadi ingat ciuman romantis pertama mereka di Concert Hall.
"Hyuk, mau mencoba pianonya?"
"Boleh!"
Untuk kedua kalinya, Donghae dan Eunhyuk memainkan irama yang sama. Memainkan melodi musik yang merdu, hingga tanpa sadar membuat mereka saling menatap mesra, lalu tersenyum. Musik membuat mereka jadi satu, melodi menyatukan perbedaan mereka.
"Ah, seandainya kita bisa main piano setiap hari."
Permainan piano mereka sudah berhenti, tapi jemari Eunhyuk masih mengelus-elus tuts piano dengan mata berbinar. Kalau bisa, Eunhyuk ingin main piano setiap hari. Mendengarkan melodi yang berasal dari piano, membuatnya tenang dan rileks.
"Kau benar-benar menyukai piano?"
"Hm."
"Sayangnya, kita tidak bisa membawa masuk piano ke kamar kita. Dan lagi, harganya sangat mahal."
Sebagai anak sekolah yang masih dibiayai orangtuanya, tidak mungkin bagi Donghae untuk menghadiahi Eunhyuk piano. Seberapa kuatpun keinginannya, bila belum belum mampu menghasilkan uang sendiri, Donghae tidak akan memberikan apapun untuk Eunhyuk. Suatu saat, Donghae akan memberikan sesuatu pada Eunhyuk dengan uang yang ia hasilkan sendiri.
"Tapi kau tidak perlu kecewa, kita bisa ke Concert Hall setiap hari. Seperti yang biasa kau lakukan."
Mereka memang bisa ke sana setiap hari kapanpun mereka mau, tapi tentu saja diam-diam tanpa sepengetahuan guru. Concert Hall hanya boleh di pakai untuk latihan anak-anak klub teater atau saat ada festival saja, selain itu siswa dilarang masuk kesana.
"Hei, cepat pilih gitarnya. Lihat, tiba-tiba saja hujan."
Donghae mengalihkan pandangannya ke jendela. Benar, di luar hujan gerimis. Bau tanah yang Donghae sukai menguar, suara gemerisik air yang jatuh ke tanah terdengar sangat khas di telinga Donghae. Donghae menyukai hujan, kapanpun hujan turun, matanya akan berbinar melihat rintikan hujan yang jatuh ke tanah.
Suara hujan, mengingatkannya pada kampung halamannya.
Mengingatkannya pada seseorang.
"Sudahlah, urusan gitar bisa kita urus nanti. Aku akan minta kakakku untuk membelikannya. Sekarang, kita harus mengembalikan sepeda ini dan kembali ke café."
Karena khawatir hujan akan turun semakin lebat, Donghae memilih untuk menerobos hujan agar bisa kembali ke café sebelum Yunho meninggalkannya.
"Donghae, jangan melaju terlalu cepat!"
"Aku suka hujan!"
"Hei, kau seperti anak kecil!"
Eunhyuk ingin mengomeli Donghae, tapi akhirnya ia malah ikut tertawa bersama Donghae. Tawa Donghae sangat bahagia, dia begitu riang mengayuh sepedanya di tengah-tengah hujan yang mulai lebat.
Sial! Tawanya menular, aku jadi tidak bisa marah.
Sampai di tempat penyewaan sepeda, Donghae melirik Eunhyuk tidak rela. Seandainya tidak hujan, mereka pasti bisa lebih lama bermain sepeda. Donghae suka sekali saat Eunhyuk memeluk pinggangnya, ia juga suka sekali mendengar pekikan Eunhyuk saat ia mengayuh sepedanya dengan cepat.
Donghae menyukai kencan hari ini.
"Hujannya semakin lebat, bagaimana ini?"
"Sepedanya sudah kita kembalikan, jadi terpaksa kita berlari ke café."
"Tapi—"
Donghae tidak mendengarkan Eunhyuk, ia menggenggam tangan Eunhyuk lalu berlari menembus hujan yang cukup lebat. Lagi-lagi Donghae mengalami hal yang di sebut pertama kali. Hari ini, di tengah hujan yang cukup lebat, Donghae menggenggam tangan Eunhyuk dan berlarian menembus hujan. Hari ini pertama kalinya juga Donghae melihat Eunhyuk tertawa hingga gusinya terlihat.
Well, dia terlihat sangat manis saat tertawa lepas seperti itu.
"Kalian berdua kenapa hujan-hujanan? Sedang shooting video klip? Sok romantis!"
"Yunho, aku dan Eunhyuk akan naik bus saja. Kau dan Jaejoong pulang saja duluan."
"Kenapa?"
"Jok mobilmu bisa basah semua, kau tidak lihat? Kami basah kuyup."
Mata Jaejoong memincing, "Alasan klasik! Bilang saja kau masih ingin berduaan!"
Senyuman Donghae mengiyakan pertanyaan Jaejoong, ia kemudian melambaikan tangannya seolah mengusir Yunho dan Jaejoong agar cepat pergi.
"Tadi Yoochun dan Junsu yang seperti itu, sekarang kalian juga! Ya sudah, kami duluan!"
"Bye!"
Dan hari ini, pertama kalinya pula Donghae dan Eunhyuk naik bus bersama.
.
.
"Jadi, kenapa kau malah membawaku kemari dan bukannya mengantarku pulang?"
Eunhyuk bertanya pada Donghae yang sedang menuangkan jus jeruk ke gelas, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang diberikan Donghae. Ini yang kedua kalinya Donghae menyeret Eunhyuk ke dalam apartemennya tanpa seijin Eunhyuk.
"Aku tidak mungkin mengantarmu pulang dalam keadaan basah kuyup. Aku tidak mau di maki kakakmu."
Pasti hanya omong kosong. Memangnya Eunhyuk anak kecil? Heechul tidak mungkin memarahi Donghae hanya karena dia mengantar Eunhyuk dalam keadaan basah kuyup.
Oke, selain mesum dia juga pintar sekali bermodus rupanya.
"Jadi keringkan saja dulu tubuhmu di sini, baru aku antar pulang."
Tangan Donghae mengambil alih handuk yang ada di kepala Eunhyuk, lalu menggosok kepala Eunhyuk dengan lembut. Matanya tidak bisa lepas dari bibir plum Eunhyuk, sangat merah dan mengundang untuk di lumat. Donghae mulai menelan ludahnya, gerakan bibir Eunhyuk yang tidak di sengaja malah membuat Donghae semakin berpikir macam-macam.
"Kenapa bibirmu begitu menyebalkan?"
"Hm?"
"Bibirmu itu selalu mengundang untuk di lumat!"
Sebelum Eunhyuk sempat bereaksi, Donghae sudah memagut bibir Eunhyuk duluan. Awalnya Eunhyuk terkejut, tapi sedetik kemudian ia memejamkan matanya dan mulai menikmati lumatan Donghae yang agak kasar.
"Donghae—ngh."
Eunhyuk mulai melenguh ketika Donghae melepaskan bibirnya dan beralih mencumbu leher dan bahunya, dia menarik lengan baju Eunhyuk hingga bahu putih Eunhyuk terlihat. Tidak ada yang bisa dilakukan Eunhyuk kecuali melenguh dan meremas rambut Donghae untuk memberitahunya, bahwa Eunhyuk menyukai sentuhan Donghae.
"Jangan—jangan—uh, jangan meninggalkan bekas."
"Ah, benar. Kalau kakakmu sampai tahu, kita bisa celaka."
Donghae mengalihkan cumbuannya ke seluruh wajah Eunhyuk. Ia mengecup mulai dari kening, mata, pipi, dan kembali pada bibir plum Eunhyuk.
"Aku benar-benar menginginkanmu."
Tangan Donghae menarik baju Eunhyuk hingga terlepas. Sekali lagi, Donghae melihat kulit putih Eunhyuk yang tanpa cacat sama sekali. Telapak tangannya meraba pinggul Eunhyuk, sementara bibirnya mulai menggoda puncak dada Eunhyuk, hingga Eunhyuk melenguh dan mendesah pasrah.
"Donghae, ada yang datang. Ngh—belnya bunyi."
Hanya sedikit lagi, sedikit lagi Donghae akan berhasil membuka kancing celana Eunhyuk.
"Donghae!"
"Ah, kenapa?"
"Ada yang datang!"
Donghae mendesis tidak suka, tanpa menghiraukan penampilannya yang berantakan, dan tanpa melihat intercomnya terlebih dahulu, Donghae membukakan pintu untuk si pengganggu yang tidak tahu waktu itu.
Kenapa harus ada tamu di saat seperti ini? Benar-benar menyebalkan!
"Hai."
Mata Donghae hampir tidak berkedip melihat sosok yang ada dihadapannya. Hampir dua tahun lamanya Donghae tidak melihat orang itu, dan sekarang dia muncul lagi dihadapan Donghae dengan senyumnya yang khas. Senyum yang dulu membuat Donghae terpikat padanya.
Seseorang dengan senyum yang sangat Donghae kagumi, kini muncul lagi dihadapannya setelah menghilang tiba-tiba-tiba. Seseorang yang hampir saja Donghae lupakan, kini berdiri dihadapannya dengan senyum yang dulu sangat Donghae sukai.
"Apakah Yunho yang datang? Kenapa tidak masuk dan diam saja?"
Eunhyuk kembali memakai pakaiannya, tapi ia lupa membetulkan kancing celananya yang tadi di buka Donghae. Dengan santai Eunhyuk melenggang menuju pintu depan, menyusul Donghae.
"Siapa yang datang, Donghae?"
"Kim—Kibum?"
Kenapa kau kembali? Di saat aku mulai melupakanmu sedikit demi sedikit.
.
.
TBC
Lagi onfire nulis hehehehe maaf kl banyak typo~~~
Ini sudah cukup fluff kah? Sudah cukup manis kah? Udahlah ya~~ saya nulisnya jg jadi gemes sendiri...like "why am i so cheesy af" =_= hahahahah
Maafkan krn gak bisa balesin Review satu2 tapi selalu saya baca kok ^^ kl ada apa2 hubungi aja kontak yg ada di bio yah ^^
Oke, thank you~~ and last...
Review pls? ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
