Terima kasih untuk semua review dan yang sudah bersedia mampir untuk membaca fict ini.

Curhat sedikit boleh ya?

Kemarin-kemarin aku sedang penuh sekali, dua minggu UTS, abis itu langsung Touring sama teman-teman kantor, rasanya badan mau remuk deh. Ditambah lagi nenekku meninggal, makin down aja. Tapi membaca review Anda semua aku kembali bersemangat.

Terima kasih buanyak, Mina-san *teriak pakai toa*

Dengan sangat bangga *plaks-dilempar bakiak rame2* aku persembahkan chap tiga.

Selamat membaca


Disclaimer: Bleach hanya milik Om Tite, aku pinjam charanya untuk fict ku ya, Om.

.

.

Tittle : THE IRIS

By : Nakki Desinta

Rated : Drama/Suspense

.

.

Chapter 3


"Ichigo, apa yang terjadi?"

Sebuah tepukan keras di bahuku membuatku tersentak sadar, ku dapati Keigo menatapku penuh tanya, dan seketika aku berlari memacu kakiku, meraih kunci mobil dari saku dan menyusul mobil Renji yang telah melesat jauh di depanku.

Ku injak gas tanpa ragu, hingga berhasil menjaga jarak dengan mobil Renji, pandanganku kabur sesekali karena pengaruh alkohol, dan aku mencengkram stir kuat-kuat untuk mempertahankan kesadaranku, karena sekarang yang aku rasakan adalah gemuruh ketakutan, cemas dan kesedihan yang amat sangat, memikirkan Rukia.

Orang tadi… aku sangat yakin dengan warna rambut itu, aku pernah melihatnya, tapi dimana….

Renji merebahkan Rukia di kereta ranjang yang dibawa oleh seorang perawat yang menggunakan seragam serba hijau, aku menyusul mereka menuju ruang ICU.

"Tunggu di sini."

Perawat menahan langkahku ketika aku mengikuti Rukia masuk ke ruangan steril itu.

"Tapi istriku…"

"Kami akan menanganinya, silahkan Anda hilangkan pengaruh alkohol Anda dulu," kata perawat dengan suara sinis, mungkin dia mengira apa yang terjadi pada Rukia karena pengaruh alkohol padaku.

Aku meraih sandaran kursi, dan duduk perlahan di kursi tunggu, sementara Renji sudah duduk, tangannya masih berlumuran darah Rukia, merah dan kental bahkan hampir mengering.

"Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Rukia?"

Aku menggeleng cepat, karena aku sendiri tidak mengerti. Benarkah hanya kesalahpahaman ataukah ada hal lain yang sebenarnya mendasari perbedaan cara ku dan Rukia berpikir? Betapa perbedaan cara berpikir kami berdua seperti bumi dan langit, aku tidak cukup mengerti cara Rukia menilaiku yang terlalu posesif, dan aku telah memperkeruh keadaan dengan membiarkan diriku didekati wanita lain tepat di mata Rukia.

"Kami cekcok, dan dia meninggalkanku, tapi di tengah tangga dia berhenti dan papasan dengan seseorang berjacket hitam, seketika dia jatuh, aku tidak tau kenapa... dan… dia jatuh berguling-guling, aku hanya terdiam melihatnya, betapa bodohnya aku…"

"Jadi kau menyesalinya, Kurosaki Ichigo?"

Aku mendongakkan wajah, sudah mengira siapa pemilik suara sombong penuh intimidasi ini.

Kuchiki Byakuya berdiri di depanku, matanya menyipit memberikan tatapan tidak suka. Dia seperti akan membunuhku dalam seketika saat memberikan tatapan mengerikan itu. Aku berdiri, melihat mata Byakuya langsung, membiarkan intensitas tatapan kami berdua menyebabkan ketegangan yang memenuhi sekitar.

"Kau sungguh membuat adikku mengalami hidup buruk. Bukankah sudah ku peringatkan untuk tidak melukai adikku?"

"Dia tidak bersalah, Rukia jatuh!"

Renji membelaku saat Byakuya mengepalkan tangan, menjaga sikapnya agar tetap terlihat seperti seorang bangsawan terhormat, tidak lepas kendali dan menghajarku dengan tangannya yang selalu bersih itu.

"Lalu pembelaan macam apa yang akan kau berikan atas video pertengkaran kalian di kantor polisi?" Byakuya kembali menyerukan ketidakharmonisan aku dan Rukia hari ini. Sudah cukup masalah dan beban yang harus aku tanggung hari ini.

"Video?" ulangku tidak mengerti.

"Maaf, Ichigo. Aku baru mendengarnya dari Tatsuki tadi sore, jadi belum mengatakannya padamu. Video pertengkaran kau dan Rukia beredar di internet," sahut Renji, suara yang dalam dan kental dengan penyesalan.

Aku membeku dan kehilangan kata-kataku. Tidak ada pembelaan apapun untuk pertengkaran yang telah aku ciptakan, memang aku yang salah, sekalipun Rukia balas berteriak padaku saat itu, murni karena ia kesal padaku yang terus berteriak seperti anak TK padanya.

Tapi apakah sebegitu pentingnya bagi pihak luar untuk mengetahui perdebatan antara aku dan Rukia, hingga mereka repot-repot merekam semuanya dan mempublikasikannya, mereka pikir aku dan Rukia artis?

Mengingat perdebatan kami yang secepat kilat menyambar itu sungguh menyesakkanku, karena dalam hari yang sama Rukia malah berakhir di rumah sakit.

"Aku tidak akan membela diri, aku memang salah," bisikku, menunduk dalam untuk menyembunyikan wajahku, karena aku yang telah menyebabkan semua bencana ini, aku pantas mendapat hukuman macam apapun.

"Lalu kenapa kau biarkan dia terluka seperti ini? Bukankah kau yang harus menjaganya?" kata Byakuya dengan suara dingin menusuk, aku hanya mampu menunduk pasrah, membiarkan diriku tertelan rasa bersalah yang amat sangat.

"Jawab aku, Kurosaki Ichigo!" Pertama kalinya aku mendengar suara kasar Kuchiki Byakuya, membuat siapapun tau bahwa ia sudah melampaui batas sabar yang mampu ia miliki, sorot yang ia berikan menggambarkan kesedihan yang ia rasakan. Dia marah dan bersedia membunuhku dengan tangannya. Aku akan menerima segala hal yang ia inginkan agar aku menebus kesalahanku pada Rukia. Bahkan jika Tuhan berkehendak lain, aku bersedia menukar tempatku dengan Rukia, hukumlah aku, tapi jangan biarkan Rukia menderita lagi.

Rukiaku… dia harus tetap menatapku dengan mata angkuh itu, dia harus tetap berjalan dengan kepala terangkat tinggi, dia harus tetap membanggakan pesonanya pada semua orang, dan egois seperti apapun dia, aku tidak akan mengeluh lagi. Aku akan mengerti…

Keigo datang menyusul kami, dia terengah-engah dan nyaris menjatuhkan rahangnya saat melihat Kuchiki Byakuya berdiri di dekatku. Keigo sangat mengagumi keluarga Kuchiki, tak terkecuali Rukia, namun dengan cepat ia mengatur raut wajahnya.

"Aku sempat melihat Rukia di kamera CCTV club, dia tidak di dorong. Dia memang jatuh begitu saja setelah bicara dengan orang berjacket hitam itu, warna rambut orang itu pink menyala, tapi kami tidak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup topi," jelas Keigo dengan tangan menyodorkan ponselnya, memintaku melihat kembali hasil rekaman kamera CCTV.

Aku melihat kembali putaran video itu, terlihat dari sudut pandang bawah hingga wajah Rukia terlihat jelas, dia berhenti mendadak saat orang itu berhenti tepat satu tangga dibawahnya. Mata Rukia yang bulat tiba-tiba membesar, matanya dipenuhi kengerian dan horror, dan orang berjacket hitam itu kembali melangkah, tepat setelah itu Rukia limbung, Rukia sempat menekap mulutnya rapat sebelum matanya terpejam dan dia jatuh berkali-kali menghantam sudut anak tangga, tidak ada teriakan darinya, yang ada hanya tubuh jatuh tanpa perlawanan.

Apa yang telah dilakukan orang berjacket hitam itu?

"Jadi orang itu?" ucap Byakuya, dendam sudah memenuhi nada suaranya. Dia langsung menarik ponselnya dan bicara dengan seseorang, dingin dan penuh kebencian, dia memaksa orang yang ia ajak bicara untuk menemukan orang berjacket dengan rambut warna pink itu. Dia bersedia membunuh orang yang telah menyakiti adiknya, bukankah dia sama posesifnya denganku?

Detik kemudian Ulquiorra datang, tidak terlihat panic sama sekali, dia tetap tenang, namun matanya menudingku dengan tajam, tidak perlu memojokkanku seperti itu, aku sudah cukup sadar diri semua ini kesalahanku.

Renji beranjak dari kursinya, baru aku sadar dia diam saja sejak Keigo datang dan membawa video itu. Dia menekuri lantai sejak lima menit lalu, menekuri tangannya yang merah karena darah mengering.

"Aku ke toilet," ucapnya, melangkah menuju koridor yang panjang dan berujung gelap.

"Kenapa dia?" tanya Keigo. Aku mengendikkan bahu tanda tidak mengerti.

Renji yang biasanya menyeringai lebar sekarang seperti dirundung kesedihan tak berkesudahan, punggungnya merosot hingga tubuhnya bungkuk. Apa yang sedang menggangu pikirannya?

"Bagaimana keadaannya?" tanya Ulquiorra tanpa melihatku, dia malah menghadap Byakuya yang baru selesai menelepon dan mengantongi ponselnya .

"Belum tau, dokter masih me…"

Byakuya menghentikan kalimatnya, dia melihat kearah koridor di hadapannya, kontan kami mengikuti arah pandangannya. Jantungku berhenti berdetak, semua saluran yang membawa oksigen ke paru-paruku tertutup rapat, melihat alat -yang setauku digunakan untuk memancing detak jantung yang sudah berhenti- itu diseret dengan trolly menuju ruang ICU dimana Rukia berada membuatku membayangkan hal buruk yang sedari tadi aku tabukan untuk ku pikirkan.

Kedua perawat itu masuk dan membiarkan kami kembali menunggu.

"Apakah dia kritis?" seruku seraya menahan pintu ruang ICU yang hendak di tutup oleh salah satu perawat.

"Kami tidak tau, silahkan Anda menunggu di luar," kaanya dingin, seolah tidak peduli dengan kami yang menunggu.

Pintu kembali tertutup rapat, aku merosot turun hingga terduduk di lantai, kepalaku kosong saat mendengar suara-suara bicara dengan nada panic dari dalam ruang ICU.

"Siap?"

"OK!"

Jeda sebentar dan terdengar suara hempasan.

"Tidak ada reaksi, naikkan!"

"Baik!"

Aku menangkup wajahku dengan kedua tangan, berharap ini hanya mimpi buruk yang akan membawaku terbangun, dan kembali melihat Rukia tertidur pulas di sisiku, membiarkanku kembali menyentuhnya. Tuhan, jangan ambil Rukia, aku mohon…

Semua kepala menoleh padaku yang tengah meratap di lantai. Dadaku terhimpit batu besar, hingga sulit bernapas, harapanku harus tetap menyala, aku yakin Rukia akan bertahan, dia wanita kuat dan keras hati, dia tidak akan membiarkan maut menjemputnya secepat ini, tidak akan.

Byakuya kembali mengambil ponselnya lagi.

"Panggil Dokter Uryuu ke sini, sekarang!" serunya dengan napas memburu.

Byakuya tengah merasakan cemas yang sama denganku, kami berdua sama-sama mencemaskan Rukia, namun aku merasa akan tumbang dan tidak mampu bertahan jika mendengar hal yang lebih buruk lagi dari ini.

"Sebaiknya kita berdo'a agar semua baik-baik saja," kata Ulquiorra yang masih mampu berpikir dengan kepala dingin. Aku dan yang lain mengikuti saran Ulquiorra, kami semua tertunduk dengan kepala menghadap lantai, berdo'a dalam hati masing-masing.

.


Waktu kembali bergulir, Renji kembali dengan tangan bersih, hanya bercak darah di kemejanya yang berwarna putih bersih, namun ia tidak sendiri, seseorang muncul bersamanya dari koridor.

"Aku bertemu dengan Jendral Ichimaru di koridor," jelas Renji sebelum aku dan yang lain bertanya.

Tapi untuk apa Kepala Kepolisian sekelas Jendral Ichimaru datang ke rumah sakit ini?

"Selamat malam, Mr. Kuchiki," ucapnya sopan, dia menyapa Byakuya lebih dulu.

Byakuya menatap orang itu dengan sorot mata tak bersahabat, ternyata bukan hanya aku yang tidak menyukai Jendral yang terus tersenyum penuh kepura-puraan itu.

"Bagaimana keadaan adik Anda?" ucapnya lagi seraya menoleh padaku yang perlahan bangun dari lantai, "Semua seperti takdir, Mr. Kurosaki, baru tadi siang kita bertemu, kan?" lanjutnya.

Aku membaca makna lain dari kata-katanya. Orang ini memang penuh dengan misteri, caranya tersenyum membuatku muak. Senyumnya yang sekarang terlihat jelas hanya formalitas untuk menunjukkan kebiasaannya, dia tidak tersenyum dari hati.

"Ada masalah apa hingga Anda datang ke sini?" tanyaku yang sudah menguasai diri sepenuhnya, mengesampingkan sejenak kegelisahanku akan kondisi Rukia.

"Karena salah satu bangsawan menelepon pusat intel dan meminta satu batalyon pasukan untuk menangkap orang berjacket hitam dengan rambut pink." Jendral Ichimaru menoleh pada Byakuya, matanya yang hanya berupa garis lengkung memberikan kesan ramah yang tidak ramah sama sekali. Sangat jelas bagi semua yang ada di depan ruang ICU, dia sedang menyindir bangsawan bernama Kuchiki, salah satu bangsawan yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan kebijakan presiden sekalipun.

"Sekalipun Anda menjadi donator utama dalam operasional kami, tidak seharusnya Anda berlaku seperti ini, Mr. Kuchiki."

"Apa kau sedang menguliahiku, Jendral?" Byakuya menyipitkan matanya untuk melemparkan sorot mengancam.

"Bukan, hanya sedikit memberitahu Anda batasan yang harusnya sangat jelas untuk Anda. Tapi Anda tidak usah khawatir, kami sudah menurunkan tim terbaik untuk menangani kasus ini."

Rahang Byakuya berubah kaku, tangannya mengepal kuat menahan amarah yang tergambar jelas di wajahnya. Bangsawan ini sangat bisa menahan dirinya.

"Lalu jika Anda sudah menurunkan satu tim, untuk apa Anda masih disini, Jendral?" Ulquiorra buka suara setelah sekian lama, membuat Keigo menoleh kearahnya, karena wajah tanpa ekspresi itu telah mengucapkan kalimat dengan suara sedatar jalan aspal.

"Hanya peduli pada korban yang nantinya harus menjadi saksiku," jawab Jendral berambut silver itu.

Aku dan keempat orang lainnya menatapnya heran. Kami semua mendengar bagaimana ia menyebut kata terakhirnya. Aku memerhatikan Jendral dengan rambut silver itu, warna rambut yang tidak lazim untuk seorang pejabat dalam jajaran kepolisian.

Dia tergolong muda sebagai seorang Kepala Kepolisian, dan dengan profil sepertinya aku sendiri kagum dia mampu mendapatkan gelar Jendralnya. Aku hanya tau dia di adopsi oleh seorang sesepuh dalam dunia kepolisian, Yamamoto. Namun tidak ada satu rumorpun yang mengatakan bahwa ia menggunakan koneksi untuk memperoleh posisinya saat ini, dia terkenal sebagai seorang yang apik dalam menangani semua permasalahan. Si Jendral yang sangat dikagumi semua warga.

"Saksi atas apa, Jendral Ichimaru?" Byakuya buka suara.

Jawaban Jendral Ichimaru tertahan karena pintu ruang ICU terbuka, dan seorang dokter dengan rambut panjang dikepang rapi keluar dari ruangan serba putih itu, wajahnya tampak lesu saat membalas tatapan kami semua.

Hatiku seperti anjlok ke tanah. Jangan sampaikan berita buruk padaku, jangan!

"Pasien masih belum stabil, dia banyak kehilangan banyak darah, kita akan tunggu hingga besok, semoga dia bertahan," jelas pemilik wajah keibuan itu.

"Dokter Unohana," seorang perawat keluar dari ruang ICU, tergesa-gesa, "pasien kembali kejang!"

Dokter Unohana kembali masuk, dan memakai maskernya. Hatiku seperti sedang dipermainkan oleh keadaan, apa yang kau pikirkan sekarang Rukia? Bangun, jangan hanya pasrah membiarkan dirimu hilang dari hadapanku, lawan rasa sakit itu, kau mampu melawannya.

"Kelihatannya cukup kritis," bisik Jendral Ichimaru, seringai di wajahnya hilang sama sekali.

Aku memerhatikan dirinya yang berdiri tegak di hadapan Byakuya, tersirat kebencian di wajahnya, sangat samar, mungkin Byakuya sendiri tidak membacanya.

"Ada alasan lain aku datang kesini," lanjutnya dan berhasil menarik perhatian kami semua, mengembalikan kami pada pertanyaan Byakuya yang belum terjawab olehnya.

"Kami memeriksa club tempat kejadian, dan menemukan mobil Rukia di area parkir dengan kondisi kabel rem terpotong rapi, seseorang sudah memutus kabel remnya. Ada seseorang yang menginginkannya celaka," ucapnya tanpa melihat kengerian yang terpancar dari semua wajah yang melihatnya.

"Tapi orang berjacket hitam itu tidak terbukti melakukan sesuatu, dari hasil rekaman dia 'bersih', sekalipun kami bisa menangkapnya tidak akan mungkin menjebloskannya ke penjara hanya karena berjalan di tangga," tuturnya, mencegah kami menuding orang berjacket hitam yang sedari tadi kami jadikan tersangka semua bencana ini.

"Itu benar juga," sahut Keigo sambil mengangguk dalam.

Aku menyetujui Keigo dalam hati, tidak mungkin kami membuat seseorang masuk ke penjara hanya karena alasan sepele, hanya berjalan di tangga.

Kami semua termenung dengan pikiran masing-masing, mencoba mencari tau sumber semua kejanggalan ini. Namun lagi-lagi kami teralih dengan kehadiran Dokter Unohana yang keluar dari ruang ICU, wajahnya jauh lebih kelihatan lebih bercahaya dari sebelumnya.

"Dia benar-benar seorang wanita yang berkemauan keras," keluhnya seraya melepas maskernya, jauh lebih lega.

"Dia melawan, dan bertahan. Kebanyakan kasus serupa seperti ini akan meninggal beberapa jam dari kejadian karena kehilangan banyak darah. Dia bukan wanita biasa, dan kita tinggal tunggu dia sadar saja, masa kritisnya telah lewat," jelas Dokter Unohana tanpa melepaskan pandangannya dariku.

"Tidak usah cemas, dia akan baik-baik saja," katanya lagi seraya menepuk bahuku.

"Terima kasih, Dokter," desisku tulus.

Dokter Unohana berbalik dan menghadap Kuchiki Byakuya, pria dengan mata datar penuh intimidasi itu mengangkat alisnya saat mendapatkan tatapan sengit dokter Unohana.

"Anda tidak perlu memanggil Dokter Uryuu ke sini, Mr. Kuchiki, karena Dokter Uryuu adalah junior saya, dia tau apa yang saya lakukan adalah yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa seseorang."

Wanita lemah lembut itu memandang Byakuya, membuat wajah Byakuya memerah malu. Namun aku mengerti Byakuya panic dan ingin Rukia ditangani oleh dokter paling baik sedunia, selama ini dokter Uryuu –lah yang menangani semua kesehatan di keluarga Kuchiki.

"Permisi." Dokter Unohana mengangguk dalam untuk undur diri.

"Silahkan," sahut Renji yang langsung berdiri di depan pintu ruang ICU.

Pemilik rambut warna merah itu menatap jauh ke dalam ruang ICU, matanya menerawang seolah bisa menembus tirai yang menutupi pandangan tempat Rukia berbaring. Dia terlihat sangat sedih. Namun tidak aku ketahui sumber kesedihannya, apakah dia sedih karena Rukia yang terbaring disana, atau ada hal lain yang sedang mengganggu kepalanya?

"Aku takut Rukia akan pergi, seperti kepergian Ibu ku saat jatuh dari tangga," gumam Renji yang sepertinya tidak sadar keberadaan kami semua, aku mendapati matanya basah seketika, namun air mata tertahan itu tidak menetes.

Aku mengerti kesedihan yang sedang Renji rasakan, karena Renji kehilangan ibunya saat ia berumur 15 tahun, ibunya jatuh dari tangga karena mengalami vertigo,dia tidak mampu mempertahankan keseimbangan diri, dan jatuh, seketika itu pula wanita lemah lembut itu meninggalkan kami semua. Aku menyaksikan proses pemakaman yang diguyur hujan seharian itu, seolah langit ikut menangis bersamanya, namun Renji tak sedikitpun meneteskan air matanya, dia hanya terdiam seperti manusia tanpa hati saat itu, dia tidak memberikan wajah sedih, dia membentengi dirinya dari kesedihan saat itu, karena dia ingin kuat. Renji adalah teman dan sahabat untukku.

Apa yang kami rasakan sekarang sama. Aku pun merana membayangkan Rukia terbaring disana, memperjuangkan dirinya agar tetap bernapas dan hidup. Namun sku sudah sedikit lebih lega mendengar apa yang dokter katakan, kami hanya perlu menunggunya sadar, dan semua akan baik-baik saja.

Terima kasih karena tidak mengambil Rukia dariku, Tuhan...

"Syukurlah semua baik-baik saja. Kami akan menyelidiki kasus ini lebih mendalam,dan akan menangkap orang yang telah mengancam nyawa adik Anda, Mr. Kuchiki," jelas Jendral Ichimaru dengan wajah cerah, kali ini senyumnya lebih tulus.

"Aku sangat menghargai hal itu, Jendral." Byakuya menyambut uluran tangan Jendral Ichimaru.

Pria berambut silver itu menoleh padaku sebelum beranjak pergi, dia menenglengkan kepalanya dan membuatku bertanya-tanya apa maksudnya melakukan hal itu. Dia tersenyum.

Jendral dengan rambut silver itu memberikan banyak teka teki yang aku merasa penting untuk membukanya. Caranya tersenyum menyimpan banyak makna.

Aku pun bertanya-tanya tentang sebuah fakta yang ia ungkapkan pada kami semua.

Seseorang mengincar Rukia, mungkinkah itu Grimmjow? Tapi apa hubungannya dengan orang berjacket hitam yang Rukia temui sebelum ia jatuh dari tangga? Siapa sebenarnya orang yang menginginkan Rukia celaka?

Semua membuat kepalaku terasa penuh dalam seketika.


Pagi datang dengan sangat cepat, aku melewatinya tanpa memejamkan mata, membiarkanku terjaga melewati malam dan menunggu adanya suara dari dalam ruang ICU. Namun malam berganti dan Rukia tidak menimbulkan kegaduhan yang mungkin bisa membuat perawat atau dokter datang memeriksanya. Dia sangat tenang, aku takut kalau-kalau dia tidak berkenan untuk bangun lagi. Jika itu benar terjadi maka tamatlah sudah cerita tentang diriku, ikut bersama Rukia.

Renji dan Keigo sudah pamit sejak dua jam lalu, mereka harus masuk kantor dan meng-handle pekerjaan yang aku tinggalkan. Sementara Byakuya terpaksa pergi saat seorang dari rumah keluarga Kuchiki datang menjemputnya, sepertinya sesepuh keluarga Kuchiki yang tidak lain adalah Mr. Genrei, meminta penjelasan mendetail tentang kekacauan yang menimpa Rukia.

Jadilah tinggal aku dan si wajah datar, Ulquiorra Schiffer, saling mengunci kata-kata dengan mata serta telinga waspada mendengar segala macam suara yang berasal dari dalam ruang ICU.

"Bolehkah aku menjenguknya?" tanyaku saat seorang perawat hendak masuk ke ruang ICU.

Perawat berambut ungu dengan postur tubuh yang terbilang tinggi untuk ukuran tubuh wanita pada umumnya itu tersenyum padaku, membuatku teringat pada Rukia yang harus mendongakkan kepala setiap kali bicara padaku. Betapa semua hal mengingatkanku pada Rukia.

Aku membaca barisan nama yang terbordir di bajunya. Isane Kotetsu.

"Anda bisa menjenguknya, mmm… mungkin setengah jam lagi. Karena pasien sudah stabil dan akan kami pindahkan ke ruang rawat biasa," jawabnya.

Aku ingin menarikan kebahagiaan yang aku rasakan sekarang, kelegaan karena berita baik ini mengembangkan hatiku hingga sangat luas, harapan itu mendekati 100%, aku percaya Rukia akan segera sadar.

Ku biarkan perawat itu masuk ke ruang ICU. Ulquiorra yang sedari tadi duduk tegak bak patung di kursi tunggu, bangun dan menghampiri ku, dia menepuk bahuku pelan.

"Tuhan tidak akan tega mengambil Rukia dari semua orang yang sangat menyayanginya," katanya, untuk pertama kalinya aku melihat emosi dalam matanya. Mata yang berwarna emerald itu sekarang memancarkan kelegaan, menyilaukanku dengan perubahan auranya yang sangat cepat, dia merasakan lega yang sama denganku.

Pria ini sungguh menempatkan Rukia di tempat yang khusus dalam hatinya, dia sangat cemas pada Rukia, wajah kaku itu tidak sepenuhnya telah mendingin, dia memiliki sisi baik yang bisa menerima orang lain dalam hidupnya, sekalipun dia terkenal sebagai seorang pengusaha yang tak pernah bisa dekat dengan siapapun, pengusaha yang memiliki hati dingin dan bisa melakukan apapun untuk kelancaran bisnisnya, namun akhirnya luluh juga oleh Rukia.

Kami berdua memutuskan untuk pergi sebentar dari ruang ICU, membersihkan diri sekenanya, dan mengisi perut dengan segelas kopi dan sepotong roti, baik aku maupun Ulquiorra sama-sama tidak memiliki keinginan untuk mengisi perut, hanya syarat agar perut kami tidak melilit berteriak minta diisi.

Saat kami sedang menyesap kopi kami di kafetaria, beberapa orang lewat dengan membawa kamera, terlihat jelas mereka adalah wartawan yang sedang memburu berita.

"Jendral Ichimaru!" seru salah satu dari mereka.

Aku dan Ulquiorra sontak menoleh kearah gerombolan itu melihat, dan di pintu kafetaria yang merupakan pintu akses dari area parkir basement rumah sakit, muncul Jendral Ichimaru, berpakaian santai tanpa seragamnya yang berwarna putih bersih yang memberikan kesan tegas. Kali ini ia mengenakan celana dan jas persis eksekutif muda, menyaingi aku dan Ulquiorra, karena harus dengan catatan, aku dan Ulquiorra belum sempat merapikan diri kami sejak semalam, bahkan kami belum mandi.

Jendral berambut silver itu terus melangkah dan tidak mengindahkan tangan-tangan yang menyodorkan microphone padanya, seringai di wajahnya hilang sama sekali, dia sedang kesal, terlihat sekali dari raut wajahnya.

"Bagaimana dengan perkembangan kasus percobaan pembunuhan Kuchiki Rukia?" tanya salah satu diantara mereka.

Aku mengangkat alis tinggi-tinggi, heran, cepat sekali berita tersebar.

Dari tempat ku duduk, aku bisa melihat rahang Jendral Ichimaru mengeras, dia menoleh pada para wartawan, dan menghentikan langkahnya, aku bisa merasakan ketegangan yang ia pancarkan untuk semua wartawan itu.

"Mohon maaf sebelumnya," katanya. Hah, ini basa basi hanya untuk membuat orang-orang menganggap dia bersikap sopan.

"Ini rumah sakit, dan pasien sedang menjalani perawatan, saya harap Anda semua tau batasan-batasannya," ucapnya dengan seringai mengerikan, aku sampai merinding, dan Ulquiorra hanya sedikit menaikkan alisanya saat melihat cara Jendral Ichimaru menghadapi para wartawan.

Para wartawan itu langsung mundur teratur, tidak lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan padanya. Dia melangkah kembali menuju lift, dan anehnya dia tidak membawa para algojonya hari ini.

"Apa sebaiknya kita naik sekarang?" Ulquiorra memecah perhatianku yang masih tertuju pada Jendral Ichimaru.

Aku tau maksud kalimatnya, jangan sampai kami kedahuluan si rambut silver. Entah mengapa aku tidak rela si pemilik rambut silver itu berada di dekat Rukia.

Ini hanya pikiranku, mungkin aku cemburu, tapi ku pikir aku pantas merasa cemburu seperti ini. Rukia istriku dan dia seperti medan magnet yang akan menarik semua laki-laki mendekat padanya. Hampir sama dengan perumpamaannya denganku, aku bisa tenang dengan hatiku sendiri karena yakin aku selamanya hanya akan mencintai dia seorang, tapi Rukia..

Dia memiliki hati rentan yang sangat mudah terluka, dia mudah meledak-ledak, dan aku takut jika suatu saat nanti aku terlalu dalam melukainya, atau memang sudah? Apa yang aku lakukan padanya kemarin, sengaja atau tidak sengaja telah melukainya, dan hanya Rukia sendiri yang bisa memutuskan sedalam apa aku telah melukainya.

Aku dan Ulquiorra menyusul Jendral Gin yang sudah menaiki lift beberapa menit lebih cepat dari kami. Namun kami keluar dari lift bersamaan, aku berpapasan dengannya tepat saat aku dan Ulquiorra keluar dari lift. Dia tersenyum hambar pada kami.

"Selamat pagi, Mr. Kurosaki & Mr. Schiffer. Apa kabar?" ucapnya seraya mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya, memberikan senyum lemahku. Karena aku sudah luar biasa lelah, bukan lelah seperti orang yang selesai bekerja, tapi lelah karena beban hati yang terlalu berat.

"Ada keperluan apa kesini? Rukia belum sadar," tembak Ulquiorra langsung, nada suaranya mengancam, aku suka itu. Aku dukung kau sepenuhnya Mr. Stoic, aku juga ingin dia cepat hengkang dari rumah sakit ini, dan berhenti berkeliaran di sekitar Rukia.

"Aku tau hal itu. Aku hanya ingin menjenguk. Apakah itu salah?" jawab Jendral Gin.

"Tentu saja tidak masalah, dan terima kasih sudah mengusir wartawan itu," kataku sungguh-sungguh.

"Bukan masalah, wartawan memang seperti semut. Dimana ada berita panas mereka akan langsung datang, terutama menyangkut orang terkenal dan berpengaruh seperti keluarga Kuchiki," sahutnya santai.

Aku mengangguk mengiyakan, dan ditambah Rukia adalah istri ku, makin jadi sorotan.

Kami melangkah bersama menuju ruang ICU, dan benar seperti dugaanku, Rukia sudah dipindahkan ke ruang rawat di lantai sepuluh, maka kami harus naik lift lagi untuk mencapai ruang rawat Rukia.

Aku tidak melakukan administrasi apapun untuk Rukia, tidak ada satupun dokter atau perawat yang memintaku untuk menandatangani dokumen persetujuan macam apapun, semua terjadi begitu saja, bahkan Rukia yang dipindah ke ruang rawat tanpa memintaku mendampingi. Sudah jelas ini karena campur tangan seorang kakak yang sangat hebat seperti Byakuya, sampai posisi ku sendiri sebagai suami terlupakan.

Ruang rawat Rukia kelas VVIP, saat kami masuk, perawat bernama Isane tadi baru saja merapikan selimut di tubuh Rukia, dia menoleh dan tersenyum ramah pada kami. Aku balas dengan mengangguk lesu, dan dia pamit undur diri.

Disanalah aku melihat Rukia yang terbaring di atas ranjang berwarna putih bersih, selang oksigen dan selang transfusi darah serta infus terhubung dengan dirinya, kepalanya di perban hingga dahinya tidak lagi terlihat, rambutnya kusut tak karuan dan yang paling menyesakkanku adalah wajah pucatnya yang tanpa warna. Dadanya naik turun menunjukkan ritme stabil yang sangat perlahan, kepalanya terkulai lemah, tidak terangkat tinggi seperti yang biasa ia lakukan setiap kali memandang orang lain.

Ragu aku mendekatinya, memerhatikan Rukia secara keseluruhan, terdapat memar di pipi kanannya akibat terbentur tangga, lalu di tangannya juga terdapat beberapa memar yang sama. Ku raih telapak tangannya, mengangkatnya dengan sangat hati-hati dan mengecup tangan dingin itu, tidak lagi hangat seperti saat ia membelaiku.

"Bangun, Pendek!" bisikku yang merasakan desakan kesedihan dalam dadaku. Aku ingin meluapkannya, namun tidak bisa aku menangis di hadapan Ulquiorra dan Jendral Ichimaru.

"Kau biasanya berteriak padaku setiap kali aku memanggilmu begitu. Maafkan aku, aku telah gagal menjagamu, maafkan aku… maaf… Aku tau kau tidak mudah memaafkan, tapi izinkan aku minta maaf, buka matamu sekarang," rintihku dan menempelkan tangannya di pipiku, tangan mungil yang lincah itu hanya terkulai tanpa tenaga, tidak menjawabku dan tidak bergerak sekedar meyakinkanku dia mendengarku.

Sebuah sentuhan di bahuku membuatku tersentak, aku menoleh dan Ulquiorra menatapku dengan mata dinginnya, bukan mata dingin penuh intimidasi yang biasa ia lemparkan pada semua orang, sorot mata dinginnya sekarang tersimpan simpati padaku. Dia adalah orang yang sangat mengerti bagaimana perjuangan ku dan Rukia untuk bisa bersama dengan hati saling mencintai, dan sekarang kami harus menghadapi ujian lagi.

"Maaf sebelumnya, tapi sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat," celetuk Jendral Ichimaru seraya mendekat padaku, dia menepuk bahuku yang bebas dari tangan Ulquiorra.

"Tidak a-"

Kami semua terdiam saat tangan Rukia yang tengah aku genggam bergerak lemah, selanjutnya yang kami lihat adalah kepalanya yang menggeleng seperti tengah mengusir lalat yang terbang di telinga, dan Rukia membuka matanya. Matanya yang ungu gelap langsung menangkap sosok kami bertiga, aku bisa melihat jelas diriku, Ulquiorra dan Jendral Ichimaru berada di matanya sekaligus. Dia mengerjap cepat dan seketika sorot matanya menyiratkan kebingungan yang dalam, dia menarik tangannya dariku.

"I-Ini di rumah sakit?" tanyanya seraya melihat sekitar, dia menggerakkan kepalanya terlalu cepat hingga meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.

"Kau sudah sadar, Rukia?" bisikku sepelan mungkin, aku tidak ingin mengejutkannya.

Dia menjawabku dengan alis berkerut dalam. Apa ada yang aneh dengan pertanyaanku, atau ada yang dia rasakan, aku tidak bisa membedakan keduanya.

"Apa ada yang sakit?" Ulquiorra mengambil tempatku.

"Kepala," jawabnya pelan.

Aku tau itu pasti bagian paling sakit dari semua tubuh. Rukia memaksa dirinya bangun, tapi aku menahan bahunya, dia tidak boleh bangun secepat ini.

"Lepas! Jangan sembarangan menyentuhku."

Aku mundur mendengar nada bicaranya yang sarat dengan kebencian. Dia masih marah padaku, karena itu dia tidak ingin aku menyentuhnya.

"Rukia, aku-"

"Siapa kau? Seenakmu saja menyentuhku!"

Aku tercenung di tempatku berdiri, seluruh tubuhku seperti terpancang dalam-dalam hingga mengakar ke lantai berwarna putih bersih itu. Mata Rukia memberikan sorot penuh kebencian yang tidak aku mengerti, mungkinkah dia sungguh-sungguh membenciku dengan cara seperti itu?

Aku tertawa untuk mencairkan suasana hatiku sendiri, karena Ulquiorra dan Jendral Ichimaru menoleh padaku, memberikan sorot mata bertanya yang aku juga rasakan. Udara di ruang ini berubah pekat dan menyesakkan hingga sulit bernapas, ataukah hanya aku yang merasakan seperti itu?

"Kau jangan bercanda, Rukia," kataku masih menyisakan senyumku yang terpaksa.

"Aku tidak bercanda," jawabnya tegas, matanya tidak menyiratkan kepura-puraan seperti yang aku pikirkan, dan tanpa aku sadari rasa sakit yang sangat tidak aku suka itu menyerangku, terlalu menusuk hingga perih sekali.

"Aku panggil dokter," kata Ulquiorra, menyadarkanku bahwa di ruangan ini tidak hanya ada aku dan Rukia.

Namun baru saja Ulquiorra berbalik, tangan Rukia langsung menahannya.

"Jangan pergi," bisik Rukia memohon, dia menatapku dan Jendral Ichimaru sebagai orang asing, benar-benar asing.

"Aku yang akan memanggil dokter," ucapku seraya melangkah gontai, Rukia bahkan tidak menahanku seperti ia memohon pada Ulquiorra.

Setiap langkah yang aku jejak semakin berat, tidak ada lagi pola lantai yang berbentuk kotak-kotak keramik, yang ada hanya bayangan hitam diriku yang perlahan di telan kepiluan hatiku sendiri. Wajah cantik itu memberikanku raut wajah yang paling tidak aku bayangkan, kebencian yang mendalam saat melihat orang asing, persis pertama kali saat aku dan Rukia bertemu di kelas saat ia pindah ke sekolah kami, dia duduk di sisi paling jauh dari ku, dan melirikku dengan sorot bermusuhan yang angkuh.

Saat itu aku memutuskan Rukia adalah seorang gadis yang harus aku lindungi, karena matanya yang kelam itu menyimpan banyak luka yang tak nampak, terlalu dalam hingga yang terlihat malah keangkuhan untuk menolak sekitar. Namun sekali lagi mendapatinya menatapku dengan cara seperti itu bukanlah nostalgia seperti mengenang perasaan saat aku bertemu Rukia, tapi kesedihan dan takut Rukia benar-benar telah menghapusku dari ingatannya.

"Mr. Kurosaki?"

Aku mendongakkan wajahku lantai, dan Dokter Unohana langsung muncul dalam jarak pandangku, dia baru saja keluar dari ruangannya.

"Dokter, Rukia sudah sadar, tapi…" aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku, terlalu pahit terasa di lidah.

"Ada yang ganjil?" tanya Dokter Unohana membaca keraguan dalam nada suaraku.

"Rukia tidak mengenaliku," bisikku jauh lebih pelan, aku takut mengungkapkan kenyataan.

"Aku sudah duga ini akan terjadi," jawab Dokter Unohana seraya melangkah melewatiku, bergegas menuju ruang rawat Rukia.

Sesampainya kami di ruang rawat Rukia, Rukia masih memegang tangan Ulquiorra dan kembali menatapku sengit saat berusaha mendekat padanya. Aku bertindak bijak untuk tidak mendekati Rukia, memberikan ruang untuk dokter Unohana memeriksa Rukia, bahkan Ulquiorra melepaskan tangan Rukia yang menempel erat di pergelangan tangannya.

Mula-mula dokter Unohana memeriksa denyut nadi Rukia, menyamakannya dengan jam di tangannya. Wanita dengan rambut berkepang itu menyentuh tangan Rukia dengan sangat perlahan, tersenyum lembut dan memijat tangan Rukia.

"Apakah kau mengingat siapa dirimu?" ucapnya.

"Tentu saja aku tau, memangnya aku ini orang bodoh?" Rukia yang berapi-api sudah kembali.

Dokter Unohana tersenyum mendapati sikap Rukia.

"Aku tidak mengatakan hal itu, aku hanya bertanya, bagian dari prosedur peraturan Nona Kuchiki Rukia."

"Lalu apakah kau mengenal pria ini?" Dokter Unohana menunjuk Ulquiorra yang berdiri tepat di sampingnya, dan Rukia mengangguk dalam.

"Ulquiorra Schiffer, orang yang sedang bekerja sama denganku untuk mengerjakan sebuah proyek," jawab Rukia tanpa ragu.

Ulquiorra menghembuskan napas lega mendengar jawaban Rukia, dan Rukia menyadari hal itu, dia menoleh pada Ulquiorra untuk memberikan senyumnya yang lembut.

"Lalu pria ini?" Kali ini dokter Unohana mengangkat dagunya pada Jendral Ichimaru.

"Kepala Kepolisian, dan… oh ya, kau harus melepaskan Hanatarou karena dia tidak bersalah," seloroh Rukia penuh ancaman.

Jendral Ichimaru tersenyum. "Bukankah sudah aku bilang tidak bisa?" jawabnya santai.

"Kau-" Rukia memicingkan matanya melihat Jendral Ichimaru.

"Nah, lalu siapa pemilik rambut orange ini?"

Rukia menatapku tajam, terdiam dengan alis berkerut hampir bertemu, menandakan dia sedang berpikir keras untuk mengingatku, namun yang kemudia ia lakukan telah menghancurkan hatiku hingga kepingan terakhir. Dia menggeleng cepat sambil memegangi kepalanya.

"Kepalaku sakit, aku tidak bisa mengingatnya," jawab Rukia dengan mata tertutup rapat, berusaha menghilangkan sakit yang sepertinya sangat menyiksanya.

"Baiklah, jangan dipaksakan, sekarang lebih baik Anda istirahat. Mr. Kurosaki, bisa ke ruangan saya sebentar?"

Aku masih menatap Rukia yang terbaring sambil memegangi kepalanya, dan saat matanya terbuka ia memberikan sorot mata yang sama padaku. Rasa sakit itu menghujam berkali-kali tepat ke luka yang aku tutupi, perih dan melemahkanku, aku tidak bisa menerima sorot mata Rukia yang mengasingkan diriku dari ingatannya. Bukankah aku bagian terpenting dari semua ingatanmu, Rukia?

"Mr. Kurosaki."

"Ah- iya," kataku yang memecah pandangan antara aku dan Rukia, mengikuti langkah kaki dokter Unohana menuju ruang kerjanya.

Ruang kerjanya sangat sederhana dengan beberapa pajangan tentang anatomi tubuh manusia, di mejanya terdapat tumpukan berkas beberapa pasien dengan map yang berbeda warna satu sama lain, sebuah jam meja tergeletak di sisi mejanya dan foto satu tim dokter dengan seragam serba putihnya, dokter Unohana terlihat masih sangat muda di foto itu.

Dia tersenyum saat melihat perhatianku tertuju pada foto penuh keakraban itu.

"Teman satu angkatanku saat kami praktek," jelasnya.

Aku pun mengalihkan pandanganku padanya yang menarik laci meja kerjanya, dia mengambil selembar hasil CT-Scan dan meletakkannya di atas meja, gambar buram itu hanya berupa beberapa daerah terang yang membentuk tengkorak kepala manusia, aku tidak mengerti dan tanpa sengaja mengerutkan alis.

"Menurut hasil pemeriksaan, Rukia mengalami benturan hebat, kabar baiknya dia tidak mengalami gegar otak, ataupun pendarahan dalam otak yang mengancam nyawa. Namun terdapat kemungkinan terjadi trauma pada otak pasien dengan indikasi amnesia, dan untuk Rukia, telah terjadi sebuah traumatik yang diakibatkan beban otaknya yang tidak ingin mengingat apa yang ia anggap akan menyakitkannya."

Aku mengangguk sekali karena dokter Unohana berhenti bicara dan menatapku dalam, seolah ingin melihat bagaimana aku akan bereaksi. Aku tetap tenang menunggu lanjutan penjelasannya.

"Dia memilih untuk melupakan hal menyakitkan itu. Apa yang menimpa pasien, kami menyebutnya amnesia selektif. Pasien mengalami traumatic yang hebat dan melupakan apa yang otaknya ingin lupakan karena beban serta trauma yang terlalu besar. Kami telah memeriksa kondisi syaraf pasien dengan teliti, memang terdapat beberapa kejanggalan. Namun kami tidak bisa memberitahu Anda sebelum memastikannya, dan kita sama-sama baru saja mengetahuinya, " lanjutnya dengan sangat hati-hati.

Aku terdiam, mendengarkannya dengan baik sekalipun hatiku sudah teraduk tak karuan menahan debur kesedihan yang mendalam ini.

"Amnesia selektif terjadi pada pasien dengan kondisi emosi yang labil, dan karena terjadi gangguan syaraf seperti ini, bisa jadi pasien melupakan satu hal dan mengingat hal lain dari masa lalu yang telah terlupa, untuk mengisi kekosongan ruang otaknya."

"Jadi singkatnya Rukia melupakanku?" ucapku dengan berat hati. Aku ingin memastikan apa yang sedang menghantui kepala dan hatiku. Rasanya semakin menusuk saat melihat dokter Unohana dengan singkat menganggukkan kepalanya.

"Mungkin tidak hanya tentang Anda, bisa saja hal lain, kami harus memeriksanya lebih lanjut."

"Mungkinkah dia bisa mengingat lagi?"

"Butuh waktu bagi pasien amnesia untuk kembali pulih, bisa beberapa minggu, beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun, semua tergantung pada pasien itu sendiri."

Tanganku reflek membasuh wajahku yang terasa kaku karena hembusan angin dari pendingin ruangan, melakukannya sekaligus untuk melegakan hatiku. Kenyataan ini terlalu pahit untuk aku telan, hatiku terlalu berat untuk menerima semua ini, perih ini bukanlah kebohongan semata. Sakit dan menusuk hingga ke tulangku. Rukia benar-benar telah menghapusku dari ingatannya, tidak ada aku lagi dalam ingatannya. Dia melupakanku karena aku telah menyakitinya terlalu dalam, dia tidak ingin mengingat kembali diriku yang telah menggoreskan duka padanya.

Aku beranjak dari kursi, melangkah gontai meninggalkan ruangan dokter Unohana.

"Mr. Kurosaki, Anda baik-baik saja?"

Aku mengangkat tanganku menunjukkan bahwa aku baik-baik saja.

Aku menyeret kakiku kembali ke ruang rawat Rukia, di dalam sana masih ada Ulquiorra dan Jendral Ichimaru yang sedang mengobrol dengannya. Aku menatap Rukia dari kaca pintu ruang rawat, melihat wajah pucat itu sedikit berwarna saat bicara dengan Ulquiorra.

Wajah cantik itu, wanita yang ku cintai, satu-satunya seumur hidupku telah melupakanku. Lalu dari mana aku harus memulainya lagi, Rukia? Bisakah aku membuatmu kembali mengingatku? Bisakah aku mengobati luka yang telah aku torehkan padamu? Ku mohon beritahu padaku apa yang bisa aku perbuat untuk mengembalikan semua ingatanmu tentangku.

Rasa sakit itu menyerangku berkali-kali, membuatku sesak dan memaksa air mataku menggenang melihatmu tersenyum pada Ulquiorra, senyum itu sekarang bukan untukku lagi.

Beginikah caramu menghukumku Rukia?

Tidakkah ini terlalu kejam? Aku salah, dan aku bersedia melakukan apapun agar kau memaafkanku, tapi jangan pernah sekalipun hapus aku dari ingatanmu. Jangan!

.

.

To Be Continue

.

.

A/N :

Mohon reviewnya…

Keep The Spirit On