Hai – Hai saya datang lagi, hehehe
Maaf telah membuat kalian menunggu terlalu lama, karena satu dan dua hal Author baru bisa mengupdate chapter ini, jadi dimohon pengertiannya ^^d
Disclaimer
Eiichiro Oda ~ Pakdhe saya
Rate
Teen (T)
A/N: Sepertinya pertemuan antara anak dan bapak dalam fic ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Dikarenakan jari sama otak author mulai gak kompak *Loh-kok?* sebenernya si jari buru – buru kepengen ngetik kata "TAMAT" tapi si otak tiap ketemu lepy imajinasinya gak abis – abis *wualah!* Jadi buat sodara – sodari semua mohon bersabar ya..
Mungkin lima tahun lagi #BUGH! Kelamaan Tante!
Hahaha bercanda Cak!
Happy READING
Chapter IV
Hari sudah mulai gelap dan Axel belum juga kembali. Margaret bersama kedua temannya, Aphelandra dan Sweat pea masih menunggu dengan cemas.
"Sudah mulai gelap kenapa bocah itu tidak juga kembali?"
"Jangan – jangan Axel-kun sudah dimakan binatang buas,"
"Mana ada binatang buas yang berani memakannya. Dia itu moster! Apa kau lupa, bocah itu bisa merobohkan sebuah pohon besar hanya dengan sekali menendang," sahut Sweat pea sambil membuat gerakan provokatif dengan tangannya untuk menggambarkan besar pohon yang dirobohkan Axel.
"Moster?"
"Ya! Lebih tepatnya moster kecil,"
Aphelandra terkikih,"Sweat pea sepertinya kau terlalu berlebihan."
"Aku rasa tidak, dengan kekuatan sebesar itu diusianya yang sekarang dia memang pantas disebut moster,"
"Hmm… tidak hanya menggemaskan tapi dia juga sangat kuat, sama seperti ayahnya," Aphelandra menopang dagunya sambil membayangkan saat Axel menendang pohon hingga roboh. "Kakoi na…"
"Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya,"
"Teman – teman!"
"Apa kau sudah menemukan Axel-kun?" tanya Aphelandra pada Margaret yang baru saja datang.
Margaret menggeleng lemah, "Aku sudah mencari ke semua tempat yang ada di hutan ini tapi aku tetap tidak bisa menemukannya,"
"Err… sebenarnya kemana bocah itu pergi?" Sweat pea mendengus kesal.
"Sebaiknya kita segera kembali ke desa dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,"
"Tapi Margaret, hebihime pasti akan marah jika tahu bocahitu menghilang. Pada akhirnya kita hanya akan dikutuk menjadi batu,"
"Huuuu aku tidak mau maenjadi batu," rengek Aphelandra.
"Tidak ada pilihan lain, terus menunggu di tempat ini pun tidak akan ada gunanya,"
Di balai istana Kuja,
"Mana mungkin Axel-kun menghajar prajurit itu sendirian, aku yakin pasti ada orang lain yang membantunya," sahut Hancock tidak mau percaya.
"Prajurit itu sendiri yang mengatakan bahwa Axel-kun lah orang yang telah menghajarnya. Dan menurut hasil penyelidikan kami pasca kejadian, memang tidak ditemukan tanda atau jejak adanya keberadaan orang lain di tempat kejadian,"
"Hmm.. " Sandersonia memangkukan dagu, berfikir. "Memang sulit untuk dipercaya, selama ini Axel-kun sama sekali belum pernah belajar ilmu bela diri ataupun teknik bertarung lainnya, jadi bagaimana bisa dia melukai orang sampai seperti itu,"
Semua orang tampak berfikir.
Saat ini mereka sedang memperdebatkan peristiwa penyerangan yang menimpa Axel di kebun bunga istana beberapa hari yang lalu. Hancock yang berniat untuk menemukan orang yang telah menolong anaknya malah menemukan fakta lain yang membuatnya terkejut dan enggan untuk percaya.
Fakta apa?
Fakta bahwa Axel mampu menghajar orang hingga babak belur, sendirian. Hancock terus menyanggah pernyataan team investigasi yang sengaja ia bentuk khusus untuk menyelidiki kejadian yang menimpa putranya tersebut. Ada begitu banyak kata 'tidak mungkin' melayang di kepalanya.
"Aku tetap tidak bisa mempercayainya, tidak mungkin anakku yang tampan dan menggemaskan itu bisa melukai orang," kata Hancock sambil memegangi wajahnya yang memerah.
"Kenapa tidak, anak moster pastilah seorang moster,"
"Nenek Nyon?!"
(Jah nenek Nyon muncul lagi. Author sweatdropped!)
"Kenapa kau selalu muncul tiba – tiba dan apa maksudmu mengatakan bahwa anakku adalah seorang moster hah!" Hancock mencekik - cekik nenek Nyon, kalap.
"Apa kita harus melerai mereka?" tanya Marigold sweatdrop.
"Aku rasa tidak," balas Sandersonia, straight-faced.
Beberapa detik kemudian…
"Jangan pernah lagi muncul di hadapanku!"
"HOOYAAAAAAAAAA!" Nenek Nyon terpental jauh ke langit sampai menghilang dari pandangan. CLINK!
(Hahahaha! Diapain tuh?)
"Sudahlah kita akhiri pembicaraan ini, aku tidak ingin lagi membicarakannya," sahut Hancock dengan tiga garis lengkung merah di kepalanya.
Lalu dari luar terdengar teriakan Enishida yang semakin lama semakin terdengar jelas, "Hebihime-sama! Hebihime-sama!"
"Apa lagi sekarang," sahut Hancock, tampak tidak berminat.
"Hebihime-sama! Margaret dan dua temannya melaporkan bahwa Axel-kun menghilang saat berburu bersama mereka,"
Hancock berdiri dari duduknya, "Nani?!"
"Axel-kun menghilang?" sahut Sandersonia, terkejut juga.
"Cepat bawa ketiga orang itu ke hadapanku sekarang!" Hancock setengah berteriak.
"Baik Hebihime-sama!"
Saat itu juga Margaret, Aphelandra dan Sweat pea dibawa ke hadapan Hancock. Mereka sama sekali tidak melawan meski para prajurit itu menyeret mereka dengan kasar.
"Katakan apa yang terjadi bagaimana bisa Axel-kun menghilang?" tanya Hancock tanpa bisa menyembunyikan amarah dan rasa khawatirnya.
"Kami pantas di hukum, kami tidak bisa mengejarnya saat dia berlari meninggalkan kami,"
"Apa maksudmu? Kenapa Axel-kun berlari meninggalkan kalian, bukankah kalian berniat untuk berburu bersama?!"
"Tiba – tiba saja Axel-kun mengatakan bahwa dia harus menemui seseorang, kami sudah mencoba mengejarnya tapi gagal," Margaret menundukan kepala.
"Seseorang?"
"Seorang kakek bernama Momorelig,"
Alis kiri Hancock terangkat, "Momorelig?"
"Dia berjanji akan kembali sebelum senja, tapi sampai sekarang dia tidak juga kembali," sahut Aphelandra, tidak berani menatap langsung wajah cantik Hancock yang berkerut – kerut penuh amarah.
"Hanya mengejar anak berusia tujuh tahun saja kalian tidak becus bagaimana bisa kalian menjadi prajurit wanita Kuja?!" timpal Sandersonia, sama marahnya.
"Saat kami mencoba mengejarnya, Axel-kun menendang sebuah pohon besar hingga berguling ke arah kami, dan disaat kami berhasil mengatasi pohon itu Axel-kun sudah menghilang," Sweat pea menjelaskan.
"Jangan mencari alasan yang mengada – ada mana mungkin Axel-kun bisa melakukan hal seperti itu!" Hancock semakin marah.
Marigold yang sedari tadi tidak bersuara tiba – tiba ikut bersujud bersama Margaret dan yang lainnya.
"Mari apa yang sedang kau lakukan?" sahut Sandersonia.
"Hancock-nee-sama! Sonia-nee-sama! Ini semua adalah kelalaianku, aku yang membiarkan Axel-kun pergi bersama mereka. Jadi hukum saja aku," Marigold menundukan kepala. Merasa bersalah.
"Marigold-sama,"
"Tidak! Ini semua adalah kesalahan kami, jika saat itu kami bisa mengejar Axel-kun semua tidak akan jadi seperti ini,"
"Benar ini semua adalah kesalahan kami," sahut Aphelandra dan Sweat pea.
Hancock berjalan mendekati Margaret, Aphelandra dan Sweat pea.
"Onee-sama," seru Marigold seolah sudah tahu apa yang akan kakaknya lakukan.
"Mari menyingkirlah, mereka sudah mengakui semua kesalahan mereka, jadi kau tidak perlu lagi membela mereka," Hancock mengacungkan tangannya ke depan dan membentuk kedua telapak tangannya seperti hati.
"Onee-sama jangan lakukan!"
Disaat Hancock akan mengeluarkan photon meroma berbentuk hati dari tangannya, seorang anak berkepala besar dan aneh muncul.
"Yamero!" teriak anak itu dengan nafas terengah – engah.
"Si.. Siapaa ddiia?" sahut Anishida penasaran bercampur ngeri.
"Aku kejatuhan sarang lebah, ahahahak..."
"Axel-kun?!" pekik semua orang serempak, ternyata anak berkepala aneh itu adalah Axel. Kepalanya membesar setelah disengat lebah.
"Yo!" Axel nyengir sambil mengacungkan dua jarinya.
"Anak nakal kemana saja kau?! Hampir saja mama mengubah mereka menjadi batu," Hancock menghampiri Axel lalu menarik kedua pipinya.
"Egh.." Axel sweatdropped.
"Dan siapa itu Momorelig? Kenapa kau ingin sekali menemuinya? Apa kau tahu betapa khawatirnya mama saat mereka bilang kau menghilang hah?!" sahut Hancock dengan nada ingin marah.
"Go-meen!"
Hancock semakin keras menarik pipi Axel, seluruh tubuhnya sudah dibalut aura hitam. Lalu ia lemparkan tatapan berapi - api, penuh kesal. Dan Axel balas menatapnya dengan tatapan maut andalannya, bocah itu menatap ibunya dengan wajah malaikat yang selama ini tidak pernah gagal meluluhkan ibunya disaat marah sekalipun.
"Ugh.. tidak! Jangan tatapan itu lagi!" Hancock terduduk lemas dengan konyolnya. Wajahnya memerah sambil berpose lebay seperti terpidana yang telah dijatuhi hukuman mati. "Sepertinya aku akan meleleh,"
"Dia tahu benar bagaimana cara mengatasi amarah ibunya," Sandersonia dan yang lainnya sweatdropped.
"Apa selalu seperti itu?" tanya Sweat pea.
"Begitulah," jawab Marigold datar.
Hancock yang tersadar dari tingkah konyolnya kembali menghampiri Margaret, Aphelandra dan Sweat pea.
"Gomen ne," Hancock pasang tampang imut sambil mengigit kecil telunjuknya. Dan itu sukses membuat tiga wanita di depannya kesengsem. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, kalian tahukan bagaimana perasaan seorang ibu jika mengetahui anaknya menghilang,"
Margaret, Aphelandra dan Sweat pea hanya bisa mengangguk dengan wajah merona melihat ke-imut-an Hancock.
"Apa kalian mau memaafkanku?" sahut Hancock dengan muka malu – malu.
"Tentu saja Hebihime-sama," Margaret, Aphelandra dan Sweat pea terlihat salah tingkah. Kini mereka bisa bernafas lega karena telah lolos dari hukuman Hancock. Dan permintaan maaf yang terlontar langsung dari mulut Hancock membuat mereka tersadar bahwa ratu mereka yang dikenal angkuh dan sombong sekarang telah mengalami perubahan. Sedikit lebih baik dari sebelumnya.
(Hanya sedikit?)
.
.
Malam hari, entah di daerah mana, di lautan Dunia baru.
Semua kru bajak laut topi jerami sedang menikmati malam tenang mereka. Diiringi alunan nada dari setiap gesekan biola Brook yang bersenandung menyuarakan lagu malam, mereka tampak menyibukan diri dengan kegiatan masing – masing.
Sanji sedang sibuk menyiapkan makan malam. Nami dan Robin sibuk dengan buku – buku fashion terbaru. Franky sibuk dengan bor listrik di ruang kerja pribadinya. Zoro sibuk berhibernasi(?). Sedangkan Luffy, Usopp dan Chopper sedang sibuk membuat keributan dengan berlarian kesana kemari saling kejar satu sama lain.
(Ingat umur WOY! Udah pada tua juga.)
"Makan malam sudah siap!" teriak Sanji dari dapur. Seketika semua kegiatan berhenti. Teriakan khas Sanji sudah seperti gong pengingat waktu bagi semua kru.
Luffy, Usopp dan Chopper menjadi yang pertama duduk di meja makan, disusul Franky, Nami, Robin, Brook dan yang paling akhir, Zoro.
Makan malam berjalan seperti biasa. Dalam artian akan ada tangan – tangan panjang yang beredar ke semua sudut meja dan menjarah setiap makanan yang ada. Siapa yang lengah dia tidak akan makan, itulah hukum rimba yang berlaku saat di meja makan.
"Oii Luffy jangan ambil makananku!" teriak Usopp saat tangan Luffy menyabet semua gulungan mie di piringnya.
"Fufufu," Robin tertawa kecil melihat kejadian yang hampir setiap hari dilihatnya. Baginya itu adalah hiburan tersendiri saat di meja makan.
Lalu Sanji datang dengan dua minuman hangat di nampannya.
"Namiii-swaaaan… Robiiin-cwuaaaan… aku membuatkan minuman spesial untuk menghangatkan tubuh kalian," sahut Sanji sambil goyang – goyang gaje.
"Owee Swaanjii akwwu juugwa mawwuu!" kata Luffy dengan mulut penuh makanan.
"Tidak ada jatah untukmu!" Sanji menyaut dengan ketus.
"Eeewh…" Luffy langsung pasang background sebal di wajahnya. Dia kembali melancurkan aksinya. Memanjangkan tangan dengan tujuan mengambil paksa minuman yang ada di nampan Sanji.
BUAGH!
"Sudah ku bilang tidak ada jatah untuk orang bodoh sepertimu!" sergah Sanji sambil menendang tangan Luffy.
"Kau tidak adil! Kenapa hanya Nami dan Robin yang mendapat minuman itu?!" Luffy belum menyerah dengan aksinya.
"Berisik!"
Tanpa menghiraukan keributan antara koki dan kaptennya, Zoro terus melahap makanan di piringnya. Menikmati setiap suapan makanan yang masuk ke mulutnya. Begitu pula dengan Franky dan Brook. Berbeda dengan Usopp yang makanannya sudah dirampok Luffy, sekarang dia hanya bisa menangis meratap dengan air mata komikal yang mengalir deras seperti air terjun, "Aku lapar!"
"Usopp kau boleh mengambil setengah dari makananku," Chopper berbaik hati membagi makanannya.
"Benarkah?" sahut Usopp, mimbik – mimbik.
"Euhm!" balas Chopper lalu menyodorkan piringnya.
"Chopper..." gumam Usopp penuh haru. Kau memang teman terbaikku, Usopp menjerit dalam hati.
Dengan sangat hati – hati Usopp mengulurkan tangan menyambut piring yang disodorkan padanya.
Slow motion mode on!
"Teeee… riiiimaa kaaaa… siiiiiih Chhoooppp… ppeeer…" Usopp tersenyum riang begitu pula dengan Chopper. Muncul bunga – bunga komikal di sekitar wajah mereka.
Ketika piring Chopper hampir berpindah ke tangan Usopp, tiba – tiba kapal berguncang sangat keras. Dan akibatnya, piring Chopper yang masih berisi makanan malah menghantam muka Usopp.
"Ehe… hehehe… ehe…" Usopp tersenyum dramatis. Tidak ada yang memperdulikannya.
Kapal berguncang lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Apa yang terjadi?"
"Sepertinya kita menabrak sesuatu," sahut Sanji.
"Sebaiknya kita segera mencari tahu," Nami berlari keluar diikuti kru yang lain. Mata Nami terbelalak melihat bongkahan batu yang baru saja beradu dengan Thousand Sunny, "Apa ini? Kenapa ada batu sebesar ini di tengah laut?"
"Lihat sepertinya ada pulau di depan sana!" seru Franky yang samar – samar melihat sebuah pulau.
"Pulau?"
"Mana? Mana? Mana? Dimana pulaunya?" seru Luffy heboh. Dia mengangkat tangan kanannya ke atas alis lalu mencondongkan badannya sedikit keluar kapal, mencari – cari pulau yang diserukan Franky.
"Apa ada masalah?" tanya Robin yang menyadari kecemasan di wajah Nami.
"Sepertinya ada yang aneh dengan pulau itu," Nami menunjuk ke arah langit di atas pulau, "Lihat dan perhatikan awan yang ada di atas pulau itu!"
Semua mata menatap ke arah yang ditunjuk Nami.
Di depan mereka sekarang sudah tampak sebuah pulau misterius yang dipenuhi dengan aura kesuraman. Pulau itu terlihat angker dan tidak berpenduduk. Di atas pulau itu juga terdapat gumpalan awan hitam berbentuk lingkaran yang mengelilingi seluruh bagian pulau. Dan anehnya…
"Aww SUPEEER! Apa kalian juga melihatnya? Hanya lingkaran awan di atas pulau itu saja yang menurunkan hujan dan petir, bagaimana itu bisa terjadi robooo?!" sahut Franky dengan aksen robotnya.
"Gkyaaaaaaaaaah lagi – lagi kita bertemu dengan pulau yang aneh!" jerit Usopp dan Chopper ketakutan, duo payah ini sudah saling berpelukan.
"Selain itu tidak ada satupun dari ketiga jarum log pose yang mengarah ke pulau itu,"
"Fenomena alam di lautan ini memang sulit diterima akal sehat," kata Sanji sambil mematikan api ke rokoknya.
"Mungkin itu bukan sekedar fenomena alam biasa, bisa saja itu adalah…"
"Cukup Robin! Kenapa kau suka sekali mengatakan hal yang mengerikan?" teriak Usopp menyela sebelum wanita cantik berambut hitam di sampingnya itu mengatakan sesuatu yang hanya akan membuatnya semakin terpuruk dalam ketakutan.
"Luffy, sebaiknya kita tidak pergi kesana. Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada pulau itu, tapi aku punya firasat buruk,"
"Benar! Ayo kita pergi dari tempat ini, Luffy!" Chopper menangis komikal, memohon.
"Hmm? Apa kalian mengatakan sesuatu?" sahut Luffy, nyengir lebar dengan wajah innocent.
"Dia sama sekali tidak mendengarkan kita!" pekik Nami, Usopp dan Chopper, sweatdropped.
"Coba lihat pulau itu begitu mengerikan dan kau masih saja ingin pergi kesana?!"
"Aku tidak peduli! Aku akan pergi kesana!"
Usopp menarik Luffy ke sampingnya, "Sebaiknya batalkan saja rencanamu! Lihat baik – baik Luffy! Pulau itu lebih mirip tempat tinggal hantu daripada manusia! Aku yakin tidak ada manusia yang tinggal di tempat suram seperti itu!"
"Apa yang kau katakan, aku akan tetap pergi sesuai kata hatiku. Shishishi…"
"Sudahlah, tidak ada gunanya kau berdebat dengannya, hanya membuang – buang tenaga!" sahut Zoro.
"Tidak ada pilihan lain, apapun alasannya kita tidak mungkin menurunkan jangkar di tengah laut,"
"Woii maksudmu kita harus melabuhkan kapal di pulau itu? Jangan gila, yang harus kita lakukan sekarang adalah pergi dari tempat ini bukan sebaliknya,"
"Benar! Ayo kita pergi! Pasti banyak hantu di pulau menyeramkan itu!" tambah Chopper, masih menangis komikal.
"Aku harus memeriksa keadaan kapal, bagaimanapun juga kapal ini sudah menghantam batu sebesar itu,"
"Yosh! Sudah diputuskan, kita akan berlabuh di pulau itu! Sanji buatkan aku Kaizoku Bento!" teriak Luffy, bersemangat empat lima(?).
"Fufufu, aku sudah tidak sabar,"
"Haaa, bahkan Robin juga?"
"Tentu saja, aku suka petualangan," Robin tersenyum.
Usopp, Chopper dan Nami jatuh terpuruk, "Semua orang yang ada di kapal ini sudah tertular penyakit gila Luffy!"
JRUEEENG! Brook memainkan gitarnya.
"Come On everybody! Stay COOOOOOL!"
"DIAM!"
BAGH! BIGH! BUAGH!
Usopp, Chopper dan Nami menjitak Brook bergantian.
"Yohohoho! Mereka sungguh brutal!" Brook tertelungkup, ada tiga benjolan besar disela – sela rambut afronya.
Beberapa saat kemudian.
Thousand Sunny sudah berlabuh di pulau misterius itu. Hujan lebat disertai petir masih menghantam seluruh wilayah pulau.
Semua kru bajak laut topi jerami sudah siap dengan jas hujan mereka.
(Ngebayangin dulu, pendekar pedang pakai jas hujan! XD)
"Woah! Kakoiii… aku sudah tidak sabar untuk pergi,"
"Sepertinya aku sedang tidak enak badan akan lebih baik jika aku tetap tinggal di kapal," kata Nami, pura – pura menggigil.
"Ore mo!" teriak Chopper ikutan menggigil.
"Baiklah! Kalian tinggal saja di kapal!"
"Kau yakin akan menjelajahi pulau ini, Luffy?" tanya Usopp gemetaran.
"Tentu saja," jawab Luffy sambil melompat turun dari Thousand Sunny. "Franky, butuh waktu berapa lama untuk memperbaiki kapal?"
"Entahlah, aku harus memeriksa seluruh bagian kapal dulu baru bisa memastikan apakah ada kerusakan," sahut Franky sambil mengutak – atik body kapal.
"Luffy! Sebaiknya kita tunda sampai besok pagi, setidaknya sampai hujan ini reda,"
"Ahh… rupanya sifat pengecutmu itu belum juga hilang," ejek Zoro lalu melompat turun menyusul Luffy.
"Ini bukan masalah pengecut atau tidak! Hanya saja saat tinggal di pulau Boin tanpa sengaja aku telah memakan buah kutukan. Karena itu aku akan mati jika lama – lama terkena air hujan di pulau asing!" bual Usopp.
"Wakatteru," sahut Zoro dan Luffy bersamaan, sadar sedang dibuali.
"Shishishi!"
"Oe Luffy aku membutuh beberapa kayu disini, setelah aku periksa ternyata ada cukup banyak lubang dibawah sana. Meski kerusakannya tidak terlalu parah tetap saja aku harus segera menambal lubang – lubang itu, jadi aku akan ikut bersama kalian agar bisa sekalian mencari kayu untuk Sunny,"
Diluar dugaan, ternyata Franky memutuskan untuk ikut bersama Luffy menjelajahi pulau, itu artinya hanya akan ada tiga orang penakut yang bertahan di kapal. Mau tak mau Usopp, Chopper dan Nami juga memutuskan untuk ikut Luffy dan yang lainnya.
Selama perjalanan memasuki pulau, Nami yang ketakutan terus berjalan sambil berpegangan pada lengan Luffy. Tidak jauh beda dengan Usopp dan Chopper yang bersembunyi diantara Zoro dan Franky. Bisa dikatakan bahwa mereka bertiga berjalan mengekor pada orang yang mereka anggap kuat untuk berlindung.
"Sebenarnya tempat apa ini?"
"Tempat ini seram sekali," rengek Chopper yang sudah berpindah ke kepala Zoro.
"Aku tidak tahu tempat apa ini, yang jelas ini bukan tempat untuk orang yang mudah tersesat," sahut Sanji.
"Apa maksudmu alis keriting?!" Zoro tersindir.
"Aku tidak sedang membicarakanmu! Dasar marimo bodoh!"
Zoro dan Sanji saling beradu muka. Muncul aliran listrik saat mata mereka bertemu.
"Oii! Ada sesuatu di atas sana!" teriak Usopp yang melihat sesuatu bergelantungan di ranting pohon.
"Peti harta karun!" seru Luffy, mendadak kedua bola matanya berubah menjadi bintang komikal.
"Itu hanya peti kayu biasa," sahut Franky.
"Jangan diambil! Mungkin itu adalah jebakan, sama seperti tong yang kita temukan sesaat sebelum kita terjebak masuk ke Thriller Bark!"
"Hiiiiii Thriller Bark!" sahut Chopper, ngeri.
"Nami benar, kita tidak boleh terjebak dengan tipuan yang sama!"
"Ahh… Thriller Bark, aku jadi teringat masa lalu," gumam Brook yang tengah duduk bersantai di bawah pohon, sambil menyeruput secangkir teh.
"BAKA! SEKARANG BUKAN SAAT YANG TEPAT UNTUK DUDUK BERSANTAI SEPERTI ITU!" bentak Usopp, Chopper dan Nami dalam mode same.
Brook menyeruput tehnya lagi, mengacuhkan teriakan Usopp, Chopper dan Nami.
(Heran, Brook nemu teh dimana yak? XD)
"Tidak ada tulisan 'Harta Karun' disana, jadi mana mungkin itu jebakan. Pasti itu harta karun sungguhan, aku akan mengambilnya," Luffy tetap ngeyel.
"Chotto matte Luffy! Mungkin saja peti itu memang sebuah jebakan," Robin memperingatkan. Terlambat. Luffy sudah memanjangkan kedua tangannya untuk menarik peti kayu yang dia anggap sebagai peti harta karun itu.
"Uu… ughh… ssusssaah seeeekali! Franky bantu aku menariknya!" pekik Luffy kewalahan.
"Kau sungguh tidak SUPPEEER!" Franky menarik tubuh karet Luffy ke belakang.
Ditambah dengan tenaga super Franky akhirnya peti itu berhasil ditarik turun.
"GOTCHA!" seru Luffy, tertawa kegirangan. Tapi tidak berlangsung lama.
Kenapa?
Dimulai dari Brook, satu persatu nakamannya ambruk tak sadarkan diri. Sampai dengan Franky yang berdiri di dekatnya pun ikut ambruk.
"Apa yang terjadi? Oii omaera!" seru Luffy, sedikit panik.
Seperti dugaan Nami, peti kayu itu adalah jebakan.
Luffy mulai merasa kepalanya pusing dan berat. Dia terjatuh, lemas. Dengan pandangannya yang kabur, samar - samar dia melihat tiga orang laki – laki berbadan kekar muncul dengan melompat turun dari atas pohon.
"Siapa kalian?" sahut Luffy sebelum pingsan.
"Qhikikiki!" Seorang dari laki – laki itu terkikih melihat orang – orang yang terkapar tak sadarkan diri di hadapannya.
"Bubuk ramuanmu memang tidak bisa diremehkan, Ben!" puji laki – laki berambut biru.
"Qhikikiki… padahal aku hanya menambahkan sedikit sihir kedalamnya," balas laki - laki berambut merah.
"Mereka bukan pasukan angkatan laut, kali ini tebakanmu meleset Al," sahut laki – laki berambut silver.
"Itu tidak penting lagi, Chitt! Kita harus segera membawa para penyusup ini ke desa!"
"Apa tengkorak berambut afro ini juga salah satu dari mereka?
"Bawa saja semuanya, Ben!"
"Rogerr!"
Bubuk ramuan? Sihir? Siapa ketiga laki – laki misterius itu? Apa mereka seorang penyihir? Lalu apa yang terjadi pada Luffy dan kawan – kawannya, apa yang membuat mereka jatuh pingsan?
.
.
Seekor burung pembawa surat kabar terbang rendah di langit Amazon lily. Burung itu menjatuhkan satu gulungan surat kabar dan poster buronan terbaru tepat di halaman istana Kuja.
Anishida memungut surat kabar tersebut dan segera menyerahkannya pada Hancock, setelah melihat wajah Luffy memenuhi halaman utama surat kabar itu.
"Setelah mengalahkan Kurohige dan dua Yonkou lainnya rupanya dia mulai unjuk gigi pada pemerintah dunia,"
"Sekarang kepalanya di hargai 800 juta berry. Angka yang cukup fantastis, bukan?"
Hancock terdiam mengacuhkan percakapan kedua adiknya dan terpaku menatap poster buronan Luffy. Gambar di poster buronan Luffy telah diubah, sudah tidak sama dengan gambar di poster yang ia simpan di laci meja riasnya.
"Dia semakin tampan,"
Di poster itu Luffy terlihat lebih dewasa dengan bulu – bulu halus yang dibiarkan tumbuh di dagunya. Tubuh yang lebih kekar dari sebelumnya. Banyak perubahan disana kecuali cengiran khas yang selalu mengembang di wajahnya.
"Onee-sama, sepertinya kita harus segera berangkat,"
"Baiklah!"
"Ngomong – ngomong dimana Axel-kun kenapa sejak tadi pagi aku tidak melihatnya," sahut Sandersonia.
"Sepertinya dia masih marah karena aku tidak mengijinkannya ikut berlayar,"
"Kita memang tidak boleh sembarangan membawa Axel-kun keluar dari pulau ini, itu terlalu beresiko, apalagi jika pemerintah dunia sampai tahu identitasnya,"
Sementara itu pulau Dawn, tepatnya di desa Fusha. East Blue.
"Bwahahah, itu baru cucuku!" Garp melepaskan tawa membaca artikel tentang keberanian atau mungkin lebih tepat disebut kegilaan cucunya yang sekali lagi menyatakan perang pada pemerintah dunia. Setelah mengacau di tiga fasilitas terpenting milik pemerintah dan membakar bendera pemerintah dunia di Ennies Lobby kali ini Luffy terang – terangan menantang lima tetua pemegang kekuasaan tertinggi pemerintahan dunia. Gorosei.
Dalam artikel tersebut dituliskan bahwa Luffy bersama kru bajak laut topi jeraminya telah mengacaukan pusat pemerintahan di dunia baru dan menyebut Gorosei tak lebih dari kumpulan sampah yang tidak berkeprikemanusiaan.
"Apa yang sedang kau tertawakan?"
"Anak itu tidak pernah bosan membuat sensasi, bukannya aku mendukung perbuatan bodohnya tapi aku suka caranya menyebut kelima orang tua itu, bwuahahaha!"
"Harga kepala Luffy juga naik menjadi 800 juta berry," sahut Makino, ikut nimbrung.
"Dunia sudah mencapnya sebagai orang yang berbahaya, aku harap dia tidak melakukan kebodohan seperti ayahnya,"
"Kebodohan apa yang kau maksud?" tanya wali kota desa Fusha, Woop Slap.
Garp menghela nafas dan merapatkan punggungnya ke tembok, "Kebodohan karena memiliki keturunan, dengan reputasinya sekarang memiliki seorang anak hanya akan menimbulkan tragedi baru. Pemerintah akan menganggap anaknya sebagai iblis kecil yang harus segera dilenyapkan, seperti Ace."
Garp menerawang ke langit – langit, kembali teringat masa lalu.
"Kakek!" panggil Ace kecil.
"Hah?!"
"Apa menurutmu aku ini layak untuk dilahirkan?"
"Itu adalah sesuatu yang…" Garp mengalihkan pandangannya pada Ace, menatapnya lekat – lekat. "…yang akan kau ketahui saat kau hidup,"
Kembali ke masa sekarang.
Garp menggaruk – garuk kepalanya, "Yah aku sendiri masih tidak yakin apakah si bodoh itu bisa memikirkan hal seperti itu, bwuahahaha!"
Woop Slap dan Makino menatap cemas laki – laki tua di hadapan mereka.
Di tempat lain, tidak jauh dari desa Fusha. Di pegunungan Corvo, markas bandit gunung Curly Dadan. Seorang laki – laki cebol, memakai sorban putih berlarian sambil memanggil – manggil bosnya, Dadan.
"Okashira! Okashira! Kau harus melihat ini!" seru laki – laki cebol bernama Dogra.
"Berisik! Apa kau ingin mati hah?!" sahut Dadan, kejam.
"Okashira, kau harus melihat ini! Luffy muncul di surat kabar hari ini, bukankah kau ingin sekali mengetahui bagaimana keadaannya sekarang,"
"Heeee… benarkah Luffy muncul di surat kabar?" sahut laki – laki yang memiliki jambul merah seperti ayam, Magra.
"Kalian lihat saja sendiri!" Dogra menyodorkan surat kabar pada Dadan.
Dadan mendelik membaca berita tentang Luffy yang menjadi topik utama dalam surat kabar hari itu. Begitu pula dengan Magra yang ikut membaca dari belakang Dadan.
"Anak idiot itu menyebut pemimpin tertinggi pemerintahan dunia dengan kata 'sampah'?!"
"Dia memang anak yang pemberani," puji Magra.
"Setidaknya kita tahu bahwa Luffy benar – benar masih hidup,"
"Sial! Kapan anak itu akan berhenti membuatku khawatir," sahut Dadan sambil nangis bombay.
Dogra dan Magra tersenyum penuh arti.
"Hwaaaww… Apa yang kalian liat?! Aku tidak sedang menangis!" dusta Dadan.
Kembali ke pulau wanita, Amazon lily.
Hancock beserta kru bajak laut Kuja sudah siap untuk berlayar. Seperti biasa, semua penduduk akan berkumpul untuk mendoakan agar mereka kembali dengan selamat.
Kapal bajak laut Kuja mulai bergerak meninggalkan Amazon lily. Semua penduduk melambaikan tangan melepas kepergian mereka.
"Kira – kira apa yang ingin Ray-san bicarakan pada kita ya?" gumam Marigold.
"Entah! Di dalam suratnya Shakky tidak menuliskan apa – apa tentang hal itu,"
Bajak laut Kuja tengah berlayar menuju pulau Sabaody untuk memenuhi undangan Rayleigh dan Shakky.
Shakky, salah satu orang yang menyelamatkan Hancock dan kedua adiknya di masa lalu telah mengirimkan sepucuk surat. Dalam suratnya Shakky hanya menulis bahwa Rayleigh ingin membicarakan suatu hal yang cukup penting dan berhubungan dengan Luffy. Karena itu berhubungan dengan Luffy tentu saja Hancock langsung menyanggupinya, seperti yang kita tahu slogan cinta Hancock pada Luffy 'Love is a Hurricane' jadi ia akan melakukan apa saja asal berkaitan dengan pujaan hatinya itu. Shakky juga meminta agar mereka mengajak Gloriosa a.k.a nenek Nyon bersama mereka. Dan Hancock juga menyanggupinya.
"Akhirnya aku diijinkan ikut berlayar," kata Sweat pea senang.
"Selamat! Selamat! Selamat!" sahut Aphelandra yang lebih dulu bergabung dengan bajak laut Kuja.
"Semua perjuanganmu selama ini sudah membuahkan hasil," sahut Margaret, thumbs up.
"Aku sangat senang karena hebihime telah memilihku menjadi salah satu krunya, selain itu aku juga bersyukur karena untuk beberapa hari kedepan aku tidak akan bertemu ataupun melihat moster kecil itu lagi, hahaha!"
"Moster kecil?"
"Axel-kun," sahut Aphelandra lirih sambil menempelkan telunjuk di bibirnya, menjawab kebingungan Margaret.
"EEEEEH…?!"
"Hehehe, sepertinya Sweat pea sangat sebal padanya," bisik Aphelandra.
"Aku ingin mengambil beberapa buah di dapur, apa kalian mau?" tanya Sweat pea.
"Boleh!"
"Tidak, aku harus pergi sekarang. Tunggu aku, nanti aku kembali lagi kesini!" sahut Margaret kemudian berlalu pergi.
Sweat pea berjalan ke dapur kapal sendirian. Dia masih terbawa suasana gembira.
"Woo O… damdam dubidubi kedamdam syalala kadamdam!" Sweat pea bersenandung sambil membuka lemari makanan dan mengambil beberapa buah.
Krusak! Krusak!
Terdengar suara aneh dari lemari makanan di sebelahnya.
Krusak! Krusak!
Suara itu terdengar semakin heboh.
"Hmm… suara apa itu?" sahut Sweat pea penasaran juga. Dia menggeser tubuhnya satu langkah ke kiri. Dia berniat untuk membuka lemari itu. Dan…
"HOAAAAAAAAA!" Sweat pea menjerit sebelum sempat membuka pintu lemari. Dia terjungkal ke belakang karena terkejut. Sesuatu melompat keluar dari dalam lemari itu.
Mendengar jeritan dari dapur, Aphelandra tergoboh – goboh berlari menghampiri Sweat pea.
"Apa yang terjadi? kenapa kau menjerit?" tanya Aphelandra.
"Ko… Ko… Kodook!" sahut Sweat pea gagap sambil menunjuk ke arah lemari di depannya.
"Kodok?"
"Ada kodok yang melompat keluar dari dalam sana, pasti masih ada kodok – kodok yang lain di dalam lemari itu!"
Aphelandra langsung membuka lemari yang ditunjuk – tunjuk oleh Sweat pea.
"EEEEH…" Aphelandra terkejut, karena bukan kumpulan kodok yang dia lihat di dalam sana.
Sesaat kemudian di dek kapal.
"Apa yang terjadi?" tanya Margaret, ternyata dia juga mendengar jeritan Sweat pea.
"Sweat pea menjerit karena ini, hihihi…" jawab Aphelandra terkikih sambil menunjukan kodok yang ada di tangannya.
"Dan kami juga menemukan ini,"
"Axel-kun?!"
"Yo!" sahut Axel sambil mengangkat satu tangannya. Rupanya diam – diam dia menyelinap masuk ke kapal dan bersembunyi di lemari makanan sampai akhirnya Aphelandra dan Sweat pea menemukannya.
Hancock memincingkan matanya melihat Axel, "Kau! Mama sudah melarangmu ikut tapi diam – diam kau malah menyelinap ke kapal!"
"Aku sudah menduga akan jadi seperti ini," Sandersonia geleng – geleng.
"Onee-sama kita sudah hampir separuh jalan kita tidak bisa memutar arah untuk kembali,"
"Itu artinya kita harus membawanya ke Sabaody," tambah Sandersonia.
Hancock hanya mendengus kesal.
"Kali ini mama akan membiarkanmu ikut,"
"HORE!" Axel berteriak kegirangan.
"Jangan senang dulu," Hancock menurunkan tangan Axel yang terangkat ke atas. Lalu memakaikan matel bulu dengan motif bercak – bercak cokelat pada Axel.
"Aku tidak mau pakai ini Maa," protes Axel, manja.
"Kau wajib memakainya, jika perlu kau juga harus menggunakan ini untuk menyamarkan wajahmu!" Hancock memberikan kumis palsu pada Axel. Sama seperti yang ia berikan pada Luffy.
"Yang ini lebih memalukan," Axel menggembungkan pipi, kesal.
"Satu lagi! Kau tidak boleh sembarangan memberitahukan identitesmu pada orang lain, baik itu nama ataupun dimana kau tinggal, dan jangan mengeluh ini semua juga demi kebaikanmu," sahut Hancock dengan nada yang melembut.
Dua hari berlalu.
Hancock dan kru bajak laut Kuja telah sampai di pulau Sabaody. Hancock berjalan menuju bar milik Shakky. Dia terus menggenggam tangan Axel agar anaknya yang ceroboh itu tidak tersesat atau bahkan sampai menghilang.
"Ohh… kalian sudah datang," sambut Rayleigh saat Hancock dan rombongnya memasuki bar.
"Aku kira kalian tidak akan datang," sahut Shakky lalu menyesap rokoknya.
"Maaf membuat kalian menunggu lama," kata Sandersonia berbasa – basi.
"Kakek!" Axel yang mengenali sosok Rayleigh langsung berlari dan melompat ke gendongan lelaki tua berkaca mata itu. Muka bete-nya seketika berubah sumringah. "Apa yang kakek lakukan disini?"
"Ini adalah rumahku, aku tidak menyangka mereka akan mengajakmu kemari, hahaha!"
Hancock dan yang lainnya heran melihat keakraban Axel dan Rayleigh.
"Tunggu! Bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanya Hancock.
"Mama juga kenal kakek Momorelig ya?" Axel balas bertanya.
"Momorelig? Jadi dia…"
"Hahaha kau tidak perlu sekaget itu, Axel-kun ada yang hal penting yang harus aku bicarakan dengan ibumu, kau boleh pergi bermain?"
"Margaret! Ran! Dampingi Axel-kun!"
"Baik Hebihime-sama" seru Margaret dan Ran kompak.
Margaret dan Ran berjalan mengikuti Axel kemanapun bocah itu melangkahkan kaki.
"Wooah tempat ini keren sekali, aku suka tempat ini, apa kau juga menyukainya boo?" tanya Axel pada hewan piaraannya, seekor kodok besar berwarna hijau. Sekedar info, kodok inilah yang berkali – kali membuat Sweat pea menjerit ketakutan bahkan sampai jatuh pingsan.
"Yeew! Ada penjual kembang gula. Margaret! Ran! Aku mau kembang gula itu,"
"Ahh baiklah… aku akan membelikannya, kau tunggu saja disini!" sahut Margaret.
Axel berdiri sambil menggenggam tangan Ran. Lima belas menit berlalu tapi Margaret tidak juga kembali. Dia sampai menguap beberapa kali karena bosan.
"Kenapa lama sekali?"
"Kuharap kau mau bersabar, mungkin sebentar lagi," Ran tersenyum ramah.
Axel dan Ran masih berdiri menunggu. Sampai kemudian seorang pria besar yang sedang mabuk berlari dan menabrak mereka berdua. Akibatnya kodok kesayangan Axel terlepas. Apesnya lagi, bukannya meminta maaf pria itu malah berniat pergi begitu saja.
"Hei kauu!" Ran menahan pria itu.
"Ada apa manis,"
"Dimana etikamu? Kau sudah menabrak orang dan ingin pergi begitu saja,"
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"
Terjadi percecokan hebat diantara mereka.
Axel yang lepas dari pengawasan Ran berlari mengejar kodoknya. Dia terus berlari hingga sampai ke dermaga.
"Dapat!" teriak Axel saat berhasil menangkap kodoknya. "Kau nakal sekali!"
"Hwuee beg!"
"Aku tidak akan memaafkanmu!"
"Hwuue begg!"
"Tidak ada gunanya kau merayuku! Ayo kita kembali sebelum mereka kebingungan mencari kita," Axel menyaut seolah tahu apa yang kodoknya katakan. Saat berbalik, dia baru sadar kalau dia berlari terlalu jauh dan tidak tahu bagaimana cara untuk kembali.
Axel berjalan di pinggiran dermaga, tanpa tujuan.
"Ini semua kesalahanmu, seharusnya kau tidak perlu melompat – lompat sejauh ini, boo! Sekarang kita hanya bisa menunggu sampai mereka menemukan kita,"
"Hwuue beg! Hwueee bbeg!"
"Diamlah! Aku sedang marah padamu!"
Shiff! Shiff!
Indera penciuman Axel menangkap aroma sedap. Karena tergoda, dia mengikuti arah datangnya aroma tersebut. Aroma itu terlalu sedap hingga air liurnya pun menetes keluar. Dia berjalan sambil menutup mata, mengandalkan indra penciumannya sebagai pengganti mata.
Dan sampailah dia di depan sebuah kapal besar. Aroma itu sudah menghipnotisnya, sampai – sampai dia tidak perduli kapal siapa yang dia masuki.
"Turunkan layar! Kita akan kembali ke kampung halaman kita, East Blue!"
"Yeah Kapten!" seru para awak kapal.
Mereka menurunkan layar dan mulai berlayar meninggalkan dermaga.
Axel keluar dari dapur dengan perut yang luar biasa buncit. Dia belum sadar bahwa kapal yang dia naiki sudah berlayar meninggalkan dermaga. Dengan santainya dia berjalan sambil mengupil. Joroknya, dia asal lempar hasil galiannya itu ke sembarang tempat.
Axel mulai mengedarkan pandangannya ke daerah sekitar. Dia heran kenapa tidak lagi melihat daratan, hanya ada air di semua sisi pandangannya. Sekarang dia sadar kalau dia sudah terbawa kapal itu berlayar. Parahnya kapal yang dia naiki itu adalah kapal bajak laut.
"TIDAAAAAAAAAAAAK!"
.
.
Bersambung…
Terima kasih sudah mau membaca, dan akhir kata mohon tinggalkan jejak kehadiran ;p
Satu review akan membantu kelangsungan hidup fic ini
#iihLebay =,="
