Gumpalan abu menghias langit Tokyo sejak sore, berarak pelan mengikuti hembusan angin yang membawa buih kecil embun tak kasat mata ditambah rintik kecil teramat tipis yang berebut menghujam tanah, menyerang tanpa ampun mengikut, menoreh kesedihan yang mendalam seakan menyampaikan beberapa suara hati dari orang-orang yang tengah dirundung sedih, ah tak hanya sedih mungkin, beberapanya bahkan tercemar kerinduan, keresahan yang menggelayut setia dalam bilik-bilik jantung, menghambat terpompanya aliran darah sehingga meninggalkan rasa sesak yang seakan mencengkram keras dari balik rusuk-rusuk tertutup kulit.
Tiga puluh lima hari berlalu, namun bergantinya siang dan malam teramat panjang terasa seakan tiga puluh lima hari itu terasa seperti tiga ratus enam puluh lima, kenapa begitu sulit, kenapa rasanya kian berat, kenapa titik terang yang sudah diujung mata selalu menghilang bahkan sebelum dirinya merengkuh sebersit sinar yang mungkin saja akan membawanya pada orang yang tengah membuat dirinya terserang gulana berkepanjangan, dan...
"kenapa kenapa" yang lain pun ikut bermunculan seiring dengan semakin sulitnya terlihat jalan kebenaran di depan.
Tak ada perkembangan, berkali jalan buntu menghadang, seolah berkata untuk menyerah dalam perjuangan yang menguras seluruh persediaan emosi yang mereka punya. Tapi itu sama sekali tak membuatnya menyerah, tak membuat mereka menyerah.
"Jadi bagaimana?" pertanyaan yang sama, selalu muncul pertama kali setiap ia kembali memenuhi janji bertemu dengan teman-teman seperjuangannya, yah teman seperjuangan...
Dan kali ini label "Teman seperjuangan" itu sepertinya akan terus melekat bahkan ketika mereka berhasil membawa kembali si bayangan tercinta dalam lingkaran mereka.
Pernah bersama selama tiga tahun bukanlah alasan kenapa kekompakkan itu kembali terjalin, bukan pula karena mereka pernah tergabung dalam tim basket bertitle generasi keajaiban yang terkenal hingga kini, dan bukan juga karena mereka pernah berjuang bersama dalam setiap pertandingan bergengsi demi merebut tropi kaku tak bernyawa yang berakhir sebagai pajangan.
Kalian tahu? meski berada pada satu tim yang sama tapi tak ada satupun dari mereka yang terikat, setiap kemenangan yang mereka raih bukanlah hasil kerjasama tim yang kompak, bukan! Tapi, keegoisan masing-masing yang terbungkus bakat luar biasa berlabel "jenius basket".
Namun kini tak ada lagi keegoisan sekeras batu, tak ada lagi kesombongan kokoh yang dulunya tak tersentuh, tak ada lagi persaingan untuk berebut kursi tertinggi, semuanya luluh lantah bersama keserakahan yang mengakar dalam hati mereka, ya semuanya telah hancur, sempurna dihancurkan oleh sosok mungil yang punya tempat khusus di hati mereka. Kuroko Tetsuya.
Jadi,
Adakah yang lebih berharga dari sosok itu?
Dan mereka rasa tak perlu menjabarkan alasan dalam otak mereka atas kegundahan akibat kehilangan akan dirinya yang berharga itu dengan begitu tiba-tiba.
…
UNKNOWN
…
DISCLAIMER!
Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Collab fic by Mel and Kizhuo
…
Warning!
M - rate
Typo(s), BL, AU, OOC, Fault Story
DLDR! No Flame!
Kami sudah Mengingatkan
…
Enjoy Read
…
Saat itu, setelah istirahat siangnya Aomine Daiki kembali duduk di kursi beroda di belakang meja kerjanya, ia memutar-mutar ballpoint yang terselip diantara jemari tan kokohnya, sesekali kepala ballpoint ditekan, menimbulkan bunyi klik klik...klik klik, berulang.
Dahi itu berkerut, di depannya gambar bergerak hadir pada layar monitor flat komputernya, entah sudah berapa kali ia memutar video bisu itu, tak pernah bosan meski setiap kali memutarnya tak sedikitpun gambaran akan petunjuk baru didapatnya.
Aomine bukanlah polisi kelas teri yang tak bisa apa-apa, meski kapasitas otaknya tergolong yang paling minim diantara anggota Kisedai yang lain tapi ia punya kemampuan memecahkan kasus yang sama hebatnya ketika bermain basket. Insting hewannya seakan ikut terpancing ketika menghadapi kasus-kasus kriminal itulah alasan kenapa ia bisa jadi polisi hebat saat ini.
Namun ada yang salah dengan kasus Kuroko Tetsuya, insting itu seakan tak bekerja sama sekali, meski ia melihat dan mengamati satu-satunya petunjuk- salinan cctv bandara- tetap saja tak ada secuil petunjuk yang tertinggal kecuali plat nomor sebuah kendaraan yang ternyata palsu.
Apakah rekaman itu telah diedit? Pikirnya, namun berakhir dengan penyangkalan karena itu tak mungkin, sebab rekaman itu langsung didapat dari Kise dan Midorima yang langsung mengcopy dari ruang pantau cctv bandara detik itu juga.
"Arghh sial!" diremasnya surai biru gelap itu kasar seperti sebelum-sebelumnya, seakan menjadi kebiasaan setiap kali Aomine berhenti dari kegiatan menonton rekaman itu. Matanya terpejam sesaat dengan kepala yang menyender pada sandaran kursi kerjanya, tumpuan kakinya pada lantai menguat disertai sedikit hentakan hingga benda beroda itu terdorong ke belakang bersama tubuhnya.
Aomine dalam mode frustasi, buliran keringat hasil ekskresi tubuhnya mulai terlihat di beberapa bagin wajahnya, ditariknya nafas dalam lalu dihembuskan pelan kemudian menarik kursi bersama dirinya untuk kembali berdekatan dengan meja kerjanya, diambilnya beberapa lembar tisu yang teronggok di atas meja, mengelap keringat lalu melempar tepat ke dalam tong sampah di pojokkan, beberapa gumpalan tisu terlihat berserakkan disekitar benda itu.
"Ah, aku harus fokus!" gumamnya menguatkan diri, menarik kembali semangatnya yang mulai rasa kendur akibat tertekan.
Dilihatnya kembali rekaman itu, beberapa kali ia mem-pause gambar, lalu memperbesar ukurannya, resolusi yang terbatas menyebabkan gambar itu buram. Lalu mengecilkannya lagi, kepalanya seringkali meneleng ke kanan.
Ia mencari sekecil apa pun informasi yang tersembunyi pada rentetan gambar itu. Postur penculik itu terlihat asing. Tidak terlalu tinggi juga tidak pendek, seperti tubuh kebanyakan orang Jepang, penampilannya pun sangat biasa, hanya saja tersembunyi dibalik garment yang dipakainya. Penyamaran yang sempurna.
Mungkin seseorang professional yang memang dibayar untuk melakukannya.
~0o0~
Tubuh kecilnya gemetar dan tampak lebih ringkih akibat demam tinggi, suhunya kini mencapai 39° celcius. Bibirnya tampak memerah agak kering, terlihat beberapa retakan nyata pada tekstur bibirnya yang mungil, juga pipi yang kini tampak tirus.
Keringat membasahi kulit kepala, membuat rambut birunya lepek. Beberapa tampak menetes dari sela anak rambutnya.
Nafasnya terlihat tersengal-sengal, menguarkan uap panas. Tubuh ringkihnya sangat mengkhawatirkan.
Bibirnya tertangkap beberapa kali mengumamkan nama, mungkin nama orang-orang yang dia harap bisa membawanya keluar dari tempat mengerikan ini, yang paling jelas terdengar dan sering adalah nama depan Midorima, mungkin karena dia yang paling sering berada ketika Tetsuya mengalami masa-masa sulitnya membuat sosok mungil itu bergantung pada pria jangkung yang berprofesi sebagai dokter itu.
"M mi mido rima-kun…" gumamannya terdengar lagi, berulang dengan intonasi yang terputus masih dengan nafas tersengal tak beraturan, kelopak matanya menutup disertai gesture badan yang bergerak tak nyaman, membuat sosok yang tengah mengawasi didekatnya sangat terganggu, muak.
Ia jepit pipi panas itu dengan kelima jari. Giginya berderit, "Diaaam!" sebuah perintah terdengar berat dan tajam, suaranya rendah menakutkan.
Mata biru langit setengah terbuka, tapi iris biru tampak kosong, ada cairan bening pada kedua sudutnya. Wajah manis itu menunjukkan ketakutan yang sangat.
"T tolong, jangan sakiti aku..." Suaranya parau, pengucapannya antara sadar dan tidak.
Wajah itu semakin dekat, tapi semuanya kabur di mata cerulean-nya.
~0o0~
Di sebuah suite room, Kaori mengikatkan simpul pada tengkuknya, tampak beberapa tonjolan tulang pada leher belakangnya yang jenjang, rambut panjangnya ia gerai ke samping, ke bahu kiri menampakkan siluet indah dari tengkuk sampai punggung putih mulus yang terbuka.
Sebuah usapan halus membuatnya mendongak, mata mereka bertemu di pantulan kaca, tangan kekar bertato membantu membuat simpul. Lalu dikecupnya pundak tanpa fabrik itu. Gaun hitam bertali panjang yang menjadi favoritnya, baru ia kenakan lagi setelah semalaman tersampir di ujung ranjang.
Menjadi saksi bisu kegiatan malam kesekian kali mereka.
Wanita cantik itu berjalan di lobby hotel dengan tangan kekar bertato melingkar di lekuk pinggangnya.
Pagi itu suasana lobby hotel tidak begitu ramai, hanya beberapa orang yang akan melalukan checkout, beberapa koper besar diletakan pada trolley berbentuk sangkar, dengan lengkungan di bagian puncaknya yang berwarna keemasan, disisinya seorang bellboy menunggu perintah memindahkannya ke bagasi mobil yang sudah menunggu di depan teras hotel.
Namun pasangan itu hanya melenggang, tanpa membawa benda berat apapun, kecuali sang wanita yang menyampirkan tas kecil senada gaunnya. Duduk dengan anggun pada sofa tunggal di seberang meja resepsionis. Menunggu si pria menyelesaikan pembayaran.
Beberapa pasang mata menatapnya, ada yang kagum juga ada yang memicing, termasuk iris berwarna madu bersurai pirang yang kebetulan sedang sarapan di resto sebelah lobby dengan beberapa kru pesawat yang menginap di sana. Mereka sudah rapi dengan seragamnya, bersiap untuk melanjutkan tugas menerbangkan penumpang ke berbagai destinasi baik lokal maupun internasional. Mereka menginap selama semalam, sebagai fasilitas dari maskapai penerbangan tempat mereka bekerja.
Sepasang mata madu itu mengikuti dua sosok yang tampak sangat intim. Berdiri bersisian, menunggu petugas valet mengantarkan mobil hitam milik si wanita.
Ponselnya beberapa kali mengambil gambar mereka. Bagaimana pun Kise Ryouta, tahu siapa wanita itu. Orang yang telah menggeser kedudukan Kurokocchi-nya dari sisi sang mantan kapten basket. Ia geram dengan pemandangan itu. Wanita murahan yang bahkan tak sebanding sama sekali dengan malakat birunya.
Tatapan sinis ia tujukan pada sepasang manusia berbeda gender itu hingga keduanya memasuki mobil mewah lalu meninggalkan lokasi itu.
"Tuan dan nyonya itu menginap dari kemarin malam." Sebuah informasi meluncur dari bibir seorang waiters yang dikenalnya. Wanita muda dengan seragam abu-abu tua.
"Apa mereka sering menginap di sini ssu?" Jawaban berupa anggukan diterima Kise. Ia menghela nafas berat. Seperti dugaannya.
Ternyata ini jawaban dari kondisi Akashi Seijuurou yang selalu tampak tak bahagia.
Ia tahu ketidakbahagiaannya saat pria muda mantan kapten basketnya itu harus mengakhiri hubungan dengan mantan bayangannya.
Dari earphone yang terpasang ditelinganya, Kise mendengarkan rekaman yang beberapa saat lalu ia lakukan tanpa sepengetahuan kedua orang itu. Raut wajah menunjukkan ketidaksukaannya.
"Baby kau harus segera hamil, berikan kabar gembira untuk keluarga Akashi, kau mengandung pewarisnya." Lirih lelaki tinggi pirang itu berujar. Sang wanita tertawa kecil.
"Hamil itu merepotkan, sayang." Ucapnya manja.
"Tapi dengan begitu kedua mertuamu akan makin sayang dan memberikan apa yang kau minta." Sebuah argumen disuarakan.
"Tapi sayang, sebelum itu, kau tahu 'kan apa yang harus kau lakukan kan?" suara perempuan itu manja setengah merajuk.
"Tentu saja, hanya dengan jentikan jari, semua akan hancur, mati, hilang, my dear princess." Nada penuh bisa terdengar lirih. Lalu bibir itu mengecup bibir bergincu disampingnya.
Saat itu Kise Ryouta spontan muak melihat adegan itu, perutnya seperti ingin mengeluarka semua hidangan lezat yang baru saja ia santap.
"Ya sayang, aku ingin bocah biru itu mati, cabik-cabik tubuhnya lalu buang ke laut biar disantap hiu-hiu kelaparan itu…" lalu disusul kekehan harmonis serupa sepasang iblis.
Sepasang citrine membulat mendengarnya. "Aku harus segera memberitahu Aominecchi, dan Midorimacchi!" bisiknya. Sementara sebuah shuttle dengan logo perusahaan penerbangan sudah siap mengantar mereka kembali ke bandara.
Beberapa rekannya berbincang tentang penerbangan yang akan mereka jalani, Kise Ryouta lebih memilih duduk paling sudut, sibuk dengan ponselnya. Mengirim pesan kepada dua orang sahabatnya.
~0o0~
Lembaran kain basah bergantian melapisi kening pucat, sepasang tangan berkerut memeras kain halus berair, lalu meletakannya di kening datar itu. Sesekali diusapnya rambut biru muda itu.
"Maafkan majikanku yang kasar padamu, nak." Suara lirih yang tidak sampai ke telinga pemuda biru dalam keadaan tidak berdaya.
Sementara semangkuk bubur panas belum tersentuh, karena pemuda itu tidak juga bangun. Bajunya sudah diganti. Kering sekarang.
"Bibi…tolong lepaskan aku" gumaman parau keluar dari bibir kering, matanya masih sulit untuk dibuka.
"Aah kau sudah bangun rupanya." Tangan itu menyodorkan segelas air mineral, pemuda itu berusaha mendudukkan dirinya bersandar pada tumpukan bantal yang disediakan wanita tua itu.
Bibirnya meneguk air jernih, uap panas nafasnya membekas pada dinding gelas, membuat lengkungan putih tipis, lalu sesaat kemudian hilang. Ia habiskan segelas air bening itu, seketika basah terasa pada tenggorokannya yang serasa mengerut karena kekeringan.
"Aku akan menyuapimu bubur." Suara wanita itu terdengar datar.
"Aku tidak mau makan, bibi." Wajah manis itu ia tolehkan menjauh dari raut mengkerut wanita tua.
"Kalau kau tidak mau makan, aku khawatir majikanku akan marah, dan menyiksamu lebih parah." Diucapkan pelan namun dengan sedikit ancaman.
Pemuda itu tergidik, ia tahu, dan ia takut. Maka dengan terpaksa ia menerima suapan demi suapan.
"Sampai kapan aku akan berada di sini, bibi?" sebulir tetes air mengalir melintas pipi putihnya.
"Mengapa orang itu melakukan ini semua padaku, apa salahku, bibi ?" setetes lagi meluncur.
Tapi wanita tua itu hanya bisa bungkam. Hatinya hanya berharap kebahagiaan pemuda rupawan di depannya akan segera datang. Sudah lebih dari sebulan pemuda itu menghuni kamar luas itu.
~0o0~
Beberapa scenario direncanakan oleh pemuda navy, kuning, dan hijau. Mereka marah bukan kepalang dengan perselingkuhan yang dilakukan seorang perempuan yang menjadi keluarga baru Akashi. Rasa jijik terpantul dari ketiga pasang mata.
"Apa ini akan berpengaruh, Aominecchi?" suara yang biasanya tinggi kini terdengar rendah.
"Kita akan mencobanya, aku harap keluarga Akashi menyadari kondisi anak mereka, disamping itu aku ingin tahu pergerakan apa yang akan dilakukan mereka pada Tetsu, teman-temanku tengah mengamati kedua orang itu." Terang polisi muda, yang sekarang duduk sedikit malas di sofa dengan pakaian santainya. Sementara di sampingnya dokter muda yang masih menggunakan kemeja kerja tampak mengangguk.
Beberapa lembar foto berserak di meja kaca di ruang tamu apartemen Aomine. Mereka memilih beberapa foto dengan tingkat keintiman yang paling tinggi. Juga beberapa keping CD-R yang memuat perbincangan singkat yang pernah direkam Kise.
Dan hari itu kegemparan terjadi di ruang kerja Akashi Masaomi, di masionnya yang sangat luas. Kedua orang tua itu seperti dijatuhkan dari menara tertinggi. Mata rubi pria setengah baya itu rapat memejam, hingga kerutan di sekeliling matanya tampak jelas, sementara tangan halus putih istrinya meremas blus putih dibagian dadanya. Sungguh menyakitkan. Beruntung keduanya tidak mempunyai riwayat penyakit jantung.
Bagaimana mungkin seseorang yang diharapkan dapat melahirkan pewaris keturunannya berlaku sebejat itu. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali, di beberapa tempat berbeda, dengan lelaki yang sama. Keduanya belum tahu rencana keji yang tengah mereka susun.
Detik itu juga mereka benci setengah mati pada menantu yang sebelumnya sangat dibanggakan. Wanita bangsawan dengan manner yang sempurna, lemah lembut, dan sangat baik hati dan berkelas. Pujian setinggi langit yang pernah dilekatkan padanya sirna seketika. Pelacur! Jalang! Hanya itu yang tersisa pada sosok cantiknya yang hanya cangkang.
"Apakah menurutmu Seijuurou sudah tahu, Shiori ?" suara parau rendah itu memecah kesunyian yang hanya dipenuhi suara nafas berat.
"Entah, aku tidak tahu, anata." Jawab sang istri, suaranya lirih, mereka sangat mengkhawatirkan kondisi putranya. Mereka tidak pernah tahu seperti apa kondisi pernikahan sang pewaris tunggal.
"Sebaiknya kita rahasiakan ini dari Seijuurou, kita harus segera mengunjunginya." Putus sang kepala keluarga.
Beberapa foto berceceran di meja kerja Akashi Masaomi, ia melihatnya seperti najis yang mengotori mejanya. Menjijikan!
"Lantas apa yang ada didalam CD itu, anata?" menit berikutnya kedua pasang mata dengan guratan disudutnya membelalak dengan apa yang mereka dengar.
Air mata bercucuran dari sepasang mata bening Akashi Shiori. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi.
Paket tanpa nama pengirim itu membuat shock sepasang suami istri.
Fix. Semuanya harus segera diakhiri!
~0o0~
Wanita cantik itu memasuki rumah mewahnya. Sama seperti biasa, sepi. Beberapa rencana sudah ia siapkan. Senyum manis ia sunggingkan saat membuka clutch bag hitam berlogo sepasang C yang bersinggungan. Dua botol kristal berisi cairan yang satu bertutup pink, sedangkan yang satu coklat.
Dua botol afrodisiak, yang pink beraroma manis memikat, akan membuat pria manapun yang ia kehendaki bertekuk lutut padanya, malam nanti ia akan oleskan pada balik telinga, leher, dan belahan dadanya juga di bagian dalam kedua pahanya, ya, yang bertutup pink adalah parfum pemikat, sedangkan yang bertutup coklat akan ia oleskan pada bibir gelas yang biasa suami tampannya gunakan. Agar terminum dan masuk ke tubuh maskulinnya, lalu mempengaruhi jaringan saraf pembangkit keperkasaan lelaki itu.
Suara senandung kecil terdengar dari celah bibirnya, membayangkan kegiatan yang akan dilakukan dengan 'suami tercintanya', ia akan membuatnya terjatuh dalam dekapan, lalu membuahinya, dan berharap mengandung bibit superior keluarga nomor satu di Jepang itu, selanjutnya ia akan menunggu untuk hidup seperti di surga.
Ia amati kedua botol itu, tanda mata dari pria yang tadi malam bersamanya. Menjijikan? Tentu saja ya untuk orang yang menjunjung etika dan moral, yang hidup dalam nilai masyarakat normal. Namun tidak untuknya yang mengharapkan sesuatu dalam kadar berlebih, kehormatan – walau itu entah diletakkan disebelah mana – harta, juga pengaruh besar yang akan melambungkan namanya.
'Akashi Seijuurou, honey, kau akan ada dalam genggamanku selamanya. Wajah dan matamu akan aku buat selalu menghadapku, mengharap cintaku, tubuhku!' Senandungnya lirih sambil berguling di tempat tidurnya yang empuk. "Tunggulah malam ini, sayang…" ia mengecup kedua botol kristal itu, lalu memasukannya pada laci nakas putih di samping ranjangnya.
"Aaah…aku tidak sabar melakukannya denganmu!" Perempuan itu membayangkan tubuh suaminya yang beberapa bulan lalu ia nikahi.
"Kita akan mempunyai anak, kalau perlu tidak hanya satu…" lalu ia memejamkan matanya. Tapi sesaat kemudian dia mendudukan dirinya, lalu bangkit, berjalan ke depan cermin oval, mematut diri, "tapi tubuhku akan rusak, gendut, tidak cantik!" rutuknya, matanya memicing.
"Aku benci mengandung janinmu, aku hanya ingin hidup seperti di surga!" ia mengulangi lagi pikiran laknatnya.
Tubuh langsing itu memutar, tapi tak apalah masih banyak cara yang bisa mengembalikan tubuhnya ke bentuk semula.
Namun wanita itu hanya bisa mengerang, tengah malam ia lalui sendirian, bahkan saat jam di dinding menunjukkan angka 3, tak ada tanda apapun bahwa suaminya akan pulang.
"Sialan kau Seijuurou!" umpatnya kesal.
Ia lempar gelas yang saat ini tengah digenggamnya, sapuan tipis larutan cinta pada bibir gelas kering sudah, berakhir hancur di ubin setelah membentur dinding. Ia biarkan tubuh lelahnya bersandar pada sofa. Benar! hari ini suaminya tidak pulang lagi.
~0o0~
Kembali kelima sahabat berkumpul, kali ini gagasan Aomine Daiki, kasus penculikan Tetsuya masih belum juga menemukan titik terang.
"Apa yang kalian lihat?" suara Akashi sangat ketus membalas setiap tatapan yang ditujukan padanya.
"Apakah kau baik-baik saja Akachin?" suara malas terdengar, memberanikan diri bertanya.
"Memangnya ada apa dengan diriku?" kerut tidak suka tampak pada wajah tampannya. Auranya menjadi tidak nyaman. Setiap pasang mata seolah sedang menatapnya penuh selidik. Membuatnya marah.
"Akashi, apakah rumah tanggamu baik-baik saja?" polisi muda itu bertanya. Lelaki muda bersurai merah mengerutkan keningnya, tanda tidak suka urusan domestiknya dicampuri.
"Bukannya, kita ingin mencampuri urusanmu, hanya saja…" suara Midorima tercekat, saat melihat sebelah rubi itu merubah warna. Akashi menggeram teredam dalam rongga mulutnya.
"Akashi, kami bukan mau menyakitimu, hanya saja kami semua prihatin, juga mungkin ini berkaitan dengan Tetsu." Aomine memaksakan dirinya berucap dibawah tatapan dingin sang emperor.
"Aku tak ingin ada apa-apa dengan Kurokocchi, ssu." Raut Kise tampak sedih.
"Katakan sekarang juga, apa yang kalian tahu!" perintah absolut yang langsung dipatuhi.
Mata beda warna itu menatap benci foto-foto yang sama dengan yang sahabatnya kirimkan ke mansion Akashi di Kyoto. Giginya berderit, lalu kepalannya menghantam dinding disampingnya.
Kise memberikan earphone pada Akashi, dengan gesture yang seolah berkata – dengarlah! Wajah tampan itu mengeras, matanya nyalang, lalu mencabut kedua earbud dari telinganya dengan kasar. Umpatan dan sumpah serapah meluncur dari bibirnya.
"Akan aku bunuh mereka! Tidak ada yang boleh menyentuh Tetsuya-ku!" verbal mengerikan seakan eksekusi final dari pewaris tunggal keluarga Akashi.
"Kau tidak bisa gegabah, Akashi, keselamatan Tetsu harus kau prioritaskan!" Akashi muda hanya mendengus, wajahnya masih mengerikan.
"Aku ingin keduanya mati!" geramnya rendah.
"Kau akan berhadapan dengan hukum bila melakukannya, nanodayo!" Midorima mencoba menarik atensi yang hanya dibalas dengan seringai merendahkan.
"Mengapa kau sangat mengkhawatirkan Tetsuya, Shintarou?" terkandung ejekan dalam ucapannya. "Apa kau berniat memilikinya?" satu ejekan lagi, membuat Midorima berang.
"Kau, kau tidak pernah peduli padanya! Aku menyayanginya seperti adikku sendiri, aku mempedulikannya karena ia begitu baik dan polos! Aku tulus menyayanginya." menutupi kegugupannya di depan Akashi, dokter muda itu menaikkan bingkai kacamatanya, tangan besarnya berusaha menutupi sebagian wajahnya. Kekehan penuh ejekan terdengar seolah menggema di ruangan yang hening.
"Kau mengharapkannya, Midorima!" ucapan penuh tekanan keluar dari bibir yang tersenyum miring, Midorima sedikit tersentak, ia tak percaya Akashi malah akan mengatakan hal seperti ini ditengah upaya mereka menyelamatkan Tetsuya, membuat dirinya sedikit terpancing dalam kubangan emosi.
"Kalaupun iya memangnya kenapa? Tapi satu yang harus kau tahu, Kuroko tidak pernah mencintai orang lain selain kekasihnya!" diucapkan dengan penuh tekanan Midorima benar – benar merasa emosional.
"Ia memanggil nama kecilku setelah ia benar-benar percaya padaku sebagai sahabatnya, sebagai kakak untuknya!" tatapan tajam hazel seakan menghujam iris rubi. Ia yang biasanya menghindari berkonflik dengan Akashi, akhirnya menyemburkan isi kepalanya.
Akashi hanya bisa diam. Apa aku salah memandang keduanya yang sangat dekat, batinnya.
"Aku akan ceraikan perempuan itu, aku akan menghukumnya atas apa yang telah diperbuatnya, tidak peduli orang tuaku setuju atau tidak!" suaranya merendah, wajahnya kembali datar.
"Ryouta, terimakasih sudah memudahkan jalanku untuk menendang jalang itu keluar dari hidupku!" Akashi bangkit dari duduknya, lalu beranjak menuju pintu keluar.
"Dan untuk kalian," langkah putera tunggal Akashi itu terhenti sejenak.
"Mulai saat ini berhenti ikut campur!" ucapnya dengan nada dingin dengan senyum miring.
.
.
TBC
.
.
Hallo readers, sorry baru update lagi
Terimakasih sudah meluangkan watu untuk membaca, follow dan Favorit ff kami
Terimakasih juga sudah meninggalkan jejak sehingga membuat kami semangat dan terus berusaha memperbaiki diri.
See U next chap
Luv from Mel n' Khizuo
