Race In Peace
Disclaimer: Bisakah Eyang Su8ur membuat seluruh dunia beranggapan jika Bleach milik saya? XD
Summary: Kenangan masa lalu kini terungkap. Membuat mantan sepasang kekasih itu untuk segera menyelesaikan semuanya. —Aku benar-benar menyesal Rukia, tak adakah sedikitpun maaf untukku?—
Rate: M
Warning: Bahasa berantakan dan kaku, deskripsi sangat kurang, ide pasaran, typo(s), AU, OoC, GrimmRuki fic.
DON'T LIKE, CLICK BACK IMMEDIATELY
»«
.
«»
.
GJ's PoV. . .
Lagi. Mata ungu terang itu seperti berpendar indah saat aku menatapnya. Iris yang kutemukan beberapa minggu yang lalu saat aku pindah ke kelas premier. Manik unik yang membuatku selalu memikirkannya. Dan tentu saja... ingin memilikinya. Namun sayangnya seorang telah memiliki sesuatu yang ingin kupunyai. Yah, benar. Ia adalah kekasih Kurosaki Ichigo, rekan adu cepat di sirkuit balap sekaligus rival terberatku. Tapi tidak ada yang salah jika aku ikut menjadikannya cinta dalam hati kan? Dan tentu saja, aku tidak akan merebut dengan paksa milik orang lain. Namun jika ada sedikit kesempatan untuk mendekati dan mendapatkannya, mungkin aku tidak akan menyia-nyiakannya...
End GJ's Pov. . .
.
.
R.I.P
.
.
Seorang wanita berparas cantik yang sedikit berantakan terlihat merapikan dirinya di depan cermin rias. Mengancingkan seluruh kancing bajunya serampangan, kemudian menyisir rambutnya cepat, terakhir memoles wajah putihnya dengan bedak dan sedikit lipgloss. Dalam hati ia merutuk kekasihnya yang tidak membangunkannya lebih awal. Hari ini adalah saat terkhir di Australia, mereka akan segera terbang ke Jepang untuk persiapan balapan terakhir. Setelah semua beres, disambarnya tas kelinci putih dan menyampirkannya di pundak tak lupa mengambil kunci kamar yang tergeletak manis di atas meja tamu.
Dikuncinya kamar yang dihuninya kurang lebih seminggu. Dengan langkah ringan ia mulai berjalan pergi, gemerincing kunci mengiringi kaki-kaki mungil menapak lantai. Ia putar-putar benda tersebut di jari telunjuknya.
Namun kurang dari sepuluh meter dari kamar holtelnya, langkahnya terhenti mendadak. Tubuh tinggi menjulang menghadang lajunya. Dengan malas ia melangkah ke kiri —mencoba menghindarinya. Tapi kaki panjang pemuda itu ikut tergeser ke kanan. Ia coba ke kanan, tapi lagi-lagi terhalang tembok berbentuk manusia oren. Menghela napasnya kesal, di dongakkan kepalanya, menatap sepasang amber yang menatapnya balik dengan raut... penyesalan?
"Bisakah kau tidak menghalangi jalanku, Tuan Kurosaki?" ia bertanya dengan nada datar dan dinginnya.
"Tidak. Maksudku ada yang ingin kubicarakan denganmu Rukia. Dan tidak bisakah kau memanggilku Ichigo? Sama seperti dulu?" ucap si pemuda penuh harap.
Rukia menggeleng pelan, "Tidak ada yang perlu kita bicarakan, aku menganggap semua sudah selesai. Jadi tidak bisakah kau tidak menggangguku? Hiduplah di jalan pilihanmu, dan akupun akan hidup di jalan yang kupilih."
"Aku mohon, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal Rukia, tak adakah sedikitpun maaf untukku? Aku tahu, yang kulakukan dulu memang salah, tapi yang perlu kau tahu, aku hanya bermain-main saat itu. Aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kumohon, kembalilah..." ujarnya sangat lirih, matanya mulai memproduksi cairan bening yang mulai terbentuk di sudut mata akibat tak kuasa menahan gejolak hatinya selama ini.
Mendengar pengakuan pria di depannya, wanita asli Jepang itu mendengus kasar, "Hanya bermain-main kau bilang? Tak adakah alasan yang lain yang terdengar sedikit logis? Aku sudah bersabar saat foto-foto mesramu bersama wanita berambut merah beredar, aku sudah berbesar hati ketika aku melihatmu terang-terangan menggoda umbrella girl berambut hijau, dan aku juga memaafkanmu saat adegan ciumanmu dengan wanita seksi berdada besar di sebuah klub malam memenuhi dunia maya! Tapi yang terakhir... astaga aku bahkan tak pernah berpikir kau bisa melakukannya dengan... dengan...—" mau tak mau Rukia kembali mengingat kejadian beberapa tahun silam, saat dengan tidak sengaja ia melihat Ichigo dengan seseorang bersurai panjang tengah berciuman panas di kamar tempat pria itu menginap. Kejutan ulang tahun yang sudah dipersiapkan untuk sang kekasih langsung buyar seketika...
.
Flasback 2 years ago. . .
Jam tangan yang melingkar manis di tangan kanannya tepat menunjukkan pukul 12 kurang 15 menit saat ia turun dari taksi di depan sebuah hotel mewah bintang 5. Sekotak kue dibawa dengan kedua tangannya pelan-pelan. Dengan langkah mantap ia masuk ke dalam lift dan memencet tombol 5, lantai yang ditujunya. Sebuah senyum tak pernah lepas di paras manisnya sejak sampai di negeri bunga tulip beberapa jam yang lalu. Membayangkan ekspresi terkejut kekasihnya saat ia memberi hadiah ulang tahun ke 23 secara diam-diam. Kuchiki Rukia memang tidak memberi tahu Ichigo jika ia datang kemari. Ia beralasan pergelangan kakinya masih sakit akibat terjatuh minggu lalu saat race di Jepang dan gadis itu ingin sekalian beristirahat sejenak menjadi pendamping pria oranye di lintasan balap.
Bunyi denting lift menandakan ia sudah sampai tujuan. Sedikit menata rambutnya dengan jari, ia kemudian melangkah dengan penuh suka cita. Senandung kecil ia gumamkan lirih. Senyumnya bertambah lebar ketika nomor kamar yang dicarinya nampak di depan mata. Mengeluarkan kunci berwarna keperakan —yang tadi didapatnya dari Ishida-san— dan membuka pintu kayu di hadapannya, dengan wajah ceria dan siap bernyanyi ia malah disuguhi sebuah pemandangan yang membuat napasnya terhenti di tenggorokan.
Beberapa meter di depannya, nampak dua orang tengah berciuman dengan mesra di atas sofa, bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Tangan nakal keduanya mulai meraba daerah sensitif masing-masing. Lenguhan dan desahan yang mereka keluarkan membuat jantung Rukia berdetak beberapa kali lebih cepat, sekujur tubuhnya terasa terbakar api, darah seolah berhenti mengalir di nadinya. "I-ichigo..." suara serak dan lirih itu cukup untuk menghentikan kegiatan panas sepasang pemuda tersebut.
Si pemuda berambut oranye terang yang tadi duduk membelakangi pintu menolehkan kepalanya ke sumber suara. Pupil cokelatnya membesar saat tamu yang sangat diharapkannya muncul disaat yang sangat tidak tepat. Tangan yang tadi berada tepat di antara kedua paha pasangannya segera ia singkirkan, dengan wajah pucat ia langsung berdiri dan menghampiri wanitanya. "Ru-rukia, ini tidak seperti—"
"Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun alasan yang kau katakan!" ia menggeleng kuat-kuat, kedua tangan mungilnya meremas erat kotak kue yang dipegangnya. Setetes air mata mulai mengalir dari mata ungu indahnya. "Kau... benar-benar keterlaluan Ichigo! Aku membencimu!" dengan seluruh kewarasan yang masih tersisa, ia segera beranjak pergi meninggalkan sepasang makhluk sejenis itu agar bisa melanjutkan kembali kegiatan yang tertunda akibat interupsinya.
"Rukia!" dengan sedikit berlari ia mengejar kekasih mungilnya yang melesat keluar. Dibaliknya tubuh rapuh di hadapannya dan mencengkeram kuat kedua pundak yang bergetar menahan tangis. "Dengarkan aku sayang, aku tak bermaksud melakukan apa-apa dengan pria tadi. Ia hanya office boy yang berkata jika ia tertarik padaku kemarin lusa dan terus-terusan menggodaku sejak saat itu! Kupikir dengan memberikan apa yang dia inginkan akan membuatnya segera menjauhiku dan aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari semua yang pernah kurasakan selama ini! Aku hanya bermain-main dengannya Rukia, percayalah padaku!"
Rukia menghempaskan kasar kedua tangan yang tadi menyakiti bahunya hingga lepas. Dibukanya penutup kue yang dibawanya, dan menumpahkan seluruh isinya ke wajah tampan pria di depannya. Seringai kepuasan merekah di bibirnya melihat banyaknya krim putih yang menempel di permukaan muka pemuda yang masih berstatus kekasihnya beberapa saat lalu. "Kau tahu? Kupikir kau juga bermain-main denganku selama ini, Kurosaki. Dengan menghitung seberapa banyak kau juga bermain-main dengan wanita lain sebagai alasan. Dan sekarang kupikir kau bebas untuk kembali bermain-main dengan semua orang yang menggodamu karena mulai detik ini kita adalah orang asing satu sama lain."
Perkataan perempuan mungil yang sudah dikenalnya lebih dari setahun itu membuatnya diam tak berkutik. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Giginya bergemulutuk menahan campuran antara perasaan malu, marah, dan kesal. Samar-samar ia melihat punggung kecil Rukia mulai menjauhinya. Dan kemudian menghilang dibalik tikungan.
Ia akui semua yang terjadi tadi adalah kesalahannya. Tapi, tak bisa mengertikah Rukia jika ia adalah laki-laki yang sangat menyukai tantangan? Mencoba segala hal baru merupakan suatu hal yang sangat disukainya. Termasuk bermesraan dengan pria tadi adalah yang pertama dilakukannya. 'Yang terlarang justru lebih menantang' itulah motto yang selama ini dipegangnya.
Namun sepertinya ia harus segera menghapus motto itu dari dalam kamus hidupnya. Dan berusaha mendapatkan bulan yang menerangi gelapnya malam dalam dirinya. Sekali lagi.
.
Langkah kecil kaki pendek itu bergerak cepat. Berjalan sejauh mungkin dari kawasan yang membuatnya ingin muntah. Sesekali ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang memburu sekaligus menyeka air mata yang terus mengalir. Sesampainya di depan pintu lift, perempuan itu menekan semua tombol agar pintu besi segera terbuka dan membawa dirinya ke lantai dasar.
Sesosok tubuh tinggi besar menyapanya ketika bunyi denting lift membuyarkan pikirannya yang kosong. Dengan tangan masuk ke dalam saku jaket biru terang, pria itu menatap Rukia yang masuk dengan kepala tertunduk dan suara sesenggukan tertahan.
Mereka diam dalam keheningan yang membawa jatuh ke dasar kecanggungan. Rukia tahu siapa yang berada dalam ruangan sempit bersamanya ini. 'Lebih baik jangan membuat masalah dengannya jika ingin hidup tenang' batinnya.
"Pakailah ini. Aku sangat tidak suka melihat air mata perempuan," suara berat membuyarkan lamunannya, saputangan berwarna ungu gelap terulur di depan wajah sembab Rukia. Ia mengambil tanpa menoleh pada si pemberi.
"Terimakasih Jaegerjaques-san," ucapnya lirih sesaat kemudian.
Keduanya kembali terlarut dalam kebisuan, sampai akhirnya mereka sampai di lantai tujuan. Wanita berkulit putih tersebut melangkah keluar terlebih dahulu, meninggalkan pria berambut biru sendirian. Ia berjalan gontai keluar dari hotel, bingung harus kemana. Karena seharusnya malam ini ia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya, merayakan ulang tahun, dan tidur di kamar yang sama. Namun semua angannya pupus beberapa menit yang lalu. Meninggalkan luka dalam hati yang tak nampak, tapi terasa lebih sakit dari sayatan samurai.
Rukia mengistirahatkan pantatnya di pinggiran jalan raya yang masih nampak ramai meski telah lewat tengah malam. Manik matanya menatap nanar bintang di angkasa yang terlihat samar. Menghela napas panjang untuk kesekian kalinya dalam 10 menit terkhir, ia menekuk kedua lututnya, melingkarkan tangan mungilnya dan membenamka kepalanya di antara lipatan yang tercipta.
"Kau bisa dibawa ke dinas sosial jika ada razia dan melihatmu seperti ini," suara berat khas laki-laki dewasa membuatnya terlonjak keget. Lagi. Sosok pria yang ditemuinya kembali hadir di hadapannya. Ia berdiri angkuh, dan terlihat menjulang tinggi.
"Bukan urusanmu Tuan."
"Akan menjadi urusanku jika ada gadis yang tidak mengambalikan saputanganku saat ia sudah selesai menggunakannya. Lagipula sepertinya kau sedang putus cinta," Grimmjow menyeringai melihat iris ungu kesukaannya menatap tajam dirinya. "Bukan seperti ini cara untuk melepas stres nona Kuchiki. Ayo ikut aku."
Apakah Rukia mempunyai pilihan lain? Antara ikut dengan rival mantan kekasihnya atau diam di sini seperti orang gila? Sepertinya tidak.
Pria itu berjalan di depannya. Ia mengekor di belakang dengan kepala masih sedikit tertunduk. Mereka kemudian naik taksi yang Rukia sendiri tak tahu kemana arah tujuannya. Meskipun ditanya berkali-kali, pria biru tetap bungkam.
Rukia tercengang ketika mereka keluar dari taksi dan berjalan lagi ke arah pusat perbelanjaan 24 jam yang kini dituju Grimmjow. Ia tak habis pikir jika pria menyeramkan di depannya senang berbelanja untuk menghilangkan stres yang melanda. Langkah pembalap muda tersebut terhenti dan berbalik berjalan ke arahnya yang ternyata tertinggal cukup jauh. "Aku tidak mau kau hilang dan menyusahkanku!" ujar Grimmjow ketika tangan mungilnya digenggam oleh telapak besar dan agak kasar. "Dan jangan pernah berpikir aku kemari untuk menemanimu berbelanja."
Rukia kembali hanya diam mendengar penjelasan pria yang kini seolah menyeretnya ke lantai atas gedung itu. Mereka masuk ke dalam bagian Arcade games yang cukup sepi. Tanpa melepaskan genggamannya, Grimmjow membeli beberapa keping koin di counter. Lalu kembali menarik pemilik tubuh mungil ke tempat adu pukul dengan mesin. "Ini, pakai," ia menyerahkan sebuah sarung tinju kepada Rukia.
"Untuk apa?" tanya perempuan itu bingung, belum mengerti sepenuhnya maksud pria nyentrik itu membawanya kemari.
"Bukankah kau ingin menghilangkan stres? Bagiku ini adalah cara paling ampuh jika aku kalah dari Kuroski sialan itu. Atau kau mau aku mengajarimu dulu bagaimana caranya?" ujarnya pelan.
Rukia menggeleng, ia tak perlu petunjuk bagaimana memukul dengan benar. Setelah Grimmjow memasukkan beberapa koin, wanita berambut hitam itu mulai berancang-ancang untuk pukulan pertamanya. 'Deshh' bunyi sarung tinju yang beradu dengan bantalan kotak terdengar pelan.
"Kalau hanya seperti itu tak akan berefek pada dirimu Rukia, cobalah sekuat mungkin dan kalau perlu teriaklah sekuat tenaga," saran pemuda 21 tahun melihat papan nilai yang muncul kurang dari 50. Ia bahkan tidak sadar jika telah memanggil wanita mungil itu dengan nama kecilnya.
"Heeeyyaaahh!" Rukia berteriak cukup keras seraya mengayunkan tinjunya di tempat yang sama. Seringai kepuasan tercetak di wajahnya saat nilainya melebihi 70. "Hei, sepertinya ini mulai menyenangkan! Masukkan lagi koinnya Tuan Biru!"
"Namaku Grimmjow, mungil! Jangan panggil aku dengan Tuan Biru!" protes si biru jengkel.
Mereka menghabiskan waktu bersama hingga beberapa puluh menit ke depan dipermainan yang sama. Setelah Rukia merasa puas, Grimmjow kembali menyeretnya ke salah satu sudut hiburan lainnya. Karaoke.
"Menyanyilah sepuasmu. Berteriaklah semaumu. Dan lepaskanlah beban yang kau rasakan di sini, di tempat ini," ungkap Grimmjow saat iris ungu itu kembali menatapnya bingung. Di ruangan 2x3 meter tersebut Rukia bernyanyi sesukanya. Meneteskan air mata saat lagu yang dibawakannya seolah cerminan kisah cintanya. Berteriak seperti kerasukan roh, ketika lagu bergenre rock metal.Sampai puas, sampai lepas semua beban beratnya.
"Haaah, terima kasih banyak Grimm sudah membawaku ke tempat menyenangkan seperti ini," tutur Rukia saat ia menghempaskan tubuh lelahnya di samping pemuda setinggi lebih dari 180cm. "Dan sepertinya pandanganku padamu benar-benar berubah malam ini."
"Tak masalah bagiku Rukia. Tapi, hei! Apa maksudmu? Apa selama ini kau menganggapku jahat?" protesnya tak terima atas penghakiman cinta dalam hatinya.
Wanita berparas manis tertawa renyah mendengar nada kesal yang keluar, "Memang, bukankah kau jahat sudah membaawaku kemari tanpa persetujuankku?"
Dengusan sebal Grimmjow kembali memenuhi ruangan sempit itu, "Huh, baiklah sekarang juga aku akan mengantarkanmu ke hotel tempatmu menginap, nona!"
Ucapan spontan pembalap berbakat itu menyadarkan Rukia dari tawanya. Benar. Di mana ia akan tidur malam ini? Ia berpikir akan tidur bersama Ichigo ketika ia menginjakkan kakinya tadi sore. Tapi sekarang? "Err, Grimm, masalahnya sekarang aku tidak punya tempat untuk tidur..." ujarnya sangat lirih.
"Eh," mata biru langit membulat mendengar pengakuan orang yang diam-diam disukainya, tak lama kemudian seringai nampak jelas di wajahnya. "Yah, mengingat kau tidak mempunyai keluarga di sini kau bisa tidur bersamaku," perkataan Grimmjow langsung mandapat bayaran dengan jeweran di telinga kanannya. "Ma-maksudku kau bisa tidur di ranjangku!" tarikan di telinganya semakin kuat. "Maksudku aku akan tidur di sofa Rukia! Jadi berhentilah menganiaya kuping seksiku!"
Wanita itu kemudian melepas cengkeramannya pada daun telinga yang kini berubah merah, "Oh maaf. Itu salahmu sendiri tidak mengatakannya sejak awal," ia mulai beranjak dari duduknya, menguap dan meregangkan otot tangannya yang terasa kaku. "Nah ayo kita pulang. Aku ngantuk."
End of flasback. . .
.
Tangan mungil Rukia mencengkeram erat kaus pria di depannya. Kepala tertunduk dalam, mengingat semua kejadian menyedihkan bersama Ichigo dan juga dimana ia bertemu dengan penolongnya saat itu. Isak tangis mengisi lorong yang sepi. Isak tangis dari dua orang yang berbeda jenis kelamin. "Maafkan aku Rukia... sungguh maafkan aku..." kedua tangan pria oranye membelai halus mahkota malam yang sangat dirindukannya.
"Kau benar-benar jahat Ichi. Padahal aku benar-benar mencintaimu saat itu. Tapi kau malah... kau malah..." pelukan hangat diterima Rukia. Tubuh yang dulu selalu bisa membuatnya tenang dan merasa nyaman.
"Maaf, aku minta maaf," ujarnya berulang-ulang. Usapan lembut pada punggung sempit yang tidak ditolak sang pemilik semakin mempertebal keyakinannya jika Rukia masih menyimpan rasa untuknya. "Jadi Rukia, maukah kau menjadi pemilik hatiku lagi?"
Sontak wanita mungil itu mendorong tubuhnya menjauh dari rengkuhan hangat Kurosaki muda. "Maaf Ichigo. Aku tidak bisa memiliki hatimu. Karena... hatiku sudah kupercayakan pada pria yang kucintai sepenuh hati."
Rukia menunduk hormat pada mantan kekasihnya sebelum beranjak pergi. Meninggalkan sosok Kurosaki Ichigo dalam penolakan. Kejadian menyedihkan baginya terulang lagi, sama seperti 2 tahun lalu. Lorong kamar hotel sepertinya akan meninggalkan luka tersendiri baginya.
Buku-buku jarinya terlihat memutih akibat eratnya genggaman. Tidak! Ia tidak boleh menyerah! Belum saatnya perjuangan berakhir. Selama nama keluarga Rukia masih Kuchiki, ia tahu dengan pasti masih ada kesempatan untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung. . .
A/N: maaf kalo ceritanya sedikit ngawur. Saya lagi baaaaad mooood gegara UCL tadi pagi... ngejar setoran pada readers yang mengikuti cerita absurd ini. Terimakasih banyak atas dukungannya! =D
Dan apakah sudah jelas flashback mereka bertiga? Kalau belum kusisipkan beberapa di chapter depan, XD
Special thanks to: uzumaki kuchiki, Keiko Eni Naomi, Voidy, Sakura-Yuki15, Kiki RyuEunTeuk, ryuzaki kuchiki5, Owwie Owl, min. ah31, yume dewi aiko, MR Krabs, dan juga Grimmy! =D
Voidy: yap, hub IR seperti di atas. Apakah keliatan maksa? Apakah tidak masuk akal? Dan terima kasih reviunya! XD
Grimmy: ini udah update! Semoga suka. Terima kasih reviunya! =D
Jika ada kritik dan saran silahkan tulis lewat kotak review di bawah yaaa...
Sampai jumpa chapter depan minna~
