hai manis,"
Kulihat lebih jelas lagi,siapa orang ini??
"K-kris??"
"hai sayang,mau bermain denganku malam ini???"
Aku ingin berlari,namun aku sudah terlambat. Karena Kris sudah mengenggam tangan kiri ku dengan kuat. Aku terus berusaha untuk melepaskan genggamannya,tapi itu tidak bisa karena kenyataannya badan ku terlalu mungil di banding dengan Kris.
"Kris lepaskan!" ucap ku dan tak henti-hentinya menarik tangan ku.
"kau mau kemana sayang? Akan ku lepaskan tapi kau jangan lari."ucap Kris dengan nada yang lembut namun merinding ditelingaku.
"KRIS!" bentak ku. Tapi keliatannya Kris tidak takut. Dia justru tersenyum aneh ke arahku.
"kenapa??"tanya ku dengan galak.
"kemari sayang," setelah Kris mengatakan itu aku langsung ditarik dan mendorongku hingga punggungku menempel di tiang listrik.
"apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku atau aku akan berteriak." ucap ku sambil meronta-ronta.
"disini tidak ada orang selain aku sayang. Hanya ada kita berdua,kau dan aku."ucap Kris. Dan aku melihat ke sekeliling,memang jalanan ini begitu sepi.
"lepaskan aku Kris!" bentakku dan tidak lupa memberontak. Oh,di rumah ada eomma yang sendirian. Aku harus pergi sekarang juga.
"Baek,tidak bisakah kau diam dan biarkan aku menatapmu? Tolonglah,kali ini saja." ucap Kris sambil menatapku. Oh ya ampun, aku juga menatapnya.
Entah kenapa aku gugup,perlahan aku menurunkan kepalaku,memutus kontak mata antara aku dan Kris.
"baek,mau kah kau menjadi kekasihku??"ucap Kris tiba-tiba. Jantungku langsung berdetak kencang,terlintas dipikiranku kejadian tadi siang dimana Kris hampir membuka baju ku. Aku menggeleng.
"kenapa? Apa kau meragukanku?"ucap Kris sambil meraih dagu ku untuk menatapnya. Dan aku balas menatapnya.
Aku tidak memberinya respon karena aku bingung,jadi aku hanya menatapnya. Kris juga masih menatapku. Kami bertatapan lumayan lama. Lalu tangan Kris beralih dari daguku kepipiku,entah mataku atau kenyataannya Kris semakin dekat dengan wajah ku. Aku mulai ketakutan.
"Kris,aku tidak bisa."sampai akhirnya aku menemukan kembali suaraku yang tadi hilang entah kemana,walau suaraku terdengar ketakutan dan bergetar. Kris menatap ku dengan serius.
" a-aku,aku masih normal."ucap ku,. Terlihat wajah kecewa dari Kris. Perlahan genggaman Kris pada tanganku mulai mengendur,membuat aku bisa bernafas lega.
"maaf kan aku Kris." ucap ku merasa bersalah,karena wajahnya yang begitu kecewa. Ya,tapi mau bagaimana lagi?? Apa aku salah??
"bagaimana jika aku yang akan membuatmu menyukai ku??" ucap Kris. Aku tidak mengerti maksudnya apa,jadi aku hanya masih menatap Kris.
Kris semakin mendekat lagi,memotong jarak antara kita berdua. Aku yang mulai mengerti jalan pikir Kris langsung mendorong Kris kuat-kuat,sampai Kris mundur beberapa langkah.
"Jangan macam-macam pada ku!!!"bentakku dan masih tetap ada suara bergetarnya. Kris sendiri masih menatapku.
"ayolah Baek, kau tidak akan menyesal."ucap Kris. Hohohoho,dia pikir aku akan tergoda dengannya?? Sudah kubilang aku normal. Aku bukan gay.
"Kris,apa ucapanku tidak jelas?? Aku masih normal,mau bagaimana pun juga aku tetap tertarik pada perempuan."ucap ku dengan pelan dan menunduk menatap batu krikil. Kris mendekatiku.
"jika memang begitu,biarkan aku memelukmu. Untuk kali ini saja. Aku berjanji,tidak akan lebih."ucap Kris. Aku hanya terdiam masih tertarik pada batu krikil dibawah.
Kris akhirnya memelukku dengan erat,sementara aku tidak membalasnya. Aku hanya terdiam. Berharap ada seseorang yang datang dan menolongku.
"saat kelas 2, aku tidak sengaja melihatmu dan Chanyeol di toilet sekolah sedang berpelukan. Saat itu kau juga membalasnya,kenapa kau tidak membalas pelukanku??"ucap Kris.
"kau tidak tau jalan ceritanya Kris"ucap ku. Memang,saat itu aku dan Chanyeol berpelukan. Karena saat itu kedua orang tua Chanyeol sedang bertengkar,hampir seminggu lamanya. Chanyeol tertekan saat itu dan dia menangis tepat dihadapanku saat menceritakan masalahnya. Aku pikir Chanyeol sedang butuh sandaran untuk menangis. Dan tentu saja Chanyeol langsung membalas pelukanku.
"bisakah kau memperlakukan ku sama seperti kau memperlakukan Chanyeol??"ucap Kris, dan aku menggeleng didalam pelukan Kris.
"kenapa??" tanya Kris lembut. Lama-lama aku terbiasa mendengar suaranya, hah!
Aku hanya menggeleng lagi. Kris semakin mengeratkan pelukannya lagi. Aku sudah sangat ketakutan,dan aku menangis. Aku menangis karena takut ok! Walau aku laki-laki,jika aku ketakutan apalagi sudah diambang batas seperti ini aku akan menangis. Ujung tanganku sudah dingin sejak tadi karena aku benar-benar ketakutan.
"apa aku menakutkanmu Baek??"tanya Kris. Dan tentu saja aku mengangguk.
"hiks,hiks," sial,kenapa isakanku juga harus keluar,memalukan.
"sebentar lagi Baek,kumohon."ucap Kris sambil mengusap rambutku pelan. Dan aku hanya terdiam menangis,berharap Chanyeol atau siapa pun itu ada disini lalu memisahkan kami.
Tapi itu tidak terjadi. Tidak ada orang disini,hanya ada Kris yang sedang memelukku.
Angin malam berhembus kencang,memainkan sedikit rambutku. Sementara aku masih menangis ketakutan.
"baiklah,"ucap Kris dan melepas pelukannya.
"terima kasih Baek." lanjutnya sambil menangkup wajahku dan mengusap air mata ku. Dan aku hanya menatapnya.
"ini sudah malam,lebih baik kau pulang Baek. Udara malam ini lumayan dingin." ucap Kris sambil mengeratkan jaket biru tuanya. Aku sendiri hanya melihat gerak-geriknya sambil sesekali sesegukan.
"mau ku antar pulang????" tanya Kris. Oh iya, aku lupa jika aku harus beli pizza. Aku pun menggeleng sebagai jawabannya. Kris sepertinya kembali menatapku.
"a-aku harus pergi." ucap ku dan langsung melangkah meninggalkan Kris.
" Baek,bukankah arah jalan rumah mu disebelah sini????"tanya Kris.
"aku ada perlu." ucapku sambul masih terus meneruskan jalanku.
"biar kuantar" ucap Kris dan langsung ikut berjalan disampingku. Aku hanya terdiam saja,masih sibuk dengan air mataku yang turun tanpa ku ketahui.
Setelah sampai pada tempat tujuan, kami masih harus mengantri karena banyaknya pembeli. Sepertinya banyak orang yang tahu jika toko pizza ini sedang melakukan diskon besar-besaran.
"Baek,duduklah disini. Kau pasti lelah"ucap Kris sembari menarik kursi yang kosong. Aku hanya mengangguk dan duduk dikursi yang sudah Kris tarik.Sebelumnya aku sudah mengambil nomer antrian jadi,aku tinggal menunggu nomerku dipanggil dan aku memesan.
Kris kemudian duduk dihadapan ku,lalu menaruh subuah kunci diatas meja. Aku jadinya penasaran. Oh iya, kali ini aku sudah menganggapnya sebagai teman saja,jika dia memang menyukaiku dan melakukan hal yang aneh aku akan mengahajarnya saja. Tapi tunggu,kenapa tadi tidak dilawan saja?? Aish,aku lupa badanku dan Kris beda jauh.
"ini kunci apa???"tanya ku sambil meraih kunci dari hadapan Kris lalu aku lihat-lihat.
"itu kunci rumah. Aku sendirian dirumah." ucap Kris sambil ikut menatap kuncinya.
"kemana yang lain???"tanya ku. Dan Kris hanya memberi jawaban dengan menggedikkan bahunya.
Baiklah. Mungkin ini agak sensitif bagi Kris jika aku menanyakan tentang keluarganya. Aku pun mengembalikan kuncinya berada dihadapannya lagi.
"Baek."panggil Kris. Dan aku hanya berguman sebagai jawabannya.
"maafkan aku,pada saat dijalan tadi."ucap Kris dengan nada penyesalan.
"tidak apa-apa. Asalkan kau tidak mengulanginya lagi."ucapku penuh penekanan. Dan Kris hanya mengagguk.
"baek," panggil Kris lagi dan aku hanya menjawabnya dengan gunaman tanpa menatapnya, karena aku sedang melihat antrian yang semakin banyak.
"bolehkah aku menggenggam tanganmu??"ucap Kris. Aku yang mendengar ucapannya langsung menatapnya.
"boleh kah??"ulang Kris.
"kenapa harus?"tanya ku.
"aku hanya ingin."ucap Kris dengan tatapan memohon. Menghela nafas dan akhirnya aku mengangguk untuk jawabannya. Aku tidak tega melihat nya,seolah dia menginginkan sekali.
Tangan kiri ku di genggam oleh kedua tangan Kris yang hangat. Aku menatap Kris dengan was-was,siapa tau di melakukan sesuatu.
"tangan mu dingin."ucap Kris. Dan aku hanya menatapnya.
"ekhem! Apa aku merusak kencan kalian??"
Aku dan Kris langsung melihat kesumber suara.
.
.
.
TBC
.
.
