Baby In Me
By
QBee
By
Jung Jaemi
Disclaimer : Semua tokoh di sini bukan milik author, melainkan milik diri mereka sendiri. Kecuali YunJae, Yunpa adalah milik Jaema dan Jaema adalah milik Yunpa. Mereka saling memiliki.
Pairing : YunJae, YooSu, All member DBSK, member Suju, and others.
Rated : M (T for this chap)
Genre : Romance, Friendship, Fantasy (Little bit)
Wanings : Boys Love, Typos, NC (Belum muncul di chap ini), Possible to M-PREG, No flame, Don't Like Don't Read, OOC
"Plot ini punya Author. Murni dari imajinasi Author sendiri. Apabila ada kesamaan cerita, itu hanya unsur ketidaksengajaan.^_^
Chapter 4
.
.
.
Cho Kyuhyun memicingkan mata dibalik kacamata hitamnya. Dia menatap intens ke arah sebuah restoran china bercat merah. Dan demi apa, restoran china di pinggir jalan yang sedang diintainya itu adalah milik sepupunya sendiri, Choi Siwon.
Kyuhyun menghela nafas panjangnya. Dia mulai gelisah. Terik matahari mulai meninggi dan perutnya masih keroncongan. Menandakan namja jangkung ini belum sarapan sama sekali. Tapi entah kenapa Kyuhyun justru enggan beranjak dari aktivitas pengintaiannya. Mengintai namja aegyo yang sejak tadi malam mengganggu tidurnya bernama Lee Sungmin.
Oke! Kyuhyun mencoba mengingat semuanya. Mengingat semua rentetan peristiwa yang membuatnya tanpa sadar sudah berakhir di sini. Berakhir di tepi jalan untuk mengintai Sungmin. Tadi pagi, Kyuhyun mendatangi apartemen Sungmin. Dia berniat menawarkan Sungmin tumpangan ke restoran. Tapi saat Sungmin terlihat keluar dari apartemennya, entah kenapa justru namja ini nampak membatu dalam mobilnya. Kepercayaan diri yang dibangunnya seharian tiba-tiba lenyap. Ada ketakutan dalam dirinya kalau Sungmin akan menolak ajakannya. Maka dari itu, tanpa Kyuhyun sadari dia malah meninggalkan mobilnya dan mengikuti namja bunny itu sampai ke restoran. Dan otaknya malah menyuruhnya untuk menunggu Sungmin pulang.
Lupakan ke-evilan seorang Cho Kyuhyun. Lupakan semua kaset game dan psp tercintanya. Saat ini yang hanya dipikirannya hanya seorang Lee Sungmin, bukan yang lain.
Kyukyun kembali ke posisinya. Dia kembali mengawasi restoran itu. Namun, alisnya nampak bertaut saat matanya tak sengaja melihat tiga orang namja yang berjalan ke arahnya. Tiga orang namja itu nampak dikenalnya. Dari postur tubuh dan wajah mereka…
"Omona!" Kyuhyun membatu saat menyadari kalau tiga orang namja itu adalah Hyukjae, Donghae, dan Shindong. Mereka bertiga nampak menatap garang dan penuh amarah ke arahnya. Terlihat sekali mereka sedang menghampiri Kyuhyun.
Kyuhyun yang baru menerima sinyal tanda bahaya langsung berbalik dan mengambil langkah seribu. Oke, walaupun dia tak tahu untuk apa Hyukjae, Donghae, dan Shindong mendatanginya, tapi otak game-nya menyuruhnya untuk pergi dan pulang sekarang juga.
"Yah, namja mesum! Jangan lari kau…" terdengar suara Hyukjae yang berteriak di belakang Kyuhyun. Kyuhyun menoleh ke belakang sambil berlari. Dia melihat Hyukjae cs ikut berlari mengejarnya. Ck, sepertinya firasat buruknya benar.
Kyuhyun mencoba mempercepat larinya. Tak ada gunanya memiliki kaki panjang untuk berlari kalau Kyuhyun dalam kondisi kelelahan dan belum sarapan. Dan ini membuatnya tak fokus sama sekali sehingga…
BRUUUGGHHH…
"Argghhh…"
Badan jangkung Kyuhyun terjerembab ke aspal. Dia merutuki dirinya sendiri yang tersandung batu. Disaat seperti ini keberuntungan tak berpihak dengannya. Saat akan bangun, Kyuhyun merasa ada yang mengunci kedua tangannya dari belakang.
"Mau kemana kau hah?" bentak Hyukjae yang mengunci tangan Kyuhyun saat malihatnya berontak dan ingin melarikan diri. Kyuhyun yang saat itu dalam keadaan tengkurap dapat mendengar langkah kaki Donghae dan Shindong yang baru saja datang.
Hyukjae membalikkan tubuh Kyuhyun dan menduduki perutnya. Nampaknya mereka bertiga tak mengenali wajah Kyuhyun karena kacamata dan topinya. Kyuhyun dapat melihat Hyukjae melototkan mata ke arahnya.
"Brengsek! Kau orang jahat yang mau mengganggu temanku, bukan?" Hyukjae melayangkan pukulannya di pipi kanan Kyuhyun. Kyuhyun mengerang kesakitan. Baru kali ini ada orang yang memukulnya.
"Tu-tunggu! A-aku…" Kyuhyun ingin menjelaskan semuanya namun Hyukjae kembali memukul perut dan pipinya. Dan pukulan ini telak membuatnya mau pingsan.
Sebenarnya pukulan itu tak terlalu kencang. Hyukjae hanya ingin membuat korbannya tak berdaya. Hanya saja, kondidi tubuh Kyuhyun yang kurang baik malah memperparah keadaan.
Terdengar pukulan Hyukjae yang berkali-kali mendarat di tubuhnya. Wajahnya mulai lebam dan ada darah di sudut bibirnya. Saat Hyukjae ingin memukulnya lagi, dengan tenaga yang tersisa Kyuhyun menahannya.
"Uhuk.. Uhukk.. Ini a-aku! Kyuhyun! Cho Kyuhyun!" pekik Kyuhyun sambil melepas kacamata dan topinya. Sontak Hyukjae dan yang lain membatu. Oh, sepertinya mereka mengenali Kyuhyun sekarang. Dan, sepertinya mereka harus mencari pekerjaan yang baru. Mengingat mereka baru saja memukuli sepupu dari pemilik tempat mereka bekerja.
"Mwooo?"
.
.
.
Pesona seorang Choi Siwon memang tak bisa diragukan lagi. Lihat saja sekarang. Saat dia sedang memasuki elevator, banyak yeoja yang berebut untuk masuk elevator bersamanya. Bahkan ada yang sempat mengerlingkan mata nakalnya pada Siwon. Siwon hanya bisa tersenyum tipis. Keadaan seperti ini sering dialaminya dan dia tak ambil pusing dengan itu.
Ting
Pintu elevator pun terbuka. Siwon keluar karena merasa inilah lantai yang dicarinya. Lantai di mana ruangan Jung Yunho, sahabat lamanya berada. Ah, berbicara tentang Yunho rasanya dia tak sabar bertemu dengan sahabat berwajah kecilnya itu.
Tanpa terasa, akhirnya Siwon sampai juga di depan pintu ruangan Yunho. Namun, dahinya mengerut saat telinganya menangkap suara tawa dari dalam ruangan. Lho? Bukankah Yunho sedang ada rapat? Tapi kenapa ada suara dari dalam ruangan? Dengan penasaran, Siwon memutar kenop pintu. Tapi…
Drrrttt… dddrrrttt
Siwon yang merasa ponselnya bergetar segera menghentikan pergerakannya. Dia mengambil ponsel mewahnya dari saku jas hitamnya. Nama Heechul yang ada di layar ponselnya membuat Siwon bingung.
"Yoeboseyo?" jawab Siwon. Alisnya bertaut saat mendengar suara Heechul yang terdengar panik.
"…"
"Ne! Waeyo?"
"…"
Mata Siwon membulat sempurna setelah mendengarkan penjelasan Heechul yang cukup panjang. Oke, sepertinya nama Kyuhyun sudah dibawa-bawa di sini.
"Mwo? Aish bocah itu," Siwon menggerutu. Dia menggelengkan kepalanya. Namun dia tidak terkejut juga mendengarnya. Mengingat ke-evilan sepupunya itu yang sudah tingkat akut.
"…"
"Jangan panik seperti itu, Heechul-ah! Aku tidak akan marah pada kalian. Justru Kyu-nya saja yang nakal."
"…"
"Ne. aku akan segera ke sana,"
Pip. Sambungan ponsel terputus. Siwon memasukkan ponselnya ke saku jasnya. Dia menghela nafas. Sepertinya pertemuannya dengan Yunho harus dituda dulu untuk kali ini. Sedetik kemudian, Siwon membalikkan badannya dan pergi dari tempat itu.
.
.
.
Dua jam telah berlalu. Rapat hari ini benar-benar memuaskan bagi seorang Jung Yunho. Bagaimana tidak? rekan bisnisnya benar-benar puas dengan hasil kerja perusahaannya. Mengingat hal itu senyum lebar terpampang jelas di wajah kecilnya. Rasanya dia tak sabar untuk segera ke ruangannya.
Tunggu! Yunho memelankan langkah menuju ruangannya. Kenapa dia sangat ingin kembali ke ruangannya? Kenapa ada sesuatu yang dia rindukan? Dia tahu apa sebenarnya hal itu. Tapi entah kenapa hatinya cukup keras kepala untuk tak mengakuinya.
Yunho mengabaikan dua orang yeoja yang bergaya centil menyapanya. Sepertinya tidak perlu lagi disebutkan siapa mereka. Yang Yunho inginkan hanya sampai ke ruangannya sesegera mungkin.
Cklek…
Yunho membuka pintu ruangnnya. Dia melihat Sandara Park tersentak kaget dan memandang takut padanya. Sandara duduk di sofa tepi ruangan seorang diri. Yunho mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan saat tak menemukan sosok yang dicarinya.
"Di mana Kim Jaejoong?" tanya Yunho yang berusaha santai. Dia berjalan ke arah mejanya tanpa memandang Sandara. Dia tak ingin menunjukkan ekspresi khawatirnya.
"Umm… Itu… Sa-saya…" Sandara Park terdengar gugup. Oke, Yunho mulai mencium ada yang tidak beres di sini. Dia duduk di meja kerjanya sambil berpura-pura memeriksa berkas penting. Padahal di dalam hatinya dia sangat khawatir saat melihat Jaejoong tak ada di ruangannya.
"Di mana dia?" tanya Yunho berusaha selembut mungkin. Namun yang Sandara Park dengar justru nada bicara yang lembut namun menyeramkan.
Sandara Park menghela nafasnya. Dia tak peduli lagi setelah ini dia kehilangan pekerjaannya. "Tadi Jaejoong pergi ke toilet, sajangnim! Dan dia belum kembali sampai sekarang,"
"Sudah berapa lama dia pergi?" Yunho masih berpura-pura fokus pada berkasnya.
"Sa-satu jam yang lalu…"
Brakkkk…
Yunho menghempaskan tumpukan dokumennya dengan kasar ke atas meja. Sandara nampak kaget dan menundukkan wajahnya. Aura hitam Yunho mulai keluar rupanya.
"Sudah satu jam Jaejoong tak kembali kau tak mencarinya juga? Kenapa kau membiarkannya keluar seorang diri? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjaganya?" bentak Yunho. Entah kenapa emosinya meninggi sekarang. Pikirannya kalut dan khawatir. Walaupun Jaejoong berbadan dewasa, namun dia masih anak kecil. Bagaimana kalau hal yang buruk terjadi padanya?
"Mianhae sajangnim! Saya-" belum sempat Sandara memberikan pembelaan, Yunho memotong pembicaraannya.
"Cari Jaejoong sekarang juga kalau kau tak ingin kehilangan pekerjaanmu,"
Sandara nampak terdiam. Dia mencerna perkataan Yunho.
"Ppali…!"
"Ne sajangnim!" Sandara langsung mengambil langkah seribu sebelum Yunho benar-benar memecatnya.
Saat Sandara menghilang dibalik pintu, Yunho mengusap keras wajahnya. Dia menghempaskan diri di tempat duduknya kemudian memencet salah satu tombol di telepon meja kerjanya.
"Perintahkan keamanan untuk mencari namja bernama Kim Jaejoong di gedung ini sekarang juga. Dia memakai kemeja putih dan dia adalah namja yang datang bersamaku tadi pagi. Katakan pada mereka, kalau tidak menemukan Kim Jaejoong dalam waktu setengah jam, aku akan memotong uang bulanan mereka, arraso?" perintah Yunho pada sekertarisnya.
Setelah sambungan terputus Yunho menghempaskan ganggang teleponnya dengan agak kasar. Dia mengusap keras wajahnya. Kalau tahu begini dia ikat saja tadi Jaejoong di meja kerjanya. Yunho mencoba tenang. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya.
Tidak! Yunho benar-benar tidak bisa tenang. Dia harus menemukan Kim Jaejoong sekarang juga.
.
.
.
"Tu-tuan! Anda tidak perlu membantu saya seperti ini…" ucap seorang halmoni tua pada Jaejoong yang tengah semangat mengepel lantai perusahaan. Halmoni itu mencoba menghentikan namja cantik ini mengepel.
Jaejoong berhenti sejenak. Dia tersenyum kepada halmoni itu sambil melepaskan tangan halmoni itu yang memegang lengannya. "Halmoni istirahat saja, ne? Karena Joongie sudah besar Joongie saja yang mengepel lantai ini!"
Halmoni tua itu nampak bingung dengan perkataan Jaejoong barusan. Yeoja tua yang berpakaian cleaning service itu menyerah sekarang. Sudah satu jam ini Jaejoong mengikutinya dan membantunya mengepel lantai.
Di sinilah ternyata Uri Jaejoongie. Saat keluar dari toilet dia bertemu dengan halmoni tua ini dan membantunya.
"Ternyata mengepel lantai mengasyikkan, ne? Coba saja ada Chang-chang!" gerutu Jaejoong sambil tetap fokus mengepel. Sesekali dia memasukkan alat pel itu ke dalam ember yang berisi air.
"Apa kau pekerja di sini?" seorang namja nampak menyapa Jaejoong. Jaejoong yang bingung menghentikan aktivitasnya dan menunjuk dirinya sendiri.
"Ne! kau! Kau bekerja di sini?"
Jaejoong bingung menjawab apa. Dia hanya bisa menatap namja yang ada di hadapannya. Namja itu berpakaian setelan jas yang sangat rapi. Sepertinya dia salah satu karyawan di sini. Saat Jaejoong ingin menjawab, namja itu malah memotong perkataannya.
"Ikut aku! Aku ingin kau membersihkan ruanganku!"
Jaejoong mengangguk lemah. Dia mengikuti namja itu sambil mendorong peralatan kebersihan milik halmoni tua itu. Sedangkan halmoni tua itu nampak mengikuti Jaeoong.
.
.
.
Jaejoong memakai sarung tangan karet berwarna kuning. Dia juga memakai semacam celemek. Dengan cekatan, Jaejoong menyemprotkan pengharum ruangan. Nampak beberpa karyawan fokus bekerja di meja mereka masing-masing. Sedangkan halmoni tua itu pun nampak mengelap kaca kantor.
"Bersihkan semua sampah yang ada di sini!" perintah namja yang membawa Jaejoong. Namja itu menunjuk tumpukan sampah kertas dan bak sampah kecil yang ada di samping mejanya.
Dengan polosnya Jaejoong mengangguk. Namja ini diperlakukan seperti cleaning service saja. Jaejoong berjongkok dan memunguti sampah yang berhamburan di lantai. Jaejoong juga memasukkan sampah yang ada di bak sampah kecil itu ke dalam kantung plastik hitam yang sangat besar.
Pluk!
Jaejoong mengerucutkan bibir cherry-nya saat dengan santainya seorang yeoja membuang sampah kertasnya dan mengenai kepala Jaejoong. Dengan polosnya, Jaejoong memunguti sampah-sampah itu. Dia menghela nafas panjang.
"Yah! Kemari kau!" seseorang memanggil Jaejoong. Dengan patuhnya Jaejoong menghampirinya. Terlihat seorang namja yang duduk di meja kerjanya. Namja itu menunjuk tumpahan kopi yang ada di atas mejanya.
"Bersihkan!" titahnya. Jajeoong mengangguk dan mulai mengelap cairan panas itu sementara yang menyuruh malah merapikan dokumennya.
BRAKKKK…
Pintu ruangan dibuka dengan kasar. Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu, kecuali Jaejoong yang masih fokus pada pekerjaannya. Sedetik kemudian mereka membatu.
"Kim Jaejoong!"
Jaejoong menoleh. Dia tersentak kaget melihat Yunho menatap tajam ke arahnya. Tatapan mata Yunho menyiratkan kemarahan dan emosi yang meledak-ledak. "Ahusshi?"
Panggilan ahjusshi benar-benar tak dihiraukan lagi oleh Yunho. Dengan posesif dia menghampiri Jaejoong dan mengamit lengannya dengan paksa.
"Siapa di antara kalian yang berani-beraninya menyuruh Jaejoong bekerja?" bentak Yunho dan suaranya menggema diseluruh ruangan. Semua orang terdiam. Mereka tak berani terhadap direktur mereka.
Hening. Tak ada jawaban sama sekali. Jaejoong terlihat bingung. Dia berdiri di balik punggung tegap Yunho.
"JAWAB!" bentak Yunho lagi. bahkan bentakannya ini sudah terdengar seperti teriakan.
"Ahjusshi," panggil Jaejoong lirih. Yunho yang amarahnya masih memuncak menolehkan kepalanya ke belakang. Dia melihat Jaejoong yang menatap takut ke arahnya. Bibir merahnya bergetar menahan tangis, dan Omo! Mata doe-nya berkaca-kaca. Sepertinya Jaejoong ketakutan dan dia trauma melihat Yunho yang marah-marah.
Yunho tersenyum tipis. Amarahnya mulai mereda melihat Jaejoong yang mau menangis. Refleks tangannya mengusap kepala Jaejoong dengan lembut. Dia mengabaikan tatapan orang-orang di sekelilingnya.
"Sebentar lagi makan siang. Karena aku tak ada meeting lagi, kita pulang setelah itu."
Jaejoong tersentak. Kenapa Yunho tiba-tiba lembut padanya? Sentuhan Yunho dikepalanya juga mengingatkannya pada sentuhan seseorang. Jaejoong menganggguk pelan. Dia masih agak takut mengingat Yunho yang marah besar tadi. Namun ekspresinya yang ingin menangis mulai menghilang.
Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di ruangan itu Yunho membawa Jaejoong ke ruangannya.
.
.
.
"Argh…"
"Kyuhyun-ah! Aku belum mengobati lukamu…" ucap Sungmin, heran. Kapas yang dia sudah olesi dengan obat belum sama sekali menyentuh luka di wajah Kyuhyun. Namun Kyuhyun mengerang sakit duluan.
"Eh?" Kyuhyun membuka matanya yang tadi terpejam. Agak malu juga sih. Tapi dia bahagia. Justru karena kecelakaan yang kedua kalinya Sungmin kembali mengobati lukanya.
Di sinilah Cho Kyuhyun. Dia sudah berada di restoran china milik Siwon. Setelah kejadian pemukulan tadi tentu saja, Hyukjae, Donghae, dan Shindong membawanya ke sini.
Akhirnya Sungmin mengobati luka Kyuhyun juga. Kyuhyun nampak memekik kesakitan. Tapi dia mencoba menahannya. Bukankah dia harus nampak kuat di hadapan orang yang disukainya?
"Mianhae…" gumam Sungmin lirih. Kyuhyun tersentak kaget. "Aku benar-benar tak tahu kalau orang itu adalah kau!"
"Gwaenchanayo, Sungmin-ah!" jawab Kyuhyun sambil tersenyum. Namun Kyuhyun kembali mengerang kesakitan. Pasalnya saat tersenyum tadi membuat wajahnya bergerak dan rasa sakit di wajahnya kembali terasa.
"Jangan tersenyum dulu!" perintah Sungmin. Kyuhyun mengangguk patuh.
Krieettt
Sungmin dan Kyuhyun menoleh ke arah pintu saat mendengar derit pintu yang terbuka. di sana berdiri Choi Siwon. Kyuhyun menelan ludahnya saat melihat Choi Siwon menghampirinya dengan tatapan tajam. Sepertinya evil kyu akan dimasukkan ke neraka oleh seorang pastur Choi Siwon.
.
.
.
Jam demi jam telah terlewat. Tak terasa matahari mulai menenggelamkan cahayanya. Walaupun hari tengah sore, penduduk kota Seoul masih memadati jalan raya. Mungkin dikarenakan ini jam pulang kerja.
Yunho memarkirkan mobilnya. Dia menginjak remnya cukup keras memastikan mobilnya benar-benar berhenti. Sedetik kemudian dia menolehkan kepalanya ke samping. Senyum terkembang di wajahnya melihat Jaejoong yang tengah tertidur di kursinya sambil memeluk piyama hamtaronya.
Yunho tertawa pelan saat mengingat kejadian tadi. Dia dan Jaejoong pergi ke pusat perbelanjaan untuk membelikan Jaejoong beberapa baju. Tidak mungkin bukan Jaejoong terus-terusan memakai bajunya? Saat memilihkan Jaejoong beberapa baju, Jaejoong malah merengek minta dibelikan piyama berukuran orang dewasa yang bermodel hamtaro. Piyama itu terpajang di manekin estelase toko. Awalnya Yunho menolak. Tapi melihat Jaejoong yang memeluk boneka manekin itu dan mengancam tidak mau pulang, akhirnya Yunho membelikannya juga.
Yunho agak mengerang saat menyadari kaki-kakinya terasa pegal. Tentu saja, berjam-jam dia dan Jaejoong mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Lihat saja Jaejoong, bahkan namja itu tertidur saking lelahnya.
Gerakan Yunho untuk membangunkan Jaejoong terhenti saat melihat Jaejoong yang menggerak-gerakkan bibir merahnya. Lucu sekaligus menggoda. Entah kenapa hasrat Yunho malah naik dan dia ingin sekali mencium bibir merah itu.
"Ungh… Es Krim… Chang-chang!" Jaejoong mengigau di tengah tidurnya. Melihat itu Yunho tak tega juga dan akhirnya dia menggendong tubuh Jaejoong ala bridal style. Dia mengabaikan pandangan orang-orang saat melewati lobi apartemen. Yang dia pikirkan hanya Jaejoong yang menggeliat pelan dalam gendongannya.
.
.
.
Dinginnya malam membuat jaejoong membuka setengah matanya. Dia mengerang pelan sambil mencoba untuk duduk di kasurnya. Dia masih menggenggam piyama hamtaronya. Aigoo! Sepertinya uri Jaejoongie sedang mengigau. Dengan langkah yang terhuyung-huyung, Jaejoong mencoba keluar dari kamarnya yang gelap.
Krieettt
Entah sadar atau tidak Jaejoong malah membuka kamar Yunho yang ada di samping kamarnya. Namja cantik ini nampak berjalan ke arah tempat tidur Yunho. Walaupun keadaan kamar sadang gelap, Jaejoong dapat berjalan menembusnya. Dengan perlahan dia berbaring di samping Yunho yang memunggunginya.
"Ungh.. selamat malam chang-chang…" gumam Jaejoong di sela igauannya. Dia menarik selimut Yunho dan menenggelamkan tubuh dewasanya di dalam sana.
.
.
.
Yunho menggeliat pelan dalam tidurnya. Dia mencoba mengabaikan suara bel apartemennya yang menggema sampai ke kamarnya. Yunho yang masih setengah sadar tahu kalau ini sudah pagi. Tapi dia menggerutu pelan. Sial! Siapa coba yang bertamu di pagi hari minggu seperti ini?
Yunho terduduk di kasur king size-nya. Rasa lelah kemarin sehabis berkeliling pusat perbelanjaan dengan Jaejoong membuatnya masih mengantuk sampai sekarang. Dengan langkah yang terhuyung Yunho mencoba berjalan. Dia keluar kamarnya sambil menguap pelan. Matanya juga masih setengah terpejam.
Klekk
Yunho membuka pintu apatemennya tanpa melihat tamunya lewat interkom.
"Yunho-hyung?"
Deg~
Mata Yunho yang tadinya terpejam setengah langsung membulat sempurna saat melihat Junsu yang berdiri di hadapannya. Di belakang Junsu juga ada Yoochun.
"Junsu-ah? Yoochun-ah?" ucap Yunho lirih. Dia menelan ludah melihat mereka. Bagaimana kalau mereka melihat Jaejoong dewasa?
"Wae? Kau seperti melihat hantu saja," ucap Yoochun santai. Dengan cueknya dia melenggang masuk diikuti Junsu, meninggalkan Yunho yang masih mematung di ambang pintu.
"Apa Joongie masih tidur? Ah! Aku merindukannya!" ucap Junsu setelah melepaskan mantel tebalnya. Dia pun berjalan ke arah kamar Jaejoong. Sebelum Yunho menghentikannya Junsu sudah menghilang dibalik pintu kamar Jaejoong.
"Junsu-ah! Ja-"
Yoochun yang terduduk di sofa menatap aneh ka arah Yunho. Dia tak pernah melihat sahabatnya itu dalam keadaan gugup seperti ini. Bukankan Jung Yunho biasanya terlihat sangat cool dan manly?
"Waeyo? Kau nampak aneh hari ini," ucap Yoochun sambil memencet remote televisi yang ada di atas meja.
"Di mana Joongie hyung? Kenapa dia tidak ada?" ucap Junsu tiba-tiba saat keluar dari kamar Jaejoong. Yunho mengernyitkan dahinya, heran. Bukankan semalam dia yang membaringkan Jaejoong di kamarnya? Ke mana lagi anak itu?
"Benar dia tidak ada?" tanya Yunho mulai cemas. Dia ikut melihat ke dalam kamar. Dan seperti yang dikatakan Junsu Jaejoong benar-benar menghilang. Kasur Jaejoong terlihat kosong dan masih rapi.
Yunho menelan ludah. Di mana lagi Jaejoong? Ah! Kenapa namja itu selalu membuatnya gila?
Klekk
Ketiga pasang mata yang ada diruangan itu menoleh ke arah suara pintu yang terbuka. Di sana, di ambang pintu kamar Yunho terdapat namja cantik dengan baju kemeja dan rambut acak-acakan. Namja itu mempoutkan bibir cherry-nya. Sepertinya dia sedang kesal karena suara ribut-ribut di luar telah mengganggu tidurnya.
Sepertinya inilah hari kiamat bagi seorang Jung Yunho. Dia mematung. Dia tak mengerti bagaimana Jaejoong ada di kamarnya. Apa coba yang akan dipikirkan Junsu dan Yoochun saat melihat seorang namja cantik yang keluar dari kamarnya?
Sementara itu, Yoochun dan Junsu menatap Yunho dan jaejoong dewasa secara bergantian. Aigoo! Matilah kau Jung Yunho!
.
.
.
TBC
