BRING A NEW LIFE

by Park Ha Rin

CAST

Byun Baekhyun

Other cast menyusul sesuai cerita

Disclaimer : Ff ini terinspirasi dari karya seorang animator di pivix. FF ini karya asli saya. Jika ada kesamaan alur dan adegan bukan suatu kesengajaan.

YAOI, MPREG, NC Scene, BXB, DLDR

Chap 3: A Beautiful Sin with Mr. Park

_

Genggaman hangat tangan Chanyeol terlepas saat mereka sampai di sebuah kamar hotel bernomor 614. Sebuah kamar mewah di lantai enam hotel, dengan perabotan interior indah dan sebuah ranjang berukuran king size terletak di tengah ruangan. Chanyeol meninggalkan Baekhyun sendiri untuk mandi sebentar.

Baekhyun membawa langkahnya ke arah dinding kaca di sisi kiri kamar yang bersisian dengan balkon. Pemandangan kerlap-kerlip lampu gedung dan lalu lalang kendaraan terlihat indah dari atas sini. Keraguan mulai menyerang Baekhyun lagi, namun suara batinnya mengingatkan.

Ingat janjimu pada Taehyung. Ini demi bibi Kim. Kuatkan dirimu, Baekhyun!

"Apa yang kau lamunkan, B?" bisik suara rendah dari balik punggungnya menyentak lamunan Baekhyun. Ia tak sadar berapa lama ia melamun. Lengan Chanyeol melingkar memeluk pinggangnya dari belakang. Satu telapak tangannya mengelus lembut permukaan perut Baekhyun. Hidung mancung namja tinggi itu mulai bergerilya di lehernya, menyesap aroma parfum pemberian Luhan yang masih tertinggal. Badan Baekhyun bergetar karena gugup. Baekhyun membalikkan badannya untuk menatap lurus wajah tampan itu. Butir-butir air masih mengalir dari rambutnya yang basah. Tubuh atletis itu hanya dibungkus jubah handuk yang setengah basah. Begitu memikat. Baekhyun mengalihkan pandangan sambil menenangkan degup jantungnya. "Tid-tidak ada." jawabnya singkat setelah meyakinkan suaranya agar tidak bergetar. Tangan Chanyeol masih bergerak menyusuri tubuhnya.

"Apa kau gugup?" tanya Chanyeol sambil menarik lembut dagunya, mempertemukan pandangan mereka.

"Hmm. Sedikit." bohong Baekhyun, bahkan kakinya sudah sangat lemas sekarang.

"Apa ini yang pertama bagimu?" tanya Chanyeol, tetap mengunci pandangannya pada iris Baekhyun.

Baekhyun menarik dagunya, mengangguk sambil menunduk. Chanyeol terkesiap sesaat, namun secepat kilat dia kembali menormalkan ekspresi wajahnya.

"Apa kau yakin akan melepas keperjakaanmu denganku, Sayang?" bisiknya pada telinga Baekhyun, yang hanya dibalas gumaman namja mungil itu.

"Kalau begitu, mari kita buat pengamalan pertama ini tak terlupakan bagimu, B." bisik Chanyeol dengan suara rendah penuh gairah.

Otak Baekhyun masih belum bisa mencerna ucapan Chanyeol saat tangan besar itu menarik tengkuknya dan mempertemukan bibir mereka. Chanyeol memulai dengan kecupan-kecupan kecil, menyesap bibir atas dan bawah Baekhyun bergantian. Ciuman itu berlanjut menjadi lumatan. Bibir Chanyeol seolah mengundang Baekhyun untuk saling membalas, namun Baekhyun masih mematung di posisinya. Decakan terdengar saat tautan bibir itu terlepas. Baekhyun berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya karena dia merasa sesak nafas.

"Apa ini juga ciuman pertamamu?" tanya Chanyeol tak percaya, tak sadar suaranya meninggi. Bagaimana bisa seorang di hadapannya ini menjadi member situs A Night Heaven tanpa memiliki satu pengalaman seks bahkan berciuman sekalipun. Dia bukannya merasa tidak puas ataupun marah. Namun gejolak rasa takjub dan rasa bersalah mengerat hatinya karena tega memanfaatkan kepolosan namja manis itu.

Baekyun hanya menundukkan kepalanya mulai terisak. Apa namja di hadapannya marah karena ia tidak bisa berciuman?

"Hei, hei. Tenanglah, B. Aku tidak marah. Maaf karena nada suaraku meninggi. Kau benar-benar yakin ingin melakukan ini?" Bujuk Chanyeol, tangan besar itu mengarahkan wajah Baekhyun untuk menatap wajahnya. Ibu jarinya mengelus lembut menghapus air mata Baekhyun yang mengalir di pipi. Baekhyun menutup kedua matanya, tak kuat menatap mata bulat itu lebih lama. Ia menganggukkan kepalanya pelan.

Chanyeol menuntun lengan ramping Baekhyun untuk melingkar di leher jenjangnya, ia mulai mengecup bibir tipis itu lagi. Memulai ciuman panjang dengan mengulum belahan semerah cerry itu dengan lembut. Lidahnya juga menelusup masuk, merasakan sensasi manis dari rongga Baekhyun. Baekhyun mencoba membalas sebisanya namun masih tak dapat mengimbangi perlakukan namja Park. Lengan kekar Chanyeol memenjara pinggang Baekhyun. Perlahan mengarahkan tubuh mereka jatuh ke arah ranjang.

~~~~~

Baekhyun sudah terbaring pasrah di bawah kungkungan tubuh besar Chanyeol. Tubuhnya telah polos tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi kulitnya putih susu. Jemari cekatan Chanyeol berhasil melucuti seluruh pakaiannya saat ciuman panjang mereka berlangsung. Baekhyun masih bernafas terbata-bata. Mata sipitnya terlihat sayu dengan bibirnya sedikit membengkak.

"Lihat dirimu, Sayang. Kau sangat mempesona." puji Chanyeol saat memandang tubuh polos Baekhyun. Kulit putihnya sangat halus seperti kulit bayi, dua puting merah muda Baekhyun menghiasi dada bidangnya. Dan mengarah ke bawah, tepat di tengah selangkangan itu ada kejantanan mungil yang sempurna layaknya sang pemilik dan lubang anal sempit berwarna merah muda terlihat berkerut mulai merasa terangsang. Gairah Chanyeol semakin melambung dan meletup-letup. Ia sadar jika miliknya mulai membesar dan ingin segera menikmati tubuh indah itu, namun ia masih ingat jika Baekhyun belum pernah melakukan ini. Jadi Chanyeol memilih untuk mempersiapkan Baekhyun lebih dulu.

Chanyeol kembali mengecup lembut seluruh permukaan wajah Baekhyun, mulai dari dahi, hidung mungil itu, dua kelopak mata, pipi hingga belahan tipisnya. Turun ke arah seluruh rahang dan leher Baekhyun. Chanyeol meninggalkan gigitan di sekitar tulang selangkanya, membuat Baekhyun meringis lirih. Lidah Chanyeol juga mulai bekerja saat kecupan itu turun ke dada Baekhyun. Bibir tebalnya meraup puting kiri Baekhyun, menjilat, mengulum dan mencecap bagian itu seakan menikmati permen.

"Aaah... Uuff..." Desah Baekhyun lolos. Ia mengernyit saat merasakan gelenyar aneh mulai menyelimutinya. Dia tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, Baekhyun masih sangat polos.

Lidah Chanyeol masih aktif bekerja ditambah dengan tangan kirinya memilin puting Baekhyun yang lain. Tubuh Baekhyun mulai menggeliat tak nyaman. Jemari lentiknya meremat surai Chanyeol tanpa sadar. Rasanya sangat aneh, namun nikmat yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Setelah puas bermain dengan dada Baekhyun, Chanyeol mengangkat kepala dan menatap wajah Baekhyun sesaat, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Baekhyun.

"Bagaimana rasanya, B?" tanya Chanyeol dengan suara berat penuh nafsu. Baekhyun hanya diam sambil menutup mata. Nafasnya masih terengah-engah. Dia tak tahu harus menjawab apa. Pikirannya terasa kosong bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan namja di atasnya.

"Kita harus mempersiapkan dirimu dulu, Sayang." ucap Chanyeol sambil menekuk kaki Baekhyun sampai ke dada. Melebarkan kakinya dan menempatkan diri di tengah selangkangan Baekhyun. Jemari panjangnya mengusap lembut lubang Baekhyun. Lengan panjangnya meraih sebotol pelumas yang sudah ia siapkan di nakas samping ranjang. Chanyeol lalu melumuri tiga jarinya dengan cairan itu hingga basah. Baekhyun hanya terdiam mengamati, gugup karena tak tahu apa yang akan dilakukan namja itu di bagian selatan tubuhnya. Jemari Chanyeol mulai mengusap permukaan manhole Baekhyun. Memasukkan telunjuknya ke lubang perawan itu. Masih sangat ketat, terasa mencengkeram jarinya dengan kuat.

"Mmmm. Pe-pelan-pelan." rintih Baekhyun. Chanyeol mulai menggerakkan jarinya, mengabsen tiap sisi lubang itu untuk menemukan titik kenikmatan Baekhyun. Saat ia merasa Baekhyun mulai rileks, jari tengah dan jari manisnya mulai masuk. Bergerak seolah gunting, membuka dan melebarkan agar miliknya dapat masuk tanpa membuat Baekhyun kesakitan.

Baekhyun hanya bisa merintih sambil menggigit punggung tangan merasakan pergerakan jari itu. Sesak, sedikit sakit namun seolah menggelitik perutnya.

"Jangan tahan dirimu, Sayang. Aku ingin mendengar suaramu." ucap Chanyeol sebelum kembali menautkan bibir mereka.

"Oooh... Paa-ark." erang Baekhyun keras saat ia merasakan jari Chanyeol mengenai titik sensitifnya. Baekhyun melengkungkan punggungnya ke atas seolah busur panah. Sensasi nikmat itu menjadi berlipat-lipat. Jari-jari Chanyeol bergerak makin liar merasakan Baekhyun akan klimaks. Lubang itu mengerut mencengkeram jarinya kuat. Hingga beberapa tusukan di titik itu, Baekhyun akhirnya klimaks. Nafasnya memburu dan rambutnya basah karena keringat. Begitu menggoda gairah Chanyeol.

"Aku sudah tak bisa menahannya lagi, Baby. Aku akan memasukimu." ucap Chanyeol dengan suara parau. Dia segera membuka jubah mandinya dengan cepat, lalu mengurut miliknya yang sudah amat tegang.

Baekhyun terperangah melihat milik Chanyeol. Mungkinkah miliknya yang besar itu bisa masuk ke lubangnya? Rasa takut mulai menjalar, namun amat terlambat jika ia mundur sekarang. Chanyeol membuka pahanya lagi, menempatkan miliknya tepat di depan lubang Baekhyun sambil berbisik. "Ini mungkin akan sedikit sakit, B. Bertahanlah sebentar." Chanyeol meraih lengan Baekhyun dan melingkarkannya di lehernya. Lengan kanannya meraih tubuh Baekhyun dalam pelukan.

"Aaaarhh. Uugh" Baekhyun menjerit saat kepala milik Chanyeol mulai masuk perlahan menembus lubangnya. Sakit sekali! Dia berusaha mendorong Chanyeol untuk menghentikan gerakannya.

"Hen-hentikan. I-ini sakit" teriak Baekyun. Namun Chanyeol seolah tak peduli, ia malah mempercepat gerakan dan menghentak pinggulnya keras hingga miliknya benar-benar masuk seluruhnya. Dia menggeram rendah saat merasakan lubang itu menjepit miliknya, hangat dan sangat sempit.

"Ssaa-kkit. Sa-sakit sekali. Ku mohon keluarkan, Park. A-aku rasa aku tak bisa melanjutkannya." Baekhyun menangis tersedu-sedu dengan mata terpejam. Ia meronta-ronta di pelukan namja itu. Mencoba melepaskan tautan di bagian bawah tubuh mereka.

Jemari Chanyeol mengusap air mata yang kembali mengalir di pipi halus itu, mencoba menenangkan tangis Baekhyun. "Tenanglah, Sayang. Sakitnya akan hilang." bisiknya tepat di telinga Baekhyun.

"Ti-tidak. I-ni sa-kit sekali. Hiks." Baekhyun masih keras kepala. Ia masih tersedu dengan kepalanya menggeleng-geleng cepat. Tubuhnya terasa terbelah menjadi dua. Ia juga merasakan ada cairan mengalir dari lubangnya. Baekhyun yakin itu darah, karena lubangnya harus melebar secara paksa.

Chanyeol kembali membawa Baekhyun ke dalam ciuman, mencoba mengalihkan rasa sakit Baekhyun. Ia juga meraih milik Baekhyun yang sudah lemas. Mengurutnya perlahan. Saat Baekhyun mulai rileks, ia menggerakkan pinggulnya perlahan. Pelan dengan kecepatan konstan, karena Baekhyun masih begitu sempit. Berusaha secepat mungkin menemukan titik kenikmatan Baekhyun.

"Aaaah... Aaah." Baekhyun tak bisa menahan desahannya lagi. Mulut Chanyeol kembali mengerjai putingnya yang menegang. Reflek, ia meremat helai legam Chanyeol kuat. Tangan Chanyeol juga tak berhenti memijat miliknya. Dan hentakan-hentakan keras di bawah sana menyerang tepat di titik sensitifnya. Pergerakan Chanyeol di tiga titik kenikmatan sungguh membuatnya lupa diri. Melayang merasa menyentuh langit. Tubuhnya bergetar. Perutnya seakan mengerat dan tergelitik hingga cairan putih itu keluar membasahi perutnya. Baekhyun sampai untuk kedua kalinya. Dadanya naik turun memasok oksigen.

Pergerakan Chanyeol makin menggila. Maju mundur dengan kecepatan tinggi, ia meraih pinggul Baekhyun. Menggerakkan tubuh mungil itu agar bergerak seirama dengannya. Miliknya dijepit kuat oleh dinding lubang Baekhyun. Desahan dan rintihan Baekhyun semakin membakar gairahnya. Merasakan miliknya makin membesar di dalam sana, berkedut tanda ia akan sampai. Chanyeol mengerang, meredam suaranya di bahu Baekhyun saat ia sampai. Benih-benih miliknya mengalir deras masuk ke dalam tubuh Baekhyun. Ini luar biasa. Benar-benar nikmat.

Chanyeol menjatuhkan tubuhnya di atas Baekhyun. Berdua masih mengatur nafas tak beraturan. Mengistirahatkan kerja jantung mereka yang berdetak terlalu cepat. Tubuh dan surai mereka basah penuh peluh.

Chanyeol bangkit dengan bertumpu kedua lengannya. Mencoba mengamati wajah Baekhyun yang memerah. Mengecup bibir tipis itu dan berbisik tepat di depan bibirnya, "Kau menikmatinya, B?"

Baekhyun membuka matanya sayu, menatap namja tampan itu yang terlihat semakin gagah. Rambut kelamnya yang basah dan berantakan, garis rahang yang sempurna, hidung mancung, dan bibir tebal kissable. Jangan lupakan tatapan tajam dengan peluh yang mengalir di pelipisnya. Aura dominan itu membuat Baekhyun tak sanggup menatapnya lebih lama. Ia menutup matanya dan mengangguk pelan. Chanyeol mengecup kening Baekhyun penuh kelembutan, menghujani wajah manis itu dengan kecupannya hingga mengarah ke telinga Baekhyun. "Aku masih menginginkannya lagi, Sayang." bisiknya halus membuat Baekhyun melebarkan matanya. Chanyeol kembali menggerakkan miliknya, menjemput Surga mereka berdua.

~~~~~

Decitan ranjang masih terdengar gaduh meski waktu sudsudah lewat dini hari. Suara hentakan tabrakan tubuh itu masih tak berhenti.

"Uuh.. Aaah. Hah. Hah." Baekhyun mendesah saat miliknya mengalirkan cairan putih itu lagi. Tak terhitung sudah berapa kali ia sampai. Berbagai macam posisi sudah ia lakukan dengan namja tinggi itu hingga kembali ke posisi awal. Badannya sudah teramat lelah dan kantuk mulai menyerangnya, namun hentakan cepat namja di atasnya masih terus berjalan. Chanyeol masih mengejar klimaksnya yang ketiga. Beberapa hentakan keras dengan jeda, ia mengerang. Miliknya memuntahkan benihnya yang sangat banyak ke dalam perut Baekhyun. Yang tidak tertampung, mulai mengalir membasahi sprei ranjang. Perlahan ia melepaskan tautannya diiringi keluh kecil Baekhyun. Membaringkan tubuhnya di samping namja kecil itu. Ia meraih selimut yang tergeletak di sisi ranjang, menutupi tubuh polos mereka yang penuh keringat.

Chanyeol meraih Baekhyun ke dalam pelukannya. Membalik tubuh Baekhyun menghadap padanya. Ia mengamati raut wajah mungil itu, membuat kontak mata.

"Kau lelah, B?" dan hanya dijawab dengan anggukan kecil. Chanyeol mengeratkan pelukannya, membungkus tubuh namja manis itu penuh sayang. Jemarinya mengusak lembut rambut basah Baekhyun, mengecup kening halus itu lama dan berbisik, "Jaljayo, B". Dengan bisikan itu, Baekhyun terlelap dan pergi ke alam mimpi.

~~~~~

Baekhyun mengerjapkan matanya saat sinar matahari membuat kamar hotel itu terang benderang. Mengerang saat merasakan tubuhnya remuk dan lubang miliknya sangat sakit. Kulitnya yang putih bersih kini penuh bercak merah akibat gigitan Park Chanyeol. Ia bangkit dari posisi berbaring dengan bantuan kedua lengannya dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Mata sipitnya bergulir ke arah samping tubuhnya, mencari eksistensi sang namja tampan yang menghabiskan malam dengannya. Namun tempat itu kosong, seolah tak ada seorangpun sejak semalam. Ia melarikan pandangannya ke semua sudut kamar hotel. Semuanya amat bersih dan rapi. Bahkan baju yang ia pakaipun sudah tak ada lagi. Sepi tanpa penghuni. Pandangannya berhenti di nakas samping ranjang. Ada sebuah amplop coklat dan sebuah kantong berlabel pakaian mewah tergeletak disana. Tangan Baekhyun meraih amplop itu, dengan segera membuka dan mengeluarkan isinya. Selembar cek bernominal seratus juta won dan secarik kertas dengan tulisan tangan.

Terima kasih atas semalam, B. Kau sangat luar biasa. Aku sangat menikmatinya. :)

Sesuatu seakan menghentak memukul Baekhyun tepat di jantungnya, membuatnya kehilangan nafas. Baekhyun meraba kertas itu lagi bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras. Ia masih tak bisa bernafas, paru-parunya seakan mengerut tak bisa bekerja semestinya. Salahkah Baekhyun jika ia merasa seperti jalang yang hanya dimanfaatkan untuk melepaskan nafsu satu malam? Lalu apa maksudnya perlakuan manis semalam? Dia masih bisa merasakan kecupan-kecupan lembut itu, bisikan sayang dan sentuhan penuh kehati-hatian dari namja itu. Ataukah Baekhyun yang terlalu polos? Menganggap itu suatu perlakukan istimewa? Mungkin saja namja itu sudah terbiasa melakukannya pada orang lain. Mungkin saja dia hanya mencari korban baru untuk melepas gairahnya? Baekhyun semakin tersedu. Ia memukul-mukul dadanya yang teramat sakit. Terlalu terlambat untuk menyesal. Ia meremat kertas itu dan melemparkannya jauh-jauh.

Apa yang kau harapkan, Byun Baekhyun? Dia hanya memakaimu untuk menuntaskan nafsunya. Dan kau sudah setuju dengan tawarannya.

TBC

Yosh! Saya kembali. Maaf ya lama.. Galau bikin naena yang eksplisit atau ga. Akhirnya jadinya gitu. Eottae? Fail ya? Ngga nge-feel? Pendek lagi! *tutup muka.

Mumpung maljum nih. Selamat membaca, jangan lupa riviewnya. Saya kepingin tahu reaksi kalian baca cerita saya.

Oh iya, buat tamu Ryu (saya ga tau harus panggil mas/mbak), minta tolong kalo riview yang panjang dikit. hehehe. Biar saya tau maksud komentar Anda gimana.

Terakhir, ga bosan bilang makasih udah follow, favorite, dan riviewnya. Sampai jumpa next chap ya~~