-Dareka ni Tsuite-

Disclaimer by Masashi Kishimoto

Fanfic by Sapphire Harukichi

Rated : T+

Genre : Romence, Humor, Angst

Pair : Hyuuga Neji, Haruno Sakura

-oOo-

Makan malam di rumah Neji dan Sakura kali ini agak sedikit ramai. Pasalnya kali ini mereka berdua makan malam bersama Tenten, dan Ino. Sedari tadi Ino selalu saja mengoceh tak jelas. Ada saja yang dibicarakannya. Membuat Sakura jengah.

"Hei, sebentar lagi kan Valentine, bantu aku membuat cokelat untuk Sai-kun ya?" harap Ino sambil menatap Sakura.

Sakura ikut menatap Ino. "Kau? Ingin membuat cokelat? Yang benar saja! Bisa-bisa nanti Sai-san sakit perut," Sakura meremehkan.

"Apa kau bilang? Daripada kau! Mengiris cabai saja tak bisa!" balas Ino.

"Oi! Itu kan karena aku tergesa-gesa. Bukan karena tak bisa!" bantah Sakura.

Ino hanya menjulurkan lidahnya. Sakura mendengus. Neji hanya diam dan makan dengan tenang. Sedangkan Tenten tertawa kecil melihat Ino dan Sakura.

"Eh, tapi benar juga ya! Sebentar lagi Valentine. Ah.. aku sudah tak sabar memakan cokelat sebanyak-banyaknya!" seru Sakura semangat.

"Huh? Memangnya siapa yang ingin memberimu cokelat? Aku saja tak sudi, apalagi lelaki," celetuk Ino disertai cemberut oleh Sakura.

Ino tertawa terbahak-bahak. Sakura mendengus kesal, lalu ia kembali memakan makan malamnya dengan kesal. Meskipun ia dengan berat hati mengakui perkataan Ino. Siapa juga lelaki yang akan memberinya cokelat? Sahabatnya sendiri saja sudah tak sudi memberinya cokelat. Sakura terus saja bergelayut dengan pikirannya.

Saat itu pula Ino bangkit dari kursinya. "Sakura, aku pinjam teleponmu sebentar, ya? Aku ingin menelepon Sai-kun. Menjemputku di sini. Sudah malam," kata Ino berdiri di samping Sakura meminta izin.

"Baiklah," Sakura mengizinkan.

Ino tersenyum senang. Ia beranjak menuju ruang tengah untuk menelepon Sai dengan telepon rumah Sakura. Sedangkan Sakura terdiam. Entah mengapa ia sedikit risih dengan keadaan seperti ini. Bertiga dengan Neji dan Tenten tanpa Ino, sedikit canggung. Ia menunduk sambil melahap makan malamnya.

"Neji-kun, kau ingin tambah?" tanya Tenten pada Neji yang makan malamnya sudah habis.

"Tidak. Aku sudah kenyang," jawab Neji.

"Ayolah, aku memasak sushi ini khusus untukmu," bujuk Tenten sambil mengambil sepotong sushi dengan sumpitnya, lalu mengarahkan potongan sushi pada mulut Neji.

"Aku sudah kenyang," elak Neji lembut.

"Hanya satu suapan," bujuk Tenten lagi dengan menempelkan potongan sushi pada bibir depan Neji. Mau tak mau Neji membuka mulutnya dan melahapnya.

Tenten tersenyum lebar. "Bagaimana? Enak?" tanya Tenten antusias.

"Uhuk-uhuk!" Neji terbatuk-batuk. Tenten dengan cepat menyodorkan segelas air putih pada Neji. Dengan cepat Neji meneguknya. Ia menghela nafas lega.

"Tidak enak ya?" raut kecewa tertera di wajah cantik Tenten.

"Bukan-bukan! Sushi buatanmu sangat enak. Hanya saja tadi aku makan terlalu buru-buru," jelas Neji.

"Benarkah?" senyum merekah di wajah Tenten. Neji tersenyum sangat tipis membalas senyum Tenten.

Sakura semakin menunduk dalam. Dadanya terasa sesak. Rasanya ia seperti patung hiasan yang tak berharga saat ini. Ia mengunyah makan malamnya agak lama. Nafsu makannya hilang seketika. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dengan cepat ia mendongakkan kepalanya dan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahnya. Berusaha mencegah air matanya yang hendak turun.

"Kau kenapa, Sakura?" tanya Tenten yang heran melihat tingkah laku Sakura.

Sakura tersentak. Ia menegakkan tubuhnya. "T..tidak apa-apa. Hanya kepanasan," bohong Sakura sambil tersenyum kecut. Neji menatap Sakura dengan datar.

"Benar juga ya? Hawanya panas sekali," Tenten mengibas-ibaskan tangannya.

"Oh ya! Neji-kun, sebentar lagi kan valentine, temani aku membeli cokelat ya?" ucap Tenten.

"Untuk apa?" tanya Neji dingin.

"Untuk seseorang," jawab Tenten.

Entah mengapa raut wajah Neji tampak sedikit murung. Raut wajahnya sedikit penasaran pada Tenten. Sedangkan Sakura kembali menunduk dalam. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Ino mengintip dari balik tembok. Ia menatap Sakura iba.

Sakura.. batin Ino.

Kemudian ia keluar dari balik persembunyiannya. Ia kembali menghampiri Sakura, Neji juga Tenten. Ia duduk di kursi semula. Sakura mendongakkan kepalanya. Tersenyum lebar saat mendapati Ino kembali duduk di sampingnya. Ia tidak betah terus-terusan seperti ini. Entah mengapa dadanya begitu sesak.

"Wah, sedang bicara apa kalian? Sepertinya seru," Ino mencoba mencairkan suasana.

"Tidak. Hanya berbicara tentang valentine," jawab Tenten.

"Oh. Eh iya, Naruto akan mengadakan pesta pernikahannya dengan Hinata minggu depan. Kalian datang tidak?" tanya Ino semangat.

"Tentu saja aku datang! Neji-kun juga datang," jawab Tenten ikut semangat.

"Siapa bilang aku datang? Tidak," sela Neji.

"Ah kau harus datang! Aku tidak mau tahu," paksa Tenten manja.

"Aku kurang begitu suka dengan pesta," kata Neji dingin.

"Huh! Kau menyebalkan!" dengus Tenten.

"Ah, bagaimana denganmu Sakura?" tanya Ino mengalihkan perhatian.

"Huh? Aku tidak tahu," jawab Sakura.

"Lihat saja nanti.." lanjutnya.

-oOo-

One week later..

"S..Sakura-chan," panggil Hinata.

Sakura menatap Hinata. Ia menaikkan kacamatanya yang turun. "Ya?"

"K-kau sedang sibuk ya?" tanya Hinata.

"Ah, tidak. Aku hanya membaca berkas-berkas dari Tsunade-sama," jawab Sakura tersenyum simpul.

Hinata juga ikut tersenyum. "N-nanti k-kau datang kan?"

"Entahlah. Neji-san tidak datang,"

"Kau saja juga tak apa," sorot mata Hinata terlihat memohon. Mau tidak mau Sakura mengangguk. Hinata tersenyum lebar.

"Baiklah, aku datang," Sakura tersenyum. Ia menaikkan kacamatanya.

"Oh ya? Ngomong-ngomong sejak kapan kau memakai kacamata?" tanya Hinata.

"Baru tiga hari yang lalu," jawab Sakura yang kini beralih dengan berkas-berkasnya.

"Memangnya matamu minus?"

"Ah, tidak. Hahaha. Aku hanya ingin pakai saja," Sakura menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal. Ia menaikkan kacamatanya yang sedikit kendur.

"Hahaha. Bagaimana hubunganmu dengan Neji-nii-san?" tanya Hinata yang kini sudah duduk di hadapan Sakura.

Sakura terdiam. Ia menatap berkas-berkas yang di pegangnya dengan terpaku. Topik tentang Neji kali ini membuat Sakura tak bicara sepatah kata pun. Mengingat Neji yang akhir-akhir ini selalu menghabiskan waktunya untuk Tenten. Yeah, walaupun Tenten sudah kembali ke apartemennya, tetap saja Neji selalu pergi menemui Tenten dan pulang malam.

Entah mengapa ia merasa agak.. kesepian. Hei, bagaimana tidak merasa kesepian? Sejak kecil Sakura sudah sendiri. Orang tua-nya sudah pergi menghadap Tuhan. Ia tinggal bersama Bibi dan Pamannya. Walau begitu Bibi dan Pamannya adalah orang sibuk. Selalu berangkat pagi dan pulang malam. Waktu untuknya hanya tersita saat hari libur. Meski kasih sayang yang di berikan untuk Sakura melimpah, namun tetap saja Sakura merasa kesepian.

Saat ia menikah dengan Neji, ia kesal namun cukup senang. Setidaknya ia mendapat teman di rumah. Tidak sendiri. Namun dugaannya salah. Neji tak seperti yang ia pikirkan. Neji selalu berpergian. Neji memang bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan Internasional di desa Konohagakure. Terkadang ia sibuk, terkadang juga ia santai. Namun waktu luang yang Neji pakai, bukan untuk menemani Sakura di rumah. Melainkan di pakai untuk Tenten.

"S-Sakura-chan?" suara Hinata membuyarkan lamunan Sakura. Dengan cepat Sakura tersadar dan menatap Hinata.

"Ya?"

"Kau melamun," kata Hinata menatap Sakura dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Eh? T..tidak kok. Hehehe," elak Sakura tertawa hambar.

"Lalu? Bagaimana hubunganmu dengan Neji-nii-san?" tanya Hinata lagi.

"Baik-baik saja," Sakura memaksakan senyum simpul.

Sepertinya.. batin Sakura.

-oOo-

Di rumah Naruto kali ini sangat ramai. Malam ini hari anniversary-nya dengan Hinata yang ke-1 tahun. Naruto tampak gagah dengan kemeja putih di balut dengan jas hitam. Dengan celana senada dengan jas yang di pakainya. Sedangkan Hinata tampak anggun dengan gaun hitam selutut yang di rancang khusus untuk Hinata. Gaun tersebut sesuai dengan kondisi Hinata yang sedang mengandung buah hatinya. Semua yang datang pada pesta tersebut mengucapkan selamat pada Natuto dan Hinata.

"Wah, kandunganmu sudah berapa bulan, Hinata-chan?" tanya Kurenai-sama yang sedang mengobrol ria dengan Hinata.

"B-baru lima bulan," jawab Hinata seraya mengelus-elus perutnya yang sedikit buncit.

Naruto menghampiri Kakashi yang tengah memakan kue-kue kecil. Sepertinya mereka sedang berbicara serius. Entah apa yang mereka bicarakan.

"Hei, pig! Tunggu aku!" Sakura yang baru datang, sibuk dengan pakaiannya yang terasa gatal.

Benar-benar jelmaan dewi Yunani, malam ini Sakura sangat cantik dengan gaun biru peach selutut yang di pakainya. Dengan bagian atas yang hanya menutupi sampai dadanya. Membiarkan bahu putihnya terlihat. Ia juga memakai kalung mutiara pemberian Nenek Neji. Di padukan dengan high heels berwarna hitam. Rambutnya ia biarkan tergerai. Walupun kedua matanya di tutupi oleh kacamata, tetap saja tak dapat menyembunyikan kecantikan wajah Sakura yang hanya di poles make-up natural tak berlebihan.

"Aku tahu kau ini kura-kura lamban dan bodoh, tapi tidak usah selama itu berjalan! Ayo cepat!" sindir Ino yang kembali berjalan mendahuluinya.

Sakura hanya bisa pasrah. Terbesit sedikit iri di dadanya saat melihat keadaan sekitar. Hampir semua yang datang membawa sang kekasih. Sakura juga bingung. Sejak ia pulang dari rumah sakit tadi, Neji sama sekali tak terlihat di rumah. Bahkan sampai sekarang, Sakura tak tahu Neji di mana. Ia mendengus kesal saat Ino dan Sai meninggalkannya menuju Hinata dan Naruto.

"Dasar menyebalkan!" gerutu Sakura.

Bruk!

"Ah, gomenne-gomenne! Aku tidak sengaja. Salahkan sepatu tinggi ini yang menabrakmu," ucap Sakura sembari membungkukkan tubuh berkali-kali.

Bukannya membalas ucapan maaf-nya, orang yang di tabraknya hanya cekikikan. Membuat Sakura mendongakkan kepalanya dan menatap sang empu yang di tabraknya. Ia kembali berdiri tegak saat tahu siapa orang yang sudah di tabraknya. Ia mendengus.

"Apa cengengesan?" dengus Sakura.

"Kau lucu," Kiba tertawa kecil.

"Memangnya aku badut!" mendengar balasan Sakura, Kiba semakin tertawa keras.

"Ung, mana Neji-san?" tanya Kiba heran yang melihat Sakura hanya datang sendiri.

Wajah yang tadinya terlihat kesal, mendadak muram. "Aku tidak tahu," jawab Sakura menunduk.

"Tidak tahu bagaimana?"

"Sejak pulang dari rumah sakit tadi, ia belum pulang. Bahkan aku tidak tahu ia di mana sekarang," jelas Sakura.

Kiba yang melihat perubahan raut wajah Sakura, mengangguk mengerti. Ia tersenyum simpul dan mengacak-acak rambut Sakura. Membuat Sakura menepis tangan Kiba dan merapikan rambut merah muda-nya.

"Hei, kau tahu? Harus ku akui, kau sangat cantik malam ini," kata Kiba yang sukses membuat wajah Sakura memerah.

"Yeah, hanya malam ini saja," lanjut Kiba cekikikan. Sakura cemberut.

"Ah, kau menyebalkan!" Sakura berjalan melalui Kiba dan berjalan mengahampiri Hinata dan Naruto yang kelihatannya sedang mengobrol dengan Ino dan Sai.

"Sepertinya asik sekali," cibir Sakura saat melihat Hinata, Naruto, Ino dan Sai sedang mengobrol ria.

"Kemana saja kau?" tanya Ino.

"Aku? Memangnya aku kemana?" bingung Sakura.

Ino memutar kedua bola matanya kesal. Anak ini benar-benar lamban. Sedangkan Sai hanya mengulum bibirnya bosan. Hinata dan Naruto cekikikan tak jelas.

"Dasar kura-kura bodoh!" ketus Ino.

Sakura mengerucutkan bibirnya kesal. Ia lebih memilih mengobrol dengan Hinata dan Naruto. Sedangkan Ino dan Sai sedang bermesra-mesraan ria. Di saat sedang seperti ini, tiba-tiba saja para undangan mengerubungi sesuatu. Mau tak mau Sakura, Ino, Hinata, Naruto, dan Sai menghampiri kerumunan. Berusaha melihat apa yang terjadi.

Sakura dan Ino berusaha masuk melalui celah-celah kerumunan orang, berusaha agar dapat melihat paling depan. Sakura terpaku saat melihat adegan di tengah-tengah kerumunan orang. Begitu pula dengan Ino. Kedua matanya membulat terkejut.

"Memangnya kau ini siapa? Ini hak-ku untuk pergi dengan siapa saja. Kau kan bukan siapa-siapa bagi diriku, Kiba-san," sinis Tenten.

"Tapi.. aku.. masih mencintaimu," ungkap Kiba yang sukses membuat seluruh undangan terkejut akan pengakuan Kiba. Begitu pula dengan Tenten. Ia terdiam. Namun, ia kembali berdeham kecil dan semakin mendekatkan diri pada Neji. Neji hanya terdiam dengan wajah datar dan dingin.

"Aku tidak perduli. Aku sudah menyukai pria lain," balas Tenten tak kalah sinis.

"Siapa? Neji?" seru Kiba menahan amarah.

Tenten menelan ludah dalam. Hatinya sudah terlanjur benci pada Kiba. Ia membalikkan tubuh Neji agar menghadap pada wajahnya. Lalu ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Neji dan mendekatkan wajahnya pada wajah Neji. Tanpa aba-aba, bibir lembut Tenten menyentuh bibir basah milik Neji. Yang sukses membuat Neji melotot kaget. Dan juga membuat para undangan memekik keras. Terutama Sakura. Ia menganga dengan telapak tangannya menutupi mulutnya yang menganga lebar. Saat Tenten melepaskan ciumannya, Neji masih terpaku. Ia menatap sekeliling dengan kaku. Kedua matanya membulat saat ia melihat sosok perempuan berambut merah muda. Sakura..

-oOo-

"Minum?" sebuah tangan terulur di depan wajah Sakura dengan sebuah gelas berisi minuman.

Sakura yang tengah melamun, mendongakkan kepalanya. Kedua bola matanya mendapati sosok pria tampan dengan tegap berdiri di hadapannya. Dengan cepat Sakura bangkit dari kursinya dan membungkukkan tubuhnya pada pria di hadapannya. Ia menaikkan kacamatanya yang turun.

"Tidak usah se-formal itu Sakura," Shino tersenyum geli saat mendapati Sakura membungkukkan tubuh padanya.

Sakura tersenyum malu, ia menggaruk pipi kanannya. "Kau itu kan bos-ku, Shino-sama," kata Sakura.

"Ini bukan rumah sakit Sakura. Cukup panggil aku Shino saja," Ino duduk di kursi sebelah Sakura. Sakura mengulum bibirnya dan duduk kembali di kursinya.

"Baiklah, Shino-san," Sakura tersenyum.

Shino ikut tersenyum. Ia sodorkan lagi gelas yang di pegangnya pada Sakura. Dengan gugup Sakura menerima gelas berisi minuman tersebut dari tangan Shino.

"Kau baik-baik saja?" tanya Shino cemas.

"Huh? Memangnya aku kenapa?" bingung Sakura.

Shino tertawa kecil. Ia mengacak-acak rambut Sakura gemas. Membuat Sakura mengerucutkan bibirnya kesal. Ia rapikan kembali rambutnya. Tawa Shino semakin keras melihat tingkah laku Sakura.

"Benar kata Ino. Kau ini seperti kura-kura. Lamban," celetuk Shino.

"Kau sama saja seperti Ino!" dengus Sakura.

Shino bangkit dan mengulurkan tangan kanannya pada Sakura. Yang membuat Sakura kembali bingung.

"Mau berdansa?" tawar Shino.

Deg!

Jantung Sakura berpacu cepat. Dengan wajah bersemu merah, ia balas uluran tangan Shino. Shino menuntunnya menuju kerumunan para undangan yang sedang berdansa. Tanpa gugup, Shino melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sakura. Dengan gugup, Sakura meletakkan kedua tangannya pada dada bidang Shino.

"Tapi aku tak bisa berdansa," aku Sakura.

Shino tersenyum simpul. "Tenang saja. Akan ku ajari. Ikuti gerak langkah kaki ku," Shino mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan lagu. Sakura menunduk ke bawah. Memperhatikan kakinya agar tidak menginjak kaki Shino. Sesekali mengikuti gerak langkah kaki Shino.

-oOo-

Keduanya terdiam. Tak ada yang bicara sepatah kata pun. Neji lebih memilih untuk focus menyetir. Sedangkan Tenten terdiam. Sesekali ia melirik Neji yang tengah menyetir. Ia gigit bibir bawahnya.

"Neji-kun?"

Neji terdiam. Ia menatap lurus pada arah jalanan di depannya. Tenten menarik nafas pelan.

"Gomenne," kata Tenten sambil melirik ke arah jendela di samping tempat duduknya. Melihat pemandangan yang di lewati oleh kedua matanya.

"Hn," balas Neji singkat dan dingin.

-oOo-

"Seharusnya kau tak perlu repot-repot mengantarku Shino-san," Sakura membungkukkan tubuhnya.

Shino tersenyum lembut. Ia angkat tangan kirinya menuju puncak kepala Sakura. Mengacak-acaknya dengan lembut. Sakura kembali mengerucutkan bibirnya kesal. Shino tertawa. Entah mengapa ini menjadi hal favoritnya.

"Sudah malam. Lebih baik kau masuk," saran Ino.

Sakura mengangguk. "Arigatou, Shino-san," Sakura tersenyum.

Shino membalas senyuman tersebut. Lalu ia berbalik badan dan masuk ke dalam mobilnya. Setelah mobil Shino berlalu pergi, Sakura berbalik badan dengan senyum terus terkembang di bibirnya. Namun senyum tersebut pudar saat melihat Neji yang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan di lipat di depan dada.

Sakura mengulum bibirnya, lalu ia menghela nafas pelan. Ia lanjutkan langkahnya hingga berdiri di hadapan Neji. Ia dongakkan kepalanya menatap kedua bola mata pearl milik Neji.

"Kenapa kau berdiri di ambang pintu seperti ini?" tanya Sakura.

Neji tak menjawab. Ia lebih memilih menatap wajah Sakura intens. Tatapannya tajam. Seakan-akan ingin menerkam Sakura saat ini juga. Sakura menelan ludahnya dalam. Entah mengapa ia jadi agak takut. Sakura menunduk dalam.

"Gomenne," suara baritone berat dan dingin memukul gendang telinga Sakura. Dengan cepat Sakura kembali mendongak menatap wajah Neji bingung.

Entah hanya cahaya bulan atau apa, raut wajah Neji terlihat gusar. Sakura menepis tanggapan aneh yang di pikirkannya. Mana mungkin Neji gusar.

"Untuk apa?"

"Ung, kejadian tadi,"

"Oh. Tidak apa-apa. L-lagi pula, untuk apa kau meminta maaf padaku?" Sakura menggaruk pipi kanannya.

Neji tak bersuara. Ia mengulurkan tangannya, berusaha menggenggam tangan Sakura. Sontak membuat Sakura terkejut. Neji menuntunnya masuk ke dalam rumah. Sakura hanya diam. Ia menunduk. Namun sebuah senyuman terukir di wajah Sakura.

Tangannya besar dan hangat.. batin Sakura sambil melihat tangannya dan tangan Neji yang bertaut.

Neji melepas genggamannya dari tangan Sakura. Ia duduk di kursi makan. Sakura duduk di hadapannya. Namun ia kembali bangkit dan membuka kulkas. Mengambil dua minuman kaleng dari dalam sana. Dan menaruhnya di meja. Ia kembali duduk.

Keduanya terdiam. Hening. Sakura mengambil sebotol minuman kaleng dan meneguknya. Ia lebih memilih memain-mainkan botol minuman kaleng tersebut.

"Sakura.."

"Ya?"

"Kau.. tidak marah kan?" tanya Neji ragu. Tak biasanya.

"Marah kenapa?"

"Umm, ciuman tadi," Neji menatap Sakura dalam.

"Ah, untuk apa aku marah. Itu hak-mu. Lagi pula, sepertinya Tenten mempunyai alasan melakukan itu," kata Sakura sembari tersenyum kecut.

"Syukurlah.." Neji menghela nafas lega.

Sakura menautkan kedua alisnya. "Kenapa?"

"Ku kira kau akan bilang pada Otoo-san dan Sobo- kau tidak marah," jelas Neji datar.

Sakura terpaku. Jadi, hanya takut aku bilang pada Otoo-san, dan Sobo-san? Bukan karena takut aku marah? Benar-benar.. Sakura menahan geram.

Brak!

Sakura menggebrak meja. Neji tersentak dan menatap Sakura tajam. Seakan ingin menerkam Sakura. Sakura menatap Neji sengit.

"Jadi, kau minta maaf hanya karena kau takut aku mengadu pada Otoo-san dan Sobo-san?" sinis Sakura.

"Memangnya apa lagi?" balas Neji tak kalah sinis.

"Tch! Menyebalkan. Harusnya kau minta maaf karena kau takut aku benar-benar marah! Bukan karena aku akan mengadu pada Otoo-san dan Sobo-san!" sengit Sakura.

"Untuk apa? Memangnya kau itu siapa?" ucap Neji dingin.

Sakura menganga sebentar. Ia menggigit bibir bawahnya kesal. Ia menghembuskan nafas kasar. Pria ini benar-benar menyebalkan. Sakura menatap Neji dengan penuh kebencian. Semudah inikah pria ini bicara dia itu siapa? Lantas, ikatan dan janji pernikahan selama ini untuk apa?

"Apa kau bilang? Aku ini siapa? Hah! Tch! Ugh.." Sakura benar-benar kesal sekarang.

"Aku ini istrimu! Seenak jidat saja kau bilang aku ini siapa?"

"Apa? Istri? Haha," Neji tertawa sinis.

"Ini bukan saatnya tertawa Neji-sama," Sakura melipat kedua tangannya di depan dada. Neji balik menatapnya datar, saat Sakura memanggilnya dengan panggilan formal.

"Kau pikir aku menyukaimu? Untuk apa aku minta maaf padamu hanya karena aku takut kau marah? Kau ini memang istriku, tetapi bukan berarti aku mencintaimu," kuak Neji. Dengan cepat Neji terdiam. Ia terkejut dengan apa yang di katakannya. Sumpah ini bukan sama sekali kemauannya. Ia tatap Sakura dengan gelisah.

Sakura terdiam. Ia menunduk. Mau tak mau ia harus mengakui perkataan Neji. Memangnya ia siapa? Hanya istri dari seorang Hyuuga Neji karena perjodohan. Hanya itu saja. Tidak lebih. Bodoh. Mana mungkin seorang Hyuuga Neji mencintainya. Untuk apa juga ia marah hanya karena Neji meminta maaf bukan tulus dari hatinya? Entah mengapa kedua mata Sakura memanas. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Namun ia tahan. Memalukan sekali jika ia menangis di depan Neji hanya karena masalah sepele. Tapi.. bolehkah ia bertanggapan bahwa ucapan Neji sangat menyakitkan?

"Kau tahu? Kau adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah ku temui! Bajingan!" seru Sakura yang tangisannya mulai tumpah. Ia berbalik badan meninggalkan Neji yang terpaku.

Sakura berlari menuju kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Ia berdiri di balik dinding kamarnya. Menangis sesunggukan. Lama-kelamaan, tubuhnya menyusut dan terduduk di lantai. Ia bekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Berusaha agar tangisannya tidak terdengar sampai keluar.

"Dasar Neji baka!" rutuk Sakura.

"Aku tahu kau tidak mencintaiku.. tapi.. bagaimana jika.. aku.."

"Mencintaimu?"

-oOo-

End of Chapter 4