PART THREE
(ROBBIE)
KRIIIIINGGGG!
Jam beker berbentuk kodokku berdering tujuh kali. Aku bergegas bangkit untuk memeriksa jarumnya menunjukkan waktu yang tepat dan langsung kaget. Sudah pukul delapan lebih lima menit! Artinya tentu saja terlambat sekolah tak bisa dihindarkan lagi. Aku buru-buru menyambar handuk lalu mengguyur kepalaku dengan air dingin dari kamar mandi. Rupanya semalam aku keasyikan membaca komik Dr. Strange sampai pukul satu dini hari. Setelah berpakaian, aku menuruni tangga untuk menemui Jon di dapur.
"Halo!" sapa Jon sambil menyesap kopinya. Tangannya memegang koran dengan headline berjudul TUJUH PERAMPOK BANK BERHASIL LOLOS DARI POLISI LONDON di depan wajahnya. "Kau yakin sudah menyetel alarm dengan benar?"
"Sudah," jawabku. "Aku kesiangan lagi."
"Aku tidak terkejut," kata Jon sambil melanjutkan membaca. "Tuh, makan rotimu. Aku yakin sudah dingin sekarang."
"Biar, deh," kataku. "Ini hari keduaku di sekolah dan aku tak mau mengulang kesalahan yang sama. Yah, doakan saja aku tidak melihat muka cowok cantik itu, Jon."
"Oh, kau pasti masih jengkel pada teman barumu, ya?" kata Jon, mengerutkan dahi.
"Dia hanyalah pengganggu yang menyebalkan," kataku. "Dan sekarang seluruh sekolah tahu bahwa aku membencinya. Mereka akan membunuhku cepat atau lambat karena menodai beloved Callan McFadden mereka."
Jon terkekeh-kekeh. "Jadi, semuanya karena perhatian mereka tertuju ke Callan, bukan kepadamu?"
"Yah, sebetulnya…" aku berhenti. Memang yang dikatakan Jon ada benarnya, tapi aku masih tidak yakin bahwa orang sejutek dan sedingin Callan bisa mendapatkan begitu banyak poin favorit dari murid-murid dan para guru.
"Kalau begitu," Jon meletakkan korannya di meja, "tak ada yang bisa kaulakukan selain mencoba menerima apa yang seharusnya terjadi. Callan mungkin bukan teman yang menyenangkan, tapi ingat—kau baru mengenalnya sehari. Masih ada kemungkinan sifat-sifatnya yang belum kauketahui akan terungkap."
"Memangnya salah kalau aku juga mengharapkan mereka peduli?" kataku gusar sambil mengikat tali sepatu.
"Bukan masalah itu yang kubicarakan, Robbie," kata Jon serius. "Ini adalah masalah antara kau dan Callan. Orang-orang itu hanya menjadi penambah beban kalau kau terus-menerus meladeni mereka. Kau hanya perlu menyingkirkan semua pikiran itu. Mereka belum mengenalmu juga, ingat? Kesempatanmu adalah menunjukkan pada mereka bahwa kau bukan seperti yang mereka kira."
Kukunyah roti panggang buatan Jon cepat-cepat, lalu menyeruput susu sampai tandas. "Bye, Jon!" kataku sambil berlari menenteng ransel keluar pintu depan.
"Hei, kau nanti pulang sore atau malam?" Jon masih sempat memanggilku.
"Malam," jawabku. Berkonsultasi dengan Jon tidak ada hasilnya sama sekali. Ujung-ujungnya dia pasti membelokkan topik. Dia pikir aku bersalah, padahal tidak semua pertikaian itu aku yang memulainya. Tapi Jon adalah satu-satunya keluargaku, seperti yang kubilang sebelumnya. Dan aku suka saat dia mulai menceritakan lelucon-lelucon sarkastis yang dia kutip dari South Park. Kami punya banyak kesamaan, terutama karena sama-sama sendiri, sama-sama jomblo, dan sama-sama menyukai mie rebus.
Saat aku sampai di sekolah, kulihat anak-anak sedang berkerumun memandangi sebuah mading. Aku menyeruak diantara anak-anak itu.
"Hei, minggir sedikit, aku mau melihat apa yang terjadi di sini!"
Tapi kerumunan itu tetap saja ricuh, dan sebelum aku sempat bergerak, salah seorang anak bertubuh tambun mendesakku ke samping sehingga aku jatuh karena hilang keseimbangan. Langsung saja aku bangkit untuk menghadapi anak itu.
"Oi, bisa hati-hati, nggak?" kataku gusar.
Anak betubuh tambun itu tampaknya kenal denganku. "Oh, kamu anak baru itu, ya?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Kau mendaftar ke klub karate?"
"Ya."
"Tuh, lihat, namamu ada di daftar," kata anak itu. "Kau pasti mencari-cari namamu, kan?"
"Eh, jadi ini pengumuman ekskul, ya?" batinku, kemudian berkata pada anak itu sambil nyengir, "Oke, kurasa kita akan bertemu di klub itu, benar, kan?"
"Nah, kurasa kau akan bertemu dengan orang favoritmu," kata anak itu, lalu ngeloyor pergi. Kudapati saat dia berbalik, di belakang seragamnya tertulis 'Penjaga Keamanan Koridor.' Aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Jadi, mereka menyewa cowok gendut itu untuk menjaga koridor? Pilihan yang bagus!
Tapi, maksudnya dengan di dalam klub karate ada orang favoritku? Apa jangan-jangan Callan juga mendaftar ke klub yang sama? Dengan ngeri, kucari-cari namanya di daftar. Aku menyusuri tabel dari kolom ke kolom, baris ke baris, tapi syukurlah, ternyata namanya tidak ada di daftar sama sekali. Aku tidak mau repot-repot mencari tahu di klub mana dia mendaftar, karena menurutku hal itu sama sekali tidak penting. Lagipula, aku malas berurusan dengan anak sialan itu.
Pelajaran pertamaku adalah Biologi. Aku telah memutuskan menyusun daftar pelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang kusukai, tapi juga tidak bikin ribet. Hari itu kami meneliti tanaman venus flytrap yang bisa menutup dan membuka kalau ada serangga lewat. Mengasyikkan sebetulnya, kalau Connor, teman satu kelompokku, tidak lebih tertarik membedah-bedah tubuh tawon yang jadi sampel kami dan berceloteh soal keistimewaan mereka. Daryl, anggota yang lain, malah sibuk membuka-buka buku dan berceramah betapa membosankannya hidup. Ya, memang dia benar, tapi di pelajaran Biologi? Itu sama sekali tidak membantu! Parahnya lagi, anak yang jadi pengawas keamanan koridor, Doug, asyik makan keripik kentang sembunyi-sembunyi agar guru kami, Miss Dennings, tidak melihat.
Kulirik kelompok sebelah, Callan tampak mengerjakan eksperimen dengan baik. Cih, beruntung sekali dia, satu kelompok dengan Chloe. Ugh, dan Chloe tak bisa berhenti memandang ke arahnya. Matanya yang hijau itu, lho, tak bisakah dia berkedip sedikit saja? Ingin rasanya aku menyeruak ke arah mereka, lalu membawa banner bertuliskan 'CHLOE LIHAT AKU DONG' di hadapannya. Tapi aku tak mau ambil risiko, karena tonjokan Chloe jauh lebih cantik daripada wajahnya… ehm… maksudku lebih sadis.
Callan tampaknya tidak sadar kalau aku sedang memandang ke arahnya dengan cemburu berlipat ganda. Seorang anak perempuan lain, berambut hitam dan mukanya mirip sekali dengan Callan, datang ke meja mereka sambil berbicara tentang sesuatu yang harus mereka lakukan. Anak itu melirik sedikit ke arahku, lalu tersenyum kecil. Aku berpura-pura tidak melihatnya dan kembali pada pekerjaanku.
Usai pelajaran Biologi, aku menghela napas lega. Presentasi kelompokku kacau balau. Da aku senang semua ini akhirnya berakhir. Sambil melangkah keluar lab, aku membayangkan makanan kantin yang akan kumakan untuk menghilangkan stres beratku.
"Hei!"
Aku menoleh dengan kaget. Itu, si anak yang mukanya mirip Callan, menepuk pundakku dengan pelan.
"Hei, kamu Robbie, ya? Kenalan, dong! Namaku Bree," dia mengulurkan tangan dengan ramah. Tapi, aku tidak serta merta membalasnya.
"Well, kau rupanya tahu betul tentang diriku," ujarku sambil berpaling. "Jangan bilang kau ini fansku atau apa. Sori, ya, aku tak punya waktu untuk penggemar."
"Hei, aku hanya ingin berkenalan denganmu," kata Bree, sama sekali tidak tersinggung. "Orang-orang bilang kau ingin menjadi—hm—raja mata-mata! Apa itu benar?"
"Dua kali kau menebak, dan jawabanmu benar," kataku. "Sekarang kalau tidak keberatan, aku ingin pergi ke kantin."
"Oh, aku juga ingin ke kantin!" ujar Bree sambil tersenyum. "Kita bisa mengobrol dan aku bisa mengenalmu lebih baik! Oiya, aku belum memberitahumu kalau aku ini ketua klub anggar, kan? Nah, kalau kau tertarik bergabung dengan kami, kau bisa—"
"Sekali lagi, sori… aku sudah mendaftar di klub karate," sergahku. "Jangan promosi sekarang, oke? Aku menghargai usahamu, tapi soal promosi klub, kau bisa menawarkan kepada orang lain. Aku sama sekali tidak tertarik dengan main pedang-pedangan. Aku jauh lebih tertarik pada seni bela diri yang—yah—kau tahu—mengandalkan naturalisme dan sejenisnya."
Bree melengos. "Kau bahkan tak tahu apa itu naturalisme."
"Karena itulah aku tidak tertarik bergabung dengan klub sastra!" potongku. "Kau mengerti maksudku, kan? Selamat siang!"
Aku meninggalkan Bree yang masih melongo menatapku. Sebetulnya, aku merasa bersalah sudah membuatnya kecewa—setidaknya mungkin begitu, tapi aku tak punya cara lain untuk mengusirnya. Maksudnya pasti baik, mengajakku bergabung ke klubnya sebagai ucapan selamat datang, tapi gayanya yang spontan membuatku curiga. Jangan-jangan ada maksud tertentu di balik keramahan dan senyumnya itu.
Di kantin, lagi-lagi aku menangkap pemandangan yang memuakkan. Puluhan anak cewek berkerumun di meja Callan hanya untuk melihat idola mereka mengunyah sandwich. Tak pelak, mereka menjerit-jerit memanggil namanya dan mengucapkan kata-kata menjijikkan seperti, "Callan, kau sungguh tampan!" atau "Callan, aku ingin makan bersamamu!" atau "Callan, kau imut sekali!" Pokoknya, aku sudah siap muntah kalau tidak segera berpaling. Kulihat di sudut, Doug dan Daryl sedang makan berdua. Kursi di dekat mereka kosong. Tanpa banyak cincong, aku meletakkan nampan makananku di bangku mereka. Namun saat itu juga, seseorang menarikku mundur.
"Minggir!" kata anak yang menarikku. Kulitnya coklat dan berbintik-bintik, serta di pipinya terdapat tanda berwarna merah berbentuk taring. Di belakang anak itu, berjalan kikuk si penggemar serangga, Connor.
"Oh, kau," kata Connor padaku dengan muram.
"Kalian tak bisa seenaknya mengambil tempatku!" aku menghardik.
"Yah, kecuali tempat ini sudah dipesan sebelumnya!" cibir anak berkulit kecoklatan itu. Belakangan, aku tahu namanya Jeremy.
"Ini tempat umum, tahu! Aku bebas duduk di mana saja!" balasku mengelak.
"Ha, kau baru saja mengatakannya!" kata Daryl. "Maaf, Robbie, kami hanya menyisakan tempat untuk Connor dan Jeremy."
"Oke, oke, aku akan cari tempat lain!" kataku gusar. Sambil menggerundel, kutinggalkan bangku itu. Kutangkap sedikit ekspresi geli bercampur mengejek mereka saat aku berjalan pergi. Merasa jengkel, aku terus mencari tempat, namun reaksi anak-anak yang lain sama. Nicola dan Chloe menolak mentah-mentah, Derrick dan pengikutnya menolak sambil mencibir, sedangkan beberapa anak bergaya punk menolak dengan isyarat tangan yang artinya, 'Sebaiknya kamu pergi, deh, Coy!'
Frustrasi, aku tak bisa menemukan tempat untuk makan. Akhirnya, aku terpaksa menuju lantai pojok untuk menyantap makan siangku. Baru saja aku akan duduk, sebuah panggilan mengagetkanku.
"Oi, Robbie, di sini!"
Itu, kan, Bree! Aku berpikir bahwa aku harus menghampirinya, tapi sisi diriku yang lain merasa gengsi. Aku tak bisa begitu saja duduk berdua dengan anak cewek seperti Bree di tengah lautan murid seperti ini. Tapi melihat pandangannya yang begitu tulus, aku mengalah dan—dengan sangat terpaksa—bersedia duduk bersamanya. Bree tampak sangat puas.
"Nah, benar, kan, dugaanku?" dia tertawa. "Kau memang butuh perhatian khusus!"
"Diam!" aku menyela. "Apapun itu, trims."
"Kau masih punya waktu sepuluh menit untuk makan," katanya. "Aku akan menunggu sambil makan puding."
Tak kusangka. Bree sebegitunya memperlakukanku. Apakah dia tidak sadar bahwa dia ketua klub anggar? Salah satu cewek paling berpengaruh di sekolah? Meskipun dia kesal dengan perlakuanku padanya, dia justru semakin baik kepadaku. Karena tak tahan lagi, kata-kata yang lama kusimpan di belakang lidahku akhirnya keluar saat itu juga. "Kenapa kau begitu peduli denganku, Bree? Apa sebenarnya permainanmu?"
"Apa permainanku?" Bree balas bertanya. Mulutnya penuh dengan puding. "Well, kalau kau bertanya, maka akan kujawab begini: aku peduli padamu karena kau pantas dipedulikan."
"Maksudmu?" aku mengerutkan dahi.
Tangan Bree yang bebas menggenggam tanganku. "Dengar, aku tahu semua tentang dirimu. Semua tentang masa lalumu. Waktu kau di panti asuhan, hal itu memang bukan pengalaman yang menyenangkan. Tapi sekarang kau ada di sini, dan kau sudah bebas dari semua itu."
"Kau mencuri data siswa dari ruang guru, ya?" tebakku.
"Hm, mungkin," Bree tersenyum misterius. "Yah, lupakan dari mana aku mendapatkannya. Yang jelas, aku sudah tahu semua itu. Jadi, Robbie, kau tidak perlu khawatir karena mulai dari sekarang, aku akan selalu mengawasimu."
Aku nyaris menyemburkan makananku karena kaget. "Mengawasiku? Kau serius?"
Bree mengangguk. "Kau tak perlu khawatir lagi."
Hatiku mencelos. Mendadak aku merasa sedikit mual. Rasanya memang aneh mengetahui bahwa ketua klub anggar mendadak jadi kepo tentang hidupmu, lalu memintamu percaya bahwa dia akan mengawasimu sepanjang waktu. Aku ragu, jangan-jangan Bree memang disuruh kepala sekolah untuk memata-mataiku.
"Oh, baiklah," kataku, tepat saat bel tanda masuk berbunyi. Anak-anak di sekitar kami mulai membereskan barang-barangnya untuk kembali memulai pelajaran. "Kurasa aku sudah kenyang, Bree. Terima kasih atas bantuanmu. Dan—ehm—kebaikanmu."
Bree mengangguk lagi sambil tersenyum. Cepat-cepat aku menaruh kembali nampan yang sudah kosong di konter makanan. Aku berani taruhan, Bree tidak main-main dengan perkataannya barusan. Mengawasiku? Tepatnya untuk apa?
TO BE CONTINUED
