Hope and Faith
Fanfic SNK
Umur Karakter
1. Jean : 12 tahun.
2. Connie : 12 tahun.
3. Sasha : 11 tahun.
Disclaimer : Shingeki no Kyojin milik Isayama Hajime. Cover image juga bukan punya saya.
Balasan Review :
L.V neko = Yap! Eren ketembak cuy. Ini dia lanjutannya!
Guest = Tapi RiRennya bukan romance loh, lebih ke platonic, kasih sayang saudara. Kalau pengin RiRen yang lovey-dovey, silakan mampir di fanfic saya yang lain. Judulnya 'Attack On Chibi'. #promosi nyelip
Aprilia Echizen = Hukum aku~ *maso* Becanda, saya bukan masokis. Ini dia lanjutannya biar nggak penasaran lagi. Langsung aja disrupuuut.
de-aruka = Hehe... saya labil soalnya, jadi ganti lagi. Ya, mereka makhluk gaib! *v* Baiklah, chapter 4 silakan dinikmati!
Chapter 4 : Hope Part 4
"Sial!"
Mikasa dengan cepat mengaktifkan kembali kekuatannya dan menangkis peluru-peluru yang ditembakkan ke arah mereka bertiga. Sedangkan Armin mengeluarkan pistol perak kembarnya, menarik pelatuk dan menembakkan peluru ke arah yang ia prediksi sebagai tempat musuh bersembunyi.
Ugh, sepertinya ada dua orang. Armin mengerutkan kening ketika sebuah peluru berhasil menggores pipi kanannya. Ia makin mengeratkan genggamannya di kedua gagang pistol dan menghindari sebuah peluru yang tak berhasil ditangkis Mikasa. Di salah satu sudut ia melihat kepala musuh yang menyembul. Kau lengah. Armin membidik ke arah kepala itu.
Tiba-tiba terdengar suara pistol ditembakkan dari sebelah kanannya. Armin yang terlalu fokus ke arah targetnya tadi tak sempat menghindar. Ironis sekali, kupikir musuh lengah, tapi ternyata malah aku yang lengah! Ia memejamkan mata, mempersiapkan diri untuk menerima peluru yang datang. Tapi tak terjadi apa-apa.
"EREN!" Terdengar Mikasa berteriak histeris. Mendengar itu Armin buru-buru membuka matanya dan menemukan Eren berlutut di sebelah kanannya dengan bahu dan lutut yang berdarah hebat. Kedua mata langitnya melebar.
"Eren?" panggilnya lemah. Bibirnya bergetar melihat Eren terjatuh perlahan dari posisi berlututnya menuju lantai. Mata Armin bergerak menuju genangan darah di lantai dan ia terjatuh berlutut ke lantai serta menjatuhkan kedua pistolnya. Mikasa berlari menangkap tubuh Eren. Pipinya penuh dengan air mata, memeluk tubuh Eren dengan erat.
Aku melakukannya lagi. Armin menatap lututnya yang bergetar. Aku nggak bisa melindungi siapapun. Kedua tangan ia angkat ke depan mata langitnya. Beberapa tetes air mata menggenangi telapaknya. Dia benar. Sebuah ingatan masa lalu berkelebat di dalam benaknya. Aku terlalu lemah.
"ARMIN!"
Terlalu sibuk meratapi kelemahannya, Armin tak menyadari salah satu musuh yang keluar dari persembunyiannya dengan membawa sebilah pedang. Armin tersentak ketika mendengar suara sabetan pedang di udara. Ia berbalik dan mendapati sabetan pedang itu mengarah ke lehernya. Ia yang terlalu syok tak sempat bereaksi dan hanya terduduk diam di tempat sampai akhirnya sebuah siluet menutupi pandangannya.
Orang itu menahan pedang yang nyaris menoreh leher Armin dengan tangan kanannya yang kini berdarah hebat. Tapi beberapa saat kemudian keluar asap dari tangannya dan luka tersebut langsung sembuh seketika. Asap juga keluar dari bahu dan lututnya. Anak laki-laki itu bertubuh mungil. Ujung rambutnya sedikit panjang, nyaris menyentuh bahu. Warnanya hitam berkilau ketika terkena sinar lampu. Kepalanya sedikit meneleng ke arah Armin. Poni belah tengahnya yang panjang menjuntai elegan di kedua sisi wajahnya. Dari posisi Armin, tampak sepasang bola mata berwarna emas terang yang menawan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya anak laki-laki berwajah cantik itu. Armin mengangguk kaku, masih terpana dengan penampilan orang yang menolongnya itu. Entah kenapa wajahnya sangat familiar.
"E-Eren?"
Armin melepaskan pandangannya dari si anak misterius dan beralih ke Mikasa. Wajahnya menyiratkan kekagetan. Matanya yang biasanya sayu kini terbuka begitu lebar sehingga membuat Armin sedikit heran. Apa yang membuatnya sebegitu kagetnya? Mata langit Armin kemudian mengarah ke pangkuan Mikasa dan tidak menemukan Eren di sana. Ia mengerutkan dahi. Matanya bertemu dengan Mikasa. Gadis itu menatapnya sebentar−masih dengan ekspresi syok−kemudian kembali menatap si mata emas. Di sini Armin menyadari maksudnya. Jadi...
Armin membalikkan badan kembali ke arah sang penolong. Benar saja, ada bekas luka yang baru sembuh di tempat yang sama dengan luka Eren. Tidak salah lagi. Sebuah telunjuk terarah kepada si poni belah tengah. "Ka-kau... Eren?"
Anak itu mengangkat alisnya. Ia bersenandung sejenak lalu kembali menatap si pirang dengan sepasang mata emasnya yang berkilau. "Ya... dan tidak," ujarnya sambil mengembangkan senyum misterius. Ia menarik pedang dari tangan musuh−yang juga sepertinya terpana dengan kedatangan sang penolong−lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Dua cicitan kaget terdengar dari balik tumpukan kardus.
"Keluarlah. Percuma saja kalian bersembunyi," ucap orang yang mengaku Eren itu santai. Ia menepuk-nepuk tangannya dari debu imajiner.
Sebuah kepala cokelat dan kepala plontos menyembul keluar dari balik kardus. Keduanya menggunakan topeng polos berwarna putih. Perlahan sosok mereka muncul dan tampak lebih jelas, lalu...
"Connie! Sasha! Dasar bodoh! Kenapa kalian turuti kata-kata bajingan ini?! Kalian bodoh apa?!" orang bertopeng yang memegang pedang berteriak marah.
Armin dan Mikasa bertukar pandang, mengangguk. Mikasa kembali mengaktifkan kekuatannya. Dengan secepat kilat, ia lepas topeng ketiga orang itu dan akhirnya misteri terpecahkan.
Armin menghela napas. Ia merasa sangat bodoh tidak menyadari mereka bertiga. "Jean, Connie, Sasha. Ternyata kalian toh." Armin menopang berat tubuhnya dengan tangan kanannya dari belakang, sedangkan tangan kirinya memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut.
Sasha, si gadis berambut cokelat tengah merengek meminta makanan pada Jean, si muka panjang yang mirip kuda, yang sekarang sedang sibuk menjauhkan wajah berliur Sasha dari dirinya, sedangkan Connie si kepala polos menggaruk-garuk pipinya canggung. Mereka sama-sama tidak menyadari satu sama lain sepertinya, makanya timbul perang yang tidak perlu di ruang penyimpanan itu.
"Dasar kau, Jean! Aku pikir kami kena serangan mendadak! Kenapa kau tidak menyadari kalau yang kau serang itu kami! Dan kapan kau kabur dari Academy?!"
"Hei! Bukan salahku aku tidak mengenalimu! Kau 'kan tahu sendiri kalau aku itu tak bisa melihat dengan jelas kalau sedang mengaktifkan kekuatanku!"
"Lah? Kacamatamu mana?"
Jean mengalihkan pandangan ke sudut ruangan sambil bergumam, "Jatuh entah di mana."
Armin menepuk jidat. Karena sepertinya Armin tak bisa melanjutkan sesi interogasi−yang sebenarnya nggak penting-penting amat−karena merasa putus asa dengan kecerobohan teman kudanya, dari sini Mikasa yang mengambil alih.
"Kapan dan kenapa kau pergi ke tempat ini dan tidak menghiraukan perintah Kapten?" tanya gadis itu. Ada sedikit nada jijik ketika ia menyebutkan 'Kapten'.
"Yah, alasan yang sama dengan kalian kurasa," kali ini Connie yang menyahut.
"Ngomong-ngomong... nyem... nyem..." mata cokelat Sasha mengarah ke anak cantik berambut hitam yang kini memperhatikan mereka bertukar kata. "Kraus... siapa... glup... anak itu?" kentang rebus di tangan kembali diraup. Jean menjambak rambut frustasi.
"Sebelumnya, Sasha, jangan ngomong sambil makan." Sasha langsung menaruh kentang rebus di kantung celananya dan mengusap bibirnya yang belepotan. "Bagus. Sebenarnya itulah yang kami pikirkan saat ini. Sebelumnya, kami mengenalnya sebagai Eren. Tapi, entah kenapa penampilan dan perawakannya berubah setelah terkena dua tembakan. Apalagi warna matanya itu," Mikasa menatap kedua bola mata emas berkilau itu. "Ini tidak mungkin kebetulan. Kapten sepertinya memang menyembunyikan satu fakta dari kita."
Jean mendengus. "Ternyata benar! Kapten iblis itu berusaha menutupi sesuatu. Padahal dia yang memerintahkan kita menemukan anak bernama Eren itu karena permintaan orang-orang yang sangat penting katanya. Tapi dia bahkan tidak memberikan informasi secara keseluruhan!"
"Aku yakin ini ada alasannya, Jean. Lagipula, itu haknya Kapten sebagai penerima permintaan untuk tidak membeberkan seluruh informasi yang ada. Apalagi kepada kita yang statusnya masih sebagai murid Academy," ucap Armin tenang, berusaha meluruskan pikiran teman sekelasnya.
Jean mendecakkan lidah kesal karena pernyataan Armin memang ada benarnya, dan dia tak suka itu. Matanya bertemu pandang dengan sepasang emas yang berkilau. Anak laki-laki itu tersenyum aneh ke arahnya. Sebuah perempatan muncul di pelipis si wajah kuda.
"Apaan sih?! Kenapa kau malah hanya diam saja dari tadi! Kami ini sedang membicarakan kau, tahu!"
"Hmmm... terus?"
"Yah... kau setidaknya memberikan sedikit pencerahan kepada kami! Ini juga menyangkut dirimu!" Jean tambah sewot.
Anak itu menutup mulutnya yang membulat dengan tangan, berlagak baru menyadari hal itu untuk mengejek Jean yang pastinya berhasil mengingat sumbu kesabaran Jean yang begitu pendek. Wajah Jean merah padam karena amarah dan bersiap menyerang wajah menyebalkan itu sebelum ditahan oleh kedua rekannya.
'Eren' menyeringai, puas telah membuat orang lain kesal. Armin mengerutkan dahinya. Eren yang ia tahu tidak mungkin berbuat seperti ini. Walaupun belum ada sehari mereka mengenal satu sama lain, tapi insting Armin mengatakan ada sesuatu yang aneh di balik ini semua.
"Kau bukan Eren." Itu bukan Armin. Anak pirang itu menatap sumber suara, Mikasa. Tampak kilauan amarah di mata dingin gadis bersyal merah itu. "Kembalikan Eren."
'Eren' tertawa pelan. Suaranya begitu merdu, nyaris membuai Armin menuju alam mimpi. Suara yang sama tapi dengan nada yang berbeda dengan Eren yang ia kenal. Orang itu Eren, tapi di saat yang bersamaan bukan.
"Fuh... kembalikan katamu? Jangan membuatku tertawa bocah ingusan. Dia bukan milikmu." 'Eren' mengangkat dagu dan menatap Mikasa dengan angkuh. Kedua mata emasnya menyiratkan kebencian bagi siapa saja yang berani mengklaim Eren.
Mikasa menggeram marah. Bola matanya berkilat-kilat. Warnanya berubah dari normal, merah menyala, normal, merah darah, normal, lalu ke warna merah yang nyaris menghitam. Ini gawat! Mikasa bisa hilang kendali! Armin panik.
"Mikasa! Jangan sampai kehilangan kendali! Kau bisa melukai Eren!"
"Dia bukan Eren!"
"Iya! Aku tahu! Tapi tubuh itu milik Eren!"
Mikasa mengepalkan kedua tangannya hingga memutih kemudian meraih tabung pil dari kantung jaket merah mudanya. Ia menjatuhkan dua pil kuning di telapak tangannya dan menenggaknya sekaligus. Seketika itu pula warna bola matanya kembali normal, namun masih belum lepas dari wajah 'Eren'. Sinar kebencian masih tercetak jelas dalam ekspresinya yang semakin dingin tiap detiknya.
Armin menghela napas lega. Setidaknya Mikasa bisa menahan diri untuk beberapa saat. Anak laki-laki berambut pirang itu mengembalikan perhatian penuhnya kepada 'Eren'. Mata biru langitnya menyipit menyelidik.
"Katakan. Siapa kau sebenarnya?"
'Eren' tersenyum lebar. Tapi senyum itu tidak sama dengan senyum hangat yang kaku dari Eren yang ia lihat beberapa menit yang lalu. Sangat jauh perbedaannya. Senyum misterius yang ini terkesan lebih... tidak waras.
"Untuk apa aku mengatakannya? Tak ada untungnya bagiku," jawabnya tak peduli sambil memperhatikan ujung sepatu putih Eren yang sudah berubah cokelat.
"Kau peduli pada Eren bukan?" ujar Armin, berhati-hati dalam setiap katanya. "Jika kau mengatakan siapa dirimu, bisa saja hal itu membantunya keluar dari penjara mengerikan ini."
"Ho? Dari mana analisa itu muncul?" 'Eren' membalas sambil memperhatikan kuku merah muda di tangan kanan Eren.
"Hmm... kalau kau mau bekerja sama dengan kami, Eren bisa keluar dari neraka ini dan kembali pulang ke rumah dengan selamat."
'Eren' mendengus. Senyum menjengkelkan itu hilang, digantikan dengan ekspresi pahit. "Tak ada gunanya. Tak ada lagi tempat yang aman baginya."
Armin menautkan alis. "Bukankah tempat ini tidak baik baginya? Apa yang aman dari tempat ini? Dia hanya disiksa dan dikurung di dalam sini tanpa tahu indahnya dunia luar! Dia tersiksa kau tahu?!"
"Memangnya kau pikir aku tak tahu?" 'Eren' menatap Armin dengan tatapan dingin. Mata langit si pirang serasa dihujani air es ketika bertumbuk dengan mata emas yang kini mulai menggelap. "Aku sangat ingin membebaskannya dari orang-orang brengsek itu. Mudah saja kulakukan. Tapi, setelah itu apa? Bukannya bahagia, dia malah tak akan punya tempat tujuan. Aku malah akan menyengsarakannya."
"Kami bisa mencarikan tempat yang layak untuknya tinggal!"
'Eren' mendecakkan lidah. "Percuma bicara denganmu. Otak bocahmu tak akan sampai. Justru bahaya yang sebenarnya ada di luar penjara ini. Bahaya itu berjalan beriringan dengan kakek tua bernama Pixis itu."
Armin membulatkan kedua matanya. Pixis? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Anak itu memutar otaknya, mencari-cari nama Pixis di gudang memorinya, tapi tak ketemu. Siapa sebenarnya Pixis? Kenapa dia disebut sebagai bahaya yang sebenarnya?
"Ah... sepertinya sudah waktunya bagiku untuk pergi. Eren tidak akan sanggup kalau lebih lama dari ini. Lagipula, aku sudah terlalu banyak bicara di sini. Sisanya tergantung pada kalian."
"Tunggu sebentar! Sebutkan paling tidak namamu agar kami bisa membedakan kalian!"
Mata emas itu berkobar cantik dalam gelap. "Panggil aku Hunter." Kelopak matanya secara perlahan tertutup seiring dengan berubahnya warna dan gaya rambut Eren, kembali cokelat seperti semula. Tubuh itu kemudian goyah lalu bergerak menuju lantai sampai akhirnya ditangkap oleh Armin dan Mikasa.
Mikasa meraba-raba tubuh Eren, mencari keberadaan luka dan menghela napas lega ketika tidak menemukan satu pun. Armin memandang wajah damai Eren yang tengah terlelap. Dadanya naik turun teratur seirama dengan hembusan napasnya yang tenang. Wajahnya terlihat sangat polos ketika sedang tertidur. Dan Armin bersumpah akan menjaga anak bermata samudera itu dengan segenap jiwanya untuk bisa melihat senyum cerah yang tulus mengembang di wajahnya.
Oke~ Chapter 4 sudah update!
Eren dan Hunter satu. Hunter adalah Eren, tapi Eren bukanlah Hunter.
Bingung nggak tuh? Sama! saya juga bingung! :v
(= RnR =)
