Friends, Are We?
Chapter 4
.
BxB
ChanBaek!
genre: fluffy, romance
.
.
Enjoy!
Baekhyun membuka kedua mata dan seketika menutupnya kembali saat ribuan sinar berlomba masuk menyerang sipit indahnya. Lelaki manis itu mencoba bangun untuk duduk dan menatap kaget saat seseorang dihadapannya berdeham.
Lelaki tinggi yang sedang duduk di kursi sembari menopang lutut dan melipat kedua tangannya di dada, dan jangan lupakan tatapan datarnya yang seolah memarahi Baekhyun dalam diam.
"Kenapa kau ini batu sekali?" Ucap Chanyeol to the point.
"Apalagi? Aku bahkan baru terbangun dan kau sudah memarahiku seperti ini."
"Tentu saja. Otakmu itu mungkin belum tersusun kembali sel-selnya. Aku mengatakan untuk tetap di kelas. Kenapa memutuskan untuk melihatku?"
Baekhyun menatap kaget terhadap sahabat tingginya itu. Ada apa dengannya? Baekhyun kembali teringat dengan peristiwa peluk-memeluk yang membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya sekarang juga.
"Oh jadi kau memaksaku untuk tetap dikelas karena kau tahu wanita itu akan datang? Siapa namanya huh? Irene?"
Chanyeol terdiam. Baekhyun-nya memang mudah terpancing emosi dan tidak seharusnya ia memberikan suara keras terhadap pria mungilnya itu. Namun, kondisi saat dimana ia panik bukan main ketika mendengar Baekhyun pingsan membuatnya tidak stabil.
Sudah tahu Baekhyun memegang penuh kendali emosi, hati dan pikirannya.
Chanyeol memutuskan untuk bangkit. Sembari menghela nafas pelan, lelaki tinggi itu mendekat ke arah Baekhyun dan memakaikan hoodie tim basketnya yang mana tentu saja sangat kebesaran pada tubuh minionnya itu.
"Ayo kita pulang."
Baekhyun terdiam ketika lelaki tinggi itu menariknya dengan sentuhan lembut. Ketika Baekhyun akan beranjak mengambil ranselnya, Chanyeol sudah lebih dulu menyambar tas itu dan berjalan beberapa langkah di hadapannya.
Baekhyun cemberut. Ia terlihat seperti bocah lemah yang memakai hoodie kebesaran milik ayahnya dan berjalan mengikuti ayahnya pula.
"Idiot tinggi menyebalkan."
.
.
.
.
.
Baekhyun merasa terusik ketika merasakan sepasang lengan memeluknya yang sedang tertidur. Ini adalah hari sabtu. Lagipula, kelas privatenya akan dimulai nanti siang. Baekhyun amat yakin kalau sekarang masih terlalu pagi.
"Chanyeol lepas."
Chanyeol tidak menjawab. Malah asyik menghirup aroma harum menyenangkan dari surai lembut sahabat kecilnya.
"Chanyeol aku belum keramas."
"Pembohong. Wangimu seperti baru keramas sepuluh detik yang lalu."
Baekhyun kembali menutup matanya dan semakin menggulung badannya—memutuskan untuk kembali tidur tanpa menghiraukan Chanyeol di belakangnya.
.
Tidak berlangsung lama.
.
Saat tiba-tiba saja Baekhyun merasakan cumbuan Chanyeol beralih ke leher mulusnya.
Baekhyun menahan kepala Chanyeol untuk bertindak lebih jauh, merengek agar Chanyeol menjauh ke Saturnus dan jangan kembali sampai Baekhyun benar-benar bangun.
"Baekhyun, Chanyeol ayo sarapan. Jangan membuat anak dulu!" Suara keibuan dengan nada frustasi itu terdengar ketika mendapati anak dan calon menantunya bergelung dalam selimut yang sama di pagi yang cerah ini.
Baekhyun mendorong Chanyeol sekuat tenaga, lalu bangkit dan menatap sebal kepada ibunya.
"Aku tidak sudi membuat anak dengannya! Mau jadi rupa seperti apa anakku nanti? Telinga tidak normal, mata terlalu besar, tinggi yang seperti—"
"Selamat pagi juga, sayangku. Apa kau terlalu senang bertemu denganku sepagi ini sampai tidak berhenti bicara hm?" Ucap Chanyeol sembari menutup mulut Baekhyun dengan tangannya lalu mengecup pipi gembil lelaki mungil itu kemudian mengikuti Ibu Baekhyun keluar kamar.
Meninggalkan Baekhyun sendirian dengan kebingungan.
Si idiot itu sudah gila atau bagaimana? Jelas-jelas Baekhyun merutuk postur tubuhnya. Kenapa dengan percaya dirinya ia mengatakan kalau Baekhyun senang bertemu dengannya?!
.
.
.
.
.
Chanyeol hanya bisa tersenyum kecil ketika teman temannya kembali mengejeknya tentang hubungannya dengan Irene. Lelaki tinggi itu tidak ingin memperbesar masa lalunya. Lagipula, hidupnya sekarang ini hanya untuk Baekhyun seorang.
"Irene sangat cantik aaaaah kenapa kau yang bisa mendapatkannya bukan aku?" Penyesalan itu terdengar dari salah satu teman Chanyeol, Jongin.
Sembari menyesap coffee latte ditangannya, Chanyeol hanya berujar, "kenapa kau tidak berusaha untuk sekarang?" membuat keributan kembali terdengar diantara teman-temannya.
Minho yang mendengar ucapan Chanyeol hanya bisa berdecih. "Kemana Baekhyun?" tanya nya kemudian.
Chanyeol memasukkan smartphonenya ke dalam saku, lalu memberi tahu bahwa Baekhyun harus menghadiri kelas Bahasa Inggris sebagai tambahan hari ini dan tidak bisa menemani Chanyeol untuk menemui teman-temannya.
"Ngomong-ngomong, kau dan Irene? Aku tidak percaya." Desis Minho.
Chanyeol mengedikkan bahunya, lalu menjawab "Dia bukan tipeku. Kau tahu itu."
"Ya, hanya saja kenapa mereka semua percaya pada hal itu?" Tanya Minho menunjuk pada sekelompok teman mereka yang sibuk membicarakan Irene tanpa menghiraukan Minho dan Chanyeol.
"Biarkan. Selama kekasihku tidak marah karenanya kurasa tidak apa."
Minho menatap heran kepada Chanyeol. "Nah nah, bicara tentang kekasihmu lagi. Kapan kau akan mengenalkannya padaku? Apa dia cantik?"
Chanyeol tersenyum miring, "tentu saja. Dia sangat cantik dan menggemaskan. Walaupun kepala batunya sangat menyebalkan, dia adalah anak yang manis."
"Kenapa aku merasa familiar dengan ciri-cirinya?" Minho meragu sembari mengusap dagunya. Mencoba mencocokkan ciri-ciri yang disebutkan Chanyeol dengan seseorang.
"Jangan sok tahu." Canda Chanyeol sembari menepuk pelan kepala Minho.
"Aku pergi dulu. Aku harus menjemput Baekhyun."
Chanyeol berlalu setelahnya. Meninggalkan Minho yang tampak berfikir.
"Apa yang dia maksud adalah Baekhyun?"
.
.
.
.
Suara gemericik air terdengar ribut beberapa meter dihadapannya. Lelaki berperawakan mungil itu merutuki dirinya yang hanya mengenakan kaos lengan panjang tipis tanpa membawa pelapis apapun.
Siapa yang menyangka hari yang cerah ini akan berujung hujan?
Satu persatu murid private itu tampak meninggalkan gedung. Meninggalkan Baekhyun sendirian menunggu dijemput sahabat idiotnya yang sialnya sampai saat ini belum terlihat.
.
.
"Oi Baekhyun!" Seruan itu datang saat tiba-tiba mobil sedan hitam berhenti di hadapannya.
Baekhyun menggerutu kesal kemudian memutuskan untuk masuk di samping kemudi.
"Kau terlambat!"
"Aku minta maaf. Lagipula kenapa tidak menunggu didalam?"
Baekhyun menggosok hidungnya yang memerah. Lelaki mungil itu menarik paksa ujung lengan bajunya untuk membuatnya lebih hangat. Menghiraukan pertanyaan Chanyeol, karena ia sendiri tidak tahu kenapa juga ia tidak menunggu didalam tadi?
Chanyeol memfokuskan kemudinya pada satu tangan. Sedangkan tangannya yang lain beranjak ke arah Baekhyun.
Baekhyun melihatnya seakan dalam mode slow motion. Ia memutuskan menarik tangannya diantara paha dan menyembunyikannya. Takut-takut kalua Chanyeol ingin modus menggenggam tangannya yang memerah.
Chanyeol tertawa mengejek. Si tinggi itu membuka laci dashboard dihadapan Baekhyun lalu mengeluarkan jaket hangat yang selalu ia simpan.
"Percaya diri sekali. Kau pasti berfikir aku akan menggenggam tanganmu kan? Oh Baekhyun, berhentilah menonton drama-drama itu."
Chanyeol memberikan jaket itu ke pangkuan Baekhyun. Membuat Baekhyun kesal bukan main. Lelaki mungil itu membuat keributan dengan gerakannya dalam memakai jaket. Menunjukkan kekesalannya.
Chanyeol kembali terkekeh. Dengan gemas, ia menyentil pelan kening Baekhyun sembari tetap fokus pada kemudi.
"Apa kita perlu mematikan AC-nya?" tanya Chanyeol kemudian.
"Aku diturunkan disinipun tidak masalah!"
"Benarkah? Memangnya kau tahu dimana kita sekarang?"
Baekhyun tersentak. Ia mulai menatap keluar jendela mobil dan mengamati sekitarnya.
"aku—"
Chanyeol lagi-lagi merasa memenangkan perdebatan dengan sahabat minionnya itu. Chanyeol tahu betul kelemahan Baekhyun dalam mengingat arah, ia bahkan bisa hilang kalau dibiarkan sendiri 3 blok dari rumahnya.
.
Salah satu alasan kenapa Chanyeol selalu memaksa Baekhyun berada didekatnya.
.
Sembari bergerak mematikan pendingin dimobilnya, Chanyeol kembali berujar. "Lihat, sel otakmu lagi-lagi menghilang entah kemana. Apa tertinggal dikelas tadi?"
Baekhyun kembali cemberut. Tanpa memperdulikan omongan Chanyeol, ia pun kembali menggosok hidungnya.
Hatchi!
Chanyeol memelankan laju kemudinya. Menggerakan tangannya untuk menggenggam tangan mungil Baekhyun guna memberinya rasa hangat.
Merasakan betapa dinginnya tangan halus itu membuat Chanyeol merasa bersalah. Andai ia menggenggam tangan itu sedari tadi.
"Maaf membuatmu kedinginan, Baekhyun. Aku pasti terlalu lama."
Suara rendah diiringi kecupan dalam pada punggung tangannya membuat Baekhyun merasakan jantungnya ingin keluar dari tempatnya sekarang juga. Oh tidak—
Baekhyun sangat lemah jika Chanyeol sudah alay seperti ini! Si Caplang itu bahkan rela mematikan pendingin suhu padahal Baekhyun sangat hafal kalau Chanyeol tidak terlalu tahan diudara lembab.
"i-iya C-Chanyeol.."
Sial! Kenapa ia jadi gugup begini? Apa artinya mengenal Chanyeol selama dua belas tahun kalau ujungnya tetap gugup seperti ini?!
.
.
.
.
.
"Alaynya manisku satu ini."
.
.
.
.
.
Dengan gerakan cepat, Baekhyun menarik kembali tangannya diiringi dengusan sebal. Menciptakan kekehan Chanyeol yang kesekian untuk malam ini.
"Aku kan hanya menghormatimu yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi sok romantis ditengah hujan seperti ini!"
"Sok romantis katamu hah?"
Baekhyun mengangguk semangat. "Tentu saja! Ugh kau pasti terlihat seperti ahjussi-ahjussi mesum yang genit terhadap remaja sepertiku!"
"Kaca mobilku sangat gelap Baekhyun. Bahkan jika kau ingin melakukan lebih kurasa tidak masalah." Chanyeol berujar setenang mungkin. Sebisa mungkin menahan gemas pada lelaki mungil yang tampak was-was di sebelahnya.
"Aku benar-benar ingin turun disini!" Ucap Baekhyun panik. Mengeratkan jaket Chanyeol ditubuhnya. Mengantisipasi jika Chanyeol memang memiliki niat mesum padanya—
Dan ia panik setengah mati saat lelaki tampan itu menepikan mobilnya ke jalanan yang sangat sepi. Walaupun ditengah hujan seperti ini Baekhyun yakin sepanjang jalanan ini tidak ada mobil lain selain mereka.
Chanyeol mengeluarkan senyum miring andalannya. Bergerak merapat kepada Baekhyun yang mana menimbulkan jantung-siap-lepas dari anak itu.
"C-Chanyeol kau ma-mau apa!" Baekhyun berusaha menyembunyikan gugupnya ditengah bentakan galaknya. Ia pun menyilangkan tangannya di depan dadanya. Berusaha melindungi aset berharganya dari entah apapun yang akan Chanyeol lakukan.
Chanyeol sangat dekat dengannya dengan sorot mata yang benar-benar seksi ditambah senyum miring yang sialnya membuat Baekhyun merinding.
"Apa kau tahu kalau kau sangat cantik Baekhyun?" Chanyeol membelai pipi Baekhyun dengan gerakan sensual. Mencoba menggoda anak itu yang tampak pucat.
Baekhyun tergugu.
"Aku—"
.
.
.
.
.
"Tapi kau tetap saja bodoh. Sedari tadi tidak memakai seatbelt sebagaimana seharusnya. Kau ingin kita ditangkap hah?" Setelah puas membuat Baekhyun ketakutan, Chanyeol malah menarik sabuk pengaman dan memakaikannya untuk sahabat mungilnya itu.
Chanyeol kembali ke posisi duduk awal, lalu melanjutkan kemudinya sembari tertawa menang.
.
.
.
.
Menyisakan Baekhyun yang blank.
.
.
.
.
"Kau pasti sudah berfikir aku akan melakukan yang iya-iya kepadamu kan. Dasar mesum."
.
.
.
.
.
"PARK CHANYEOL SIALAN!"
.
.
.
.
.
to be continue..
.
.
.
.
Hai, maaf aku latepost terus. Please enjoy this story karena udah aku panjangin daripada sebelumnya.
BTW, aku mau minta saran. Menurut kalian, Diamond Pieces aku lanjut atau stop?
Tolong dijawab dan jangan lupa review yaa. Review kalian penting buat minus plusnya cerita ini. HEHE
XOXO
