Haaaiii~~ Shiki dateng lagi neehhh… Ayok mana suaranya YunJae Shipper?!
Mianhae kalo semisal chingu sekalian menunggu lama apdetan kelanjutan penpik ini. Ini semua karena magang dan juga mood untuk nulis yang ga kunjung dateng yah, pokoknya, kelanjutannya udah ada kan? DAN LAGI SAYA MEMBAWA DUA CHAPTER SEKALIGUS! Selamat menikmati~
Isi saya tidak menanggung, apakah sebagus yang kalian harapkan atau tidak… but~ I hope you enjoying this story~
Balasan Review: Huahahaha…. (back sound)
Hyun Hyumin: Makasih Reviewnya nak… Yah, kalo lebih sih… Bisa tau lah, paling this and that langsung teriak-teriak gitu~ (pervert mode on)
Shippo Baby Yunjae: Ga masalah, tapi makasih udah Review… Huahahaha! Beneran nih percaya Yunho appa itu robot? ^^ Masa aku tega memisahkan Umma dan Appa-ku? Moga dua chapter ini bisa muasin kamu ya!
Silviaoiaiko: Apanya yang apa, eoh? Kozo, jangan teriak-teriak… telingaku bisa tuli mendadak mendengarkan teriakanmu!
Pair at this Chapter : YunJae, ChunJae and MinJae
Warning : full of Gajeness, Hugar, Typo(s), and many more…
Perfect! 3
.
.
'Aku… tak mengerti, Chun… Kumohon, beri tau aku!'
.
Paginya, udara sejuk dengan semilir angin yang berhembus. Bisa di lihat wajah Jaejoong yang tampak berantakan. Di kedua matanya pun terlihat lingkaran panda dengan sentuhan sembab bagai orang yang ketiduran setelah menangis seharian.
'Oh, sial… bagaimana jika Changmin dan lainnya melihat pemandangan ini?' cepat-cepat Jaejoong mengompres matanya, memang tak terlalu berhasil, tetapi sudah agak lumayan daripada matanya tadi.
"Hyuuuuunnnggg!" teriak Changmin.
'Oh, tidak… kenapa dia selalu datang di saat tak tepat seperti ini?' Jaejoong tampak gelisah, seperti maling yang sebentar lagi tertangkap oleh pemilik rumah.
Terdengar suara derap kaki Changmin yang semakin mendekat. 'Bagus, aku tak tahu harus bagaimana…' dan akhirnya Jaejoong menyerah. Biarlah anak itu melihatnya yang sedang kacau.
"Hyung! Ayo kita ke seko—lah? Hyung, kau kenapa?" tanya Changmin dengan wajah polos.
Jaejoong tampak tersenyum sesaat sebelum akhirnya melirik kearah lain. "Tidak, apa-apa! Hanya sakit mata saja, nanti pasti sembuh kok!" kilahnya, dalam suaranya ia berpura-pura semangat.
Changmin memincingkan matanya, ia yakin bahwa, Kim Jaejoong di hadapannya ini sedang tak waras. Ia tak seperti yang biasanya. Tetapi ia mengangguk, berusaha terlihat bahwa Kim Jaejoong di hadapannya ini waras.
"Hmm… Hyung, sebaiknya cepat-cepat bersiap. Kita bisa terlambat!" saran Changmin cepat dan keluar dari kamar Jaejoong untuk menekuni hal paling sakral dalam hidupnya. Sarapan.
Jaejoong mendengus, dasar tukang makan. Jaejoong bersiap, mengenakan seragamnya dan bergegas turun sebelum jatah sarapannya ludes dimakan Food Monster. "Changmin! Jangan habiskan jatahku, perut evil!" namja cantik itu berlari menuju ruang makan. Sudah terlihat Umma dan Appanya di tempat masing-masing, beserta Yunho dan Changmin yang saat ini menikmati sarapan buatan Umma Kim.
"Annyeong~~!" salam, senyum, sapa Kim Junsu yang sepertinya sudah berada di pintu. Bahkan sebelum dibukakan, namja itu sudah masuk kedalam rumah.
"Jae, sepertinya Junsu sudah datang. Ajak dia makan juga sana…" ujar Umma Kim, namja cantik itu menganggukkan kepalanya dan bergegas menuju pintu depan.
Ia melihat Junsu yang sudah berdiri, membelakangi pintu. "Aish, kenapa tidak langsung masuk ke ruang makan saja, sih?" tanya sang namja cantik dan dibalas oleh senyuman dari sang Uri Dolphin.
"Eu kyang kyang~ maaf hyung~ kan' nggak sopan masa langsung masuk ke ruang makan sih~" ujarnya bersemangat.
'Oh… jadi, masuk kerumah orang tanpa mengetuk itu sopan?' rutuknya dalam hati. "Ne, ne… masuklah kalau begitu…" akhirnya namja cantik itu berjalan menuju ruang makan.
Ruangan yang menyatu dengan dapur itu terlihat sangat ramai. Terdengar gelak tawa dari berbagai arah, mentertawakan satu-satunya magnae di antara mereka. "Yak! Jika kalian terus bercanda seperti ini, kalian bisa-bisa terlambat!" Umma Kim bersuara, merasa heran anak-anak muda di tempatnya ini tak kunjung pergi.
"Yah, kan baru—gawat! Kita terlambat! Kenapa tidak ada yang melihat jam sih?" Jaejoong menghabiskan makanannya. Cepat-cepat ia berlari menuju pintu depan diikuti yang lainnya. "Umma, aku berangkat!"
"Tunggu, Joongie hyung!" Junsu mengembat sepotong roti dan mengikuti Jaejoong.
"Jaejoong-ah, biar kuantar…" kali ini Yunho berlari bersamaan dengan Junsu.
Changmin melihat ketiga hyungnya yang sudah berlari keluar, ia kembali kedapur sebentar dan mengambil beberapa makanan yang bisa ia makan di perjalanan. "Aku berangkat Ahjussi, Ahjumma!"
"Hati-hati kalian semua!" Umma Kim tampak menggelengkan kepalanya. Heran melihat kelakuan para remaja yang ikut sarapan di rumahnya ini.
.
.
"Jaejoong-ah…" seseorang di dekat pintu kelasnya memanggil. Kelas sudah selesai dan menyisakan dirinya. Junsu dan Yunho di panggil oleh seonsaengnim, terpaksa ia harus menunggu hingga orang itu datang menghampirinya.
"Chun—nie-ah?"
.
.
"Junsu-ah, aku kembali kekelas dulu. Kau tunggulah di bawah," Yunho dengan sigap berdiri dan mengambil tasnya. Ia melihat Junsu mengangguk dan ia membalas dengan senyumannya. Bergegas ke kelas, tempat dimana ia meninggalkan Jaejoong karena panggilan bodoh ini.
Ia sampai di depan pintu kelasnya, dan tepat saat ia akan membuka pintu itu, pintu tersebut sudah terbuka dan menampakkan sosok Yoochun di depannya. Yoochun tersenyum dan bergeser, membukakan jalan untuk Yunho.
Yunho bisa melihat Jaejoong, masih duduk di kursinya dan badannya terlihat bergetar. Ada apa sebenarnya? Ia memberanikan diri untuk mendekat, dan menyentuh pundak rapuh Jaejoong yang saat ini sedang bergetar hebat.
"A—ah… Yu-yunnie-ah, kenapa tidak mengatakan padaku jika kau datang?" Jaejoong nampak memaksakan seulas senyum di bibirnya, hingga senyum itu tergantikan oleh raut kaget karena, saat ini seorang –robot– Jung Yunho memeluknya. Membisikkan kata-kata yang mungkin Jaejoong inginkan.
"Yun… aku tidak apa-apa, lepaskan aku Yunho." Namja cantik itu mencoba mendorong tubuh dingin Yunho, tapi sepertinya tak bisa. Kekuatannya seperti terkuras, hilang tak bersisa. Ia hanya pasrah di peluk seperti itu oleh Yunho.
Selama beberapa menit, Yunho dan Jaejoong terus dalam posisi seperti itu. Sama sekali tak berubah, mungkin lebih tepatnya tidak bisa merubah posisinya. Yunho sama sekali tak mau melepaskannya, ia juga tak bisa memberontak dalam posisinya.
"Yun… aku sudah tidak apa-apa, bisakah kau melepasku? Aku—sesak, Yun…"
Mendengar perkataan Jaejoong, Yunho akhirnya melepaskan pelukannya. Seperti tersadar oleh ucapan lemah namja cantik itu.
"Yunho hyung! Kau lama sekali—ah, maaf sudah mengganggu kalian…" teriakan Junsu semakin menyadarkan Yunho. Junsu sendiri berjalan mundur, dan bermaksud ingin keluar dari ruangan itu dan meninggalkan pasangan di hadapannya.
Ia bisa melihat Jaejoong yang tak jauh dari tempatnya menggeleng, ia mengisyaratkan untuk Junsu jangan meninggalkannya. Namja cantik itu berdiri dan mendekati Junsu di ambang pintu kelas. Masih di tempatnya, Junsu meringis meminta maaf pada Yunho yang sudah menjadi pengganggu, untuk Yunho hanya memakluminya.
.
.
Di sebuah taman tak jauh dari perumahan tempat tinggal Jaejoong berada, duduk seorang namja dan yeoja. Bisa dilihat oleh Jaejoong jika salah satunya adalah –mantan– namjachingunya. Park Yoochun.
"Mian Chunie, aku lama…" Jaejoong mendekati pasangan itu. Ia bisa melihat Yoochun tersenyum memaklumi dan ia mulai berdiri di ikuti oleh sang yeoja. "Lalu, siapa yang bersamamu ini?" ujar Jaejoong berusaha terdengar ceria.
Yoochun yang mendengar nada ceria dalam suara Jaejoong kembali tersenyum. 'Untunglah dia sudah bisa melupakanku…' batin Yoochun dalam hatinya ada sedikit rasa tidak senang, namun… ini lah yang terbaik. "Jae perkenalkan… ini yeojachinguku…" namja bersuara husky itu sedikit menggeser tubuhnya.
"Im Yoona imnida, nice to see you Jaejoong-sshi…" ujar yeoja tersebut. Yeoja manis dengan dandanan modis. Tangan Yoona terulur untuk berjabatan dengan Jaejoong, dengan berat hati namja manis kita ini menerima jabatan itu.
"Salam kenal Yoona-sshi, Jaejoong imnida bangaseupnida…" dengan wajah terpaksa, Jaejoong menunjukkan senyum yang bahkan sebenarnya tak ingin ia perlihatkan. Wajah yang menahan tangis, pasti terlihat buruk sekali.
Mengerti dengan aura yang sedikit tidak enak yang di keluarkan Jaejoong dan Yoochun, Yoona terlihat sedikit kebingungan dan pada akhirnya ia pamit untuk membeli minuman. Melihat Yoona yang sudah menjauh, Jaejoong menatap Yoochun dengan sengit.
"Park Yoochun, kau tahu aku masih mencintaimu, kan?! Katakan jika aku salah, dan akan ku katakan sekali lagi di hadapanmu ini! Kenapa kau meninggalkanku?!" emosi yang sudah mencapai batasnya akhirnya keluar juga setelah ia tahan saat Yoona berada di sekitar mereka.
Yoochun mengeratkan dagunya, bukan ini yang ia inginkan saat bertemu kembali dengan Jaejoong. Kenapa namja cantik di hadapanya ini masih membahasnya? "Kenapa kau masih membahasnya Jae?! Hentikan Jae, sudah hentikan! Aku ingin bertemu denganmu bukan untuk bertengkar Kim Jaejoong!"
"Kalau begitu apa? Kau ingin bilang jika, jika kau ingin pamer? Jika hanya itu aku juga bisa!" balas Jaejoong ia tak memperlihatkan air matanya, bukannya tidak bisa, tetapi ia tidak mau.
"Hentikan Kim Jaejoong, jebal…"
.
.
Baru saja ia selesai bertemu dengan Yoochun dan yeojachingunya barunya di taman. Saat ini ia berjalan dengan lunglai menuju rumahnya, ah tidak… untuk saat ini ia ingin menumpahkan air matanya di tempat yang pasti akan mendengarkannya. Shim Changmin.
"Lho? Joongie? Kenapa tidak bilang jika kau akan… ah, ada apa dengannya?" ujar Umma Changmin yang sepertinya tidak di perdulikan oleh Jaejoong yang dalam keadaan down itu.
"Minnie!" teriak Jaejoong setelah membuka dengan kasar pintu kamar Changmin. Membantingnya dengan kasar saat menutup, sungguh perbuatan ketidak peri kepintuan sekali namja cantik satu ini.
Changmin yang tadinya sedang asyik menonton sambil memakan camilan itu terlonjak kaget dan menumpahkan bungkusan berisi penuh camilan yang tadinya berada di tangannya. "Aish! Jae hyung! Kira-kira jika kau ingin mem-buka-pintu…" hening beberapa saat dan… "Jaejoong hyung?!"
"Minnie! Minnie! Minnie! Dia—dia… aku bertemu dengan Yoochun, aku bertemu lagi dengannya! Dan, apa kau tahu jika ia bersama yeojachingu barunya?! Ia mengenalkanku dengan yeoja itu, jelas-jelas aku masih menyukainya!" kekesalan Jaejoong tumpah begitu saja.
Tidak salah jika tadi Changmin berteriak ketakutan melihat wajah Jaejoong yang bagai iblis turun ke bumi. Bisa-bisa ia mati jika tidak di tenangkan sekarang juga, "Tenanglah hyung! Jangan marah seperti itu!" kedua tangan Changmin mencoba untuk menurunkan emosi Jaejoong dan untunglah sesaat kemudian namja cantik itu jatuh terduduk.
Buliran air mata terlihat di pelupuk matanya, sepertinya air mata yang sudah ia tahan sudah tak terbendung lagi. Bagai bendungan yang pembatasnya bocor. Walau terlihat kokoh tetapi sebenarnya sangat rapuh.
"Tenanglah hyung, aku ada di sampingmu… Bukan cuma aku, ada Junsu hyung dan Yunho hyung. Kami ada di sampingmu!" ujar Changmin menguatkan Jaejoong. Kedua tangan kokoh itu merengkuh tubuh rapuh di hadapannya. Terlihat sangat berhati-hati bagai berlian yang mudah hancur. 'Aku akan selalu ada di sampingmu, hyung…'
.
.
-Continue to Perfect! 4
Setelah sekian lama, mari kita kebawah dan melihat panel review, berniat untuk mengisinya? :)
Kamis, 27-09-12
